Tampilkan postingan dengan label Agustinus Wibowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agustinus Wibowo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Selimut Debu


Judul: Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 978-979-22-5285-9
Jumlah Halaman: 468 halaman
Penerbitan Perdana: 2010





Lihat sinopsis
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.

Minaret Jam (Provinsi Ghor, Afghanistan)

Gambar di atas adalah salah satu objek favoritku dalam kisah perjalanan ini. Sebuah Minaret Jam yang tiba-tiba muncul di tikungan jalan antara Chist-e-Syarif dan Chenghceran, di antara padang-padang gersang dan batu-batu cadas. Tak terduga. Kemegahan yang muncul dalam kekosongan, begitu kata sang penulis yang langsung kuamini. Sisa-sisa peradaban kuno, dari jaman Sultan Ghiyasuddin, sang raja Dinasti Ghorid, yang menaklukkan kekuasaan Ghaznavi dan pada saat bersamaan mendirikan masjid kuno di Herat yang masih gemerlap dan agung hingga hari ini. Mungkin demikian pula kesan yang kudapat berkali-kali selama membaca buku ini. Kemegahan tanah Afghan, yang sekarang tinggal puing-puing terdera perang satu demi satu. Terselimuti debu demikian tebalnya, hingga keindahannya pudar dalam ingatan.


Khaak. Debu. Tanah Kelahiran.

Kata Khaak memang bisa berarti debu, tapi dalan pengertian bahasa Phasto dan Dari -dua bahasa nasional Afghanistan- Khaak juga berarti tanah kelahiran, tumpah darah, segenap hidup dan mati (hal. 14). Dari pengertian ini saja aku sudah terperangah melihat betapa bedanya cara pandang kita dengan mereka. Di sini, di negeri tropis kita ini, kita terbiasa menggunakan istilah Tanah Air. Tanah dan air. Di sana mereka menggunakan istilah debu. Debu.

Membayangkan debu, terbayang pula tanah tandus, cadas dan batu, Tapi dari membaca kumpulan tulisan ini, baru kutahu bahwa tanah Afghan juga punya puncak-puncak gunung tinggi, lembah hijau membentang dan pandang stepa dengan sekian banyak ternak menghiasi. Sebuah kondisi yang sangat kontradiktif dan tak terbayangkan sebelumnya. Negeri Afghanistan sendiri ternyata juga penuh kontradiksi. Selama ini yang terbayangkan hanya sebuah negeri tanpa adab dan penuh kekacauan perang dan bom bunuh diri. Ternyata Afghanistan pernah punya sejarah panjang Raja-raja besar, ulama-ulama terkemuka dan pujangga-pujangga yang punya karya besar. Begitu pun saat membayangkan kota Kabul, tak pernah menyangka sedikitpun bahwa di sana ada mal mewah dan hotel berbintang.


Kontradiksi Afghanistan. Selimut debu dan lembah hijau.
Mal mewah dan rumah tradisional. Tentara dan piknik

“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Hahaha... ini satu lagi kontradiksi negeri ini. Saat sebagian besar orang "mengkasihani" nasib para wanita di sana yang terkungkung Burkha, ternyata mereka malah mengkasihani para perempuan Malaysia dalam foto yang ditunjukkan sedang bekerja di luar rumah. Burkha sebenarnya bukanlah kewajiban dalam Islam, menutup aurat ya. Burkha adalah tradisi Pashtun, dan tradisi seharusnya memang dihormati dan tidak sekedar dihakimi oleh orang di luar lingkaran tersebut. Memang kemudian karena mayoritas penduduk Afghanistan adalah suku Pashtun, (pada saat pendudukan Taliban khususnya) tradisi ini dipaksakan ke seluruh negeri. Dari kisah perjalanan ini tergambarkan bahwa hingga kini pun sebagian wanita justru merasa sangat aman di bawah lindungan Burkha.


Hal lain yang sering kali menjadi titik vokal kisah perjalanan ini adalah kedai teh/penginapan/tempat mencari tumpangan/tempat bergosip yang disebut Samovar. Sebuah universitas kehidupan dalam arti sebenar-benarnya. Berbagai cerita mengalir dari samovar-samovar sepanjang buku ini. Dari yang menonton sinetron India sampai ditinggal tumpangan yang sudah berjanji membawanya. Setelah makan dan cerita sana sini, saatnya menggelar matras di pojok ruangan dan membaringkan tubuh menanti esok hari. Memang tampaknya sederhana sekali sih, tapi menjadi musafir itu memang sungguh sederhana kok!


“ Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti Agama adalah kemanusiaan.”

Kalau ada satu hal yang paling kusayangkan dari negeri ini, itu adalah penghancuran patung Budha raksasa di kota Bamiyan. Peninggalan sejarah ini hilang tak berbekas dan hanya meninggalkan rongga kosong di sisi tebing cadas dan ladang ranjau yang membentang di sekelilingnya. Memang saat ini Afghanistan adalah negara muslim (yang ternyata terbelah-belah juga menjadi Syiah & Sunni), namun itu seharusnya tidak menghapuskan fakta bahwa peradaban Budha besar pernah menjamahnya atau bahwa Alexander Agung dari Macedonia pernah melintasi celah-celah gunungnya. Namun sejarah memang bukan pelajaran utama. Sayang sungguh sayang.


Lokasi bekas Patung Budha yang lebur diluluhlantakkan peluru Taliban (Bamiyan)


Selimut Debu, Sebuah kumpulan tulisan perjalanan seorang Agustinus Wibowo menjelajah Afghanistan yang membuka mataku akan berbagai hal yang kusangka sudah kutahu. Postingan ini hanyalah sedikit dari kisah itu. Masih banyak pengalaman-pengalaman "ajaib" lainnya yang kunikmati sepanjang halaman buku ini. Orang-orang dan kisah-kisah mereka yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang mengalir. Masih banyak pula tempat-tempat eksotis yang tergambarkan di dalamnya. Memang benar. Agustinus Wibowo bukan traveler, ia explorer!




Semua foto yang ada dalam postingan ini dikutip dari blog Agustinus Wibowo di agustinuswibowo.com.
Sebelum diterbitkan menjadi buku, kisah-kisah perjalanan ini telah dimuat sebagai serial berseri di harian Kompas dan dituliskan dalam blog pengarang tersebut.



Postingan ini dibuat untuk mengikuti event Baca Bareng BBI
Bulan: April 2015
Tema: BDDO



https://www.goodreads.com/review/show/1260945310

Sabtu, 07 Maret 2015

To Live - Hidup


Judul: To Live - Hidup
Judul Asli: 活著 (Huó Zhe)
Pengarang: 余华 (Yú Huá)
Penerjemah: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 978-602-03-1382-5
Jumlah Halaman: 224 halaman
Penerbitan Perdana: 1993



Sinopsis:
Dari seorang anak tuan tanah kaya yang menghabiskan waktu di meja judi dan ranjang pelacur, Fugui kehilangan harta dan orang-orang yang dicintainya. Dia berusaha bertahan hidup di tengah kekejaman perang saudara, absurditas Revolusi Kebudayaan, hingga bencana kelaparan yang melanda China akibat kekeliruan kebijakan Mao. Kisah tragis kehidupan seorang Fugui merangkum kengerian perjalanan sejarah negeri China di tengah ingar-bingar revolusi komunis.

To Live adalah karya kontroversial salah satu novelis terbaik China yang sempat dilarang beredar di China, telah meraih berbagai penghargaan sastra internasional, difilmkan, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Dengan kata-katanya yang sederhana namun bergemuruh dan menggugah, Yú Huá bercerita tentang sebuah China. Yang begitu nyata, tanpa basa-basi. .

Seberapa kuatkah seorang manusia menahan kesedihan yang datang satu per satu tanpa henti?

Dalam novel Hidup ini, tokoh Xu Fùguì membuktikan bahwa penderitaan memang harus ditanggung, bukan untuk disesali atau ditangisi berlebihan. Nasib buruk bisa saja menjadi takdir, namun di kemudian hari bisa saja ia menyimpan keuntungannya sendiri. Membuat kesalahan dalam menjalani hidup pasti terjadi, tapi hidup untuk memperbaikinya jauh lebih berharga.


Rabu, 30 April 2014

Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah


Judul: Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN:  978-979-22-6884-3
Jumlah Halaman: 528 halaman
Penerbitan Perdana: 2011





Bagaimana menyikapi sebuah garis batas?
Di desa Gulshan, desa kecil yang menjadi batas Negara Uzbekistan dan Kyrgyzstan, keluar rumah berarti pergi ke luar negeri. Ada pula rumah yang dapurnya di Uzbekistan dan ruang tidurnya di Kyrgysztan. Listrik pun berasal dari dua negara, saat pasokan dari Uzbekistan terputus, masih ada aliran dari Kyrgysztan. Unik. Ajaib. Cerdas. Damai. Aman.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget