Tampilkan postingan dengan label Review 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review 2016. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2016

Membaca Corat-Coret di iJak


Judul: Corat-Coret di Toilet
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 9786020303864
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000






"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

Nama "Eka Kurniawan" memang bukan nama asing dalam bercerita. Setelah novel-novelnya Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau yang menuai banyak pujian, tahun ini ia menghentak lagi dengan O yang kembali masuk dalam 5 besar KLA. Corat-coret di Toilet ini adalah kumpulan cerpen, yang awalnya terbit di tahun 2000, namun cetak ulang di tahun 2014 dan 2016 dengan cover baru. Walaupun sudah cukup lama, namun cerpen-cerpen di sini masih memiliki tema-tema yang relevan dibaca kapan pun. Sedangkan gaya penulisannya, meski berasa Ekakur, tapi beberapa kurang unik dan tajam seperti tulisannya sekarang. Selain cerpen Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi dan Hikayat Orang Gila, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Rayuan Dusta untuk Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi terasa jamak dan (sekali lagi) tidak terlalu Ekakur.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^

Saranku, kalau mau merasakan Ekakur yang se-Ekakur-Ekakur-nya, baca novelnya. Cantik Itu Luka itu dahsyat, Lelaki Harimau yang super tragis, Rindu Dendam yang bikin baper dan ngilu, serta O yang "gilak sekalee".
(notes: kecuali O, ketiga novel lainnya tersedia juga di iJak).


Membaca di iJak


Di atas aku sekilas menyebutkan tentang iJak. Ada yang sudah pernah memakai aplikasi ini? Atau malah ada yang belum tahu sama sekali?

iJak adalah Jakarta Digital Library. Sebuah perpustakaan digital yang bisa diakses dari mana saja, kapan saja. Tag line-nya "Membaca Semakin Mudah. Baca buku, berbagi koleksi bacaan dan bersosialisasi secara bersamaan" sangat tepat menggambarkan aplikasi ini. Setelah memasang aplikasi ini di perangkat android kamu, mendaftar dengan mudah dan cepat, langsung sekian ratus judul buku tersedia untuk kamu baca, dan... gratis!



Awalnya aku juga hanya coba-coba saja menggunakan aplikasi ini. Dengan kata-kata "gratis!" ini aku malah ber-suudzon paling hanya buku-buku gak laku saja yang disediakan. Namun setelah memasang dan berkeliaran ke sana-sini di dalam aplikasi, aku sungguh terkejut senang melihat judul-judul buku yang ditawarkan. Dari novel-novel berbagai genre (novel romance yang buanyak sekali), buku-buku full grafis berwarna untuk anak-anak, komik, buku non-fiksi, i.e buku motivasi, parenting, teknologi, musik bahkan buku resep masakan, semuanya ada.


Selain Novel dan NonFiksi, ada pula Komik dan Buku Anak


Setelah memakai aplikasi ini, aku teringat ada cerita yang ingin sekali kubaca, namun sampai saat itu belum kesampaian, yaitu trilogi Eiffel dari Clio Freya. Memakai fasilitas search yang tersedia, langsung kucari novel-novel ini, dan senang sekali saat ketiga-tiganya tersedia dan mudah sekali kupinjam.

Kumcer Corat-coret di Toilet ini juga kubaca lewat aplikasi iJak di telepon genggamku. Tampilan layarnya juga lumayan ramah di mata. Meskipun tidak bisa diganti besaran font yang digunakan seperti layaknya file epub (iJak menggunakan sistem halaman), namun ada feature zoom-in yang menggantikannya.

Pembaca bisa juga memberi bintang kepada tiap buku yang ada dan memberikan review singkatnya. Selain itu, tersedia pula jaringan pertemanan, jadi kita bisa saling mem-follow, melihat-lihat buku apa yang sedang ngetrend di sekitar kita dan berbagi rekomendasi. Setelah mendapatkan beberapa teman buku di iJak, aku jadi gak pernah kehabisan ide untuk bacaan berikutnya.

Suatu kali pernah novel yang kuincar belum tersedia di koleksi iJak. Yah, sedikit kecewa. Namun beberapa hari setelahnya, saat kucek kembali ternyata sudah tersedia. Ternyata ada seseorang yang baik hati, mendonasikan buku itu untuk semua kawan iJak (Donasi ini salah satu pilihan feature jika kita ingin beramal buku secara digital). Waah, senangnya....


Oh, iya, selain lewat aplikasi, iJak tersedia pula lewat situsnya https://ijakarta.id/. Jadi bisa pula diakses lewat laptop-mu, teman. Gimana, tertarik untuk mencoba?





https://www.goodreads.com/review/show/1790139931

Senin, 24 Oktober 2016

Membaca Kumcer dan Mini Reviews-ku

Beberapa belakangan ini aku lebih suka membaca buku-buku kumcer yang kumiliki dan tertimbun. Yah, karena sesuatu hal, saat ini memang lebih mudah mencerna beberapa cerita pendek satu per satu daripada sebuah novel panjang yang butuh konsentrasi lama untuk membaca dan menikmatinya tanpa terpengal-penggal. Daaaan, karena aku belum sempat-sempat menulis review untuk mereka semua, kupikir lebih baik menulis mini-review untuk beberapa kumcer ini dan alasan mengapa aku sangat enjoy membacanya.


1. Malam Terakhir - Leila S. Chundori


Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2012)
ISBN: 978-979-91-0521-9
Jumlah Halaman: 117 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kekhasan Leila Chudori yang kutemukan di kisah-kisah Nadira tergurat lagi di sini, lebih jelas, lebih bebas dan lebih dalam. Tema-tema tentang perempuan dan pilihan-pilihan yg harus dibuatnya menjadikan cerpen-cerpen di sini sangat padat makna.

Ini beberapa favoritku:
Dalam Air Suci Sita ia mengangkat kisah klasik Ramayana dan balik menggugat pertanyaan tentang kesetiaan wanita vs kesucian para pria.

Adila bercerita tentang anak dan kekangan yg berlebihan tanpa kasih sayang dan berujung tragedi pribadi. Berbalikan dengan itu, Ilona justru menampilkan kebebasan dan pilihan tanggung jawabnya sebagai beban... atau tidak. Keleluasaan ruang pribadi yang sulit dibagi untuk siapa pun.

Cerpen Keats membuatku jatuh cinta pada puisi On Death.
Can death be sleep, when life is but a dream, 
And scenes of bliss pass as a phantom by? 
Cerpen ini mempertanyakan arti kebahagiaan, dan antara pilihan yang mudah dan jalan cinta. Aku suuuka sekali cara cerita ini bertutur.

Beberapa cerpen lain (Malam Terakhir, Sepasang Mata Menatap Rain) jelas menggali tema-tema sosial politik dalam sudut pandang berbeda. Menarik, tapi otakku sedang merasa bebal sekali untuk mengunyah dan menikmatinya. ^^V


2. Si Janggut Mengencingi Herucakra - A. S. Laksana


Penerbit: Marjin Kiri (2015)
ISBN: 978-979-12-6049-7
Jumlah Halaman: 133 halaman
Penerbitan Perdana: 2015

Bergelut melawan dunia, melawan tokoh lain, dan melawan diri sendiri, tokoh-tokoh dalam kedua belas cerita ini menampakkan secara subtil sisi-sisi terbaik sekaligus mungkin ternaas dari hubungan kemanusiaan.

Kalimat blurb di cover belakang kumcer ini tampaknya sudah sangat tepat menggambarkan isinya. Semua(!) cerpen yang termuat, 12 cerpen total, mengisahkan tokoh-tokohnya yang sedang berada dalam episode paling menyedihkan dalam hidup mereka. Naas. Yup, sangat naas.

Mereka lalu berbagi cerita tanpa menginginkan apapun dari pembacanya, tanpa kejutan, tanpa twist (eh, kecuali Anjing Kecil di Teras Rumah, yang itu twist kecilnya bikin kaget sedikit ^.^), hanya berbagi cerita. Jika setelah mendengar (membaca) cerita ini lalu pembaca ingin merenung dan merefleksikannya kembali, maka itu adalah privilege yang diberikan kumcer ini.

Fav-ku adalah kisah pembukanya, Dijual: Rumah Dua Lantai dan Seluruh Kenangan di Dalamnya. Cerita ini sangat-sangat menyentuh dan real, tanpa ada kesan mendayu-dayu. Endingnya pun... yah bagaimana pun sang istri juga sebenarnya tidak setabah yang ditampilkannya, bukan?

Cerpen lain yang sangat menyentuh bagiku adalah Lelaki Merah di Kaca Jendela. Sedikit sentuhan surealism yang memberi nafas magis bagi cerita ini, membuatnya sulit terlupakan.

Meskipun begitu, keanggunan tema-tema yang diangkat di sini terkalahkan oleh keindahan pemilihan diksi yang digunakan pada kumcer ASL sebelumnya, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu. Tapi mungkin itulah poin pentingnya, kesederhanaan cerita dan kesederhanaan penyampaiannya.

NB: kepo berat dengan kelanjutan cerita Robi dan Ratri.


3. Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0386-4
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2000

Selain Corat-Coret di Toilet dan beberapa cerpen lain, seperti Kandang Babi, kumcer ini kok berasa biasa saja. Kurang nggejreng unsur magic realism yang biasanya jadi ciri khas EK. Meskipun begitu, narasi-narasi panjang penuh permainan logika yang kusuka, memang tetap masih ada.

Tema cerpen Marietje dan Siapa Kirim Aku Bunga? sedikit mengingatkanku pada Murjangkung atau Semua untuk Hindia karena kedua cerpen ini bersetting Hindia Belanda jaman dahulu kala. Bagus sih ceritanya, tapi gak terlalu berasa EK.

Favoritku Corat-Coret di Toilet dan Dongeng Sebelum Bercinta. Kedua cerpen ini 'nakal' tapi menohok dalam menyampaikan isinya. ^.^


4. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9736-2
Jumlah Halaman: 88 halaman
Penerbitan Perdana: 1989

Kumcer ini sangat tipis, net hanya 66 hal saja, dan terbagi dalam 13 cerpen, jadi tiap cerpen hanya 4-7 halaman saja. Taaapii... isi tiap cerpennya kuat menyindir dan tajam menampar berbagai hal yang terjadi di dalam masyarakat. Meski ditulis di era 70-80an, persoalannya masih cukup relevan untuk jaman sekarang.

Aku suka sekali sisi pak AT yang tampil di kumcer ini, terasa muda, ironis dan sinis, seakan mencibir pada keangkuhan strata sosial yang ada dan kemapanannya. Sesuatu yang pada tulisan-tulisan beliau di tahun-tahun selanjutnya (sayangnya) sedikit terlembutkan dan terhaluskan.

Favoritku... eeng... susah memilihnya, aku suka hampir semuanya!!



Itulah mereka, empat kumcer dari empat penulis lokal yang sangat kusukai karya-karyanya. Ada yang menurutku lebih asyik membaca bentuk novel hasil karya mereka, tapi ada pula yang kumcer yang semua cerpen-cerpennya menakjubkan. Yang pasti, aku menikmati setiap saat membacanya.

Bagaimana, tertarik juga? :)



https://www.goodreads.com/review/show/1780437329
https://www.goodreads.com/review/show/1784194596
https://www.goodreads.com/review/show/1790139931
https://www.goodreads.com/review/show/1791810162

Rabu, 31 Agustus 2016

Dukuh Paruk Tersayang, Dukuh Parukku Malang


Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Seri: Ronggeng Dukuh Paruk 1 - 3
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 9789792201963
Jumlah Halaman: 397 halaman
Penerbitan Perdana: 1982




Lihat sinopsis
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai-nilai moral yang kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap Srintil, Sang Ronggeng ayu kenes dari Dukuh Paruk yang miskin dan terkebelakang, sebagai tak lebih dari 'sundal' - sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yang menitis dalam tradisi berpuluh generasi?

Kisah ini mengikuti jalan hidup Srinthil, mulai dari masa kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng dengan segala tantangan hidup yang menyertainya, disertai pergolakan politik tahun 1960an, hingga akhir saat nasib tak terlalu berbelas kasihan padanya. Disatukan dari 3 buku yang awalnya terbit berseri, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, dengan tambahan beberapa bagian yang dulu tidak dapat diterbitkan secara lengkap.


Dukuh Paruk adalah sebuah desa terpencil di Jawa Tengah bagian selatan, entah didasarkan pada sebuah tempat tertentu atau murni hanya imajinasi sang pengarang. Dukuh ini miskin, gersang dan terkebelakang, masih ditambah lagi kental kepercayaannya pada hal-hal mistik dan memiki norma-norma yang lebih bebas, dan yang kumaksud di situ adalah penggunaan bahasa yang lebih vulgar cenderung cabul, kontak fisik lebih bebas, serta yang paling penting, tempat kelahiran para ronggeng yang dipercaya menitis dari generasi ke generasi.


Sejak berumur 12 tahun, Srintil kecil sudah kenes dalam menari, karena itulah ia dipercaya telah dirasuki inang ronggeng yang akan membuat dukuhnya kembali terkenal dan dibicarakan orang. Ronggeng yang akan membawa kamulyan pada desanya. Maka diserahkanlah ia pada pasangan suami istri dukun ronggeng untuk dididik dan dijadikan ronggeng secara lengkap.

Dalam buku pertamanya, Catatan buat Emak, kisah dituturkan dari sudut pandang Rasus, teman Srintil sejak bocah, yang kemudian jatuh cinta mati-matian padanya. Setalah Srintil menjalani berbagai pelatihan dan transformasi pada wajah dan badannya hingga dapat tampil molek menggoda, akhirnya hanya dua hal yang harus dilakukan sebelum ia menjadi ronggeng. Yang pertama adalah penyucian di cungkup makam Ki Secamenggala (yang di novel ini dipaparkan secara amat indah mendetail... dan full of takhayul-ish) dan yang kedua adalah upacara bukak klambu. Sebuah acara pelelangan keperawanan yang dilakukan dengan penuh sorotan mata iri dari para gadis dan hasrat menggebu dari para laki-laki.

Ironis?
Mengerikan?
Menjatuhkan harkat wanita?

Nah, itu tergantung dari nilai moral apa yang kita pakai untuk menilai. Bagi dukuh paruk dan desa-desa sekitarnya, ini adalah kehormatan tinggi yang tak setiap wanita dapat menjalaninya.

Tentang siapa yang akhirnya "menikmati" bukak klambu yang sebenarnya, dan siapa yang "merasa" memenangkan pelelangan ini, ada twist kecil di novel yang bikin cerita tambah ruwet sampai akhir. Adapun Rasus yang merasa terkalahkan dari adat dan tradisi, kemudian malah memilih pergi saat kesempatan unik untuk menjadi tentara terbuka untuknya. Dan aku merasa, Rasus ini perlambang tokoh yang mempunyai kehendak untuk ikut maju dalam kehendak jaman, melepaskan diri dari belenggu lingkaran kebodohan desanya.


Di buku keduanya, Lintang Kemukus Dini Hari, sudut pandang penceritaan berubah ke Srintil yang patah hati. Di sini cukup lama ia galau mempertimbangkan pilihan hidupnya sebagai ronggeng dibandingkan sebagai wanita somahan. Namun dari semua hal yang terjadi, tampaknya ini adalah fase pendewasaan diri seorang ronggeng, dari hanya menjadi bocah yang disetir sang dukun, hingga menjadi tokoh dewasa yang punya pertimbangan dan keinginannya sendiri.

Dalam bagian buku yang ini menurutku baiknya dibaca dan dinikmati bukan hanya sebagai buku romance, tapi sebagai buku budaya. Mengupas keseharian seorang ronggeng, kerja dan seluk beluknya, serta isi hati terdalamnya. Di samping itu, pandangan kaum wanita yang berbeda-beda terhadap sosok sang ronggeng juga enak diikuti. Ternyata tidak semua wanita membenci Srintil, ada "fungsi-fungsi sosial" yang ternyata diembannya. Sekali lagi, kacamata moralitas tak sepenuhnya sejalan dengan nilai sejarah dan tradisi berpuluh generasi.

Kisah kemudian ditutup dengan latar belakang kondisi sosial politik tahun 1965an. Tari ronggeng Srintil dikait-kaitkan sebagai seni rakyat abangan dan terdera dampak yang bisa diduga. Sakit dan sengsara tampaknya memang mengikuti pertanda bintang jatuh yang muncul menjelang pagi itu.


Penutup kisah ini ada pada buku ketiganya, Jentera Bianglala. Srintil yang sedang menata kembali puing-puing kehidupannya, mulai bertanya-tanya, apakah ia masih pantas untuk hidup normal berumah tangga. Secara kependudukan, ada cap ET melekat pada dirinya. Secara manusiawi, julukan mantan ronggeng tetap menhantui. Sekali lagi permainan nasib bersiap-siap menghancurkan dirinya, hingga remuk hati terdalam.

Malangnya Srintil, Malangnya Rasus, Malangnya Dukuh Paruk tersayang.


Satu hal yang membuatku betah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir adalah Bapak AT yang selalu cakap sekali dalam mendeskripsikan keindahan alam pedesaan. Beliau kembali memamerkan kepiawaiannya di trilogi ini. Membacanya berkali-kali seakan kita dibawa mendengar cuitan burung dan merasakan semilir angin di rumpun-rumpun bambu. Sementara itu kisah hidup orang-orang kecil yang terpinggirkan, terlindas keadaan yang tak terpahami oleh keluguan mereka, digambarkan dengan sangat real. Sedemikian wajarnya hingga muncul simpati dan keinginan untuk memahami mereka, seberapapun sulitnya.


The Movie


Sebenarnya kisah ini telah diangkat menjadi film layar lebar berjudul Sang Penari. Tapi aku belum pernah nonton.... jadi belum bisa komen banyak tentang The Movie-nya itu. Yang pasti, setelah baca novel ini, aku jadi bener-bener pengin nonton jugaaaa.... ^.^









https://www.goodreads.com/review/show/1721173672

Senin, 15 Agustus 2016

Pertarungan Logika Kriminal antar 2 Jenius

Judul: Kesetiaan Mr. X
Judul Asli: 容疑者Xの献身 - Yōgisha X no Kenshin
Seri: Detective Galileo #3
Pengarang: 東野 圭吾 - Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 9786020330525
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Naoki Prize (2005), Edgar Award Nominee for Best Novel (2012), Honkaku Mystery Award for Best Fiction (2006), Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year (2006) and more



Lihat sinopsis
Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.



Ini salah satu cerita crime-fiction yang ceritanya tidak malu-malu mengikuti perjalanan tokoh si pembunuh, dan meskipun faktor "siapa" dan "mengapa"-nya sudah dibuka jelas sejak awal, tetapi masalah "bagaimana"-nya masih tetap tersimpan rapi sebagai misteri hingga halaman hampir terakhir. POV yang demikian tentu saja membuat banyak-banyak simpati pembaca terbelah kepada si pembunuh, disertai rasa penasaran bagaimana nanti polisi akan membongkar kejahatan yang sudah diatur sedemikian mendetail oleh otak seorang jenius matematika.

Aku sendiri, meskipun sudah pernah menonton versi adaptasi filmnya, tetap sangat menikmati perjalanan para detektif polisi yang menguraikan satu per satu jebakan alibi dan tipuan yang melingkupi kasus pembunuhan Shinji Togashi, lelaki brengsek mantan suami Yasuko Hanaoka. Sekilas, aku bahkan berharap polisi akan menghentikan penyelidikan setelah pemeriksaan pertama alibi Yasuko. Dan itu bisa saja terjadi... kalau saja Yukawa Manabu tidak secara tak sengaja tercebur dalam kasus ini. Saat mengetahui tetangga Yasuko adalah Ishigawa Tetsuya, Yukawa-sensei tak bisa menahan rasa kangen dan ingin menemui mantan rivalnya di departemen Matematika dulu di universitas. Dari pertemuan ini, sedikit Yukawa-sensei memahami apa yang terjadi pada Ishigawa, dan dari situ dimulailah kembali pertarungan antara dua jenius ini, dengan taruhan nasib Ishigawa sendiri.

"Mana yang lebih hebat, orang yang menciptakan soal yang sulit, atau orang yang mampu menjawabnya?"

Pertanyaan yang menggelitik. Akhirnya memang Yukawa-sensei mampu menjawab soal dari Ishigawa-sensei, namun siapa yang lebih hebat dari mereka? Yang pasti, kesetiaan seorang Ishigawa Tetsuya pada Yasuko memang tak bisa dipertanyakan lagi.

Lalu, yang paling aku suka dari novel ini, adalah beberapa bagian di novel yang dengan halus tapi dalam mengungkapkan kegalauan Yukawa-sensei dalam pengungkapan kasus ini. Tanpa jawaban penjelasan dari dirinya, sudah pasti kasus pembunuhan ini akan mendingin tanpa penjelasan, tetapi tentu saja rasa keadilan dalam dirinya tak dapat membiarkan hal tersebut. Bagaimana ia harus bersikap saat sahabat dan satu-satunya rival yang dianggapnya sepadan, terjerumus dalam lubang dalam tanpa jalan keluar....

Ini salah satu novel crimefic yang berakhir begitu getir, sampai sering aku berharap ada alternatif ending yang lebih membahagiakan.


That being said, harus pula kukatakan, Higashino-sensei, Anda hebat.... *membungkuk hormat*

((kalau novel-novelnya seperti ini, aku jadi mupeng berat baca Det. Kaga, terutama yang The Wings of the Kirin 麒麟の翼. Yakin kasusnya njelimet dan endingnya bakal bikin mewek juga itu... terjemahin juga dunk, GPU, plisss...))

Edisi bahasa Indonesia novel ini seeeeep betul dah. Pertama, karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, jadi rasa dan kesannya masih asli, tidak terdistraksi oleh double-translation. Kedua karena terjemahannya sendiri sangat mengalir dan enak sekali dibaca (mbak Faira, 2 jempol!!). Dan ketiga, covernya cantik sekali. Boneka Daruma yang melambangkan Ishigami dilatari warna merah cerah, plus judulnya yang dituliskan dengan huruf kanji. Gak kalah dari ilustrasi cover asli ataupun edisi terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Aku. Suka.


The Movie
Novel Yōgisha X no Kenshin telah diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, dibintangi oleh Shinichi Tsutsumi sebagai Ishigami Tetsuya dan Masaharu Fukuyama sebagai Yukawa Manabu, plus detektif cantik Kaoru Utsumi yang diperankan oleh Kou Shibasaki, tokoh tambahan yang aslinya tidak ada di novel. Kisahnya cukup setia pada kisah novelnya, bahkan banyak dialognya diadaptasi sama persis dengan aslinya.

Yōgisha X no Kenshin Movie Poster


Meskipun novel ini yang pertama diangkat menjadi film layar lebar, adaptasi seri yang menampilkan tokoh utama Asisten Profesor Fisika Yukawa Manabu dimulai dari dorama 10 episode berjudul Galileo dan prekuelnya, sebuah film televisi berjudul Galileo: Episode Zero.

Sebagai film lepas, tentu saja intrik dan detail rencana si Suspect X ini dapat dinikmati dan dikagumi tanpa harus menonton kedua pendahulunya. Kisah novel dan film ini memang bertumpu pada tokoh utamanya, Ishigami yang jenius namun mengenaskan. Namun menurutku, kegalauan Yukawa Manabu, si lawan yang sepadan bagi Ishigami tersebut, hanya bisa dirasakan jika penontonnya sudah lebih mengenal karakter Yukawa-sensei yang (biasanya) super tenang, logis dan dingin, yang berarti ya... dengan menonton doramanya terlebih dahulu.

Selain ketiga adaptasi itu, masih ada Season 2 dorama Galileo ini (10 episode) dan 2 film televisi lain, Galileo XX dan Galileo: Midsummer's Equation. Ada pula versi Korea dari cerita yang sama, berjudul Perfect Number/Suspect X.

Source:
http://asianwiki.com/The_Devotion_of_Suspect_X
http://asianwiki.com/Galileo


Tentang Pengarang:
Keigo Higashino (東野 圭吾 Higashino Keigo, 4 Februari 1958 - ) adalah penulis Jepang yang terkenal untuk novel-novel misterinya. Setelah lulus dari Osaka Prefecture University sebagai Bachelor of Engineering  dalam bidang Electrical Engineering, ia mulai menulis novel sementara masih bekerja sebagai insinyur pada Nippon Denso Co. mulai 1981. Tahun 1985 ia memenangkan penghargaan tahunan Edogawa Rampo Award, untuk novelnya Hōkago (After School). Ia lalu memulai kariernya sebagai penulis penuh.

Di tahun 1999, novelnya yang berjudul Naoko memenangkan Mystery Writers of Japan Award. Tahun 2006 ia kembali memperoleh penghargaan bergengsi, yaitu 134th Naoki Prize untuk novel masterpiece-nya Kesetiaan Mr. X (Devotion of Suspect X - Yōgisha X no Kenshin). Sebelumnya, sudah 5 buah novelnya yang dinominasikan untuk penghargaan ini. Novel ini juga memenangkan Honkaku Mystery Award dan Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year dan Japanese Booksellers Award Nominee di tahun yang sama. Versi terjemahan Bahasa Inggrisnya masuk nominasi Edgar Award for Best Novel 2012 dan 2012 Barry Award for Best First Novel.

Higashino-sensei tidak hanya menulis novel misteri. Ia juga sering menulis essai dan buku anak-anak. Banyak sekali karya novelnya yang sudah dipindah-mediakan, baik sebagai seri televisi, film televisi maupun film layar lebar.

Source:
https://en.wikipedia.org/wiki/Keigo_Higashino
http://asianwiki.com/Keigo_Higashino




https://www.goodreads.com/review/show/1716502559

Kamis, 11 Agustus 2016

Bromance Story between Potter and Malfoy (Not a FanFic!)



Title: Harry Potter and The Cursed Child
Author: J.K. Rowling, Jack Thorne, John Tiffany
Publisher: Pottermore (2016)
Num of pages: 320 pages
First published: 2016




Lihat sinopsis
The Eighth Story. Nineteen Years Later.

Based on an original new story by J.K. Rowling, Jack Thorne and John Tiffany, a new play by Jack Thorne, Harry Potter and the Cursed Child is the eighth story in the Harry Potter series and the first official Harry Potter story to be presented on stage. The play will receive its world premiere in London’s West End on July 30, 2016.

It was always difficult being Harry Potter and it isn’t much easier now that he is an overworked employee of the Ministry of Magic, a husband and father of three school-age children.

While Harry grapples with a past that refuses to stay where it belongs, his youngest son Albus must struggle with the weight of a family legacy he never wanted. As past and present fuse ominously, both father and son learn the uncomfortable truth: sometimes, darkness comes from unexpected places.



Well now, actually I didn't really want to read this. First, coz it is a staged script, not really a novel, I would preferred to watched the play *yeah right!!*.
Another reason, it's not 100% original JKR.
And mostly, coz I reaaaaallyy like the closing of HP7. It's done. Finale. Perfect.

Why ruins it?

But one thing leads to another, and I end up read it all in one sit. In general, I don't don't like it, I just don't love it like the original HP series.

1) I think JKR is still amazing with every little details. Things that seems trivial in the beginning do have big meaning in the story. Just like Hagrid rode *Sirius Black's bike* to Pivet Drive to take baby Harry, one little blankie plays important in the climax of TCC.

2) Don't like that the villain was too obvious. Oh c'mon, I bet all HP readers point finger to the real CC before 2nd stage even begin, if not earlier. In all seven HP, this never happened... we keep gueesing and guessing... is he bad? is he not?

3) LOVVVVVE that JKR gave Slytherin house a fair chanche. LOVE IT!!!

4) I prefered the concept of time turner in the PoA compare to the concept in here. You can change the future if you obviously came back from the future in the same reality (remember that Harry can defeat the dementors coz he saw/know he defeated them?) That was so unique, and yet surprising.

5) The bromance between this new generation of Potter and Malfoy was overloaded overheated over.... =))
*not sure wether I like or not*

But by and by, it was a fun read. Nostalgic. Some -what if- play with Ron and Hermione life highlight the story. Enjoying new relationship between Harry and Draco too. Great to know of what they all become after all these years (I miss Luna, where is she?). And then sigh.... ooughh, am I as old as them?? Am I as happy as they are?
*yeeeaaah*

Btw, I love you, Scorpius, you are sweet candy man. Don't worry, Rose will soon noticed you for sure, hehehe.... ^^




https://www.goodreads.com/review/show/1724532842

Kamis, 04 Agustus 2016

Kisah Mata Merah Menyala yang Istimewa


Judul: Psychic Detective Yakumo - The Red Eye Knows
Judul Asli: 心霊探偵八雲1 赤い瞳は知っている - Shinrei Tantei Yakumo 1 Akai Hitomi wa Shitte Iru
Pengarang: 神永学 - Kaminaga Manabu
Penerbit:  PT Gramedia (m&c!) (2016)
ISBN: 9786023398706
Jumlah Halaman: 360 halaman
Penerbitan Perdana: 2004



Lihat sinopsis
Untuk berkonsultasi mengenai temannya yang terlibat dalam peristiwa aneh, Haruka mengunjungi "Asosiasi Peneliti Film" karena mendengar kabar tentang keberadaan lelaki yang memiliki kekuatan spiritual di sana. Namun, yang dijumpainya justru seorang anak muda kurus dengan pandangan mengantuk dan rambut acak-acakan. Apakah Haruka akan berhasil melakukan konsultasi sesuai yang direncanakannya?!

Yakumo Saitou, anak muda yang memiliki kemampuan melihat arwah orang mati berkat mata kirinya yang berwarna merah, menghadapi berbagai kasus aneh dengan gaya yang nyentrik. Kasus penyiksaan dan pembunuhan mehasiswi, terowongan berhantu, dan pembunuhan dengan famuflase bunuh diri.... Semua berhasil dipecahkannya dengan baik! Namun, ada sesosok misterius yang membayanginya...


OK, quick confession.
Aku sudah lope-lope sama yang namanya Yakumo ini sejak duluuu, saat pertama kali baca manga versi Oda Suzuka (edisi scanlation gratisan pula). Kombinasi karakter selengekan tapi dependable ini, plus ilustrasi tokoh yang guanteng banget dari Oda bikin aku betah menikmatinya. Padahal manga genre horor seperti ini biasanya sedikit di luar zona nyaman bacaku.

Sempat hiatus cukup lama, sampai aku juga lupa, tahu-tahu teringat saat melihat m&c! mengeluarkan kembali tankubon terbaru manga edisi terjemahannya. Lah, ternyata sudah vol. 10. Sedangkan terakhir baca mungkin baru pertengahan vol. 8. Mau ikutan koleksi, sudah agak sulit mencari yang lengkap. Mau baca scanlation lagi, malu. #halah! #nggaya!  Nah, kok habis itu malah lihat edisi light novel originalnya juga akan diterbitkan. Ini penerbit memang mau ngajak nipisin isi dompet yak.

Di saat itu aku malah jadi tertarik menonton versi animenya. Ngopilah aku 13 episode anime ini dari sumber terpercaya *uhuk*kak lila*uhuk* Lumayan puas nonton ending versi anime, tapi itu malah bikin jadi bener-bener pengin baca novel n koleksi manga-nya. Manganya tetep belum kesampaian, tapi novelnya ini akhirnya berhasil kudapatkan dengan harga diskon plus plus. Begitu paketnya sampai langsung ngebut dibaca, daaaan... ini dia kesan-kesan singkatku setelah membacanya... (singkat aja, udah kebanyakan cerita di atas)
=))


Sesuai sinopsisnya, tokoh utama novel ini adalah Saitou Yakumo. Pemuda ini dilahirkan dengan mata kiri berwarna merah menyala, yang istimewanya, bisa melihat arwah orang yang sudah mati. Karena matanya ini, ia tumbuh besar dengan ditakuti, dikasihani, dijauhi dan lebih sering lagi, di-bully, sehingga karakternya menjadi sangat aneh, sarkastik, kasar, blak-blakan, sometimes even heartless. Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak Ozawa Haruka yang sedang tersandung masalah perhantuan mengunjungi markas rahasianya. Sikap Haruka yang hobi menolong orang (dan hobi pula diculik penjahat) membuat mereka mengalami berbagai kejadian menyeramkan yang melibatkan arwah penasaran dan kejahatan yang belum terselesaikan.

Di novel ini ada tiga kasus yang melibatkan mereka dan Detektif Polisi Gotou serta Ahli Forensik Hata, plus satu kisah tambahan. Meskipun sikap dan pandangan hidup Yakumo dan Haruka amat sangat bertolak belakang dalam hal menolong orang lain yang sedang membutuhkan, tapi satu ucapan Haruka tentang mata kiri Yakumo telah mengikat mereka berdua dalam hubungan yang yang sulit dilepaskan. Takdir mungkin, hihihi....


Secara perbandingan, penggambaran karakter Yakumo di sini jauh lebih keras dan menjengkelkan, tapi sweetness-nya yang suka tiba-tiba muncul, jadi lebih terasa juga. Perbantahannya setiap kali bertemu Det. Gotou selalu bikin geli. Cocok, yang tua yang muda gak ada yang mau kalah.  Aku juga lebih suka penggambaran sosok Ozawa Haruka yang di novel ini daripada di manga dan anime. Lebih kelihatan kontrasnya dengan Yakumo.

Saito Isshin sudah muncul di kasus kedua, tapi tidak ada (belum??) si kecil Nao-chan. Apa memang itu hanya tambahan di versi manga/animenya ya? Entahlah...



Untuk edisi terjemahannya, terasa sedikit kaku dan tersendat. Tapi kalau sudah sering membaca manga terjemahan Jepang akan terbiasa dan tidak terlalu mengganggu. Memang cara percakapan mereka aslinya seperti itu ya.
Shinrei Tantei Yakumo Novel Vol. 1
Nihon Bungeisha Cover

Covernya aku lumayan suka, tampak cantik sekali dengan latar hitam mulus berpadu baju Yakumo yang putih bersih. Kedua warna matanya yang berbeda pasti langsung menarik perhatian pembaca. Suka juga karena penerbitnya mengambil sisi manis buku ini sebagai cover dibandingan cover versi asli yang terkesan sangat dark dan sedikit mengerikan. Walau begitu, kesannya memang jadi lebih feminin daripada ilustrasi manga dan animenya. 




Oh iya, jadi pengin cerita lagi.

Jadi kan kapan hari itu, aku sempat mengingat-ngingat nama pengarangnya ini, Manabu Kaminaga, pernah dengar di mana?? Setelah agak lama, baru teringat pada dorama yang dibintangi Kamenashi Kazuya yang judulnya Yamaneko, si kucing sinting yang ngakunya adalah detektif pencuri dengan semangat Bushidonya. Dan setelah kucek, ternyata memang benar, dorama itu juga diangkat dari novel karya pengarang yang sama. Miaaooo!!

*udah gitu aja ceritanya*
*udah pernah nonton Yamaneko belum? Itu dorama kocak banget dah! nonton deh... *
*ini ripiu kok malah jadi iklan dorama??*



https://www.goodreads.com/review/show/1716502840

Selasa, 02 Agustus 2016

Kunin Bergolak (Lagi) (Penjelajah Antariksa #6)


Judul: Kunin Bergolak (Lagi)
Seri: Penjelajah Antariksa #6
Pengarang: Djokolelono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2016)
ISBN: 9786024240639
Jumlah Halaman: 192 halaman
Penerbitan Perdana: 2016




Lihat sinopsis
Ribuan tahun dari sekarang, Terra atau Bumi yang manusia tempati tiada akibat perang. Penduduk Terra berpencar mencari planet yang bisa mereka tinggali.

Dalam hitungan 24 bulan Starx, Kunin II sebagai pusat kekuatan Jenderal Roon akan diserang oleh Skuadron X, skuadron penghancur sama sekali bukan lawan seimbang. Veta dipaksa untuk membuat peralatan perang tandingan, kalau tidak sisanya akan dimusnahkan.

Di Kunin sendiri tanda-tanda pembangkangan makin terasa. Kerten dan Rahi, penjahat dan ahli racun nomor satu di Kunin sedang mempengaruhi semua penduduk untuk memberontak dan keluar dari planet penjara itu.

Dan Raz yang kini sudah berdamai dengan Vied masih belum juga sembuh dari penyakitnya. Ia sering sedih mengingat broa dan sisanya, kapan mereka bisa bertemu lagi.


Oke, cerita di sini lebih seru dari seri sebelumnya, taaaapiii... tetep masih seret kemajuan ceritanya. Mungkin karena sekarang setting cerita terpecah-pecah menjadi banyak sekali kepingan, hingga sulit menceritakan banyak hal tentang semuanya dengan jumlah halaman yang sangat terbatas.


AWAS!
MILD SPOILER AHEAD!!

Kepingan pertama, melanjutkan akhir kisah Kapten Raz, Vied masih melarikan diri bersama Cette dan Raz, serta Kapten Hann. Raz masih tak sadar diri, hingga akhirnya dimasukkan dalam bilik tidur abadi. Tak tahunya, ia malah mendapat tekanan bawah sadar, dan nyaris mencelakakan Broa dan Pamannya. Meskipun Vied berhasil diselamatkan, tapi harga yang harus dibayar terlalu besar. Sisi baiknya, Raz akhirnya sembuh (sort of) dan jadi lumayan ahli dalam ilmu kedokteran. Vied dan Raz lalu terus melanjutkan perjalanan ke Planet Kunin.

Di bagian lain bercerita tentang para kadet Naz-5 yang sedang dikejar-kejar Hon Gradi. Mereka malah kebetulan bertemu dengan pasukan Skuadron X. Dengan sedikit dalih dan 'kebohongan kecil', serta banyak-banyak keberuntungan, mereka malah mendapatkan pujian dari pemimpin pasukan X ini (plisss, terlalu banyak nama, sampai-sampai aku sudah lupa inih nama Jendralnya).

Di Planet Kunin sendiri, banyak pula hal yang terjadi di berbagai tempat. Rombongan Veta, Stri dan Mesi akhirnya diselamatkan pasukan Jend. Roon. Setelah berbagai strategi dan tawar-menawar, Veta akhirnya bersedia membantu merancang pertahanan darat dan angkasa Planet Kunin ini.

Sementara itu Omodu yang diselamatkan penduduk asli desa terpencil, malah berakhir menjadi mentor dan pelatih para pemuda desa yang hendak menghadiri Pesta Lente.

Di desa asal Omodu, Kerten dan Rahi punya agenda tersendiri, meski pengawasan Jend. Roon juga makin ketat terhadap mereka.  




Dalam buku keenam ini, aku suka adegan pertempuran para kadet Naz-5 vs Hon Gradi, lumayan mendetail hingga aku bisa membayangkan kedahsyatan adegannya. Manuver-manuver mereka 'nakal' dan nekad, khas kadet-kadet muda yang belum berpengalaman namun cerdas dan berani. Aku juga suka bagian perkelahian Omodu dengan Taub, plus sisi strategis sikap Omodu yang menyiratkan kepandaian memimpinnya. Gak sabar menanti kelanjutan cerita pemberontakan Jend Roon di Kunin, karena ini berarti Veta dan Stri akan segera bertemu Vied dan Raz (semoga!) (dan bukan sebagai pihak yang berlawanan!!)

Terakhir, twistnya tentang Hiqza ini, yang mulai dibangun dengan halus di buku kelima dan berlanjut di sini.... KWEREEN! *2 jempol buat pak Djkln* *mudah-mudahan bukan berarti memperpaaaaaanjaaaaang alur ceritanya jadi muter-muter gak karuan lagi d* :D


Daaaaan, aku berharap, dengan semua adegan-adegan kecil yang makin membara di sana dan di sini ini, seperti api dalam sekam yang hanya menunggu waktu untuk terbakar dengan ganas (halah!!), maka buku selanjutnya juga akan muncul dengan berbagai ledakan. Perang besar yang penuh adegan aksi seperti di buku pertamanya. Alur cerita yang berkembang cepat dan mengejutkan. Apa sajalah, yang penting seru. Jadi buku #7-nya kapan terbit ya??? ^^






https://www.goodreads.com/review/show/1714442823
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget