Tampilkan postingan dengan label Soman Chainani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soman Chainani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

Wishful Wednesday - More Sequels

Wishful Wednesday #32

Selamat hari Rabu, hari beringin-ingin dan berangan-angan.

Hari ini aku sedang menginginkan 2 buah novel fantasi, sequel dari seri-seri yang sudah kubaca sebelumnya, yang kabarnya akan segeeeeraaa terbit edisi terjemahannya. *AgustusBangkrut* Susah memang dengan novel seri seperti ini. Belum terbit, hati menunggu-nungu kapan bakal muncul. Begitu penerbitnya bilang Akan Segera Terbit atau Sudah Bisa PO, giliran dompet menjerit dan pingsan lihat harganya, hahaha....  =))

Novel yang pertama adalah pelengkap trilogi School of Good and Evil (review-ku untuk buku #1 dan buku #2 bisa dilihat di link tsb). Buku ini sudah lama kutunggu karena super penasaran akan twist di buku sebelumnya, serta sangat amat kepo dengan nasib kedua tokohnya, Agatha dan Sophie. Akankah mereka tetap saling bersahabat, atau malah menjadi seteru abadi demi sang Pangeran?

Sedangkan novel yang kedua adalah seri terbaru dari si pemberantas hantu Lockwood. Kisah Lockwood dan dua temannya ini salah satu tim favoritku dalam dunia perhantuan #eh
(kalau yang seri ini, review buku #1 dan buku #2 bisa di lihat di link tsb).


 


The Last Ever After (The School for Good and Evil #3)
by Soman Chainani
In the epic conclusion to Soman Chainani’s New York Times bestselling series, The School for Good and Evil, everything old is new again as Sophie and Agatha fight the past as well as the present to find the perfect end to their story.

As A World Without Princes closed, the end was written and former best friends Sophie and Agatha went their separate ways. Agatha was whisked back to Gavaldon with Tedros and Sophie stayed behind with the beautiful young School Master.

But as they settle into their new lives, their story begs to be re-written, and this time, theirs isn’t the only one. With the girls apart, Evil has taken over and the villains of the past have come back to change their tales and turn the world of Good and Evil upside down.

Readers around the world are eagerly awaiting the third book in The School for Good and Evil series, The Last Ever After. This extraordinary conclusion delivers more action, adventure, laughter, romance and fairy tale twists and turns than you could ever dream of!

The Hollow Boy (Lockwood & Co. #3)
by Jonathan Stroud
As a supernatural outbreak baffles Scotland Yard and causes protests against the psychic agencies throughout London, Lockwood and Co. continue to demonstrate their effectiveness in exterminating spirits. Anthony is dashing, George insightful, and Lucy dynamic, while the skull in the jar utters sardonic advice from the sidelines.

There is a new spirit of openness between the team now that Anthony has shared his childhood story, and Lucy is feeling more and more like her true home is at Portland Row. It comes as a great shock, then, when Lockwood and George introduce her to an annoyingly perky and hyper-efficient new assistant, Holly Munro. Meanwhile, there are reports of many new hauntings, including an old school where bloody handprints and a glowing boy are appearing. But ghosts seem to be the least of Lockwood and Co.'s concerns when a living assassin makes an attempt on Fittes's and Rotwell's lives.

Can the team get past their interpersonal issues to save the day on all fronts? Danger abounds, tensions escalate, and new loyalties form in this third delightfully terrifying adventure.

* * *

Kalau kamu, apa keinginanmu hari ini?

Yuk, ikutan Wishful Wednesday dengan cara:

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu.

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!

3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.

4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu.

Link Back WW 202


Sabtu, 04 Juli 2015

Dunia Tanpa Pangeran


Judul: Dunia Tanpa Pangeran
Judul Asli: A World Without Princes
Seri: The School of Good and Evil #2
Pengarang: Soman Chainani
Penerbit: Bhuana Sastra (2015)
ISBN: 9786022499497
Jumlah Halaman: 512 halaman
Penerbitan Perdana: 2014



Lihat sinopsis
Sophie dan Agatha telah berhasil pulang ke Gavaldon, menjalani "bahagia selamanya" versi mereka. Namun, hidup tak seperti dongeng yang mereka harapkan.

Agatha diam-diam berharap seandainya ia memilih akhir bahagia yang lain bersama pangerannya. Permohonan rahasia itu membuka kembali pintu menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak disangka, dunia yang dulu pernah ia ketahui bersama Sophie ternyata telah berubah.

Penyihir dan putri, tukang tenung dan pangeran, bukan lagi musuh. Ikatan baru telah terbentuk, menghancurkan hubungan lama. Namun dibalik hubungan yang rumit antara Kebaikan dan Kejahatan ini, perang sedang dipersiapkan. Musuh yang sangat berbahaya tersembunyi dibalik topeng wajah yang mereka kenal. Saat Agatha dan Spohie berjuang untuk memulihkan kedamaian, sebuah ancaman tak terduga bisa menghancurkan segalanya dan semua orang yang mereka cintai. Kali ini, ancaman itu datang dari dalam diri mereka sendiri.

Di akhir buku pertama dulu dikisahkan akhirnya Sophie dan Agatha berhasil pulang ke desa  mereka. Buku keduanya ini menyambung kisah tersebut sekitar setahun setelah kepulangan mereka. Eforia penduduk desa menyambut mereka sudah menyurut. Sihir keduanya juga sudah tak bisa digunakan. Patung-patung Sophie dan Agatha (yang dibuat oleh penduduk desa untuk menyambut satu-satunya, eh salah, kedua-duanya orang yang berhasil selamat dari penculikan negeri dongeng) sudah mulai dekil oleh kotoran burung. Agatha tidak begitu peduli dengan itu semua, sudah kembali tinggal bersama ibunya di dekat pemakaman. Meski begitu, diam-diam ia masih bertanya-tanya tentang kisah Tedros yang ia tinggalkan di negeri dongeng. Sedangkan Sophie... yah Sophie masih kenes, masih berusaha menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada, tapi kini malah menghadapi masalah yang paling dibencinya, sang ayah benar-benar hendak menikahi kekasihnya, sahabat ibu Sophie sendiri.

Lalu di suatu malam berhujan, Sophie dan Agatha sama-sama membuat permintaan. Sophie meneriakkan harapannya di depan nisan sang Ibu, sementara Agatha diam-diam menggumamkan hasratnya pada gelap malam. Kemudian semuanya berubah....


Keduanya terseret kembali ke negeri dongeng, dan terkejut mendapati segalanya berubah. Tak ada lagi Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak ada lagi putri dan penyihir, pangeran dan penjahat. Yang ada hanya kekacauan kisah, ketidakpastian arah cerita, dan ketidakpercayaan yang merajalela. Dongeng-dongeng direvisi, penuh dengan semangat feminitas super maksimum (paling ngakak lihat judul dongeng edisi revisi: Snow White, Life after Divorce). Tapi di balik itu semua, terasa samar-samar kekuatan jahat sedang menjalankan rencananya. Agatha benar-benar tak tahu siapa yang harus dipercaya atau dihindari, tak tahu bagaimana memilah sejarah negeri dongeng dari versi-versi revisinya, tak tahu cara menghadapi penjahat yang sudah tampak di depan mata. Sementara itu Tedros juga sedang menghadapi perangnya sendiri di antara para pangeran dan penjahat. Ia tak tahu harus mempercayai Agatha atau membencinya, dan pada saat yang sama, seorang sahabat sejati muncul dan membantunya lagi dan lagi. Seorang sahabat yang mengulurkan senyum hangat bernama Filip.

Sophie dan Agatha. Sophie dan Tedros. Agatha dan Tedros. Ketiganya sama-sama tak sadar mereka terjerumus memainkan peran tragis dalam kisah yang diatur Sang Guru dari balik kuburnya.


Setelah cukup lama menunggu terbitnya buku kedua ini dan beberapa kali mencari di tokbuk tapi katanya belum datang dari penerbit, akhirnya aku menghabiskan novel bantal ini hanya dalam dua hari saja. Ceritanya mengalir ringan meski isinya cukup padat dengan intrik dan pengkhianatan. Jika di buku #1 di awal-awal kisah aku sering jengkel pada Sophie yang seenaknya sendiri dan Agatha yang mati-matian membelanya, maka di buku #2 ini yang terjadi adalah sebaliknya, Agatha yang curiga setengah hati jadi menjengkelkan sementara Sophie mati-matian berusaha melawan sifat jahatnya sendirian. Aku jadi teringat pada quote di salah satu drakor favoritku,
       "Antara cinta dan kepercayaan dan harapan, mana yang lebih penting?" 
       "Yang paling penting adalah 'dan'. Mana mungkin cinta langgeng tanpa ada kepercayaan dan harapan."

Dan itulah yang benar-benar terjadi antara Agatha-Sophie-Tedros. Agatha tidak cukup mempercayai Sophie. Tedros tidak cukup mempercayai Agatha. Agatha dan Sophie masing-masing punya harapan yang berbeda. Fiuuuhh.... Pantas saja kisah ini berakhir tragis.... #bukanspoiler XD


Aahhh... sudahlah... buku ketiganya baru akan terbit bulan Juli ini, jadi kira-kira 6 bulan lagi baru ada versi bahasa Indonesianya *berharap* Semoga saja kisah negeri dongeng ini kelak akan berakhir bahagia *berharap lagi* Tampaknya memang sulit punya negeri dongeng yang tanpa pangeran. Semoga Tedros bisa jadi pahlawan yang menyelamatkan Agatha DAN Sophie di buku selanjutnya *berharap lagi* * butuh banyak bintang jatuh malam ini*   :))





https://www.goodreads.com/review/show/1319751277

Rabu, 06 Mei 2015

Wishful Wednesday - A World Without Princes

Wishful Wednesday 2015 #3

Selamat hari Rabu semuaaaa....

Ceritanya nih aku baru aja ngintip daftar buku-buku PO yang beredar, dan ternyata salah satu sequel novel yang kuinginkan masuk dalam daftar tersebut. Whoooaa.... semoga beneran cepet beredar deh, soalnya biarpun PO tapi belum ada tanggal terbitnya.

Novel ini adalah bagian kedua dari sebuah trilogi. Bagian pertamanya sudah kubaca, dan biarpun buku bantal tapi lumayan cepat dicerna (review di sini). Karakter-karakternya awalnya memang sedikit menjengkelkan, tapi makin ke belakang makin oke. Endingnya juga bikin penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Yang paling kusuka sebenarnya adalah premis ceritanya yang menjungkirbalikkan standar fairy tale yang biasa. Bahkan untuk buku keduanya ini, judulnya menarik sekali, "dunia tanpa pangeran"... yeaaaah... prince charming move aside, it's girls power time. Gooooo princesses!
Hihihi.... :D


Jadi, novel yang sedang jadi inginku itu adalaaaaah.....

A World Without Princes 
(The School for Good and Evil #2) by Soman Chainani


In the epic sequel to the New York Times bestselling novel, The School for Good and Evil, Sophie and Agatha are home, living out their Ever After. But life isn’t quite the fairy tale they expected.

When Agatha secretly wishes she’d chosen a different happy ending, she reopens the gates to the School for Good and Evil. But the world she and Sophie once knew has changed.

Witches and princesses, warlocks and princes are no longer enemies. New bonds are forming; old bonds are being shattered. But underneath this uneasy arrangement, a war is brewing and a dangerous enemy rises. As Agatha and Sophie battle to restore peace, an unexpected threat could destroy everything, and everyone, they love—and this time, it comes from within.

Soman Chainani has created a spectacular world that Newbery Medal-winning author Ann M. Martin calls, “a fairy tale like no other, complete with romance, magic, and humor that will keep you turning pages until the end.”



* * *




Yuk, ikutan Wishful Wednesday dengan cara:

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu.

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!

3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.

4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu.

Link Back WW

Jumat, 27 Maret 2015

The School for Good and Evil


Judul: The School for Good and Evil
Judul Asli: The School for Good and Evil
Pengarang: Soman Chainani
Penerbit: Bhuana Sastra (2014)
ISBN: 978-602-24-9756-1
Jumlah Halaman: 580 halaman
Penerbitan Perdana: 2013
Literary Awards: Waterstones Children's Prize Nominee (2014)



Sinopsis
Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.

Namun ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan

Cerita ini sukses mengobok-obok semua kaidah standard kisah dongeng, mengaburkan batasan baik dan jahat, meredefinisikan peran putri, pangeran dan penyihir, serta menuliskan ending versi baru yang bukan 'ever after' maupun 'never more'! #halahbahasane :D

Dua menara bagai kepala kembar
Satu untuk yang tulus
Satu untuk yang keji
Sia-sia mencoba kabur
Satu-satunya jalan keluar adalah
Melalui dongeng


Alkisah di tengah sebuah hutan tak bertepi entah di mana, ada sebuah desa. Di desa ini ada keanehan yang unik. Setiap empat tahun, pada malam kesebelas bulan kesebelas, dua orang anak akan 'diambil' oleh Sang Guru. Dua orang anak. Satu anak yang manis penurut. Satu anak lagi yang bengis bengal. Lebih uniknya lagi, setelah beberapa waktu berlalu, wajah anak-anak ini akan muncul dalam buku-buku dongeng yang dibaca oleh anak-anak lainnya. Satu sebagai pangeran gagah atau putri jelita, yang lain sebagi penyihir buruk rupa. Demikianlah berlangsung sejak lama, tanpa mampu dicegah atau dihentikan.

Di desa ini hiduplah Sophie dan Agatha. Sophie bercita-cita ingin jadi putri dalam dongeng, sehingga ia menjadikan dirinya cantik dan menganggap bahwa dengan berteman dengan Agatha yang penyendiri, ia sudah berbuat kebajikan setulus-tulusnya lalu dengan begitu, ia berharap dapat dipilih oleh Sang Guru.

Malam yang dinanti tiba, dan benar saja, Sophie dan Agatha secara ajaib 'diangkut' menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tapiii.... tunggu sebentar. Ada kesalahan (atau mungkin juga tidak). Sophie dengan segala perilaku sok imutnya diterima di Sekolah Kejahatan, sedangkan Agatha yang sembrono dan tidak peduli penampilannya justru diterima di Sekolah Kebaikan.

Dimulailah petualangan keduanya untuk memahami diri masing-masing. Juga untuk memahami inti dari sebuah dongeng, tentang kejahatan dan kebaikan yang terus bertarung, dan tentang ketulusan dan kekejian yang bersumber dari dalam hati.



Hampir semua "ciri khas dongeng" di bolak-balik di kisah ini. Dari yang paling jelas seperti bahwa putri harus berparas cantik dan penyihir jelas punya rupa buruk, tipikal penjahat-penjahat dalam dongeng, para sidekick yang jarang diingat, sampai dengan berbagai macam keahlian putri dan pangeran.
Di menara kebaikan ini, anak laki-laki berlatih adu pedang sementara, anak perempuan harus mempelajari salakan anjing dan kukuk burung hantu. Tak heran para putri ini begitu tak berdaya di dalam dongeng. Kalau yang mereka lakukan hanya tersenyum, berdiri tegak dan berbicara dengan tupai, maka pilihan apa yang mereka miliki selain menunggu seorang pria untuk menyelamatkan mereka? 

Saat membaca, sempat terpikir kalau pengarang buku ini adalah seorang wanita karena muatan-muatannya dalam novel ini yang lumayan feminis... eh ternyata aku salah lagi... setelah mem-wiki, ternyata cowok tooo. #eaaa  #terTerePart2

Karakter-karakter kisah ini, terutama Sophie dan Agatha juga tidak serta-merta hitam putih. Keduanya selalu berada di tengah-tengah... seolah mengatakan bahwa karakter manusia juga tidak ada yang sejelas putri-putri dalam dongeng. Sophie yang cantik tapi hipokrit versus Agatha yang meskipun tulus namun sangat rendah diri dan peragu. Sophie mungkin saja bisa dibenci karena ia berkali-kali jelas-jelas memanfaatkan Agatha, tetapi Agatha sendiri juga menjengkelkan dan tidak bisa apa-apa tanpa dukungan Sophie.

Menjelang tengah cerita, setelah cukup mapan dengan kisah sekolah baik dan jahatnya, dongeng ini kemudian mengambil kisah Swan Lake dan memuntirnya sedemikian rupa, sampai memberikan nada kontemporer yang menyegarkan. Sang Pangeran jatuh cinta pada sang penyihir yang berwajah putri, hanya saja... siapa putrinya, siapa penyihirnya.

Akhir kisah ini juga sangat tidak konvensional untuk sebuah dongeng. Kadang kala memang persahabatan lebih penting daripada sekedar kenyataan tentang putri dan penyihir, dan seorang pangeran yang berada di tengah-tengah keduanya pun tidak mampu mengubahnya... atau benarkah begitu??

4* buat ceritanya plus setengah * lagi buat ilustrasi covernya yg cakep banget.
Semoga Bhuana Sastra cepat-cepat menterjemahkan seri keduanya, A World Without Princes dan seri ketiganya nanti, The Last Ever After, yang rencananya terbit bulan Juli 2015.




https://www.goodreads.com/review/show/1204419831


Review ini diposting dalam rangka event 
Around the Genres in 30 Days
Kelompok Genre Science Fiction and Fantasy


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget