Tampilkan postingan dengan label J.D. Salinger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label J.D. Salinger. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

The Catcher In The Rye

Judul: The Catcher In The Rye
Judul Asli: The Catcher In The Rye
Pengarang: J.D. Salinger
Penerbit: Banana Publishing (2007)
ISBN: 979-99986-0-3
Jumlah Halaman: 300 halaman
Penerbitan Perdana: 1951
Literary Awards: National Book Award Nominee for Fiction (1952), Teen Read Award Nominee for Best All-Time-Fave (2010)



Since his debut in 1951 as The Catcher in the Rye, Holden Caulfield has been synonymous with cynical adolescent. Holden narrates the story of a couple of days in his sixteen-year-old life, just after he's been expelled from prep school, in a slang that sounds edgy even today and keeps this novel on banned book lists. 
His constant wry observations about what he encounters, from teachers to phonies (the two of course are not mutually exclusive) capture the essence of the eternal teenage experience of alienation.

Pertama-tama biarlah kukatakan bahwa aku tidak pernah menyangka sebuah buku dapat memiliki expiration date bagiku. Bahkan buku dongeng anak-anak ala Grimm Brothers atau HC Andersen dapat memiliki keasyikan tersendiri dalam membacanya. Demikian pula drama menye-menye YA juga terkadang masih memiliki 'pesonanya' sendiri. Tapi kisah Catcher in the Rye ini sungguh-sungguh sebuah buku yang saat membacanya, aku merasa, yah... kalau saja buku ini kubaca saat masih sekolah/kuliah dulu, mungkin akan terasa sangat cetar membahana, tapi karena baru kubaca sekarang, perasaan yang tersisa hanyalah kejengkelan. Betul lho.... saat membacanya ingin sekali mengguncang-guncang si Holden ini dan bilang heeeyy, grow up maaan! Sebelum akhirnya kusadari, ooohh... ternyata itulah hal paling mendasar yang diceritakan dalam novel ini sebenarnya. Growing-up. Pendewasaan diri. Proses menerima bahwa dengan bertambahnya usia dan kompleksitas kehidupan kita, tidak semua hal bisa dinilai dengan takaran hitam putih. Dan JD Salinger mampu menceritakannya dengan sangat unik, dari sudut pandang seorang yang sedang mengalaminya sendiri, menggunakan kicauan kacaunya yang setelah direnungi baik-baik, merupakan usaha penolakan terakhir terhadap segala kemunafikan dunia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget