Rabu, 31 Agustus 2016

Dukuh Paruk Tersayang, Dukuh Parukku Malang


Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Seri: Ronggeng Dukuh Paruk 1 - 3
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 9789792201963
Jumlah Halaman: 397 halaman
Penerbitan Perdana: 1982




Lihat sinopsis
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai-nilai moral yang kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap Srintil, Sang Ronggeng ayu kenes dari Dukuh Paruk yang miskin dan terkebelakang, sebagai tak lebih dari 'sundal' - sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yang menitis dalam tradisi berpuluh generasi?

Kisah ini mengikuti jalan hidup Srinthil, mulai dari masa kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng dengan segala tantangan hidup yang menyertainya, disertai pergolakan politik tahun 1960an, hingga akhir saat nasib tak terlalu berbelas kasihan padanya. Disatukan dari 3 buku yang awalnya terbit berseri, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, dengan tambahan beberapa bagian yang dulu tidak dapat diterbitkan secara lengkap.


Dukuh Paruk adalah sebuah desa terpencil di Jawa Tengah bagian selatan, entah didasarkan pada sebuah tempat tertentu atau murni hanya imajinasi sang pengarang. Dukuh ini miskin, gersang dan terkebelakang, masih ditambah lagi kental kepercayaannya pada hal-hal mistik dan memiki norma-norma yang lebih bebas, dan yang kumaksud di situ adalah penggunaan bahasa yang lebih vulgar cenderung cabul, kontak fisik lebih bebas, serta yang paling penting, tempat kelahiran para ronggeng yang dipercaya menitis dari generasi ke generasi.


Sejak berumur 12 tahun, Srintil kecil sudah kenes dalam menari, karena itulah ia dipercaya telah dirasuki inang ronggeng yang akan membuat dukuhnya kembali terkenal dan dibicarakan orang. Ronggeng yang akan membawa kamulyan pada desanya. Maka diserahkanlah ia pada pasangan suami istri dukun ronggeng untuk dididik dan dijadikan ronggeng secara lengkap.

Dalam buku pertamanya, Catatan buat Emak, kisah dituturkan dari sudut pandang Rasus, teman Srintil sejak bocah, yang kemudian jatuh cinta mati-matian padanya. Setalah Srintil menjalani berbagai pelatihan dan transformasi pada wajah dan badannya hingga dapat tampil molek menggoda, akhirnya hanya dua hal yang harus dilakukan sebelum ia menjadi ronggeng. Yang pertama adalah penyucian di cungkup makam Ki Secamenggala (yang di novel ini dipaparkan secara amat indah mendetail... dan full of takhayul-ish) dan yang kedua adalah upacara bukak klambu. Sebuah acara pelelangan keperawanan yang dilakukan dengan penuh sorotan mata iri dari para gadis dan hasrat menggebu dari para laki-laki.

Ironis?
Mengerikan?
Menjatuhkan harkat wanita?

Nah, itu tergantung dari nilai moral apa yang kita pakai untuk menilai. Bagi dukuh paruk dan desa-desa sekitarnya, ini adalah kehormatan tinggi yang tak setiap wanita dapat menjalaninya.

Tentang siapa yang akhirnya "menikmati" bukak klambu yang sebenarnya, dan siapa yang "merasa" memenangkan pelelangan ini, ada twist kecil di novel yang bikin cerita tambah ruwet sampai akhir. Adapun Rasus yang merasa terkalahkan dari adat dan tradisi, kemudian malah memilih pergi saat kesempatan unik untuk menjadi tentara terbuka untuknya. Dan aku merasa, Rasus ini perlambang tokoh yang mempunyai kehendak untuk ikut maju dalam kehendak jaman, melepaskan diri dari belenggu lingkaran kebodohan desanya.


Di buku keduanya, Lintang Kemukus Dini Hari, sudut pandang penceritaan berubah ke Srintil yang patah hati. Di sini cukup lama ia galau mempertimbangkan pilihan hidupnya sebagai ronggeng dibandingkan sebagai wanita somahan. Namun dari semua hal yang terjadi, tampaknya ini adalah fase pendewasaan diri seorang ronggeng, dari hanya menjadi bocah yang disetir sang dukun, hingga menjadi tokoh dewasa yang punya pertimbangan dan keinginannya sendiri.

Dalam bagian buku yang ini menurutku baiknya dibaca dan dinikmati bukan hanya sebagai buku romance, tapi sebagai buku budaya. Mengupas keseharian seorang ronggeng, kerja dan seluk beluknya, serta isi hati terdalamnya. Di samping itu, pandangan kaum wanita yang berbeda-beda terhadap sosok sang ronggeng juga enak diikuti. Ternyata tidak semua wanita membenci Srintil, ada "fungsi-fungsi sosial" yang ternyata diembannya. Sekali lagi, kacamata moralitas tak sepenuhnya sejalan dengan nilai sejarah dan tradisi berpuluh generasi.

Kisah kemudian ditutup dengan latar belakang kondisi sosial politik tahun 1965an. Tari ronggeng Srintil dikait-kaitkan sebagai seni rakyat abangan dan terdera dampak yang bisa diduga. Sakit dan sengsara tampaknya memang mengikuti pertanda bintang jatuh yang muncul menjelang pagi itu.


Penutup kisah ini ada pada buku ketiganya, Jentera Bianglala. Srintil yang sedang menata kembali puing-puing kehidupannya, mulai bertanya-tanya, apakah ia masih pantas untuk hidup normal berumah tangga. Secara kependudukan, ada cap ET melekat pada dirinya. Secara manusiawi, julukan mantan ronggeng tetap menhantui. Sekali lagi permainan nasib bersiap-siap menghancurkan dirinya, hingga remuk hati terdalam.

Malangnya Srintil, Malangnya Rasus, Malangnya Dukuh Paruk tersayang.


Satu hal yang membuatku betah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir adalah Bapak AT yang selalu cakap sekali dalam mendeskripsikan keindahan alam pedesaan. Beliau kembali memamerkan kepiawaiannya di trilogi ini. Membacanya berkali-kali seakan kita dibawa mendengar cuitan burung dan merasakan semilir angin di rumpun-rumpun bambu. Sementara itu kisah hidup orang-orang kecil yang terpinggirkan, terlindas keadaan yang tak terpahami oleh keluguan mereka, digambarkan dengan sangat real. Sedemikian wajarnya hingga muncul simpati dan keinginan untuk memahami mereka, seberapapun sulitnya.


The Movie


Sebenarnya kisah ini telah diangkat menjadi film layar lebar berjudul Sang Penari. Tapi aku belum pernah nonton.... jadi belum bisa komen banyak tentang The Movie-nya itu. Yang pasti, setelah baca novel ini, aku jadi bener-bener pengin nonton jugaaaa.... ^.^









https://www.goodreads.com/review/show/1721173672
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget