Tampilkan postingan dengan label Okky Madasari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Okky Madasari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Pasung Jiwa


Judul: Pasung Jiwa
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9669-3
Jumlah Halaman: 328 halaman
Penerbitan Perdana: 2013
Literary Awards: Khatulistiwa Literary Award Nominee for Prosa - shortlist (2013)



Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Atau mungkin seluruh hidup kita adalah perangkap, dan kita semua adalah jiwa-jiwa yang terpasung dalam kaidah etika, norma, budaya, agama, aturan, tatanan, kebiasaan, harapan orang tua, pandangan masyarakat, tekanan finansial, kekuasaan dan uang, pemerintah, hukum, apapun, semuanya. Novel Pasung Jiwa ini mengulik tema tersebut dengan cara yang sangat menggugah, dengan mengupas dua karakter yang sama-sama limbung dalam kerangkeng kehidupan. Yang satu adalah Sasa, seorang wanita yang terperangkap dalam tubuh lelaki, yang lain adalah Cak Jek, sosok orang biasa yang luar biasa gelisah melihat segala ketidakberdayaan orang-orang lain yang dikenalnya.

Minggu, 06 Oktober 2013

Maryam


Judul: Maryam
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792280098
Jumlah Halaman: 280 halaman
Penerbitan Perdana: Februari 2012
Literary Awards: Khatulistiwa Literary Award for Fiksi (2012)





Dari sinopsis:
Tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.
Lombok, Januari 2011
Kami hanya ingin pulang. Ke rumah kami sendiri. Rumah yang kami beli dengan uang kami sendiri. Rumah yang berhasil kami miliki lagi dengan susah payah, setelah dulu pernah diusir dari kampung-kampung kami. Rumah itu masih ada di sana. Sebagian ada yang hancur. Bekas terbakar di mana-mana. Genteng dan tembok yang tak lagi utuh. Tapi tidak apa-apa. Kami mau menerimanya apa adanya. Kami akan memperbaiki sendiri, dengan uang dan tenaga kami sendiri. Kami hanya ingin bisa pulang dan segera tinggal di rumah kami sendiri. Hidup aman. Tak ada lagi yang menyerang. Biarlah yang dulu kami lupakan. Tak ada dendam pada orang-orang yang pernah mengusir dan menyakiti kami. Yang penting bagi kami, hari-hari ke depan kami bisa hidup aman dan tenteram.
Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu?
Maryam Hayati

Tema besar dari novel ini adalah tentang penindasan kelompok minoritas oleh masyarakat umum dengan mendasarkan atas nama Agama. Yang jadi masalah adalah ajaran Ahmadi sedangkan tokoh-tokohnya adalah sebuah keluarga terpandang di sebuah kampung di pelosok Pulau Lombok. Maryam adalah putri pertama keluarga ini, yang setelah menyelesaikan kuliahnya di Surabaya, mendapatkan pekerjaan di kota Jakarta. Di sana ia menjalin kasih dengan seorang pria yang bukan pengikut Ahmadiyya. Saat nekat menikah dengan pria itu, Maryam pun terasingkan oleh keluarganya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget