Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2019

Caw Man vs Spinning Man


Judul: Pengendali Gagak
Judul Asli: The Crow Talker
Pengarang: Jacob Grey
Penerbit: by Gramedia Pustaka Utama (2019)
ISBN: 9786020627687
Jumlah Halaman: 272 halaman
Penerbitan Perdana: 2015





Lihat sinopsis
Blackstone dulunya kota yang gegap gempita. Kemudian masa Musim Panas yang kelam menerpa habis kota tersebut, meninggalkan seorang anak bernama Caw yang kini hidup di jalanan, bersama satu-satunya teman yang dimilikinya; sekumpulan burung gagak.

Caw tidak pernah tahu mengapa dia bisa memahami gagak-gagak itu. Tetapi ketika ia menyelamatkan seorang gadis bernama Lydia dari serangan mengerikan, Caw menemukan banyak lainnya yang seperti dia; para feral yang dapat bicara pada binatang tertentu. Dan beberapa dari mereka sangat berbahaya.

Sekarang, feral yang paling jahat dari semuanya––Spinning Man––sedang beraksi kembali. Dan untuk menyelamatkan Lydia, juga keluarga gadis itu, dan seluruh kota Blackstone, Caw mesti segera menguasai kemampuan yang ia tidak pernah tahu dimilikinya… dan bersiap untuk melawan kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan.

Caw adalah bocah yang dibesarkan oleh para gagak setelah kematian kedua orang tuanya delapan tahun lalu. Saat itu, musim panas kelam, para Feral -pengendali binatang-, berhasil mengalahkan Spinning Man, si pengendali laba-laba, namun saat ini, death eater para pengikutnya mencoba mengembalikan dia dari alam kematian. Dan Caw dan sahabatnya Lydia entah mengapa terseret dalam semua kekacauan yang terjadi.

Diawali dari perkenalan yang tidak disengaja saat Caw mengintip ayah Lydia -seorang kepala penjara- mengejar tiga orang tahanan yang melarikan diri, hingga mimpi-mimpi Caw tentang seorang manusia Laba-laba (bukan Spider Man). Para gagak sudah memperingatkan Caw untuk menjauhi masalah ini, tapi saat seorang penjaga perpustakaan yang baik hati ikut menjadi korban, Caw dengan nekad memburu kejelasan masalah ini.


*  *  *

Ini ternyata buku petualangan anak-anak yang bagus, konstruksi ceritanya jelas, world building-nya mudah diterima, alurnya terjaga dan baik premis maupun endingnya oke punya. Ide ceritanya campuran antara Graveyard Book dan Harry Potter dengan sedikiiit magical reality ala Murakami. Sayangnya, dibandingkan kedua buku/seri tersebut, terlalu banyak hal yang disederhanakan di cerita ini, hingga auranya tidak semewah mereka. Padahal banyak twist dan kejutan yang menyenangkan. Tentang pedang dan keistemewaan Caw, misalnya. Atau tentang para Ferral yang lain.

Aku suka twist tentang Lydia dan karakterisasi Lydia sendiri. Cewek ini boleh juga, nekad bikin kejutan gak disangka-sangka.




Cover trilogi terbitan Harper Collins


Seri ini, sejauh ini, adalah sebuah trilogi. Semoga GPU segera melanjutkan penerbitan buku kedua dan ketiganya. Sudah lama aku tidak menunggu-nunggu kelanjutan sebuah seri seperti mennggu seri buku ini.




Goodreads Review

Minggu, 22 Mei 2016

Wizard of Oz - Marvelous Land of Oz



Judul: The Wizard of Oz | Marvelous Land of Oz
Judul Asli: The Wizard of Oz | Marvelous Land of Oz
Pengarang: L. Frank Baum
Penerbit: Atria (2010) | Atria (2012)
ISBN: 978-979-02-4459-7 | 978-979-02-4494-8
Jumlah Halaman: 206 halaman | 234 halaman
Penerbitan Perdana: 1900 | 1904



Lihat sinopsis The Wizard of Oz
Angin puting beliung menerbangkan rumah Dorothy di padang rumput Kansas yang kelabu ke negeri antah berantah bernama Oz. Berbeda dengan keadaan di Kansas yang gersang, Oz sangat indah. Pepohonan hijau tumbuh subur, buah-buahan segar menerbitkan air liur. Walaupun begitu, bagi Dorothy tak ada tempat yang senyaman rumah. Maka, dia mencari jalan pulang.

Namun, kembali ke Kansas tidaklah semudah itu. Dia harus melewati padang pasir yang mengelilingi negeri Oz dan tidak bisa dilalui begitu saja. Dengan petunjuk dari Penyihir Utara yang baik hati, Dorothy pergi ke Kota Zamrud untuk menemui Penyihir Hebat Oz dan meminta bantuannya.

Di tengah jalan, Dorothy bertemu dengan Boneka Jerami yang menginginkan otak, Tin Woodman yang mendambakan hati, dan Singa Penakut yang mengharapkan keberanian. Bersama Toto si anjing kecil Dorothy, mereka bertualang ke istana Oz dan melawan Tukang Sihir dari Barat yang keji.

Lihat sinopsis Marvelous Land of Oz
Selamat datang kembali ke negeri Oz yang menakjubkan. Kali ini giliran Tip, si bocah lelaki asuhan penyihir jahat Mombi tua yang bertualang di sana. Dia kabur dari rumah Mombi tua ditemani manusia labu. Dalam perjalanan, kawan mereka bertambah satu, yaitu si kuda kayu. Kemudian, dimulailah petualangan mereka menuju Kota Zamrud untuk menghadap Yang Mulia Boneka Jerami.

Namun, Yang Mulia Boneka Jerami tengah terancam pemberontakan Jenderal Jinjur dan pasukannya yang terdiri atas gadis-gadis. Konon, para gadis lelah dengan kepemimpinan para lelaki selama ini dan bermaksud merebut kekuasaan Boneka Jerami di Kota Zamrud.

Pada akhirnya, Kota Zamrud jatuh ke tangan Jenderal Jinjur dan pasukannya.
Tip dan teman-temannya lalu menemani Boneka Jerami untuk meminta bantuan Tin Woodman yang sekarang menguasai negeri para Winkies. Berhasilkah Boneka Jerami merebut kembali kekuasaannya atas Negeri Oz? Tapi apakah Boneka Jerami benar-benar berhak menguasai Negeri Oz? Lalu siapakah Tip sebenarnya?


Kisah The Wizard of Oz ini adalah kisah Dorothy yang tersesat di negeri antah berantah dan si Penyihir Oz, dan entah sudah berapa kali diadaptasi dalam berbagai macam bentuk (lihat list). Pasti banyak yang sudah tahu ceritanya dan menonton filmnya, atau bahkan membaca novel-novel re-telling-nya (misalnya saja Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West karya Gregory Maguire itu lo). Tapi, sudah pernahkah kita benar-benar membaca buku aslinya ini? Aku baru sekarang berjodoh untuk menikmatinya. Sedari dulu, yang kutahu hanyalah versi film zaaadulnya itu saja, yang pernah kutonton bertahun-tahun yang silam. Lalu di tahun 2013 Disney juga mengeluarkan film re-telling Oz the Great and Powerful yang dibintangi oleh James Franco sebagai Oz.

Scarecrow, Tin Woodman, Dorothy and Cowardly Lion
Imdb The Wizard of Oz 

Jadi ceritanya, si Dorothy ini anak perempuan dari Kansas. Suatu ketika rumah paman dan bibinya terkena angin puting beliung, dan membawa rumah itu, beserta Dorothy yang belum sempat masuk ke lubang perlindungan, ke negeri antah berantah. Di sana ia berteman dengan si Boneka Jerami, Tinman, dan Singa yang penakut, dan keempatnya menjalani petualangan bersama saat akan mendatangi Oz si Penyihir Terhebat di Kota Zamrud, demi memohon keinginan hati masing-masing....

Aku selalu suka petualangan anak-anak model Dorothy dan teman-temannya ini. Ceritanya sebenarnya sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya itu, kisah ini menjadi klasik dan tetap populer hingga kini. Unsur-unsur fantasi dan imajinatif tertuang dengan enak, tidak berlebihan, serta tokoh-tokoh yang sangat mudah dicintai karena sangat related dengan kita menjadikannya sebagai dongeng kesayangan sepanjang masa. Tokoh Oz yg misterius namun akhirnya ternyata mengecewakan juga membuatnya menjadi kisah anak-anak yang punya twist nendang. Meskipun demikian, endingnya membuat kita semua tersenyum senang. Scarecrow si boneka jerami yang menginginkan otak, ternyata berkali-kali menampakkan kecerdikannya. Tinman yang menginginkan hati untuk mencintai, ternyata sungguh setia kawan dan membuktikan kebaikannya. Sedangkan si Singa yang katanya penakut, beberapa kali melupakan ketakutannya dan menyerang musuh demi melindungi kawan-kawannya. Kadang-kadang, kita memang hanya perlu diyakinkan bahwa sifat-sifat baik sudah ada dalam diri kita masing-masing. Ahhh.....



Sedangkan untuk buku keduanya, The Marvelous Land of Oz, adalah lanjutan kisah negeri Oz, namun tanpa Dorothy. Di sini yang ada dan menjadi tokoh utama adalah Tip, bocah ceria yang dibesarkan tukang sihir jahat. Saat kabur dari si penyihir, Tip "tak sengaja" menghidupkan seekor kuda kayu, bertemu dengan para prajurit wanita, lalu menolong si Boneka Jerami, berpetualang bersama Tinman dan kendaraan Rusa Terbang dan mencari penyihir baik di selatan.

Dari awal, aku sudah suka sifat-sifat Tip yang selalu mencari hal-hal baik dan tak mudah putus asa. Juga petualangan Boneka Jerami dan Tinman yang berasa nostalgia dengan buku pertamanya. Tapi sebenarnya yang mencuri perhatian di sini adalah sosok yang diberi kehidupan oleh Tip, yaitu si Kuda Kayu dan Rusa Terbang. Dua karakter ini benar-benar aneh, tapi menarik dan lucu.

Endingnya gak terlalu suka.... gak ada forshadowing samsek, tahu-tahu kok trans-gender??!? ;))



Setelah membaca kedua buku dongeng ini, aku baru tahu kalau kisah Negeri Oz ini ada sekuel-sekuelnya, dan gak tanggung-tanggung, total ada 14 seri semuanya. Meskipun demikian, tampaknya hanya kedua buku pertama yang memilki ketenaran dan dialihbahasakan ke berbagai bahasa, termasuk edisi dari Penerbit Atria ini. Tapi, pengin baca juga sih lanjutan-lanjutan dongeng ini, terutama yang Glinda of Oz... *gara-gara filmnya Disney inih!* 

Ayuuuks dibaca.....


Tentang Pengarang:

Lyman Frank Baum (15 Mei 1856 – 6 Mei 1919), yang lebih dikenal dengan nama penanya L. Frank Baum, adalah penulis asal Amerika yang sangat terkenal untuk karya-karya buku anak-anak, terutama seri The Wonderful Wizard of Oz. Ia menulis 13 sekuelnya, 9 novel fantasi lain, serta sekitar 55 novel lain, 83 cerita pendek dan lebih dari 200 puisi, di samping script dan karya-karya miscellaneous lainnya.

Uniknya, berbagai visi dan imajinasi Baum menjelma menjadi kenyataan dalam seabad berikutnya, misalnya televisi, augmented reality, komputer laptop (The Master Key), telefon nirkabel (Tik-Tok of Oz), pekerjaan penuh-resiko (Mary Louise in the Country), dan keberlimpahan iklan mode dan pakaian (Aunt Jane's Nieces at Work).

Tanggal 5 Mei 1919, Baum terkena stroke. Hari berikutnya ia jatuh koma, namun sempat sadar sebentar dan mengatakan pesan terakhirnya kepada sang istri, "Now we can cross the Shifting Sands."
Frank Baum meninggal pada 6 Mei 1919.




https://www.goodreads.com/review/show/1622088008
https://www.goodreads.com/review/show/1623938211

Rabu, 27 April 2016

Petualangan Alice



Judul: Alice in Wonderland | Through the Looking Glass - Alice di Negeri Cermin
Judul Asli: Alice's Adventure in Wonderland | Through the Looking-Glass, and What Alice Found There
Pengarang: Lewis Caroll
Penerbit: Atria (2009) | Atria (2012)
ISBN: 978-979-14-1171-4 | 978-979-02-4479-5
Jumlah Halaman: 175 halaman | 176 halaman
Penerbitan Perdana: 1865 | 1871



Lihat sinopsis Alice in Wonderland
Alice terjatuh ke dalam lubang kelinci dan terdampar di negeri ajaib yang penghuninya jauh lebih ajaib lagi.

Di sana, Alice mengalami petualangan yang luar biasa. Alice bertemu seekor kelinci dengan arloji saku, mengikuti pesta minum the yang diadakan si Pembuat Topi, dan kemudian bermain kriket dengan sang Ratu!

Tersesat di negeri khayalan ini membuat Alice penasaran, dan semakin penasaran setiap menitnya...

Lihat sinopsis Through the Looking Glass
Petualangan Alice ternyata masih berlanjut!
Setelah dia terlempar ke dalam negeri ajaib,
kini Alice masuk ke dunia cermin.

Meskipun hanya bermaksud sedikit mengintip negeri cermin, ternyata Alice malah tersesat semakin jauh. Dan dia harus melewati petak-petak negeri cermin untuk kembali lagi ke rumahnya. Dia juga harus bertemu dengan penduduk dunia cermin yang unik dan terkadang menjengkelkan, seperti Humpty Dumpty atau Tweedledum dan Tweedledee.

Lalu, bisakah Alice kembali ke rumahnya dan bermain bersama kucing-kucing kesayangannya?

Kedua buku petualangan Alice ini memang enaknya dibaca dengan hati ringan dan tanpa keinginan apa-apa. Hanya imajinasi saja yang harus dibiarkan mengembara ke mana-mana, tanpa batas. Di sini, tak ada cerita utama. Tidak ada tujuan tertentu. Tidak ada superhero dan penjahat yang harus dibasmi. Hanya sekumpulan karakter aneh dan percakapan-percakapan tak masuk akal yang mengalir di antara puisi-puisi (nursery rhyme) dan riddle yang sama ajaibnya. Yah, inilah karya klasik buku anak-anak yang menjadi contoh utama dari genre Literary-Nonsense.


"Why is a raven like a writing-desk?"

Di buku pertama petualangannya, Alice jatuh ke dalam lubang kelinci, dan kemudian berulang kali badannya mengecil dan membesar karena berbagai hal. Ia juga bertemu berbagai macam karakter unik dan lucu, termasuk juga Queen of Hearts yang hobi sadisnya adalah menyuruh memenggal kepala "Off with his head!"

Source: here

Di sini ada dua karakter favoritku, yaitu Chesire Cat, yang senyumnya demikian lebar dari telinga ke telinga, dan Mad Hatter, si pembuat topi sinting yang terjebak Waktu di pukul 6 sore. Kedua tokoh ini sama-sama terdengar gila, namun sebenarnya justru ucapan-ucapan mereka jika dipahami benar-benar sungguh-sungguh logis dan masuk akal.


Why, sometimes, I've believed as many as six impossible things
before breakfast.” 

Sedangkan di buku kedua, Alice yang kebosanan di dalam rumah, kembali berpetualang ke negeri ajaib melewati cermin. Di sana ia menemukan kembaran terbalik rumahnya, lalu kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun, dan... tersesat. Sama seperti di buku pertama, berbagai karakter anthropomorphism berseliweran di sini. Beberapa yang paling terkenal adalah si kembar Tweedle-dee dan Tweedle-dum dan si bulat telur Humpty Dumpty, serta Ratu Merah dan Ratu Putih (yang sama sekali gak bermusuhan). Dan Alice harus berjalan melalui 8 kotak catur sebelum bisa sampai kembali ke rumahnya.

Source: here


Petualangan Alice ini memang seperti kisah gak ada juntrungannya. Tapi sebenarnya tiap-tiap karakter mengajarkan hal-hal yang benar dan logis, namun dibungkus kegilaan-kegilaan imajinasi yang berlebihan. Begituuu....


Source: here


Untuk edisi Indonesianya, kedua buku yang kupajang di sini adalah edisi terbitan Penerbit Atria. Aku suka ilustrasi cover keduanya, manis dan unyu sekali. Untuk penerjemahannya sendiri, aku lebih suka buku keduanya, Through the Looking Glass, karena gaya translasinya lebih mengalir dan enak dibaca. Penerjemahan syair-syair lagu dan riddle-nya juga pas terasa di lidah jika diucapkan.
Sedangkan buku pertamanya (aku belum membandingkan secara detail sih), tapi kok rasanya ada satu dua hal yang off. Misalnya kutipan paling terkenalnya itu, Why is Raven like a writting desk? diterjemahkan menjadi Mengapa burung gagak suka meja tulis?
(menurutku sih "Mengapa Gagak seperti meja tulis?) #justsaying



linkreviewgoodreads

Rabu, 20 April 2016

The Jungle Book


Judul: The Jungle Book
Judul Asli: The Jungle Book
Pengarang: Rudyard Kipling
Penerjemah: Anggun Prameswari
Penerbit: Penerbit Atria (2011)
ISBN: 978-979-02-4490-0
Jumlah Halaman: 246 halaman
Penerbitan Perdana: 1894



Lihat sinopsis
Bukit Batuan gempar! Mama dan Papa Serigala mengajukan seorang anak manusia untuk diasuh oleh mereka. Meskipun dengan berbagai pertentangan, Akela sang Pemimpin Serigala mengizinkannya, dengan jaminan sebuah lembu dari Bagheera, sang Macan Kumbang Hitam, dan pembelaan si Beruang Hitam Baloo, guru dari semua anak-anak serigala.

Namun Shere Khan, si Harimau Pincang tidak setuju karena anak manusia itu adalah buruannya. Itulah sebabnya, Mowgli si Katak, nama anak manusia itu, harus terus belajar agar ia berhasil bertahan hidup dan mengalahkan Shere Khan.

Tetapi, saat sebagian besar kawanan serigala mengusirnya, dapatkah Mowgli bertahan sendirian?



Buku Jungle Book ini adalah buku kedua dari Rudyard Kipling, setelah Kim (review di sini), yang sangat ingin kubaca. Namun, selalu tertunda-tunda, gara-gara berkali-kali tertidur entah kenapa, benar-benar berasa didongengin saat membaca buku The Jungle Book versi Puffin. Sampai akhirnya aku malah mendapatkan versi terjemahannya dari obralan Festival Buku Semarang kemarin. Versi terbitan Atria ini ternyata diterjemahkan dengan sangat bagus. Aku sudah suka sekali dengan gaya bahasa yang digunakan sejak mendapati Father Wolf di-Indonesiakan menjadi "Papa Serigala". Aih lucunya... :D

Cerita Jungle Book ini sendiri sebenarnya adalah kumpulan cerita Rudyard Kipling yang pernah dimuat berseri di sebuah majalah. Kupikir semua ceritanya ada benang merah dengan bocah manusia bernama Mowgli, ternyata hanya 3 cerita saja yang mengisahkan si bocah badung yang dibesarkan keluarga serigala, menjadi murid beruang madu dan dilindungi oleh si macan kumbang hitam itu.

Kisah pertamanya bertutur tentang bagaimana bayi Mowgli bisa sampai dibesarkan oleh keluarga Serigala dan asal-usul pertikaiannya dengan Shere-Khan. Meskipun dari bayi nyawa Mowgli sudah terancam oleh si macan, namun ia juga memiliki dua pelindung, Baloo si Beruang Madu dan Bagheera si Macan Kumbang, selain tentu saja, Papa dan Mama Serigala dan keenang saudara-saudara Serigalanya. Kisah kedua adalah tentang petualangan Mowgli saat diculik Raja Monyet dan dibawa ke sarangnya, sebuah kota kuno yang sudah tak berpenghuni. Sedangkan kisah ketiga adalah saat Mowgli berusaha hidup di tengah-tengah perkampungan manusia.

Tiga cerita lainnya berkisah tentang seekor anjing laut, seekor mangoose (luwak??) dan gajah-gajah yang menari di bukit. Kisah-kisah Mowgli semuanya sangat kusukai, tapi yang jadi favoritku malah petualangan Rikki-Tikki-Tavi, si mangoose yang bertarung melawan sepasang ular kobra bernama Nag dan Nagina peliharaan asrama Slytherin.

Satu hal lagi, ilustrasi covernya juga unyu bingit!! Aku sukaaaa.... etapi kenapa Shere-Khan si macan ikutan nampang juga ya? ;)


The Movie

Bulan April ini, pas Disney mengeluarkan film The Jungle Book. Kisahnya diangkat dari dua petualangan Mowgli di buku (dengan perubahan di sana sini), yaitu kisah pertama, di mana keberadaan Mowgli membuatnya bermusuhan dengan Shere-Khan, dan kisah kedua, petualangannya saat "diculik" Raja Orangutan. Tentu saja dengan banyaaaaaak dramatisasi dan disney-nisasi. Tapi hasilnya memang sangat bisa dinikmati untuk semua kalangan, dari anak-anak sampai orang gedhe. Akting si cilik Neel Sethi dalam memainkan Mowgli lumayan mengagumkan. Ditambah barisan pengisi suara yang mumpuni seperti Bill Murray, Ben Kingsley, Scarlet Jo, Idris Elba dan Lupita Nyong'o. Special FX dan teknologi CGI yang amat sangat apik mampu menyihir para penonton sepanjang film.






Tentang Pengarang:

Joseph Rudyard Kipling (30 December 1865 – 18 January 1936) adalah penulis asal Inggris kelahiran Bombai, India. Karya fiksinya termasuk The Jungle Book (1894), Kim (1901), dan banyak cerita pendek seperti The Man Who Would Be King (1888) dan Just So Stories (1902). Sedangkan puisinya yang banyak dikenal adalah Mandalay (1890) dan If—" (1910). Ia dikenal sebagai inovator besar dalam seni penulisan cerita pendek, khususnya dalam khazanah literatur buku anak-anak klasik.

Kipling adalah salah satu penulis puisi dan prosa paling populer di UK pada akhir abad 19 -  awal abad 20. Di tahun 1907, saat berumur 41, ia dianugrahi Nobel Prize dalam bidang Literature, membuatnya menjadi penulis berbahasa Inggris pertama yang menerima penghargaan ini, dan juga penerima paling muda hingga saat ini. Ia juga didengungkan akan menerima British Poet Laureateship dan beberapa kali akan dinobatkan menerima knighthood, yang sayangnya keduanya ia tolak.

Setelah kematian istrinya di tahun 1939, rumah Kipling, Bateman's di Burwash, East Sussex, South East England, di mana ia menghabiskan hidupnya antara tahun 1902 sampai 1936, diserahkan kepada National Trust dan sekarang menjadi public museum yang didedikasikan kepada sang Penulis.


https://www.goodreads.com/review/show/1608854301

Selasa, 12 Mei 2015

A Monster Calls

Title: A Monster Calls
Author: Patrick Ness (original story by Siobhan Dowd)
Illustrator: Jim Kay
Publisher: Walker Books  (2011)
ISBN: 9781406335460
Number of Pages: 200 pages
First Published: 2011
Literary Awards:  Abraham Lincoln Award Nominee (2015), Carnegie Medal in Literature (2012), Goodreads Choice Nominee for Middle Grade & Children's (2011), and many more.



See description
At seven minutes past midnight, thirteen-year-old Conor wakes to find a monster outside his bedroom window. But it isn’t the monster Conor’s been expecting — he’s been expecting the one from his nightmare, the nightmare he’s had nearly every night since his mother started her treatments.

The monster in his backyard is different. It’s ancient. And wild. And it wants something from Conor. Something terrible and dangerous. It wants the truth.

From the final idea of award-winning author Siobhan Dowd — whose premature death from cancer prevented her from writing it herself — Patrick Ness has spun a haunting and darkly funny novel of mischief, loss, and monsters both real and imagined.

Every night, seven minutes after midnight, a monster calls for young Connor. The monster was ancient and wild, it was terrible and dangerous. It worse than the nightmares Connor had been having.


"I am the spine that the mountains hang upon! I am the tears that the rivers cry! I am the lungs that breathe the wind! I am the wolf that kills the stag, the hawk that kills the mouse, the spider that kills the fly! I am the stag, the mouse and the fly that are eaten! I am the snake of the world devouring its tail! I am everything untamed and untameable!"

But this monster wasn't an ordinary monster. It came to Connor to tell three stories and ask one in return. One story that will tell Connor's life. The real truth.
“Stories are wild creatures," the monster said. "When you let them loose, who knows what havoc they might wreak?” 

So night by night Connor wait and listen. And day by day passed while we learn more about him. About his sick mother, his astranged father and his perfectionist grandmother, about school and the bullying and one friend he had left finally gone too. About his wishes... or what he wishes he never wished for.

Three extraordinary stories were told by the monster. Stories that didn't quite black and white, stories that puzzles Connor even more.
“Because humans are complicated beasts," the monster said. "How can a queen be both a good witch and a bad witch? How can a prince be a murderer and a saviour? How can an apothecary be evil-tempered but right-thinking? How can a parson be wrong-thinking but good-hearted? How can invisible men make themselves more lonely by being seen?" 

And then, it was time for Connor to tell his story....





Afterthoughts:

Sometimes we did that, didn't we... punishing ourselves because we thought we deserves it, because we thought we did really bad things. The guilt that eat us alive!

But two quotes from this book did make me think...

“You do not write your life with words...You write it with actions. ” 
“There is not always a good guy. Nor is there always a bad one. Most people are somewhere in between.” 

And I realise how true it is, we could think whatever we could or could not do, what we did or should did or shouldn't do, but then again, to continue our life, the first thing to do was to let go....


It was a really really dark and sad children book. gloomy and made me weep right through the end. But in the same time, made me learn a lot about life just the way it is.


About the Author:

Patrick Ness (born October 17, 1971) is an American-born British author, journalist and lecturer who lives in London and holds dual citizenship. He is best known for his books for young adults, including the Chaos Walking trilogy and A Monster Calls.

Ness won the annual Carnegie Medal from the British librarians both in 2011 and in 2012, for Monsters of Men and A Monster Calls, recognising each as the best new book for children or young adults published in the U.K. He is one of seven writers to win two Medals and the second to win consecutively.

A Monster Calls (2011) originated with Siobhan Dowd, another writer with the same editor at Walker, Denise Johnstone-Burt. Before her August 2007 death, Dowd and Johnstone-Burt had discussed the story and contracted for Dowd to write it. Afterward, Walker arranged separately with Ness to write and Jim Kay to illustrate, and those two completed the book without meeting. Ness won the Carnegie and Kay won the companion CILIP Kate Greenaway Medal, the first time one book has won both medals.

Read also The Guardian article about Patrick Ness criticizing education policy for young people.

All the illustration here were taken from Jim Kay Gallery at booktrust.org.uk.

And here's my review for one of Siobhan Dowd novels, The London Eye Mystery.







https://www.goodreads.com/review/show/1274652272

Sabtu, 11 April 2015

Cermin Api dan Mimpi


Judul: Cermin Api dan Mimpi
Judul Asli: The Mirror of Fire and Dreaming
Seri: Brotherhood of the Conch #2
Pengarang: Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0760-2
Jumlah Halaman: 296halaman
Penerbitan Perdana: 2005



Sinopsis
Di sebuah lembah indah dan terpencil di Himalaya, Anand mendapatkan penglihatan yang membuatnya gelisah. Guru dan pembimbing spiritualnya, Abhaydatta, tampaknya berada dalam bahaya. Apa yang harus dilakukannya? Akan banyak waktu yang terbuang kalau ia memberitahukan hal ini kepada orang-orang dewasa. Tetapi bijaksanakah kalau ia mengambil tindakan sendiri?

Anand membuat pilihan, dan terjun ke dalam petualangan luar biasa yang bukan hanya membawanya melintasi India modern, tetapi juga membawanya beberapa ratus tahun ke masa silam, ke zaman pemerintahan para Moghul. Di sana ia bertemu para penyihir hebat, seorang pangeran yang angkuh, dan satu jin yang mampu melakukan keajaiban tak terkatakan.



Ini sebenarnya adalah buku kedua dari seri Cronch Bearer... masalahnya, baca The Conch Bearer: Keong Ajaib itu udah lamaaaaaaa banget (2008!), sampai udah lupa ceritanya *nisha sih siapa? terus pendetanya dulu namanya siapa? abis nyampe di kuil itu terus piye ya?* Terpaksalah, sebelum baca buku ini, balik dulu skimming-skimming dulu buku pertamanya, biar nyambung...
..
..
..
..
..

Oke, sekarang udah inget... yuk langsung aja buka cerminnya!

Di kisah kedua ini, Anand (dan Nisha dan Abhaydatta) akan bertualang ke negeri India beratus tahun yang lalu demi membebaskan sebuah desa yang menderita akibat seorang penyihir dan jin-nya yang tamak dan jahat yang ingin menggulingkan sang Raja.


Kamis, 09 April 2015

Luka dan Api Kehidupan


Judul: Luka dan Api Kehidupan
Judul Asli: Luka and The Fire of Life
Seri: Khalifa Brothers #2
Pengarang: Salman Rushdie
Penerbit: Serambi (2011)
ISBN: 978-979-02-4364-4
Jumlah Halaman: 300 halaman
Penerbitan Perdana: 2010



Sinopsis
Rasyid Khalifa, sang pendongeng legendaris, pada suatu malam mendadak tertidur lelap dan tak pernah bangun lagi, seolah-olah dia berada dalam cengkeraman sang Raksasa Tidur. Demi membangunkan ayahnya dan menyelamatkannya dari sosok makhluk maut yang sedikit demi sedikit menyerap kehidupan sang ayah, Luka, bocah dua belas tahun, harus bertualang ke Negeri Dongeng dan mencuri Api Kehidupan.

Api Kehidupan tersimpan di Pusat Dongeng, di puncak Gunung Pengetahuan yang menjulang di atas Danau Kebijaksanaan, dan dijaga sangat ketat oleh Aalim, tiga penguasa Negeri Dongeng, beserta jajaran Dewa Berperilaku Buruk dari berbagai mitologi dan dongeng. Tak pernah ada yang berhasil mencuri Api Kehidupan dari mereka. Maka dimulailah petualangan dan pertarungan Luka dalam menghadapi rintangan demi rintangan, mengumpulkan nyawa, kehilangan nyawa, menaklukkan level demi level, selayak-nya permainan. Namun, ini bukanlah sekadar permainan, melainkan penentuan hidup dan mati ayahnya.

Luka dan Api Kehidupan adalah kelanjutan kisah Harun dan Samudra Dongeng. Dalam kisah ini, Salman Rushdie menggabungkan unsur-unsur fantasi, mitologi, permainan kata, dan simbolisme ke dalam jalinan kisah yang menarik, cerdas, seru, dan jenaka. Novel ini layak dibaca oleh siapa saja sebagai bacaan sastra yang bermutu sekaligus dongeng yang indah dan memperkaya hidup.

“Luka dan Api Kehidupan adalah kisah indah yang ditulis dengan sangat baik, penuh imajinasi, menakjubkan, dan luar biasa dalam caranya mem-bangun sebuah dongeng ajaib untuk anak-anak yang gemar bermain video game. Buku ini semacam jembatan antargenerasi yang luar biasa, ajaib, dan ditulis dari kedalaman hati.”
—Neil Gaiman, novelis fantasi kenamaan asal Inggris

“Sebuah buku yang mampu merangkul dan menyentuh pembacanya da-lam usia berapa pun, dari anak-anak sampai paruh baya, adalah buku langka sekaligus ajaib. Dan Salman Rushdie adalah pengarang langka sekaligus ajaib.”
—Michael Chabon, peraih Pulitzer Prize, Hugo Award, dan Nebula Award


Di luar Lingkaran, tepat di bawah Kapet Terbang saat itu, adalah wilayah luas Dewa Berperilaku Buruk - para dewa yang tak lagi dipercayai siapapun, kecuali sebagai cerita-cerita yang dulu sering diceritakan orang.
"Mereka tidak lagi memiliki kekuatan di Dunia Nyata, sehingga disitulah mereka semua berada di Pusat Dongeng, dewa-dewa kuno dari Utara, dewa-dewa Yunani dan Romawi, dewa-dewa orang Amerika Selatan. dewa-dewa Sumeria dan Mesir kuno. Mereka menghabiskan waktu mereka yang abadi dengan berpura-pura bahwa mereka masih dewa, memainkan semua permainan lama mereka, melancarkan pertempuran perang kuno berulang-ulang, dan mencoba melupakan bahwa tak seorang pun yang benar-benar peduli tentang mereka hari ini, atau bahkan mengingat nama mereka."
"Itu sangat menyedihkan, kata Luka. "Sejujurnya, Pusat Dongeng terdengar sangat mirip dengan rumah jompo untuk pahlawan super yang sudah terlupakan."

Waaaaaow... ini sih versi ringan dari American Gods-nya Gaiman!! :)


Delapan belas tahun setelah terbitnya Haroun and The Sea of Stories, Salman Rushdie kembali menerbitkan sebuah buku tentang Rasyid Khalifa, atau lebih tepatnya, tentang anak laki-laki Rasyid Khalifa. Jika di buku pertamanya berkisah tentang Harun, maka di buku keduanya ini mengambil tokoh utama adik Harun, Luka,  yang berusia sama seperti saat Harun berpetualang ke Samudra Dongeng, 12 tahun (bandingkan sekarang Harun sendiri telah berusia 30 tahun... yeah, waktu berlalu.... *sembunyiin ktp sendiri* ).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget