Tampilkan postingan dengan label Brian Selznick. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brian Selznick. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

Wonderstruck

Judul: Wonderstruck
Judul Asli: Wonderstruck
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Bentang Pustaka (2013)
ISBN: 978-979-43-3685-4
Jumlah Halaman: 648 halaman
Penerbitan Perdana: 2011
Literary Awards: Schneider Family Book Award for Middle School Book (2012), Buckeye Children's Book Award for 3-5 (2012)


Wonderstruck.

 won·der·struck
 ˈwəndərˌstrək/
 adjective
  1.  1.
    (of a person) experiencing a sudden feeling of awed delight or wonder.      


Judul yang sangat sesuai untuk novel ini, karena memang itulah perasaan yang aku dapati saat membacanya. Tiba-tiba terserang rasa senang yang bukan kepalang, hingga tak terasa 600-an halaman buku ini diselesaikan dalam beberapa jam saja. Bukan karena tiba-tiba aku punya talenta superhero ala Flash atau kemampuan baca super cepatnya Dr. Reid, tapi memang novel ini separuhnya berbentuk tulisan (yang font-nya cukup lebar sehingga mudah dinikmati mata lelahku -- kayaknya ukuran kacamata sudah perlu di tes ulang ini #malahcurhat), dan separuhnya lagi diberikan dalam bentuk ilustrasi ala wordless novel.

Rabu, 16 Januari 2013

The Invention of Hugo Cabret

Judul: The Invention of Hugo Cabret
Judul Asli: The Invention of Hugo Cabret
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Bentang Pustaka (2012)
ISBN:  9780439813785
Jumlah Halaman: 534 halaman
Penerbitan Perdana: 207
Literary Awards: Caldecott Medal (2008), Book Sense Book of the Year Award for Children's Literature (2008), Flicker Tale Children's Book Award (2009), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Kinderbuch (2009), NAIBA Book of the Year for Children's Literature (2007), etc.


Novel yang sangat-sangat unik, karena di sini ilustrasi grafis bukan hanya menjadi pendukung pelengkap narasi, melainkan sama-sama menjadi pemeran utama yang mengisahkan lakon Hugo (dan juga Georges Méliès) dengan apik. Separuh dari cerita disampaikan dalam bentuk silent graphic novel (yaitu ilustrasi hitam putih pensil), sambung menyambung dengan separuh bagian lagi yang dituliskan dalam bentuk narasi-narasi pendek setengah halaman. Jika dibaca sambil membayangkan musik instrumental tahun bahuela, sungguh mengingatkan pada silent movies era Charlie Chaplin.

Kisahnya sendiri bercerita tentang Hugo Cabret, seorang bocah yang tinggal di stasiun kereta api dan sehari-hari bertugas memastikan semua jam di stasiun berjalan sempurna. Di sela-sela tugasnya, ia terobsesi untuk memperbaiki sebuah automaton, sebuah mesin mekanis berbentuk boneka manusia yang bisa menulis. Karena benda inilah ia akhirnya bertemu dengan Isabelle dan ayah angkatnya, Georges Méliès.


Marie-Georges-Jean Méliès
source: wikipedia
Sebagai catatan, walau kisah novel ini adalah rekaan semata, Georges Méliès, adalah tokoh nyata dan sering dipandang sebagai Bapak Film Fantasi dan SciFi. Beliau salah satu pelopor penggunaan special effects dalam pengambilan gambar film. Salah satu film karyanya yang disebut dalam novel ini adalah Le Voyage dans La Lune (Trip to the Moon)

Lebih lanjut dapat dibaca tentang Georges Méliès dari wikipedia dan tentang masterpiece-nya Trip to the Moon (1902)

Le Voyage dans La Lune dapat di download dari Silent Movies Archive (apprx 14m)




Satu hal yang sedikit mengganggu dalam menikmati buku ini adalah format buku yang berukuran standard 14 x 21 cm, sedangkan kebanyakan ilustrasinya berukuran 2 kali lipat, sehingga ilustrasi-ilustrasi tersebut terpotong dalam proses penjilidan punggung buku. Padahal kualitas kertas dan cetakannya lumayan bagus. Hitamnya kelam dan shading dan arsiran abu-abunya cukup jelas. Sayang sekali!



*Updated 15Feb12*

Habis nonton film Hugo karya Martin Scorsese yang diadaptasi dari buku ini.




Sebagian jalan ceritanya berubah, terutama dengan tidak adanya tokoh Ettiene yang menjadi penghubung antara Hugo dan Isabel dengan masa lalu Georges Melies. Peran ini diberikan kepada Monsieur Labisse, si pemilik toko buku bekas.

Alur pengkisahannya, saya lebih suka yang dituturkan di buku, namun sebagai gantinya, Scorsese lebih memberi porsi pada tokoh-tokoh lain dalam cerita (selain Hugo dan Georges Melies). Isabel, Jeanne Melies, M. Labisse, Inspektur Stasiun, Nona Penjual Bunga yang cantik, Pemilik Cafe dan 'Pengunjung Setia'-nya, semua menjadi lebih hidup dan berkarakter. Scorsese juga memberikan cinematography yang sangat-sangat halus dan indah. Uniknya lagi, dalam semua wide scene-nya, selalu tampak menara Eiffel, meski kadang mungil di ujung layar. 

Unsur lain, persembahan film ini untuk tokoh Georges Melies jauh lebih terasa. Banyak potongan adegan yang diadaptasi dari film-film lama Melies (dan silent movies lainnya). Jika dalam buku lebih bercerita tentang petualangan seorang Hugo Cabret untuk memperoleh masa depannya, maka dalam film lebih berfokus pada perjuangan Georges Melies untuk mendapatkan masa lalunya kembali.


Baik Brian Selznick maupun Martin Scorsese layak dapat acungan jempol!!! Seep.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget