Tampilkan postingan dengan label Ahmad Tohari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Tohari. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Membaca Kumcer dan Mini Reviews-ku

Beberapa belakangan ini aku lebih suka membaca buku-buku kumcer yang kumiliki dan tertimbun. Yah, karena sesuatu hal, saat ini memang lebih mudah mencerna beberapa cerita pendek satu per satu daripada sebuah novel panjang yang butuh konsentrasi lama untuk membaca dan menikmatinya tanpa terpengal-penggal. Daaaan, karena aku belum sempat-sempat menulis review untuk mereka semua, kupikir lebih baik menulis mini-review untuk beberapa kumcer ini dan alasan mengapa aku sangat enjoy membacanya.


1. Malam Terakhir - Leila S. Chundori


Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2012)
ISBN: 978-979-91-0521-9
Jumlah Halaman: 117 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kekhasan Leila Chudori yang kutemukan di kisah-kisah Nadira tergurat lagi di sini, lebih jelas, lebih bebas dan lebih dalam. Tema-tema tentang perempuan dan pilihan-pilihan yg harus dibuatnya menjadikan cerpen-cerpen di sini sangat padat makna.

Ini beberapa favoritku:
Dalam Air Suci Sita ia mengangkat kisah klasik Ramayana dan balik menggugat pertanyaan tentang kesetiaan wanita vs kesucian para pria.

Adila bercerita tentang anak dan kekangan yg berlebihan tanpa kasih sayang dan berujung tragedi pribadi. Berbalikan dengan itu, Ilona justru menampilkan kebebasan dan pilihan tanggung jawabnya sebagai beban... atau tidak. Keleluasaan ruang pribadi yang sulit dibagi untuk siapa pun.

Cerpen Keats membuatku jatuh cinta pada puisi On Death.
Can death be sleep, when life is but a dream, 
And scenes of bliss pass as a phantom by? 
Cerpen ini mempertanyakan arti kebahagiaan, dan antara pilihan yang mudah dan jalan cinta. Aku suuuka sekali cara cerita ini bertutur.

Beberapa cerpen lain (Malam Terakhir, Sepasang Mata Menatap Rain) jelas menggali tema-tema sosial politik dalam sudut pandang berbeda. Menarik, tapi otakku sedang merasa bebal sekali untuk mengunyah dan menikmatinya. ^^V


2. Si Janggut Mengencingi Herucakra - A. S. Laksana


Penerbit: Marjin Kiri (2015)
ISBN: 978-979-12-6049-7
Jumlah Halaman: 133 halaman
Penerbitan Perdana: 2015

Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.

Kalimat blurb di cover belakang kumcer ini tampaknya sudah sangat tepat menggambarkan isinya. Semua(!) cerpen yang termuat, 12 cerpen total, mengisahkan tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam episode paling menyedihkan dalam hidup mereka. Naas. Yup, sangat naas.

Mereka lalu berbagi cerita tanpa menginginkan apapun dari pembacanya, tanpa kejutan, tanpa twist (eh, kecuali Anjing Kecil di Teras Rumah, yang itu twist kecilnya bikin kaget sedikit ^.^), hanya berbagi cerita. Jika setelah mendengar (membaca) cerita ini lalu pembaca ingin merenung dan merefleksikannya kembali, maka itu adalah privilege yang diberikan kumcer ini.

Fav-ku adalah kisah pembukanya, Dijual: Rumah Dua Lantai dan Seluruh Kenangan di Dalamnya. Cerita ini sangat-sangat menyentuh dan real, tanpa ada kesan mendayu-dayu. Endingnya pun... yah bagaimana pun sang istri juga sebenarnya tidak setabah yang ditampilkannya, bukan?

Cerpen lain yang sangat menyentuh bagiku adalah Lelaki Merah di Kaca Jendela. Sedikit sentuhan surealism yang memberi nafas magis bagi cerita ini, membuatnya sulit terlupakan.

Meskipun begitu, keanggunan tema-tema yang diangkat di sini terkalahkan oleh keindahan pemilihan diksi yang digunakan pada kumcer ASL sebelumnya, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu. Tapi mungkin itulah poin pentingnya, kesederhanaan cerita dan kesederhanaan penyampaiannya.

NB: kepo berat dengan kelanjutan cerita Robi dan Ratri.


3. Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0386-4
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000

Selain Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi gak terlalu berasa EK.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^


4. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9736-2
Jumlah Halaman: 88 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kumcer ini sangat tipis, net hanya 66 hal saja, dan terbagi dalam 13 cerpen, jadi tiap cerpen hanya 4-7 halaman saja. Taaapii... isi tiap cerpennya kuat menyindir dan tajam menampar berbagai hal yang terjadi di dalam masyarakat. Meski ditulis di era 70-80an, persoalannya masih cukup relevan untuk jaman sekarang.

Aku suka sekali sisi pak AT yang tampil di kumcer ini, terasa muda, ironis dan sinis, seakan mencibir pada keangkuhan strata sosial yang ada dan kemapanannya. Sesuatu yang pada tulisan-tulisan beliau di tahun-tahun selanjutnya (sayangnya) sedikit terlembutkan dan terhaluskan.

Favoritku... eeng... susah memilihnya, aku suka hampir semuanya!!



Itulah mereka, empat kumcer dari empat penulis lokal yang sangat kusukai karya-karyanya. Ada yang menurutku lebih asyik membaca bentuk novel hasil karya mereka, tapi ada pula yang kumcer yang semua cerpen-cerpennya menakjubkan. Yang pasti, aku menikmati setiap saat membacanya.

Bagaimana, tertarik juga? :)



https://www.goodreads.com/review/show/1780437329
https://www.goodreads.com/review/show/1784194596
https://www.goodreads.com/review/show/1790139931
https://www.goodreads.com/review/show/1791810162

Rabu, 31 Agustus 2016

Dukuh Paruk Tersayang, Dukuh Parukku Malang


Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Seri: Ronggeng Dukuh Paruk 1 - 3
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 9789792201963
Jumlah Halaman: 397 halaman
Penerbitan Perdana: 1982




Lihat sinopsis
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai-nilai moral yang kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap Srintil, Sang Ronggeng ayu kenes dari Dukuh Paruk yang miskin dan terkebelakang, sebagai tak lebih dari 'sundal' - sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yang menitis dalam tradisi berpuluh generasi?

Kisah ini mengikuti jalan hidup Srinthil, mulai dari masa kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng dengan segala tantangan hidup yang menyertainya, disertai pergolakan politik tahun 1960an, hingga akhir saat nasib tak terlalu berbelas kasihan padanya. Disatukan dari 3 buku yang awalnya terbit berseri, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, dengan tambahan beberapa bagian yang dulu tidak dapat diterbitkan secara lengkap.


Dukuh Paruk adalah sebuah desa terpencil di Jawa Tengah bagian selatan, entah didasarkan pada sebuah tempat tertentu atau murni hanya imajinasi sang pengarang. Dukuh ini miskin, gersang dan terkebelakang, masih ditambah lagi kental kepercayaannya pada hal-hal mistik dan memiki norma-norma yang lebih bebas, dan yang kumaksud di situ adalah penggunaan bahasa yang lebih vulgar cenderung cabul, kontak fisik lebih bebas, serta yang paling penting, tempat kelahiran para ronggeng yang dipercaya menitis dari generasi ke generasi.


Sejak berumur 12 tahun, Srintil kecil sudah kenes dalam menari, karena itulah ia dipercaya telah dirasuki inang ronggeng yang akan membuat dukuhnya kembali terkenal dan dibicarakan orang. Ronggeng yang akan membawa kamulyan pada desanya. Maka diserahkanlah ia pada pasangan suami istri dukun ronggeng untuk dididik dan dijadikan ronggeng secara lengkap.

Dalam buku pertamanya, Catatan buat Emak, kisah dituturkan dari sudut pandang Rasus, teman Srintil sejak bocah, yang kemudian jatuh cinta mati-matian padanya. Setalah Srintil menjalani berbagai pelatihan dan transformasi pada wajah dan badannya hingga dapat tampil molek menggoda, akhirnya hanya dua hal yang harus dilakukan sebelum ia menjadi ronggeng. Yang pertama adalah penyucian di cungkup makam Ki Secamenggala (yang di novel ini dipaparkan secara amat indah mendetail... dan full of takhayul-ish) dan yang kedua adalah upacara bukak klambu. Sebuah acara pelelangan keperawanan yang dilakukan dengan penuh sorotan mata iri dari para gadis dan hasrat menggebu dari para laki-laki.

Ironis?
Mengerikan?
Menjatuhkan harkat wanita?

Nah, itu tergantung dari nilai moral apa yang kita pakai untuk menilai. Bagi dukuh paruk dan desa-desa sekitarnya, ini adalah kehormatan tinggi yang tak setiap wanita dapat menjalaninya.

Tentang siapa yang akhirnya "menikmati" bukak klambu yang sebenarnya, dan siapa yang "merasa" memenangkan pelelangan ini, ada twist kecil di novel yang bikin cerita tambah ruwet sampai akhir. Adapun Rasus yang merasa terkalahkan dari adat dan tradisi, kemudian malah memilih pergi saat kesempatan unik untuk menjadi tentara terbuka untuknya. Dan aku merasa, Rasus ini perlambang tokoh yang mempunyai kehendak untuk ikut maju dalam kehendak jaman, melepaskan diri dari belenggu lingkaran kebodohan desanya.


Di buku keduanya, Lintang Kemukus Dini Hari, sudut pandang penceritaan berubah ke Srintil yang patah hati. Di sini cukup lama ia galau mempertimbangkan pilihan hidupnya sebagai ronggeng dibandingkan sebagai wanita somahan. Namun dari semua hal yang terjadi, tampaknya ini adalah fase pendewasaan diri seorang ronggeng, dari hanya menjadi bocah yang disetir sang dukun, hingga menjadi tokoh dewasa yang punya pertimbangan dan keinginannya sendiri.

Dalam bagian buku yang ini menurutku baiknya dibaca dan dinikmati bukan hanya sebagai buku romance, tapi sebagai buku budaya. Mengupas keseharian seorang ronggeng, kerja dan seluk beluknya, serta isi hati terdalamnya. Di samping itu, pandangan kaum wanita yang berbeda-beda terhadap sosok sang ronggeng juga enak diikuti. Ternyata tidak semua wanita membenci Srintil, ada "fungsi-fungsi sosial" yang ternyata diembannya. Sekali lagi, kacamata moralitas tak sepenuhnya sejalan dengan nilai sejarah dan tradisi berpuluh generasi.

Kisah kemudian ditutup dengan latar belakang kondisi sosial politik tahun 1965an. Tari ronggeng Srintil dikait-kaitkan sebagai seni rakyat abangan dan terdera dampak yang bisa diduga. Sakit dan sengsara tampaknya memang mengikuti pertanda bintang jatuh yang muncul menjelang pagi itu.


Penutup kisah ini ada pada buku ketiganya, Jentera Bianglala. Srintil yang sedang menata kembali puing-puing kehidupannya, mulai bertanya-tanya, apakah ia masih pantas untuk hidup normal berumah tangga. Secara kependudukan, ada cap ET melekat pada dirinya. Secara manusiawi, julukan mantan ronggeng tetap menhantui. Sekali lagi permainan nasib bersiap-siap menghancurkan dirinya, hingga remuk hati terdalam.

Malangnya Srintil, Malangnya Rasus, Malangnya Dukuh Paruk tersayang.


Satu hal yang membuatku betah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir adalah Bapak AT yang selalu cakap sekali dalam mendeskripsikan keindahan alam pedesaan. Beliau kembali memamerkan kepiawaiannya di trilogi ini. Membacanya berkali-kali seakan kita dibawa mendengar cuitan burung dan merasakan semilir angin di rumpun-rumpun bambu. Sementara itu kisah hidup orang-orang kecil yang terpinggirkan, terlindas keadaan yang tak terpahami oleh keluguan mereka, digambarkan dengan sangat real. Sedemikian wajarnya hingga muncul simpati dan keinginan untuk memahami mereka, seberapapun sulitnya.


The Movie


Sebenarnya kisah ini telah diangkat menjadi film layar lebar berjudul Sang Penari. Tapi aku belum pernah nonton.... jadi belum bisa komen banyak tentang The Movie-nya itu. Yang pasti, setelah baca novel ini, aku jadi bener-bener pengin nonton jugaaaa.... ^.^









https://www.goodreads.com/review/show/1721173672

Kamis, 31 Maret 2016

Mata yang Enak Dipandang


Judul: Mata yang Enak Dipandang
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 978-602-03-0045-0
Jumlah Halaman: 216  halaman
Penerbitan Perdana: 2013





Lihat sinopsis
Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997.

Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.

Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.

15 cerpen, 15 latar, 15 kisah.
Diawali dari pengemis buta yang diperas bocah penuntunnya hingga kisah terakhir tentang rumah-tangga pasangan muda. Meskipun pada tema (hampir) semuanya masih menceritakan kehidupan kaum marjinal, tapi di beberapa cerpen terasa pak AT sedang bereksperimen dengan ide dan media penyampaiannya.

Yang menjadi judul buku ini adalah cerpen pertamanya, Mata yang Enak Dipandang. Di sini seorang pengemis buta membedakan sikap seseorang yang baik dan yang tidak baik dari matanya, orang yang suka memberi akan memiliki "mata yang enak dipandang", katanya. Entah bagaimana ia bisa tahu itu, namun begitulah yang ia percaya. Kalau memang begitu, maka mata si bocah licik yang disewa untuk menuntunnya, pastilah sangat-sangat tidak enak untuk dipandang.

Beberapa cerpen selanjutnya mengangkat pergulatan batin orang-orang pinggiran. Dalam Bila Jebris Ada di Rumah Kami, seorang istri merasa ragu untuk membantu tetangganya yang berprofesi sebagai PSK pinggir jalan, takut bila ia menerima si pelacur, rumahnya tak kan lagi didatangi malaikat pembawa berkah. Di kisah Warung Penajem, yang terjadi lain lagi. Seorang suami harus menerima nasib, bahwa istrinya meminta pesugihan untuk warung mereka, yang harus dibayar dengan badannya sendiri. Saat warung itu semakin maju dan laris, masih nikmatkah nasi yang dimakan bersama? Dalam cerpen Sayur Bleketupuk, seorang ibu memilih "menidurkan" anak-anaknya dengan daun bleketupuk agar mereka tak terlalu kecewa karena sang Ayah tak jua pulang dari kerjanya di proyek jembatan, untuk membawa mereka naik jaran undar. Yang paling sedih adalah cerita Harta Gantungan, di mana seorang tua meninggalkan kebo (kerbau) peliharaannya untuk dana mengurus jasadnya jika ia meninggal kelak, meskipun ia tengah sakit dan butuh uang untuk berobat. Pada akhirnya, seorang cucu keturunannya justru beruntung dapat mengadakan pesta pernikahan dengan hasil penjualan kerbau itu....

Kisah Daruan adalah kisah pengarang gagal yang nyempil di antara kisah-kisah lainnya. Sulitnya menjadi seorang pengarang novel untuk menghidupi keluarganya jadi temanya, dan ketika akhirnya dia mendapati bahwa novel karangannya hanya jadi buku cerita picisan yang dijajakan di stasiun, aku tak tahu pasti apa yang jadi motivasinya membeli semua bukunya itu....

Kekuatan sang pengarang, Bapak Ahmad Tohari ini jelas ada pada cara beliau mendeskripsikan daerah pedesaan dan orang-orangnya. Dalam kumcer ini ada beberapa kisah yang juga menonjolkan kelebihan ini. Yang paling indah mengharukan tentu saja adalah Paman Doblo Merobek Layang-layang. Kemajuan daerah pedesaan memang tak jarang mengambil bayaran yang tak sedikit, dari lingkungan yang tak lagi asri hingga yang terburuk, sifat-sifat seseorang pun dapat berubah menjadi lebih kasar dan keras. Lalu pada kisah Rusmi Ingin Pulang, kisah pergunjingan masyarakat pedesaan ditekankan saat seorang Rusmi -yang digosipkan jadi perempuan penghibur di kota- ingin balik ke desanya. Cerita yang tajam dan manis, sayang endingnya terlalu manis malah jadi tidak berkesan. Lain lagi dalam cerpen Kang Sarpin Minta Dikebiri. Kang Sarpin, si gemblung yang rada mata keranjang ini, meninggal kecelakaan saat sepeda yang membawa kekuintal beras di boncengannya, oleng dan tersambar truk dalam perjalanan ke pasar. Yang bikin cerita adalah, Kang Sarpin ternyata sudah tobat main perempuan dan malam sebelumnya minta dicarikan dokter untuk mengebirinya. Eaalaaaah, dasar gemblung! Satu lagi kisah dari pinggiran desa adalah Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan. Dalam kisah ini, sudut pandang penceritaan ada pada Karsim, yang sudah meninggal tertabrak saat akan menyeberang jalan. Arwah Karsim melayang-layang menyaksikan kematiannya, raganya dimandikan dan dikafani, istrinya yang tersedu-sedu, dan orang-orang yang melayatnya. Saat keranda jenazah membawa raganya menuju tanah kuburan, sontak para sopir yang biasanya melaju memenuhi jalan, memelankan deru kendaraan mereka, memberi kesempatan kepada rombongan. Akhirnya, Karsim dapat menyeberang jalan. Ironis. 

Tema berlatar religius juga sering diangkat dalam kisah-kisah yang ditulis Pak AT. Di sini ada beberapa cerpen yang bernafaskan religi namun digarap dengan unik. Yang pertama adalah Penipu yang Keempat. Cerpen ini mengisahkan tentang seseorang yang mengutuk para penipu yang berdalih meminta sumbangan untuk amal ini dan itu. Setelah menelanjangi tipuan-tipuan ketiga penipu/peminta sumbangan yang datang padanya, ia kemudian juga memaparkan dirinya sebagai penipu yang keempat, yang paling pandai dan beruntung dari semuanya, karena ia merasa telah menipu Tuhan, karena beramal dengan niat yang tidak tulus. Ha!! Di cerpen Pemandangan Perut yang jadi favoritku, terasa karya AT yang lain. Di sini tentu saja masih ada karakter-karakter tokoh-tokoh 'wong cilik'-nya, namun pengisahannya terasa sedikit sentuhan kisah fantasi, magic-realism, surealisme, namun dengan latar mirip nada kisah Hidayah. Aku suka kisah ini. Meskipun pendek namun menohok dengan sindirannya. Salam Penyangga Langit adalah cerpen lain yang juga sedikit berkesan religius-magic realism. Seseorang yang tertidur kelelahan dalam sebuah majelis pengajian, (bermimpi?) bertemu malaikat penyangga langit dan berdialog dengannya. Unik dan tak sering menemukan kisah dengan topik seperti ini dari sang pengarang

Tapi dari semuanya, kisah Dawir, Turah, dan Totol-lah yang paling tampak cara eksperimentalnya. Kisah tentang sebuah keluarga yang tinggal di emper terminal yang akan digusur ini, ditulis tanpa tanda kutip penanda kalimat langsung, dalam kalimat-kalimat pendek, dan menggunakan parafrase yang tak biasa. Kisah si Dawir, Turah dan Totol yang sudah membikin iba, terasa semakin membuat miris dengan penulisannya yang seperti ini. TOP. Dua jempol buat cerpen ini.

Kumcer ini ditutup dengan cerpen paling panjang di buku, yang berjudul Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Kisahnya tentang rumah tangga sepasang pengantin muda yang dilanda dua badai berat, permintaan orang tua si istri untuk pindah ke rumah baru yang dibangun oleh sang mertua, dan badai orang ketiga yang hadir di antara keduanya. Bagus sih sebenarnya, tapi kurang berkesan bagiku. Tema seperti ini lebih kusukai yang mendayu-dayu dan (biasanya) ditulis oleh seorang pengarang perempuan pula, jadi lebih pas mendapatkan emosinya. 


Kumcer ini kubaca sekalian untuk Posbar #BBILagiBaca. Seharusnya saat sedang membaca, aku juga harus men-twit progres baca dan hal-hal lain yang berkesan tentang buku ini. Tapi karena satu dan lain hal (sibuk) (malas) akhirnya hanya sempat mentwit pada hari pertama saja.



Jangan lupa, baca juga review buku Pak Ahmad Tohari lain yang dibaca dengan Kak Lila dan Mbak Vina, karena kita janjian membaca karya Pak AT untuk event BBI kali ini. Ini dia link-nya:

1. Alvina : Lingkar Air Lingkar Tanah
2, Lila: Orang-orang Proyek

Untuk review-ku pada beberapa novel Ahmad Tohari yang lain, bisa di baca di sini (Lingkar Tanah, Orang ProyekBekisar Merah, Bukit Cibalak).







https://www.goodreads.com/review/show/1579462100

Kamis, 03 September 2015

Scene on Three (#3)



Lingkar Tanah Lingkar Air
Ahmad Tohari
Pagi hari musim kemarau di tengah belantara hutan jati adalah kelenggangan yang tetap terasa purba. Senyap yang selalu membuat aku merasa terpencil dan asing. Padahal ibarat ikan, hutan jati dan semak belukar yang mengitarinya sudah bertahun-tahun menjadi lubuk tempat aku dan teman-temanku hidup dan bertahan. Sepi yang terasa menyimpan ketidakpastian membuat aku dan teman-temanku harus selalu waspada.

Sekelilingku tetap remang karena sinar matahari hampir tak mampu menembus kelebatan hutan. Hanya pada bagian-bagian tertentu tampak serpih cahaya jatuh lurus dan membuat pendar pada daun-daun kering yang berserakan di tanah. Selebihnya adalah teduh dan bahkan remang.

Kelenggangan hanya sedikit terganggu oleh suara langkahku sendiri, yang sering tak terhindarkan jatuh di atas daun dan ranting kering; atau, oleh angin pagi musim kemarau yang menyapu kelebatan hutan dan menimbulkan desah jutaan daun yang saling bergesek. Suaranya adalah desau seluruh bagian hutan, yang kadang terasa menyeramkan. Beberapa daun tua luruh, terlunta di antara cabang-cabang yang rapat, kemudian melayang jatuh ke tanah. Sepi juga sedikit terusik oleh cicit burung-burung kecil dari arah rumpun belukar dan gelagah di lereng jurang.

SoT kali ini kuambil dari novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari (review-ku di sini). Kisahnya tentang seorang pemuda desa yang tak sengaja terlibat dalam gerakan pemberontakan DI/TII di sekitar awal tahun 1960-an.

Paragraf-paragraf itu kuambil dari halaman pertama novel, paragraf pembuka yang sangat kuat mendeskripsikan hutan tempat mereka bergerilya bertahun-tahun. Kepiawaian Bapak Ahmad Tohari dalam menggambarkan alam memang sudah tidak diragukan lagi. Beberapa novel beliau yang lain seperti Di Kaki Bukit Cibalak dan Bekisar Merah juga sangat aku sukai bagian penggambaran desa dan alamnya.


Apa scene-mu hari ini?
  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).


Rabu, 02 September 2015

Lingkar Tanah Lingkar Air



Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia  Pustaka Utama (2015)
ISBN: 9786020318608
Jumlah Halaman: 168 halaman
Penerbitan Perdana: 1992




Lihat sinopsis
Pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan RI antara tahun 1946—1950 menyeret banyak pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Di antara mereka adalah Amid dan kawan-kawan yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.

Tetapi sejarah membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sesungguhnya seorang yang sangat cinta Tanah Air sering bimbang karena pasukannya sering memerangi warga seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Dia tidak sedih ketika Khalifah DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tertangkap dan menyerukan seluruh laskarnya menyerahkan diri.

Tiga tahun kemudian Amid dan kawan-kawan malahan diminta oleh tentara untuk membantu menumpas pasukan komunis yang bertahan di hutan jati. Mereka kembali mengangkat senjata, kali ini atas nama Tentara RI, sesuatu yang pernah amat didambakan Amid; bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat sekitar tahun 1949-1962 adalah sebuah fakta sejarah yang sangat sedikit disinggung dalam dunia pendidikan kita. Buatku, selain bahwa gerakan tersebut dipimpin oleh Kartosoewirjo, tidak ada lagi yang aku ketahui tentang hal ini. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air karangan Bapak Ahmad Tohari ini adalah yang pertama kutemukan menggores tentangnya.

Maret 1946. Di sebuah kampung di kaki Gunung Slamet, sekelompok pemuda dikumpulkan oleh kiai desa. Mereka diminta untuk ikut berjuang membela tanah air, membantu tentara Republik untuk menahan agresi Belanda yang kembali setelah kekalahan Jepang. Awalnya mereka hanya diberi tugas-tugas pendukung, namun lama-kelamaan beberapa orang diantaranya benar-benar memikul senjata dan bertempur di garis depan. Sampai akhirnya di penghujung 1949 saat Belanda mengakui kedaulatan negara dan akhirnya hengkang dari tanah ini. Saat itu kelompok-kelompok pemuda yang menyebut diri mereka Hizbullah ini ditawari (dan sebagian besar bersedia) untuk benar-benar menjadi tentara nasional, karena ini berarti pekerjaan dan gaji tetap, status dan kehormatan. Namun karena kekacauan yang terjadi, campur tangan gerakan musuh dalam selimut, mereka malah dikhianati, sebagian tewas terbunuh sedangkan yang lain dicap pemberontak, Dalam kekecewaan inilah, Kartosoewirjo menawarkan sesuatu yang tak sulit ditolak, berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia, sebuah bentuk negara tanpa paham komunisme di dalamnya.

Bertahun-tahun berjuang mengangkat senjata, bergerilya dan bertahan dalam hutan, namun kekuatan DI malah semakin melemah. Selain tentara, mereka juga masih menghadapi Gerakan Siluman, sebuah gerakan yang memfitnah dan menjelek-jelekan mereka di mata penduduk setempat. Ditambah lagi semangat juang mereka yang semakin dipertanyakan, karena sebagian "musuh" yang mereka bunuh ternyata adalah juga orang Islam, orang seiman dan bersaksi pada Allah dan Nabi yang sama. Hingga akhirnya terdengarlah kabar bahwa Sang Khafilah DI telah menyerah dan adanya pengampunan nasional bagi seluruh laskarnya.



Dikisahkan dari sudut pandang Amid, seorang pemuda kampung belasan tahun yang terseret ke dalam kekisruhan politik dan militer saat republik ini baru saja lahir, cerita ini bukan merupakan pledoi atas gerakan militer yang terjadi. Ini hanya sebuah kisah pendek tentang orang-orang yang sesungguh-sungguhnya cinta tanah air, namun dipaksa meniti jalan yang sulit. Sebuah tawaran literatur untuk melihat potongan sejarah yang tersembunyi dari sudut pandang lain. Bukan sudut pandang orang-orang besar pelaku dan penentu jalan, namun dari seseorang kecil yang benar-benar mengalami duri dan pahitnya kelaparan dan kerinduan keluarga, meskipun niat mereka sangat sederhana dan mulia. Menjaga tanah air mereka.


Novel fiksi-historis ini pertama kali terbit secara lokal dari sebuah penerbit kecil di Purwokerto, kota kelahiran sang pengarang, tahun 1992, dan baru pada tahun 1995, penerbit LKiS menerbitkannya secara nasional (meskipun aku suka cover versi GPU yang berkesan modern, cover versi LKiS ini juga cantik dilihat. Sayang sekarang sudah susah mencarinya). Setelah tersandung novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang dipaksa dimutilasi oleh pemerintah Orde Baru, kelahiran novel ini bisa dibayangkan sulitnya.

Terlepas dari temanya yang menyinggung sejarah gelap negeri ini, gaya penulisan seorang Ahmad Tohari sangat kental tersurat. Pendeskripsian suasana desa dan kehidupan penduduknya terasa nyata dan sangat membumi, sedangkan pergulatan batin para tokohnya dituturkan dengan sederhana tapi tetap mengena.


Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1378880279

Jumat, 03 Juli 2015

Bekisar Merah


Judul: Bekisar Merah
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 9789792266320
Jumlah Halaman: 358 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Penghargaan Sastra Badan Bahasa (1995)




Lihat sinopsis
Edisi cetak ulang yang terdiri atas Bekisar Merah dan Belantik.

****

Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa yang berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas—kulit putih, mata eksotis—membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. Karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini, yang memang sudahh menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serba mudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Berhasilkah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

Ini postingan untuk posbar bulan Juni yang telat. Apa daya, maksud hati posting bareng akhir bulan lalu, siapa sangka tanggal 30 datang dan berlalu, baru sadar telat pas sudah lewat 2 hari. Yah, daripada tidak, telat dikit gpplah, barusan ngecek, linky posbar masih buka kok... XD
Ohiya, sekalian buat postingan event 100 hari membaca sastra Indonesia yang diadakan blog lustandcoffe. Yang pengin tahu event ini, sila cek di sini.

Judul novel Bekisar Merah ini mengambil perumpamaan tokoh Lasiyah, jika ayam bekisar berarti silangan ayam hutan dan ayam kampung, maka Lasi ini adalah gadis keturunan seorang wanita Indonesia yang diperistri serdadu Jepang. Garis wajahnya yang eksotis ditambah kulit putih bersih membuat kecantikannya mencolok diantara gadis-gadis Kampung Karangsoga lainnya. Sayangnya, hal itu pula yang membuatnya "berat jodoh", hingga akhirnya dipinang Darsa, seorang penyadap nira (nira ini cairan sari kelapa yang kemudian dimasak menjadi gula jawa).

"Darsa menurunkan pikulan dari pundaknya, mengambil dua pongkor, Sisa air hujan masih meluncur sepanjang batang kelapa yang hendak dipanjatnya. Sambil naik ke tatar pertama, Darsa mengikatkan ujung tali kedua pongkor pada kait logam yang terdapat pada sabuk bagian punggung. Tetes air berjatuhan ketika pohon kelapa bergoyang oleh gerakan tubuhnya. Darsa terus memanjat dengan semangat yang hanya ada pada seorang penyadap."

Malang tak dapat ditolak, baru setahun menikah, Darsa terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap. Meski selamat, namun hingga ang berbulan-bulan berikutnya kelaki-lakian Darsa belum sembuh sempurna. Dicarilah seorang dukun pijat yang manjur tapi ternyata punya agenda tersembunyi... demikianlah, suatu saat malah Darsa yang dicari-cari untuk menikahi anak perempuan si dukun pijat.

Lasi yang meradang, memilih melarikan diri dari kampung. Mengikuti truk pengantar gula jawa ke Jakarta, tempat di mana kecantikannya dihargai laksana emas berlian dan bukannya dicerca seperti di kampung. Di sini Lasi mencicipi berbagai bentuk kenikmatan hingga akhirnya benar-benar menjadi klanggenan layaknya ayam bekisar seorang pengusaha tua kaya raya.

Jika dalan novel Bekisar Merah lebih banyak menyoroti perubahan sikap Lasi dan pergolakan hatinya dalam mengahadapi berbagai perubahan itu, dalam Belantik, sang pengarang lebih banyak menyoroti kebejatan para pengusaha kelas kakap negeri ini. Masih dilihat dari mata Lasi yang lugu, yang kini 'dipinjamkan' suaminya kepada seorang 'Belantik' - perantara, makelar, pialang, atau kata lain yang lebih kerennya, pelobi. Seorang yang tak kasat mata publik namun mengatur transaksi jual beli aset negara, dari mulai HPH, minyak bumi, tambang, hingga jabatan Direktur dan Menteri. Dan saat Lasi mulai mengambil sikap menolak itu semua, saat itu pula sangkar ayam yang melingkupinya mulai terututup dan terkunci. Mengurungnya rapat-rapat di dalam.


* * *  


Seperti saat membaca novel Ahmad Tohari lainnya,  Di Kaki Bukit Cibalak atau Orang-orang Proyek, misalnya, kentalnya kritik sosial dan politik sangat terasa juga dalam novel ini. Selain perkara belantik yang kusebut di atas, ada pula masalah perubahan jaman yang mendatangi desa Karangsoga. Misalnya sebuah kemajuan teknologi yang sangat mendasar seperti masuknya jaringan listrik ke desa tersebut... bagus? tentu saja, tapi harga yang harus dibayar sangat tinggi. Sekian puluh pohon kelapa harus ditebang untuk membuka jalan bagi tiang-tiang listrik tersebut, dan bagi sebuah desa dengan hasil utama gula jawa, itu sama saja dengan mematikan setengah nyawa penghidupan warga desa.

"Sekejap Lasi merasa kembali berada pada masa lalunya sendiri. Lasi merasakan sepenuhnya kepedihan hati istri seorang penyadap yang remuk ketika tungku tak lagi berapi karena tak ada lagi pohon kelapa yang disadap."

"Kanjat bahkan bisa merasakan sebuah ironi lagi yang tak kalah pekat: Darsa yang telah memberikan sumber kehidupannya demi kawat listrik, mustahil kelak dapat menjadi pelanggan."

Selain itu, penggambarannya tentang Desa Karangsoga beserta semua liku budayanya sangat enak dinikmati. Sangat detail dan indah sampai bisa terbayang sendiri bentuk desa dan kehidupannya. Meski tidak disebutkan secara jelas, aku mengira-ngira letak Karangsoga ini di sekitar wilayah Banyumasan, seputar Purwokerto atau Cilacap, karena -selain bahasa ngapak yang muncul sekali dua kali- setahuku di sana memang penghasil gula jawa terenak yang pernah kucicipi. Ibuku malah masih sering meminta kiriman gula jawa dan gula aren dari sana. Tapi baru dari novel ini, kusadari betapa beresikonya pekerjaan para penderes ini.... Semoga saat ini sudah ada lebih banyak perlengkapan keamaanan bagi mereka.

Para istri penderes ternyata juga punya pengorbanan mereka sendiri. Selain resiko kehilangan suami jika jatuh saat menaiki pohon kelapa, tugas mereka saat memasak nira menjadi gula juga bukan main-main. Di novel ini digambarkan mereka masih menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu, padahal saat memasak tidak boleh sekalipun api mati karena kehabisan kayu, jadi jika perlu, kayu kaki tempat tidur pun dikorbankan demi gula yang sedang dimasak. Tidur di lantai tak apa-apa, demi gula yang dijual seharga 6 rupiah sekilo, masih dikurangi kecurangan timbangan tengkulak, yang nantinya bahkan tidak cukup untuk membeli sekilo beras.

Untuk muatan politiknya, meskipun novel ini ditulis sekian tahun yang lalu, ternyata kebobrokan negeri kita ini gak banyak berubah ya... -_-


Oh iya, jika saja ada satu hal yang mengurangi kenikmatan novel ini, mungkin bagi pembaca yang bukan dari jawa atau tidak menggunakan bahasa jawa, akan kesulitan mengerti banyak hal yang dikisahkan di sini menggunakan istilah-istilah bahasa jawa. Meskipun untuk tembang dan sloka yang ditulis dengan Jawa Kromo ada alih bahasa Indonesianya, namun untuk percakapan sehari-hari, istilah boso jowo bertaburan di seluruh buku. Jadi ya... semoga mudheng artine yo...

Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP dan dwilogi Bekisar Merah, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.




100 Hari Membaca Sastra Indonesia


Postingan ini dibuat untuk mengikuti event Baca Bareng BBI
Bulan: Juni 2015
Tema: Budaya dan Setting Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1312991712

Senin, 18 Agustus 2014

Di Kaki Bukit Cibalak


Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0513-4
Jumlah Halaman: 192 halaman
Penerbitan Perdana: 1986
Literary awards: Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta - Hadiah Perangsang Kreasi (1978)

Sinopsis
Perubahan yang mendasar mulai merambah Desa Tanggir pada tahun 1970-an.

Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap Kepala Desa Tanggir yang curang, dan berhasil. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.


Bulan Agustus ini aku niatnya pengin baca beberapa buku jadul 'klasik' Indonesia yang sudah cukup lama nongkrong ngumpulin debu di rak bukuku. Tapi karena masih susah ngumpulin mood bacanya *halaaaah* maka kucarilah novel yang paling tipis yang ada. Hasilnya ya buku ini, yang baru saja cetul beberapa bulan lalu dan hanya 170-an halaman. Lumayanlah, untuk pembangkit selera bacaan selanjutnya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget