Tampilkan postingan dengan label HisFic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HisFic. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Oktober 2017

Sang Raja Kretek


Judul: Sang Raja
Pengarang: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2017)
ISBN: 9786024243319
Jumlah Halaman: 392 halaman
Penerbitan Perdana: 2017





Lihat sinopsis
Di zaman ketika warga bumiputra masih dianggap sebagai warga negara kelas tiga, Wirosoeseno, Jawa tulen, dan Filipus Rechterhand, Belanda totok, pergi berkelana dan mendamparkan diri ke kota Kudus. Nasib mempertemukan mereka di sebuah pabrik rokok kretek besar yang mempekerjakan ribuan buruh.

Di sana mereka menempa diri dan jatuh bangun bersama di tengah intrik politik, gebalau zaman, serta gelegar perang kemerdekaan. Mereka juga menjadi saksi kejayaan seorang priyayi rendah, yang dikenal dan dihormati sebagai ‘De Koning’, Sang Raja Rokok Kretek, Nitisemito.

Berbekal kerja keras, semangat pantang menyerah, dan kecerdasan pemasaran yang melampaui zaman, Nitisemito berhasil mengubah hidupnya dari seorang mantan kusir dokar menjadi orang terkemuka di zamannya. Pengalaman hidupnya yang layak jadi ilham dan panutan bagi berlapis generasi sesudahnya.


Bagaimana melihat tumbuh, makmur dan jatuhnya sebuah perusahaan rokok kretek terbesar di awal 1900-an, yang melintasi 3 jaman pemerintahan? Novel ini menggambarkan ilustrasi tsb dengan sangat apik, dan unik karena mengambil sudut pandang 2 orang sahabat beda ras yang bekerja di lingkar dalam NV dan menyaksikan (hampir) semuanya.

Adalah seorang Nitisemito, pemilik dan pelopor pembuatan masal rokok bercampur cengkeh yg saat dibakar akan berbunyi kretek-kretek. Di masa kejayaannya, pabrik rokok di kota Kudus ini memiliki buruh linting 10.000 orang. Dan jangan bayangkan jumlah itu di masa kini, ini masa tahun 1930-an, masa di mana restoran dan taman kota menyamakan pribumi dengan anjing, dan Nitisemito ini asli pribumi. Mantan kusir dokar. Priyayi desa tanpa modal kecuali semangat dan kegigihan. Dan dia inilah yang menjelma sebagai De Kretekkonning. Sang Raja Kretek.

Di zaman inilah Gunawan Wirosoeseno, Jawa asli dari lereng Merapi dan Filipus Rechterhand, Belanda totok yang dibesarkan di Batavia, bertemu dan bekerja di pabrik yang sama. Dari mata kedua orang inilah, pergulatan nasib sebuah perusahaan, direka kembali dalam cerita. Diwarnai gejolak dunia dari PD I, resesi ekonomi dunia, hingga akhirnya pecah PD II, kedatangan Jepang, kemerdekaan, hingga agresi militer 1 dan 2 yang akhirnya berhujung pengakuan kedaulatan. Bukan saja keriuhan dari luar yg menandai jatuh bangunnya perusahaan ini, dari dalam sendiri ada perebutan kuasa petinggi-petingginya, faktor internal keluarga Nitisemito, istri-istri, putri-putri, menantu, anak dan cucu yang serta-merta mempengaruhi kelangsungan hidup sepuluh ribu karyawannya.

Aku suka sekali membaca latar sejarah novel ini. Jelas bukan riset separuh hati dan penulisannya renyah, enak sekali untuk dinikmati. Sayang sekali jangkauan sejarah hanya dapat sedemikian saja. Dramatisasi novel ini memilih untuk tetap berdiri di garis luar keluarga Nitisemito. Mengapa dan bagaimana ia memilih pewaris, melewati Mas Soemadji dan langsung pada Akoean Markoum tetap menjadi tanya bagiku. Demikian juga, nanti saat roda berputar dan Akoean tersisihkan oleh Soemadji. Masih banyak sekali yang belum terjelaskan, terutama mengenai insiden penggelapan cukai rokok yg menodai catatan karir dan hidup Karmain tersebut. Hubungan Nitisemito dan Bung Karno, atau pergerakan kebangsaan yg lain, hanya tersiratkan, tak pernah tersurat. Kepribadian sang raja tidak utuh, sosoknya terlihat dari luar, namun membiarkan rahasia-rahasianya tetap tersimpan. Novel ini tampaknya tidak mau menjadi segala tahu, atau sok tahu menawarkan satu sisi cerita yang belum tentu sepenuhnya benar.

Sebagai tambahan, nasib Hans Rechterhand, putra tunggal Filipus, menggedor dengan ketragisannya. Meski dituturkan sangat minim, pesannya tersampaikan dengan penuh.

5* untuk cerita ini. Iksaka Banu berhasil kembali memukauku setelah Semua Untuk Hindia beberapa tahun lalu. Saatnya berburu kumcer Ratu Sekop yang masih belum mau muncul di tokbuk sekitarku. Mungkin benar-benar hrs pesan online inih.... :')




https://www.goodreads.com/review/show/2147776634

Jumat, 20 Mei 2016

Taiko


Judul: Taiko
Judul Asli: 新書太閣記 (Shinsho Taiko ki) -
Taiko: An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 978-979-22-0492-6
Jumlah Halaman: 1142 halaman (Hardcover Ed.)
Penerbitan Perdana: 1967



Lihat sinopsis
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.

Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal; leyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia Lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apa pun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan-pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya, menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.


Masa Sengoku  (戦国時代 - Sengoku Jidai) adalah masa-masa sekitar tahun 1400an sampai 1600an di Jepang di mana kehidupan sosial masyarakatnya terombang-ambing dengan banyaknya intrik-intrik politik dan keadaan yang hampir selalu perang antar para penguasa. Selama masa ini, meskipun ada Kaisar yang memerintah dan semua Daimyo (Penguasa Daerah) bersumpah setia padanya, namun kenyataannya, ia tidak memiliki kekuasaan apapun. Para Daimyo memerintah daerahnya masing-masing secara mutlak dan saling rebut, saling caplok, saling bunuh, demi tanah dan kewibawaan terjadi tanpa dapat dihalangi.

Di masa inilah seorang Hiyoshi dilahirkan, di Propinsi Owari yang dikuasai Klan Oda. Ayahnya adalah seorang samurai desa yang meninggal sewaktu ia masih kecil. Meskipun samurai yang menyandang nama keluarga Kinoshita, Hiyoshi kecil tetap tidak berhak menyandang nama itu. Tidak sampai ia berhasil mengharumkan namanya sendiri, hingga berkali-kali dianugerahi nama oleh junjungannya, dan di akhir hidupnya dikenal sebagai Toyotomi Hideyoshi, Sang Taiko.


Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab "Bunuh saja!"
Hideyoshi menjawab "Buat burung itu ingin berkicau"
Ieyasu menjawab "Tunggu"

Semuanya diawali oleh cita-cita penyatuan oleh Oda Nobunaga, dibesarkan dan ditenangkan oleh Sang Taiko Toyotomi Hideyoshi dan dilanjutkan dan dimapankan oleh Tokugawa Ieyashu. Tiga orang penentu nasib negeri, dan dari ketiganya, Sang Taiko-lah yang paling dikenal akan kecerdikannya.

Kisah epic ini mengikuti tindak-tanduk Hideyoshi, mulai masa kecilnya yang tak beruntung, hingga pengabdiannya pada sang junjungan, Oda Nobunaga hingga ia menjadi Taiko. Meskipun masa kekuasaannya tak terlampau panjang, namun di bawah panji Labu Emas miliknya, Jepang sekali lagi memasuki Era Keemasan.


Muromachi Samurai - Source Here


Si Monyet Hiyoshi - Si Penjual Jarum yang cerdik
Dilahirkan dalam masa-masa sulit dan ditinggalkan sang ayah semenjak kecil membuat Hiyoshi yang berwajah mirip monyet ini berkali-kali mengalami kesulitan. Namun pendirian teguh dan kecerdikannya pula membawa ia berkali-kali selamat dan bahkan mampu mengenal dan mengambil hati banyak orang, yang kelak di kemudian hari berguna untuk memenuhi tugas-tugas yang bakal diembannya. Berbagai pekerjaan sempat dilakoninya, sempat pula bekerja sebagai penjual jarum miskin, malah direkrut sebagai pelayan dan mata-mata. Muak dengan kebodohan, lagak dan moral penuh kepura-puraan yang dirasanya sangat tak terhormat, ia kembali ke tanah asalnya di Owari dan mencari junjungan baru yang dirasanya paling cocok.


Kinoshita Tokichiro - Samurai Pembawa Sandal Penguasa Pandir
Di masa ini pula seorang Daimyo muda sedang berkuasa di Owari, propinsi di wilayah tengah yang tak berarti. Oda Nobunaga, yang memiliki cita-cita besar namun terpaksa berlagak pandir di depan musuh-musuhnya. Padanya lah Hiyoshi menjatuhkan kesetiaannya. mulai dari pelayan hingga menjadi seorang samurai pembawa sandal yang berjalan di belakang kuda beban. Namun mata Nobunaga tak buta untuk melihat kelihaian si pelayan kecil ini. Dari persoalan penghematan kayu bakar sampai penipuan pemotongan kayu di hutan, Nobunaga mulai melemparkan tanggung jawab-tanggung jawab domestik rumah tangganya kepada si pelayang yang diberinya nama Kinoshita Tokichiro. Semuanya bisa teratasi dengan sangat baik, sampai-sampai Nobunaga memberinya sepasukan infanteri untuk dipimpinnya saat ia memutuskan bertempur pertama kalinya.


Kinoshita Hideyoshi - Penguasa Benteng Sunomata
Hideyoshi sedang mendaki
Gn Inaba. Source here.
Berkali-kali berhasil dalam misinya, Nobunaga kemudian menugaskan ia membangun benteng di perbatasan Mino - Owari. Hideyoshi kemudian juga berulang kali membuat jasa dalam peperangan melawan Klan Saito yang menguasai Mino, dan yang paling penting adalah bagaimana ia bisa dibilang seorang diri menjatuhkan Klan Saito dalam strategi perang Gunung Inaba. Prestasi ini sangat menyenangkan hati Nobunaga yang sudah lama ingin membalaskan dendam istrinya dan menyatukan wilayah Owari dan Mino.

Di Gunung Inaba ini pula benteng pertama dan pusat pemerintahan Nobunaga yang pertama dibangun dan diberi nama Benteng Gifu.

Dari benteng ini pula, Nobunaga (yang secara "kebetulan" mendapatkan mandat dari Shogun Yoshiaki) memulai kampanye penaklukan propinsi-propinsi lain di wilayah tengah, hingga akhirnya mampu menaklukkan Kyoto.


Hashiba Hideyoshi - Sang Penakluk Benteng Odani
Jika sebelumnya Hideyoshi adalah seorang jendral perang, maka setelah jasanya menaklukkan Benteng Odani, ia dianugrahi wilayah Omi, sehingga ia menjadi penguasa Propinsi. Sebuah prestasi yang menanjak sangat cepat dalam waktu singkat.

Hubungan Hideyoshi dengan Nobunaga sendiri mengalami pasang surut, Ada kala ia sempat mutung dan mengurung diri di bentengnya, bahkan ada kala Nobunaga mendapat usulan agar  memerintahkan Hideyoshi melakukan seppuku. Namun kesetiaan Hideyoshi dan kepercayaan Nobunaga bergeming. Keduanya, tampaknya sangat mengenal watak satu sama lain dengan sangat baik sehingga tak jarang mengundang kecemburuan berbagai pihak. Namun dengan penyatuan kehendak keduanya, serta dukungan Tokugawa Ieyashu dari timur, cita-cita Nobunaga berjalan lancar.

Nobunaga yang telah memindahkan pusat kekuasaannya ke Benteng Azuchi dekat Kyoto lalu memusatkan perhatian untuk penaklukkan wilayah barat. Hideyoshi pun kemudian mendapatkan mandat untuk menyerang dan menaklukkan wilayah-wilayah Barat yang dikuasai Klan Mori,


Kejatuhan Oda Nobunaga 
Hidup manusia
Hanya limapuluh tahun di bawah langit
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia
Hidup hanya sekali
Adakah yang tidak akan hancur
Nasib manusia memang tak dapat diramalkan jatuh bangunnya. Kekuasaan Nobunaga yang kian menguat, tak ada satu pun musuh yang dapat menjatuhkannya. Tak satu pun. Musuh.

Ironisnya, Oda Nobunaga tewas karena bawahannya sendiri yang termakan kemarahan terpendam dan kesombongan sesaat. Tragedi Kuil Honno. Satu pagi yang membelokkan nasib negeri.


Toyotomi Hideyoshi - Sang Taiko
Hideyoshi yang sedang sibuk berperang di wilayah perbatasan Mori, mendapatkan kabar kematian Nobunaga dua hari setelah peristiwa berdarah itu. Satu hari kemudian ia merampungkan perdamaian dengan Klan Mori. Dalam tiga hari ia sudah mengumpulkan pasukannya sendiri dan menyatukan pasukan-pasukan Nobunaga yang terpecah belah. Sebelas hari setelah kematian Nobunaga, kepala sang pemberontak telah ditancapkan di tombak, mengikuti kemenangan dalam Pertempuran Yamazaki.

Hideyoshi kemudian mendukung Samboshi yang masih bocah, putra Nobutada (yang harusnya menjadi pewaris Nobunaga, namun ikut tewas di Kuil Honno), untuk menjadi pewaris sah Klan Oda. Meskipun ditentang Nobuo dan Nobutaka, kedua putra Nobunaga yang lain, namun keputusan ini dinilai sahih, walau tentu saja sangat menguntungkan Hideyoshi sebagai wali bocah ini.

Ganjalan lain datang dari Shibata Katsuie sebagai pendukung Nobunaga paling senior, serta Tokugawa Ieyashu, sekutu Oda di wilayah timur. Namun dengan kematangan strateginya, Hideyoshi mampu menyingkirkan Katsuie dalam perang yang menentukan, dan mendorong Ieyashu ke belakang layar dengan memanfaatkan kenaifan Nobuo.

Hideyoshi lalu dianugrahi gelar Kampaku (Wakil Kekaisaran), yang mengukuhkan otoritas mutlaknya dan memakai nama Toyotomi. Saat putra angkatnya, Hidegutsu kemudian melanjutkan gelar ini, Hideyoshi pun dikenal sebagai TAIKO.


* * *

Membaca kisah dalam buku bantal ganjel pintu ini, sungguh melelahkan sekaligus memuaskan. Perjalanan hidup Hideyoshi semenjak bocah hingga memegang kekuasaan tunggal terasa panjang dan berliku (dan tebaaaaal..... setebal 1142 halaman). ^^

Walau sama-sama dramatisasi biografi dari seorang tokoh dalam sejarah, berbeda dengan Musashi (baca reviewku di sini) yang lebih menekankan pada pengendalian diri dan bagaimana seseorang belajar tentang kehormatan seorang Samurai, novel Taiko ini lebih merupakan suka duka orang-orang yang bercita-cita besar dan mengubah nasib Jepang. Mirip kisah Uesugi Kenshin (reviewku di sini) namun dalam skala yang jauh lebih besar. Selain Oda Nobunaga dan tentunya Hideyoshi, berbagai tokoh sejarah ikut mewarnai novel ini dengan cita-cita, kelebihan dan kekurangan mereka. Nasib baik dan nasib buruk yang menyertai mereka. Serta interaksi, kecerdikan dan kesalahan langkah yang membawa masing-masing dari mereka sebagai pion-pion jalannya kehidupan di masa penuh huru-hara itu.

Yoshikawa-sensei benar-benar mampu menyuguhkan sajian menegangkan sekaligus indah, menggambarkan sejarah dalam kisah yang sangat enak diikuti. Selain alur sejarah, aku juga sangat menikmati suguhan cara berpikir para samurai ini, tentang kehormatan yang harus dijunjung dan kesetiaan yang diberikan untuk pengabdian tanpa batasan.
Seorang samurai tidak bekerja sekedar untuk mengisi perut. Dia bukan budak makanan. Dia hidup untuk memenuhi panggilannya, untuk kewajiban dan pengabdian. Makanan hanyalah tambahan, sebuah berkah dari surga. Jangan menjadi laki-laki yang, karena terlalu sibuk mencari makan, menghabiskan hidupnya dalam kebimbangan. (Hal.58)


Kisah hidup Taiko memang layak diikuti. Namun selain itu, aku juga mendapatkan bonus berbagai kisah samurai dan pejuang, dan kisah kehormatan mereka.

Puasssss sekali setelah menyelesaian novel epic ini. Tidak sia-sia perjuangan selama 4 bulan membacanya. Apalagi terjemahannya cukup bagus dan tanpa typo sama sekali. Ada sih beberapa kesalahan, satu di daftar isi yang kurang mencantumkan satu bab di Buku Sepuluh, satu lagi dalam referensi waktu yang terbalik keterangannya antara tengah malam dan tengah hari. Tapi selain itu, seluruh isi buku 1142 halaman ini bebas typo. Seeep dah. Ilustrasi covernya aku suka, sama seperti cover asli edisi Kodansha. Lebih suka cover ini daripada cover edisi cetak ulangnya.


Setelah ini, masih ada Heike Story yang mengantri untuk dibaca.
#tetapsemangat ^^


On Wikipedia:
Sengoku Period
Toyotomi Hideyoshi
Eiji Yoshikawa


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden), dan Uesugi Kenshin. Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.




https://www.goodreads.com/review/show/1576890505

Jumat, 25 Maret 2016

The Heretic's Daughter


Judul: The Heretic's Daughter
Judul Asli: The Heretic's Daughter
Pengarang: Kathleen Kent
Penerbit: M-pop (kelompok Penerbit Matahati) (2011)
ISBN: 9786029625554
Jumlah Halaman: 282 halaman
Penerbitan Perdana: 2008
Literary Awards: David J. Langum Sr. Prize for American Historical Fiction (2008)



Lihat sinopsis
"Aku berharap
kisahku ini membuatmu
memahamiku dan memaafkanku
untuk sesuatu yang telah
aku lakukan"

...Saat itu kaum Puritan percaya, nasib buruk
disebabkan oleh aliran sesat di sekeliling mereka.

Hanya kegigihan, kejujuran, dan kasih sayang yang membuka hati Martha dan Sarah Carrier, yang menyatukan mereka berdua bersama-sama menghadapi penjara, penyiksaan, dan bahkan kematian.

Sesungguhnya, ada satu kebohongan yang dapat menyelamatkan nasib Sarah, namun menghabisi nyawa ibunda Sarah sendiri, Martha, seorang tertuduh kota Andover New England sebagai penganut aliran sesat...

Jarum itu sangat kecil, mudah patah, dan hanya bisa menarik sehelai benang tipis. Tapi karena tajam, jarum bisa merobek pakaian yang paling kasar. Tusukkan jarum ke kanvas berkali-kali dengan benang yang kuat, dan terciptalah layar yang akan menggerakkan kapal melewati samudra. Begitu juga lidah yang tajam. Dengan jalinan benang gosip yang tipis, terjalinlah kisah yang tahan melawan angin kencang. Tiupkan kisah itu ke tiang-tiang ketakhayulan dan seisi kota akan diselimuti angin ketakutan.

Salem Witchcraft Trial (Sidang Para Penyihir Salem) adalah satu masa di sekitar tahun 1692-1693 di Salem, Massachusetts (saat itu masih merupakan koloni Inggris), di mana ratusan orang -kebanyakan di antaranya adalah wanita dan anak-anak- dituduh sebagai penyihir, disidangkan dengan saksi-saksi tak kompeten dan bukti-bukti tak berdasar, diadili berdasarkan hukum yang tak jelas dan hakim pretensius, disiksa agar mengaku, dan selama masa itu 20 orang menjalani hukuman gantung. Martha Carrier adalah salah satu wanita yang mengalami nasib buruk ini, dan novel The Heretic's Daughter ini menceritakan kisah putri sulungnya, Sarah Carrier Chapman, yang waktu itu berusia sekitar 12 tahun.

Kisah bercerita seputar rumah tangga keluarga Carriers, yang meskipun sulit, namun bisa dikatakan bahagia, Martha Allen Carrier memiliki sifat yang keras, ia sangat tidak menyukai sifat hipokrit kaum puritan di sekelilingnya. Itu sebabnya daripada bersuamikan orang-orang seperti ini, ia lebih memilih Thomas Carrier, seorang veteran perang pendatang yang berasal dari Welsh, yang pendiam namun teguh hati. Pilihan ini mengundang cibiran dari para tetangga dalam komunitas mereka, bahkan Thomas sempat disebut-sebut sebagai nasib buruk yang membawa wabah cacar.

Kehidupan mereka sempat tenang kembali, saat keluarga ini kembali dan menggarap tanah milik Ibu Martha di Andover. Namun sekali lagi sikap tangguh dan keberanian Thomas dan kemampuan Martha mengurus tanah dan keluarganya mengundang rasa cemburu para tetangga. Pelan-pelan gosip-gosip tentang penyihir mulai berhembus, dan saat masa-masa peradilan dilangsungkan, Martha dengan cepat diciduk ke penjara. Hakim-hakim yang tidak puas melihat keteguhan hati Martha dalam mempertahankan ketidakbersalahannya, menggunakan cara licik agar ia mengaku. Awalnya menggunakan adik Martha, Mary dan suaminya, Roger Toothaker untuk bersaksi memberatkannya. Ketika itu tidak begitu meyakinkan, dua anak laki-laki Martha, Richard dan Andrew Carrier yang berusia belasan tahun juga dipenjara dan disiksa hingga hampir tewas. Belum puas juga, giliran Tom dan Sarah Carrier yang masih kanak-kanak juga dimasukkan ke penjara.

"Aku mau memindahkan bumi untuk menyelamatkan ibumu. Kau dengar, Sarah? Aku mau merobohkan tembok penjara dan membawanya ke tempat yang aman. Tapi dia tidak mau. Dia mau mengorbankan diri di hadapan hakim karena dia yakin kebenaran akan tampak di antara kebohongan dan tipu muslihat."

Martha Carrier akhirnya menjalani hukuman gantung, tapi sampai akhir ia bersikukuh akan kehormatannya. Keempat putra-putrinya yang kesemuanya masih di bawah umur akhirnya dibebaskan setelah kasus-kasus ini mendapatkan perhatian dari Gubernur daerah Koloni.


Sebuah kisah yang sebenarnya sangat mencekam, sayangnya, novel ini sedikit terlalu dataaaar untuk hisfic. Aku tidak terlalu dapat lonjakan emosi-emosinya selama membaca, malah beberapa kali terasa seperti baca buku teks sejarah... tanggal sekian ini terjadi, tanggal segini begini, tanggal segitu si itu digantung, dst. Padahal menurutku, setting salem witchcraft trials ini salah satu episode sejarah paling kelam dan gak logis, jadi seharusnya bisa digarap dengan amat emosional, mengerikan secara mental, ironis melihat deretan saksi dan bukti, bikin nyesek setengah mati atau yg seperti itulah. Tapi itu semua tak ada yang kurasakan. Selain beberapa kali ungkapan cinta Thomas Carrier pada sang istri dan anak-anaknya, tak ada apa-apa lagi

Selain itu, karakterisasi tokoh-tokohnya kurang tergali dan setipis kertas, terutama Martha dan suaminya, Thomas. Tidak cukup banyak latar maupun lapisan karakter pada keduanya. Si narator kisah, Sarah, juga seperti kurang membuka pergulatan batinnya, perasaannya pada sang ibu, atau bahkan pada kengerian persidangan penyihir itu sendiri. Dramatisasi sejarahnya juga kurang menohok. Tokoh-tokoh sejarah lain yang terlibat langsung, seperti Elizabeth Proctor atau Cotton Mather dan Increase Mather cuma hanya disebut nama saja, tidak ada penjelasan konflik atau persinggungan karakter sama sekali. Padahal, misalnya saja, dari fakta sejarah, keteguhan Martha Carrier menghadapi kemurkaan Cotton Mather ini salah satu yang paling disinggung saat membicarakan Salem Trials. Tapi tidak ada satu kalimat pun dalam novel ini yang menunjukkannya. Sayang sekaliii.... padahal aku suka diksi dan gaya penceritaannya.

masih lebih dapat feelnya di secuplik episode manga QED waktu Sou Toma di Boston drpd di novel ini


Untuk edisi terjemahan Bahasa Indonesianya ini ditranslasikan cukup rapi oleh almarhum penerbit Matahati. Namun begitu, aku tidak terlalu suka illustrasi sampul dan cetakan judul di sampulnya. Ilustrasinya mengambil warna-warna yang terlalu kalem untuk tema sejarah yang gelap ini. Malah berasa seperti mau baca kisah-kisah Keluarga Ingalls Little House in the Praire saja. Lebih suka cover aslinya.

Nah, untuk cetakan judulnya, kenapa juga harus dituliskan The HEReretic's Daughter. Aku gagal paham ini maksudnya apa.... Edisi aslinya pun tidak menuliskan seperti ini. Ada yang bisa menjelaskan??


Tentang Pengarang:


Kathleen Kent benar-benar adalah keturunan kesepuluh Martha Carrier dalam cerita The Heretic Daughter ini. Selain novel ini, ia juga menulis novel The Traitor's Wife, yang sama-sama memotret kaum Puritan New England, tetapi dari sudut pandang cinta keluarga menghadapi kengerian dan dakwaan. Keduanya masuk daftar New York Times bestsellers. The Heretic's Daughter menerima 2008 David J. Langum, Sr. award untuk American historical fiction.

Novel terbarunya The Outcasts, mendapatkan American Library Assoc. 2014 Top Pick for historical fiction. Bersetting tahun 1870 di Texas, novel ini bercerita tentang perburuan harta karun, petualangan, perburuan manusia dan keteguhan hati seorang wanita yang bertekad menjalani hidup baru di kawasan old west.

http://visitwithkathleenkent.wordpress.com/




https://www.goodreads.com/review/show/1589235255

Kamis, 14 Januari 2016

Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama


Judul: Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Judul Asli: 上杉 謙信 - Uesugi Kenshin
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Kansha Books (2012)
ISBN: 9786029719680
Jumlah Halaman: 388 halaman
Penerbitan Perdana: 1975



Lihat sinopsis
Atas permintaan Shogun, Uesugi Kenshin mengepung klan Hojo yang mulai menyerang negeri-negeri kecil. Saat itulah Takeda Shingen menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin. Kejadian tersebut membuat perseteruan antara kedua daimyo terbesar itu kian memuncak.

Uesugi Kenshin yang kalah dalam jumlah pasukan dan enggan berperang akhirnya memutuskan untuk menyerang Takeda Shingen. Inilah pemicu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai, Perang Kawanakajima.

———————————

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Ribeka Ota, kita seolah berada dalam peperangan bersama pasukan Uesugi Kenshin, sambil menghayati kebijaksanaan serta aturannya yang meliputi seluruh sendi kehidupan para samurai.

Setelah sebelumnya mengulas novel Furin Kazan yang mengangkat tokoh Takeda Shingen dari mata seorang Yamamoto Kansuke, sekarang aku juga ingin mengulas tentang Uesugi Kenshin yang hidup pada masa yang sama dan berdiri berseberangan dengan Shingen. Di sini, tokoh ini diangkat oleh Eiji Yoshikawa dalam novel sejarah yang memperlihatkan sepenggal kisahnya, terutama dalam mengatur strategi militer dalam Perang Besar Kawanakajima.


Berkuasa sebagai Daimyo Echigo pada periode Sengoku, Uesugi Kenshin adalah satu dari sedikit Daimyo yang masih mau mengakui kekuasaan Shogun (Kaisar).  Karena itu, novel ini dibuka dengan kisah bagaimana ia tidak ragu-ragu meninggalkan negerinya untuk menaklukkan Klan Hojo atas perintah Shogun. Akibatnya, Takeda Shingen mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Benteng Warigadake  di wilayah perbatasan Echigo-Kai yang merupakan benteng pertahanan penting bagi kedua belah pihak, meskipun masih terikat perjanjian damai.

Kepulangan Kenshin yang disambut berita buruk ini membuatnya bertekad untuk mengakhiri perseteruannya dengan Shingen dengan satu atau lain cara. Awalnya dia hanya berdiam diri, tak melakukan pembalasan apapun. Lalu setelah beberapa bulan, Kenshin mulai dengan mengirim seorang utusan -Shimotsuke yang sangat pandai berbicara - ke Kai untuk menuntut tanggung jawab Shingen. Saat Shingen terlena dan tak menduga sama sekali ini, Kenshin segera mengumpulkan pasukannya sebanyak mungkin dan menduduki wilayah di kaki Gunung Saijo di perbatasan Kai. Langkah nekad dengan taktik "tanpa taktik" yang setara untuk menandingi kelihaian strategi Shingen yang amat terkenal itu.

Dari sini suasana perang dan adu cerdik strategi mulai dibangun dengan sangat apik. Berbagai cara dilakukan Shingen dan Kenshin, dari saling mengirim utusan untuk berunding (tentu saja utusan-utusan yang dikirim, dan pihak penerima utusan adalah orang-orang terpilih yang saling kenal dan punya sambung budi yang mencengangkan), hingga saling gertak dengan cara-cara yang sangat halus dan mengharukan. Sebuah perang psikologis yang dilancarkan dengan sangat lihai. Kenekadan Kenshin sempat membuat Shingen salah tingkah dan memindah-mindahkan lokasi pasukannya beberapa kali. Semuanya ditanggapi Kenshin dengan kalem dan seolah tak peduli. Sikap yang bahkan bagi beberapa jendralnya sangat membingungkan, seperti saat mereka sibuk memikirkan pasokan perbekalan pasukan yang makin menipis malah ditanggapi Kenshin dengan kesibukan mencari sekuntum bunga krisan #EH

Tapi bukan berarti Kenshin lengah. Ia justru sedang mencari titik lemah Shingen. Saat akhirnya Perang Kawanakajima yang epik itu meletus, all hell broke loose, dan terbukti Shingen tertinggal satu langkah di belakang Kenshin. 13 ribu prajurit Echigo mampu menyerang 20 ribuan pasukan Kai di wilayah mereka sendiri, dan bahkan Kenshin mampu merangsek maju dan nyaris menebas kepala Shingen di tenda utamanya, sebelum akhirnya mereka harus mundur teratur kembali ke Echigo.

Berbeda dengan kisah perang modern yang selalu berlandaskan asas all fair in love and war, aku menyukai kisah-kisah pertempuran ala Jepang kuno yang lebih mengutamakan kehormatan diri. Kenshin dan Shingen membuktikan hal ini dalam kisah-kisah perseteruan abadi mereka. Baik dalam Pertempuran Kawanakajima ini, maupun di waktu lainnya. Contoh lain yang paling diingat dari sosok Kenshin tentu saja saat ia menegaskan bahwa perang adalah urusan Samurai dan bukan tanggung jawab rakyat dan petani, bahwa perang harus dimenangkan dengan tombak dan pedang, bukan lewat beras dan garam (wars are to be won with swords and spears, not with rice and salt), saat menanggapi embargo ekonomi yang dilakukan Klan Imagawa di Suruga dan Klan Hojo di Sagami.

Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen adalah rival abadi. Tapi permusuhan mereka bukan karena masalah pribadi, melainkan karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab sebagai penguasa wilayah, dan karenanya mereka malah sama-sama saling sangat menghormati satu sama lain.


Untuk bukunya sendiri, seperti biasa aku sangat suka cara penuturan Yoshikawa-sensei yang mengalun tenang, membuat deskripsi dan karakterisasi Kenshin sangat enak dinikmati. Meskipun ia digambarkan sebagai Dewa Perang yang nekad, tapi sisi-sisi kemanusiaan Kenshin juga mampu ditampilkan dengan layak dan bagus sekali. Sayang sekali sosok Kenshin di novel ini dimunculkan sesaat sebelum Kawanakajima, bukan jauh ke belakang (saat ia masih bernama Nagao Kagetora, seorang biksu cilik dan kemudian menjadi samurai muda, sebelum akhirnya menjadi pewaris Klan Uesugi.)

Edisi bahasa Indonesianya ini ditranslasikan langsung dari Bahasa Jepang dengan sangat apik. Nuansa orisinalnya sangat terasa.


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden). Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.







https://www.goodreads.com/review/show/1486716532

Rabu, 13 Januari 2016

Furin Kazan (Strategi 'Penaklukan Benteng' Yamamoto Kansuke)


Judul: Furin Kazan (Strategi 'Penaklukan Benteng' Yamamoto Kansuke)
Judul Asli: 風林火山 - Furin  Kazan
Pengarang: 井上 靖 - Yasushi Inoue
Penerjemah:  Dina Faoziah, Fatmawati Djafri
Penerbit: Kansha Books (2010)
ISBN: 9786029719604
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: 1953



Lihat sinopsis
Yamamoto Kansuke hidup pada zaman Sengoku Jidai; di mana perang saudara dan perebutan wilayah melingkupi wilayah Jepang. Kansuke dipandang sebelah mata karena kakinya yang pincang dan matanya yang buta sebelah. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan jenderal Itagaki, yang memberinya kesempatan untuk mengabdi kepada daimyo Takeda dari Provinsi Kai.

Takeda Shingen yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, mengangkat Yamamoto Kansuke sebagai ahli strateginya. Bakat Kansuke dalam diplomasi dan pemahamannya akan strategi perang, membuat klan Takeda sukses besar. Namun agenda terbesar mereka adalah mengalahkan pasukan Echigo yang dipimpin oleh Uesugi Kenshin Kagetora. Pertempuran tersebut dikenal dengan peperangan Kawanakajima, dan sejarah mencatatnya sebagai salah satu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai. Mampukah strategi Yamamoto Kansuke mengalahkan pasukan Echigo?

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, Furin Kazan akan membuat para pembacanya lebih merasakan nuansa Jepang kala itu.


Mungkin ini masalah ekspektasi dan aku yang tidak membaca tag bukunya dengan benar. Di bagian atas judul memang telah ada penjelasan bahwa buku ini berkisah tentang "Strategi Penaklukan Benteng Yamamoto Kansuke" jadi (meskipun judul bukunya Furin Kazan yang jadi banner Takeda Shingen) tentu saja novel historis ini berkisah tentang Yamamoto Kansuke dan strategi-strategi perang yang dilakukannya selama membantu Sang Tuan, yaitu Shingen... sedangkan aku awalnya mengira ini lebih pada pelaksanaan strategi Furin Kazan itu sendiri yang bikin Shingen disuyudi sedemikian, bahkan bisa dikatakan ditakuti baik oleh Uesugi Kenshin maupun Oda Nobunaga, kelak di penghujung usianya.

Jadi, tentang bukunya sendiri, ini lebih ke semacam historic-war-biography dari seorang Ahli Strategi Yamamoto Kansuke sejak ia masuk mengabdi kepada Klan Takeda yang dipimpin Shingen, sampai saat kematiannya. Selain membahas masalah strategi perang, juga banyak menunjukkan intrik di kediaman Takeda, dari masalah istri dan putra-putra resminya hingga selir-selir dan putra-putri lainnnya. Kansuke entah mengapa lebih suka mengabdikan dirinya pada seorang selir dari wilayah Suwa, Putri Yuu, dan putranya Katsuyori. ***seingatku, nanti memang Takeda Katsuyori ini yang menjadi penerus Shingen dan berperang dengan Nobunaga (ok, sudah cek ke om wiki, benar begitu adanya! Terbukti saia sudah terlalu banyak baca manga dan nonton pelm Jepun inih... :p )*** Nah, tapi karena dukungannya ini, banyak pula masalah yang dihadapi Kansuke selama mengabdi.

Satu hal yang menjadi ciri Kansuke, adalah dia berpikir 3-4 langkah ke depan. Misalnya saat pemberian nama kecil Katsuyori, semua orang mengusulkan nama Saburo, yang berarti putra ketiga. Namun Kansuke mengusulkan nama lain yang sama sekali netral, Shiro. Setelah dimintai penjelasannya, ternyata dia memikirkan bahwa kelak di kemudian hari, dari hasil berbagai peperangan dan perjanjian, pasti akan ada anak adopsi dari klan lain yang diberikan kepada klan Takeda, yang mungkin lebih tua dari Shiro, jadi mestinya dia tidak pas lagi bernama putra ketiga. Oh, begitu.... Demikian pula dengan masalah pembangunan Benteng atau saat membuat perdamaian atau saat menyerang yang tak terduga. Kansuke (dan Shingen) bisa berpikir cerdik, mengantisipasi semua kemungkinan.

Sayangnya, nasib Kansuke naas saat satu pertempuran besar melawan Uesugi Kenshin, Daimyo dan Jendral besar Echigo, lawan sebanding Shingen sepanjang hidupnya. Dan buku ini juga berakhir mendadak, tanpa epilog tanpa penjelasan lanjutan sama sekali, saat Kansuke tewas di medan perang tersebut.


Untuk gaya penulisannya, aku ternyata lebih suka narasi-narasi indah Yoshikawa Eiji-sensei daripada gaya lugas Inoue Yasushi-sensei di sini. Memang mungkin gaya ini lebih cocok untuk novel biografi semacam ini, tapi aku jadi kurang menangkap gambaran pribadi Kansuke seutuhnya. ***Setelah review ini, aku bermaksud menuliskan sebuah review novel hisfic juga, karya Yoshikawa-sensei, dalam periode sejarah yang sama, tetapi dari sudut pandang Uesugi Kenshin - lawan terberat Shingen. Kurasa dua buku ini memang harus dibaca bersamaan, supaya punya gambaran pribadi Shingen dan Kenshin secara lebih pas. Tungguin yaa....***

Oh iya, dan edisi terjemahannya ini ada beberapa typo, belum sampai taraf mengganggu sih, tapi cukup untuk tertangkap saat membaca.



Tentang FURIN KAZAN (INRAI)


Fūrinkazan (風林火山), secara literal berarti Angin, Hutan, Api, Gunung  (Fū/Kaze (Angin), Rin/Mori (Hutan), Ka/Kasai (Api) dan San/Yama (Gunung)).

Moto ini digunakan dalam panji-panji perang yang digunakan Takeda Shingen berdasarkan kutipan 4 frase dalam Buku Strategi Sun Tzu, The Art of War. Dalam versi aslinya, kalimatnya berbunyi,
故其疾如風,其徐如林
侵掠如火,不動如山

Moving as swift as the wind,
stay as silent as forest,
offend as fierce as fire,
defend as unmoveable as a mountain
Sebenarnya masih ada dua baris strategi lagi dalam frase-frase ini, yaitu
 難知如陰, 動如雷霆" 
Hiding as formless as the shadow  - In/Kake (Shadow)
Attack as quick as the speed of thunder  - Rai/Kaminari (Thunder) 
Dengan menggunakan kebijakan dan strategi militer ini, Takeda Shingen berhasil mempertahankan kedudukannya sebagai Daimyo Kai dan bahkan meluaskan wilayahnya hingga Suruga, Shinano utara, dan Kōzuke barat. Shingen dikenal sebagai Daimyo paling berpengaruh di masa-masa akhir periode Sengoku (bersama musuh besarnya, Daimyo Echigo Uesugi Kenshin) sebelum akhirnya periode ini berakhir dengan unifikasi di tangan Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu.

Source: Wikipedia & Other Sources



Tentang Yasushi Inoue 


Yasushi Inoue (井上 靖 - Inoue Yasushi, 6 Mei 1907 – 29 Januari 1991) adalah penulis Jepang yang sangat terkenal dengan karya-karya Historic-Fiction-nya, namun sebenarnya ia juga pawai menuliskan novel semi-autobiografi, novella dan cerpen dengan penuh humor, metafora dan pesan kebaikan seperti Shirobamba dan Asunaro Monogatari, yang sebagian besar bersetting pada kehidupan pengarang sendiri — Jepang di awal 1950an — dalam perpektif yang blak-blakan.

Pada tahun 1949 ia menerbitkan karya pertamanya, dua buah novela Ryoju dan Tōgyu (The Bullfight), yang kemudian memenangkan penghargaan bergengsi Akutagawa Prize di tahun berikutnya. Apapun yang ditulisnya, novel, novela maupun cerpen, tendensi Inoue untuk melakukan riset mendetail dan mendapatkan nilai sejarah yang akurat, memberi kisah-kisahnya rasa keaslian yang tajam.

Source: Wikipedia, Goodreads & Other Sources





https://www.goodreads.com/review/show/117688656

Selasa, 15 Desember 2015

Middlemarch


Title: Middlemarch
Author: George Eliot
Publisher: Wordsworth Classics (2000)
ISBN: 9781853262371
Pages: 776 pages
First published: 1872
Literary Awards: -





Synopsis
'We believe in her as in a woman we might providentially meet some fine day when we should find ourselves doubting of the immortality of the soul'

wrote Henry James of Dorothea Brooke, who shares with the young doctor Tertius Lydgate not only a central role in Middlemarch but also a fervent conviction that life should be heroic.

By the time the novel appeared to tremendous popular and critical acclaim in 1871-2, George Eliot was recognized as England's finest living novelist. It was her ambition to create a world and portray a whole community--tradespeople, middle classes, country gentry--in the rising provincial town of Middlemarch, circa 1830. Vast and crowded, rich in narrative irony and suspense, Middlemarch is richer still in character, in its sense of how individual destinies are shaped by and shape the community, and in the great art that enlarges the reader's sympathy and imagination. It is truly, as Virginia Woolf famously remarked, 'one of the few English novels written for grown-up people'.

I finally read it. REALLY READ IT!! No wonder this book is called a giant within classic lit, and not only by its size, but also the scope of the stories.... It has everything, from romance to politics, from history to (their) progress and future predictions, from feminine activist to puritans point of view. And thus, Miss Eliot took them all, put a lot of twists on them and presented on silver tray for generations to enjoy.

After done reading it, I just realise how similar this novel with JKR's The Casual Vacancy is. The town of Pagford is a new Middlemarch, with all its accidental-infamous characters. No lead actor, just web of peoples interaction and affect each others' life, with abundant amount of gossips and noosey people... hypocrite or not.

Read also: My Sidenotes as I read this novel

We mortals, men and women, devour many a disappointment between breakfast and dinner-time; keep back the tears and look a little pale about the lips, and in answer to inquiries say, "Oh, nothing!" Pride helps; and pride is not a bad thing when it only urges us to hide our hurts— not to hurt others.

Middlemarch was a name of a small town in England and the setting was around 1829s. The novel had another title, or subtitle, which was A Study of Provincial Life, which was accurate, because that what it was... a novel about lifes of people in a small town. Of course there are some people that get more attentions, like Ms. Dorothea Brooke, Ms. Rosamund Vincy, Ms. Mary Garth, Mr. Tertius Lydgate, Mr. Will Ladislaw, Mr. Casaubon, Mr. Bullstrode, to name just a few. All of them and many more, plus a omniscient narator made Middlemarch a story about human experience, self fulfilment, religious elements and hyprocricy. There was no villain nor a hero, all of them all villain and hero in one time or another. There are marriages stories (because we actually NOT "live hapily ever after" after the wedding), there are stories about finding your place in society, there are dreams (shatered and built), plus some English-history lesson of land reform and aristocracy fallen down.

Yes, Middlemarch had them all.... but in the end, I thought of it as a woman perspective when seeing changes and opportunity. Eliot may used a man's name while publishing this novel, but it feminine point of view (like when she idealistic the character of Dorothea or Mary, while writing a worthless beauty of Rosamund) was felt through and through.


What I loved the most about this book was how the women react when facing a terrible situation in the climax of the book, the dead of Raffles the blackmailer, with both Bullstrode and Lydgate as suspects. First, of course, there was Harriet Bullstrode. She was one annoying noosey old lady, with upright position. But all my respect goes to her, when she stands by her husband, trust him no matter what, and support him through this hard time. In the contrast was Rosamund Lydgate. She completely didn't care of her husband position, did not offer a nice words or even say she trust him. The first thing came into her mind was how her social status would affected by this incident. Blaaaahh!! 

Dorothea, in the other side, trust Lydgate since the first time she heard about it. She even supported him anyway she could, and that made Lydgate breath easier since. If I could be so bold to say, Lydgate should've been married to Dorothea. His idealistic vision of a hospital and helping people would have met Dorothea's saint point of view. He could be a best doctor with a good wife's behind him... yeah... but they met in the wrong time. *sigh*


So, in the end, some love wins (Fred and Mary, Will and Dorothea) some marriage works (Sir James and Celia, the Bullstrodes), and some marriage are definetly doomed since the beginning (Casaubon and Dorothea, Lydgate and Rosamund). But lives goes on.... All the good deeds and bad karmas have long shadows that follow you wherever you go. And karma trully a bi**h, for she asked for repayment on worst times... but a bit of good deeds also bring a wholly amount of happiness when you thought all hopes are gone.  

I also admired the most was this novel was about second chances too. People made mistakes, but what about attonement? Well, in short, this quote said it all....
"Character is not cut in marble - it is not something solid and unalterable. It is something living and changing, and may become diseased as our bodies do."
"Then it may be rescued and healed."
(A quote from Farebrother when hearing about Lydgate's part of Raffles affair, but Dorothea stated she still trust Lydgate and wanted to give him a second change)


LOVE IT. Priviledge to read it. So glad I finally finished it *and re-read it again*.
Thank you Bzee for challenged me to read this book. I've done it!!
*proud of myself*


About the Writer:

George Eliot was a pen name of Mary Ann Evans (22 November 1819 – 22 December 1880). She was English novelist, journalist, translator and one of the leading writers of the Victorian era. She is the author of seven novels, including Adam Bede (1859), The Mill on the Floss (1860), Silas Marner (1861), Middlemarch (1871–72), and Daniel Deronda (1876), most of them set in provincial England and known for their realism and psychological insight.

She used a male pen name, she said, to ensure her works would be taken seriously. Female authors were published under their own names during Eliot's life, but she wanted to escape the stereotype of women only writing lighthearted romances. She also wished to have her fiction judged separately from her already extensive and widely known work as an editor and critic. An additional factor in her use of a pen name may have been a desire to shield her private life from public scrutiny and to prevent scandals attending her relationship with the married George Henry Lewes, with whom she lived for over 20 years.
Source: Wikipedia

Middlemarch was considered as the greatest novel in the English language. It first published in eight instalments (volumes) during 1871–2. Instead publishing it in standar three books, mostly because of the thickness, it was published in four books, each contains 9-14 chapters each from the serialisation, and every two months between parts. 
Source: www.uv.es



www.goodreads.com/review/show/69318358
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget