Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2019

Optimisme ala Candide (+Giveaway)


Judul: Candide
Judul asli: Candide ou l'Optimisme
Pengarang: Voltaire
Penerbit: DIVA Press (2019)
ISBN: 9786023917341
Jumlah Halaman: 204 halaman
Penerbitan Perdana: 1759





Lihat sinopsis
Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss.

Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna


Candide yang ditulis sekitar tahun 1758 dan diterbitkan setahun setelahnya adalah sebuah novel satire, ironi, sarkasme dan hiperbola. Judul lengkapnya adalah Candide, ou L’Optimisme (Candide, atau Optimisme). Membacanya akan membaca kita dalam sebuah petualangan moral tanpa batasan, bahkan dalam adegan kematian. Tokoh-tokohnya bersliweran, tewas di satu panggung hanya untuk hidup kembali di kejadian berikutnya, dan kemudian mati lagi di dua halaman kemudian. Seluruh keberadaan cerita ini mengangkat tema (atau lebih tepatnya, mengolok-olok ide) bahwa karena Tuhan itu sempurna, maka semua keadaan di dunia, semua kejadian yang terjadi adalah juga sempurna, keadaan yang terbaik dari yang terbaik. Sebuah pandangan filsafat yang diusung oleh Gottfried Leibniz. Bahkan setelah semua kemalangan yang menimpa Candide, Pangloss, Cunegonde, dan tokoh-tokoh yang lain, ia tak bergeming. Optimisme tanpa batas.


Candide adalah seorang keponakan tidak sah dari seorang bangsawan di daerah Westfalia. Dibesarkan di istana dengan seorang guru penganut ajaran optimisme bernama Pangloss. Saat jatuh cinta pada Cunigonde, putri bangsawan itu, Candide langsung ditendang keluar istana dan dimulailah kejadian-kejadian buruk yang membuatnya mempertanyakan teori "kebaikan dunia" yang dianutnya. Anehnya, meskipun semua keburukan yang terjadi selama ia berkeliling dunia, Candide (dan Pangloss) masih berpegang teguh pada filosofi ini. 

Selama perjalanan ini, Candide juga bertemu beberapa tokoh lain yang jelas-jelas lebih realistis. Si wanita tua, Cacambo maupun Martin. Ketiganya mewakili pandangan yang sedikit lebih tidak naif, melihat dunia secara apa adanya, mempertanyakan keserakahan dan hausnya manusia akan kekuasaan dan harta. Perang, tirani, intoleransi, ketidakpedulian, korupsi, penipuan dan segala yang buruk yang dapat terjadi di bunia, tapi tentu saja Candide masih berpikir sebaliknya. Sedangkan tokoh Martin yang lebih realistis berusaha menyadarkannya. Sebuah dialog bermakna yang paling kusukai di novel ini:

"Apakah Tuan percaya," kata Candide, " bahwa sejak dahulu kala manusia sudah saling bunuh seperti sekarang? Bahwa sejak dulu kala mereka berbohong, berkhianat, curang, tidak tahu berterima kasih, merampok, lemah, mencuri, pengecut, mendengki, rakus, mabuk, kikir, serakah, haus darah, tukang fitnah, asusila, fanatik, munafik dan bodoh?"
"Apakah Tuan percaya," jawab Martin, "bahwa sejak dahulu kala elang selalu memangsa merpati tiap kali ia menemukannya?"
"Iya, tentu saja," kata Candide.
"Nah," kata Martin, "bila burung elang memiliki sifat-sifat yang sama sejak dahulu kala, mengapa pula Tuan berpikir bahwa manusia dapat mengubah sifat-sifatnya?"
"Oh, tapi pasti urusannya beda, karena manusia punya kehendak bebas...."

Haha... di satu sisi aku geleng-geleng kepala akan optimisme Candide, tapi di sisi lain aku juga mengaguminya. Di banyak waktu aku lebih percaya pada kerealistisan Martin, tapi aku juga ingin percaya bahwa manusia itu pada dasarnya baik kok.


Pada akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Candide, Pangloss, Cunigonde, Cacambo, Si wanita tua dan Martin akhirnya belajar tentang kesederhanaan pada seorang petani tua dan sampai pada suatu kesimpulan untuk membiarkan dunia apa adanya dan melanjutkan hidup, semua energi dan kekayaan yang tersisa pada pekerjaan-pekerjaan harian yang pada akhirnya malah membuat mereka bahagia.




* * *


Ok, giveaway-nya sudah kututup ya... pengumuman pemenangnya nanti malam, tungguin d. Makasih semuaaaa.

* * *
Maapkeun saya karena beberapa hal, pengumuman pemenangnya jadi tertunda. Tapiii... tanpa berlama-lama lagi, ...drumroll... klik random.org, dan yang terpilih adalah... No. 3.

Okaaayy, selamat kepada Ade Yuanita Putri Pratiwi. Pemenang akan dihubungi lewat email dan dm twit.

Untuk yang belum beruntung, giveaway selanjutnya masih berlangsung di www.missfioree.space ya. Ikutan lagi, siapa tahu lebih beruntung. Sekali lagi, terima kasih semua.



Goodreads Review

Jumat, 20 Oktober 2017

Sang Raja Kretek


Judul: Sang Raja
Pengarang: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2017)
ISBN: 9786024243319
Jumlah Halaman: 392 halaman
Penerbitan Perdana: 2017





Lihat sinopsis
Di zaman ketika warga bumiputra masih dianggap sebagai warga negara kelas tiga, Wirosoeseno, Jawa tulen, dan Filipus Rechterhand, Belanda totok, pergi berkelana dan mendamparkan diri ke kota Kudus. Nasib mempertemukan mereka di sebuah pabrik rokok kretek besar yang mempekerjakan ribuan buruh.

Di sana mereka menempa diri dan jatuh bangun bersama di tengah intrik politik, gebalau zaman, serta gelegar perang kemerdekaan. Mereka juga menjadi saksi kejayaan seorang priyayi rendah, yang dikenal dan dihormati sebagai ‘De Koning’, Sang Raja Rokok Kretek, Nitisemito.

Berbekal kerja keras, semangat pantang menyerah, dan kecerdasan pemasaran yang melampaui zaman, Nitisemito berhasil mengubah hidupnya dari seorang mantan kusir dokar menjadi orang terkemuka di zamannya. Pengalaman hidupnya yang layak jadi ilham dan panutan bagi berlapis generasi sesudahnya.


Bagaimana melihat tumbuh, makmur dan jatuhnya sebuah perusahaan rokok kretek terbesar di awal 1900-an, yang melintasi 3 jaman pemerintahan? Novel ini menggambarkan ilustrasi tsb dengan sangat apik, dan unik karena mengambil sudut pandang 2 orang sahabat beda ras yang bekerja di lingkar dalam NV dan menyaksikan (hampir) semuanya.

Adalah seorang Nitisemito, pemilik dan pelopor pembuatan masal rokok bercampur cengkeh yg saat dibakar akan berbunyi kretek-kretek. Di masa kejayaannya, pabrik rokok di kota Kudus ini memiliki buruh linting 10.000 orang. Dan jangan bayangkan jumlah itu di masa kini, ini masa tahun 1930-an, masa di mana restoran dan taman kota menyamakan pribumi dengan anjing, dan Nitisemito ini asli pribumi. Mantan kusir dokar. Priyayi desa tanpa modal kecuali semangat dan kegigihan. Dan dia inilah yang menjelma sebagai De Kretekkonning. Sang Raja Kretek.

Di zaman inilah Gunawan Wirosoeseno, Jawa asli dari lereng Merapi dan Filipus Rechterhand, Belanda totok yang dibesarkan di Batavia, bertemu dan bekerja di pabrik yang sama. Dari mata kedua orang inilah, pergulatan nasib sebuah perusahaan, direka kembali dalam cerita. Diwarnai gejolak dunia dari PD I, resesi ekonomi dunia, hingga akhirnya pecah PD II, kedatangan Jepang, kemerdekaan, hingga agresi militer 1 dan 2 yang akhirnya berhujung pengakuan kedaulatan. Bukan saja keriuhan dari luar yg menandai jatuh bangunnya perusahaan ini, dari dalam sendiri ada perebutan kuasa petinggi-petingginya, faktor internal keluarga Nitisemito, istri-istri, putri-putri, menantu, anak dan cucu yang serta-merta mempengaruhi kelangsungan hidup sepuluh ribu karyawannya.

Aku suka sekali membaca latar sejarah novel ini. Jelas bukan riset separuh hati dan penulisannya renyah, enak sekali untuk dinikmati. Sayang sekali jangkauan sejarah hanya dapat sedemikian saja. Dramatisasi novel ini memilih untuk tetap berdiri di garis luar keluarga Nitisemito. Mengapa dan bagaimana ia memilih pewaris, melewati Mas Soemadji dan langsung pada Akoean Markoum tetap menjadi tanya bagiku. Demikian juga, nanti saat roda berputar dan Akoean tersisihkan oleh Soemadji. Masih banyak sekali yang belum terjelaskan, terutama mengenai insiden penggelapan cukai rokok yg menodai catatan karir dan hidup Karmain tersebut. Hubungan Nitisemito dan Bung Karno, atau pergerakan kebangsaan yg lain, hanya tersiratkan, tak pernah tersurat. Kepribadian sang raja tidak utuh, sosoknya terlihat dari luar, namun membiarkan rahasia-rahasianya tetap tersimpan. Novel ini tampaknya tidak mau menjadi segala tahu, atau sok tahu menawarkan satu sisi cerita yang belum tentu sepenuhnya benar.

Sebagai tambahan, nasib Hans Rechterhand, putra tunggal Filipus, menggedor dengan ketragisannya. Meski dituturkan sangat minim, pesannya tersampaikan dengan penuh.

5* untuk cerita ini. Iksaka Banu berhasil kembali memukauku setelah Semua Untuk Hindia beberapa tahun lalu. Saatnya berburu kumcer Ratu Sekop yang masih belum mau muncul di tokbuk sekitarku. Mungkin benar-benar hrs pesan online inih.... :')




https://www.goodreads.com/review/show/2147776634

Sabtu, 30 Juli 2016

Winter Dreams

Lok: Kebun Buah & Hidroponik Sumurrejo
Gn. Pati - Semarang


Judul: Winter Dreams
Pengarang: Maggie Tiojakin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 9789792278125
Jumlah Halaman: 291 halaman
Penerbitan Perdana: 2011





Lihat sinopsis
Nicky F. Rompa tak sengaja terdampar di negeri orang bersama jutaan imigran ilegal yang membawa kisah mereka masing-masing ke dalam salah satu kota paling bersejarah di Pantai Timur AS.

Mengambil setting di Boston, Mass., - dan dikemas dalam atmosfir romantisme urban - "Winter Dreams" menyajikan mimpi-mimpi yang tak jarang melebur ke dalam realita dan melahirkan sebuah ilusi epik.

Sekali lagi, Maggie Tiojakin menunjukkan kepiawaiannya dalam menghadirkan tokoh-tokoh anti-hero klasik yang berpotensi memicu perdebatan baru dalam kancah penulisan fiksi di Indonesia.







“Will I ever be happy?”
“That is up to you” 

Novel ini, sesuai judulnya, mengalun tenang seperti mimpi di musim dingin. Sebuah jendela masa mungil, yang membiarkan kita mengintip secuplik episode dalam kehidupan seorang Nicky. Tanpa pretensi apa-apa. Hanya menjejak nyata.


Winter Dreams mengikuti kehidupan Nicky F. Rompa, seorang pemuda tanpa banyak keinginan atau pun cita-cita besar. Ia hanya berjalan mengikuti nasib. Diawali di Jakarta di mana Nicky hidup bersama ayahnya yang abusive, lalu berpindah ke Boston, tempat Nicky terdampar, mulai datang menggunakan visa tourist, hingga menjadi imigran gelap tanpa tujuan.

Dalam perjalanannya di kota Boston inilah, Nicky belajar hidup dan menjadi dewasa. Menikmati kehidupan sekaligus didera oleh berbagai ketidakadilannya. Berulang kali ia mengambil keputusan yang salah(?), tidak bertanggung-jawab(?), atau malah bisa dikatakan sedikit pengecut. Lalai mengerti arti penting yang dibawa. Namun dari berbagai kejadian ini pula, Nicky ditempa untuk menjadi laki-laki yang lebih baik.

Tidak ada ending di novel ini. Hidup Nicky memang belum selesai. Kita hanya berhenti melihatnya, karena jendela masa yang dibuka Maggie Tiojakin, kembali ditutupnya rapat-rapat. Kita bisa menduga-duga apa yang terjadi selanjutnya, tapi lebih baik itu tetap menjadi misteri. Siapa tahu kelak kita diperbolehkan untuk mengintip lagi.


Beberapa review menyebut ini sebagai novel yg menyenangkan. Aku tidak setuju. Menurutku, ini cerita yang benar-benar-benaaaar menyenangkan untuk di dibaca. Menikmati pendewasaan diri di setiap bagian kisahnya. Seperti mendengarkan cerita tentang seorang sahabat lama yang sudah lama tidak ditemui. Mengundang rindu dan aroma nostalgia.


NB: Baca juga tulisan sang pengarang tentang novel ini di blognya.





https://www.goodreads.com/review/show/1707659470

Kamis, 28 Juli 2016

Rahasia Hati

Lok: Klenteng Tay Kak Sie,
Gg. Lombok - Semarang
Judul: Rahasia Hati
Judul Asli: こころ - Kokoro
Pengarang: 夏目 漱石 - Natsume Sōseki
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2016)
ISBN: 9786024240325
Jumlah Halaman: 272 halaman
Penerbitan Perdana: 1914



Lihat sinopsis
RAHASIA HATI melukiskan kesepian manusia dalam dunia modern. Tokoh Sensei yang merasa asing dalam masyarakat, bahkan terhadap istrinya, justru sadar bahwa sikapnya itu merupakan suatu dosa. Dan dosa itu harus mendapat hukuman—bukan dari manusia lain, tapi dari dirinya sendiri.


"Kenapa aku menunggu begitu lama untuk mati?"


Sedih sekali membaca novel ini. Bikin ngelangut. Kisah sang sensei yg dipendam berpuluh tahun, nyatanya menggerogoti dari dalam, hingga akhirnya membuncah dan meledak dalam kesunyian. Kesalahan dan kepengecutan hatinya pada satu saat di masa lampau itu meminta bayaran yg jauh lebih besar. Ah... kalau saja...


Novel ini dibuka dengan menceritakan si tokoh "Aku" yang bertemu dan merasa tertarik pada seorang terpelajar tua yang dipanggilnya Sensei. Secara edukasi dan finansial memang tokoh Sensei ini sangat mapan, tapi tokoh aku, selain mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran dengan sang Sensei, ia juga sering mendapatkan petuah dan sumbang saran tentang kehidupan. Sensei sendiri sedikit tertutup akan kehidupan pribadinya, namun menyiratkan kesedihan luar biasa tentang seorang sahabatnya yang telah meninggal dan kuburnya selalu rajin disambanginya.

Setengah cerita, menceritakan dari sudut pandang Aku, dengan berbagai persoalan pribadinya, dari pendidikannya, harapan keluarganya, hingga Ayahnya yang sakit parah dan diramalkan tak akan lama lagi hidupnya, sedangkan si Aku ini masih bimbang akan jalan kehidupan yang ingin diambilnya selepas kelulusan pendidikan universitasnya.

Nah tapi setengah cerita selanjutnya, diceritakan dari sudut pandang Sang Sensei, yang men-flashback-kan kisah hidupnya saat masih kuliah dulu dalam bentuk surat paaaaaanjaaang. Mulai bab surat ini, minat bacaku pada novel ini yang awalnya biasa-biasa saja, jadi naik amat sangat tinggi. Menurutku ini pula inti dari novel yang banyak menuai pujian. Rahasia hati sang Sensei. Isi hati sang Sensei. Rasa bersalah yang tak pernah dibaginya kepada siapa pun sampai saat itu.

Aku demikian terlarut dalam cerita Sensei ini, hingga tak sadar ikut sedih dan menitikkan air mata, walau sudah menduga akhir cerita si sahabat. Okelah, Sensei memang bisa dikatakan mengkhianati kepercayaan sahabatnya, tapi harusnya mereka bertengkar saja, meledakkan amarah dan kebencian sesaat, menudingkan jari dan menuduh... kalau perlu sampai berkelahi adu jotos dan tukar bogem... bukannya malah masing-masing memendam kekecewaan, lalu...   aku sedih lagi

Sudahlah, akhir kata dari sang Sensei, ia mengharapkan kisah hidupnya bisa menjadi contoh bagi yang lain agar tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjalani hidup dengan penuh penyesalan. Sayang sekali novel ini langsung berakhir di sini, tidak memberi penutup bagaimana tanggapan tokoh Aku akan surat panjang dari orang yang dihormatinya sepenuh hati ini atau kisah hidup Aku selanjutnya. Tapi dengan ketukan keras itu sebagai endingnya, dampak dan kesannya memang sangat membekas di hatiku.


Tentang Pengarang:

Natsume Sōseki (夏目 漱石, 9 Februari 1867 – 9 Desember 1916), adalah novelis Jepang yang terkenal dengan karyanya seperti Kokoro, Botchan, dan I Am a Cat. Ia juga menulis haiku, kanshi, dan dongeng.

Tema utama karya Sōseki's adalah perjuangan orang-orang biasa dalam menghadapi kesulitan ekonomi, konflik antara kewajiban dan keinginan (giri - sebuah tema tradisional Jepang), kesetiaan dan mentalitas grup melawan kebebasan dan individualitas, keterasingan pribadi serta industrialisasi pesat dan konsekwensi sosialnya. Karyanya yang berjudul Wagahai wa neko de aru (I Am a Cat) - 1905, sarat pandangan sardonic tentang transformasi sosial dan modernitas, penuh ketidakpastian dan ketidakpuasan.

Kokoro (Rahasia Hati) - 1914, lebih bernada melankolik dan sensitif, kisah tragis yang memaparkan kondisi kesepian manusia. Untuk Sōseki, alienasi adalah dampak mendasar dari individu yang terbelah antara tradisi dan modernitas.

Ketidakpuasan dan kekecewaan adalah tema-tema yang terus berlanjut dalam karyanya, seiring dengan kesendirian dan penderitaan sang pengarang hingga akhir hayatnya, di tahun 1916 ia meninggal karena penyakit perut kronis.

Dalam tahun-tahun terakhirnya penulis seperti Akutagawa Ryūnosuke dan Kume Masao tampak jelas terpengaruh oleh gaya penulisannya.


Sebagai pengakuan atas karya-karyanya, dari tahun 1984 hingga 2004, gambar wajahnya menghiasi bagian depan uang kertas Jepang 1000 yen.

Source: Wikipedia Willamete Uni Site LikeSuccess etc




https://www.goodreads.com/review/show/1690826527

Sabtu, 30 April 2016

We Have Always Lived in the Castle


Title: We Have Always Lived in the Castle
Author: Shirley Jackson
Publisher: Penguin Classics Deluxe (2006)
ISBN: 9780143039976
Number pf pages: 160 pages
First Published: 1962




Lihat sinopsis
Merricat Blackwood lives on the family estate with her sister Constance and her Uncle Julian. Not long ago there were seven Blackwoods—until a fatal dose of arsenic found its way into the sugar bowl one terrible night. Acquitted of the murders, Constance has returned home, where Merricat protects her from the curiosity and hostility of the villagers. Their days pass in happy isolation until cousin Charles appears. Only Merricat can see the danger, and she must act swiftly to keep Constance from his grasp.


Sebenarnya aku belum pernah mendengar nama Shirley Jackson sebelumnya, namun suatu malam, setelah cerita-cerita kismis (kisah misteri) di grup WA Joglosemar, obrolan berlanjut dengan rekomendasi pengarang yang satu ini. Cerpen-cerpennya seperti The Summer People dan The Lottery katanya punya ending yang menakutkan dan jleb banget, meskipun bukan kisah horor. Dengan kadar kekepoan tinggi, aku memilih membaca novella-nya.


“My name is Mary Katherine Blackwood. I am eighteen years old, and I live with my sister Constance. I have often thought that with any luck at all, I could have been born a werewolf, because the two middle fingers on both my hands are the same length, but I have had to be content with what I had. I dislike washing myself, and dogs, and noise. I like my sister Constance, and Richard Plantagenet, and Amanita phalloides, the death-cup mushroom. Everyone else in our family is dead.”

We always lived in the castle. Blackwood Castle that is.

Keluarga Blackwood adalah keluarga tuan tanah terpandang di daerah pedesaan. Tanah mereka yang demikian luasnya hingga mereka tampak seperti hidup di atas singgasana bagi orang-orang desa kebanyakan. Namun suatu hari 4 orang keluarga ini mati keracunan arsenik yang ditaruh di botol gula. Tragedi ini hanya menyisakan Mary Katherine - Merricat (yang sedang dihukum tak mendapat makan malam), Constance (yang tidak doyan manis) dan Paman Julian tua yang terselamatkan, meskipun lalu jadi pikun dan difable. Misteri masih terus melingkupi kejadian tersebut, dan meskipun Constance yang awalnya jadi tertuduh utama kasus ini sudah dibebaskan dari segala tuduhan, tudingan orang-orang desa yang memang sedari awal tidak akrab dengan keluarga Blackwood masih tetap tertinggal.

Merricat, said Connie, would you like a cup of tea?
Oh, no, said Merricat, you’ll poison me.
Merricat, said Connie, would you like to go to sleep?
Down in the boneyard ten feet deep!

Kisah ini kemudian berlanjut dengan tenang, nyaris statis. Merricat dengan petunjuk-petunjuk sihirnya. Connie, sekarang menderita agorafobia parah, setia memasak, membersihkan rumah dan mengurusi Paman Julian. Dan Paman Julian yang sedang menyelesaikan manuskrip kisah malam naas keluarga mereka.

Sedikit sekali perubahan yang terjadi dalam rumah tangga Blackwood ini selama 7 tahun. Sampai suatu hari Sepupu Charles datang dan mengaduk-aduk lumpur yang telah mengendap. Ia terang-terangan ingin mengangkangi kekayaan keluarga Blackwood yang tertinggal. Karena sulit untuk menguasai Merricat yang liar dan Paman Julian yang pikun, Connie menjadi sasaran mulut manis beracunnya. Tapi tampaknya ia salah memilih lawan. Karena Merricat menyimpan pikiran berbahayanya sendiri dan Paman Julian masih menyisakan bisa dalam setiap ucapan-ucapannya.




Membaca cerita ini ada rasa sunyi, kesepian dan dingin yang pelan-pelan terbentuk dan mengikuti pikiran kita. Rasa hampa seperti Castle Blackwood yang kosong dan kehilangan setengah penghuninya. Bukan rasa takut yang menghentak seperti dalam film-film horor, tapi lebih ke rasa tak nyaman yang menyesakkan dan membuat sulit bernafas.

Tentang siapa yang sebenarnya aktor yang sengaja menaburkan arsenik ke dalam botol gula, rasanya bukan hal yang dirahasiakan. Bahkan sejak paragraf pertama kisah ini, pengarang sudah terus terang menyerahkan sang pembunuh ke tangan pembaca. Aku rasa bukan itu sesungguhnya yang menjadi fokus ceritanya, melainkan efek-efek kejadian itu terhadap ketiga Blackwood yang tersisa dan terhadap hubungan mereka dengan dunia luar (warga desa). Sikap bermusuhan dari warga desa dan sikap menjaga jarak dari Merricat sama-sama destruktif. Keluarga Blackwood yang tinggal di castle adalah (out)cast. Namun keadaan ini berada dalam titik kesetimbangan semu yang berjalan mulus bertahun-tahun. Sebuah pengaturan yang hanya ditembus Merricat setiap hari Selasa dan Jumat, saat ia berkenan meninggalkan castlenya demi berbelanja di toko kelontong desa dan meminjam buku di perpustakaan. Dua kali seminggu, cadar halus pemisah disibakkan sejenak, lalu diturunkan kembali. Selasa dan Jumat. Toko kelontong dan perpustakaan. Itu saja.

Lalu sebuah kekuatan di luar mereka menghancurkan kesetimbangan ini. Sepupu Charles. Gila harta dan terdesak keadaan. Tanpa sengaja ia kembali mendatangkan hantu-hantu keluarga Blackwood dan melepaskan kendali sang malaikat maut.

Dikisahkan sepenuhnya dari sudut pandang Merricat, pembaca dapat dengan mudah menyelami isi kepalanya. Semua kengerian-kengerian bersaput kesan innocence kekanak-kanakan tidak dapat terelakan. Merricat menyukai dunia kecilnya. Dunia kecil yang tenang, statis dan terkendali. Apa yang terjadi saat itu semua terpapar dan terguncang? Merricat membawa dunia kecilnya semakin dalam terkunci, menyisakan rasa bersalah pahit kepada semua yang pernah mengusiknya.

“Oh Constance, we are so happy.”

Dan aku bergidik lagi.


* * *


Tentang Pengarang:


Shirley Hardie Jackson (14 Des 1916 – 8 Ags 1965) adalah pengarang Amerika yang paling dikenal dari karya cerita pendeknya The Lottery (1948) yang sangat sinis dan mengagetkan, serta novelnya The Haunting of Hill House (1959) yang sering disebut sebagai "one of the best ghost stories ever writte."

Shirley Jackson memulai karier penulisan melalui keterlibatannya dengan majalah sastra kampus Syracuse University. Di sini pula ia bertemu dengan suaminya, Stanley Edgar Hyman - seorang kritikus sastra terkenal.

Novel-novelnya antara lain The Road Through the Wall (1948), Hangsaman (1951), The Bird's Nest (1954), The Sundial (1958), The Haunting of Hill House (1959) dan We Have Always Lived in the Castle (1962), Jackson juga menulis novel anak-anak berjudul, Nine Magic Wishes yang lalu diilustrasikan oleh seorang cucunya.

Tahun 1965, Jackson meninggal karena serangan jantung saat masih berusia 48 tahun. Semasa hidupnya ia menderita berbagai penyakit psychosomatic, kegemukan dan seorang perokok berat. Meskipun singkat, Jackson dikenang sebagai penulis yang produktif dan mengilhami banyak penulis sesudahnya termasuk  Neil Gaiman, Stephen King, Nigel Kneale, and Richard Matheson.

Source: Wikipedia dan situs web Shirley Jackson.



Notes:



Cover novel ini diilustrasikan oleh Thomas Ott, salah satu ilustrator dan penulis wordless novel kesukaanku. Gayanya yang black and white dan bernuansa gothic sangat pas menggambarkan dua bersaudara Merricat dan Connie di bawah tatapan menghujat penduduk desa.

Karya-karya pribadi Thomas Ott, antara lain, The Number 73304-23-4153-6-96-8, Dead End dan Greetings from Hellvile, dan tentu saja silent novel favoritku, Cinema Panopticum.




https://www.goodreads.com/review/show/1620270217

Minggu, 24 April 2016

Q & A


Judul: Teka-teki Cinta Sang Pramusaji
Judul Asli: Q & A
Pengarang: Vikas Swarup
Penerjemah: Agung Prihantoro
Penerbit: Serambi (2008)
ISBN: 9789790240520
Jumlah Halaman: 458 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Exclusive Books Boeke Prize (2006)



Lihat sinopsis
Ram Mohammad Thomas hanyalah pramusaji bar. Tak pernah sekolah. Namun, siapa sangka ia akan memenangkan kuis satu miliar rupee. Dua belas pertanyaan dijawab dengan sempurna. Semua tercengang. Ram ditangkap dan dipaksa menandatangani surat perjanjian yang menyatakan dirinya melakukan kecurangan. Ram tak punya pilihan lain.

Ram menjejak ke bumi ini tanpa tahu siapa ibu dan ayahnya. Akal, kalbu, dan tubuhnya digembleng oleh perjalanan nasib dari satu kota neraka ke kota neraka lain, Delhi, Mumbai, Dharavi, Agra. Tapi ia juga dihibur film-film Bollywood, ditenteramkan keindahan Taj Mahal, dibuai kenikmatan lokalisasi.... Dia pun jadi bocah tangguh yang berkarib dengan Salim, berguru piano pada Romo Timothy, nyaris meratapi kakinya yang hendak dipotong, membunuh perampok, dan mencintai seorang pelacur. Semua itu membuhul dalam penampilan cemerlangnya menjawab dua belas, bahkan tiga belas pertanyaan kuis
Who Will Win A Billion.

Gabungan kisah lucu, tragis, melodrama, hingga action thriller yang ditutup dengan sangat manis ini seolah merangkum pancarona nestapa realitas bangsa semiliar perkara, yang dalam beberapa hal tak jauh dari keadaan Tanah Air kita. sebuah kisah pergulatan cinta dan teka-teki takdir anak manusia.


Apa yang diperlukan untuk memenangkan acara kuis pertanyaan seperti Who Wants to be a Millionere yang dulu ditayangkan di salah sebuah stasiun TV Indonesia? Kepandaian setinggi langit? Pengetahuan umum seluas samudra biru? Atau alat teknologi canggih terbaru yang bisa membuatmu mencurangi seluruh penggarap kuis?

Menurut Ram Mohhammad Thomas, bukan itu semua. Kamu hanya perlu keberuntungan sebanyak 12 kali, untuk kebetulan mengetahui kedua belas jawaban pertanyaan yang diajukan. Tidak perlu tahu hal-hal lain, tidak perlu menghafalkan seluruh nama mata uang di dunia, skor dan statistik seluruh tim olahraga dan atlet-atletnya, ataupun sejarah dunia hingga mendalam. Tidak perlu. Hanya 12 kali keberuntungan untuk 12 pertanyaan itu saja. Titik.

Dan hasilnya 1 Milliar Rupee menjadi miliknya.

Atau hampir menjadi miliknya, sebelum ia digelandang ke kantor polisi, disiksa dan dipaksa menandatangi pernyataan bahwa ia curang dalam kuis itu.


Kisah pun bergulir, perlahan-lahan pembaca disuguhi kisah hidup Ram, atau Mohammad, atau Thomas -namanya tergantung situasi apa yang ia alami pada saat itu-  dan dua belas fragmen dalam kehidupannya yang keras di kota Delhi, Mumbai, Dharahi dan Agra. Dari masa kanak-kanaknya yang lumayan bahagia di bawah asuhan seorang pastor gereja, hampir dijadikan anak cacat pengemis, menjadi pembantu rumah seorang mata-mata berkebangsaan Australia hingga saat-saat menegangkan bertarung dengan seorang perampok kereta api.

Dalam perjalanan hidupnya itu, Ram juga terlibat dengan tiga orang wanita yang disayanginya, Gudiya, gadis remaja yang dianggapnya sebagai seorang kakak, yang hidup di sebelah rumah petaknya di Mumbai dan kerap disiksa ayahnya, Neelima Kumari, seorang artis cantik di kota Delhi yang sudah tak laku lagi, dan Nita, seorang pelacur remaja di kota Agra yang membuatnya jatuh cinta bukan kepalang. Wanita-wanita inilah menjadi pemandu nasibnya, dan motivator sebenarnya dari keikutsertaan Ram dalam kuis keparat itu.

Alur cerita yang maju mundur sesuai dengan pertanyaan kuis yang diajukan, menambah daya tarik novel ini. Pembaca harus sabar menanti saat satu persatu potongan puzzle kehidupan Ram terkuak, dan harus ditempatkan di tempat yang benar. Sebelas potongan yang membuat potret kehidupannya tergambar secara utuh, dan satu lagi potongan kunci terakhir yang menjelaskan kesemuanya. Duh, aku suka sekali twist di akhir kisah ini. Puntiran cerita yang pas, yang membuatnya berubah dari dongeng pilu tears-jerking ala Bollywood, menjadi kisah thriller-revenge yang cukup solid. Tiga bintangku harus rela kutambah menjadi empat demi Bab 1.000.000.000 itu.


Akhirnya, ini memang drama India, dengan setting India, karakter-karakter yang juga sangat India dan ending yang sangat Indiahe sekali. Tapi aku menikmati setiap potongan kisah Ram, dan akhir happy endingnya yang happy sekali untuk semua orang. :D



Edisi bahasa Indonesianya ini diterjemahkan dengan bagus oleh Penerbit Serambi. Penggunaan kosa-kata Bahasa Indonesia berlimpah dengan kata-kata yang tak kerap lagi dipakai, seperti boyak, melalau, rengsa, tugur, onyah-anyih, jember, renyuk, dan banyak lagi. Aku harus cukup sering membuka kbbi daring untuk mengecek arti kata-kata ini. Salut untuk penerjemah novel ini. Anda layak dapat bintang juga.

Yang tidak aku sukai justru ilustrasi cover dan judul terjemahannya. Kalau saja tidak tahu jika ini adalah versi terjemahan dari novel Q & A yang mengilhami film pemenang Oscar Slumdog Millionaire, gak bakalan deh aku tertarik membacanya. Warna merahnya memang keren, tapi gambarnya?? Lalu judulnya... Teka-teki Cinta Sang Pramusaji, hmmm... #pret  why do I care?

Gelonya lagi, ternyata ini adalah versi cetul dari novel yang sama yang diterbitkan oleh penerbit yang sama pula di tahun 2006. Dan di situ, judul dan covernya jauh lebih keren. Ada yang mau tukeran edisi Q & A ini denganku? #ngarepdotcom ^.^





https://www.goodreads.com/review/show/1612947319

Senin, 18 April 2016

We Were Liars - Para Pembohong


Judul: We Were Liars - Para Pembohong
Judul Asli: We Were Liars
Pengarang: E. Lockhart
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-0671-1
Jumlah Halaman: 296 halaman
Penerbitan Perdana: 2014
Literary Awards: The Inky Awards Nominee for Silver Inky (2015), Bookworm Best Award for Best Fiction (2014), Goodreads Choice Award for Young Adult Fiction (2014), etc



Lihat sinopsis
Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran.

Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award.

Bacalah.
Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, JANGAN BERITAHUKAN.





Novel ini endingnya maniiisss banget,
happy end dan menyenangkan untuk semua tokohnya...

***tentu saja aku bohong, disuruh bohong n dilarang ngasih tahu endingnya kok!!*** ^.^


Huehehe....
Sebenarnya novel ini sudah mulai masuk radar bacaku sejak memenangkan Goodreads Choice Awards 2014 lalu. Waktu itu sempat mencari dan dapat ebook-nya dan sempat pula dibaca sekitar setengahnya, sebelum akhirnya aku DNF dan kesalip novel-novel lainnya dan akhirnya tertimbun. Bulan ini Gramedia menerbitkan edisi terjemahannya, dan cover cantiknya membuatku ingin melanjutkan membacanya. ok, lanjuuuttt.....

Selamat datang di keluarga Sinclair yang sempurna.

Di sini tidak ada kriminal.
Di sini tidak ada pecandu.
Di sini tidak ada yang gagal.

Kisah ini diceritakan dari sudut pandang Cadence Sinclair Eastman. Keluarga Sinclair adalah sebuah keluarga kaya nan terpandang. Sang Kakek, Harry Sinclair mampu membalikkan nasibnya dari orang biasa menjadi salah satu keluarga penting dalam dunia ekonomia dan politik. Ia memiliki tiga orang putri dan beberapa orang cucu. Tiap musim panas, mereka semua berlibur di sebuah pulau pribadi bernama Beechwood di lepas pantai Massachusetts, di mana ia membanguun sebuah rumah untuknya sendiri dan istrinya, serta 3 buah rumah lain untuk keluarga ketiga putrinya.

Cadence, Johnny, dan Mirren adalah cucu-cucu tertua keluarga Sinclair. Bersama Gat, teman keluarga, seorang bocah India yang sepantaran dengan mereka, mereka berempat selalu menghabiskan liburan musim panas di pulau tersebut. Mereka, menyebut diri mereka, The Liars (para pembohong).

Pada satu musim panas saat mereka semua berumur 15 tahun, Cady ditemukan menggigil hampir mati di tepi pantai, hypertermia, dan terlebih lagi, amnesia selektif. Ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi di malam terakhir di pulau itu, dan mengapa tiba-tiba ia terbangun di rumah sakit dengan migrain parah yang kerap menyerang. Teramat parah sampai ia tak bisa melakukan apa pun, selain berbaring dan berharap serangan itu berlalu.

Musim panas berikutnya, ayah Cady membawanya keliling Eropa.

Musim panas yang berikutnya lagi, ayah Cady bersiap membawanya keliling dunia.

Namun Cady melakukan semua cara agar ia bisa kembali ke Pulau Beechwood, kembali berkumpul dengan The Liars. Akhirnya, dengan banyak perdebatan namun setelah disetujui sang Kakek, Cady diperbolehkan menghabiskan setengah musim panasnya di sana. Alangkah terkejutnya saat menemukan "mendekorasi ulang Rumah Utama" yang dimaksud ibunya, adalah meratakan rumah menyenangkan kakeknya dan membangun sebuah rumah gedong yang berkesan dingin di tempat yang sama.

Hal-hal aneh lain juga muncul di sana sini. Ibunya yang tampak jauh lebih akrab dengan saudari-saudarinya. The Liars yang menolak makan bersama di rumah utama. Ibu Johnny yang berkeliaran tak tentu arah malam-malam. Anak-anak yang lebih kecil tampak selalu sibuk sendiri. Dan suatu ketika, Sang Kakek membawa Cady untuk menemui pengaracaranya dan berkata akan mengurusnya.

Di saat yang sama, pelan-pelan ingatan Cady mulai kembali, tapi migrain yang menyerang kepalanya juga semakin parah....



Nah, sebenarnya, setengah membaca, aku sudah mulai meraba hal apa yang sebenarnya terjadi pada Gat. Satu dua kejadian janggal yang terjadi.... Namun... tidak sampai bab-bab menjelang akhir, saat aku akhirnya tersadar akan apa yang SEBENARNYA terjadi pada mereka SEMUA. Nice twist, tapi ini hanya akan benar-benar jadi kejutan andai saja [spoiler kamu belum pernah menonton Sixth Sense atau The Others.]

Aku lebih menyukai bagian-bagian di mana Cady memelintir kisah dongeng-dongeng dan membuat versinya sendiri. Dongeng versi Cady ini benar-benar memilukan, tapi juga segar, nakal dan menyenangkan.


Endingnya.... lebih baik baca sendiri sajalah.
Yang pasti, ini kata-kata akhir dari Cady.

Nama lengkapku Cadence Sinclair Eastman
Aku tahan menderita migrain. Aku tidak tahan orang bodoh.
Aku suka memelintir arti.
Aku bertahan.

* * *


Untuk edisi terjemahannya ini, aku suka sekali ilustrasi covernya. Bahkan jauh lebih suka dari cover edisi aslinya yang buram dan berkesan menyedihkan. Memang sih, sesuai dengan isi ceritanya dan isi kepala Cady yang buram tak dapat mengingat dengan jelas, tapi... gambar Cady yang terduduk memeluk lutut sementara The Liars yang lain melompat dari tepi tebing juga sangat pas menggambarkan novelnya. Apalagi warna biru lautnya yang menggoda sekali.

NB: seperti yang kukatakan di ataass, aku mulai membaca dengan ebook, baru lanjut edisi terjemahan.... laluuu... baru beberapa bab, aku balik baca ebooknya. entah kenapa aku tidak begitu nyaman membaca edisi terjemahannya ini. memang Cady suka bermain kata-kata (seperti katanya sendiri, "I like a twist of meaning"), dan menurutku terjemahannya sedikiiiiit kehilangan kenakalan Cady di sini. tapi selain itu, terjemahan juga sedikit tersendat-sendat dan terlalu harafiah kata per kata. IMHO.

NB2: itu di pohon keluarga hal. 9 kenapa nama keluarga Eastman bisa berubah menjadi Easton?





https://www.goodreads.com/review/show/1610155295

Rabu, 30 Maret 2016

A untuk Amanda



Judul: A untuk Amanda
Pengarang: Annisa Ihsani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-2631-3
Jumlah Halaman: 264 halaman
Penerbitan Perdana: 2016




Lihat sinopsis
Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.

*kl mau dibilang suka, sih suka.... tapi lebih suka teka-teki terakhir*

Kesan itulah yang muncul di benakku saat mengakhiri novel ini. Ini sama sekali bukan novel yang buruk lo, bagus malah... terutama bagian konseling Amanda dengan Dokter Eli. Apalagi tema remaja depresi yang bagus dan realistis dari pengarang lokal seperti ini jarang-jarang kutemui. Tapi masalahnya aku kadung jatuh cinta setengah mati sama novel debut pengarang ini dulu.


OK, tentang novel ini, isinya berkisah tentang seorang Amanda, gadis muda yang baru saja masuk SMA. Ia anak baik-baik, yatim (ayahnya meninggal kecelakaan saat ia masih anak-anak), tinggal bersama ibu yang tetap memilih menjadi single-parent. Ia juga sangat pandai hingga mendapat beasiswa akademik untuk masuk di 'SMA swasta termahal kedua' di kotanya. Di sekolahnya yang baru ini, pelajaran berjalan lancar, Amanda menjadi straight A student, disayangi guru, bahkan mendapat dukungan penuh bila ia ingin mengikuti tes masuk sebuah perguruan tinggi bergengsi mengambil jurusan fisika yang sangat diminatinya. Amanda juga punya seorang sahabat baik sedari masih bocah bernama Shinichi Kudo Kindaichi Tommy. Suatu saat, tiba-tiba Amanda sadar ia telah jatuh cinta pada Tommy, lalu tak berapa lama, Tommy juga bilang begitu kepadanya. Maka lengkaplah kebahagiaan Amanda. TAMAT.

#eh
Yah, tentu tidak selesai di situ lah.

Dari sini, keadaan memburuk bagi Amanda. Berawal dari pikiran sederhana tentang masa depannya, otaknya tiba-tiba berpacu tak karuan dan kehilangan arah. Amanda tiba-tiba merasa tak percaya diri. Ia merasa tak pantas mendapatkan nilai A. Tapi saat nilainya turun, ia jadi merasa jauh lebih buruk. Serentetan peristiwa-peristiwa kecil setelah itu semakin memperparah keadaannya. Ia menjauh dari teman-temannya karena berpikiran tak ada kegiatan yang menyenangkan bersama mereka. Ia menjauh dari Tommy, ia menjauh dari ibunya, mengurung diri seharian di kamar. Hingga di satu titik kritis, ia bahkan menyianyiakan sebuah kesempatan besar bagi masa depannya.

Esoknya, Amanda mengerahkan seluruh pertimbangan logisnya yang masih tersisa, dan memutuskan ia butuh pertolongan,

DEPRESI.

Inilah diagnosa Dokter Eli. Amanda mengalami Depresi. Bukan jenis depresi karena masa lalu yang buruk, post-traumatis atau sejenisnya (seperti kejadian di cerita ini), tapi depresi karena Amanda cenderung perfeksionis dan kecanduan terhadap prestasi. Sebuah distorsi kognitif yang mengabaikan hal-hal positif dan hanya mempercayai bagian-bagian negatif kehidupannya.

Aku suka sekali bagian dialog-dialog Amanda dengan Dokter Eli. Dokter Eli jelas sekali menghargai kecerdasan Amanda, dan dengan membiarkannya bercerita dan membuka diri, kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, membuat Amanda berpikir untuk dirinya sendiri dan menjawab-pertanyaan-pertanyaan sulitnya sendiri. Kegalauan Amanda pelan-pelan dibimbing menuju pendewasaan cara pikirnya. Top dah karakterisasi Dokter Eli ini.

Pada akhirnya, novel ini memang tidak memberikan happy-ending yang gak masuk akal. [ spoiler Novel ditutup sangat realistis dengan perjuangan Amanda yang masih terus berlanjut, setiap hari ada pertempuran pemikiran buruk melawan pemikiran baik dalam otaknya. Ia masih sangat muda dan hidupnya masih panjang. Dan ia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Setiap hari!]


Aku juga suka ide ceritanya, suka gaya bertuturnya (POV Amanda mengalir enak untuk dinikmati), suka konfliknya. tapiii..... gak terlalu suka settingnya yang kagok. Mau dibilang lokal tidak mungkin (tahun ajaran baru di sini bukan bulan September, atau cara penilaian di sekolah masih menggunakan sistem angka, atau sistem penerimaan mahasiswa baru PT yang sangat berbeda). Tapi mau dibilang bersetting di negara barat, nama-nama tokoh dan beberapa latar pendukungnya, terasa 'endonesha' sekali (nasi goreng dan mie ayam). Galau... segalau Amanda.

Meskipun demikian, ada beberapa tokohnya yang mencuri perhatian. Dokter Eli adalah salah satunya. Yang lain adalah Rashid, teman Amanda di klub komputer, yang juga saingan terberatnya dalam hal akademik. Awalnya tokoh ini hanya kuanggap sebagai pelengkap cerita, namun di akhir-akhir, saat ia terus mendampingi Amanda dan menyemangatinya untuk bersaing menjadi lulusan terbaik, aku bisa tahu pasti kalau Rashid ini orang baik dan menyenangkan. Sayang Amanda terlalu tenggelam dalam kepalanya sendiri hingga tak menyadari hal ini. Demikian juga karakter Helen/Helena. High-school queen yang satu ini, meskipun masih stereotipe klik populer di sekolah, namun setidaknya ia masih punya hati untuk setia menjadi teman Amanda, walaupun Amanda "bukan siapa-siapa". Sekali lagi, sayang Amanda terlalu tenggelam dalam kepalanya sendiri hingga tak menyadari hal ini - sampai Dokter Eli mengucapkannya secara langsung kepadanya. Karakter Erwin juga sebenarnya kurasakan menarik, hanya saja ia sedikit kurang tergali dan mencorong di cerita ini.

Anehnya, tokoh Tommy yang awalnya jadi lead-male character malah tenggelam di paruh akhir cerita, hingga muncul lagi bagian akhiiirr.


Kesimpulannya, kisah yang sangat menarik, namun tetap ringan menghibur. Membuatku banyak belajar tentang penyakit mental bernama depresi. Kisah Amanda membuatku iba, tapi pada akhirnya, aku senaaaang sekali karena Amanda memutuskan untuk berjuang dan meneruskan hidupnya meski sesulit apapun. Semangaaaaat buat Amanda!!!





https://www.goodreads.com/review/show/1590217212
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget