Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Interpreter of Maladies

Judul: Interpreter of Maladies (Penerjemah Luka)
Judul Asli: Interpreter of Maladies
Pengarang: Jhumpa Lahiri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
ISBN:  9789792225181
Jumlah Halaman: 248 halaman
Penerbitan Perdana: 1999
Literary Awards: Pulitzer Prize for Fiction (2000), PEN/Hemingway Foundation Award (2000), Puddly Award for Short Stories (2001)



Sembilan buah cerita pendek yang menceritakan tentang tragedi-tragedi pribadi orang-orang yang kesepian. Hampir semuanya berakhir sangat menyedihkan, tapi juga di sisi lain, sangat melegakan. Kisah kehidupan yang dengan lugas menyatakan, life's hard, but you'll get through it

Kamis, 12 September 2013

The Cask of Amontillado


Title: The Cask of Amontillado
Original Title: The Cask of Amontillado
Author: Edgar Allan Poe
Publisher:  ebook from Gutenberg Project / audiobook from Librivox
ISBN:  --
Pages: 20 pages
Original Published Date: 1840





I didn't seem to learn my lesson. Do not listen to Edgar Allan Poe audiobook when you think you are alone! It will give you arrhythmia. For sure.

Yeah, I did that (again) during lunch break, it was quite, so I took my phone, put my earphones and listen to this, The Cask of Amontadillo (I read The Sherlockian a while ago and it was mention by ACD character, hence 'curious'). Closed my eyes... and listened.

 Arrhythmia!!

 The story itself was rather straight point. Fortunato did something that insult Montressor. Montressor vow for revenge. But Poe wrote it so meticulously and so tautly, so the tense was built up little by little, get higher everytime they descend the wine vault... until....

"For the love of God, Montresor!"

For the love of God, indeed.

Nemo me impune lacessit ~ No one attacks me with impunity

 NB. I got the audiobook from Librivox, and it was outstanding, with sound fx and all. Love it.





http://www.goodreads.com/review/show/717659436

Rabu, 04 September 2013

An Occurrence at Owl Creek Bridge


Title: An Occurrence at Owl Creek Bridge
Original Title: An Occurrence at Owl Creek Bridge
Author: Ambrose Bierce
Publisher:  ebook from Gutenberg Project / audiobook from Librivox
ISBN:  --
Pages: 24 pages
Original Published Date: 1890





They said that when you are about die, all your life come flashing in your eyes. What if, instead of your lived life, you'll have a flash of what it could have been, or what it could be.

Peyton Farquhar was a happy man, well, content at least. He's still young, respectable and consideredly wealthy. He had a nice plantation in the south, a home and a lovely loving wife inside it. What more should a man want. Then came the civil war. People take sides. People killed. Or be killed. And so was Farquhar. Tried to be a hero but got noose around his neck instead. But wait, he got lucky...

The rope snapped, and he's free. Free to come back to his lovely loving wife. And to his nice plantation. Look there's the gate. Just open it, open it and you're home. Home. HOME!




Or not.

 *and here I burst to tears*



http://www.goodreads.com/review/show/710558999

Minggu, 13 Januari 2013

The Purloined Letter


Judul: The Purloined Letter
Seri: C. Auguste Dupin #3
Pengarang: Edgar Allan Poe
Penerbit:  ebook from Gutenberg Project
ISBN:  --
Jumlah Halaman: 48 halaman
Original Published Date: 1844





Mendengar nama Edgar Allan Poe, pertama kali yang terlintas dalam pikiran saya tentu saja kisah-kisah seram dan menakutkan semisal Tell-Tale Heart atau The Fall of the House of Usher. Poe memang empunya kisah-kisah penuh teror seperti itu. Namun selain terkenal untuk genre cerita tersebut, Poe juga dianggap sebagai Bapak dari kisah detektif modern. Sir Arthur Conan Doyle sendiri pernah berkata,
"Each [of Poe's detective stories] is a root from which a whole literature has developed.... Where was the detective story until Poe breathed the breath of life into it?"
Karakter ciptaan Poe yang paling terkenal untuk genre ini adalah C. Auguste Dupin. Dupin sendiri bukanlah seorang detektif. Ia adalah seorang gentleman yang hidup di Paris, menyewa kamar berdua dengan seorang teman, narator tak bernama dari kisah-kisahnya. Keterlibatannya dengan dunia kriminal, murni hanya karena kegemarannya berpikir logis dan memecahkan teka-teki, berimajinasi dan thinking out of the box. Karakterisasi tokoh Dupin ini di kemudian hari menjadi inspirasi dan tumpuan banyak sekali tokoh detektif yang lain, termasuk 2 yang paling kita kenal, Mr. Sherlock Holmes dan Monsieur Hercule Poirot.

C. Auguste Dupin sendiri muncul dalam tiga cerpen detektif Poe, The Murders in the Rue Morgue (1841), The Mystery of Marie Rogêt (1842) dan The Purloined Letter (1844). Berbeda dengan Rue Morgue dan Marie Rogêt yang sangat klasik kisah detektif menyelidiki tindak kejahatan, saya lebih menyukai keunikan Purloined Letter. Di sini, tindak kejahatannya terbuka, korbannya ada, pelakunya tidak tersembunyi dan motifnya jelas. Namun keahlian M. Dupin dalam memandang si pelaku secara psikologislah yang membuatnya istimewa.

Sinopsis kisah:
Dupin kedatangan tamu, Monsieur G--, Prefect dari Kepolisian Paris. Sang tamu ini meminta nasihat Dupin untuk sebuah masalah 'sederhana'. Seorang wanita terhormat kehilangan sepucuk suratnya. Yang mengambil sudah jelas adalah Menteri D--. Dengan kepemilikan surat ini D-- akan memeras si wanita bila saatnya tiba. Monsieur G-- yang dimintai tolong 'mengambilkan kembali' surat tersebut, sudah berkali-kali menggeledah rumah D-- seteliti mungkin dan bahkan juga dua kali mencoba merampok D--, namun tanpa hasil. Mendengar masalah ini, saran dari Dupin hanyalah mencari kembali di rumah D--.

Sebulan kemudian Monsieur G-- kembali bertamu ke rumah Dupin. Pencariannya masih nihil. Ia sekarang menyatakan akan membayar 50 ribu francs kepada siapapun yang membawakannya surat tersebut. Mendengar ini, Dupin mempersilakan Monsieur G-- untuk menulis cek tersebut, dan kemudian memberikan surat yang dimaksud.

Bagaimana Dupin bisa mendapatkannya?

Pertanyaan 'bagaimana Dupin bisa mendapatkannya?' inilah yang menjadi inti cerita ini. Pembaca kemudian diajak menganalisis kepribadian D-- tahap demi tahap, hingga kita tahu persis bagaimana cara berpikir si D-- ini. Dengan demikian, Dupin bisa mendapatkan surat itu, karena ia menempatkan dirinya dalam pola pikir si antagonis D--. Metode ini tentu saja sangat umum digunakan dalam genre fiksi misteri/detektif saat ini, dengan mengerti kondisi psikologis atau cara pandang dan pola pikir si penjahat, si detektif dapat memecahkan kasus yang dihadapinya (cara pikir yang sangat identik dengan metode Hercule Poirot, detektif ciptaan Agatha Christie seabad kemudian, dalam menyelesaikan kasus-kasusnya).

Selain metode deduksi psikologis ini, cerpen ini juga mengetengahkan cara 'menyembunyikan daun di tengah hutan' dan jargon masalah paling sederhanalah yang sebenarnya paling rumit. Poe juga sempat memberikan sekilas pengetahuan tentang cara pandang abad itu — sistem politik di Perancis, juga pandangannya terhadap seni sastra dan puisi, matematika dan sains secara umum, memperbandingkan logika sains yang eksak dengan cara berpikir manusia kreatif yang lebih imajinatif.

Dengan semua keunikan yang dimilikinya, tak heran jika cerita pendek yang satu ini kerap dianggap sebagai salah satu kisah misteri terbaik yang ditulis Poe.

***

Edgar Allan Poe (born Edgar Poe; 19 Januari 1809 – 7 Oktober 1849) adalah pengarang, penulis puisi, editor dan kritisi sastra. Ia juga seorang kriptograf (ahli dalam penyandian dan kode). Dia adalah penulis Amerika pertama yang terkenal dan mencari nafkah semata-mata hanya dengan menulis. Dilahirkan Boston, Massachusetts, dan menjadi yatim piatu di usia muda. Sempat menjadi tentara selama beberapa tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Karya pertamanya adalah cerpen berjudul MS. Found in the Bottle. Sedangkan puisi naratif Raven mengangkat namanya dalam kemashuran. Kebanyakan kisah-kisahnya bertema suram dan menakutkan, pembunuhan, kekerasan dan sakit secara psikologis. Namun ia juga mengarang banya kisah misteri dan detektif, satire dan juga hoax.
Poe meninggal secara misterius pada 7 Oktober 1949. Penyebab kematiannya hingga kini mengundang tanda tanya. Beberapa rumah yang pernah ditinggalinya kini berubah menjadi museum, di antaranya Edgar Allan Poe Museum di Richmond dan Baltimore, Edgar Allan Poe National Historic Site di Philadelphia dan Edgar Allan Poe Cottage di Bronx, New York.


It's Quite True

Fairy Tales by HC Andersen (Penguin Popular Classic)

Judul:  It's Quite True
Book Source: Fairy Tales
Pengarang: Hans Christian Andersen
Penerbit:  Penguin Popular Classics
ISBN:  9780140624274
Jumlah Halaman: 20 halaman
Penerbitan Perdana: 1837





Mengingat masa kecil dulu, tidak terlupakan kesukaanku pada dongeng dan cerita. Mulai dari fabel tradisional seperti Si Kancil, sampai dongeng Putri Salju, dari kisah Lebai Malang sampai petualangan Aladin dan lampu ajaibnya. Semuanya kudengarkan dan kuingat-ingat dengan baik. Namun beranjak besar, dongeng-dongeng karya Hans Christian Andersen-lah yang paling meninggalkan kesan dalam benak.

Ceritanya tidak melulu tentang putri-putri yang menunggu 'prince charming'-nya datang untuk menyelamatkan dirinya, atau bahwa semua yang diperlukan dalam hidup hanyalah budi baik dan kecantikan rapuh. Satu hal lagi yang paling penting, tidak semua ceritanya berakhir dengan 'mereka hidup bahagia selama-lamanya!' Dongeng HC Andersen juga memperlihatkan bahwa kadang-kadang kita juga perlu berkorban untuk melihat orang yang kita cintai berbahagia (Little Mermaid), menunjukkan bagaimana orang banyak dapat bersikap demikian munafik (Emperor's New Clothes), mengajarkan untuk belajar hidup mandiri (Ugly Duckling), atau bahkan yang kenyataan yang menyedihkan, kematian (Little Match Girl)!

Nah, ada satu fabel HCA yang sangat menarik yang berjudul It's Quite True. Begini ceritanya:
Alkisah ada seekor ayam betina di sebuah peternakan. Saat sedang membersihkan dan menghaluskan (preening) bulu-bulunya sebelum tidur, selembar bulu halus lepas, sehingga dia berkata bahwa semakin ia menghaluskan bulu-bulunya, semakin cantiklah dia jadinya. Seekor ayam betina lain mendengar itu dan meneruskan pada seekor burung hantu bahwa ada ayam yang ingin mencabut semua bulunya agar terlihat cantik.
Burung hantu bergosip pada burung dara, dan kisah seekor ayam sekarang menjadi dua ekor. Burung dara terbang ke peternakan tetangga, dan menceritakan bahwa dua ekor ayam mati karena mereka mencabut semua bulu-bulunya untuk menarik perhatian si ayam jago. Cerita ini didengar si kelelawar dan diteruskan ke peternakan lainnya.
Dari peternakan ke peternakan, dari mulut ke mulut. Demikian selanjutnya, hingga di pagi hari, cerita ini kembali ke peternakan semula. Kisahnya kini sudah menjadi lima ekor ayam berusaha mencabut semua bulu-bulunya dengan heboh sampai berdarah-darah dan mati, demi cinta seekor Ayam Jago. Tentu saja si ayam betina yang hanya kehilangan selembar bulu halusnya sudah tidak mengenali kisahnya sendiri, dan mengutuk keras peristiwa itu!


Pertama kali membaca dongeng ini, aku tidak bisa menahan tawa. Gosip oh gosip..., betapa kejamnya dirimu. Betapa sebuah tindakan, yang disampaikan dengan perkataan dari mulut ke mulut, dapat dipelintir maknanya sedemikian hingga tidak ada lagi kebenaran di dalamnya. Memang sih, 'tidak mungkin ada asap tanpa api'. Tapi kalau yang ini, ibaratnya api buat bakar sate, dibilang kebakaran hutan. Tapi mungkin memang itulah yang hendak disampaikan pengarang pada pembacanya. Bahwa dari sekian banyak cerita, berita, dan kisah yang kita dengar setiap hari, seberapa terpercayakah sumber berita-berita tersebut. Berapa persenkah dari keseluruhan kisah yang benar-benar terjadi. Dan di jaman di mana arus informasi mengalir sedemikian derasnya, dongeng HC Andersen yang satu ini sungguh pas untuk jadi bahan pemikiran.


***


Hans Christian Andersen
Hans Christian Andersen (2 April 1805– 4 August 1875) adalah pengarang, penulis dongeng anak dan puisi kelahiran Denmark. Karya-karyanya telah diterjemahkan lebih dari 150 bahasa di dunia dan telah diadaptasi dalam berbagai cara; film layar lebar,pertunjukan drama, pertunjukan balet dan juga film animasi. Dongeng-dongengnya yang lain (selain yang telah disebut di atas) termasuk Thumbelina, The Snow Queen, The Princess and the Pea, The Chimney Sweep dan The Stedfast Tin Soldier.
HC Andersen terjatuh dari tempat tidurnya di Rolighed - rumahnya di dekat kota Copenhagen - di musim semi 1875 dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 4 Agustus 1875.

Sebuah patung putri duyung dibangun di pantai kota Copenhagen untuk mengenang Andersen dan kisah Little Mermaidnya. Sedangkan di Central Park, kota New York, ada sebuah patung dirinya sedang duduk bersama seekor itik untuk menggambarkan kisah Ugly Duckling.





http://www.goodreads.com/review/show/69319464
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget