Tampilkan postingan dengan label A.S. Laksana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A.S. Laksana. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Membaca Kumcer dan Mini Reviews-ku

Beberapa belakangan ini aku lebih suka membaca buku-buku kumcer yang kumiliki dan tertimbun. Yah, karena sesuatu hal, saat ini memang lebih mudah mencerna beberapa cerita pendek satu per satu daripada sebuah novel panjang yang butuh konsentrasi lama untuk membaca dan menikmatinya tanpa terpengal-penggal. Daaaan, karena aku belum sempat-sempat menulis review untuk mereka semua, kupikir lebih baik menulis mini-review untuk beberapa kumcer ini dan alasan mengapa aku sangat enjoy membacanya.


1. Malam Terakhir - Leila S. Chundori


Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2012)
ISBN: 978-979-91-0521-9
Jumlah Halaman: 117 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kekhasan Leila Chudori yang kutemukan di kisah-kisah Nadira tergurat lagi di sini, lebih jelas, lebih bebas dan lebih dalam. Tema-tema tentang perempuan dan pilihan-pilihan yg harus dibuatnya menjadikan cerpen-cerpen di sini sangat padat makna.

Ini beberapa favoritku:
Dalam Air Suci Sita ia mengangkat kisah klasik Ramayana dan balik menggugat pertanyaan tentang kesetiaan wanita vs kesucian para pria.

Adila bercerita tentang anak dan kekangan yg berlebihan tanpa kasih sayang dan berujung tragedi pribadi. Berbalikan dengan itu, Ilona justru menampilkan kebebasan dan pilihan tanggung jawabnya sebagai beban... atau tidak. Keleluasaan ruang pribadi yang sulit dibagi untuk siapa pun.

Cerpen Keats membuatku jatuh cinta pada puisi On Death.
Can death be sleep, when life is but a dream, 
And scenes of bliss pass as a phantom by? 
Cerpen ini mempertanyakan arti kebahagiaan, dan antara pilihan yang mudah dan jalan cinta. Aku suuuka sekali cara cerita ini bertutur.

Beberapa cerpen lain (Malam Terakhir, Sepasang Mata Menatap Rain) jelas menggali tema-tema sosial politik dalam sudut pandang berbeda. Menarik, tapi otakku sedang merasa bebal sekali untuk mengunyah dan menikmatinya. ^^V


2. Si Janggut Mengencingi Herucakra - A. S. Laksana


Penerbit: Marjin Kiri (2015)
ISBN: 978-979-12-6049-7
Jumlah Halaman: 133 halaman
Penerbitan Perdana: 2015

Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.

Kalimat blurb di cover belakang kumcer ini tampaknya sudah sangat tepat menggambarkan isinya. Semua(!) cerpen yang termuat, 12 cerpen total, mengisahkan tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam episode paling menyedihkan dalam hidup mereka. Naas. Yup, sangat naas.

Mereka lalu berbagi cerita tanpa menginginkan apapun dari pembacanya, tanpa kejutan, tanpa twist (eh, kecuali Anjing Kecil di Teras Rumah, yang itu twist kecilnya bikin kaget sedikit ^.^), hanya berbagi cerita. Jika setelah mendengar (membaca) cerita ini lalu pembaca ingin merenung dan merefleksikannya kembali, maka itu adalah privilege yang diberikan kumcer ini.

Fav-ku adalah kisah pembukanya, Dijual: Rumah Dua Lantai dan Seluruh Kenangan di Dalamnya. Cerita ini sangat-sangat menyentuh dan real, tanpa ada kesan mendayu-dayu. Endingnya pun... yah bagaimana pun sang istri juga sebenarnya tidak setabah yang ditampilkannya, bukan?

Cerpen lain yang sangat menyentuh bagiku adalah Lelaki Merah di Kaca Jendela. Sedikit sentuhan surealism yang memberi nafas magis bagi cerita ini, membuatnya sulit terlupakan.

Meskipun begitu, keanggunan tema-tema yang diangkat di sini terkalahkan oleh keindahan pemilihan diksi yang digunakan pada kumcer ASL sebelumnya, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu. Tapi mungkin itulah poin pentingnya, kesederhanaan cerita dan kesederhanaan penyampaiannya.

NB: kepo berat dengan kelanjutan cerita Robi dan Ratri.


3. Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0386-4
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000

Selain Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi gak terlalu berasa EK.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^


4. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9736-2
Jumlah Halaman: 88 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kumcer ini sangat tipis, net hanya 66 hal saja, dan terbagi dalam 13 cerpen, jadi tiap cerpen hanya 4-7 halaman saja. Taaapii... isi tiap cerpennya kuat menyindir dan tajam menampar berbagai hal yang terjadi di dalam masyarakat. Meski ditulis di era 70-80an, persoalannya masih cukup relevan untuk jaman sekarang.

Aku suka sekali sisi pak AT yang tampil di kumcer ini, terasa muda, ironis dan sinis, seakan mencibir pada keangkuhan strata sosial yang ada dan kemapanannya. Sesuatu yang pada tulisan-tulisan beliau di tahun-tahun selanjutnya (sayangnya) sedikit terlembutkan dan terhaluskan.

Favoritku... eeng... susah memilihnya, aku suka hampir semuanya!!



Itulah mereka, empat kumcer dari empat penulis lokal yang sangat kusukai karya-karyanya. Ada yang menurutku lebih asyik membaca bentuk novel hasil karya mereka, tapi ada pula yang kumcer yang semua cerpen-cerpennya menakjubkan. Yang pasti, aku menikmati setiap saat membacanya.

Bagaimana, tertarik juga? :)



https://www.goodreads.com/review/show/1780437329
https://www.goodreads.com/review/show/1784194596
https://www.goodreads.com/review/show/1790139931
https://www.goodreads.com/review/show/1791810162

Rabu, 28 Mei 2014

Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu


Judul: Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu
Pengarang: A.S. Laksana
Penerbit: Gagasmedia (2013)
ISBN:  978-979-78-0644-6
Jumlah Halaman: 214 halaman
Penerbitan Perdana: 2013
Literary Awards: Khatulistiwa Literary Award Nominee for Prosa - shortlist (2013)



Mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus. Mula-mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai; lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya. Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk-pucuk meriam. (hal. 2-3)

Buku ini berisi kumpulan dongeng, duapuluh kisah tepatnya, yang fiktif sekaligus real, absurd tapi nyata. Di dalamnya termaktub selisan selera humor yang sedikit kekanakan, tapi juga kritik sosial politik yang kudu dipahami secara dewasa. Banyak sekali kiasan-kiasan metaforis dalam kisah yang kadang harus dipikirkan untuk dimengerti, seperti juga penggunaan permainan logika yang menjungkir balikkan kewarasan. Cerita dikisahkan dengan gamblang, tapi menyamarkan tokoh-tokohnya dan menutupi maksud penceritaannya, sehingga beberapa saat setelah selesai, baru pembaca memahami maksud yang sebenarnya tersampaikan.  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget