Tampilkan postingan dengan label Non-Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non-Fiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan



Judul: Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan
Editor:  An Ismanto, dkk.
Penerbit: IbuBuku (2009)
ISBN: 9789791436168
Jumlah Halaman: 1001 halaman
Penerbitan Perdana: 2009



Lihat sinopsis
Kami, para kerani Indonesia Buku, mendem di kamar dan di lapik-lapik perpustakaan yang sunyah, berhari-hari, bertahun-tahun, untuk mencatat, mengetik, mencatat, mengetik. Sesaat lagi, kami persembahkan jerih payah itu, dalam buku 100 BUKU SASTRA INDONESIA YANG PATUT DIBACA SEBELUM MATI. Tebalnya 1000 halaman. Buku-buku sastra yang dipilih itu terbit sepanjang abad 20 dan warsa pertama abad 21. Mulai dari novel, autobiografi/biografi, puisi, cerpen, esai, dan catatan perjalanan. Semoga kelak bermanfaat bagi kepustakaan masyarakat sastra Indonesia.

Hanya beginilah cara kami berpartisipasi dan merawat sastra Indonesia. Mohon pemaklumannya. Buku setebal begini akan diluncurkan pada 28 April 2009 (Hari Sastra Indonesia) dan 30 April 2009 (Hari Mangkatnya Pramoedya Ananta Toer).

An Ismanto, Muhidin M Dahlan, Anton Kurnia, Taufik Rahzen

Ini buku babon nan langka yang sudah lama ingin kubaca. Untunglah pertengahan tahun lalu (itu maksudnya tahun 2014 lho), mas Pratono yang baik hati a.k.a Mr. 63 bersedia meminjamkan buku ini kepadaku, meskipun aku hanya bisa menjanjikan waktu yang tidak terbatas dalam membacanya. Maklum, kan bukan novel yang bikin penasaran dan pengin dibaca terus-terus-dan terus lagi. Aku lebih dikatakan membaca-nikmat buku ini. Satu bagian per satu bagian, satu ulasan buku ke ulasan yang lain. Kadang-kadang melompat ke sebuah buku yang ingin kuketahui, lalu balik lagi ke buku yang lain. Semauku. Sampai akhirnya ulasan keseratus buku yang dibahas di sini terbaca semua.



Di kata pengantar di awal buku, disebutkan bahwa:

Buku ini tidak bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Tujuan utama buku ini adalah untuk menemui buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama Pax Literaria Indonesia.
Nyatanya, pengaruh semacam itu bukan hanya akan terasa di lapangan bahasa dan sastra belaka. Ada buku-buku yang memang hanya berpengaruh di lapangan itu saja tanpa diketahui khalayak yang lebih luas, tetapi lebih banyak lagi buku-buku yang pengaruhnya meloncati batas lapangan itu dan memasuki lapangan kemasyarakatan umum.

Keseratus buku sastra dalam buku ini disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang paling muda (2005). Dan ditulis oleh para penulis muda yang rata-rata berumur 25 tahun.

Menilik judulnya, maka aku berharap aku diberi umur yang sangat-sangat panjang. Pasalnya, dari seratus buku yang diulas di sini, baru 26 buku saja yang sudah kubaca + 1 buku di timbunan yang baru saja kudapat. Itu kan baru seperempatnya... lha untuk baca semuaaanya... *mulai menghitung umur* Mana sebagian besar buku-buku ini syusyah sekali dicarinya lagi!!

Untuk buku dan ulasannya sendiri, bagus dan memadai. Tapi memang karena ada banyak pengulas di sini, aku jadi punya preferensi, aku suka ulasan si A dan si B, tapi kurang suka gaya bahasa atau cara pengulasan si Y dan si Z. Tapi sekali lagi itu masalah preferensi. Isi ulasannya tetap memberi pencerahan dan membantu memahami karya-karya sastra Indonesia (dan keadaan sosial budaya Indonesia juga) sejak awal abad lalu.


Dan berikut aku sertakan daftar keseratus judul buku tersebut (warna biru menandakan buku yang sudah pernah kubaca). Berapa buku dari daftar ini yang sudah pernah kamu baca? *kepo*

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan


    1.  Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)
    2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)
    3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)
    4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)
    5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)
    6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)
    7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)
    8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)
    9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)
    10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
    11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)
    12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)
    13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)
    14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)
    15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)
    16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja
    17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)
    18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)
    19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)
    20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)
    21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)
    22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)
    23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)
    24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)
    25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)
    26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)
    27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)
    28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)
    29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)
    30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi
    31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)
    33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)
    34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)
    35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)
    36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)
    37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)
    38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)
    39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)
    40. Karmila karya Marga T (1973)
    41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)
    42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)
    43. Godlob karya Danarto (1975)
    44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)
    45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)
    46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)
    47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)
    48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)
    49.  Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)
    50.  Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)
    51.  Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)
    52.  Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)
    53.  Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)
    54.  O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)
    55.  Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)
    56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)
    57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)
    58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk  karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)
    59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)
    60. Olenka karya Budi Darma (1983)
    61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)
    62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)
    63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)
    64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)
    65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)
    66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak  karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)
    67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)
    68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)
    69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)
    70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)
    71.  Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007
    72.  Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)
    73.  Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)
    74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)
    75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)
    76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)
    77.  Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)
    78.  Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)
    79.  Saman karya Ayu Utami (1998)
    80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)
    81.  Celana karya Joko Pinurbo (1999)
    82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)
    83.  Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)
    84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)
    85.  Memorabilia karya Agus Noor (1999)
    86.  Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)
    87.  Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)
    88.  Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)
    89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)
    90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)
    91.  Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)
    92.  Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)
    93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)
    94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)
    95.  Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan
    96.  Ayat-Ayat Cinta  karya Habiburrahman El Shirazy (2004)
    97.  Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)
    98.  Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)
    99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)
    100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)





linkreviewgoodreads

Kamis, 30 April 2015

Selimut Debu


Judul: Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 978-979-22-5285-9
Jumlah Halaman: 468 halaman
Penerbitan Perdana: 2010





Lihat sinopsis
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.

Minaret Jam (Provinsi Ghor, Afghanistan)

Gambar di atas adalah salah satu objek favoritku dalam kisah perjalanan ini. Sebuah Minaret Jam yang tiba-tiba muncul di tikungan jalan antara Chist-e-Syarif dan Chenghceran, di antara padang-padang gersang dan batu-batu cadas. Tak terduga. Kemegahan yang muncul dalam kekosongan, begitu kata sang penulis yang langsung kuamini. Sisa-sisa peradaban kuno, dari jaman Sultan Ghiyasuddin, sang raja Dinasti Ghorid, yang menaklukkan kekuasaan Ghaznavi dan pada saat bersamaan mendirikan masjid kuno di Herat yang masih gemerlap dan agung hingga hari ini. Mungkin demikian pula kesan yang kudapat berkali-kali selama membaca buku ini. Kemegahan tanah Afghan, yang sekarang tinggal puing-puing terdera perang satu demi satu. Terselimuti debu demikian tebalnya, hingga keindahannya pudar dalam ingatan.


Khaak. Debu. Tanah Kelahiran.

Kata Khaak memang bisa berarti debu, tapi dalan pengertian bahasa Phasto dan Dari -dua bahasa nasional Afghanistan- Khaak juga berarti tanah kelahiran, tumpah darah, segenap hidup dan mati (hal. 14). Dari pengertian ini saja aku sudah terperangah melihat betapa bedanya cara pandang kita dengan mereka. Di sini, di negeri tropis kita ini, kita terbiasa menggunakan istilah Tanah Air. Tanah dan air. Di sana mereka menggunakan istilah debu. Debu.

Membayangkan debu, terbayang pula tanah tandus, cadas dan batu, Tapi dari membaca kumpulan tulisan ini, baru kutahu bahwa tanah Afghan juga punya puncak-puncak gunung tinggi, lembah hijau membentang dan pandang stepa dengan sekian banyak ternak menghiasi. Sebuah kondisi yang sangat kontradiktif dan tak terbayangkan sebelumnya. Negeri Afghanistan sendiri ternyata juga penuh kontradiksi. Selama ini yang terbayangkan hanya sebuah negeri tanpa adab dan penuh kekacauan perang dan bom bunuh diri. Ternyata Afghanistan pernah punya sejarah panjang Raja-raja besar, ulama-ulama terkemuka dan pujangga-pujangga yang punya karya besar. Begitu pun saat membayangkan kota Kabul, tak pernah menyangka sedikitpun bahwa di sana ada mal mewah dan hotel berbintang.


Kontradiksi Afghanistan. Selimut debu dan lembah hijau.
Mal mewah dan rumah tradisional. Tentara dan piknik

“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Hahaha... ini satu lagi kontradiksi negeri ini. Saat sebagian besar orang "mengkasihani" nasib para wanita di sana yang terkungkung Burkha, ternyata mereka malah mengkasihani para perempuan Malaysia dalam foto yang ditunjukkan sedang bekerja di luar rumah. Burkha sebenarnya bukanlah kewajiban dalam Islam, menutup aurat ya. Burkha adalah tradisi Pashtun, dan tradisi seharusnya memang dihormati dan tidak sekedar dihakimi oleh orang di luar lingkaran tersebut. Memang kemudian karena mayoritas penduduk Afghanistan adalah suku Pashtun, (pada saat pendudukan Taliban khususnya) tradisi ini dipaksakan ke seluruh negeri. Dari kisah perjalanan ini tergambarkan bahwa hingga kini pun sebagian wanita justru merasa sangat aman di bawah lindungan Burkha.


Hal lain yang sering kali menjadi titik vokal kisah perjalanan ini adalah kedai teh/penginapan/tempat mencari tumpangan/tempat bergosip yang disebut Samovar. Sebuah universitas kehidupan dalam arti sebenar-benarnya. Berbagai cerita mengalir dari samovar-samovar sepanjang buku ini. Dari yang menonton sinetron India sampai ditinggal tumpangan yang sudah berjanji membawanya. Setelah makan dan cerita sana sini, saatnya menggelar matras di pojok ruangan dan membaringkan tubuh menanti esok hari. Memang tampaknya sederhana sekali sih, tapi menjadi musafir itu memang sungguh sederhana kok!


“ Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti Agama adalah kemanusiaan.”

Kalau ada satu hal yang paling kusayangkan dari negeri ini, itu adalah penghancuran patung Budha raksasa di kota Bamiyan. Peninggalan sejarah ini hilang tak berbekas dan hanya meninggalkan rongga kosong di sisi tebing cadas dan ladang ranjau yang membentang di sekelilingnya. Memang saat ini Afghanistan adalah negara muslim (yang ternyata terbelah-belah juga menjadi Syiah & Sunni), namun itu seharusnya tidak menghapuskan fakta bahwa peradaban Budha besar pernah menjamahnya atau bahwa Alexander Agung dari Macedonia pernah melintasi celah-celah gunungnya. Namun sejarah memang bukan pelajaran utama. Sayang sungguh sayang.


Lokasi bekas Patung Budha yang lebur diluluhlantakkan peluru Taliban (Bamiyan)


Selimut Debu, Sebuah kumpulan tulisan perjalanan seorang Agustinus Wibowo menjelajah Afghanistan yang membuka mataku akan berbagai hal yang kusangka sudah kutahu. Postingan ini hanyalah sedikit dari kisah itu. Masih banyak pengalaman-pengalaman "ajaib" lainnya yang kunikmati sepanjang halaman buku ini. Orang-orang dan kisah-kisah mereka yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang mengalir. Masih banyak pula tempat-tempat eksotis yang tergambarkan di dalamnya. Memang benar. Agustinus Wibowo bukan traveler, ia explorer!




Semua foto yang ada dalam postingan ini dikutip dari blog Agustinus Wibowo di agustinuswibowo.com.
Sebelum diterbitkan menjadi buku, kisah-kisah perjalanan ini telah dimuat sebagai serial berseri di harian Kompas dan dituliskan dalam blog pengarang tersebut.



Postingan ini dibuat untuk mengikuti event Baca Bareng BBI
Bulan: April 2015
Tema: BDDO



https://www.goodreads.com/review/show/1260945310

Senin, 23 Juni 2014

Setan Angka


Judul: Setan Angka: Sebuah Petualangan Matematika
Judul asli: Der Zahlenteufel. Ein Kopfkissenbuch für alle, die Angst vor der Mathematik haben
Pengarang: Hans Magnus Enzensberger, Rotraut Susanne Berner (Ilustrator)
Penerbit: Transmedia (2007)
ISBN: 978-979-75-7181-8
Jumlah Halaman: 272 halaman
Penerbitan Perdana: 1997



Dalam Setan Angka, Enzensberger menawarkan bingkisan unik bagi pembaca segala umur: sebuah persilangan antara Alice in Wonderland dan Flatland, dimana kita temukan rahasia-rahasia mencengangkan tentang matematika, tanpa perlu mengutak-atik satu pun soal matematika.
Robert -bocah dua belas tahun- membenci guru matematikanya, yang membuatnya kesal dengan soal cerita dungu dan tidak mengizinkannya menggunakan kalkulator. Lalu, dalam mimpinya, dia bertemu dengan setan angka yang menunjukkan padanya apa sesungguhnya matematika itu: nol dan satu, rangkaian tak terhingga dan bilangan irasional, bilangan prima dan probabilitas.


Membaca blurb buku ini, aku sudah mengharapkan banyak. Sebuah kisah petualangan seorang bocah, di negeri matematika ala Wonderland, bermain-main dengan angka, mendapatkan banyak rahasia yang mencengangkan, yang semuanya membuat si bocah (dan si pembaca) menjadi suka dengan matematika. Memang sih, semua yang aku sebutkan itu ada di buku ini. Tapi ternyata penyajiannya sama sekali tidak semenyenangkan yang kubayangkan. Rasanya tetap seperti membaca textbook, namun kata-kata pembukanya saja yang dirubah menjadi kisah kekanak-kanakan. Terlebih lagi, plot cerita yang juga tanpa alur yang jelas, tidak ada tokoh protagonis/antagonis, tak ada konflik, tak ada twist, tak ada klimaks. Bahkan endingnya juga seadanya, yah, si Robert sekarang bisa mengerjakan soal matematika yang diberikan gurunya. meh. 

Jumat, 30 Mei 2014

More Weird Things Customers Say in Bookshops


Judul: More Weird Things Customers Say in Bookshops
Seri: Weird Things Customers Say in Bookshops #2
Pengarang: Jen Campbell
Penerbit: Constable and Robinson (2013)
ISBN:  978-147-21-0633-9
Jumlah Halaman: 124 halaman
Penerbitan Perdana: 2013




Weird Things Customers Say in Bookshops was a Sunday Times bestseller, and could be found displayed on bookshop counters up and down the country. The response to the book from booksellers all over the world has been one of heartfelt agreement: it would appear that customers are saying bizarre things all over the place - from asking for books with photographs of Jesus in them, to hunting for the best horse owner’s manual that has a detailed chapter on unicorns. 


One nite long long time ago, I got this ebook titled Weird Things Customers Say in Bookshops. It was a fun book that all of us had a good laugh on it. It was about (what else?!) weird things customers say in bookshops, from a honest mistakes to all completelly ignorance ones. From mismatching Jane Eyre-Jane Austen to the movie effects. All the crazy thing, we (the book nerd ;) ) would found hillarious. And we did.

So, not so long ago, I got the sequel of this book. Now it's called More Weird Things Customers Say in Bookshops. Having loving the first book so much, I set a high bar for this one.

Rabu, 30 April 2014

Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah


Judul: Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
Pengarang: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN:  978-979-22-6884-3
Jumlah Halaman: 528 halaman
Penerbitan Perdana: 2011





Bagaimana menyikapi sebuah garis batas?
Di desa Gulshan, desa kecil yang menjadi batas Negara Uzbekistan dan Kyrgyzstan, keluar rumah berarti pergi ke luar negeri. Ada pula rumah yang dapurnya di Uzbekistan dan ruang tidurnya di Kyrgysztan. Listrik pun berasal dari dua negara, saat pasokan dari Uzbekistan terputus, masih ada aliran dari Kyrgysztan. Unik. Ajaib. Cerdas. Damai. Aman.

Rabu, 23 Januari 2013

Eating Animals


Judul: Eating Animals
Judul Asli: Eating Animals
Pengarang: Jonathan Safran Foer
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792263282
Halaman: 328 halaman
Penrbitan Perdana: November 2009





Apa lauk makan siang hari ini? Ayam, ikan atau daging sapi? Apapun itu, sedikit banyak saya bersyukur karena di Indonesia kebanyakan peternakan yang ada masihlah peternakan tradisional, bukan factory farming/peternakan pabrik seperti di Amerika dan Eropa sana (sebuah trend yang sekarang juga sudah mulai merambah India dan Cina). Buku ini mengulas detail-detail asal-usul produk hewani ala factory farming yang tersaji di piring makan masyarakat luas di Amerika. Jika di Indonesia sempat marak kasus daging sapi glonggongan (sapi yang dipaksa minum bergalon-galon air sebelum dibawa ke tempat penjagalan, agar bobotnya bertambah), dan itu bagi kebanyakan orang sudah membuat bergidik akan ketidakberperikehewanannya, maka dalam buku ini akan dipaparkan kekejaman yang berpuluh kali lebih sadis. Yang lebih menakutkan lagi, kekejaman ini dilakukan dengan sadar, terencana, dalam skala industri masif dan 'direstui' oleh pemerintah, baik federal dan negara bagian.

Video dari Youtube berikut mungkin dapat memberi gambaran singkat tentang isi buku. (Peringatan: meski sudah saya carikan yang paling mild dari banyak video yang ada -just search for keyword 'meet your meat' or 'factory farming'- tapi tetap ini viewer discretion's adviced. Watched on your own risk.)




Ayam

Species ayam yang diternakkan direkayasa secara khusus, hingga punya dada super mentok, paha berdaging, dan kaki pendek. Ketidakproporsional bentuk tubuh ini adalah kecacatan yang disengaja. Ini masih ditambah pemilihan gen gemuk, suntikan hormon pertumbuhan dan antibiotika nonterapeutik (yang pada gilirannya mengakibatkan kekebalan antibiotik pada manusia) dan pengaturan lampu ruangan agar ayam makan terus menerus selama 39 hari masa kehidupannya.

Kandang ayam standar di peternakan pabrik berukuran 18 x 150 m2, berisi sekitar 50.000 ayam. Jadi ambil sehelai kertas A4 di meja Anda, lipat jadi 2, itulah kira-kira besar ruang untuk masing-masing ayam. (*dulu waktu masih jadi roker -rombongan kereta- naik krl pagi sering teriak, 'gerbongnya udah penuh kayak sarden.' sebuah ungkapan yg ternyata kurang kena.... harusnya 'udah penuh kayak ayam di peternakan pabrik!'*) Untuk mencegah ayam-ayam berkelahi dan saling bunuh di ruang sempit, paruh anak ayam berusia 7 hari dipotong menggunakan pisau panas.

Akibatnya, ayam jadi bola bundar, hidup diantara kotoran dan bangkai teman-teman sesama ayam, selalu kesakitan, stres, sakit jantung dan tidak biasa/bisa berjalan.

Kekejaman proses pengangkutan dan penjagalan jangan dibahas lagi deh. Rata-rata 105 ekor ayam per 3,5 menit. *Boro-boro jagalnya sempet baca Basmallah #eh?*

Catatan pemerintah, 95% ayam di peternakan terinfeksi bakteri E.Coli dan 75% daging ayam yang dijual di toko masih terinfeksi (hal.128)

Ikan

Dalam peternakan Salmon, air yang digunakan sangat tercemar dan kotor hingga kutu laut berkumpul sampai 30 ribu kali lipat daripada yang terjadi di alam. Kutu ini punya istilah beken dalam industri, yaitu Death Crown, karena mereka membuat borok dan memakan ikan sampai ke dagingnya di bagian kepala.
Saat panen, ikan-ikan salmon ini dipotong insangnya, dan dibiarkan sampai mati kehabisan darah.

Ok, bagaimana dengan ikan hasil tangkapan di laut. Pukat harimau yang paling umum digunakan nelayan di Amerika untuk menangkap udang, membuang 80-90% hasil tangkapannya (ikan apa saja termasuk hiu, lumba-lumba, paus dan pari, kepiting, cumi-cumi, kerang, albatros dan penyu) kembali ke laut.... dalam keadaan mati! (hal 185)

Babi

Babi betina indukan dibuat bunting sesering mungkin sepanjang hidupnya. Suntikan hormon diberikan agar semua bayi babi lahir dalam waktu bersamaan, kemudian dalam 3 minggu, induk bayi sudah diinseminasi kembali. Selama kehamilan, babi dikurung dalam kandang yang sangat pas badan, hingga ia bahkan tidak dapat berbalik badan ataupun berbaring dengan sempurna. Borok dan nanah yang terjadi akibat kurang gerak adalah hal lumrah.

Banyak anak babi yang lahir cacat. Mereka dibunuh dengan cara dibanting (begitu juga nasib anak babi yang dalam sekian hari tidak mencapai berat tertentu - banting sampai mati!) Anak babi yang beruntung lahir tidak cacat, dipotong ekornya dan dicabut gigi taringnya. Dalam 10 hari, anak babi jantan dicabut pelirnya, karena konsumen lebih doyan rasa daging hewan kebiri. Sementara itu, hormon pertumbuhan dan antibiotika nonterapeutik wajib hukumnya. (*jangan bayangin anak babi lutju macam film Babe: Pig in the City deh, tambah ngenes jadinya*)

Sekali lagi, proses pengangkutan dan penjagalan lebih baik tidak dibahas. Mual saya membacanya.

* Satu peternakan babi dapat memproduksi 3200 ton lebih limbah kotoran per tahun. Banyak sekali tahi, yang dikelola secara asal-asalan, merembes ke sungai, danau dan laut, membunuh kehidupan liar dan mencemari udara, air, tanah. (hal 169)

* Sumber pertama wabah flu babi H1N1 adalah peternakan pabrik babi di North Carolina. Di peternakan pabrik juga, para ilmuwan melihat virus yang memadukan materi genetis dari virus burung, babi dan manusia. Enam dari delapan segmen genetik virus yang sekarang paling ditakuti di dunia berasal dari peternakan pabrik di Amerika (hal 139)

Sapi

Nasib sapi ternak pabrik tidak begitu berbeda dengan babi. Selain potong pelir, tanduk mereka juga dipotong, dan badan dicap dengan besi panas.

Sapi yang secara natural adalah herbivora, sekarang diberi pangan yang juga termasuk darah sapi dari rumah jagal, sisa-sisa tulang pendahulunya, sampah dan entah apa lagi.


***


Jadi meski dalam 50 tahun terakhir, harga mobil baru di Amerika naik 1400%, namun harga susu hanya naik 350%, harga telur dan ayam bahkan belum berlipat ganda. Dengan mempertimbangkan inflasi, harga protein hewani saat terendah sepanjang masa. Namun apakah itu sepadan dengan tingginya tingkat obesitas, diabetes, tingginya tekanan darah, zat karsinogen, ketidakefektivan antibiotik, dan perkembangan sekian banyak virus dan bakteri? Apakah juga sepadan dengan dengan hilangnya rasa kasihan dan peri-kehewanan, yaitu nama lain dari rasa kemanusiaan kita sendiri?

Meningkatnya jumlah produk hewani ini juga tidak lalu menurunkan angka kelaparan dunia. Hari ini baru 16% produk hewani menjadi makanan orang Cina, namun hewan ternak telah menghabiskan 50% lebih konsumsi air negeri tersebut. Tahun 2050 ternak sedunia akan menghabiskan jatah padi-padian yang cukup untuk memberi makan 4 Miliar manusia. (hal. 254)

Bukankah sia-sia, jika untuk setiap produk kosmetik kita bersusah payah mencari yang 'free animal testing' namun jika pada kenyataannya menu makan siang kita masih berasal dari tempat seperti itu (dan di Amerika sana, lebih dari 90% produk hewani yang beredar di toko retail, berasal dari peternakan pabrik!). Mungkin Indonesia belum sampai pada tahap ini, tapi harusnya fakta-fakta ini diketahui sebelum kita harus mengambil keputusan di hari esok.





http://www.goodreads.com/review/show/410806525
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget