Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

The Wind Leading to Love


Judul: The Wind Leading to Love
Judul Asli: 風待ちのひと - Kaze-machi no Hito
Pengarang: 伊吹有喜 - Ibuki Yuki
Penerbit: Penerbit Haru (2015)
ISBN: 9786027742475
Jumlah Halaman: 342 halaman
Penerbitan Perdana: 2009




Lihat sinopsis
Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.


Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi….


Ini cerita cinta orang-orang dewasa, yang sudah ruwet dipenuhi tanggung jawab dan dibebani rasa sesal serta kelelahan. cinta bukan lagi sesuatu yg selalu berasa manis, tempat menjatuhkan diri dengan segenap hati, karena tokoh-tokoh di sini sudah demikian sadar akan rasa pahit yg selalu mengikutinya....

"Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."
"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan."


Kaze-machi no hito secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai "orang yang menunggu angin", dan itulah yang dikatakan Fukui Kimiko kepada Suga Tetsuji tentang dirinya saat ia secara tidak langsung mengatakan bahwa hidupnya sudah tersia-sia. Tetsuji yang sedang dilanda depresi berat mencoba mencari kedamaian di Miwashi, sebuah kota kecil di pesisir pantai Propinsi Kii. Di situ ia mendatangi rumah besar milik ibunya yang baru saja meninggal yang harus dibereskan sebelum dijual. Di kota itu pulalah ia bertemu dengan Kimiko, seorang wanita yang banyak bicara namun menyimpan keanggunan tersendiri dalam membawakan dirinya.

Suga Tetsuji adalah seorang karyawan di sebuah bank di Tokyo. Sudah lama hubungannya dengan ibunya memburuk akibat kondisi kesehatan dan pikiran sang ibu yang semakin menurun dan akhirnya malah melupakan Tetsuji dan almarhum Ayah Tetsuji (yang merupakan suami keduanya) dan malah hanya teringat pada suami pertamanya yang meninggal berpuluh tahun sebelum Tetsuji lahir. Saat akhirnya sang ibu meninggal, Tetsuji malah merasa bersalah karena tidak cukup lama mendampingi di saat-saat terakhirnya. Tetsuji bertambah beban pikiran lagi saat ia mendapati istrinya yang sangat kompetitif dan jaim, berselingkuh dengan pria lain yang lebih sukses darinya. Walaupun kemudian mengakui kesalahannya dan tidak mau diceraikan dengan alasan demi anak mereka, tapi Tetsuji telah patah arang dan terkena depresi berat, sampai-sampai diperintahkan dokter untuk mengambil cuti besar dari pekerjaannya sepanjang musim panas itu.

Di lain pihak, Fukui Kimiko adalah seorang wanita yang tampak tanpa beban, selalu tertawa dan tak pernah kehabisan bahan obrolan. Ia juga suka menumpang mobil-mobil truk yang lewat pesisir Kii dengan bayaran memotong rambut para sopirnya. Unik sekali. Suatu malam Kimiko tak sengaja "menyelamatkan" Tetsuji yang hampir tenggelam di pantai. Berawal dari kebetulan ini, Kimiko perlahan-lahan masuk dalam kehidupan Tetsuji, secara tak langsung memberinya semangat dan harapan baru, dan mengingatkannya kembali akan kehidupan yang masih berlangsung.

Namun sebenarnya hubungan ini tidak berlangsung searah saja. Lewat musik-musik klasik yang diajarkan Tetsuji kepada Kimiko, luka hati Kimiko juga pelan-pelan terobati. Ternyata Kimiko pernah memiliki putra yang sangat berbakat menjadi pianis, namun karena keretakan rumah tangga Kimiko dan almarhum suaminya, putranya ini suatu hari bermain-main di pantai hingga malam dan tewas terseret arus dalam. Dalam musik klasik dan opera, Kimiko serasa mendapatkan kembali hubungannya dengan sang putra dan akhirnya mampu merelakan kepergiannya

Hubungan persahabatan antara Kimiko dan Tetsuji kemudian tanpa disadari telah berubah menjadi hubungan cinta, namun beban-beban kehidupan dan tanggung jawab keduanya masih terus mengganduli pundak mereka. Hingga kemudian Kimiko mengambil keputusan penting bagi keduanya.... ah....



Kisah cinta yang menarik, dengan alur sederhana dan cerita yang terjaga ritmenya. Yang paling kusukai di sini adalah bahwa kedua tokoh utamanya bukan lagi anak-anak muda, tapi pria dan wanita setengah baya yang sudah merasakan pahit getir kehidupan berumah tangga. Novel ini seakan-akan berkata, "ayo, berikan cinta kesempatan sekali lagi". #eaaaak jadi ingat Dorama Fuyu no Sakura... *colek kak Lila di My Book Corner, teman baca bareng buku ini*
Bahwa kepahitan hubungan sebelumnya sebenarnya adalah pelajaran untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Baik Tetsuji maupun Kimiko digambarkan sangat realistis memandang masa depan mereka. Kisah mereka sama sekali gak sempat bergalau-galau, dan kadar keromantisan keduanya berbeda sekali jika diukur dengan cara biasa. Walau sangat nyaman berdua, mereka malah sedikit terlalu memikirkan status dan kepantasan malah. Namun pada akhiiiiirnya, dorongan dari sang Madam pemilik rumah makan di Miwashi membuat Tetsuji berani menerobos semua itu dan berjuang kembali.

Endingnya soo sweeeet... tapi adegan puncaknya ala sinetron sekaliiii, pake acara jalan kemalaman dan berhujan-hujanan. ;p
Tapi untunglah, akhir yang happy end, menutup kisah Tetsuji-Kimiko dengan manis, dan kehidupan berjalan terus...., hanya saja sekarang para supir truk kehilangan Peko-chan yang selama ini setia menggunting rambut mereka dan membawa keberuntungan  :D



Sebagai catatan saja, novel ini ditranslasikan dengan sangat apik oleh penerbit Haru, langsung dari bahasa aslinya dan istilah-istilah yang perlu penjelasan juga ada footnote-nya. Jadi rasa-rasa jepunnya masih hangat terasa. Suka sekali. Semoga Penerbit Haru terus menerbitkan novel-novel oriental kontemporer seperti ini. *jempol* Untuk covernya. khas Haru sekali. Warna-warna pastel seperti lukisan cat air yang mengambil tema dari isi kisahnya. Cantik dan teduh, (meskipun aku jadi suka tertukar-tukar antara buku ini dan buku yang ini).*dua jempol*


Tentang Pengarang:


伊吹有喜 Yuki Ibuki (1969 – ) lahir di Prefektur Mie and setelah lulus Universitas bekerja sebagai editor majalah di sebuah perusahaan penerbitan sebelum akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan menjadi penulis freelance.

Tahun 2008 ia terpilih menjadi pemenang Poplar Publishing Prize for Fiction, Special Award, untuk novel Kaze-machi no hito (Waiting for Fair Winds/Wind Leading to Love) ini. Novel keduanya, Shijukunichi no reshipi (Mourning Recipe), menjadi bestseller dan dibuat miniseri untuk televisi dan film.

Karya berikutnya Nadeshiko monogatari (Where Pinks Bloom), juga banya diperbincangkan, dan novel terbarunya Middonaito basu (Midnight Bus), dinominasikan baik untuk Yamamoto Shugoro Prize dan Naoki Prize, dua penghargaan penulisan bergengsi di negeri Jepang.



Reading Challenge:

JapLit RC 2016 



https://www.goodreads.com/review/show/1543424537

Minggu, 31 Januari 2016

Hujan



Judul: Hujan
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 9786020324784
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2016




Lihat sinopsis
Tentang persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan

Seperti yang pernah ku-share di sini, beberapa waktu lalu aku sempat ingin sekali membaca novel ini. Pokoknya semenjak lihat melihat penampakannya pertama kali, aku sudah ter-cover lust dan ter-judul lust. Hujan memang satu hal selalu bikin moodku jadi baik, entah kenapa. Novel berjudul Hujan yang dikarang Tere Liye?? Tentu langsung masuk daftar buruan.


Karena blurpnya tidak memberikan apapun tentang ceritanya, aku juga tidak mengharapkan sesuatu, apa pun. Apalagi si pengarang juga sudah pernah menulis berbagai genre, dari YA fantasy sampai romans keluarga, dari kisah cinta sampai cerita tukang jagal nomer satu. Jadi begitu dapat bukunya, langsung skimming-skimming, daaaaaan... ternyata ini kisah cinta dibalut cerita doomsday sci-fi. Baiklah... mari mulai kita membaca....

*gak bisa berhenti baca*

*tetep gak bisa berhenti*

*sesak napas bareng Lail, menunggu kabar dari Esok*

*selesaaaaai* *ah, LEGANYA*



Kisahnya campuran nyaman dari (2012 + Eternal Sunshine of the Spotless Mind + legenda Tanabata + Wall-E + Deep Impact), tapi dengan penceritaan yang bikin mewek dan twist di ending yang lumayan surprising. Dibuka di tahun 2050, dengan tokoh Lail yang ingin menghapus sebagian memori-nya, terutama memori tentang hujan. Saat sang terapist membuat Lail bercerita tentang memori-memorinya ini, pembaca diajak mengikuti kisah Lail, sejak awal bencana yang menimpa bumi dan membuat Lail yatim piatu, pertemuannya dengan Esok, perpisahannya, janji pertemuan yang hanya setahun sekali, hingga suatu rahasia besar yang dibawa Esok yang menentukan nasib mereka berdua (beserta nasib seluruh umat manusia di Planet Bumi ini *no kidding!*)


Bacaan ringan yang amat menyenangkan... asal jangan dipikirkan terlalu susah-susah. Dinikmati sajalah, anggaplah ini film hollywood durasi 95 menit yang semua tokohnya berkapasitas jadi pahlawan, mampu mengatasi semua kesulitan, bernasib baik dan segalanya berakhir manis.

Meskipun sudah kukatakan seperti itu, tapi tetap ada beberapa hal yang tetap mengganjal hatiku. Misalnya, semua kisah ini diceritakan dari sudut pandang Lail. Oke, ceritanya memang mengalir, dan ini memang tentang Lail... tapi akibatnya, semua karakterisasi tokoh lain jadi terasa setipis kertas. Maryam, misalnya. Tokoh kribo yang kocak ini sebenarnya bisa banyak mencuri lime-light dari Lail, jika diberi porsi sedikit lebih intens. Dari mana asalnya, bagaimana kisahnya hingga menjadi yatim piatu, bahkan sebelum bencana besar, latar belakangnya dan interaksinya dengan tokoh-tokoh lain. Seperti kejadian taksi terbang itu lo, bikin ngakak pol walau cuma dalam beberapa kalimat saja. Demikian pula dengan si tokoh utama pria, Esok a.k.a si ilmuan muda jenius Soke Bahtera. Aku ingin tahu apa yang ada di kepala - dan hatinya - di beberapa bagian cerita novel ini. Apakah ia memang sekuat yang digambarkan oleh Lail, atau ia juga membawa kisah-kisah duka dan bebannya sendiri. Suara Esok jelas nyaris tidak terlihat sama sekali sepanjang kisah. *I want more Soke Bahtera, pleaaaase*

Selain itu aku juga merasa bola cerita digelindingkan terlalu cepat. Sehabis didera bencana sedemikian dahsyat - letusan gunung berapi skala 8 VEI (silakan google sendiri), tetapi manusia-manusianya "sembuh" terlalu cepat, kota pulih terlalu cepat, tanaman tumbuh kembali terlalu cepat, bahkan teknologi juga mengalami kemajuan amat sangat pesat dalam hitungan beberapa tahun saja. Memang sih ini semua ceritanya terjadi sekian puluh tahun dari sekarang, jadi mungkin saja teknologi saat juga sudah mampu untuk menopang itu semua.... mungkin.... *tapi sebenernya masih gak yakin sih*


Sepanjang cerita, aku sempat berkali-kali tidak setuju dengan keputusan Lail untuk menghilangkan memori-memorinya yang menyakitkan. Karena memori adalah waktu, *ter-Den-O sekali aku ini* dan bagaimana bisa mengilangkan memori yang menyakitkan tanpa juga menghapus semua memori yang hangat dan menyenangkan. Memori tentang seseorang yang pernah hadir dan membentuk jati diri kita sekarang, yang pernah kita cintai dan mencintai. Ah.... tapi ending kisahnya mampu menjawab keberatan-keberatanku semua. Lega dan puas rasanya saat akhirnya menutup cover belakang buku ini.

Yah, intinya novel Hujan sedikit lebih berat ke kisah romansa antara Lail dan Esok, hanya saja dalam balutan kisah scifi. Tentang persahabatan mereka, tentang perpisahan mereka, tentang cinta mereka... dan tentang melupakan. Juga tentang hujan yang mungkin tak kan jatuh lagi.

Moral of the story:
you REAAAALLY don't wanna mess with mother nature!!





Reading Challenge:




https://www.goodreads.com/review/show/1503595107

Jumat, 22 Januari 2016

3 (Tiga)



Judul: 3 (Tiga)
Pengarang: Alicia Lidwina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 9786020316772
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2015




Lihat sinopsis
“Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.”

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah perempuan itu bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura tidak pernah menepati janjinya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus kembali berhadapan dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

Bayangkan jika suatu malam, kau mendapatkan telepon dari polisi yang mengabarkan salah satu sahabat karibmu telah mengakhiri hidupnya sendiri. Bukan sekedar teman atau kenalan, tapi sahabat lama sejak masa kanak-kanak, tumbuh besar bersama, berbagi kenangan masa sekolah, bahkan tinggal berbagi rumah selama masa kuliah. Sahabat di mana sebuah impian pernah dibagi dan tiga buah janji pernah dibuat.

Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.
...

Hanya orang-orang yang impiannya sudah rusak, hancur, dan binasa yang akan melakukan tindakan menyedihkan seperti bunuh diri.

Telepon semacam itulah yang mengawali kisah Nakamura Chidori di novel ini. Hashimoto Chihiro telah bunuh diri dengan hanya meninggalkan goresan angka 3 dari lipstik merah manyala di atap gedung tempatnya meloncat. Dari sini kisah sepi Nakamura dan kedua sahabatnya, Hashimoto dan Sakamoto dijabarkan, melompat-lompat dari waktu satu ke waktu lainnya, lampau dan sekarang. Kisah persahabatan tulus namun aneh antara seorang yang merasa dirinya biasa-biasa saja, dengan seorang jenius pendiam dan seorang atlet pelajar populer, tentang belajar menjadi dewasa bersama, tentang pilihan-pilihan sulit yang mereka buat, kesalahan-kesalahan yang sengaja dan tak sengaja dilakukan, rasa cinta tak kesampaian dan rasa takut kehilangan yang sulit mereka atasi. Semuanya mengalir tenang terkendali, namun menyisakan riak-riak kekecewaan terpendam... yang akhirnya meledak dengan konsekuensi mengerikan. Dan kemudian Nakamura harus berhadapan dengan hantu-hantu masa lalunya, yang sudah ia pendam dalam-dalam.

Sampai hujan datang.

Sampai langit tampak begitu dekat.

Sampai burung-burung terbang,
       karena merekalah makhluk yang paling dekat dengan langit.



Membaca novel ini, aku benar-benar terkejut. Tapi terkejut dalam artian sebaik-baiknya, karena aku tidak menyangka... membaca metropop lokal, berharap mendapat cerita ala sinetron, eh dapatnya malah cita rasa novel Jepang yang dalam dan menggigit. Muram tapi indah. Tema persahabatan yang hangat tapi diceritakan dari sudut pandang seorang yang benar-benar kesepian dalam hatinya. Novel ini jelas mengelabuiku. :)

Ketiga karakter utama dalam novel ini, Nakamura, Hashimoto dan Sakamoto, digambarkan dengan detail dan indah. Masing-masing dengan lapis demi lapis kesedihan, yang kadang-kadang tak perlu lagi dikatakan, tapi hanya dengan tatapan mata dan gestur tubuh yang berulang, seperti saat-saat Nakamura hanya dapat melihat bahu Sakamoto dari belakang, atau bau rokoknya. Atau Sakamoto yang begitu menaruh perhatian pada Nakamura hingga menyuruh pelayan restoran tempat pernikahannya hanya menyediakan air putih kepadanya. Atau kebiasaan Hashimoto untuk melahap Furikake Gohan untuk menenangkan segala gejolak yang terjadi di antara mereka. Hal-hal kecil, personal, dan merupakan priviledge seorang sahabat sejati untuk mengetahuinya. Itu semua menjadikan cerita ini sangat spesifik tentang mereka, tapi juga sangat dekat untuk terjadi pada setiap pembacanya.

**dan saat sampai di bagian perpisahan mereka bertiga setelah kelulusan, aku jadi benar-benar teringat lagu Satsugyo-nya Crude Play, khususnya pas bagian lirik "waratte iyou ze / oretachi wa oretachi wo / sotsugyou shinai kara," tetap saja tersenyum, kita tak akan pernah lulus dari menjadi diri kita sendiri**

Pada akhirnya, sejauh apapun Nakamura mengelak, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Dengan memori-memori masa lalunya, dengan penyesalan-penyesalannya juga dengan cinta yang lama terpendam, setua dan sedalam persahabatan mereka sendiri.

Karena cinta itu candu, tapi cinta juga kesembuhan.

Cinta adalah penjara, cinta adalah mendambakan.

Cinta memperhatikan, cinta mengejar.

Tapi cinta juga menunggu, cinta juga memaafkan.


Kematian Hashimoto bukan saja menyisakan duka mendalam bagi Nakamura dan Sakamoto, tapi juga pesan indah untuk meneruskan mencapai impian mereka. Bagiku, masih tersimpan misteri besar serusak, hancur, dan binasa apakah impian Hashimoto hingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Tapi mungkin saja, bunuh diri ini satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan. Pedih memang. Namun kisah ini mampu mengaduk-aduk perasaan pembacanya (aku) tanpa menjadikannya tears jerking.
*Sangat mengingatkanku pada gaya penulisan Kazuo Ishiguro yang juga selalu tenang tapi pilu itu lho. Keren euy.*

Ini jelas bukan cerita fan fiction yang lebay max. Ini kisah indah tentang pertemuan, janji, impian, persahabatan dan perpisahan yang dijalin indah. Mungkin cerita ini terjadi di Tokyo abad 21, tapi bisa saja terjadi di mana saja kapan saja, saat benang merah takdir mempertemukan kita semua dengan para sahabat sejati.


Notes: aku baru kali ini mendengar nama sang pengarang, dan sempat kucari-cari di internet tentangnya, tapi belum banyak yang inpoh kudapat. Jadi, maafkan daku Alicia Lidwina, tampaknya mulai sekarang aku akan banyak meng-stalker akun twitter-mu dan juga sering-sering menyambangi blogmu -yang isinya teramat unik- itu. kepo. kepo. kepo. :) :) :)






https://www.goodreads.com/review/show/1517934669

Jumat, 29 Agustus 2014

Hujan dan Cerita Kita


Judul: Hujan dan Cerita Kita
Pengarang: Stephie Anindita
Penerbit:  Bentang Pustaka (2014)
ISBN: 978-602-29-1048-0
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: Juli 2014

Sinopsis


“Echa, hujan!” Aku memanggil nama itu, menoleh, melihatnya, dan seketika tubuhku membeku.

Hujan yang menderas tapi hatiku kian panas. Aku berdiri kaku, mengepalkan tangan, mencoba untuk menghilangkan gemetar tubuh yang aku yakin tidak ada hubungannya dengan udara dingin.

Ya Tuhan ..., buat apa aku diundang ke sini? Untuk menyaksikan mereka bersama dan membiarkan hatiku terhempas bersama hujan?

Bagus.... Ternyata begini rasanya menjadi pacar tak dianggap. Lantas apa gunanya segala pengorbananku padanya selama ini, kalau dia meninggalkanku di bawah hujan?

Sendirian.

Hujan.
Hujan memang bisa meluluhkan hati, membuat momen 'biasa' seperti berpayung berdua jadi super romantis, tapi hujan juga bisa membakar emosi dan meledakkan tangis.

Ini hujan dan cerita Vania.

Sabtu, 03 Mei 2014

Cinta. (baca: cinta dengan titik)


Judul: Cinta. (baca: cinta dengan titik)
Pengarang: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune (2013)
ISBN: 602-220-1098
Jumlah Halaman: 324 halaman
Penerbitan Perdana: 2013





"Jika detik menjelma peluru dan rindu adalah sisa mesiu, seberapa panjang waktu bisa menyelamatkan kau dan aku?" (h.259)

Berawal dari event Ulang tahun BBI kemarin, ternyata para pemenang Giveaway di blogku ini, dua-duanya, memilih karya Bernard Batubara, meski katanya ga janjian. Jadi aku kepo juga pengin baca. Akibatnya novel ini kupilih untuk kubaca dalam satu hari minggu yang tenang.

Jumat, 28 Februari 2014

Kelas Memasak Lilian


Judul: Kelas Memasak Lilian
Judul Asli: The School of Essential Ingredients
Pengarang: Erica Bauermeister
Penerbit:  Bentang Pustaka (2009)
ISBN: 978-979-12-2774-2
Jumlah Halaman: 231 halaman
Penerbitan Perdana: 2009
Literary Awards: Goodreads Choice Nominee for Fiction (2009)



Empat bintang bukan karena ceritanya amat sangat bagus, tapi lebih karena aku sukaaa... Awalnya kukira akan mendapatkan novel berempah berat layaknya seporsi kari seperti di Mistress of Spices. Tapi ternyata tidak. Membaca ceritanya berasa seperti menonton film Love Actually hanya saja settingnya di dapur sebuah restoran terkenal dan dengan dikelilingi sekian banyak bahan, bumbu, rempah, saus yang nikmat, kue dan manisan. Alur kisahnya tentu tidak jelek. Sembilan buah potongan kisah yang mengalir tenang, jalin-menjalin, memperlihatkan seorang guru memasak dengan delapan muridnya, dengan problematikanya masing-masing. Ringan, manis, dengan banyak lapisan yang semuanya berakhir indah layaknya sepotong kue tiramisu di sore hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget