Tampilkan postingan dengan label Crime Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime Fiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Pertarungan Logika Kriminal antar 2 Jenius

Judul: Kesetiaan Mr. X
Judul Asli: 容疑者Xの献身 - Yōgisha X no Kenshin
Seri: Detective Galileo #3
Pengarang: 東野 圭吾 - Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 9786020330525
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Naoki Prize (2005), Edgar Award Nominee for Best Novel (2012), Honkaku Mystery Award for Best Fiction (2006), Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year (2006) and more



Lihat sinopsis
Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.



Ini salah satu cerita crime-fiction yang ceritanya tidak malu-malu mengikuti perjalanan tokoh si pembunuh, dan meskipun faktor "siapa" dan "mengapa"-nya sudah dibuka jelas sejak awal, tetapi masalah "bagaimana"-nya masih tetap tersimpan rapi sebagai misteri hingga halaman hampir terakhir. POV yang demikian tentu saja membuat banyak-banyak simpati pembaca terbelah kepada si pembunuh, disertai rasa penasaran bagaimana nanti polisi akan membongkar kejahatan yang sudah diatur sedemikian mendetail oleh otak seorang jenius matematika.

Aku sendiri, meskipun sudah pernah menonton versi adaptasi filmnya, tetap sangat menikmati perjalanan para detektif polisi yang menguraikan satu per satu jebakan alibi dan tipuan yang melingkupi kasus pembunuhan Shinji Togashi, lelaki brengsek mantan suami Yasuko Hanaoka. Sekilas, aku bahkan berharap polisi akan menghentikan penyelidikan setelah pemeriksaan pertama alibi Yasuko. Dan itu bisa saja terjadi... kalau saja Yukawa Manabu tidak secara tak sengaja tercebur dalam kasus ini. Saat mengetahui tetangga Yasuko adalah Ishigawa Tetsuya, Yukawa-sensei tak bisa menahan rasa kangen dan ingin menemui mantan rivalnya di departemen Matematika dulu di universitas. Dari pertemuan ini, sedikit Yukawa-sensei memahami apa yang terjadi pada Ishigawa, dan dari situ dimulailah kembali pertarungan antara dua jenius ini, dengan taruhan nasib Ishigawa sendiri.

"Mana yang lebih hebat, orang yang menciptakan soal yang sulit, atau orang yang mampu menjawabnya?"

Pertanyaan yang menggelitik. Akhirnya memang Yukawa-sensei mampu menjawab soal dari Ishigawa-sensei, namun siapa yang lebih hebat dari mereka? Yang pasti, kesetiaan seorang Ishigawa Tetsuya pada Yasuko memang tak bisa dipertanyakan lagi.

Lalu, yang paling aku suka dari novel ini, adalah beberapa bagian di novel yang dengan halus tapi dalam mengungkapkan kegalauan Yukawa-sensei dalam pengungkapan kasus ini. Tanpa jawaban penjelasan dari dirinya, sudah pasti kasus pembunuhan ini akan mendingin tanpa penjelasan, tetapi tentu saja rasa keadilan dalam dirinya tak dapat membiarkan hal tersebut. Bagaimana ia harus bersikap saat sahabat dan satu-satunya rival yang dianggapnya sepadan, terjerumus dalam lubang dalam tanpa jalan keluar....

Ini salah satu novel crimefic yang berakhir begitu getir, sampai sering aku berharap ada alternatif ending yang lebih membahagiakan.


That being said, harus pula kukatakan, Higashino-sensei, Anda hebat.... *membungkuk hormat*

((kalau novel-novelnya seperti ini, aku jadi mupeng berat baca Det. Kaga, terutama yang The Wings of the Kirin 麒麟の翼. Yakin kasusnya njelimet dan endingnya bakal bikin mewek juga itu... terjemahin juga dunk, GPU, plisss...))

Edisi bahasa Indonesia novel ini seeeeep betul dah. Pertama, karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, jadi rasa dan kesannya masih asli, tidak terdistraksi oleh double-translation. Kedua karena terjemahannya sendiri sangat mengalir dan enak sekali dibaca (mbak Faira, 2 jempol!!). Dan ketiga, covernya cantik sekali. Boneka Daruma yang melambangkan Ishigami dilatari warna merah cerah, plus judulnya yang dituliskan dengan huruf kanji. Gak kalah dari ilustrasi cover asli ataupun edisi terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Aku. Suka.


The Movie
Novel Yōgisha X no Kenshin telah diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, dibintangi oleh Shinichi Tsutsumi sebagai Ishigami Tetsuya dan Masaharu Fukuyama sebagai Yukawa Manabu, plus detektif cantik Kaoru Utsumi yang diperankan oleh Kou Shibasaki, tokoh tambahan yang aslinya tidak ada di novel. Kisahnya cukup setia pada kisah novelnya, bahkan banyak dialognya diadaptasi sama persis dengan aslinya.

Yōgisha X no Kenshin Movie Poster


Meskipun novel ini yang pertama diangkat menjadi film layar lebar, adaptasi seri yang menampilkan tokoh utama Asisten Profesor Fisika Yukawa Manabu dimulai dari dorama 10 episode berjudul Galileo dan prekuelnya, sebuah film televisi berjudul Galileo: Episode Zero.

Sebagai film lepas, tentu saja intrik dan detail rencana si Suspect X ini dapat dinikmati dan dikagumi tanpa harus menonton kedua pendahulunya. Kisah novel dan film ini memang bertumpu pada tokoh utamanya, Ishigami yang jenius namun mengenaskan. Namun menurutku, kegalauan Yukawa Manabu, si lawan yang sepadan bagi Ishigami tersebut, hanya bisa dirasakan jika penontonnya sudah lebih mengenal karakter Yukawa-sensei yang (biasanya) super tenang, logis dan dingin, yang berarti ya... dengan menonton doramanya terlebih dahulu.

Selain ketiga adaptasi itu, masih ada Season 2 dorama Galileo ini (10 episode) dan 2 film televisi lain, Galileo XX dan Galileo: Midsummer's Equation. Ada pula versi Korea dari cerita yang sama, berjudul Perfect Number/Suspect X.

Source:
http://asianwiki.com/The_Devotion_of_Suspect_X
http://asianwiki.com/Galileo


Tentang Pengarang:
Keigo Higashino (東野 圭吾 Higashino Keigo, 4 Februari 1958 - ) adalah penulis Jepang yang terkenal untuk novel-novel misterinya. Setelah lulus dari Osaka Prefecture University sebagai Bachelor of Engineering  dalam bidang Electrical Engineering, ia mulai menulis novel sementara masih bekerja sebagai insinyur pada Nippon Denso Co. mulai 1981. Tahun 1985 ia memenangkan penghargaan tahunan Edogawa Rampo Award, untuk novelnya Hōkago (After School). Ia lalu memulai kariernya sebagai penulis penuh.

Di tahun 1999, novelnya yang berjudul Naoko memenangkan Mystery Writers of Japan Award. Tahun 2006 ia kembali memperoleh penghargaan bergengsi, yaitu 134th Naoki Prize untuk novel masterpiece-nya Kesetiaan Mr. X (Devotion of Suspect X - Yōgisha X no Kenshin). Sebelumnya, sudah 5 buah novelnya yang dinominasikan untuk penghargaan ini. Novel ini juga memenangkan Honkaku Mystery Award dan Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year dan Japanese Booksellers Award Nominee di tahun yang sama. Versi terjemahan Bahasa Inggrisnya masuk nominasi Edgar Award for Best Novel 2012 dan 2012 Barry Award for Best First Novel.

Higashino-sensei tidak hanya menulis novel misteri. Ia juga sering menulis essai dan buku anak-anak. Banyak sekali karya novelnya yang sudah dipindah-mediakan, baik sebagai seri televisi, film televisi maupun film layar lebar.

Source:
https://en.wikipedia.org/wiki/Keigo_Higashino
http://asianwiki.com/Keigo_Higashino




https://www.goodreads.com/review/show/1716502559

Kamis, 04 Agustus 2016

Kisah Mata Merah Menyala yang Istimewa


Judul: Psychic Detective Yakumo - The Red Eye Knows
Judul Asli: 心霊探偵八雲1 赤い瞳は知っている - Shinrei Tantei Yakumo 1 Akai Hitomi wa Shitte Iru
Pengarang: 神永学 - Kaminaga Manabu
Penerbit:  PT Gramedia (m&c!) (2016)
ISBN: 9786023398706
Jumlah Halaman: 360 halaman
Penerbitan Perdana: 2004



Lihat sinopsis
Untuk berkonsultasi mengenai temannya yang terlibat dalam peristiwa aneh, Haruka mengunjungi "Asosiasi Peneliti Film" karena mendengar kabar tentang keberadaan lelaki yang memiliki kekuatan spiritual di sana. Namun, yang dijumpainya justru seorang anak muda kurus dengan pandangan mengantuk dan rambut acak-acakan. Apakah Haruka akan berhasil melakukan konsultasi sesuai yang direncanakannya?!

Yakumo Saitou, anak muda yang memiliki kemampuan melihat arwah orang mati berkat mata kirinya yang berwarna merah, menghadapi berbagai kasus aneh dengan gaya yang nyentrik. Kasus penyiksaan dan pembunuhan mehasiswi, terowongan berhantu, dan pembunuhan dengan famuflase bunuh diri.... Semua berhasil dipecahkannya dengan baik! Namun, ada sesosok misterius yang membayanginya...


OK, quick confession.
Aku sudah lope-lope sama yang namanya Yakumo ini sejak duluuu, saat pertama kali baca manga versi Oda Suzuka (edisi scanlation gratisan pula). Kombinasi karakter selengekan tapi dependable ini, plus ilustrasi tokoh yang guanteng banget dari Oda bikin aku betah menikmatinya. Padahal manga genre horor seperti ini biasanya sedikit di luar zona nyaman bacaku.

Sempat hiatus cukup lama, sampai aku juga lupa, tahu-tahu teringat saat melihat m&c! mengeluarkan kembali tankubon terbaru manga edisi terjemahannya. Lah, ternyata sudah vol. 10. Sedangkan terakhir baca mungkin baru pertengahan vol. 8. Mau ikutan koleksi, sudah agak sulit mencari yang lengkap. Mau baca scanlation lagi, malu. #halah! #nggaya!  Nah, kok habis itu malah lihat edisi light novel originalnya juga akan diterbitkan. Ini penerbit memang mau ngajak nipisin isi dompet yak.

Di saat itu aku malah jadi tertarik menonton versi animenya. Ngopilah aku 13 episode anime ini dari sumber terpercaya *uhuk*kak lila*uhuk* Lumayan puas nonton ending versi anime, tapi itu malah bikin jadi bener-bener pengin baca novel n koleksi manga-nya. Manganya tetep belum kesampaian, tapi novelnya ini akhirnya berhasil kudapatkan dengan harga diskon plus plus. Begitu paketnya sampai langsung ngebut dibaca, daaaan... ini dia kesan-kesan singkatku setelah membacanya... (singkat aja, udah kebanyakan cerita di atas)
=))


Sesuai sinopsisnya, tokoh utama novel ini adalah Saitou Yakumo. Pemuda ini dilahirkan dengan mata kiri berwarna merah menyala, yang istimewanya, bisa melihat arwah orang yang sudah mati. Karena matanya ini, ia tumbuh besar dengan ditakuti, dikasihani, dijauhi dan lebih sering lagi, di-bully, sehingga karakternya menjadi sangat aneh, sarkastik, kasar, blak-blakan, sometimes even heartless. Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak Ozawa Haruka yang sedang tersandung masalah perhantuan mengunjungi markas rahasianya. Sikap Haruka yang hobi menolong orang (dan hobi pula diculik penjahat) membuat mereka mengalami berbagai kejadian menyeramkan yang melibatkan arwah penasaran dan kejahatan yang belum terselesaikan.

Di novel ini ada tiga kasus yang melibatkan mereka dan Detektif Polisi Gotou serta Ahli Forensik Hata, plus satu kisah tambahan. Meskipun sikap dan pandangan hidup Yakumo dan Haruka amat sangat bertolak belakang dalam hal menolong orang lain yang sedang membutuhkan, tapi satu ucapan Haruka tentang mata kiri Yakumo telah mengikat mereka berdua dalam hubungan yang yang sulit dilepaskan. Takdir mungkin, hihihi....


Secara perbandingan, penggambaran karakter Yakumo di sini jauh lebih keras dan menjengkelkan, tapi sweetness-nya yang suka tiba-tiba muncul, jadi lebih terasa juga. Perbantahannya setiap kali bertemu Det. Gotou selalu bikin geli. Cocok, yang tua yang muda gak ada yang mau kalah.  Aku juga lebih suka penggambaran sosok Ozawa Haruka yang di novel ini daripada di manga dan anime. Lebih kelihatan kontrasnya dengan Yakumo.

Saito Isshin sudah muncul di kasus kedua, tapi tidak ada (belum??) si kecil Nao-chan. Apa memang itu hanya tambahan di versi manga/animenya ya? Entahlah...



Untuk edisi terjemahannya, terasa sedikit kaku dan tersendat. Tapi kalau sudah sering membaca manga terjemahan Jepang akan terbiasa dan tidak terlalu mengganggu. Memang cara percakapan mereka aslinya seperti itu ya.
Shinrei Tantei Yakumo Novel Vol. 1
Nihon Bungeisha Cover

Covernya aku lumayan suka, tampak cantik sekali dengan latar hitam mulus berpadu baju Yakumo yang putih bersih. Kedua warna matanya yang berbeda pasti langsung menarik perhatian pembaca. Suka juga karena penerbitnya mengambil sisi manis buku ini sebagai cover dibandingan cover versi asli yang terkesan sangat dark dan sedikit mengerikan. Walau begitu, kesannya memang jadi lebih feminin daripada ilustrasi manga dan animenya. 




Oh iya, jadi pengin cerita lagi.

Jadi kan kapan hari itu, aku sempat mengingat-ngingat nama pengarangnya ini, Manabu Kaminaga, pernah dengar di mana?? Setelah agak lama, baru teringat pada dorama yang dibintangi Kamenashi Kazuya yang judulnya Yamaneko, si kucing sinting yang ngakunya adalah detektif pencuri dengan semangat Bushidonya. Dan setelah kucek, ternyata memang benar, dorama itu juga diangkat dari novel karya pengarang yang sama. Miaaooo!!

*udah gitu aja ceritanya*
*udah pernah nonton Yamaneko belum? Itu dorama kocak banget dah! nonton deh... *
*ini ripiu kok malah jadi iklan dorama??*



https://www.goodreads.com/review/show/1716502840

Minggu, 05 Juni 2016

Day of the False King


Judul: Day of the False King - Hari Raja Palsu
Judul Asli: Day of the False King: A Novel of Murder in Ancient Babylon
Seri: Semerket #2
Pengarang: Brad Geagley
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 978-602-03-1995-7
Jumlah Halaman: 392 halaman
Penerbitan Perdana: 2006



Lihat sinopsis
…diserang kaum Isin… pangeran Elam… Naia… dibunuh.

Sebuah pesan yang nyaris tak terbaca ditujukan kepada Semerket, samar-samar mengabarkan bahwa tempat mantan istrinya dan Rami bekerja di Babilonia sebagai budak diserang serombongan bandit. Itulah sebabnya Ramses IV, firaun yang kini berkuasa, hendak mengutus Semerket untuk membebaskan dan membawa mereka pulang ke Mesir.

Namun ternyata tugasnya bukan hanya itu. Demi mengamankan takhta dan masa depan Mesir, Sang Firaun menugaskan Semerket membawa pulang patung dewa Babilonia, Bel-Marduk. Diyakini jika Ramses IV menyentuh tangan emas serta memandang mata berhala tersebut, semua roh jahat dan penyakit sang firaun akan sirna.

Maka Semerket pun berangkat ke negeri yang penuh gejolak politik dan perebutan kekuasaan itu, tanpa menyadari ia kembali menceburkan diri ke tengah intrik yang mungkin harus dibayar dengan nyawanya sendiri...


Setelah berhiruk-pikuk di keramaian Kota Thebes kuno, sequel novel Year of Hyenas (review di sini) ini meneruskan petualangannya ke kota Babilonia kuno. Masih mengikuti tokoh utama yang sama, Semerket si pegawai Dinas Rahasia Mesir dalam sebuah misi penting dari Firaun sekaligus misi pribadi mencari Naia dan Rami untuk dibawa kembali ke Mesir. Novel Day of the False King meski tidak sepanjang dan seseru buku pertamanya, namun penyelidikan Semerket masih sangat enak diikuti, kisah misterinya masih meliuk dengan twist yang cukup menyegarkan, setting yang eksotis dan banyak karakter-karakter menarik yang terlibat, dengan kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan.


Setengah tahun setelah terbongkarnya rencana penggulingan Firaun, Ramses III telah mangkat dan digantikan putra mahkotanya, Ramses IV. Namun diam-diam, kondisi Sang Firaun juga tidak baik, dan sakitnya dirahasiakan demi menjaga ketertiban Mesir. Di saat inilah seorang bangsawan Kanaan yang masih sepupu Ramses membawa pesan Rami yang isinya tidak begitu jelas. Pokoknya, Naia dan Rami yang sedang bertugas di sebuah rumah pertanian di Babilonia terjebak penyerangan gerombolan pemberontak dan tak jelas nasibnya.

Ramses lalu membolehkan Semerket mencari Naia dan Rami ke Babilonia, memberi mereka surat kemerdekaan yang memperbolehkan keduanya kembali sebagai orang bebas ke Mesir, sekaligus mengangkat Semerket sebagai Utusan Khusus Firaun untuk mendiskusikan peminjamanan patung berhala Bel-Marduk yang dipercaya mampu memberkati dan melindungi Raja-Raja yang menyentuhnya dari semua roh jahat dan penyakit.

Dua tugas ini membawa Semerket ke tengah-tengah pergolakan politik di Babilonia, dari Kota Is tempat berawalnya suku bangsa pribumi Isin hingga bangsa pendatang Elam yang sedang menguasai Babilonia. Juga perebutan tahta internal di Kerajaan Elam, dari Putra Mahkota Elam dan istrinya yang ambisius, hingga Putri Paniki dan suaminya yang diam-diam datang dengan tujuan rahasia dari sang Raja sendiri. Keadaan yang sudah ruwet ini bertambah keruh lagi dengan penemuan senjata-senjata khas Mesir di rumah perkebunan tempat Naia dan Putri Paniki menghilang.

Sekali lagi Semerket mesti menyusuri kebenaran peristiwa penyerangan dan penculikan ini di lorong-lorong kota Babilonia dan (saluran gorong-gorongnya), berkenalan dengan budak berpembawaan angkuh, berteman dengan dua orang mata-mata songgong tapi ternyata setia, mengakui kepiawaian dokter Mesir namun pemabuk ulung, sepasang suami-istri pendeta yang miskin dan renta tapi masih sangat memegang teguh keimanan mereka, serta seorang biduanita tersohor yang kenes dan merdu suaranya, meski menyimpan sejuta rahasia di balik gaunnya.


Kesan akhir, Semerket ini jeli melihat apa yang terjadi dan bagaimana sesuatu terjadi serta lihai menarik informasi rahasia-rahasia tindakan seseorang.... tapi yaampyuuun, bodoh sekali untuk menebak dalang utama dan pencetus konspirator huru-hara tingkat Istana. Di buku pertama begitu, di buku ini sami mawon. Setengah buku saja aku yakin para pembaca semua sudah mulai menunjuk siapa, eh buat Semerket musti si biang kerok ini muncul sendiri dan mau membunuhnya sampai nyaris mati, baru dia ngeh siapa yang menjadi otaknya. Doohh....

Tapi selain kekurangan itu, Semerket tetap masih mudah untuk disukai. Sifatnya yang terbuka dan cerdik mampu membuatnya memiliki teman di segala kalangan. Satu adegan di buku ini yang menjadi favoritku adalah saat ia mendatangi dan meminta maaf kepada seorang pengawal muda yang di hari sebelumnya bersikap sangat menjengkelkan hingga Semerket mematahkan tombaknya. Semerket memberikan tombak pengganti yang bermutu sangat bagus, sehingga si pengawal bukan saja tidak jadi sebal dan marah pada Semerket, tapi juga berterima kasih karena tidak jadi kehilangan sebulan gaji untuk mengganti tombaknya dan sangat sungkan kepadanya. Tindakan kecil ini yang nantinya berdampak signifikan pada keselamatan nyawa Semerket di penghujung cerita.

Tokoh lain yang amat sangat mencuri perhatianku, tentu saja adalah Nidaba, si penyanyi dan penghibur, sekaligus mata-mata ala Mata Hari. Twist tentang mata-mata itu sudah kuduga, tapi twist satunya... ahahaha.... sungguh mengejutkan dan membuatku ngakak. Kejutan yang sangat menyegarkan.

Untuk Naia dan Rami, Naia cukup memuaskan perannya sedang Rami agak terlalu sederhana, jika di akhir buku pertama ia digambarkan begitu menyimpan kemarahan kepada Semerket, kenapa tiba-tiba di sini ia jadi anjing keciil yang patuh dan sangat senang berjumpa dengannya? Di buku pertama aku juga pernah mengatakan bahwa Naia perlu diberikan satu peran kecil namun menentukan dalam alur cerita, agar tidak terasa sebagai tempelan belaka. Di seri ini, aku suka karena perannya lah yang membuka kedok seorang pengkhianat di istana Firaun.

Selain itu semua, aku merasa banyak hal-hal kecil yang terulang di buku kedua ini. Semacam Déjà Vu di berbagai kejadian dan karakter yang terlibat. Misalnya saja peran Kapten Shepak di sini sangat serupa dengan Medjai Qar di buku pertama. Lalu si pembunuh bertato ular yang perannya mirip sekali dengan pengemis tanpa hidung. Nasib pendeta Senmut dan Wia yang kerap membantu Semerket juga berakhir sama dengan Hunro. Atau Ratu Narunte yang gila kekuasaan itu gak terlalu berbeda dengan karakter Ratu Tiya (tampaknya Pak Pengarang punya ketidaksukaan tertentu pada para Ratu inih). Nah, nasib Ratu Tiya di sini dicerminkan oleh Duta Besar Menef yang sama-sama mendapatkan akhir yang ridiculous.

Endingnya sama bagusnya dengan cerita sebelumnya. Realistis dan memuaskan. Campuran antara life goes on dan terbukanya kemungkinan adanya seri berikutnya.


Bel-Marduk, Dewa Utama Kota Babilonia
Image Source: Wikipedia

Jika dari buku pertamanya banyak didapatkan pengetahuan tentang Mesir, khususnya kota Thebes kuno, maka dari buku ini ada banyak detail budaya dan adat tentang kota Babilonia di Mesopotamia, meskipun tidak semelimpah sebelumnya. Juga tentang selintas pandang perebutan kekuasaan antara banyak suku bangsa pendatang dan pribumi, mengingat lokasi Babilonia ini yang berada tepat di tengah-tengah arus perdagangan Asia tengah. Lumayanlah untuk mengingat kembali pelajaran sejarah dunia jaman doeloe waktu masih berstatus pelajar. ^^



Untuk edisi Bahasa Indonesianya, aku lebih suka terjemahan buku pertama dibandingkan seri kedua ini. Tata bahasa buku pertamanya lebih sederhana dan mudah dicerna. Juga aku tidak terlalu suka pemakaian panggilan My Lord, Highness, Your Majesty, Great Prince dll yang tidak diterjemahkan namun fontnya juga tidak di-italic-kan. Oh iya, karena penerjemah buku pertama dan keduanya berbeda, dan tampaknya tidak ada sinkronisasi, beberapa istilah yang dipakai juga tidak sama, misal Tempat Agung di buku pertama menjadi Loka Agung di buku kedua, dll.

Covernya, lumayan suka. Sederhana dan pas dengan isi bukunya. Artisitik pula. Seep.

Satu lagi, sepanjang buku pertama dan kedua, Naia selalu dideskripsikan "kulitnya sewarna asap dan matanya seperti sungai Nil yang meluap" (atau membanjir) - *iya ini lebay bingits, dan deskripsi ini berulang-ulang-ulang lho*. Tapi tiba-tiba di hal 278, deskripsi Naia berubah warna menjadi "kulitnya sewarna abu...", dst.
Ehhmm... itu... kulit berwarna abu, seperti apakah? Jangan-jangan Naia sudah jadi zombie ala Walking Dead  #eaaakk
*digetok Semerket pake tombak* ;))




https://www.goodreads.com/review/show/1624964723

Sabtu, 04 Juni 2016

Year of the Hyenas


Judul: Year of the Hyenas - Tahun Anjing Hiena
Judul Asli: Year of the Hyenas: A Novel of Murder in Ancient Egypt
Seri: Semerket #1
Pengarang: Brad Geagley
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 978-602-03-1298-9
Jumlah Halaman: 472 halaman
Penerbitan Perdana: 2005



Lihat sinopsis
Seorang pendeta wanita diduga dibunuh dengan keji. Rakyat Mesir gempar, para pemimpinnya cemas. Karena pembunuhan terhadap pendeta akan membangkitkan amarah para dewa.

Penyelidikan pun digelar. Semerket ditunjuk menjadi penyidik. Namun bahkan Semerket sendiri bertanya-tanya, kenapa pecundang seperti dirinya––pemabuk dan pengangguran yang masih mengejar-ngejar mantan istri––dipilih untuk menyelidiki peristiwa langka ini. Apakah penunjukan itu disengaja agar kasus tersebut takkan terpecahkan?

Namun rupanya para dewa tak tinggal diam. Semerket perlahan berhasil menyingkap misteri pembunuhan itu; perjalanan yang membawanya ke harem firaun, membongkar konspirasi besar Mesir tahun 1153 SM; mengungkap fakta lain tentang kematian Ramses III.



Setelah beberapa kali membaca novel dengan genre campuran crimefic+hisfic dengan setting Jepang kuno (seperti seri Sugawara Akitada - review di sini dan di sini, atau seri Sano Ichiro review di sini), kali ini aku mencoba membaca novel dengan mix yang sama, tapi dengan setting negeri Mesir kuno.

Bayangkan adegan flashback film The Mummy di Kota Thebes jaman dahulu kala, Lembah Para Raja, Kuil-kuil dan Makam para Firaun, dlsb, lalu tambahkan tokoh detektif putus cinta ala Cormoran Strike ke dalamnya. Seperti itulah tepatnya rasa novel ini.


1153 SM.
Di tepian Sungai Nil yang melintasi Kota Thebes, mayat seorang pendeta wanita ditemukan dalam keadaan mengenaskan menjelang Perayaan Dewi Osiris. Selain menggemparkan, penyelidikan mayat pendeta wanita ini juga meyinggung ranah politis, karena semasa hidupnya ia tinggal di Thebes Barat yang diwalikotai Pendeta Pewero yang keturunan keluarga aristokrat, namun mayatnya terhanyut dan ditemukan di sebelah timur sungai, wilayah Walikota Thebes Timur Paser yang merupakan orang kebanyakan. Dan tentu saja, kedua Walikota ini tidak bisa dibilang rukun, malah ada banyak gosip tentang persaingan dan ketidaksukaan satu terhadap yang lain. Demi keadilan, Pejabat Tinggi Firaun menunjuk satu orang penyelidik bebas yang tidak terikat kesetiaan pada keduanya. Semerket.

Semerket ini adalah mantan pegawai Dinas Rahasia, seorang terpelajar, cerdik pandai, tahu segala hal tentang hukum, namun sayang sedang mengalami masa-masa sulit. Setelah ditinggal sang istri, ia menjatuhkan diri dalam pelukan anggur dan bermabuk-mabukan setiap saat, hingga karirnya terpuruk nyaris hilang tak berbekas. Namun kesempatan kedua datang tepat waktu. Atas rekomendasi kakaknya, Nenry, Pejabat Tinggi Toh menunjuk Semerket untuk menyelidiki masalah pelik ini (karena keterus-terangannya dalam berujar di tengah sidang), dan disetujui oleh kedua Walikota serta sang Ratu Mesir sendiri.

Penyelidikan Semerket membawanya dari satu hal ke hal lain. Dimulai dari meja atopsi jenazah (meski khas Mesir kuno dengan segala ritual dan tetek-bengeknya, namun proses atopsinya sendiri lumayan "modern" dan ilmu kedokterannya cukup mengagumkan... untuk ukuran saat itu) hingga pencarian tempat pembunuhan yang sesungguhnya. Dari reka ulang hingga wawancara orang-orang terakhir yang melihat sang korban, juga pencarian senjata pembunuh yang ternyata terbuat dari bahan yang unik.

Di desa tempat tinggal sang korban ini malah ditemukan banyak kejanggalan-kejanggalan yang mengulik rasa penasaran Semerket. Desa ini adalah desa tempat sekumpulan pengrajin tinggal, dan bertugas mempersiapkan makam Sang Firaun. Selain para tukang batu dan penggali, masih banyak pengrajin lainnya, seperti tukang lukis, tukang ukir, pembuat tembikar, pemahat, pematung, juru tulis, pembuat perhiasan, ahli permata, dll. Namun di antara mereka ada benih-benih pemberontakan terhadang Firaun yang sedang disemaikan, dan tepat dari bawah makam-makam kuno ini, konspirasi jahat digulirkan. Rencana yang dibuat oleh orang-orang terdekat Firaun Ramses III sendiri serta bertangan panjang dan menggurita, hingga Semerket tak tahu lagi siapa yang dapat dipercaya siapa yang tidak.


Misteri yang dikisahkan dalam cerita ini cukup dalam, meski demikian tetap terasa cozy waktu membacanya. Masalahnya memang pada akhirnya merembet kemana-mana sampai akhirnya.... ujung-ujungnya... rencana pemberontakan terhadap takhta Firaun. Lumayan untuk dinikmati, karakter Semerket ini cukup menyenangkan sebagai tokoh utama yang diikuti pembaca, hanya saja di sekitar 3 bab terakhir kok rasanya dibuat jadi bodoh sekali. sudah jelas-jelas sampai para pembaca saja tahu siapa otak di balik rencana ini, lha kok Semerket masih belum melihatnya juga....

Karakter yang lain, Nenry, kakak Semerket cukup menyenangkan, namun si pelayan cerdik Keeya lebih mencuri perhatianku walau hanya muncul sejenak-sejenak. Aku suka caranya "menangani" istri Nenry yang bodoh dan pengkhianat itu. Begitu pula karakter Medjay Qar yang banyak membantu Semerket, kecerdikan dan intuisinya sebagai pengawal menyelamatkan Semerket lebih dari sekali dua kali. Kedua Walikota mendapatkan peran yang berimbang, dan twist kecil di akhir kisah cukup mengejutkanku (yeap, aku aja melihat adegan itu dan langsung paham artinya, kok Semerket gak mudheng juga sih?!). Tampilnya karakter Raja Pengemis membuat novel ini punya nuansa gory menyeramkan yang khas. Sedangkan tokoh Naia, si mantan istri Semerket yang bikin galau bukan kepalang malah hilang gaungnya di tengah keramaian pemberontakan. Kalau memang dia bisa membuat Semerket jadi "segila" itu, kok porsi perannya hanya seperti tempelan saja, tidak mencorong atau sedikiiiit saja jadi unsur penting yang membentuk alur cerita.

Endingnya realistis, tidak dipaksakan terlalu berujung bahagia. Kalau menurutku sih, aku lebih setuju keputusan Firaun untuk menolak permintaan Semerket, permintaan yang sedikit banyak cari penyakit, sebuah time-bomb yang tersimpan untuk bertahun-tahun kemudian. Namun ternyata Firaun mengabulkan permintaan itu, yang berarti... sequel novel ini sudah pasti akan ada. ^^




Kota Thebes, dengan pembagian Timur-Baratnya
Image Source: here

Selain menikmati misterinya, membaca novel ini juga banyak menambah pengetahuan tentang peradaban Mesir Kuno dan adat istiadatnya. Mulai dari kebiasaan membangun makam Firaun yang dimulai sejak sang Firaun tersebut menerima tahtanya, hingga pembagian kota (City of the Living dan City of the Dead) gara-gara banyaknya makam dan kuil yang ada. Demikian pula tentang tata pemerintahan dan pelaksanaan hukumnya yang sudah teratur, serta ilmu pengetahuan dan ilmu kedokterannya. Semua ini disajikan enak untuk dibaca. Seep dah!



Untuk edisi Bahasa Indonesianya ini, aku cukup suka dengan terjemahannya. Bahasanya mudah dimengerti dan mengalir, editingnya rapi untuk huruf-huruf besar dan font italic yang diperlukan. Typo ada beberapa kali (h.67 Henry, 146 kelebihan kata atau dan 156 semerket). Juga di hal 89 ada kalimat "Kau memainkan peran yang berbahaya, Brother" aku tidak tahu apakah ini sengaja tidak diterjemahkan atau bagaimana. Aneh saja saat membacanya, sedangkan di beberapa bagian lain Nenry memanggil Semerket "Adikku".

Covernya, aku suka ilustrasinya. Sederhana tapi keren. Jadi gampang membayangkan sosok Semerket.


Buku keduanya berjudul Day of the False King - Hari Raja Palsu, dan settingnya akan berpindak ke Kota Babylonia, alias Irak kuno. Sudah kubaca juga, semoga reviewnya bisa muncul besok. Tungguin ya.... thx.





https://www.goodreads.com/review/show/1623935328

Rabu, 01 Juni 2016

All She Was Worth


Judul: All She Was Worth - Melacak Jejak
Judul Asli: 火車 - Kasha
Pengarang: 宮部みゆき - Miyabe Miyuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-2686-3
Jumlah Halaman: 480 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Naoki Prize Nominee (1992), Shugoro Yamamoto Prize (1993)



Lihat sinopsis
Seorang perempuan cantik lenyap tanpa jejak, namun hasil penyelidikan menunjukkan dia bukanlah sosok seperti yang ditampilkannya selama ini. Apakah dia korban, pembunuh, atau kedua-duanya? Di negara yang melacak para penduduknya dengan saksama, bagaimana bisa dua perempuan memiliki identitas yang sama, lalu menghilang tanpa jejak? Di tengah masyarakat Jepang yang serba konsumtif, banyak orang terjebak utang, lalu jatuh ke dalam jerat para rentenir gelap yang sangat berbahaya, sehingga kadang-kadang pembunuhan menjadi satu-satunya jalan keluar.


Ini jauh lebih bagus dari Devil's Whisperer (review di sini), padahal yang itu juga aku suka sekali.

Dan aaaakk... endingnya.... khas jepun sekali... no nonsense. Tidak perlu epilog dan penjelasan berkepanjangan. Semua hasil penyelidikan telah terpaparkan seperti keping-keping puzzle. Kisah sudah selesai diceritakan. Misteri telah terpecahkan. Yang hilang telah ditemukan kembali. TAMAT.
Aaakkk....
#apasih #berisik :D


1992. Kisah novel ini diawali saat Detektif Polisi Honma Shunsuke yang sedang cuti karena cedera kaki mendapatkan kunjungan dari seorang keponakan alm. istrinya. Si ponakan yang bankir ini rada resah karena tunangannya, Sekine Shoko, tiba-tiba menghilang setelah ketahuan pernah menyatakan diri bangkrut beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah perjalanan Honma dalam pencarian wanita malang ini, dan dalam pencarian ini, terbuka satu per satu lapisan misteri yang melingkupi, bukan hanya satu, melainkan DUA wanita yang dipermainkan nasib, dan sistem perkreditan dan keuangan di Jepang. Terjerat hutang melilit leher, dikejar-kejar rentenir Yakuza, hingga akhirnya, menempuh jalan pahit tanpa bisa kembali.


Ini pertama kalinya aku membaca kisah crimefic di mana baik si korban maupun si pembunuh sama-sama dicitrakan dari pandangan orang lain sepenuhnya. Korban tak pernah muncul sama sekali, sedangkan si pembunuh hanya nongol di beberapa paragraf terakhir novel. Tapi meski demikian, motif, alibi, cara bahkan latar belakang keduanya tetap jadi unsur terpenting cerita, dan dijalin lengkap... dari pandangan mereka yang mengenalnya masing-masing individu tersebut.

Kedua wanita itu, Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko, punya akar masalah yang sama, satu ide besar yang diulik dalam novel ini, yaitu komsumerisme di Jepang yang marak di sekitar tahun 1980-1990an, saat perekonomian Jepang sedang booming sehebat-hebatnya. Saat itu, sebagian besar penduduk usia produktifnya terserang "Sindrom Harus Punya!" (h.255). Sebuah sindrom yang tumbuh dan berkembang subur didukung mudahnya mendapatkan puluhan pilihan kartu kredit, mudahnya berbelanja dan menarik uang tunai menggunakan kartu tersebut, tanpa menyadari tingginya suku bunga yang mengikutinya.

"Mesin ATM tentu saja tidak menjelaskan bagaimana cara bunga bekerja!" (h. 166)

Dari keinginan memiliki rumah sendiri, hingga produk fashion terbaru. Dari sistem perkreditan resmi hingga telemarketing. Satu per satu kemudahan berbelanja ini mengantarkan si pemilik dalam jeratan hutang. Dari pinjaman yang satu tutup lubang ke pinjaman yang lain. dari bank yang satu membayar ke bank yang lain, tak pernah terlunasi bahkan bunga pinjaman semakin menumpuk. Saat lembaga resmi mulai menutup pintu dan menagih, satu-satunya jalan adalah meminjam ke "lembaga keuangan alternatif". Jalan keluar yang bukannya melegakan, malahan menuntun si peminjam (dan keluarganya) ke dalam jurang kehancuran.


Hal lain yang mendapatkan porsi besar dalam novel ini adalah sistem kependudukan dan pencatatan sipil di Jepang. Di negara-negara oriental seperi Jepang dan Korea, memang lineage keluarga menjadi sangat diutamakan. Dibandingkan dengan, Amerika misalnya, yang hanya mencatat data individu, Jepang mencatat penduduknya dalam item data keluarga yang sangat detail. Saat anak perempuan menikah, namanya dikeluarkan dari data kartu keluarga asli (dengan catatan lengkap) dan dimasukkan dalam data keluarga suami. Saat seseorang membentuk item keluarga sendiri, nama orang tua dan catatan kartu keluarga sebelumnya tetap dicantumkan dengan rinci. Kepindahan dan tempat tinggal baru mensyaratkan surat kependudukan tercatat. Kematian seseorang dicatat, namun tidak menghapus nama almarhum dari kartu keluarganya. Bahkan untuk proses adopsi anak yang resmi tetap mencatatkan identitas si anak dan hubungannya dengan keluarga aslinya. Dengan demikian, garis keluarga dapat dilacak bergenerasi-generasi sebelumnya, dan tiap orang punya akar yang pasti, dan ini berlaku secara nasional.

Dengan sistem seperti ini, pencurian identitas adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Dalam novel ini, detail-detail bagaimana (dan mengapa) seseorang dapat mencuri kehidupan seseorang lain menjadi unsur menarik, demikian pula penyelidikan baliknya, menelusuri hidup seseorang berdasarkan jejak berkas kehidupannya dalam sistem, dan membandingkannya saat mendengarkan kesan-kesan orang-orang yang mengenal mereka dalam kurun waktu-kurun waktu tertentu.


Sekitar seratusan halaman terakhir, alur hidup Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko akhirnya bertautan. Mulai dari titik ini, misteri dan nasib keduanya perlahan-lahan dibuka untuk pembaca, dan latar-latar tragis keduanya menjadi masuk akal sekaligus memiriskan hati. Shoko yang terjebak dalam kungkungan tempurung kota kecilnya, silau akan kecantikan sinar lampu-lampu kota Metropolitan Tokyo. Kyoko yang melewatkan masa remajanya dalam ketakutan dan teror, hanya mendambakan sebuah rumah mungil tempatnya menunggu suami pulang bekerja dan membesarkan anak-anaknya, impian sederhana membuatnya mampu melakukan apapun untuk mewujudkannya. Untung saja, novel ini melewatkan momen-momen gory saat memotong-motong mayat, tidak seperti novel Out - Bebas yang menjelaskannya dengan rinci. :p

Sementara karakter Shoko memiliki alur hidup yang cukup mengibakan, karakter Kyoko lebih mendominasi cerita. Kyoko ini jenis orang yang kurasa mengerikan, pribadi yang cantik dan ramah, namun setelah kenal lebih dekat, akan terasa dingin, manipulatif dan "rusak" dari dalam. Tapi setelah mengetahui latar belakang keluarganya, mau tak mau, simpati dan haru muncul dengan sendirinya. Seperti kata pengacara Mizoguchi, "Apakah ini adil? Salah siapakah ini?" Nasiblah yang membawa keduanya ke dalam belitan takdir berujung tragedi.


* * *


Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesianya ini, terus terang aku sedikit kecewa membacanya. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak terjadi pada penerbit mayor sekelas Gramedia.

Pertama, (ok, ini subjektif) aku tidak terlalu suka double translation. Jadi novel ini kentara sekali diterjemahkan dari edisi Bahasa Inggrisnya. Penggunaan sapaan resmi menggunakan singkatan Mr. dan Ms. dan ungkapan seperti "Ya, Sir" sejujurnya meredupkan mood bacaku akan sebuah novel Jepang. Saat penerbit lainnya sudah berkomitmen untuk menterjemahkan karya dari bahasa aslinya, kok yang penerbit besar malah mencari mudahnya saja. Kedua, selain itu, terjemahannya sendiri juga terasa kaku dan tersendat-sendat.

Untuk editingnya juga aku tidak terlalu suka. Typo bertaburan, dan bahkan halaman colophon yang menjadi identitas utama buku juga mencantumkan penulisan judul asli yang salah. Kahsa dari yang seharusnya Kasha. Selain itu, buaaaanyak sekali pemenggalan kata di akhir baris untuk disambung ke baris berikutnya, yang membuatku tidak nyaman membaca. Di setiap paragraf pasti ada, bahkan 3-4 baris berturut-turut sekaligus. (aku gak tahu pasti ini tujuannya apa? kerapian juga kagak, ngirit jumlah baris juga kagak... terus untuk apa? alignment justified juga gak harus sering-sering menggal kata kaleee)    




Judulnya... sebenarnya aku kurang suka, baik judul bahasa Inggrisnya, All She Was Worth (kurang puitis #halah), maupun bahasa Indonesianya, Melacak Jejak (terlalu literal). Padahal di bahasa Jepangnya, Kasha (ditulis dengan kanji Api dan Kuruma, yang bisa berarti kereta atau roda api) dan ini mengacu pada roda-roda karma yang berputar-putar, di antara Shoko dan Kyoko (h.148) kurasa sudah cocok sekali menggambarkan novel ini (tapi memang sih susah mengalihbahasakan judul seperti begitu).

Ilustrasi sampulnya, salah satu yang paling kusuka dari berbagai edisi cover novel ini. Warna merah gelap dan wajah seorang wanita yang samar-samar tampak, menggambarkan isi novel dengan sangat pas (kucek, ternyata memang desainer dan ilustratornya memang salah satu ilustrator cover favoritku). Cover lain yang juga kusuka, adalah cover edisi aslinya.


Kasha - TV Movie



Adaptasi novel ini telah digarap oleh TV - Asahi sebagai TV Movie yang released di bulan November 2011. Tampaknya ada beberapa perubahan dalam adaptasi ini, tapi bagaimanapun, aku jadi kepo ingin menontonnya juga....
Source: AsianDramaWiki


Tentang Pengarang:


Miyuki Miyabe (宮部みゆき, 23 Des 1960 - ) adalah pengarang kontemporer Jepang yang populer di berbagai genre, termasuk science fiction, mystery fiction, historical fiction, social commentary, dan juga kisah anak-anak.

Miyabe adalah penulis yang produktif, memulai karier menulisnya di usia 23 tahun, sampai sekarang telah menerbitkan lusinan novel dan memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti Yamamoto Shūgorō Prize di tahun 1993 untuk novel Kasha dan Naoki Prize di tahun 1998 untuk Riyū (理由 - The Reason).

Baca juga review-ku untuk novel Devil's Whisperer di sini.




https://www.goodreads.com/review/show/1629482112

Kamis, 19 Mei 2016

Career of Evil - Titian Kejahatan


Judul: Career of Evil - Titian Kejahatan
Judul Asli: Career of Evil
Seri: Cormoran Strike #3
Pengarang: Robert Galbraith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-2636-8
Jumlah Halaman: 552 halaman
Penerbitan Perdana: 2015
Literary Awards: Audie Award-Mystery (2016), Goodreads Choice Nominee-Mystery & Thriller (2015)



Lihat sinopsis
Sebuah paket misterius dikirim kepada Robin Ellacott, dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan potongan tungkai wanita di dalamnya.

Atasan Robin, detektif partikelir Cormoran Strike, mencurigai empat orang dari masa lalunya yang mungkin bertanggung jawab atas kiriman mengerikan itu—empat orang yang sanggup melakukan tindakan brutal.

Tatkala polisi mengejar satu tersangka pelaku yang menurut Strike justru paling kecil kemungkinannya, dia dan Robin melakukan penyelidikan sendiri dan terjun ke dunia kelam tempat ketiga tersangka yang lain berada. Namun, waktu kian memburu mereka, sementara si pembunuh kejam kembali melakukan aksi-aksi yang mengerikan…

Career of Evil adalah kisah misteri yang cerdas dengan pelintiran-pelintiran tak terduga, dan menceritakan bagaimana kedua tokohnya, Cormoran Strike dan Robin Ellacott, berada pada persimpangan penting dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka.





Carrer of Evil - Blue Öyster Cult

I choose to steal what you choose to show
And you know I would not apologize
You're mine for the taking.

I'm making a career of evil....

Nah, membaca buku ini aku merasa tidak se-wah seperti saat membaca Cuckoo, atau merasa se-interestingly-gory seperti isi Silkworm, tapi ini punya banyak moment-momentnya sendiri. Kisah seputar latar belakang Cormoran dan Robin memberi banyak lapisan karakter yang sangat kusukai dari sebuah novel berseri seperti ini. Dan khususnya, munculnya karakter Shankers, yang memberi banyak warna untuk kehidupan pribadi dan profesional Corm.


Kisah dibuka saat Robin yang menanti-nanti sebuah paket untuk persiapan pesta pernikahannya. Alih-alih mendapatkan dus berisi kamera sekali pakai yang diinginkannya, sang kurir ternyata malah membawakan sepotong tungkai manusia, cewek, muda. Paniklah dia hingga menjerit mengagetkan Cormoran. Corm langsung menghubungi Inspektur Polisi Wardle (dari kasus Landry) dan meyerahkan kasus ini kepadanya.

Melihat lelucon kasar terhadap fisik Corm di balik pengiriman potongan tungkai ini, mereka berdua kemudian mengurut-urutkan empat orang calon tersangka dari masa lalu Corm, baik secara pribadi maupun semasa masih menjadi polisi militer dulu. Dua orang bekas tentara yang memendam dendam pada Cormoran Strike, bekas ayah tiri pemabuknya dan seorang anggota mafia. Pihak polisi dan Wardle lebih mencurigai si mafia, sedangkan Corm malah terbayang-bayang ketidaksukaannya pada si ayah tiri. Nantinya setelah Robin menggali-gali masa lalu Corm, ternyata ada sebab khusus di balik sikapnya ini... Corm menganggap kematian ibunya secara langsung atau tidak adalah karena si ayah tirinya ini.

Selain itu, kedua bekas tentara lainnya itu (yang gemar menganiaya wanita dan melecehkan anak kecil) juga mendapatkan perhatian dari Corm dan Robin. Mereka berdua mulai membagi tugas untuk mencari tahu keberadaan dan keadaan mereka. Namun belum jauh mereka melangkah, potongan tubuh kedua kembali dikirimkan kepada Robin. Sebuah jari kaki dari wanita yang sama. Teror ini cukup membuat Corm mengambil keputusan untuk meliburkan Robin. Padahal, situasi pribadi Robin sendiri malah sedang kisruh dengan persoalan-persoalan dengan tunangannya. Di saat Robin sedang sangat terpuruk ini, tak sengaja masa lalunya terkuak pada Corm. Mengapa ia tiba-tiba putus kuliah, dan secuplik kenangannya dengan sang tunangan yang mendasari hubugan mereka hingga kini. Juga motivasi Robin untuk menjadi detektif bersama Cormoran. Terbukanya masa lalu masing-masing, serta perjalanan penyelidikan bermobil ke berbagai daerah pelosok, membuat hubungan mereka berdua menjadi sangat dekat, sampai-sampai Corm harus berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri akan siapa Robin dan hubungan profesional antar mereka.

Satu per satu benang kusut kasus ini diurai. Di saat yang sama, perjalanan emosional Cormoran dan Robin juga ikut diuraikan. Masa lalu keduanya. Kedekatan keduanya. Hubungan keduanya. Hingga suatu saat, bunga-bunga yang salah musim mengantarkan Cormoran pada pemecahan kasus yang sebenarnya.


* * *

Seperti yang sudah kubilang di atas, point teratas untuk seri Strike yang ini adalah pada penggalian masa lalu masing-masing tokoh. Semuanya dipaparkan dengan sangat real dan wajar, meski pedih dan menyakitkan. Sekali lagi JKR membuktikan diri sebagai penulis yang mumpuni dalam meberi lapis-lapis karakterisasi pada tokoh-tokoh ciptaannya. Sebagai pembaca, aku juga suka karena Robin dan Corm memilih satu sama lain untuk membuka diri dan membagi kenangan pribadi mereka.

Karakter-karakter minor dalam novel ini banyak menyoal pada dua hal. Yang pertama adalah BIID (Body Integrity Identity Disorder), sebuah kelainan jiwa tidak rasional yang menginginkan untuk menyingkirkan bagian tubuh yang sehat. Rasanya aku pernah melihat hal ini diangkat dalam salah satu episode seri televisi Criminal Minds, tapi waktu menonton itu, aku sih masih berpikir "masak iya ada yang kayak gitu".  Setelah membaca novel ini, baru kusadari bahwa ini benar-benar terjadi dan ada dalam ilmu kedokteran. Haish... makin aneh ini manusia!! *lebay*

Hal kedua yang diangkat, tentu saja adalah kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap anak. Pelaku kriminalnya sering kali luput dari jerat hukum karena korban-korbannya enggan melaporkan, atau malah tidak merasa/tidak tahu telah menjadi korban sama sekali. Mereka telah amat sangat tersiksa sehingga seakan-akan menganggap wajar perlakuan yang diterimanya. Sangat memilukan membaca hal tersebut di novel ini.


Endingnya..... kenapa ya kok banyak yang gak suka.... Aku malah merasa puaaass sekali saat membacanya. Ada dua alasan. Pertama, membuktikan bahwa karakter Cormoran Strike ini benar-benar terhormat, setia kawan dan patut diacungi jempol. Ada batas-batas profesionalitas dalam hubungan Corm-Robin, yang tak pernah dilanggar sekali pun, apapun alasannya, dan menunjukkan bahwa alasan sebenarnya tindakan Corm adalah untuk melindungi Robin dari si penjahat dan ia tetap "sahabat" baiknya. Jika nanti nanti naaaanti, hubungan mereka berkembang ke arah lain, itu bukan karena Corm menggunting dalam lipatan, mengambil keuntungan saat moril Robin sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Salut untuk Cormoran Strike. (jadi teringat pada Sersan Mayor Seo Dae-young, yang sama-sama tentara "terhormat" dan  datang di pernikahan meski pedih hatinya, wakakakaka...) #ter-DotS #lalupenginnontonYooSijinlagi  :D

Alasan yang kedua... tentu saja karena ini tipe ending yang bikin penasaran plus plus plus!!


* * *

Edisi terjemahan Bahasa Indonesianya lumayan bagus... dan ehm... harganya juga bagussss sekali. #gakusahdibahaslah  Tapi untuk edisi semahal ini (katanya gak usah dibahas), kok masih ada typonya ya. Dua kali pula, di hal 354 (menbangun) dan 389 (mengeri). Hmmm....

Covernya aku suka, terima kasih karena masih menggunakan cover asli seperti kedua buku sebelumnya. Ilustrasi gambar punggung Corm, dengan tiang lampu jalan dan pagar besi. Seeep dah.




Baca reviewku juga untuk buku sebelumnya:
Cuckoo's Calling
Silkworm



Catatan tentang Robert Galbraith

Rowling wrote The Cuckoo's Calling 
under the pen name Robert Galbraith
Seperti yang telah banyak diketahui orang, Robert Galbraith tidaklah lain dari J.K. Rowling, si ibu dari seri Harry Potter yang telah menyihir puluhan juta penggemar novel fantasi. Setelah menerbitkan novel The Casual Vacancy, JKR berniat menulis sebuah seri novel detektif, namun (awalnya) tidak mau tokohnya ini dikaitkan atau dibandingkan dengan tokoh-tokoh seri sebelumnya. Dipakailah sebuah nama pena Robert Galbraith.

Namun apa mau dikata, fakta ini bocor akibat sebuah kicauan twitter dari seseorang yang secara tidak langsung berhubungan dengan kantor pengacara Rowling. Kantor pengacara ini kemudian meminta maaf secara publik atas kelalaian ini dan membayarkan sejumlah besar uang ganti rugi, yang kemudian disalurkan sepenuhnya kepada organisasi nirlaba The Soldiers' Charity sebagai penghargaan Rowling kepada para tentara dan keluarga mereka. Baca lebih lanjut tentang kasus ini di sini.






https://www.goodreads.com/review/show/1629476855

Jumat, 08 Januari 2016

Detektif Cilik Imung - Buku 2, 3 dan 4

  

Judul: Detektif Cilik Imung (Buku 02, Buku 03 dan Buku 04)
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PlotPoint Publishing (2014)
ISBN: 9786029481419 / 9786029481426 / 9786029481457
Jumlah Halaman: 231 / 276 / 276 halaman



Lihat sinopsis: Buku 2 | Buku 3 | Buku 4

Imung Buku 2: Matinya Raja Batik
Imung sudah makin besar, sudah beberapa bulan resmi jadi anak SMP. Temannya sudah semakin beragam. Kasus yang harus dia hadapi juga semakin gawat dan aneh-aneh.

Kolonel Suyatman, “bapak angkat”-nya di Jakarta, mau tak mau harus membiarkan Imung membantunya karena polisi kebingungan. Kasus-kasusnya: dari penyiletan gadis-gadis cantik, pembunuhan berantai keluarga pengusaha batik terkenal, dan lainnya.

Imung bersama Kolonel Suyatman, Kapten Simatupang, Sopir Jayus, Mayor Sulaeman dan Helena - sahabat yang Imung suka -, terlibat dalam berbagai petualangan. Termasuk saat ayah Imung yang tak sengaja turut serta dalam petualangan Imung.
Imung Buku 3: Operasi Lintah
Bagi Imung, jadi anak SMP yang terkenal karena kemampuannya memecahkan kasus itu susah-susah gampang. Kini kasus yang dia hadapi bukan lagi kasus-kasus dari orang dekatnya, kasus dari polisi, melainkan juga kasus-kasus dari orang yang tahu keahliannya dari majalah dan koran.

Seperti kasus hilangnya burung Cucak Rawa milik Tante Mochtar yang Imung kagumi hingga kasus penculikan Tunggadewi, penyanyi terkenal, yang diduga ada hubungannya dengan teror dari kelompok bersandi Operasi Lintah yang sebelumnya meresahkan warga Tokyo, Manila, dan Hongkong.

Teka-teki dalam semua kasus yang Imung hadapi kali ini semakin rumit dan membuat Imung bekerja lebih keras lagi. Masih bersama Kolonel Suyatman, Kapten Simatupang, Sopir Jayus, Mayor Sulaeman, Helena, dan kini juga dengan Tante Mochtar, petualangan Imung di Jakarta terus berlanjut.
Imung Buku 4: Selamatkan Bayi Kami
Imung, satu-satunya detektif cilik yang membantu polisi memecahkan kasus. Dikelilingi oleh orang dewasa seperti ini tidak membuat Imung menjadi rendah diri. Meskipun beberapa orang masih meremehkan kemampuannya. Imung tetap membuktikan bahwa dia bisa.

Kasus-kasus yang Imung hadapi kali ini sebagian besar adalah kasus kehilangan. Seperti kasus hilangnya anjing Fox Terri milik Dokter Sani, hilangnya bayi di rumah bersalin, hingga kasus hilangnya giwang kiri milik ibu salah seorang temannya.

Menghadapi kasus-kasus ini, ketajaman pikiran Imung semakin terasah. Namun, apakah ini berarti Imung mampu memecahkan semua kasus yang dihadapinya?

Ini adalah kumpulan kasus-kasus yang ditangani si Imung, duluuuu pernah terbit dan kubaca satu kasus per satu kasus, tetapi dibundle ulang oleh PlotPoint Publising dan diterbitkan ulang. Jika dulu dalam edisi yang diterbitkan GPU ada sekitar 5-6 kasus tiap jilidnya, di sini ada sekitar 10-13 kasus tiap buku. Lebih tebal dan banyak, jadi lebih puas bacanya. Lalu, kenapa mereview-nya mulai dari buku kedua? Jawabnya sederhana dan "biasa" banget.... yaitu adalah karena buku pertamanya tidak ada dalam obral buku di Fest. Buku Semarang Bulan November tahun lalu. Hehehe.... maklum... penimbun dan pemburu buku diskon saia inih.... *bangga*

Buat yang belum mengenal Imung, tokoh cilik ini adalah putra seorang kopral polisi di kota Magelang. Sejak kecil dia sudah terbiasa mendengar dan ikut-ikutan menganalisis tindak kejahatan yang terjadi di seputar kotanya karena rumahnya sekaligus menjadi markas tempat berkumpulnya para polisi. Karena satu dan lain hal (aku agak lupa dan belum baca ulang buku pertamanya), si Imung ini kemudian diasuh oleh Kol. Polisi Suyatman di Jakarta. Kol Suyatman ini sebenarnya pernah menjadi anak buah Bapak Imung dan berhutang budi padanya. Imung kemudian ikut tinggal di Jakarta, dan kemampuan analisisnya jadi sering dipergunakan Kol Suyatman dan orang-orang di sekelilingnya untuk memecahkan kasus kejahatan dan kasus-kasus aneh lainnya.

Meskipun ikut serta dalam kasus-kasus besar, seperti saat berturut-turut keluarga pemilik perusahaan batik satu per satu tewas terbunuh, atau saat terjadinya wabah penyiletan terhadap gadis-gadis cantik, atau saat seorang bayi yang baru lahir hilang diculik, kasus-kasus Imung tidak semuanya tentang kejahatan, rampok, pencurian atau pembunuhan. Ada juga kasus-kasus kecil yang "hanya" membutuhkan kecerdikan dan cara berpikir logisnya. Misalnya saat ia membantu keluarga Helena yang kebingungan saat Sanjaya yang sakit tapi tetap ingin ikut berpawai. Atau saat sebuah giwang berlian milik ibu temannya hilang dalam sekejab mata. Tiap kasus sangat bervariasi, sehingga tidak terlalu bosan membacanya walau ada banyak sekali petualangan si Imung ini.

Sekilas, karakter Imung ini cukup mengingatkannku pada Kindaichi Hajime dari manga Detektif Kindaichi (Kindaichi Shounen no Jikenbo). Sama-sama rada jorok, suka malas semaunya sendiri, di sekolah nilainya selalu pas-pasan minimalis, tapi kalau sudah menangani sebuah kasus, tekadnya sulit dihentikan. Karakter-karakter di sekitarnya juga rada mirip, dari teman-teman ceweknya, Helena yang cantik (seperti Miyuki) dan Tunggadewi yang artis (seperti Reika Hayami), juga karakter-karakter polisinya yang mirip Kenmochi dan Akechi (Kapt Situmeang dan Mayor Sulaeman). Memang sih, ini lebih ke karakter standar yang biasa ada di sebuah kisah detektif, tapi saat membacanya sekarang, aku benar-benar berasa miriiiiipp.....




https://www.goodreads.com/review/show/1496560395 | https://www.goodreads.com/review/show/1496566692 | https://www.goodreads.com/review/show/1496574153
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget