Tampilkan postingan dengan label Dystopia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dystopia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Blindness


Judul: Blindness
Judul Asli: Ensaio sobre a Cegueira
Pengarang: José Saramago
Penerbit: Ufuk Press (2007)
ISBN: 9791238324
Jumlah Halaman: 447 halaman
Penerbitan Perdana: 1995




Lihat sinopsis
Seorang pengemudi, di tengah kemacetan lalu lintas yang parah, mendadak buta. Seorang pelacur, pencuri mobil, polisi, bocah bermata juling, apoteker, juga seorang dokter mata, disergap penyakit ganjil yang sama: buta putih. Dunia tak menjadi gelap, tapi justru memutih, seperti susu. Hanya seorang yang berpura-pura buta yang justru tak buta. Tapi neraka segera menghadang. Pemerintah tak bernama, dengan pejabat dan tentara-tentara yang juga tanpa nama, mengkarantina mereka. Pemberontakan pun pecah...

Inilah novel yang menghunjam ke ulu terdalam persoalan kemanusiaan. Sebuah kisah tentang masyarakat yang sakit.


OH. MY. GOD.

Novel ini terasa sangat disturbing sampai ada beberapa saat yang saya pikir lebih baik saya dnf saja. Tapi takutnya, kalau tidak diselesaikan, malah lebih 'mengganggu', bukan masalah penasarannya sih, tapi lebih pada ketiadaan penyelesaian, penutup, penanda bahwa kisah ini tidak akan merambati pikiran ke mana-mana.

Dikisahkan sebuah kota perlahan-lahan mengalami kebutaan masal, dimulai dari seorang laki-laki yang sedang menyetir mobilnya, kemudian menyebar ke seantero kota. Buta putih. Buta bukan karena mata kehilangan cahaya, tapi terlalu banyak sinar.

Lalu novel ini mulai menggambarkan hilangnya kemanusiaan para manusia ini seiring hilangnya penglihatan mereka. Mulai dari kebersihan diri sendiri sampai bagaimana mereka mulai bertingkah laku layaknya orang2 tak beradab. Yang kuat menindas yang lemah. Penguasa ditentukan hanya dengan senjata dan kekerasan dan nafsu diumbar tanpa hukum dan aturan.

Di tengah situasi 'chaos' seperti ini, seorang tokoh tak buta ditampilkan, seorang wanita yang bisa melihat, menjadi saksi dan penunjuk arah bagi kawanannya. Bahkan di suatu ketika ia juga merasa perlu menjadi malaikat pembalas dendam. Wanita ini mungkin perlambang selalu adanya harapan akan keteraturan dan nilai-nilai moral, tapi ia juga manusia yang bisa menyimpan kemarahan yang siap meledak.

"Satu-satunya mukjizat yang bisa kita pertunjukkan adalah bertahan hidup, melindungi rapuhnya kehidupan dari hari ke hari, seolah kehidupan itu buta dan tak tahu harus ke mana, dan mungkin memang seperti itu. Mungkin dia betul-betul tidak tahu, menaruh dirinya di tangan kita, setelah memberi kita akal, dan inilah yang kita buat darinya."

Pada akhirnya, si wanita ini pun kelelahan juga. Ia bahkan berharap dia juga buta, hanya agar tidak usah lagi menanggung beban menjadi mata kehidupan kelompoknya. Yah... be careful what you wished for..... #sigh


Sebuah kisah yg benar-benar mengusik pikiran.

Jika kebutaan ini benar-benar melanda, akankah kita benar jatuh dalam kenistaan dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan kita. Atau, mungkin pertanyaan besarnya adalah, apakah saat ini wabah kebutaan ini sudah datang tanpa kita sadari, dan kita telah benar-benar mulai kehilangan rasa kemanusiaan kita di tengah hiruk-pikuk keduniawian.... #sokfilosofis
*heyaaaa... terlalu dalam mikirnya sampai keblusuk sendiri* pisssss en luv


Notes:

Ternyata novel ini sudah diangkat dalam bentuk film dengan judul sama di tahun 2008. Disutradarai oleh Fernando Meirelles dan dibintangi oleh Julianne Moore dan Mark Ruffalo (eh, ada Gael García Bernal juga nih).

Tapi kayaknya filmnya terlalu berat dan "mengerikan" sampai-sampai hanya mendapatkan nilai 6.6 di IMDB.

Biar begitu, aku tetep pengin nonton filmnya inih....

See more at IMDB

Lihat trailer:



Tentang pengarang:

José de Sousa Saramago, (16 November 1922 – 18 Juni 2010), adalah penulis Portugis dan penerima Hadian Nobel Sastra tahun 1998. Hasil karyanya dapat dilihat sebagai alegori, biasanya mencitrakan perspektif subversif dari kejadian-kejadian dalam sejarah dan menekankan pada faktor manusianya. Lebih dari 2 juta kopi dari bukunya sudah terjual di Portugal saja dan sebagian sudah diterjemahkan dalam 25 bahasa.

Sebagai seorang atheis dan komunis liberal yang cukup vokal, Saramago sering dikritik oleh lembaga-lembaga seperti Gereja Katholik, Uni Eropa dan bahkan IMF. Tapi saat tulisan-tulisannya mulai disensor secara politis, ia memilih mengasingkan diri ke Lanzarote, Spanyol sampai kematiannya di tahun 2010.

Saramago juga adalah pendiri National Front for the Defense of Culture di Lisabon in 1992, dan co-founder dari European Writers' Parliament (EWP) bersama Orhan Pamuk.



https://www.goodreads.com/review/show/1547298131

Sabtu, 06 Februari 2016

Brave New World


Judul: Brave New World
Judul Asli: Brave New World
Pengarang: Aldous Huxley
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka (2015)
ISBN: 9786022910879)
Jumlah Halaman: 284 halaman
Penerbitan Perdana: 1932



Lihat sinopsis
Di tahun 632 AF (After Ford), Kontrolir Dunia telah menciptakan masyarakat yang ideal. Manusia telah dikembangkan secara sempurna di laboratorium-laboratorium seluruh dunia. Didesain dan dididik sesuai kastanya, sehingga dapat diatur dengan lebih mudah.

Tapi, Bernard Marx adalah sebuah anomali. Ia tidak seperti manusia modern kebanyakan, yang puas dengan posisi mereka masing-masing, dan mengonsumsi obat-obatan agar tetap bahagia. Ia tidak bahagia dan mendambakan kebebasan. Keinginannya untuk mendapat kebebasan membawanya ke sebuah Reservasi Liar, di mana peradaban kuno dan tak sempurna masih ada. Dan, di sanalah ia bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi kunci yang dapat mengguncang stabilitas dunianya yang sempurna.

Brave New World merupakan karya Aldous Huxley yang mengguncang dan menggugah pikiran. Dengan kecerdasan dan kecerkasannya, Huxley menyindir sebuah dunia utopis yang dibangun oleh para ilmuwan, dan menyajikan visi menakjubkan tentang dunia masa depan yang benar-benar berbeda. Sebuah karya fiksi spekulatif yang memesona sekaligus menghantui pembacanya, begitu relevan dan mungkin terjadi di masa depan.


Revolusi industri yang dicanangkan Henry Ford dua abad lalu memang mengubah jalannya sejarah manusia dalam segala bidang. Assembly line atau sistem ban berjalan membuat produksi barang yang awalnya sangat terbatas, unik dan butuh seorang master untuk membuatnya, mulai saat itu menjadi general, dan hanya dibatasi oleh "kemampuan memproduksi" itu sendiri. Bayangkan bila sistem ban berjalan ini juga diterapkan pada sistem reproduksi manusia. Cloning menjadi satu ide yang kerdil dibandingkan pabrik manusia identik dalam jumlah beratus-ratus, terprogam dan terkastakan. Rekayasa genetika, eugenetics dalam kemampuan terbaiknya. Bayangkan bila di masa depan yang tak jauh dari sekarang, takdir seorang manusia didiktekan oleh metode hypnopedia dan kebahagiaannya oleh obat penenang bernama Soma. Itulah sebuah dunia baru yang berani. A Brave New World.

"Setiap orang menjadi milik setiap orang lain"
Dunia baru yang diciptakan Huxley ini menggambarkan sebuah dunia totaliter, dengan sebuah sistem sosialisme ekstrim di mana tidak ada kepemilikan pribadi, meskipun semua orang bisa memiliki apa saja yang mereka mungkin inginkan. Tidak ada keluarga, tidak ada orang tua, tidak ada pasangan. Monogamis adalah ide yang cabul karena semua orang adalah milik semua orang lain. Tentu saja ini semua dapat dicapai dengan kontrol ketat pemerintah terhadap jumlah kelahiran produksi manusia di pabrik-pabrik mereka, disertai perlakuan sesuai pengkastaannya (dari yang paling top, kelas Alpha, hingga kelas Epsilon yang hanya sedikit lebih baik dari robot mekanis yang moron) sejak sel telur dibuahi sperma di cawan petri.

"Aku senang aku seorang Beta.
Aku tidak mau main dengan anak Delta"
Belum cukup dengan pengkastaan seperti itu, semenjak lahir - atau apapun istilahnya karena jelas produk manusia-manusia ini tidak dilahirkan - setiap grup kasta dibesarkan dengan metode cuci otak terstruktur saat terjaga dan hipnotisme saat tertidur. Sepanjang masa hidup mereka. 

"1 sentimeter kubik soma menyembuhkan 1 sentimen murung"
Lalu bagaimana dengan rasa sedih, takut, senang, marah dan semua hal yang melengkapi naluri dasar seorang manusia? Coret itu semua berkat pil ajaib bernama Soma. Pil pengatur mood yang wajib dimiliki dan dikonsumsi untuk memberimu sensasi kebahagiaan. Mengisi kekosongan batin dengan reaksi kimia buatan.


Jika sosialisme merupakan hal yang menjadikan kritik dasar dalam novel ini, maka kapitalisme juga terpapar mengerikan. Brave New World juga menggambarkan sebuah dunia dimana konsumerisme merupakan dewa, pengganti konsep Tuhan yang paling mirip. Tanpa adanya agama, kepercayaan atau apapun yang bisa "menjadi candu" masyarakat, maka satu-satunya yang terdewakan adalah kepemilikan berbagai barang, meski pun sebenarnya barang-barang tersebut juga telah melewati kontrol ketat pemerintah, apa yang bisa menjadi keinginan dan apa yang tidak. Ini sebenarnya suatu konsep yang ambigu sekali. Di satu sisi, keinginan pribadi ditekan, bahkan kegiatan solitari seperti membaca buku dan melakukan hal-hal seni sama sekali dilarang. Proses pembelajaran, baik teknologi maupun filsafat, mutlak harus berasal dari pemerintah dan tidak ada satu hal pun yang merupakan kegiatan pengungkapan jati diri seseorang. Tapi di sisi lain, masyarakat didorong untuk berpesta suka-suka dan mengkonsumsi semua jenis produk yang disediakan, secara bersama-sama tentu saja.




Sekilas dari itu semua, kita mendapatkan suatu dunia yang aman tentram damai dan stabil. Kehidupan komunal tanpa gesekan sosial karena semua hal yang menyebabkan rasa cemburu dan dengki telah dihapuskan. Dengan tidak adanya hasrat dan ambisi, tak kan ada pula rasa persaingan yang membuat heboh. Tanpa kebutuhan dan ketakutan pada hal apapun, bahkan kematian, apalagi yang dapat menggerakkan manusia tanpa kendali?
Hebat.
Mengagumkan.

Apa iya?

Dalam beberapa bagian buku ini, aku cukup terpesona pada ide gilanya. Bukankah dunia damai seperti itu yang kita semua inginkan? Menyenangkan tanpa harus ada persaingan dan kecemburuan.

Tapi kemudian sebuah tokoh liar, dimunculkan dalam cerita ini untuk mulai mengobok-obok status semu itu.Tokoh ini membuatku teringat kembali pada keunikan masing-masing pribadi yang menjadikannya manusia. Pada kejeniusan Einstein yang mempercayai pada hal-hal yang bahkan belum dapat dibuktikannya. Pada komposisi indah Vivaldi, soneta Shakespeare dan kegilaan Van Gogh yang tertuang cantik dalam lukisan-lukisannya. Semua pencapaian manusia, dari yang paling konyol seperti kamera selfie sampai pesawat tanpa awak Curious yang sedang menjelajah Mars. Atau hal yang paling remeh seperti keluarga dan saying I Love You kepada seseorang yang paling kusayangi. Semua hal yang tak mungkin ada jika dunia ini serba teratur dan stabil ala Aldous Huxley.


Membaca novel distopian ini -atau malah utopian, jika kita bisa mengabaikan hal-hal kecil, seperti naluri dasar untuk memiliki rasa mencintai -  membuat orang (aku) tergelitik untuk memikirkan kembali prioritas-prioritas dan pilihan-pilihan dalam kehidupanku. Pantas saja buku ini dikatakan sebagai masterpiece of dystopian novel, apalagi melihat bahwa ini pertama kali diterbitkan tahun 1932, di mana ide-ide seperti sosialisme, marxist, kapitalisme, dan kebebasan pribadi sedang gencar-gencarnya mencari tempat dalam pikiran masyarakat.


Brave New World. Dunia yang mengagumkan sekaligus mengerikan. Sebuah dunia utopis yang stabil dan serba teratur, namun di saat yang sama kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
tanpa seni, tanpa sains, tanpa agama.
tanpa kehendak bebas.
tanpa cinta.




Reading Challenge:





https://www.goodreads.com/review/show/1333651306

Jumat, 22 Mei 2015

Wool (Silo Trilogy #1)


Judul: Wool
Seri: Silo Trilogy #1
Pengarang: Hugh Howey
Penerbit: Noura Books (2014)
ISBN: 9786021606940
Jumlah Halaman: 732 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Goodreads Choice Nominee for Best Science Fiction (2012), Bookworm Best Award for People's Pick (2013)



Lihat sinopsis
Di masa depan, dunia tidak lagi aman untuk para manusia. Bahkan, udara yang mereka hirup pun bisa mematikan. Umat manusia harus hidup dalam sebuah tempat bernama silo – bunker raksasa dengan ratusan lapis ke kedalaman bumi.

Holston, seorang sheriff dalam Silo, telah puluhan tahun bertugas. Namun, kematian istrinya yang menyisakan misteri membuatnya melakukan hal gila: mengajukan dirinya untuk mengikuti sebuah misi mematikan.

Juliette, mekanik andal yang hidup dalam lapis Silo terbawah, terpilih menduduki sebuah jabatan kosong di pemerintahan. Tanpa terduga, dari Silo atas itu, dia menemukan sebuah rahasia besar yang bisa menghancurkan Silo dan seluruh penghuninya.

Dua pahlawan Silo itu berbagi takdir yang sama – mencari jawaban atas misteri besar di dalam Silo. Beranikah mereka mencegah kehancuran Silo?

Setelah jenuh dengan tema distopia YA, Wool jadi *first dystopian novel* yang kubaca tahun ini. Memang terbukti kandungan tema dan isinya jatuh lebih berat, penuh intrik dan rahasia besar dunia Silo pasca kehancuran bumi. Tokoh-tokohnya juga bukan remaja belasan tahun, karakter utama perempuannya seorang mekanik senior dan calon Sheriff terpilih yang bertanggung jawab menjaga keamanan sebuah Silo berisi ribuan orang. Minim drama dan romantisme, lebih banyak narasi teknis dan world building Silo yang lumayan detail.

Pull the wool over everybody's eyes...


Saat awal membaca, satu pertanyaan yang terus-menerus terpikir dan membuatku penasaran, kenapa judul novel ini Wool? Maksudku, wool... itu maksudnya benang wol kan, yang dipintal dari bulu domba/kambing/biri-biri alias wedhus. Di awal cerita memang dibilang bahwa kain untuk membersihkan lensa kamera itu dari kain wol, tapi mosok cuma karena itu.  Sampai setengah buku lebih baru sedikit tercerahkan, dan setelah gooooogling, baru jelas artinya. Ternyata ini diambil dari sebuah idiom, yang artinya "to deceive someone in order to prevent them from knowing what you are really doing". Ooohhh... jadi maksudnya begituuu.... ngapusi, mbujuki, ngawadul, kebohongan publik....  ^^

Jadi ceritanya, jauh di masa depan, sekelompok orang tinggal dalam Silo bawah tanah. Keadaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, bergenerasi-generasi, sampai-sampai tinggal di dalam Silo ini sudah menjadi kewajaran yang diterima umum begitu saja. Nah, yang dinamakan Silo ini jangan dipikir hanya sepuluh dua puluh lantai saja..., Silo di cerita ini turun ke bawah tanah hingga 120 lantai. Masing-masing lantai ada kegunaannya masing-masing, ada apartemen tempat tinggal, pasar, rumah sakit, sekolah, gedung pertunjukan, pusat pemerintahan, lantai-lantai mekanik (penghasil listrik dan penyedia life support) dan lantai-lantai server untuk orang IT. Bahkan ada lantai-lantai pertanian yang diterangi lampu-lampu tanaman dan dinutrisi oleh pekuburan di bawahnya. Di lantai paling atas ada kafetaria dan kantor Sherrif, yang langit-langitnya dibuat dari layar super besar yang mencitrakan gambaran langit dan lokasi permukaan tanah seputar Silo mereka. Gambaran ini didapat dari sekumpulan kamera yang terletak di luar Silo... yang jika kotor ya perlu dibersihkan.

Mereka semua ini hidup di dalam Silo karena udara bumi sudah sedemikian tercemarnya, hingga taraf mematikan.

Namun di Silo ini, nampaknya topik sejarah bukan sesuatu yang diajarkan bebas. Kapan mereka mulai tinggal di Silo, mengapa sampai mereka harus tinggal di Silo, bagaimana keadaan para manusia sebelum mereka harus tinggal di Silo.... tidak ada yang pernah mengetahui hal ini atau mempertanyakan hal ini, kecuali........





Alur novel ini terasa lambuaaaan di bagian Wool 1 dan Wool 2, lalu jadi sedikit lebih cepat dan lebih seru di bagian selanjutnya, saat rahasia-rahasia pelan-pelan terkuak. Dalam Wool 1, peran Sherrif Holston memang singkat tapi dalam singkatnya masa-masa sang Sherrif di permukaan bumi justru menjadi kick-off peristiwa-peristiwa selanjutnya dari buku bantal ini. Dalam Wool 2 - 5 tokoh utamanya berpindah ke Juliette. Seorang mekanik dari lantai terbawah Silo yang ditawari jabatan Sherrif di lantai teratas. Meskipun telah diangkat oleh Walikota dan deputi Sherrif yang lama, namun Juliette mendapat tentangan dari ketua bagian IT saat itu. Saat membaca aku lumayan penasaran, kenapa tampaknya bagian IT ini punya kekuasaan yang melebihi sang Walikota. Namun di bagian-bagian selanjutnya, rasa penasaran ini dijawab dan ternyata ada rahasia sangat besar di balik keadaan itu. Juliette secara tidak sengaja sudah tahu satu kebenaran di balik hukuman pembersihan. Dan saat ia menjadi Sherrif, tak disangka-sangka ia juga mampu mengerti arti penting data yang ditinggalkan Sherrif Holston. Maka mulailah plot untuk menyingkirkan Juliette... plot yang diyakini dilakukan demi keamaanan Silo.

Ceritanya berliku, penuh dengan narasi teknis, yang diterjemahkan dengan sangat teknis dan menggunakan EYD yang baik dan benar *kadang-kadang jadi berasa baca jurnal* XD . Maksudku, meskipun kerjaan di bagian IT juga, namun aku sudah sangat terbiasa menggunakan kata harddisk atau mouse, dan terakhir kalinya menggunakan kosa kata "cakram padat" dan "tetikus" itu hanya saat menulis thesis... hehehe... *mybad* :))  Karakter-karakternya digambarkan dengan sangat baik, dan semuanya tidak benar-benar baik atau benar-benar buruk. Si antagonis di cerita ini benar-benar percaya bahwa apa yang dilakukannya sungguh-sungguh demi kebaikan Silo mereka, jadi ya apa mau dikata, ini masalah perbedaan sudut pandang. Bahkan endingnya juga menurutku tidak sepenuhnya hepi-en-semuanya-beres-gak-ada-lagi-penjahat-dalam-silo-kita, tapi lebih cenderung penuh kompromi politis, mempertahankan dan menjalankan Silo yang memang tidak sempurna di dunia yang sudah jauh lebih tidak sempurna pula.

Great story, tapi butuh kesabaran ekstra untuk menikmatinya.

Jadi penasaran nunggu buku kedua dan ketiganya.... dari excerpts di akhir buku, tampaknya tidak akan meneruskan cerita di Silo ini ya, lebih menceritakan tentang asal muasal kehidupan di Silo.



Untuk edisi bahasa Indonesianya, untuk terjemahan sudah kukatakan di atas, sangat EYD yang baik dan benar. Terlepas dari istilah-istilah teknisnya, kalimat-kalimatnya cukup mengalir dan enak dinikmati. Aku tidak terlalu suka juga sinopsis versi bahasa Indonesianya ini. Kurang pas. "Dua pahlawan Silo itu berbagi takdir yang sama blablabla..." saat membacanya, kupikir Holston dan Juliette bakal bekerja bersama-sama menguak rahasia Silo itu. Ternyata Holston cuma diulas di Wool 1 trus mati sebelum halaman 50, Wool 2-5, hampir 700 halaman selanjutnya, sepenuhnya Juliette, dan Lukas dan Walker dan Peter dll. Lebih pas blurb singkat edisi Omnibus bahasa Inggrisnya.

Lalu tentang covernya... satu sisi aku suka penggambaran Silonya, jadi lebih mudah membayangkan tangga melingkar, border dan susuran tangganya dari ilustrasi di cover tersebut. Di sisi lain, aku juga suka cover edisi aslinya yang tidak menggambarkan apa-apa, namun menuliskan tag line yang sangat catchy dan sangat benar,
"If the lies don't kill you, the truth will." 

Karena ternyata demikianlah sebenarnya keadaan bumi, dan keadaan Silo yang sebenar-benarnya.


Tentang Wool dan Hugh Howey:

Kisah Wool awalnya diterbitkan secara independen oleh pengarangnya sejak tahun 2011. Setelah seri ini mendapatkan popularitas, lebih banyak seri yang diterbitkan hingga akhirnya lengkap 9 seri. Omnibus Wool ini berisi seri 1 - 5 (Wool, Proper Gauge, Casting Off, The Unraveling dan The Stranded). Omnibus selanjutnya adalah seri 6 - 8 Shift (First Shift: Legacy, Second Shift: Order dan Third Shift: Pact). Penutupnya adalah Dust yang terbit Agustus 2013 lalu. Ketiganya kemudian disebut Silo Trilogy.

Tahun 2012, Hugh Howey akhirnya menandatangani kontrak dengan penerbit Simon and Schuster untuk mendistribusikan printed books Wool di US dan Canada, namun tetap berkeras memegang hak ebook-nya untuk dijual online secara eksklusif.

Selain Silo Trilogy, Howey ternyata juga sudah menulis banyak novel dan novela, sebagian besar tentang Scifi dan Zombie, termasuk serinya yang lain The Bern Saga dengan tokohnya Molly Fyde, yang juga sangat populer.

More about Hugh Howey and Silo Trilogy at Wikipedia.
Hugh Howey talking about self-publishing at IndiePubChat.com.




https://www.goodreads.com/review/show/1277271580

Selasa, 16 Desember 2014

The Handmaid's Tale

Title: The Handmaid's Tale
Author: Margaret Atwood
Publisher: Anchor Books (1998)
ISBN: 978-038-54-9081-8
Pages: 311 pages
First Published: 1985
Literary Awards: Man Booker Prize Nominee (1986), Nebula Award Nominee for Best Novel (1986), Arthur C. Clarke Award for Best Novel (1987), Los Angeles Times Book Prize for Fiction (1986), Prometheus Award Nominee for Best Novel (1987), and many more.


Sinopsis:
Offred is a Handmaid in the Republic of Gilead. She may leave the home of the Commander and his wife once a day to walk to food markets whose signs are now pictures instead of words because women are no longer allowed to read. She must lie on her back once a month and pray that the Commander makes her pregnant, because in an age of declining births, Offred and the other Handmaids are valued only if their ovaries are viable.

Offred can remember the years before, when she lived and made love with her husband, Luke; when she played with and protected her daughter; when she had a job, money of her own, and access to knowledge. But all of that is gone now...


I know I should do some justification by reviewing this book, see..., it was 3 stars not because it just ordinary book (hence, Man Booker AND Nebula Award Nominee along with other awards), it's actually a really bad story in a good way.... uuhmm, no, it was a very good story in a really bad way... or...  aarrghh, you get the point. The idea was so disturbing, it made me creeps, that's why I can't pass 'Like It' level. For all the dystopian worlds I've ever known, this is the world I wish I would never ever EVER encountered. The harrasment was so badly systematic, massive and planned, there were no fighting chances whatsoever for women. Compairing this to Capitol's world, I preferred District 12 in a heartbeat *yeah, I made an inconsequent comparison, sorry, just saying* ;)

Kamis, 27 November 2014

Sarang Kalajengking


Judul: Sarang Kalajengking
Judul Asli: The House of the Scorpion
Seri: Matteo Alacran #1
Pengarang: Nancy Farmer
Penerbit: Penerbit Matahati (2005)
ISBN: 979-98407-3-2
Jumlah Halaman: 440 halaman
Penerbitan Perdana: 2002
Literary Awards: Newbery Honor (2003), National Book Award for Young People's Literature (2002), YALSA Best Books for Young Adults (Top Ten) (2003), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Children's Literature (2003), and many more.


Sinopsis:
Matteo Alacran tidak dilahirkan; Ia adalah hasil DNA El Patron, pemimpin sebuah negara yang bernama Opium - ladang opium yang terbentang antara Amerika dan daerah yang sebelumnya disebut Mexico. Sel darah Matt's dipilah lalu dibagi menjadi beberapa. Lalu ditempatkan ke dalam rahim seekor sapi, di mana dia terus berkembang dari embrio menjadi janin dan kemudian menjadi bayi.

Ia kini telah remaja, namun kebanyakan orang menganggapnya sebagai monster - kecuali El Patron. El Patron menyayangi Matt seperti ia menyayangi dirinya sendiri, karena Matt adalah dirinya.

Ketika Matt berjuang untuk memahami keberadaannya, ia diperlakukan dengan keji oleh hampir semua orang, termasuk keluarga El Patron's yang haus kekuasaan, dan dia dikawal oleh seorang yang sangat berbahaya. Melarikan diri adalah satu-satunya cara agar Matt dapat tetap bertahan hidup. Namun melarikan diri dari Rumah Alacran bukanlah jaminan untuk mendapatkan kebebasan, karena Matt memiliki perbedaan yang ia sendiri tidak mengharapkannya.


Mengangkat tema yang sedikit terlalu gelap untuk cerita-cerita yang biasanya masuk Newbery Honor List, tapi mengingat tokoh utamanya memang masih berumur belasan tahun dan kisahnya sendiri yang sangat menarik, tidak heran buku ini masuk nominasi Newbery tahun 2003 selain segudang penghargaan lainnya. termasuk YALSA dan ALA di tahun yang sama.

Dengan latar scifi dan distopia, novel ini berkisah tentang Matt Alacrán, seorang seekor Clone (karena clone adalah hewan tak berjiwa dan bukan manusia, diternakkan dengan tujuan untuk dipanen organ-organnya) dari penguasa ladang Opium terbesar di dunia yang terletak di antara Amerika Serikat dan amerika selatan.

Kamis, 19 Desember 2013

Trilogi Lion Boy



Judul: Lion Boy: Petualangan Dimulai
Judul Asli: Lion Boy
Seri: Lionboy Trilogy #1
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
ISBN: 978-979-22-2274-6
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: 2003
Judul Asli: Lion Boy: The Chase
Seri: Lionboy Trilogy #2
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
ISBN: 978-979-22-2530-3
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: 2004
Judul Asli: Lion Boy: The Truth
Seri: Lionboy Trilogy #3
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)
ISBN: 978-979-22-2504-4
Jumlah Halaman: 256 halaman
Penerbitan Perdana: 2005


Kalau ditanya tentang genre YA Dystopia pasti sudah banyak sekali contohnya. Bisa saingan dengan genre Vampire bling-bling dan Werewolf Aauuuu... ;)  Tapi bagaimana dengan genre bacaan anak-anak dengan tema dystopia? Untuk itu, baru satu yang pernah kutemui, yaitu trilogi Lionboy ini. Dengan tokoh utamanya seorang bocah bernama Charlie Ashanti - yang keturunan Inggris/Afrika dan bisa berbicara bahasa ras kucing - kisahnya diusung bersetting masa depan, dimana polusi sudah mencapai taraf amat sangat parah hingga semua yang berbahan bakar minyak bumi dilarang dan sinar matahari jadi sumber energi bersih yang lebih umum. Kondisi dunia antara lebih baik dan lebih buruk. Sebagian teknologi berkembang lebih jauh, namun kondisi sosial dunia justru makin terbelah antara orang-orang yang mampu (yang tinggal di komunitas-komunitas terlindung) dan orang-orang miskin.

Rabu, 14 Agustus 2013

Fahrenheit 451


Title: Fahrenheit 451
Original Title: Fahrenheit 451
Author: Ray Bradbury
Publisher: Elex Media Komputindo (2013)
ISBN: 9786020213200
Pages: 248 pages
Original Published Date: 1953
Award: Hugo Award for Best Novel (1954), Prometheus Hall of Fame Award (1984), National Book Award for Medal for Distinguished Contribution to American Letters (2000)


Saat membaca kisah ini, entah mengapa pikiran saya teringat pada sebuah kutipan dari novel Inkheart, bahwa sebuah buku memang selayaknya berat, karena ia memuat sebuah dunia di dalamnya. Dalam kisah ini, mungkin bukan sebuah dunia yang tertulis di dalamnya, namun sebuah peringatan, pernyataan sikap dan ajakan intelektual untuk berpikir tentang dunia kita sendiri.

Dalam dunia distopia Bradbury ini, kita dikenalkan pada seorang Guy Montag, si pemadam kebakaran fireman. Agak rancu juga jadinya mentranslasikan kata ini ya??!?, karena tugas seorang fireman di jaman tersebut bukanlah memadamkan api, melainkan menyulut api yang membakar buku-buku. Tidak masalah jika rumah, ataupun si pemilik rumah/buku-buku, ikut terbakar. Buku adalah benda terlarang. Pemilik buku adalah pelanggar hukum berat.

Sejarah pembakaran buku diawali dengan penyensoran satu dua paragraf dalam buku ini oleh kelompok tertentu dan paragraf lain dari buku itu oleh kelompok yang lain. Kemudian meningkat pada pelarangan satu dua buku karena 'mendorong' orang-orang untuk berpikir, namun juga memiliki fanatisme berlebih dan bertindak anarkis. Lalu demi sebuah ide kedamaian, maka kemudian seluruh warga diseragamkan dengan cara dijejali dengan arus informasi yang sama, praktis, dangkal dan tanpa henti. Otak dikondisikan untuk merasa cerdas dengan adanya banjir informasi namun pada saat yang sama tidak sempat berproses sama sekali. Sementara itu buku-buku dilarang dan dibakar (hal 69-76). Buku membuat orang berpikir, bermimpi dan berimajinasi, memiliki ambisi dan opini. Buku seperti sebuah pistol, sedangkan ide dan kata-katanya adalah peluru dan mesiu.

Karenanya, saya lantas berpikir, dalam kehidupan modern yang kita jalani sekarang, yang memungkinkan untuk mendapatkan segala jenis informasi - instan - semudah menghidupkan telepon genggam, seberapa banyakah waktu kita untuk melakukan tiga hal ini (hal 101-104);
  • mempertanyakan kualitas informasi tersebut dan memperhatikan tekstur yang dibawanya, menyerap detail kehidupan yang dibawa dalam setiap celah pori-porinya, kesan yang tidak tertulis, romantisme dan keindahan, sekaligus sarkasme dan kegetiran yang hanya dapat terasakan.
  • mendapatkan waktu luang yang cukup untuk mencernanya -- memikirkan, bukan saja betul atau tidaknya informasi tersebut, tapi juga benar/salahnya dipandang dari dasar moralitas yang kita miliki.
  • hak untuk melakukan tindakan berdasarkan interaksi tersebut.

Melaui tokoh Clarisse, Montag si fireman mulai mempertanyakan dasar-dasar folosofi kehidupan (Apakah kau bahagia?). Melalui tokoh Beatty dan Faber yang bertolak-belakang, ia mempelajari sejarahnya. Dan melalui tokoh Granger, Montag mulai berpikir. Cogito ergo sum.

Sebuah distopia yang benar-benar mengusik, karena dalam kisah ini, bukan kondisi fisik yang terbelenggu, namun kemampuan orang untuk berpikir yang dinihilkan.


***


Edisi bahasa Indonesia yang saya baca ini terjemahannya bagus dan enak dibaca, termasuk idiom, istilah dan sebagainya (yaah..., kecuali bagian "pemadam kebakaran" di atas tadi ya). Ada beberapa bagian *seingat saya* yang diterjemahkan bebas dengan sedikit eufinisme, tapi tetap terasa sangat pas (misalnya kutipan di bawah ini). Salut.

The good writers touch life often. The mediocre ones run a quick hand over her. The bad ones rape her and leave her for the flies.
Para penulis yang baik seringkali menyentuh kehidupan. Mereka yang biasa-biasa saja hanya menyentuhnya sesekali. Sedangkan yang buruk justru mengacak-acak dan meninggalkannya untuk lalat. (hal 102)
Selain itu di akhir buku ada beberapa halaman percakapan dengan Ray Bradbury. Bagian ini sama menariknya dengan isi buku itu sendiri. Seperti mengintip dapur ide sang pengarang, dan mendapatkan beberapa penjelasan lebih lanjut mengenai ide dan karakter tiap-tiap pelaku novel ini.


***

OoT: jika dikisahkan Montag terbayang-bayang iklan sebuah pasta gigi, saat ini saya selalu teringat jargon iklan Pucuk... Pucuk... :p

Buku kedua Mr. Bradbury yang saya baca setelah sebelumnya menikmati jalinan cerpennya di Ilustrated Man.





http://www.goodreads.com/review/show/646639183

Jumat, 29 Maret 2013

Nineteen Eighty Four


Title: 1984
Original Title: Nineteen Eighty Four
Author: George Orwell
Publisher:  Signet Classics (1950)
ISBN: 9780451524935
Pages: 328 pages
Original Published Date: 1949
Literary Awards: Prometheus Hall of Fame Award (1984), Locus Award Nominee for All-Time Best Science Fiction Novel (1987), 13th on Modern Libraries Hundred Best Novels of the Twentieth Century

From Synopsis:
Hidden away in the Record Department of the sprawling Ministry of Truth, Winston Smith skilfully rewrites the past to suit the needs of the Party. Yet he inwardly rebels against the totalitarian world he lives in, which demands absolute obedience and controls him through the all-seeing telescreens and the watchful eye of Big Brother, symbolic head of the Party. In his longing for truth and liberty, Smith begins a secret love affair with a fellow-worker Julia, but soon discovers the true price of freedom is betrayal.

Imagine that the world we lived was divided into 3 major ruler, all totalitarian. As long as we remembered, we believed, we always been at war, with one or the other. There were no such thing as freedom, not to act, not to lived, not to loved, not to speak, not even to think. All were directed from the Party for the sake of the Party.

WAR IS PEACE
War is not struggling for power. The wars were for cheap labour (and get this, Indonesia Archipelago was one of the slaves factory!!!). But then again, the labour of the exploited peoples round the Equator is not really necessary to the world’s economy.... (but) to use up the products of the machine without raising the general standard of living. (p 238-239). When people had very scarce to eat, they will had to depended to the Party, and had no time to think other things. By this term, order and peace could be achieved.

FREEDOM IS SLAVERY
Human being is mortal. To achieve to most highest peak of freedom of the being, which is immortality, every member of the party must become one with the Party. Think as one. Do as one. (This part actually reminds me a lot of collectivism of The Borg from Star Trek Next Generation)

IGNORANCE IS STRENGTH
To think and do as one with the Party, every member should neutralized by DOUBLETHINK method, which was to accept everything "they told us to believe" is true, without any doubt, without realizing any inconsistency. History was being up to dated every time. People existence was being decided on the event.

All of these dogma should be accepted as the way of life. If you did not, then you'll need to be "cured" in the Ministry of Love!


***


Just when I thought Animal Farm was amusingly disturbing, 1984 exceeded it by miles.

Published in 1949, after the World War II and the beginning of Industrial Era, this novel was -and still is- a visionary writ tings. Sit on the other side of the continuum of Utopia, 1984 beseech to see the worst of ideology, and the last chapter of Part 2 was really the backbone of the whole story. In this chapter readers would see how Orwell placed his fear and given us how we could be at that place. I don't think that we could ever be there (with the Internet, information highway an all, history updated is rather impossible), but the vision of that place, that kind of reign, should be known to be avoided.

I would like to think that this novel was a different kind of sequel to the Animal Farm. In AF, Orwell pointed how power could be slowly corrupted to benefit oneself, in this novel, it showed how to maintain that power among some minority that were "more equal than the others". Some characters also similar, like the face of public enemy, Snowball in AF equal to Goldstein in 1984 or Napoleon in AF to Big Brother in 1984. But other that that, this novel, or should I say this essay, is much more brave, disturbing and visionary to me.




http://www.goodreads.com/review/show/170958152

(So not) Pretty Special - The Uglies Series, Book 2 and 3


Judul: Pretties(Uglies Series #2)
Judul Asli: Pretties(Uglies Series #2)
Pengarang: Scott Westerfeld
Penerbit: Penerbit Matahati (2010)
ISBN: 9786028590211
Jumlah Halaman: 384 halaman
Penerbitan Perdana: Mei 2005

Judul: Specials (Uglies Series #3)
Judul Asli: Specials (Uglies Series #3)
Pengarang: Scott Westerfeld
Penerbit: Penerbit Matahati (2011)
ISBN: 9786028590310
Jumlah Halaman: 389 halaman
Penerbitan Perdana: Mei 2006




Pretties

Tally akhirnya mendapatkan segala yang diinginkannya: wajah cantik, punya pacar tampan, bergabung dengan kelompok paling populer di Kota Rupawan Baru. Semuanya begitu sempurna...
Namun, di balik kegemerlapan itu, ada yang tak beres dalam diri kaum rupawan. Sebuah pesan dari masa lalu mengingatkan Tally akan misinya untuk memulihkan cara berpikir kaum rupawan, yaitu menjadi kelinci percobaan bagi suatu pil penyembuh.
Bersama teman-temannya, Tally diam-diam melakukan pemberontakan. Tanpa disangka, hambatan justru datang dari sahabatnya sendiri. Ketika pertengkaran mereka memuncak, Tally harus berjuang untuk keselamatannya, karena pihak berwenang kota tidak akan segan-segan melawan siapa pun yang merintanginya.

Kalo di buku satu-nya aku sudah rada terganggu dengan karakter Tally yang tanpa inisiatif, mudah sekali disetir kanan-kiri, di buku dua ini karakternya masih berlanjut seperti itu, plus sekarang dia menjelma jadi Tally Sue, cantik, paling disukai, paling beruntung, paling terkenal, paling.... yah pokoknya paling deh. Dan sama seperti buku satunya, karakter Shay lebih mencuri perhatianku. Keberaniannya untuk membentuk kelompok Cutter -lepas dari Crim- jelas menunjukkan bahwa dia lebih mampu berpikir untuk dirinya sendiri, for better or worse.

Oiya, ada beberapa hal lain yang jadi pertanyaan di seri ini:

1. Apa yang terjadi pada kaum tua di negeri rupawan? Beberapa kali disebutkan kaum paruh baya, tapi tidak pernah ada yang menyinggung kaum tua atau kematian. Jika seluruh fungsi tubuh bisa direkayasa agar tetap menjadi cantik dan berfungsi, berarti tidak perlu lagi ada kematian akibat usia tua. Tapi pernah disebutkan bahwa jumlah manusia di kota tetap dan dibatasi, sedangkan selalu ada anak-anak dan kaum uglies yang belum berusia 16 tahun, berarti ada kelahiran. Sekali lagi, bagaimana bisa stagnan jika ada kelahiran tanpa kematian. Lalu apa penyebab kematian di sana? (pastinya bukan karena tua, gagal jantung, kanker atau seribu satu penyakit lainnya dunk) Lalu apa? ada deadline untuk kehidupan seseorang. Seperti kaum uglies yang berubah jadi pretties di usia 16 tahun, apa ada batas waktu untuk hidup bagi kaum pretties?? Berapakah itu? 40 tahun, 60 tahun, 111 tahun, 370 tahun? Berapa?

2. Masalah sumber daya dan teknologi untuk pembuatan pil-pil penyembuh oleh kaum Smoke. Bagaimana membuatnya dan di mana? Setting cerita ini memang 300 tahun dari sekarang, tapi pembuatan obat neurologis yang mematikan dan menumbuhkan kembali jaringan otak manusia tampaknya masih sedikit lebih rumit daripada menggerus dan merebus beberapa tanaman obat kan. Lalu siapa yang membuat, darimana bahan-bahannya, apa alat pembuatannya, di mana di buatnya? OK, mungkin itu sebuah rahasia besar yang dipegang David dan ibunya, tidak boleh sampai ketahuan, tapi... dari mana sumber daya itu semua? (ada simpatisan kaum smoke dari dalam kota, jauh di atas level Tally dan Zane, atau bahkan di atas level Dr. Cable sendiri.... huahahaha..... *ngayal* *kebanyakan baca/nonton cerita konspirasi*)

3. OK, bayangkan ini, kamu adalah rupawan baru yang berpikiran dangkal telmi, mendapat surat dari dirimu sendiri di masa lalu, untuk meminum pil penyembuh otak. Beserta surat terlampir 2 (DUA) buah pil yang bentuk dan warnanya sama persis. Surat dibaca bersama seorang teman, dan dalam waktu singkat semua bukti harus dimusnahkan. Apa yang kamu lakukan?
Kamu dan temanmu masing-masing minum sebuah pil itu? Yah, menurut aku, itu jawaban yang paling logis. Meneketehe kalau ternyata satu pil ternyata "racun" dan yang satu lagi penawarnya. spoiler [Apeslah Zane karena bernasib buruk!!!] Apasih sulitnya menulis pills -- instead of just pill. Atau sertakan aturan meminum obat tersebut. Atau bedakan warna dan bentuknya supaya orang tahu kalau itu obat yang berbeda. Menurutku, ini jelas-jelas pemutarbalikan fondasi kisah agar jalan ceritanya bisa dibuat berputar-putar. Ada-ada ajah!!




Specials

Tally telah bergabung dengan Special Circumstances, aparat rahasia pemerintahan kota yang bertindak seperti militer. Mereka menjalani operasi yang menjadikan mereka “rupawan bengis,” rupawan namun mengerikan.
Bersama Shay dan kelompok Cutter, Tally memburu Smoke Baru. Sebagai anak emas Dr. Cable di Special Circumstances, mereka berusaha menghentikan upaya Smoke Baru mengobati kaum rupawan. Namun Tally merasa bimbang ketika Zane, pacarnya yang masih mengalami kerusakan otak, berbeda pendapat.
Tally kembali dihadapkan pada pilihan sulit, memilih pacar yang dicintainya tetap rupawan, atau memaksanya berubah menjadi spesial—seperti dirinya. Dan Tally tak pernah membayangkan pilihannya berujung pada masalah serius yang melibatkan kota lain, bahkan dunia...

It's official. Tally Youngblood is the most obnoxious heroine character I ever met. :p

Buku ini kuselesaikan sekali baca krn kalau tidak, pasti gak akan pernah selesai dengan mengharapkan hal-hal yang lebih baik untuk endingnya. Tapi tidak satupun yang terpenuhi. Endingnya datar. Penyelesaian konfliknya amat sangat dipermudah spoiler [Cinta segitiga? matikan saja salah satu cowoknya. Penjahat super keji? buat tokoh ini jadi SADAR, gak mau jadi penjahat lagi. yeah right... what is this? Boboboy?? ]. Sedangkan karakter tokoh utamanya di awal buku menjengkelkan, di tengah-tengahnya lebih menjengkelkan, sedangkan di akhir mendapatkan semua yang baik. Hmmm......
Benar-benar salah milih tokoh utama ini!


Sabtu, 23 Maret 2013

Mockingjay

Judul: Mockingjay
Seri: The Hunger Games #3
Pengarang: Suzanne Collins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792278439
Jumlah Halaman: 432 pages
Penerbitan Perdana: 2010
Literary Awards: Locus Award Nominee for Best Young Adult Book (2011), Children's Choice Book Award Nominee for Teen Choice Book of the Year (2011), Voya Perfect Ten (2010), Publishers Weekly's Best Children's Books of the Year for Fiction (2010), Andre Norton Award Nominee for Young Adult Science Fiction and Fantasy (2010), DABWAHA Romance Tournament for Best Young Adult Romance (2011), Goodreads Choice for Favorite Book, Young Adult Fantasy, Favorite Heroine, and Favorite Hero (2010)



Buku terakhir yang menutup trilogi Hunger Games. Ini bukan review. Cuman celoteh ngalor ngidul selagi inget, tapi sungguh penuh spoiler, jadi jangan dibaca kecuali sudah khatam baca bukunya.


"Katniss... dia masih berusaha menjagamu tetap hidup."
Suka pretensi awalnya. Peeta di Capitol, gencatan senjata; Katniss di Distrik 13, memenangkan perjuangan. Dua kubu berlawanan, dua sikap berbeda. Namun prioritas utama yang sama, keselamatan orang yang dicintai. Tapi sayangnya, cerita selanjutnya menjauh dari pretensi ini.


"Dia sudah tahu bagaimana cara Snow memanfaatkan Peeta."
Strategi sadis yang dapat dipelajari di sini, menangkap orang yang paling berarti untuk seseorang bukan saja dapat digunakan sebagai umpan, namun bisa juga sebagai pelampiasan sekaligus teror. Semakin kau melawan, semakin pedih pula siksaan yang akan diterima kekasihmu! Snow sadar benar berharganya Peeta bagi kondisi mental Katniss (sama seperti buah Berry di HG), hingga pada suatu titik saat penyiksaan Peeta bahkan lebih melumpuhkan Katniss ketimbang Peeta sendiri. Saat itu tidak cukup, kembali ke cara klasik *boooorrrinng* cuci otak dan jadikan senjata rahasia.


"Jangan, Katniss! Jangan! Kau tak boleh pergi!"
Hal yang paling mengganjal dari kisah ini adalah saat kejatuhan Capitol ternyata bukanlah saat kemenangan Katniss. Jastru saat itulah Katniss terpuruk sangat dalam dan tidak dapat melakukan apa-apa selain menderita. Yaahh... sesungguhnya juga Katniss tidak melakukan banyak di buku ini selain nampang di siaran TV (dan berjalan menggelandang ke mana-mana gak ada juntrungannya). Jika klimaks cerita ditunda ke saat kematian Coin dan Snow pun, tetap saja peran Katniss penting tapi tidak begitu terasa.

Karakterisasi Gale lebih menjanjikan, namun sangat tidak tergali. Gale... Sang prajurit pahlawan. Tampan, lugas dan cerdik, namun ternyata menyembunyikan hati yang terluka! *haaalaaahh!*

Atau bahkan Peeta dengan segala pergulatan dan kebingungan otaknya yang jungkir balik. Seharusnya ini dapat lebih banyak disorot.


"Katniss akan memilih orang yang menurutnya tanpa keberadaan pria itu tak sanggup membuatnya bertahan hidup." 
Itu menurut Gale. Menurutku, bagaimanapun, Katniss akan memilih pria yang tanpa dirinya, pria itu tak dapat hidup. Dan itu adalah Peeta. Satu hal yang membuat Peeta 'lebih unggul' dari Gale adalah Peeta tidak berada aman di samping Katniss saat banyak hal terjadi. Jika Peeta terselamatkan bersama Katniss di akhir buku 2, kesempatan untuk Gale bersama Katniss akan jauh lebih besar. Tapi sepertinya semua dimutlakkan dengan ketidaktahuan apakah bom yang menewaskan Prim adalah ciptaan Gale atau bukan. Dengan plot ini, seujung kemungkinan hubungan Katniss-Gale tamat sudah.


"Kita akan mengadakan Hunger Games lain menggunakan anak-anak Capitol."
Snow atau Coin. Capitol atau Distrik 13. Institusi serupa hingga nyaris simetris. Sama dengan bangunan-bangunan identik Capitol yang dibangun di Distrik 13. Permainan utamanya hanyalah kepemilikan kekuasaan tertinggi.


***


Sebenarnya suka dengan ide besar trilogi ini, namun aku tetap tidak bisa melewatkan detail tentang arena gladiator bocah-bocah ingusan. Kenapa juga harus se-barbar itu. Ditambah lagi dengan gambaran penyiksaan brutal yang bertebaran di setiap bagian kisah, belum lagi penggunaan morfin yang diumbar vulgar. Ini kan masih digolongkan bacaan YA. Terakhir, menurutku kematian Prim, seperti juga Rue, hanyalah alasan untuk lebih memeras air mata pembaca. Yeah... perjuangan untuk kebebasan mahal harganya!


Panem dan Hunger Games. Nyata atau tidak nyata?
Tidak nyata.




http://www.goodreads.com/review/show/280187210

Buku sebelumnya:



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget