Tampilkan postingan dengan label Kazuo Ishiguro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kazuo Ishiguro. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

When We Were Orphans


Judul: When We Were Orphans
Judul Asli: When We Were Orphans
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerbit: Elex Media Komputindo (2012)
ISBN: 978-602-00-3365-5
Jumlah Halaman: 424 halaman
Penerbitan Perdana: 2000
Literary Awards: Man Booker Prize Nominee (Shortlist 2000)



Novel Ishiguro yang ini agak sulit dipahami (maksudku yaa... jauh lebih sulit dari novel-novelnya yang lain yang sudah kubaca). Mungkin karena latar setingnya yg aku kurang paham, masa-masa Shanghai di akhir perang candu, jatuhnya Chiang Kai Sek dan awal kekuasaan Ketua Mao, serta awal invasi Jepang. Atau mungkin ceritanya yang kurang mengena. Atau mungkin juga karena karakterisasi tokoh-tokohnya yang tidak sekuat biasanya. Christopher Banks galau dan membingungkan. Akira Yamashita hanya numpang lewat. Jenifer gak jelas. Paman Philip dan Wang Ku sebagai antagonis kurang tergali. Yang mencuri perhatian justru Sarah Hemmings yang sebagai wanita di jaman itu, tapi tahu persis apa yang diinginkannya.

Rabu, 30 Oktober 2013

Never Let Me Go


Judul: Never Let Me Go - Jangan Lepaskan Aku
Judul Asli: Never Let Me Go
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 978-979-22-7493-6
Jumlah Halaman: 358 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Man Booker Prize Nominee for Shortlist (2005), Arthur C. Clarke Award Nominee (2006), ALA Alex Award (2006)



Hal pertama yang saya perhatikan dari novel ini adalah bahwa sinopsis di sampul belakang buku sungguh-sungguh membuat hati gemas. Andaikan saya belum tahu apa itu Hailsham sesungguhnya, saya berniat untuk tahu saat membaca isi buku, bukan saat membaca sinopsis seperti ini:
Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham. Persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, teman masa kanak-kanaknya, mengingatkannya pada masa kecilnya di asrama tersebut. Namun ingatan itu juga membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di tempat itu ternyata manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.

Yah, kalau sudah tahu Hailsham itu tempat pembesaran manusia-manusia hasil kloning untuk kemudian dipanen pada saatnya, setengah dari misteri dan kenikmatan membacanya sudah dirampas dunk! Hadeeeh.... *tepokjidat* Saya jauh lebih suka sinopsis yang diberikan oleh penerbit lain, yang mendeskripsikan Hailsham dengan lebih tepat sesuai kisah namun tidak membuka rahasianya:
As a child, Kathy – now thirty-one years old – lived at Hailsham, a private school in the scenic English countryside where the children were sheltered from the outside world, brought up to believe that they were special and that their well-being was crucial not only for themselves but for the society they would eventually enter. 

Namun selain dari 'cacat' kecil tersebut di saat awal membaca (dan yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, karena saya memang sudah menonton filmnya), saya sungguh-sungguh menikmati membaca buku ini. Alunan kisahnya yang mengalir perlahan, sendiri dan kesepian, terasa jujur menyentuh dan juga sangat intim -- khas karya Ishiguro, dan lagi jika dua buku masterpiece beliau yang sebelumnya saya baca - Remains of the Day dan An Artist of Floating World - bercerita tentang pria-pria tua jelang masa pensiun, di buku ini tokohnya adalah seorang wanita muda sehingga makin meninggalkan kesan lebih dalam diri saya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget