Tampilkan postingan dengan label Eiji Yoshikawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eiji Yoshikawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Taiko


Judul: Taiko
Judul Asli: 新書太閣記 (Shinsho Taiko ki) -
Taiko: An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 978-979-22-0492-6
Jumlah Halaman: 1142 halaman (Hardcover Ed.)
Penerbitan Perdana: 1967



Lihat sinopsis
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.

Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal; leyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia Lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apa pun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan-pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya, menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.


Masa Sengoku  (戦国時代 - Sengoku Jidai) adalah masa-masa sekitar tahun 1400an sampai 1600an di Jepang di mana kehidupan sosial masyarakatnya terombang-ambing dengan banyaknya intrik-intrik politik dan keadaan yang hampir selalu perang antar para penguasa. Selama masa ini, meskipun ada Kaisar yang memerintah dan semua Daimyo (Penguasa Daerah) bersumpah setia padanya, namun kenyataannya, ia tidak memiliki kekuasaan apapun. Para Daimyo memerintah daerahnya masing-masing secara mutlak dan saling rebut, saling caplok, saling bunuh, demi tanah dan kewibawaan terjadi tanpa dapat dihalangi.

Di masa inilah seorang Hiyoshi dilahirkan, di Propinsi Owari yang dikuasai Klan Oda. Ayahnya adalah seorang samurai desa yang meninggal sewaktu ia masih kecil. Meskipun samurai yang menyandang nama keluarga Kinoshita, Hiyoshi kecil tetap tidak berhak menyandang nama itu. Tidak sampai ia berhasil mengharumkan namanya sendiri, hingga berkali-kali dianugerahi nama oleh junjungannya, dan di akhir hidupnya dikenal sebagai Toyotomi Hideyoshi, Sang Taiko.


Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab "Bunuh saja!"
Hideyoshi menjawab "Buat burung itu ingin berkicau"
Ieyasu menjawab "Tunggu"

Semuanya diawali oleh cita-cita penyatuan oleh Oda Nobunaga, dibesarkan dan ditenangkan oleh Sang Taiko Toyotomi Hideyoshi dan dilanjutkan dan dimapankan oleh Tokugawa Ieyashu. Tiga orang penentu nasib negeri, dan dari ketiganya, Sang Taiko-lah yang paling dikenal akan kecerdikannya.

Kisah epic ini mengikuti tindak-tanduk Hideyoshi, mulai masa kecilnya yang tak beruntung, hingga pengabdiannya pada sang junjungan, Oda Nobunaga hingga ia menjadi Taiko. Meskipun masa kekuasaannya tak terlampau panjang, namun di bawah panji Labu Emas miliknya, Jepang sekali lagi memasuki Era Keemasan.


Muromachi Samurai - Source Here


Si Monyet Hiyoshi - Si Penjual Jarum yang cerdik
Dilahirkan dalam masa-masa sulit dan ditinggalkan sang ayah semenjak kecil membuat Hiyoshi yang berwajah mirip monyet ini berkali-kali mengalami kesulitan. Namun pendirian teguh dan kecerdikannya pula membawa ia berkali-kali selamat dan bahkan mampu mengenal dan mengambil hati banyak orang, yang kelak di kemudian hari berguna untuk memenuhi tugas-tugas yang bakal diembannya. Berbagai pekerjaan sempat dilakoninya, sempat pula bekerja sebagai penjual jarum miskin, malah direkrut sebagai pelayan dan mata-mata. Muak dengan kebodohan, lagak dan moral penuh kepura-puraan yang dirasanya sangat tak terhormat, ia kembali ke tanah asalnya di Owari dan mencari junjungan baru yang dirasanya paling cocok.


Kinoshita Tokichiro - Samurai Pembawa Sandal Penguasa Pandir
Di masa ini pula seorang Daimyo muda sedang berkuasa di Owari, propinsi di wilayah tengah yang tak berarti. Oda Nobunaga, yang memiliki cita-cita besar namun terpaksa berlagak pandir di depan musuh-musuhnya. Padanya lah Hiyoshi menjatuhkan kesetiaannya. mulai dari pelayan hingga menjadi seorang samurai pembawa sandal yang berjalan di belakang kuda beban. Namun mata Nobunaga tak buta untuk melihat kelihaian si pelayan kecil ini. Dari persoalan penghematan kayu bakar sampai penipuan pemotongan kayu di hutan, Nobunaga mulai melemparkan tanggung jawab-tanggung jawab domestik rumah tangganya kepada si pelayang yang diberinya nama Kinoshita Tokichiro. Semuanya bisa teratasi dengan sangat baik, sampai-sampai Nobunaga memberinya sepasukan infanteri untuk dipimpinnya saat ia memutuskan bertempur pertama kalinya.


Kinoshita Hideyoshi - Penguasa Benteng Sunomata
Hideyoshi sedang mendaki
Gn Inaba. Source here.
Berkali-kali berhasil dalam misinya, Nobunaga kemudian menugaskan ia membangun benteng di perbatasan Mino - Owari. Hideyoshi kemudian juga berulang kali membuat jasa dalam peperangan melawan Klan Saito yang menguasai Mino, dan yang paling penting adalah bagaimana ia bisa dibilang seorang diri menjatuhkan Klan Saito dalam strategi perang Gunung Inaba. Prestasi ini sangat menyenangkan hati Nobunaga yang sudah lama ingin membalaskan dendam istrinya dan menyatukan wilayah Owari dan Mino.

Di Gunung Inaba ini pula benteng pertama dan pusat pemerintahan Nobunaga yang pertama dibangun dan diberi nama Benteng Gifu.

Dari benteng ini pula, Nobunaga (yang secara "kebetulan" mendapatkan mandat dari Shogun Yoshiaki) memulai kampanye penaklukan propinsi-propinsi lain di wilayah tengah, hingga akhirnya mampu menaklukkan Kyoto.


Hashiba Hideyoshi - Sang Penakluk Benteng Odani
Jika sebelumnya Hideyoshi adalah seorang jendral perang, maka setelah jasanya menaklukkan Benteng Odani, ia dianugrahi wilayah Omi, sehingga ia menjadi penguasa Propinsi. Sebuah prestasi yang menanjak sangat cepat dalam waktu singkat.

Hubungan Hideyoshi dengan Nobunaga sendiri mengalami pasang surut, Ada kala ia sempat mutung dan mengurung diri di bentengnya, bahkan ada kala Nobunaga mendapat usulan agar  memerintahkan Hideyoshi melakukan seppuku. Namun kesetiaan Hideyoshi dan kepercayaan Nobunaga bergeming. Keduanya, tampaknya sangat mengenal watak satu sama lain dengan sangat baik sehingga tak jarang mengundang kecemburuan berbagai pihak. Namun dengan penyatuan kehendak keduanya, serta dukungan Tokugawa Ieyashu dari timur, cita-cita Nobunaga berjalan lancar.

Nobunaga yang telah memindahkan pusat kekuasaannya ke Benteng Azuchi dekat Kyoto lalu memusatkan perhatian untuk penaklukkan wilayah barat. Hideyoshi pun kemudian mendapatkan mandat untuk menyerang dan menaklukkan wilayah-wilayah Barat yang dikuasai Klan Mori,


Kejatuhan Oda Nobunaga 
Hidup manusia
Hanya limapuluh tahun di bawah langit
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia
Hidup hanya sekali
Adakah yang tidak akan hancur
Nasib manusia memang tak dapat diramalkan jatuh bangunnya. Kekuasaan Nobunaga yang kian menguat, tak ada satu pun musuh yang dapat menjatuhkannya. Tak satu pun. Musuh.

Ironisnya, Oda Nobunaga tewas karena bawahannya sendiri yang termakan kemarahan terpendam dan kesombongan sesaat. Tragedi Kuil Honno. Satu pagi yang membelokkan nasib negeri.


Toyotomi Hideyoshi - Sang Taiko
Hideyoshi yang sedang sibuk berperang di wilayah perbatasan Mori, mendapatkan kabar kematian Nobunaga dua hari setelah peristiwa berdarah itu. Satu hari kemudian ia merampungkan perdamaian dengan Klan Mori. Dalam tiga hari ia sudah mengumpulkan pasukannya sendiri dan menyatukan pasukan-pasukan Nobunaga yang terpecah belah. Sebelas hari setelah kematian Nobunaga, kepala sang pemberontak telah ditancapkan di tombak, mengikuti kemenangan dalam Pertempuran Yamazaki.

Hideyoshi kemudian mendukung Samboshi yang masih bocah, putra Nobutada (yang harusnya menjadi pewaris Nobunaga, namun ikut tewas di Kuil Honno), untuk menjadi pewaris sah Klan Oda. Meskipun ditentang Nobuo dan Nobutaka, kedua putra Nobunaga yang lain, namun keputusan ini dinilai sahih, walau tentu saja sangat menguntungkan Hideyoshi sebagai wali bocah ini.

Ganjalan lain datang dari Shibata Katsuie sebagai pendukung Nobunaga paling senior, serta Tokugawa Ieyashu, sekutu Oda di wilayah timur. Namun dengan kematangan strateginya, Hideyoshi mampu menyingkirkan Katsuie dalam perang yang menentukan, dan mendorong Ieyashu ke belakang layar dengan memanfaatkan kenaifan Nobuo.

Hideyoshi lalu dianugrahi gelar Kampaku (Wakil Kekaisaran), yang mengukuhkan otoritas mutlaknya dan memakai nama Toyotomi. Saat putra angkatnya, Hidegutsu kemudian melanjutkan gelar ini, Hideyoshi pun dikenal sebagai TAIKO.


* * *

Membaca kisah dalam buku bantal ganjel pintu ini, sungguh melelahkan sekaligus memuaskan. Perjalanan hidup Hideyoshi semenjak bocah hingga memegang kekuasaan tunggal terasa panjang dan berliku (dan tebaaaaal..... setebal 1142 halaman). ^^

Walau sama-sama dramatisasi biografi dari seorang tokoh dalam sejarah, berbeda dengan Musashi (baca reviewku di sini) yang lebih menekankan pada pengendalian diri dan bagaimana seseorang belajar tentang kehormatan seorang Samurai, novel Taiko ini lebih merupakan suka duka orang-orang yang bercita-cita besar dan mengubah nasib Jepang. Mirip kisah Uesugi Kenshin (reviewku di sini) namun dalam skala yang jauh lebih besar. Selain Oda Nobunaga dan tentunya Hideyoshi, berbagai tokoh sejarah ikut mewarnai novel ini dengan cita-cita, kelebihan dan kekurangan mereka. Nasib baik dan nasib buruk yang menyertai mereka. Serta interaksi, kecerdikan dan kesalahan langkah yang membawa masing-masing dari mereka sebagai pion-pion jalannya kehidupan di masa penuh huru-hara itu.

Yoshikawa-sensei benar-benar mampu menyuguhkan sajian menegangkan sekaligus indah, menggambarkan sejarah dalam kisah yang sangat enak diikuti. Selain alur sejarah, aku juga sangat menikmati suguhan cara berpikir para samurai ini, tentang kehormatan yang harus dijunjung dan kesetiaan yang diberikan untuk pengabdian tanpa batasan.
Seorang samurai tidak bekerja sekedar untuk mengisi perut. Dia bukan budak makanan. Dia hidup untuk memenuhi panggilannya, untuk kewajiban dan pengabdian. Makanan hanyalah tambahan, sebuah berkah dari surga. Jangan menjadi laki-laki yang, karena terlalu sibuk mencari makan, menghabiskan hidupnya dalam kebimbangan. (Hal.58)


Kisah hidup Taiko memang layak diikuti. Namun selain itu, aku juga mendapatkan bonus berbagai kisah samurai dan pejuang, dan kisah kehormatan mereka.

Puasssss sekali setelah menyelesaian novel epic ini. Tidak sia-sia perjuangan selama 4 bulan membacanya. Apalagi terjemahannya cukup bagus dan tanpa typo sama sekali. Ada sih beberapa kesalahan, satu di daftar isi yang kurang mencantumkan satu bab di Buku Sepuluh, satu lagi dalam referensi waktu yang terbalik keterangannya antara tengah malam dan tengah hari. Tapi selain itu, seluruh isi buku 1142 halaman ini bebas typo. Seeep dah. Ilustrasi covernya aku suka, sama seperti cover asli edisi Kodansha. Lebih suka cover ini daripada cover edisi cetak ulangnya.


Setelah ini, masih ada Heike Story yang mengantri untuk dibaca.
#tetapsemangat ^^


On Wikipedia:
Sengoku Period
Toyotomi Hideyoshi
Eiji Yoshikawa


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden), dan Uesugi Kenshin. Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.




https://www.goodreads.com/review/show/1576890505

Kamis, 14 Januari 2016

Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama


Judul: Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Judul Asli: 上杉 謙信 - Uesugi Kenshin
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Kansha Books (2012)
ISBN: 9786029719680
Jumlah Halaman: 388 halaman
Penerbitan Perdana: 1975



Lihat sinopsis
Atas permintaan Shogun, Uesugi Kenshin mengepung klan Hojo yang mulai menyerang negeri-negeri kecil. Saat itulah Takeda Shingen menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin. Kejadian tersebut membuat perseteruan antara kedua daimyo terbesar itu kian memuncak.

Uesugi Kenshin yang kalah dalam jumlah pasukan dan enggan berperang akhirnya memutuskan untuk menyerang Takeda Shingen. Inilah pemicu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai, Perang Kawanakajima.

———————————

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Ribeka Ota, kita seolah berada dalam peperangan bersama pasukan Uesugi Kenshin, sambil menghayati kebijaksanaan serta aturannya yang meliputi seluruh sendi kehidupan para samurai.

Setelah sebelumnya mengulas novel Furin Kazan yang mengangkat tokoh Takeda Shingen dari mata seorang Yamamoto Kansuke, sekarang aku juga ingin mengulas tentang Uesugi Kenshin yang hidup pada masa yang sama dan berdiri berseberangan dengan Shingen. Di sini, tokoh ini diangkat oleh Eiji Yoshikawa dalam novel sejarah yang memperlihatkan sepenggal kisahnya, terutama dalam mengatur strategi militer dalam Perang Besar Kawanakajima.


Berkuasa sebagai Daimyo Echigo pada periode Sengoku, Uesugi Kenshin adalah satu dari sedikit Daimyo yang masih mau mengakui kekuasaan Shogun (Kaisar).  Karena itu, novel ini dibuka dengan kisah bagaimana ia tidak ragu-ragu meninggalkan negerinya untuk menaklukkan Klan Hojo atas perintah Shogun. Akibatnya, Takeda Shingen mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Benteng Warigadake  di wilayah perbatasan Echigo-Kai yang merupakan benteng pertahanan penting bagi kedua belah pihak, meskipun masih terikat perjanjian damai.

Kepulangan Kenshin yang disambut berita buruk ini membuatnya bertekad untuk mengakhiri perseteruannya dengan Shingen dengan satu atau lain cara. Awalnya dia hanya berdiam diri, tak melakukan pembalasan apapun. Lalu setelah beberapa bulan, Kenshin mulai dengan mengirim seorang utusan -Shimotsuke yang sangat pandai berbicara - ke Kai untuk menuntut tanggung jawab Shingen. Saat Shingen terlena dan tak menduga sama sekali ini, Kenshin segera mengumpulkan pasukannya sebanyak mungkin dan menduduki wilayah di kaki Gunung Saijo di perbatasan Kai. Langkah nekad dengan taktik "tanpa taktik" yang setara untuk menandingi kelihaian strategi Shingen yang amat terkenal itu.

Dari sini suasana perang dan adu cerdik strategi mulai dibangun dengan sangat apik. Berbagai cara dilakukan Shingen dan Kenshin, dari saling mengirim utusan untuk berunding (tentu saja utusan-utusan yang dikirim, dan pihak penerima utusan adalah orang-orang terpilih yang saling kenal dan punya sambung budi yang mencengangkan), hingga saling gertak dengan cara-cara yang sangat halus dan mengharukan. Sebuah perang psikologis yang dilancarkan dengan sangat lihai. Kenekadan Kenshin sempat membuat Shingen salah tingkah dan memindah-mindahkan lokasi pasukannya beberapa kali. Semuanya ditanggapi Kenshin dengan kalem dan seolah tak peduli. Sikap yang bahkan bagi beberapa jendralnya sangat membingungkan, seperti saat mereka sibuk memikirkan pasokan perbekalan pasukan yang makin menipis malah ditanggapi Kenshin dengan kesibukan mencari sekuntum bunga krisan #EH

Tapi bukan berarti Kenshin lengah. Ia justru sedang mencari titik lemah Shingen. Saat akhirnya Perang Kawanakajima yang epik itu meletus, all hell broke loose, dan terbukti Shingen tertinggal satu langkah di belakang Kenshin. 13 ribu prajurit Echigo mampu menyerang 20 ribuan pasukan Kai di wilayah mereka sendiri, dan bahkan Kenshin mampu merangsek maju dan nyaris menebas kepala Shingen di tenda utamanya, sebelum akhirnya mereka harus mundur teratur kembali ke Echigo.

Berbeda dengan kisah perang modern yang selalu berlandaskan asas all fair in love and war, aku menyukai kisah-kisah pertempuran ala Jepang kuno yang lebih mengutamakan kehormatan diri. Kenshin dan Shingen membuktikan hal ini dalam kisah-kisah perseteruan abadi mereka. Baik dalam Pertempuran Kawanakajima ini, maupun di waktu lainnya. Contoh lain yang paling diingat dari sosok Kenshin tentu saja saat ia menegaskan bahwa perang adalah urusan Samurai dan bukan tanggung jawab rakyat dan petani, bahwa perang harus dimenangkan dengan tombak dan pedang, bukan lewat beras dan garam (wars are to be won with swords and spears, not with rice and salt), saat menanggapi embargo ekonomi yang dilakukan Klan Imagawa di Suruga dan Klan Hojo di Sagami.

Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen adalah rival abadi. Tapi permusuhan mereka bukan karena masalah pribadi, melainkan karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab sebagai penguasa wilayah, dan karenanya mereka malah sama-sama saling sangat menghormati satu sama lain.


Untuk bukunya sendiri, seperti biasa aku sangat suka cara penuturan Yoshikawa-sensei yang mengalun tenang, membuat deskripsi dan karakterisasi Kenshin sangat enak dinikmati. Meskipun ia digambarkan sebagai Dewa Perang yang nekad, tapi sisi-sisi kemanusiaan Kenshin juga mampu ditampilkan dengan layak dan bagus sekali. Sayang sekali sosok Kenshin di novel ini dimunculkan sesaat sebelum Kawanakajima, bukan jauh ke belakang (saat ia masih bernama Nagao Kagetora, seorang biksu cilik dan kemudian menjadi samurai muda, sebelum akhirnya menjadi pewaris Klan Uesugi.)

Edisi bahasa Indonesianya ini ditranslasikan langsung dari Bahasa Jepang dengan sangat apik. Nuansa orisinalnya sangat terasa.


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden). Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.







https://www.goodreads.com/review/show/1486716532

Kamis, 02 Mei 2013

Musashi


Judul: Musashi
Judul Asli: 宮本武蔵 Miyamoto Musashi
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama  (2001)
ISBN: 9789796556038
Jumlah Halaman: 1247 pages (Hardcover Ed.)
Penerbitan Perdana: 1935





Cuplikan dari sinopsis:
Miyamoto Musashi adalah anak desa yang bercita-cita menjadi samurai sejati. Di tahun 1600 yang penuh pergolakan itu. ia menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir, ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan. Dalam perjalanan pulang, ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan - hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukkannya.

Yaayyy.... akhirnya buku bantal ini selesai juga. Sebenarnya buku (pinjeman) ini dijadwalkan untuk dibaca selama setahun (sekitar 100-an halaman sebulan), tapi setelah sampai di buku 4, di saat Sasaki Kojiro-nya sudah muncul, eh kok malah keterusaaaaan bacanya. Yah, jadinya di awal bulan Mei ini setoran ripiunya sudah bisa ditulisken. Oiya, ini jadi bagian dari Yoshikawa Reading Challenge yang diadakan oleh Mas Tezar di blog-nya.

Dua Jalan
Musashi vs Matahachi
Kisah dibuka dengan seting akhir Pertempuran Sekigahara. Shimmen Takezo dan Honiden Matahachi, dua sahabat berasal dari kampung yang sama di daerah Miyamoto bertemu dengan pasangan ibu dan anak gadisnya, Oko dan Akemi, yang kemudian berpengaruh sangat besar pada jalan hidup keduanya. Matahachi memilih jalan kesenangan duniawi dan minggat bersama Oko, sedangkan Takezo, dengan sisa-sisa sifat heroiknya yang masih ada, memilih pulang kampung, meski di sana ia harus berhadapan
Pohon Kriptomeria
dengan Osugi, ibu Matahachi yang beranggapan bahwa Takezo-lah yang membuat anaknya jadi durhaka, dan juga Otsu, tunangan Matahachi yang merana ditinggalkan sang kekasih begitu saja. Selain itu, tuduhan menjadi desertir perang, dan karena sifatnya yang mudah naik darah membuatnya tak sengaja membunuh beberapa samurai penjaga, juga tersemat pada Takezo. Untunglah, dengan bantuan Otsu, kemudian ia bertemu dengan seorang pendeta Zen bernama Takuan, yang memberinya pencerahan dan perkenalan pada jalan pedang sejati sembari mengikatnya di sebatang pohon Kriptomeria. Kemudian, setelah dikurung dalam kamar isolasi selama tiga tahun, Takezo diampuni oleh sang Daimyo pemilik benteng bahkan dianugerahi nama baru: Miyamoto Musashi. Meski ditawari jabatan, Musashi memilih untuk mengembara dan terus mengasah jalan pedangnya. Satu pelajaran dari Takuan yang selalu mengiringinya adalah, sebagai Samurai ia memang harus tidak takut mati untuk menjunjung kehormatannya, namun sebagai manusia, ia juga harus menjunjung tinggi hidupnya, tidak boleh mati sia-sia.

Sepanjang kisah ini, perbedaan nilai hidup Musashi dan Matahachi selalu dikedepankan. Sementara Musashi selalu sibuk mendisiplinkan diri, belajar dari semua hal yang dilewatinya, menelan pahitnya tuduhan dan fitnah Osugi (sebel banget nih sama si nenek sangar, bukannya ngurusin anaknya sendiri, eh malah ngejar-ngejar Musashi), menguji kesetiaan cintanya pada Otsu, dst... Matahachi lebih sering memilih jalan yang mudah, menipu, merendahkan diri, bahkan di paruh akhir kisah, sempat ditipu untuk menjadi agen pemberontak demi imbalan 40 keping uang emas. Meski demikian, tampaknya Yoshikawa Sensei masih berpendapat bahwa jalan pertobatan masih terbuka kapanpun diinginkan. dengan bantuan Takuan dan seorang pendeta bernama Gudo (yang juga memberi pencerahan untuk kesempurnaan ilmu pedang Musashi), Matahachi akhirnya menemukan jalan kehidupannya sendiri.

Musashi vs Kojiro
Sasaki Kojiro adalah seorang jenius ilmu pedang, yang telah menyempurnakan ilmunya saat masih sangat muda. Mulai saat kemunculannya di akhir buku 3, jalan hidup Kojiro dan Musashi saling berbelit hingga puncaknya saat duel keduanya di akhir kisah ini. Kojiro sendiri, sebenarnya bukan tokoh yang buruk, hanya saja ia sedikit sombong dan bertipe birokrat politikus. Sangat pandai berkata-kata dan memanipulasi orang demi kepentingannya. Bahkan saya juga sering terbawa kesopanan dan keanggunan-nya membawa diri sehingga bersimpati kepadanya, apalagi saat menyadari, ternyata ia sungguh-sungguh menyukai Akemi (kasihan...kasihan....)

Dua Murid
Jotaro vs Iori
Dikisahkan di novel bantal ini, bahwa Musashi memiliki dua orang murid, Jotaro dan Iori (ada juga  Gonnosuke yang juga menganggap Musashi sebagai gurunya, meski ia kemudian mengembangkan gaya pertarungannya sendiri). Walaupun banyak mengisahkan tentang jalan hidup keduanya, tapi dari sudut pandang Musashi sendiri dapat juga dilihat sebagai penilaian kesiapannya untuk menjadi seorang Guru. Saat ia bersedia mengambil Jotaro sebagai murid, meskipun ilmu pedangnya sudah sangat hebat, sebagai manusia bisa dibilang ia masih setengah matang (dan sering galau!). Jadi, selama perjalanannya dengan Jotaro, mereka berdua masih sama-sama belajar, dan akibatnya Jotaro sering terperosok dalam kesialan dan sempat juga dimanfaatkan oleh para pemberontak. Sedangkan saat bertemu Iori, ia sudah lebih siap mental, dan mengerti pemanfaatan jalan pedang secara lebih menyeluruh. Hasilnya, latihan kedisplinan dan nilai-nilai seorang Samurai lebih terasa pada Iori (meskipun sifat Iori yang lebih serius dibandingkan keliaran Jotaro juga berpengaruh sih).

Dua Wanita
Otsu vs Osugi
Ini adalah kedua wanita yang dikecewakan Matahachi saat ia kabur bersama Oko. Satu adalah tunangannya, yang lain adalah ibunya. Namun keduanya bereaksi sangat berbeda terhadap si pembawa kabar buruk. Osugi bersumpah mengalahkan Takezo yang telah mempermalukan putranya, sedangkan Otsu pasrah menerimanya. Karakter Osugi ini benar-benar nenek-nenek menakutkan mengagumkan yang semangatnya tak terkalahkan waktu dan usia. Walaupun melihat Musashi dari sudut pandangnya sendiri yang super cupet, namun tidak bisa tidak, kegigihannya tak tertandingi. Sayangnya, dari segi cerita, bisa dikatakan setengah nasib buruk Musashi disebabkan oleh cerita kesalahan Musashi versi Osugi. Jadi super bete, kalau si nenek ini sudah muncul.Ending untuk karakter ini dibuat lumayan lunak menurut saya. *penginnya tuh, si nenek mendapat kesialan beruntun-runtun-runtun, supaya sebanding dengan penderitaan Musashi selama ini* :p
Di sisi lain, Otsu adalah karakter cewek super feminin -namun tidak kalah gigih- yang rela berkorban apapun  cintanya pada Musashi. Setelah diputuskan pertunangannya secara sepihak oleh Matahachi, perlahan-lahan hatinya berpindah ke Musashi, dan ia rela menunggu bertahun-tahun saat Musashi lebih memilih disiplin diri dan jalan pedang. Akhir kisah cinta keduanya dibuat menggantung oleh Yoshikawa Sensei, meskipun mungkin lebih baik begitu, daripada dapet sedihnya kalau dijelaskan lebih lanjut *mewek*

Otsu vs Akemi
Ada Otsu, adapula Akemi. Keduanya mendambakan Musashi, meskipun banyak pula yang menginginkan mereka. Pada Otsu, selain Matahachi, ada Aoki Tanzaemon dan Yagyu Hyogo. Pada Akemi, selain cinta tak kesampaian Sasaki Kojiro, adapula Yoshioka Seijuro dan tentu saja si sableng Matahachi. Walau kehidupan mereka sangat berbeda, saya merasa jalan yang mereka tempuh sama tragisnya.

Dua Pedang
Miyamoto Musashi in his prime, wielding twobokken.
Woodblock print by Utagawa Kuniyoshi

Niten'ichi Ryu (kanji 二天一 berarti dua langit menjadi satu)  secara harafiah berarti, "Dua Langit, Satu Perguruan", meski dapat juga berarti "Dua pedang, Satu Semangat", atau "Dua Pedang, Satu Gaya". Hal ini mengacu pada gaya bertempur Musashi yang menggunakan pedang di masing-masing tangannya. Ia berpendapat bahwa kedua tangan memiliki fungsinya masing-masing dan harus bergerak dalam satu kesatuan dan jiwa. Meskipun sering menggunakan 2 pedang sekaligus dalam pertempuran, gaya ini baru disempurnakannya saat bertemu Pendeta Gudo, yang intinya mengajarkan bahwa sebagai manusia ia harus menjadi utuh, lingkaran sempurna, pedangnya harus menyatu dengan semangatnya.

Di akhir kisah, setelah duelnya dengan Kojiro, Musashi berpendapat bahwa ia lebih mendalami jiwa semangat seorang Samurai sedangkan Kojiro lebih mendalami jiwa ilmu dan kecakapan. Keduanya sama hebatnya, sama pentingnya, hanya saja, di titik yang paling menentukan, semangat dan motivasi sedikit lebih unggul daripada kepandaian semata (tapi menurut saya sih, keinginan untuk tetap hidup dari seorang Musashi lebih berpengaruh daripada keinginan untuk menang dari seorang Sasaki Kojiro) *tiba-tiba terbayang pelm Negeri Lima Menara, saat Pak Gurunya bilang Manjadda wajada sambil menggolok kayu* *eh, apa hubungannya? ya gitu deh, pokoknya.... *
Gaya 2 pedang dan semangat samurai ini kemudian menjadi dasar gaya Niten'ichi Ryu, perguruan pedang Musashi di kemudian hari.


Mengenai bukunya sendiri, setelah berlambat-lambat di buku 1 dan 2, dari buku 3 mulai seru dan beralur cepat, bernas dan memukau. Hanya saja menjelang akhir-akhir, terasa beberapa hal dipadatkan dan terlalu melompat-lompat (seperti karakter Pendeta Gudo yang seperti tiba-tiba muncul dari antah berantah lalu hilang lagi begitu saja, Jotaro yang tiba-tiba sudah jadi Samurai, atau Osugi yang tiba-tiba saja dengan mudah sadar total). Duel finalnya juga setingnya seperti dipaksakan, tidak mengalir dan detail seperti di pertengahan kisah, saat Musashi berkali-kali melawan Perguruan Yoshioka atau pengikut-pengikutnya Tuan Yagyu Sekishusai. Tampaknya 1247 halaman ini memang kuraaaaaaang, encore... encore...... 

Untuk adegan yang paling memorable adalah saat Musashi ditantang oleh sejumlah orang (gak penting) di sebuah penginapan. Bukannya berangasan menanggapi tantangan dan ejekan mereka, ia malah dengan santainya meneruskan makan soba sambil sumpitnya menjentik-jentik sesuatu. Keheranan para penantang tersebut berubah menjadi ketakutan saat menyadari bahwa Musashi sedang menangkapi lalat satu per satu hanya dengan menjentikan sumpitnya. Musashi mencapai tingkat memenangkan pertempuran tanpa harus sungguh-sungguh berkelahi. Awesome! *waktu baca ini, teringat Mr. Miyagi-nya Karate Kid yang juga berusaha nangkep lalat pake sumpit, huihihihi....* *Karate Kid?? ketahuan umurnya tuh!*

Sedangkan endingnya sendiri, bisa dibilang khas Eiji Yoshikawa, sedikit menggantung, menghilangkan kisah-kisah tragis di latar belakang.



Rambling lain-lain lagi:
Waktu di serinya Michael Scott The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #3 itu Scatach ketemu Niten yang katanya Samurai terbaik sepanjang masa. Eh bodohnya saya, baru nyadar sekarang kalo itu mangsutnya ya si Musashi ini.... *waaah..., Musashi jadi Immortal*

Shrike on a Dead Branch,
by Miyamoto Musashi
Gorin No Sho
Buku Musashi ini dibagi menjadi 7 buku, 5 di antaranya mengacu pada tulisan karya Musashi sendiri yang diberi judul Gorin no Sho (五輪書) -- Buku/Tulisan tentang 5 kesatuan (The Book of Five Rings) yaitu, The Book of Earth (Tanah), The Book of Water (Air), The Book of Fire (Api), The Book of Wind (karakter kanji 風 dapat berarti "Angin" dan "Gaya") dan The Book of the Void (Langit atau Kehampaan). Sedangkan buku keenam dan ketujuh, oleh Yoshikawa Sensei diberi judul Matahari dan Bulan dan Cahaya Sempurna.

Dalam bukunya, Musashi menjabarkan tentang teknik pedangnya, serta semangat samurainya. Buku ini ternyata masih sering digunakan dan diterjemahkan bukan hanya untuk penggemar seni bela diri, tetapi juga untuk khalayak luas, misalnya untuk pelaku bisnis dalam mengelola konflik dan mempelajari filosofi disiplin dan motivasinya. *asli baru tahu*

Lukisan dan Patung
Di buku ini, diceritakan Musashi mengambil jalan-jalan lain selain jalan pedang untuk mendisplinkan diri, seperi mengukir patung dan melukis. Ternyata, hasil lukisan asli Musashi masih ada sampai sekarang, salah satunya ya yang di sebelah itu. Lukisan ini sangat mengingatkan pada deskripsi lukisan di buku, yang diberikannya pada Kobayashi, si pedagang yang sempat mengasuh Iori dan menampung Musashi sebelum duelnya dengan Kojiro.

Additional source and further reading:
http://en.wikipedia.org/wiki/Miyamoto_Musashi
http://en.wikipedia.org/wiki/Musashi_(novel)
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Book_of_Five_Rings
http://en.wikipedia.org/wiki/Cryptomeria




http://www.goodreads.com/review/show/498601983

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget