Tampilkan postingan dengan label Anthology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anthology. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2016

Membaca Corat-Coret di iJak


Judul: Corat-Coret di Toilet
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 9786020303864
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000






"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

Nama "Eka Kurniawan" memang bukan nama asing dalam bercerita. Setelah novel-novelnya Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau yang menuai banyak pujian, tahun ini ia menghentak lagi dengan O yang kembali masuk dalam 5 besar KLA. Corat-coret di Toilet ini adalah kumpulan cerpen, yang awalnya terbit di tahun 2000, namun cetak ulang di tahun 2014 dan 2016 dengan cover baru. Walaupun sudah cukup lama, namun cerpen-cerpen di sini masih memiliki tema-tema yang relevan dibaca kapan pun. Sedangkan gaya penulisannya, meski berasa Ekakur, tapi beberapa kurang unik dan tajam seperti tulisannya sekarang. Selain cerpen Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi dan Hikayat Orang Gila, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Rayuan Dusta untuk Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi terasa jamak dan (sekali lagi) tidak terlalu Ekakur.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^

Saranku, kalau mau merasakan Ekakur yang se-Ekakur-Ekakur-nya, baca novelnya. Cantik Itu Luka itu dahsyat, Lelaki Harimau yang super tragis, Rindu Dendam yang bikin baper dan ngilu, serta O yang "gilak sekalee".
(notes: kecuali O, ketiga novel lainnya tersedia juga di iJak).


Membaca di iJak


Di atas aku sekilas menyebutkan tentang iJak. Ada yang sudah pernah memakai aplikasi ini? Atau malah ada yang belum tahu sama sekali?

iJak adalah Jakarta Digital Library. Sebuah perpustakaan digital yang bisa diakses dari mana saja, kapan saja. Tag line-nya "Membaca Semakin Mudah. Baca buku, berbagi koleksi bacaan dan bersosialisasi secara bersamaan" sangat tepat menggambarkan aplikasi ini. Setelah memasang aplikasi ini di perangkat android kamu, mendaftar dengan mudah dan cepat, langsung sekian ratus judul buku tersedia untuk kamu baca, dan... gratis!



Awalnya aku juga hanya coba-coba saja menggunakan aplikasi ini. Dengan kata-kata "gratis!" ini aku malah ber-suudzon paling hanya buku-buku gak laku saja yang disediakan. Namun setelah memasang dan berkeliaran ke sana-sini di dalam aplikasi, aku sungguh terkejut senang melihat judul-judul buku yang ditawarkan. Dari novel-novel berbagai genre (novel romance yang buanyak sekali), buku-buku full grafis berwarna untuk anak-anak, komik, buku non-fiksi, i.e buku motivasi, parenting, teknologi, musik bahkan buku resep masakan, semuanya ada.


Selain Novel dan NonFiksi, ada pula Komik dan Buku Anak


Setelah memakai aplikasi ini, aku teringat ada cerita yang ingin sekali kubaca, namun sampai saat itu belum kesampaian, yaitu trilogi Eiffel dari Clio Freya. Memakai fasilitas search yang tersedia, langsung kucari novel-novel ini, dan senang sekali saat ketiga-tiganya tersedia dan mudah sekali kupinjam.

Kumcer Corat-coret di Toilet ini juga kubaca lewat aplikasi iJak di telepon genggamku. Tampilan layarnya juga lumayan ramah di mata. Meskipun tidak bisa diganti besaran font yang digunakan seperti layaknya file epub (iJak menggunakan sistem halaman), namun ada feature zoom-in yang menggantikannya.

Pembaca bisa juga memberi bintang kepada tiap buku yang ada dan memberikan review singkatnya. Selain itu, tersedia pula jaringan pertemanan, jadi kita bisa saling mem-follow, melihat-lihat buku apa yang sedang ngetrend di sekitar kita dan berbagi rekomendasi. Setelah mendapatkan beberapa teman buku di iJak, aku jadi gak pernah kehabisan ide untuk bacaan berikutnya.

Suatu kali pernah novel yang kuincar belum tersedia di koleksi iJak. Yah, sedikit kecewa. Namun beberapa hari setelahnya, saat kucek kembali ternyata sudah tersedia. Ternyata ada seseorang yang baik hati, mendonasikan buku itu untuk semua kawan iJak (Donasi ini salah satu pilihan feature jika kita ingin beramal buku secara digital). Waah, senangnya....


Oh, iya, selain lewat aplikasi, iJak tersedia pula lewat situsnya https://ijakarta.id/. Jadi bisa pula diakses lewat laptop-mu, teman. Gimana, tertarik untuk mencoba?





https://www.goodreads.com/review/show/1790139931

Senin, 24 Oktober 2016

Membaca Kumcer dan Mini Reviews-ku

Beberapa belakangan ini aku lebih suka membaca buku-buku kumcer yang kumiliki dan tertimbun. Yah, karena sesuatu hal, saat ini memang lebih mudah mencerna beberapa cerita pendek satu per satu daripada sebuah novel panjang yang butuh konsentrasi lama untuk membaca dan menikmatinya tanpa terpengal-penggal. Daaaan, karena aku belum sempat-sempat menulis review untuk mereka semua, kupikir lebih baik menulis mini-review untuk beberapa kumcer ini dan alasan mengapa aku sangat enjoy membacanya.


1. Malam Terakhir - Leila S. Chundori


Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2012)
ISBN: 978-979-91-0521-9
Jumlah Halaman: 117 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kekhasan Leila Chudori yang kutemukan di kisah-kisah Nadira tergurat lagi di sini, lebih jelas, lebih bebas dan lebih dalam. Tema-tema tentang perempuan dan pilihan-pilihan yg harus dibuatnya menjadikan cerpen-cerpen di sini sangat padat makna.

Ini beberapa favoritku:
Dalam Air Suci Sita ia mengangkat kisah klasik Ramayana dan balik menggugat pertanyaan tentang kesetiaan wanita vs kesucian para pria.

Adila bercerita tentang anak dan kekangan yg berlebihan tanpa kasih sayang dan berujung tragedi pribadi. Berbalikan dengan itu, Ilona justru menampilkan kebebasan dan pilihan tanggung jawabnya sebagai beban... atau tidak. Keleluasaan ruang pribadi yang sulit dibagi untuk siapa pun.

Cerpen Keats membuatku jatuh cinta pada puisi On Death.
Can death be sleep, when life is but a dream, 
And scenes of bliss pass as a phantom by? 
Cerpen ini mempertanyakan arti kebahagiaan, dan antara pilihan yang mudah dan jalan cinta. Aku suuuka sekali cara cerita ini bertutur.

Beberapa cerpen lain (Malam Terakhir, Sepasang Mata Menatap Rain) jelas menggali tema-tema sosial politik dalam sudut pandang berbeda. Menarik, tapi otakku sedang merasa bebal sekali untuk mengunyah dan menikmatinya. ^^V


2. Si Janggut Mengencingi Herucakra - A. S. Laksana


Penerbit: Marjin Kiri (2015)
ISBN: 978-979-12-6049-7
Jumlah Halaman: 133 halaman
Penerbitan Perdana: 2015

Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.

Kalimat blurb di cover belakang kumcer ini tampaknya sudah sangat tepat menggambarkan isinya. Semua(!) cerpen yang termuat, 12 cerpen total, mengisahkan tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam episode paling menyedihkan dalam hidup mereka. Naas. Yup, sangat naas.

Mereka lalu berbagi cerita tanpa menginginkan apapun dari pembacanya, tanpa kejutan, tanpa twist (eh, kecuali Anjing Kecil di Teras Rumah, yang itu twist kecilnya bikin kaget sedikit ^.^), hanya berbagi cerita. Jika setelah mendengar (membaca) cerita ini lalu pembaca ingin merenung dan merefleksikannya kembali, maka itu adalah privilege yang diberikan kumcer ini.

Fav-ku adalah kisah pembukanya, Dijual: Rumah Dua Lantai dan Seluruh Kenangan di Dalamnya. Cerita ini sangat-sangat menyentuh dan real, tanpa ada kesan mendayu-dayu. Endingnya pun... yah bagaimana pun sang istri juga sebenarnya tidak setabah yang ditampilkannya, bukan?

Cerpen lain yang sangat menyentuh bagiku adalah Lelaki Merah di Kaca Jendela. Sedikit sentuhan surealism yang memberi nafas magis bagi cerita ini, membuatnya sulit terlupakan.

Meskipun begitu, keanggunan tema-tema yang diangkat di sini terkalahkan oleh keindahan pemilihan diksi yang digunakan pada kumcer ASL sebelumnya, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu. Tapi mungkin itulah poin pentingnya, kesederhanaan cerita dan kesederhanaan penyampaiannya.

NB: kepo berat dengan kelanjutan cerita Robi dan Ratri.


3. Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0386-4
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000

Selain Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi gak terlalu berasa EK.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^


4. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9736-2
Jumlah Halaman: 88 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kumcer ini sangat tipis, net hanya 66 hal saja, dan terbagi dalam 13 cerpen, jadi tiap cerpen hanya 4-7 halaman saja. Taaapii... isi tiap cerpennya kuat menyindir dan tajam menampar berbagai hal yang terjadi di dalam masyarakat. Meski ditulis di era 70-80an, persoalannya masih cukup relevan untuk jaman sekarang.

Aku suka sekali sisi pak AT yang tampil di kumcer ini, terasa muda, ironis dan sinis, seakan mencibir pada keangkuhan strata sosial yang ada dan kemapanannya. Sesuatu yang pada tulisan-tulisan beliau di tahun-tahun selanjutnya (sayangnya) sedikit terlembutkan dan terhaluskan.

Favoritku... eeng... susah memilihnya, aku suka hampir semuanya!!



Itulah mereka, empat kumcer dari empat penulis lokal yang sangat kusukai karya-karyanya. Ada yang menurutku lebih asyik membaca bentuk novel hasil karya mereka, tapi ada pula yang kumcer yang semua cerpen-cerpennya menakjubkan. Yang pasti, aku menikmati setiap saat membacanya.

Bagaimana, tertarik juga? :)



https://www.goodreads.com/review/show/1780437329
https://www.goodreads.com/review/show/1784194596
https://www.goodreads.com/review/show/1790139931
https://www.goodreads.com/review/show/1791810162

Jumat, 29 Juli 2016

Just After Sunset

Lok: Just @Home
A cup of tea & Nastar cookies


Judul: Just After Sunset - Setelah Matahari Terbenam
Judul Asli: Just After Sunset
Pengarang: Stephen King
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 9786020300610
Jumlah Halaman: 576 halaman
Penerbitan Perdana: 2008




Lihat sinopsis
Koleksi cerpen yang brilian dari Stephen King. Siapa selain Stephen King yang bisa mengubah toilet portabel menjadi kanal kelahiran berlendir, atau bar pinggir jalan menjadi tempat untuk cinta abadi? Seorang penjual buku yang marah mengangkut seorang pembonceng bisu, tanpa menyadari bahwa pria itu mendengar semua ocehannya dengan sangat jelas. Atau rutinitas olahraga dengan sepeda stasioner, yang dimulai untuk mengurangi kolesterol, bisa membawa pengendaranya pada perjalanan yang memikat sekaligus mengerikan. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Just After Sunset––sebut saja senja, atau petang, adalah waktu ketika hubungan antar manusia mengambil bentuk yang tidak wajar, ketika segalanya tidak seperti yang terlihat, ketika imajinasi mulai meraih bayang-bayang yang menghilang menjadi kegelapan, dan siang hari yang terang bisa terusir pergi dari dirimu. Ini waktu yang sempurna bagi Stephen King.



Kumcer yang begitu khas dari Stephen King. Dari kisah-kisahnya yang tak terduga sampai narasi awalnya yg paaaaaaaaanjang... demi membangun suasana. Memang harus sabar mengikuti kisahnya, tapi yakin akan terbayar puas dengan twist dan ending yang memikat di tiap kisah.

Favku dalam antologi ini adalah Sepeda Stasioner. Aku suka sekali perpindahan antara dunia nyata dan tidak nyata yang mulus terjadi di kisah itu. Premis awalnya tentang seseorang yang perlu sedikit berolahraga demi kesehatannya, berlanjut dengan kisah-kisah pekerja yang kehabisan pekerjaan gara-garanya. Aneh, unik, tak terduga, dengan sentuhan thriller dan sedikit membius untuk tenggelam dalam dunia Richard Sifkitz. Meski begitu, endingnya malah berasa 'terlalu logis' untuk ukuran SK. Penginnya sih ending yang lebih tidak biasa.

Kisah lain yang memikat dan manis adalah New York Times dengan Harga Khusus. Sebuah kisah magic-realism ala SK yang bikin terharu. Jarang-jarang ada kisah dari sang maestro yang sedih dan bikin patah hati dari awal hingga akhir.

Cerpen/novela N. di kumcer ini menurutku yang paling kental rasa thriller-horror khasnya SK. Separuh jalan membaca novela ini aku selalu merinding dan berkali-kali menengok depan-belakang-samping-kolong. Nuansa mencekam yang pelan-pelan dibangun dengan halus bikin kengerian yang tidak jelas asal-usulnya tapi selalu ada. Mana endingnya juga begitu... hyiii.... ampun dah.

Lalu ada pula Bisu. Cerpen yang ini aku suka karena begitu banyak hal, ie. kejujuran si tokoh utama, si pastor yg rada komedik, si tokoh Bisu yang.... ternyata tak seperti kesan awalnya. Ceritanya juga kompleks tapi terasa simpel... dan terus terang, aku jg berharap si Bisu gak sampai tertangkap!! Moral of the story, jangan sembarangan cerita, tahu-tahu yang diceritain itu seorang mailaikat (kematian)... hehehehe.....

Penutup antologi ini adalah cerpen berjudul Tempat yang Sangat Sempit. Huaaahh... membaca ini aku sampai terikut menahan napas berulang kali (sungguh!). Bagussss, menegangkan dan mengejutkan. Tapi sedikit banyak mengingatkanku pada adegan melarikan dirinya Andy Dufresne di Shawshank Redemption.

Cerpen-cerpen lainnya juga tak mengecewakan. Tak terduga. Amat sangat tak tertebak akhir ceritanya. Kadang-kadang kukira ini cerita horor, tapi malah larinya ke drama, yang kukira thriller malah sedikit ringan dan komedik. SK membuktikan bahwa tangan dinginnya mampu memelintir cerita yang temanya biasa-biasa saja menjadi sajian yang menyenangkan.




https://www.goodreads.com/review/show/1683914086

Kamis, 31 Maret 2016

Mata yang Enak Dipandang


Judul: Mata yang Enak Dipandang
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 978-602-03-0045-0
Jumlah Halaman: 216  halaman
Penerbitan Perdana: 2013





Lihat sinopsis
Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997.

Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.

Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.

15 cerpen, 15 latar, 15 kisah.
Diawali dari pengemis buta yang diperas bocah penuntunnya hingga kisah terakhir tentang rumah-tangga pasangan muda. Meskipun pada tema (hampir) semuanya masih menceritakan kehidupan kaum marjinal, tapi di beberapa cerpen terasa pak AT sedang bereksperimen dengan ide dan media penyampaiannya.

Yang menjadi judul buku ini adalah cerpen pertamanya, Mata yang Enak Dipandang. Di sini seorang pengemis buta membedakan sikap seseorang yang baik dan yang tidak baik dari matanya, orang yang suka memberi akan memiliki "mata yang enak dipandang", katanya. Entah bagaimana ia bisa tahu itu, namun begitulah yang ia percaya. Kalau memang begitu, maka mata si bocah licik yang disewa untuk menuntunnya, pastilah sangat-sangat tidak enak untuk dipandang.

Beberapa cerpen selanjutnya mengangkat pergulatan batin orang-orang pinggiran. Dalam Bila Jebris Ada di Rumah Kami, seorang istri merasa ragu untuk membantu tetangganya yang berprofesi sebagai PSK pinggir jalan, takut bila ia menerima si pelacur, rumahnya tak kan lagi didatangi malaikat pembawa berkah. Di kisah Warung Penajem, yang terjadi lain lagi. Seorang suami harus menerima nasib, bahwa istrinya meminta pesugihan untuk warung mereka, yang harus dibayar dengan badannya sendiri. Saat warung itu semakin maju dan laris, masih nikmatkah nasi yang dimakan bersama? Dalam cerpen Sayur Bleketupuk, seorang ibu memilih "menidurkan" anak-anaknya dengan daun bleketupuk agar mereka tak terlalu kecewa karena sang Ayah tak jua pulang dari kerjanya di proyek jembatan, untuk membawa mereka naik jaran undar. Yang paling sedih adalah cerita Harta Gantungan, di mana seorang tua meninggalkan kebo (kerbau) peliharaannya untuk dana mengurus jasadnya jika ia meninggal kelak, meskipun ia tengah sakit dan butuh uang untuk berobat. Pada akhirnya, seorang cucu keturunannya justru beruntung dapat mengadakan pesta pernikahan dengan hasil penjualan kerbau itu....

Kisah Daruan adalah kisah pengarang gagal yang nyempil di antara kisah-kisah lainnya. Sulitnya menjadi seorang pengarang novel untuk menghidupi keluarganya jadi temanya, dan ketika akhirnya dia mendapati bahwa novel karangannya hanya jadi buku cerita picisan yang dijajakan di stasiun, aku tak tahu pasti apa yang jadi motivasinya membeli semua bukunya itu....

Kekuatan sang pengarang, Bapak Ahmad Tohari ini jelas ada pada cara beliau mendeskripsikan daerah pedesaan dan orang-orangnya. Dalam kumcer ini ada beberapa kisah yang juga menonjolkan kelebihan ini. Yang paling indah mengharukan tentu saja adalah Paman Doblo Merobek Layang-layang. Kemajuan daerah pedesaan memang tak jarang mengambil bayaran yang tak sedikit, dari lingkungan yang tak lagi asri hingga yang terburuk, sifat-sifat seseorang pun dapat berubah menjadi lebih kasar dan keras. Lalu pada kisah Rusmi Ingin Pulang, kisah pergunjingan masyarakat pedesaan ditekankan saat seorang Rusmi -yang digosipkan jadi perempuan penghibur di kota- ingin balik ke desanya. Cerita yang tajam dan manis, sayang endingnya terlalu manis malah jadi tidak berkesan. Lain lagi dalam cerpen Kang Sarpin Minta Dikebiri. Kang Sarpin, si gemblung yang rada mata keranjang ini, meninggal kecelakaan saat sepeda yang membawa kekuintal beras di boncengannya, oleng dan tersambar truk dalam perjalanan ke pasar. Yang bikin cerita adalah, Kang Sarpin ternyata sudah tobat main perempuan dan malam sebelumnya minta dicarikan dokter untuk mengebirinya. Eaalaaaah, dasar gemblung! Satu lagi kisah dari pinggiran desa adalah Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan. Dalam kisah ini, sudut pandang penceritaan ada pada Karsim, yang sudah meninggal tertabrak saat akan menyeberang jalan. Arwah Karsim melayang-layang menyaksikan kematiannya, raganya dimandikan dan dikafani, istrinya yang tersedu-sedu, dan orang-orang yang melayatnya. Saat keranda jenazah membawa raganya menuju tanah kuburan, sontak para sopir yang biasanya melaju memenuhi jalan, memelankan deru kendaraan mereka, memberi kesempatan kepada rombongan. Akhirnya, Karsim dapat menyeberang jalan. Ironis. 

Tema berlatar religius juga sering diangkat dalam kisah-kisah yang ditulis Pak AT. Di sini ada beberapa cerpen yang bernafaskan religi namun digarap dengan unik. Yang pertama adalah Penipu yang Keempat. Cerpen ini mengisahkan tentang seseorang yang mengutuk para penipu yang berdalih meminta sumbangan untuk amal ini dan itu. Setelah menelanjangi tipuan-tipuan ketiga penipu/peminta sumbangan yang datang padanya, ia kemudian juga memaparkan dirinya sebagai penipu yang keempat, yang paling pandai dan beruntung dari semuanya, karena ia merasa telah menipu Tuhan, karena beramal dengan niat yang tidak tulus. Ha!! Di cerpen Pemandangan Perut yang jadi favoritku, terasa karya AT yang lain. Di sini tentu saja masih ada karakter-karakter tokoh-tokoh 'wong cilik'-nya, namun pengisahannya terasa sedikit sentuhan kisah fantasi, magic-realism, surealisme, namun dengan latar mirip nada kisah Hidayah. Aku suka kisah ini. Meskipun pendek namun menohok dengan sindirannya. Salam Penyangga Langit adalah cerpen lain yang juga sedikit berkesan religius-magic realism. Seseorang yang tertidur kelelahan dalam sebuah majelis pengajian, (bermimpi?) bertemu malaikat penyangga langit dan berdialog dengannya. Unik dan tak sering menemukan kisah dengan topik seperti ini dari sang pengarang

Tapi dari semuanya, kisah Dawir, Turah, dan Totol-lah yang paling tampak cara eksperimentalnya. Kisah tentang sebuah keluarga yang tinggal di emper terminal yang akan digusur ini, ditulis tanpa tanda kutip penanda kalimat langsung, dalam kalimat-kalimat pendek, dan menggunakan parafrase yang tak biasa. Kisah si Dawir, Turah dan Totol yang sudah membikin iba, terasa semakin membuat miris dengan penulisannya yang seperti ini. TOP. Dua jempol buat cerpen ini.

Kumcer ini ditutup dengan cerpen paling panjang di buku, yang berjudul Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Kisahnya tentang rumah tangga sepasang pengantin muda yang dilanda dua badai berat, permintaan orang tua si istri untuk pindah ke rumah baru yang dibangun oleh sang mertua, dan badai orang ketiga yang hadir di antara keduanya. Bagus sih sebenarnya, tapi kurang berkesan bagiku. Tema seperti ini lebih kusukai yang mendayu-dayu dan (biasanya) ditulis oleh seorang pengarang perempuan pula, jadi lebih pas mendapatkan emosinya. 


Kumcer ini kubaca sekalian untuk Posbar #BBILagiBaca. Seharusnya saat sedang membaca, aku juga harus men-twit progres baca dan hal-hal lain yang berkesan tentang buku ini. Tapi karena satu dan lain hal (sibuk) (malas) akhirnya hanya sempat mentwit pada hari pertama saja.



Jangan lupa, baca juga review buku Pak Ahmad Tohari lain yang dibaca dengan Kak Lila dan Mbak Vina, karena kita janjian membaca karya Pak AT untuk event BBI kali ini. Ini dia link-nya:

1. Alvina : Lingkar Air Lingkar Tanah
2, Lila: Orang-orang Proyek

Untuk review-ku pada beberapa novel Ahmad Tohari yang lain, bisa di baca di sini (Lingkar Tanah, Orang ProyekBekisar Merah, Bukit Cibalak).







https://www.goodreads.com/review/show/1579462100

Senin, 14 September 2015

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari


Review Buku  
Judul: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari  
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792287080
Jumlah Halaman: 264 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2013)



Lihat sinopsis
Tujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita-cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik. Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah. Hampir semua tokoh utama adalah perempuan dari beragam usia, ras, budaya, dan agama. Mereka bergelut dengan pencarian jati diri, ketimpangan gender, cinta segitiga, hingga masalah-masalah sosial-politis yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek. Dilatari ilustrasi yang indah dan detail cerita yang unik, Lily Yulianti Farid menampilkan suara-suara perempuan paling jernih dalam meneriakkan kegelisahan, kemarahan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap terjadi di mana pun mereka berada.


Nama Lily Yulianty Farid bukanlah nama yang sangat sering kudengar sebagai penulis wanita dalam negeri, karena itu, saat kumcer ini terpilih sebagai salah satu long-list KLA 2013, sempat penasaran juga dibuatnya. Apalagi melihat cover depan buku ini yang terasa... abstrak? menakutkan? memilukan? entah bagaimanalah menyebutnya... gambaran seorang wanita yang tertelungkup dengan senapan yang mengeluarkan bunga tegak di atasnya, bukanlah pemandangan yang mudah dilupakan.

Dan setelah kubaca, kumcer ini ternyata padat berisi, dan semuanya mengisahkan tokoh-tokoh perempuan aneka umur, pekerjaan dan latar belakang, dengan satu persamaan..., mereka semua karakter yang sangat kuat meski berbagai jalan nasib dan tragedi datang mencobai (tak heran, mengingat latar belakang sang pengarang yang sangat dekat dengan masalah gender). Meskipun demikian, cerpen-cerpen ini tetap renyah, enak dinikmati.

Ketika engkau lahir, malam seperti meledak.

Kumcer dibuka dengan kisah Ayahmu Bulan, Engkau Matahari. Cerpen yang judulnya sekaligus menjadi judul antologi ini, berkisah tentang Jannah, seorang wanita yang menjadi yatim tak berapa lama setelah kelahirannya. Dilahirkan di daerah rawan keamanan memang membuatnya kehilangan orang tua tapi seorang nenek luar biasa membuatnya terdidik dan bisa berimajinasi menembus batas-batas wilayah. Kelak Jannah menjadi tenaga sukarela yang menjelajah berbagai belahan dunia yang dilanda konflik, tapi dengan tetap memendam satu kerinduan untuk bertemu sang ayah.

Di awal musim semi, Jois mengisyaratkan kematiannya.

Kisah lain yang juga sangat membekas di hati adalah Jois dan Sang Malaikat. Di sini sang pengarang menggedor rasa toleransi yang seharusnya tidak dipisah-pisahkan oleh masalah kepercayaan, dan dalam waktu yang sama mengungkapkan rasa kasih sayang dan kemanusiaan yang kental antara anak dan ibu asuhnya. Sangat menyentuh dengan ending yang mengundang tangis haru.

Di ruang makan laki-laki itu menunggunya.
Di atas meja, sebotol kecap menunggunya. Encer dan asin.

Kumcer ini juga menyimpan beberapa kisah yang lain di permukaan lain di maksud. Seperti dalam cerpen Kecap. Sebentuk hadiah ulang tahun aneh yang diterima Nayu saban tahun, kecap. Tapi walau tampaknya mengulik-ngulik tentang kecap no.1 di dunia, cerpen ini justru menyoal tentang masalah SARA dan kekerasan sekaligus kesempurnaan seorang wanita dan kasih sayang seorang Ayah. Paduan yang aneh, namun tersaji dengan penuh kelezatan. Demikian juga dengan Rie dan Rei Kisah yang diceritakan bergantian dengan sangat apik antara Si Rie dan si Rei ini tampaknya hanyalah tentang dua sahabat lama yang menikmati nyuknyang di warung sambil bercerita cerita petualangan mereka. Tapi di dalamnya, banyak tersurat kegelisahan diri yang tak terkatakan. Atau dalam Jendela untuk Bunga yang bertutur tentang sepasang pengantin baru, tapi sebenarnya mengkritik sistem hukum kita dan ketiadaan tempat bagi orang-orang yang idealis.

Aku adalah maiasaura dan Sora adalah T-Rex.

Banyak kisah di kumcer ini yang mengambil latar daerah konflik, tapi yang paling membuat miris -terutama sebagai kaum wanita- adalah Maiasaura. Masih seperti kisah lain, dipermukaan cerpen ini menceritakan kehangatan ibu dan anak dan permainan dinosaurus yang sering mereka mainkan. Tapi lebih jauh melihat, sang Ibu ternyata adalah seorang sukarelawan di Ramallah yang tiap hari menyaksikan puluhan perempuan kesulitan dalam proses melahirkan di bawah todongan senapan daerah konflik.

Kisah-kisah lain, seperti Suara, Ruang Keluarga, Kelas 1-9, Kamera dan favoritku, Gurita, juga sangat sarat makna. Aku menikmati cerpen-cerpen ini, meski kadang perlu banyak waktu untuk menyesap dan mengerti maknanya. Kadang banyak ironi yang ikut dalam kisah, tapi semuanya masih dalam batasan yang nyaman untuk dinikmati. Walau seting kisah berpindah-pindah dari warung hingga wilayah peperangan, dari Makassar hingga Swiss, tapi semua ceritanya sangat membumi, real tanpa isian imajinasi yang berlebihan. Aku juga suka dengan pilihan-pilihan diksi dan metaforanya yang tidak biasa dan terasa menyegarkan.



Tentang Pengarang:

Lily Yulianti Farid, lahir di Makassar, 16 July 1971, mengarang cerita sejak kecil, namun sempat meninggalkan kegemaran ini saat meniti karier sebagai jurnalis. Saat ini dia tinggal di Melbourne, Australia. Dia pernah belajar di Universitas Hasanudin pada bidang teknik pertanian, dimana dia memulai karier sastranya pada majalah kampus, "Identitas".

Setelah lulus, ia menjadi wartawan pada Harian Kompas (1996 - 2000). Pada tahun 2001 hingga 2004, ia mengambil gelar master pada studi Gender and Development. Pada tahun 2010 ia mendaftar untuk program Doktor pada bidang "Gender and Media" pada universitas yang sama dan direncanakan lulus pada tahun 2014. Selama masa studinya di Melbourne, ia melanjutkan menulis jurnalistik dengan bekerja sebagai produser Radio Australia, Melbourne (2001-2004). Ia juga bekerja sebagai spesialis program radio/produser pada Radio Jepang NHK World, Tokyo (2004 - 2008). Selama periode tersebut, pada 2006 ia menjadi kolumnis untuk Nytid News Magazine, Norwegia, dan masih berhubungan dengan majalah tersebut hingga saat ini.

Ia memulai kariernya sebagai penulis dan jurnalis, dan terlibat pada beberapa proyek independen, seperti Panyingkul! yang didirikan pada 1 July 2006, suatu media online yang memperkenalkan konsep citizen journalism, yang berbasis di Makassar. Ia mencurahkan sebagian waktunya mengelola media independen ini, selain menulis artikel untuk media di dalam dan luar negeri.

Lily Yulianti Farid dapat ditemui di situsnya lilyyuliantifarid.com
Sumber: Wikipedia

100 Hari Membaca Sastra Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1382439013

Selasa, 14 Juli 2015

Balada Ching-Ching


Judul: Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
Pengarang: Maggie Tiojakin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792258288
Jumlah Halaman: 186 halaman
Penerbitan Perdana: 2010
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2010)



Lihat sinopsis
Ching-Ching adalah seorang gadis keturunan. Ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah. Ayahnya seorang pedagang kwetiau pinggiran. Ini adalah baladanya, juga balada manusia lainnya.

Masing-masing kisah dalam koleksi fiksi pendek ini merupakan sebuah vignet tentang apa artinya menjadi manusia biasa---yang sakit, sedih, senang, hidup, mati, gila, waras. Lebih dari itu, dunia fiksi yang dipersembahkan dalam koleksi ini sungguh mewakili kegelisahan internal semua orang, di mana karakter-karakternya tumbuh dewasa lewat kegagalan dan kekeliruan, obsesi dan pilihan, harapan dan keputusasaan.

Buku keempat dalam 100 Hari Membaca Sastra Indonesia yang kubaca, adalah kumcer lawas Maggie Tiojakin. Setelah terabsurd-absurd membaca kumcernya yang lain, Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa, aku sedikit heran (heran yang bagus) karena kumcer ini sangat realistis dan membumi. Konflik-konflik yang diangkat adalah konflik "orang-orang biasa" yang terjadi bisa saja terjadi kapan saja di sekitar kita. Tigabelas cerita pendek yang cantik, bercita rasa global, dengan ending-ending terbuka untuk intepretasikan ke arah mana pun.

Sebagai pekerja medis, Malik sudah terbiasa menghadapi kematian, baik itu yang datang mendadak maupun secara gradual. Kerudung hitam yang dikenakan oleh malaikat maut mudah ia kenali dari jarak ribuan meter, tanda-tandanya pun jelas, namun sesekali ada saja mukjizat yang mengusir malaikat maut itu pergi sebelum ia datang menghampiri pasien yang sekarat.
Cerpen pertama di sini berjudul Anatomi Mukjizat. tentang seorang perawat yang mendampingi seorang gadis yang butuh mukjizat bernama jantung baru. Sebuah kisah tragis dalam dunia profesi si tokoh utama Malik, dan terjabar jelas bagaimana ini mempengaruhinya.

Yang paling aku sukai di sini adalah hanya dalam beberapa paragraf saja, kisah ini diberi nafas lebih dalam dan intim, saat mukjizat yang diharapkan, ternyata jauh-jauh lebih dekat dalam kehidupan pribadi Malik. Dan tentu saja, ending yang menggantung, sehingga aku berimajinasi dari harapan yang terbaik hingga kisah terburuk yang bisa kubayangkan.


Konflik-konflik personal dalam hubungan cinta dan rumah tangga diangkat dalam beberapa cerpen. Ada cerita sangat pendek Kawin Lari, dikisahkan dua orang muda mudi yang memutuskan untuk lari dari keluarga mereka dan menjalani hidup bersama karena si cewek sudah mengandung. Dalam percakapan singkat keduanya jelas sekali si cewek ketakutan menghadapi kehidupan masa depannya dan sadar akan sulit untuknya untuk kembali lagi. Dalam Suami-Istri, sepasang suami-istri lanjut usia baru saja merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-32. Tampak dari luar kehidupan pernikahan yang langgeng, namun ternyata di dalam, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan what-if yang diam-diam terpikirkan keduanya. Di Balik Sebuah Tatapan, kehidupan rumah tangga yang lebih rumit diangkat dengan baik. Jika sebuah perkawinan adalah sebuah kesalahan, apakah anak yang (akan) lahir juga hal yang salah? Lalu ada tema perselingkuhan diangkat dalam kisah Tawa Elisa. Tawa seorang wanita yang menjadi candu bagi seorang pria, meskipun ia punya keluarga yang menunggunya di rumah.


Cerpen yang diangkat jadi judul kumcer ini, Balada Ching-Ching, menyoal tentang seorang gadis remaja etnis minoritas yang di-bully di sekolahnya. Sebenarnya aku merasa cerpen ini biasa-biasa saja, justru tidak se-wah cerpen-cerpennya yang lain. Memang sih, tema yang diangkat mungkin lebih sensitif, dan endingnya melecutkan ketegaran si gadis, tapi karakterisasinya tidak sekompleks dan sebernas tokoh -tokoh utama yang lain.


Cerpen paling panjang di kumcer ini berjudul Dua Sisi. Lebih dari 50 halaman. Dibandingkan cerpen-cerpen lainnya yang latar dan persoalannya lebih lokal dan personal, Dua Sisi mengambil latar peristiwa 9/11. Kuat menceritakan hari tragis tersebut, sekaligus mengajak pembacanya melihat kejadian itu dari dua sudut pandang berbeda. Andira yang bisa dibilang "di luar sistem", mengutuk peristiwa itu dan mengutuk teror yang menimpa sekian ribu orang sipil. Sedangkan Aysha, gadis keturunan Libanon yang mengalami sendiri berbagai teror di tanah kelahirannya, menganggap apa yang terjadi adalah pembalasan setimpal.
Aku sering tertawa melihat orang jogging di sini. Karena di Beirut, orang berlari bukan untuk kesenangan ataupun kebugaran - orang berlari untuk menghidari kematian yang mengenaskan.
Dua sisi berbeda, ditampilkan tanpa berusaha saling menghakimi, bahkan ditingkahi dengan hubungan asmara Andira dan Aysha. Lalu..... ah endingnya...


Sedangkan cerpen favoritku di sini, aku suka karena gaya penceritaannya, adalah Sekali Seumur Hidup. Satu malam saat lampu mati, Edi naik ke atap untuk menikmati bintang. Lalu ia ditemani Vitta. Dari sini aku mulai meraba-raba apa sih maksud kisah ini. Hubungan cinta terlarang Edi-Vitta? Tampaknya bukan. Edi tampak lebih seperti seorang kakak. Masalah pelik yang dialami Vitta pun mengalir dan diterima dengan tenang olehnya. Lalu apa.... ehm, "siapa" tepatnya? Sampai pagi datang, tampaknya masalah ini tidak hendak dijawab oleh si empunya cerita. Tapi tidak... kemudian dalam sebuah kalimat, hanya sebuah kalimat, 4 kata, tersamar, singkat, padat, kisah pelecehan Vitta diceritakan. Ooooh... oh... hoooo.... oh tidak... kasihan sekali. Jadi teringat Tania di novel Remedy yang serupa nasibnya.

Satu hal lagi tentang kumcer ini, aku suka sekali dengan cover buku ini. Merah, minimalis, cantik.


Setelah sebelumnya baru saja aku menikmati kumcer Kaki yang Terhormat dari Gus tf Sakai yang terasa sangat tradisional dan mengulik realita sosial yang kental dan penuh metafora, kumcer Balada Ching-Ching dari Maggie ini lebih berasa modern, rasa global, meskipun konflik-konflik yang diangkat terasa dekat dengan pembaca. Mana yang lebih kusukai? Dua-duanya aku suka, dua-duanya bernas, dua-duanya bergizi. Gak bisa kan membandingkan enaknya sego pecel dengan caesar salad, (atau sebenarnya aku nulis postingan blog ini sambil laper). #eh #hihihihi.... Pokoknya, gak heran dua kumcer ini sama-sama masuk dalam jajaran longlist KLA di tahun berbeda. Setelah ini, masih ada satu lagi kumcer yang ngantri untuk kubaca, Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, yang juga masuk longlist KLA tahun 2013. Tampaknya gak kalah menariknya nih.


Tentang Pengarang:

Maggie Tiojakin (10 Maret 1980) adalah seorang penulis dan jurnalis yang tulisannya telah dimuat di berbagai harian internasional. Sejumlah cerita-cerita pendeknya juga telah diterbitkan di media lokal maupun internasional seperti Femina, Kompas, Every Day Fiction, Writers’ Journal, Eastown Fiction, dan Postcard Shorts.

Buku-buku yang telah diterbitkan, antara lain, kumpulan cerita pendek Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010), dan Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa (2013), dan novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011). Selain itu, Maggie Tiojakin juga dikenal sebagai penulis naskah film, dengan karya debut Simfoni Luar Biasa besutan Awi Suryadi. Di waktu senggangnya, Maggie Tiojakin sering menerjemahkan karya-karya klasik ke dalam Bahasa Indonesia. Ia menjalankan situs gratis, FIKSI LOTUS, yang bertujuan menghadirkan cerita-cerita pendek klasik dunia gratis untuk pembaca Indonesia.

Maggie adalah seorang penulis dengan kemampuan eklektik. Tidak hanya bekerja sebagai jurnalis, ia juga seorang copywriter, scriptwriter, editor dan translator.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia





https://www.goodreads.com/review/show/1334530540


Kamis, 09 Juli 2015

Kaki Yang Terhormat


Judul: Kaki Yang Terhormat
Pengarang: Gus tf Sakai
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792285246
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2013)



Lihat sinopsis
Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, “Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik.

Sebetulnya, kalau mau jujur, bukan hanya Nenek yang bangga. Banyak dari keluarga kami, yang bila ngobrol, tak bisa menyembunyikan perasaan bangga kepada keluarga lain. Bahkan, bukan hanya keluarga kami. Banyak dari penduduk kampung, yang bila ngobrol, juga tak bisa menyembunyikan bangga kepada penduduk kampung lain. Maka, keyakinan Nenek pada kaki, berkembang bagai tak terbantahkan. Seperti tak cukup kalau kaki hanya dikatakan penting. Kaki adalah sesuatu yang terhormat.

Masih dalam rangka 100 Hari Membaca Sastra Indonesia, ini buku ketiga yang kubaca. Kumcer ini peraih longlist KLA 2013, dan 12 cerita pendek di sini memberiku pengalaman baru. Pertama karena pengarangnya baru kali ini kubaca karyanya, dan kedua karena setting ceritanya yang banyak mengangkat budaya dan kehidupan tradisional Sumatra Barat, selain realita-realita sosial yang tersampaikan melalui kisah-kisah ini.

Mulai dari cerpen pertama di kumcer ini, Kulah, aku sudah dikejutkan dengan endingnya. Awalnya kukira ini akan jadi cerita seram penuh dengan kepercayaan kuno yang tidak logis. Lalu tiba-tiba, dalam dua paragraf terakhir, kisah diputar balikkan menjadi masalah lingkungan hidup, tentang kondisi alam dan masyarakat desa yang tercemari.

Meskipun demikian, ada juga cerpen-cerpen yang benar-benar bernuansa mistik. Orang Bunian mengisahkan pengalaman seseorang yang memasuki alam "sumangaik" dan melihat perwujudan binatang buruannya yang hampir mati meraung tak ingin meninggalkan anaknya. Atau Liang Harimau yang menceritakan tentang seorang "urang Rawayan" yang meninggalkan kewajibannya dalam upacara tradisional dan berakhir tragis dikejar-kejar Maung (Harimau) dalam bayangan rasa bersalahnya (cerpen ini sedikit mengingatkan pada novel Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, meskipun hanya dalam setting dan latarnya).

Tema hormat dan kewajiban pada orang tua beberapa kali diangkat. Selain dalam Melihat Ibu, ada pula Bulan Setempayan. Kisah ini unik dan sedikit ironis, karena pada akhirnya sikap yang dimaksud penuh penghormatan malah berbalik menjadi rasa kesia-siaan di mata sang Ibu. Cerpen Kaki yang Terhormat yang menjadi judul kumcer ini juga menyoal tentang seorang Ibu yang tak pernah ditengok oleh anak bungsunya yang merantau dan sukses besar di Ibukota, namun akhirnya ditimpa celaka. Di sini sang Ibu menyalahkan sang putra karena tidak lagi menggunakan 'Kaki yang Terhormat'.

"Kau tahu apa sebenarnya yang membuat Mak Etek-mu celaka?"

"Karena ia tak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya mau dengan kendaraan, di atas helikopter itu saja."

Sebuah metafora kaya makna, saat pembaca kemudian disadarkan bahwa di sini "kaki" ini bersinonim dengan "ibu". Saat si anak sudah tak menghormati kakinya (ibunya) ia pun menjadi celaka. Aihh... kisah Malin Kundang versi kontemporer ini.

Satu cerpen favoritku, adalah Kak Ros. Tema cerita ini unik sekali, tentang seorang perempuan yang dari luar tampak lemah lembut dan keibuan.... tapi ternyata.... psikopat! Nggak nyangka... XD

Sebuah kumpulan cerpen yang mengulik berbagai tema, semuanya disajikan dengan cermat, kadang dengan ending yang tak terduga, kadang seluruh ceritanya adalah metafora tak terduga. Sayang kumcer ini hanya berisi 12 cerpen saja. Aku masih belum puas menikmatinya dan jadi pengin baca kumcer-kumcer Gus tf Sakai yang lain.



Tentang Pengarang:

Gustafrizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai, lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965, Nama pena Gus tf Sakai digunakan kalau ia menulis prosa, sedangkan Gus tf digunakan jika ia menulis puisi.

Kaki yang Terhormat adalah kumpulan cerpen yang memuat cerpen-cerpen realis Gus tf Sakai dalam masa 25 tahun kepengarangannya, mulai dari “Bulan Setempayan” yang ia tulis saat berusia 19 tahun dan memenangi sayembara menulis cerpen di sebuah majalah, sampai cerpen “Kaki yang Terhormat” yang terpilih sebagai salah satu Cerita Pendek Pilihan Kompas 2009. 

Kumpulan cerpennya, Perantau terpilih sebagai fiksi terbaik pilihan pembaca Ruang Baca Koran Tempo 2007 dan meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2007. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002) dan menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (2004).


100 Hari Membaca Sastra Indonesia







https://www.goodreads.com/review/show/1328057015
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget