Tampilkan postingan dengan label Lit-Klasik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lit-Klasik Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

Dukuh Paruk Tersayang, Dukuh Parukku Malang


Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Seri: Ronggeng Dukuh Paruk 1 - 3
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 9789792201963
Jumlah Halaman: 397 halaman
Penerbitan Perdana: 1982




Lihat sinopsis
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai-nilai moral yang kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap Srintil, Sang Ronggeng ayu kenes dari Dukuh Paruk yang miskin dan terkebelakang, sebagai tak lebih dari 'sundal' - sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yang menitis dalam tradisi berpuluh generasi?

Kisah ini mengikuti jalan hidup Srinthil, mulai dari masa kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng dengan segala tantangan hidup yang menyertainya, disertai pergolakan politik tahun 1960an, hingga akhir saat nasib tak terlalu berbelas kasihan padanya. Disatukan dari 3 buku yang awalnya terbit berseri, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, dengan tambahan beberapa bagian yang dulu tidak dapat diterbitkan secara lengkap.


Dukuh Paruk adalah sebuah desa terpencil di Jawa Tengah bagian selatan, entah didasarkan pada sebuah tempat tertentu atau murni hanya imajinasi sang pengarang. Dukuh ini miskin, gersang dan terkebelakang, masih ditambah lagi kental kepercayaannya pada hal-hal mistik dan memiki norma-norma yang lebih bebas, dan yang kumaksud di situ adalah penggunaan bahasa yang lebih vulgar cenderung cabul, kontak fisik lebih bebas, serta yang paling penting, tempat kelahiran para ronggeng yang dipercaya menitis dari generasi ke generasi.


Sejak berumur 12 tahun, Srintil kecil sudah kenes dalam menari, karena itulah ia dipercaya telah dirasuki inang ronggeng yang akan membuat dukuhnya kembali terkenal dan dibicarakan orang. Ronggeng yang akan membawa kamulyan pada desanya. Maka diserahkanlah ia pada pasangan suami istri dukun ronggeng untuk dididik dan dijadikan ronggeng secara lengkap.

Dalam buku pertamanya, Catatan buat Emak, kisah dituturkan dari sudut pandang Rasus, teman Srintil sejak bocah, yang kemudian jatuh cinta mati-matian padanya. Setalah Srintil menjalani berbagai pelatihan dan transformasi pada wajah dan badannya hingga dapat tampil molek menggoda, akhirnya hanya dua hal yang harus dilakukan sebelum ia menjadi ronggeng. Yang pertama adalah penyucian di cungkup makam Ki Secamenggala (yang di novel ini dipaparkan secara amat indah mendetail... dan full of takhayul-ish) dan yang kedua adalah upacara bukak klambu. Sebuah acara pelelangan keperawanan yang dilakukan dengan penuh sorotan mata iri dari para gadis dan hasrat menggebu dari para laki-laki.

Ironis?
Mengerikan?
Menjatuhkan harkat wanita?

Nah, itu tergantung dari nilai moral apa yang kita pakai untuk menilai. Bagi dukuh paruk dan desa-desa sekitarnya, ini adalah kehormatan tinggi yang tak setiap wanita dapat menjalaninya.

Tentang siapa yang akhirnya "menikmati" bukak klambu yang sebenarnya, dan siapa yang "merasa" memenangkan pelelangan ini, ada twist kecil di novel yang bikin cerita tambah ruwet sampai akhir. Adapun Rasus yang merasa terkalahkan dari adat dan tradisi, kemudian malah memilih pergi saat kesempatan unik untuk menjadi tentara terbuka untuknya. Dan aku merasa, Rasus ini perlambang tokoh yang mempunyai kehendak untuk ikut maju dalam kehendak jaman, melepaskan diri dari belenggu lingkaran kebodohan desanya.


Di buku keduanya, Lintang Kemukus Dini Hari, sudut pandang penceritaan berubah ke Srintil yang patah hati. Di sini cukup lama ia galau mempertimbangkan pilihan hidupnya sebagai ronggeng dibandingkan sebagai wanita somahan. Namun dari semua hal yang terjadi, tampaknya ini adalah fase pendewasaan diri seorang ronggeng, dari hanya menjadi bocah yang disetir sang dukun, hingga menjadi tokoh dewasa yang punya pertimbangan dan keinginannya sendiri.

Dalam bagian buku yang ini menurutku baiknya dibaca dan dinikmati bukan hanya sebagai buku romance, tapi sebagai buku budaya. Mengupas keseharian seorang ronggeng, kerja dan seluk beluknya, serta isi hati terdalamnya. Di samping itu, pandangan kaum wanita yang berbeda-beda terhadap sosok sang ronggeng juga enak diikuti. Ternyata tidak semua wanita membenci Srintil, ada "fungsi-fungsi sosial" yang ternyata diembannya. Sekali lagi, kacamata moralitas tak sepenuhnya sejalan dengan nilai sejarah dan tradisi berpuluh generasi.

Kisah kemudian ditutup dengan latar belakang kondisi sosial politik tahun 1965an. Tari ronggeng Srintil dikait-kaitkan sebagai seni rakyat abangan dan terdera dampak yang bisa diduga. Sakit dan sengsara tampaknya memang mengikuti pertanda bintang jatuh yang muncul menjelang pagi itu.


Penutup kisah ini ada pada buku ketiganya, Jentera Bianglala. Srintil yang sedang menata kembali puing-puing kehidupannya, mulai bertanya-tanya, apakah ia masih pantas untuk hidup normal berumah tangga. Secara kependudukan, ada cap ET melekat pada dirinya. Secara manusiawi, julukan mantan ronggeng tetap menhantui. Sekali lagi permainan nasib bersiap-siap menghancurkan dirinya, hingga remuk hati terdalam.

Malangnya Srintil, Malangnya Rasus, Malangnya Dukuh Paruk tersayang.


Satu hal yang membuatku betah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir adalah Bapak AT yang selalu cakap sekali dalam mendeskripsikan keindahan alam pedesaan. Beliau kembali memamerkan kepiawaiannya di trilogi ini. Membacanya berkali-kali seakan kita dibawa mendengar cuitan burung dan merasakan semilir angin di rumpun-rumpun bambu. Sementara itu kisah hidup orang-orang kecil yang terpinggirkan, terlindas keadaan yang tak terpahami oleh keluguan mereka, digambarkan dengan sangat real. Sedemikian wajarnya hingga muncul simpati dan keinginan untuk memahami mereka, seberapapun sulitnya.


The Movie


Sebenarnya kisah ini telah diangkat menjadi film layar lebar berjudul Sang Penari. Tapi aku belum pernah nonton.... jadi belum bisa komen banyak tentang The Movie-nya itu. Yang pasti, setelah baca novel ini, aku jadi bener-bener pengin nonton jugaaaa.... ^.^









https://www.goodreads.com/review/show/1721173672

Senin, 07 September 2015

Student Hidjo


Judul: Student Hidjo
Pengarang: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Narasi (2010)
ISBN: 9789791682398
Jumlah Halaman: 140 halaman
Penerbitan Perdana: 1918
Literary Awards: ---




Lihat sinopsis
Kisah dimulai ketika ayah Hidjo, Raden Potronojo, berencana menyekolahkan Hidjo ke Belanda. Raden Potronojo berharap hal itu bisa mengangkat derajat keluarga, yang berasal dari kalangan pedagang. Meskipun sudah menjadi saudagar sukses, sehingga gaya hidupnya bisa menyamai kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak berarti kesetaraan diperoleh. Khususnya, di mata orang-orang (kaum priyayi) yang dekat dengan *gouvernement*.

Namun, ibu Hidjo, Raden Nganten Potronojo, berpandangan sebaliknya. Ia begitu khawatir melepas Hidjo ke negeri yang sarat dengan "pergaulan bebas". Meskipun demikian, Hidjo pergi juga ke Belanda.

Ketika bersekolah di Belanda, mata Hidjo terbuka melihat kenyataan yang--ternyata--tidak sesuai yang dibayangkan. Di sana, ternyata sama saja seperti di Hindia Belanda. Ada orang yang jadi majikan, ada orang yang jongos, ada yang jahat, ada yang baik. Hidjo menikmati sedikit "hiburan" ketika dirinya memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah kosnya. Di mana, hal ini mustahil dilakukan di Hindia Belanda.

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia, kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Novel ini merekam pertentangan budaya kehidupan priyayi di zaman pergerakan. Di mana, mulai lahir para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan novel ini juga secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda.

Sudah beberapa lama aku ingin membaca novel ini. Ada dua alasan, pertama karena si pengarang, Mas Marco Kartodikromo ini karakternya sempat diangkat dalam Tetralogi Buru-nya Bapak Pram dengan sangat apik dan bikin penasaran, dan yang kedua, karena novel ini didapuk jadi buku pertama dalam lini waktu 100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca. Benar, buku ini pertama kali diterbitkan hampir seabad yang lalu, dan saat itu sempat membuat Pemerintah Kolonial geram dan meski harus membolehkan penerbitannya (karena dampak Politik Etis), tapi ada embel-embel "tak boleh dikoetip" di sampulnya. Juga bahwa novel ini yang pertama kali menggunakan kata "saya" sebagai kata ganti orang pertama, menggantikan "hamba" yang lebih kerap dipakai dalam sastra melayu sebelumnya, dengan implikasi kesetaraan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat.


Kisahnya sendiri kurasakan amat sangat sederhana. Kisah percintaan antara Hidjo dengan Biroe dan Woengoe tanpa banyak twist ataupun konflik. Yahh... kalau dibaca dengan kacamata novel modern, jelas memang sangat terasa ketidakadaan keseruan yang membuatnya menarik. Tapi sekali lagi, novel ini diterbitkan saat "Indonesia" saja belum ada. Dan karena itu, aku mencatat ada beberapa hal yang amat sangat layak untuk dibaca.

Tema yang utama yang diangkat dalam kisah ini tentu saja adalah tentang Associatie Politiek. Tentang kondisi sosial percampuran, baik antara orang-orang Belanda dengan orang pribumi, maupun antar orang pribumi sendiri, antara kaum priyayi dengan orang biasa. Ada banyak adegan dalam novel di mana kondisi ini diperlihatkan dengan gamblang. Salah satunya saat Controleur Walter mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Jawa, dan bahkan memamerkan kemampuannya (yang pas-pasan) dalam berbahasa Jawa Kromo Inggil dan menari Jawa. Atau pertemanan antara Hidjo dengan para nonik Belanda di kapal. Kisah utama yang berakhir dengan perkawinan Hidjo (yang dari kalangan rakyat) dengan Woengoe (yang putri Priyayi dari Djarak), juga masih sejalan dengan tema ini.

Tema yang lain, tentu saja adalah kritikan sangat pedas diberikan kapada Pemerintah Kolonial dan orang-orang Belanda secara umum yang diwakili oleh Sergeant Djepris.

Ketika mendengar kata-kata Walter itu, Sergeant Djepris naik darah. Dan dia berkata, "Orang Jawa kotor. Orang Jawa bodoh, orang Jawa malas, orang Jawa tidak beschaafd. Pendeknya orang Jawa atau orang Hindia itu adalah bangsa paling busuk sendiri!"
"Saya heran sekali, Tuan orang Belanda yang telah sepuluh tahun tinggal di Hindia berani berkata begitu! Apakah Tuan tidak malu mengucapkan kata-kata itu? Bagaimana Tuan bisa berkata seperti itu, sedang Tuan sendiri hidup senang di Hindia? Berapa ribu bangsa kita yang mencari penghasilan di Hindia? Perkataan Tuan itu suatu tanda bahwa Tuan seorang yang tidak berperikemanusiaan!"

"Tuan berkata, 'orang Jawa kotor', tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa?"

"Orang Jawa bodoh, kata Tuan. Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang kita tahu, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya kita, Nederland."

"Orang Jawa malas, kata Tuan pula. Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja sampai mandi keringat sekedar mencari sesuap nasi. Apakah semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangkan tanahnya adalah tanah yang kaya-raya. Adakah di Negeri Belanda orang bekerja seberat itu hanya untuk mendapat bayaran 25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa?"

Ha... pantas saja isi buku ini tak boleh dikutip saat pertama diterbitkan. Apalagi percakapan ini masih dilanjutkan 3-4 halaman lagi dengan isi yang pasti memerahkan telinga para orang Belanda.

Selain itu ada pula beberapa hal yang terselip dalam novel ini. Seperti cerita-cerita tentang keriuhan Kongres Besar Perhimpunan Sarekat Islam di Solo. Tidak heran mengingat sang pengarang adalah anggota SI yang cukup aktif dan berpengaruh. Beberapa pandangan proletarism pengarang juga kurasa muncul tak kentara di sana-sini.

Sayangnya, jika boleh kukatakan di sini, adalah novel ini benar-benar miskin konflik. Semuanya persoalan dibuat lempeeeng, lancar jaya, tanpa emosi. Bahkan untuk hal yang paling menggeramkan hatiku di novel ini, saat Walter memutuskan hubungan dengan Jeefrouw Jet Ross dengan cara yang amat sangat pengecut, hanya dituliskan dengan yah begitu saja. Mungkin Mas Marco lebih ingin membandingkan dengan cara Hidjo memutuskan hubungannya dengan Bertje dengan cara yang lebih gentlemen manner. Aissshh...


Tentang Pengarang:

 Marco Kartodikromo (Cepu, Blora, 1890 – Boven Digoel, 18 Maret 1935) atau umum dikenal Mas Marco adalah seorang penulis dan jurnalis.

Lahir dari keluarga golongan priayi di Blora, Hindia Belanda, pekerjaan pertama Kartodikromo adalah di perkeretaapian nasional. Muak dengan rasisme yang ditampilkan di sana, pada tahun 1911 ia pindah ke Bandung dan menemukan pekerjaan sebagai wartawan di Medan Prijaji. Tahun berikutnya ia pindah ke Surakarta dan bekerja dengan dua media publikasi, Saro Tomo dan Doenia Bergerak; ia segera mulai menulis dalam bagian penting melawan pemerintah kolonial Belanda, yang menyebabkan penangkapan terhadap dirinya. Setelah periode sebagai koresponden di Belanda, Kartodikromo terus melanjutkan kegiatan jurnalisme dan kritik terhadap pemerintahan; ia juga menulis beberapa potongan-potongan novel fiksi. Terlibat dengan Partai Komunis Indonesia, setelah pemberontakan komunis 1926 yang dipimpin Kartodikromo, ia dibuang ke kamp penjara Boven-Digoel di Papua. Dia meninggal di kamp tersebut karena penyakit malaria pada tahun 1932.

Kartodikromo, yang lebih suka menulis dalam bahasa Melayu, bereksperimen dengan frasa-frasa baru pada saat penerbit milik negara Balai Pustaka berusaha untuk membakukan bahasa. Menurut kritikus sastra Bakri Siregar, ia adalah penulis Indonesia pertama yang secara terbuka mengkritik pemerintah kolonial Belanda dan bentuk tradisional feodalisme yang dipraktekkan di negara itu. Untuk kritik vokal ini, pemerintah Belanda mencela dia sebagai orang 'gila' yang bisa memicu kerusuhan antara penduduk asli.

https://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Kartodikromo


100 Hari Membaca Sastra Indonesia


https://www.goodreads.com/review/show/1384480510




Rabu, 02 September 2015

Lingkar Tanah Lingkar Air



Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia  Pustaka Utama (2015)
ISBN: 9786020318608
Jumlah Halaman: 168 halaman
Penerbitan Perdana: 1992




Lihat sinopsis
Pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan RI antara tahun 1946—1950 menyeret banyak pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Di antara mereka adalah Amid dan kawan-kawan yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.

Tetapi sejarah membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sesungguhnya seorang yang sangat cinta Tanah Air sering bimbang karena pasukannya sering memerangi warga seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Dia tidak sedih ketika Khalifah DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tertangkap dan menyerukan seluruh laskarnya menyerahkan diri.

Tiga tahun kemudian Amid dan kawan-kawan malahan diminta oleh tentara untuk membantu menumpas pasukan komunis yang bertahan di hutan jati. Mereka kembali mengangkat senjata, kali ini atas nama Tentara RI, sesuatu yang pernah amat didambakan Amid; bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat sekitar tahun 1949-1962 adalah sebuah fakta sejarah yang sangat sedikit disinggung dalam dunia pendidikan kita. Buatku, selain bahwa gerakan tersebut dipimpin oleh Kartosoewirjo, tidak ada lagi yang aku ketahui tentang hal ini. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air karangan Bapak Ahmad Tohari ini adalah yang pertama kutemukan menggores tentangnya.

Maret 1946. Di sebuah kampung di kaki Gunung Slamet, sekelompok pemuda dikumpulkan oleh kiai desa. Mereka diminta untuk ikut berjuang membela tanah air, membantu tentara Republik untuk menahan agresi Belanda yang kembali setelah kekalahan Jepang. Awalnya mereka hanya diberi tugas-tugas pendukung, namun lama-kelamaan beberapa orang diantaranya benar-benar memikul senjata dan bertempur di garis depan. Sampai akhirnya di penghujung 1949 saat Belanda mengakui kedaulatan negara dan akhirnya hengkang dari tanah ini. Saat itu kelompok-kelompok pemuda yang menyebut diri mereka Hizbullah ini ditawari (dan sebagian besar bersedia) untuk benar-benar menjadi tentara nasional, karena ini berarti pekerjaan dan gaji tetap, status dan kehormatan. Namun karena kekacauan yang terjadi, campur tangan gerakan musuh dalam selimut, mereka malah dikhianati, sebagian tewas terbunuh sedangkan yang lain dicap pemberontak, Dalam kekecewaan inilah, Kartosoewirjo menawarkan sesuatu yang tak sulit ditolak, berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia, sebuah bentuk negara tanpa paham komunisme di dalamnya.

Bertahun-tahun berjuang mengangkat senjata, bergerilya dan bertahan dalam hutan, namun kekuatan DI malah semakin melemah. Selain tentara, mereka juga masih menghadapi Gerakan Siluman, sebuah gerakan yang memfitnah dan menjelek-jelekan mereka di mata penduduk setempat. Ditambah lagi semangat juang mereka yang semakin dipertanyakan, karena sebagian "musuh" yang mereka bunuh ternyata adalah juga orang Islam, orang seiman dan bersaksi pada Allah dan Nabi yang sama. Hingga akhirnya terdengarlah kabar bahwa Sang Khafilah DI telah menyerah dan adanya pengampunan nasional bagi seluruh laskarnya.



Dikisahkan dari sudut pandang Amid, seorang pemuda kampung belasan tahun yang terseret ke dalam kekisruhan politik dan militer saat republik ini baru saja lahir, cerita ini bukan merupakan pledoi atas gerakan militer yang terjadi. Ini hanya sebuah kisah pendek tentang orang-orang yang sesungguh-sungguhnya cinta tanah air, namun dipaksa meniti jalan yang sulit. Sebuah tawaran literatur untuk melihat potongan sejarah yang tersembunyi dari sudut pandang lain. Bukan sudut pandang orang-orang besar pelaku dan penentu jalan, namun dari seseorang kecil yang benar-benar mengalami duri dan pahitnya kelaparan dan kerinduan keluarga, meskipun niat mereka sangat sederhana dan mulia. Menjaga tanah air mereka.


Novel fiksi-historis ini pertama kali terbit secara lokal dari sebuah penerbit kecil di Purwokerto, kota kelahiran sang pengarang, tahun 1992, dan baru pada tahun 1995, penerbit LKiS menerbitkannya secara nasional (meskipun aku suka cover versi GPU yang berkesan modern, cover versi LKiS ini juga cantik dilihat. Sayang sekarang sudah susah mencarinya). Setelah tersandung novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang dipaksa dimutilasi oleh pemerintah Orde Baru, kelahiran novel ini bisa dibayangkan sulitnya.

Terlepas dari temanya yang menyinggung sejarah gelap negeri ini, gaya penulisan seorang Ahmad Tohari sangat kental tersurat. Pendeskripsian suasana desa dan kehidupan penduduknya terasa nyata dan sangat membumi, sedangkan pergulatan batin para tokohnya dituturkan dengan sederhana tapi tetap mengena.


Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1378880279

Selasa, 14 Juli 2015

Balada Ching-Ching


Judul: Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
Pengarang: Maggie Tiojakin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792258288
Jumlah Halaman: 186 halaman
Penerbitan Perdana: 2010
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2010)



Lihat sinopsis
Ching-Ching adalah seorang gadis keturunan. Ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah. Ayahnya seorang pedagang kwetiau pinggiran. Ini adalah baladanya, juga balada manusia lainnya.

Masing-masing kisah dalam koleksi fiksi pendek ini merupakan sebuah vignet tentang apa artinya menjadi manusia biasa---yang sakit, sedih, senang, hidup, mati, gila, waras. Lebih dari itu, dunia fiksi yang dipersembahkan dalam koleksi ini sungguh mewakili kegelisahan internal semua orang, di mana karakter-karakternya tumbuh dewasa lewat kegagalan dan kekeliruan, obsesi dan pilihan, harapan dan keputusasaan.

Buku keempat dalam 100 Hari Membaca Sastra Indonesia yang kubaca, adalah kumcer lawas Maggie Tiojakin. Setelah terabsurd-absurd membaca kumcernya yang lain, Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa, aku sedikit heran (heran yang bagus) karena kumcer ini sangat realistis dan membumi. Konflik-konflik yang diangkat adalah konflik "orang-orang biasa" yang terjadi bisa saja terjadi kapan saja di sekitar kita. Tigabelas cerita pendek yang cantik, bercita rasa global, dengan ending-ending terbuka untuk intepretasikan ke arah mana pun.

Sebagai pekerja medis, Malik sudah terbiasa menghadapi kematian, baik itu yang datang mendadak maupun secara gradual. Kerudung hitam yang dikenakan oleh malaikat maut mudah ia kenali dari jarak ribuan meter, tanda-tandanya pun jelas, namun sesekali ada saja mukjizat yang mengusir malaikat maut itu pergi sebelum ia datang menghampiri pasien yang sekarat.
Cerpen pertama di sini berjudul Anatomi Mukjizat. tentang seorang perawat yang mendampingi seorang gadis yang butuh mukjizat bernama jantung baru. Sebuah kisah tragis dalam dunia profesi si tokoh utama Malik, dan terjabar jelas bagaimana ini mempengaruhinya.

Yang paling aku sukai di sini adalah hanya dalam beberapa paragraf saja, kisah ini diberi nafas lebih dalam dan intim, saat mukjizat yang diharapkan, ternyata jauh-jauh lebih dekat dalam kehidupan pribadi Malik. Dan tentu saja, ending yang menggantung, sehingga aku berimajinasi dari harapan yang terbaik hingga kisah terburuk yang bisa kubayangkan.


Konflik-konflik personal dalam hubungan cinta dan rumah tangga diangkat dalam beberapa cerpen. Ada cerita sangat pendek Kawin Lari, dikisahkan dua orang muda mudi yang memutuskan untuk lari dari keluarga mereka dan menjalani hidup bersama karena si cewek sudah mengandung. Dalam percakapan singkat keduanya jelas sekali si cewek ketakutan menghadapi kehidupan masa depannya dan sadar akan sulit untuknya untuk kembali lagi. Dalam Suami-Istri, sepasang suami-istri lanjut usia baru saja merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-32. Tampak dari luar kehidupan pernikahan yang langgeng, namun ternyata di dalam, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan what-if yang diam-diam terpikirkan keduanya. Di Balik Sebuah Tatapan, kehidupan rumah tangga yang lebih rumit diangkat dengan baik. Jika sebuah perkawinan adalah sebuah kesalahan, apakah anak yang (akan) lahir juga hal yang salah? Lalu ada tema perselingkuhan diangkat dalam kisah Tawa Elisa. Tawa seorang wanita yang menjadi candu bagi seorang pria, meskipun ia punya keluarga yang menunggunya di rumah.


Cerpen yang diangkat jadi judul kumcer ini, Balada Ching-Ching, menyoal tentang seorang gadis remaja etnis minoritas yang di-bully di sekolahnya. Sebenarnya aku merasa cerpen ini biasa-biasa saja, justru tidak se-wah cerpen-cerpennya yang lain. Memang sih, tema yang diangkat mungkin lebih sensitif, dan endingnya melecutkan ketegaran si gadis, tapi karakterisasinya tidak sekompleks dan sebernas tokoh -tokoh utama yang lain.


Cerpen paling panjang di kumcer ini berjudul Dua Sisi. Lebih dari 50 halaman. Dibandingkan cerpen-cerpen lainnya yang latar dan persoalannya lebih lokal dan personal, Dua Sisi mengambil latar peristiwa 9/11. Kuat menceritakan hari tragis tersebut, sekaligus mengajak pembacanya melihat kejadian itu dari dua sudut pandang berbeda. Andira yang bisa dibilang "di luar sistem", mengutuk peristiwa itu dan mengutuk teror yang menimpa sekian ribu orang sipil. Sedangkan Aysha, gadis keturunan Libanon yang mengalami sendiri berbagai teror di tanah kelahirannya, menganggap apa yang terjadi adalah pembalasan setimpal.
Aku sering tertawa melihat orang jogging di sini. Karena di Beirut, orang berlari bukan untuk kesenangan ataupun kebugaran - orang berlari untuk menghidari kematian yang mengenaskan.
Dua sisi berbeda, ditampilkan tanpa berusaha saling menghakimi, bahkan ditingkahi dengan hubungan asmara Andira dan Aysha. Lalu..... ah endingnya...


Sedangkan cerpen favoritku di sini, aku suka karena gaya penceritaannya, adalah Sekali Seumur Hidup. Satu malam saat lampu mati, Edi naik ke atap untuk menikmati bintang. Lalu ia ditemani Vitta. Dari sini aku mulai meraba-raba apa sih maksud kisah ini. Hubungan cinta terlarang Edi-Vitta? Tampaknya bukan. Edi tampak lebih seperti seorang kakak. Masalah pelik yang dialami Vitta pun mengalir dan diterima dengan tenang olehnya. Lalu apa.... ehm, "siapa" tepatnya? Sampai pagi datang, tampaknya masalah ini tidak hendak dijawab oleh si empunya cerita. Tapi tidak... kemudian dalam sebuah kalimat, hanya sebuah kalimat, 4 kata, tersamar, singkat, padat, kisah pelecehan Vitta diceritakan. Ooooh... oh... hoooo.... oh tidak... kasihan sekali. Jadi teringat Tania di novel Remedy yang serupa nasibnya.

Satu hal lagi tentang kumcer ini, aku suka sekali dengan cover buku ini. Merah, minimalis, cantik.


Setelah sebelumnya baru saja aku menikmati kumcer Kaki yang Terhormat dari Gus tf Sakai yang terasa sangat tradisional dan mengulik realita sosial yang kental dan penuh metafora, kumcer Balada Ching-Ching dari Maggie ini lebih berasa modern, rasa global, meskipun konflik-konflik yang diangkat terasa dekat dengan pembaca. Mana yang lebih kusukai? Dua-duanya aku suka, dua-duanya bernas, dua-duanya bergizi. Gak bisa kan membandingkan enaknya sego pecel dengan caesar salad, (atau sebenarnya aku nulis postingan blog ini sambil laper). #eh #hihihihi.... Pokoknya, gak heran dua kumcer ini sama-sama masuk dalam jajaran longlist KLA di tahun berbeda. Setelah ini, masih ada satu lagi kumcer yang ngantri untuk kubaca, Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, yang juga masuk longlist KLA tahun 2013. Tampaknya gak kalah menariknya nih.


Tentang Pengarang:

Maggie Tiojakin (10 Maret 1980) adalah seorang penulis dan jurnalis yang tulisannya telah dimuat di berbagai harian internasional. Sejumlah cerita-cerita pendeknya juga telah diterbitkan di media lokal maupun internasional seperti Femina, Kompas, Every Day Fiction, Writers’ Journal, Eastown Fiction, dan Postcard Shorts.

Buku-buku yang telah diterbitkan, antara lain, kumpulan cerita pendek Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010), dan Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa (2013), dan novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011). Selain itu, Maggie Tiojakin juga dikenal sebagai penulis naskah film, dengan karya debut Simfoni Luar Biasa besutan Awi Suryadi. Di waktu senggangnya, Maggie Tiojakin sering menerjemahkan karya-karya klasik ke dalam Bahasa Indonesia. Ia menjalankan situs gratis, FIKSI LOTUS, yang bertujuan menghadirkan cerita-cerita pendek klasik dunia gratis untuk pembaca Indonesia.

Maggie adalah seorang penulis dengan kemampuan eklektik. Tidak hanya bekerja sebagai jurnalis, ia juga seorang copywriter, scriptwriter, editor dan translator.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia





https://www.goodreads.com/review/show/1334530540


Kamis, 09 Juli 2015

Kaki Yang Terhormat


Judul: Kaki Yang Terhormat
Pengarang: Gus tf Sakai
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792285246
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2013)



Lihat sinopsis
Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, “Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik.

Sebetulnya, kalau mau jujur, bukan hanya Nenek yang bangga. Banyak dari keluarga kami, yang bila ngobrol, tak bisa menyembunyikan perasaan bangga kepada keluarga lain. Bahkan, bukan hanya keluarga kami. Banyak dari penduduk kampung, yang bila ngobrol, juga tak bisa menyembunyikan bangga kepada penduduk kampung lain. Maka, keyakinan Nenek pada kaki, berkembang bagai tak terbantahkan. Seperti tak cukup kalau kaki hanya dikatakan penting. Kaki adalah sesuatu yang terhormat.

Masih dalam rangka 100 Hari Membaca Sastra Indonesia, ini buku ketiga yang kubaca. Kumcer ini peraih longlist KLA 2013, dan 12 cerita pendek di sini memberiku pengalaman baru. Pertama karena pengarangnya baru kali ini kubaca karyanya, dan kedua karena setting ceritanya yang banyak mengangkat budaya dan kehidupan tradisional Sumatra Barat, selain realita-realita sosial yang tersampaikan melalui kisah-kisah ini.

Mulai dari cerpen pertama di kumcer ini, Kulah, aku sudah dikejutkan dengan endingnya. Awalnya kukira ini akan jadi cerita seram penuh dengan kepercayaan kuno yang tidak logis. Lalu tiba-tiba, dalam dua paragraf terakhir, kisah diputar balikkan menjadi masalah lingkungan hidup, tentang kondisi alam dan masyarakat desa yang tercemari.

Meskipun demikian, ada juga cerpen-cerpen yang benar-benar bernuansa mistik. Orang Bunian mengisahkan pengalaman seseorang yang memasuki alam "sumangaik" dan melihat perwujudan binatang buruannya yang hampir mati meraung tak ingin meninggalkan anaknya. Atau Liang Harimau yang menceritakan tentang seorang "urang Rawayan" yang meninggalkan kewajibannya dalam upacara tradisional dan berakhir tragis dikejar-kejar Maung (Harimau) dalam bayangan rasa bersalahnya (cerpen ini sedikit mengingatkan pada novel Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, meskipun hanya dalam setting dan latarnya).

Tema hormat dan kewajiban pada orang tua beberapa kali diangkat. Selain dalam Melihat Ibu, ada pula Bulan Setempayan. Kisah ini unik dan sedikit ironis, karena pada akhirnya sikap yang dimaksud penuh penghormatan malah berbalik menjadi rasa kesia-siaan di mata sang Ibu. Cerpen Kaki yang Terhormat yang menjadi judul kumcer ini juga menyoal tentang seorang Ibu yang tak pernah ditengok oleh anak bungsunya yang merantau dan sukses besar di Ibukota, namun akhirnya ditimpa celaka. Di sini sang Ibu menyalahkan sang putra karena tidak lagi menggunakan 'Kaki yang Terhormat'.

"Kau tahu apa sebenarnya yang membuat Mak Etek-mu celaka?"

"Karena ia tak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya mau dengan kendaraan, di atas helikopter itu saja."

Sebuah metafora kaya makna, saat pembaca kemudian disadarkan bahwa di sini "kaki" ini bersinonim dengan "ibu". Saat si anak sudah tak menghormati kakinya (ibunya) ia pun menjadi celaka. Aihh... kisah Malin Kundang versi kontemporer ini.

Satu cerpen favoritku, adalah Kak Ros. Tema cerita ini unik sekali, tentang seorang perempuan yang dari luar tampak lemah lembut dan keibuan.... tapi ternyata.... psikopat! Nggak nyangka... XD

Sebuah kumpulan cerpen yang mengulik berbagai tema, semuanya disajikan dengan cermat, kadang dengan ending yang tak terduga, kadang seluruh ceritanya adalah metafora tak terduga. Sayang kumcer ini hanya berisi 12 cerpen saja. Aku masih belum puas menikmatinya dan jadi pengin baca kumcer-kumcer Gus tf Sakai yang lain.



Tentang Pengarang:

Gustafrizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai, lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965, Nama pena Gus tf Sakai digunakan kalau ia menulis prosa, sedangkan Gus tf digunakan jika ia menulis puisi.

Kaki yang Terhormat adalah kumpulan cerpen yang memuat cerpen-cerpen realis Gus tf Sakai dalam masa 25 tahun kepengarangannya, mulai dari “Bulan Setempayan” yang ia tulis saat berusia 19 tahun dan memenangi sayembara menulis cerpen di sebuah majalah, sampai cerpen “Kaki yang Terhormat” yang terpilih sebagai salah satu Cerita Pendek Pilihan Kompas 2009. 

Kumpulan cerpennya, Perantau terpilih sebagai fiksi terbaik pilihan pembaca Ruang Baca Koran Tempo 2007 dan meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2007. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002) dan menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (2004).


100 Hari Membaca Sastra Indonesia







https://www.goodreads.com/review/show/1328057015

Jumat, 03 Juli 2015

Bekisar Merah


Judul: Bekisar Merah
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 9789792266320
Jumlah Halaman: 358 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Penghargaan Sastra Badan Bahasa (1995)




Lihat sinopsis
Edisi cetak ulang yang terdiri atas Bekisar Merah dan Belantik.

****

Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa yang berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas—kulit putih, mata eksotis—membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. Karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini, yang memang sudahh menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serba mudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Berhasilkah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

Ini postingan untuk posbar bulan Juni yang telat. Apa daya, maksud hati posting bareng akhir bulan lalu, siapa sangka tanggal 30 datang dan berlalu, baru sadar telat pas sudah lewat 2 hari. Yah, daripada tidak, telat dikit gpplah, barusan ngecek, linky posbar masih buka kok... XD
Ohiya, sekalian buat postingan event 100 hari membaca sastra Indonesia yang diadakan blog lustandcoffe. Yang pengin tahu event ini, sila cek di sini.

Judul novel Bekisar Merah ini mengambil perumpamaan tokoh Lasiyah, jika ayam bekisar berarti silangan ayam hutan dan ayam kampung, maka Lasi ini adalah gadis keturunan seorang wanita Indonesia yang diperistri serdadu Jepang. Garis wajahnya yang eksotis ditambah kulit putih bersih membuat kecantikannya mencolok diantara gadis-gadis Kampung Karangsoga lainnya. Sayangnya, hal itu pula yang membuatnya "berat jodoh", hingga akhirnya dipinang Darsa, seorang penyadap nira (nira ini cairan sari kelapa yang kemudian dimasak menjadi gula jawa).

"Darsa menurunkan pikulan dari pundaknya, mengambil dua pongkor, Sisa air hujan masih meluncur sepanjang batang kelapa yang hendak dipanjatnya. Sambil naik ke tatar pertama, Darsa mengikatkan ujung tali kedua pongkor pada kait logam yang terdapat pada sabuk bagian punggung. Tetes air berjatuhan ketika pohon kelapa bergoyang oleh gerakan tubuhnya. Darsa terus memanjat dengan semangat yang hanya ada pada seorang penyadap."

Malang tak dapat ditolak, baru setahun menikah, Darsa terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap. Meski selamat, namun hingga ang berbulan-bulan berikutnya kelaki-lakian Darsa belum sembuh sempurna. Dicarilah seorang dukun pijat yang manjur tapi ternyata punya agenda tersembunyi... demikianlah, suatu saat malah Darsa yang dicari-cari untuk menikahi anak perempuan si dukun pijat.

Lasi yang meradang, memilih melarikan diri dari kampung. Mengikuti truk pengantar gula jawa ke Jakarta, tempat di mana kecantikannya dihargai laksana emas berlian dan bukannya dicerca seperti di kampung. Di sini Lasi mencicipi berbagai bentuk kenikmatan hingga akhirnya benar-benar menjadi klanggenan layaknya ayam bekisar seorang pengusaha tua kaya raya.

Jika dalan novel Bekisar Merah lebih banyak menyoroti perubahan sikap Lasi dan pergolakan hatinya dalam mengahadapi berbagai perubahan itu, dalam Belantik, sang pengarang lebih banyak menyoroti kebejatan para pengusaha kelas kakap negeri ini. Masih dilihat dari mata Lasi yang lugu, yang kini 'dipinjamkan' suaminya kepada seorang 'Belantik' - perantara, makelar, pialang, atau kata lain yang lebih kerennya, pelobi. Seorang yang tak kasat mata publik namun mengatur transaksi jual beli aset negara, dari mulai HPH, minyak bumi, tambang, hingga jabatan Direktur dan Menteri. Dan saat Lasi mulai mengambil sikap menolak itu semua, saat itu pula sangkar ayam yang melingkupinya mulai terututup dan terkunci. Mengurungnya rapat-rapat di dalam.


* * *  


Seperti saat membaca novel Ahmad Tohari lainnya,  Di Kaki Bukit Cibalak atau Orang-orang Proyek, misalnya, kentalnya kritik sosial dan politik sangat terasa juga dalam novel ini. Selain perkara belantik yang kusebut di atas, ada pula masalah perubahan jaman yang mendatangi desa Karangsoga. Misalnya sebuah kemajuan teknologi yang sangat mendasar seperti masuknya jaringan listrik ke desa tersebut... bagus? tentu saja, tapi harga yang harus dibayar sangat tinggi. Sekian puluh pohon kelapa harus ditebang untuk membuka jalan bagi tiang-tiang listrik tersebut, dan bagi sebuah desa dengan hasil utama gula jawa, itu sama saja dengan mematikan setengah nyawa penghidupan warga desa.

"Sekejap Lasi merasa kembali berada pada masa lalunya sendiri. Lasi merasakan sepenuhnya kepedihan hati istri seorang penyadap yang remuk ketika tungku tak lagi berapi karena tak ada lagi pohon kelapa yang disadap."

"Kanjat bahkan bisa merasakan sebuah ironi lagi yang tak kalah pekat: Darsa yang telah memberikan sumber kehidupannya demi kawat listrik, mustahil kelak dapat menjadi pelanggan."

Selain itu, penggambarannya tentang Desa Karangsoga beserta semua liku budayanya sangat enak dinikmati. Sangat detail dan indah sampai bisa terbayang sendiri bentuk desa dan kehidupannya. Meski tidak disebutkan secara jelas, aku mengira-ngira letak Karangsoga ini di sekitar wilayah Banyumasan, seputar Purwokerto atau Cilacap, karena -selain bahasa ngapak yang muncul sekali dua kali- setahuku di sana memang penghasil gula jawa terenak yang pernah kucicipi. Ibuku malah masih sering meminta kiriman gula jawa dan gula aren dari sana. Tapi baru dari novel ini, kusadari betapa beresikonya pekerjaan para penderes ini.... Semoga saat ini sudah ada lebih banyak perlengkapan keamaanan bagi mereka.

Para istri penderes ternyata juga punya pengorbanan mereka sendiri. Selain resiko kehilangan suami jika jatuh saat menaiki pohon kelapa, tugas mereka saat memasak nira menjadi gula juga bukan main-main. Di novel ini digambarkan mereka masih menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu, padahal saat memasak tidak boleh sekalipun api mati karena kehabisan kayu, jadi jika perlu, kayu kaki tempat tidur pun dikorbankan demi gula yang sedang dimasak. Tidur di lantai tak apa-apa, demi gula yang dijual seharga 6 rupiah sekilo, masih dikurangi kecurangan timbangan tengkulak, yang nantinya bahkan tidak cukup untuk membeli sekilo beras.

Untuk muatan politiknya, meskipun novel ini ditulis sekian tahun yang lalu, ternyata kebobrokan negeri kita ini gak banyak berubah ya... -_-


Oh iya, jika saja ada satu hal yang mengurangi kenikmatan novel ini, mungkin bagi pembaca yang bukan dari jawa atau tidak menggunakan bahasa jawa, akan kesulitan mengerti banyak hal yang dikisahkan di sini menggunakan istilah-istilah bahasa jawa. Meskipun untuk tembang dan sloka yang ditulis dengan Jawa Kromo ada alih bahasa Indonesianya, namun untuk percakapan sehari-hari, istilah boso jowo bertaburan di seluruh buku. Jadi ya... semoga mudheng artine yo...

Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP dan dwilogi Bekisar Merah, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.




100 Hari Membaca Sastra Indonesia


Postingan ini dibuat untuk mengikuti event Baca Bareng BBI
Bulan: Juni 2015
Tema: Budaya dan Setting Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1312991712
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget