Tampilkan postingan dengan label Review 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review 2015. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan



Judul: Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan
Editor:  An Ismanto, dkk.
Penerbit: IbuBuku (2009)
ISBN: 9789791436168
Jumlah Halaman: 1001 halaman
Penerbitan Perdana: 2009



Lihat sinopsis
Kami, para kerani Indonesia Buku, mendem di kamar dan di lapik-lapik perpustakaan yang sunyah, berhari-hari, bertahun-tahun, untuk mencatat, mengetik, mencatat, mengetik. Sesaat lagi, kami persembahkan jerih payah itu, dalam buku 100 BUKU SASTRA INDONESIA YANG PATUT DIBACA SEBELUM MATI. Tebalnya 1000 halaman. Buku-buku sastra yang dipilih itu terbit sepanjang abad 20 dan warsa pertama abad 21. Mulai dari novel, autobiografi/biografi, puisi, cerpen, esai, dan catatan perjalanan. Semoga kelak bermanfaat bagi kepustakaan masyarakat sastra Indonesia.

Hanya beginilah cara kami berpartisipasi dan merawat sastra Indonesia. Mohon pemaklumannya. Buku setebal begini akan diluncurkan pada 28 April 2009 (Hari Sastra Indonesia) dan 30 April 2009 (Hari Mangkatnya Pramoedya Ananta Toer).

An Ismanto, Muhidin M Dahlan, Anton Kurnia, Taufik Rahzen

Ini buku babon nan langka yang sudah lama ingin kubaca. Untunglah pertengahan tahun lalu (itu maksudnya tahun 2014 lho), mas Pratono yang baik hati a.k.a Mr. 63 bersedia meminjamkan buku ini kepadaku, meskipun aku hanya bisa menjanjikan waktu yang tidak terbatas dalam membacanya. Maklum, kan bukan novel yang bikin penasaran dan pengin dibaca terus-terus-dan terus lagi. Aku lebih dikatakan membaca-nikmat buku ini. Satu bagian per satu bagian, satu ulasan buku ke ulasan yang lain. Kadang-kadang melompat ke sebuah buku yang ingin kuketahui, lalu balik lagi ke buku yang lain. Semauku. Sampai akhirnya ulasan keseratus buku yang dibahas di sini terbaca semua.



Di kata pengantar di awal buku, disebutkan bahwa:

Buku ini tidak bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Tujuan utama buku ini adalah untuk menemui buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama Pax Literaria Indonesia.
Nyatanya, pengaruh semacam itu bukan hanya akan terasa di lapangan bahasa dan sastra belaka. Ada buku-buku yang memang hanya berpengaruh di lapangan itu saja tanpa diketahui khalayak yang lebih luas, tetapi lebih banyak lagi buku-buku yang pengaruhnya meloncati batas lapangan itu dan memasuki lapangan kemasyarakatan umum.

Keseratus buku sastra dalam buku ini disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang paling muda (2005). Dan ditulis oleh para penulis muda yang rata-rata berumur 25 tahun.

Menilik judulnya, maka aku berharap aku diberi umur yang sangat-sangat panjang. Pasalnya, dari seratus buku yang diulas di sini, baru 26 buku saja yang sudah kubaca + 1 buku di timbunan yang baru saja kudapat. Itu kan baru seperempatnya... lha untuk baca semuaaanya... *mulai menghitung umur* Mana sebagian besar buku-buku ini syusyah sekali dicarinya lagi!!

Untuk buku dan ulasannya sendiri, bagus dan memadai. Tapi memang karena ada banyak pengulas di sini, aku jadi punya preferensi, aku suka ulasan si A dan si B, tapi kurang suka gaya bahasa atau cara pengulasan si Y dan si Z. Tapi sekali lagi itu masalah preferensi. Isi ulasannya tetap memberi pencerahan dan membantu memahami karya-karya sastra Indonesia (dan keadaan sosial budaya Indonesia juga) sejak awal abad lalu.


Dan berikut aku sertakan daftar keseratus judul buku tersebut (warna biru menandakan buku yang sudah pernah kubaca). Berapa buku dari daftar ini yang sudah pernah kamu baca? *kepo*

Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan


    1.  Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)
    2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)
    3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)
    4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)
    5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)
    6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)
    7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)
    8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)
    9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)
    10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
    11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)
    12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)
    13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)
    14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)
    15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)
    16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja
    17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)
    18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)
    19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)
    20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)
    21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)
    22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)
    23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)
    24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)
    25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)
    26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)
    27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)
    28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)
    29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)
    30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi
    31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)
    33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)
    34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)
    35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)
    36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)
    37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)
    38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)
    39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)
    40. Karmila karya Marga T (1973)
    41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)
    42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)
    43. Godlob karya Danarto (1975)
    44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)
    45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)
    46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)
    47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)
    48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)
    49.  Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)
    50.  Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)
    51.  Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)
    52.  Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)
    53.  Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)
    54.  O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)
    55.  Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)
    56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)
    57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)
    58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk  karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)
    59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)
    60. Olenka karya Budi Darma (1983)
    61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)
    62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)
    63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)
    64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)
    65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)
    66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak  karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)
    67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)
    68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)
    69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)
    70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)
    71.  Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007
    72.  Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)
    73.  Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)
    74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)
    75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)
    76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)
    77.  Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)
    78.  Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)
    79.  Saman karya Ayu Utami (1998)
    80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)
    81.  Celana karya Joko Pinurbo (1999)
    82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)
    83.  Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)
    84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)
    85.  Memorabilia karya Agus Noor (1999)
    86.  Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)
    87.  Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)
    88.  Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)
    89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)
    90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)
    91.  Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)
    92.  Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)
    93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)
    94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)
    95.  Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan
    96.  Ayat-Ayat Cinta  karya Habiburrahman El Shirazy (2004)
    97.  Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)
    98.  Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)
    99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)
    100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)





linkreviewgoodreads

Senin, 28 Desember 2015

Airman


Title: Airman
Author: Eoin Colfer
Publisher: Puffin Books (2008)
ISBN:  9780141383354
Pages: 424 pages
First Published: 2007
Literary Awards: Carnegie Medal Nominee (2009)





Synopsis
In the 1890s Conor and his family live on the sovereign Saltee Islands, off the Irish coast. Conor spends his days studying the science of flight with his tutor and exploring the castle with the king’s daughter, Princess Isabella. But the boy’s idyllic life changes forever the day he discovers a deadly conspiracy against the king. When Conor tries to intervene, he is branded a traitor and thrown into jail on the prison island of Little Saltee. There, he has to fight for his life, as he and the other prosoners are forced to mine for diamonds in inhumane conditions.

There is only one way to escape Little Saltee, and that is to fly. So Conor passes the solitary months by scratching drawings of flying machines on the prison walls. The months turn into years; but eventually the day comes when Conor must find the courage to trust his revolutionary designs and take to the air.

I knew I loooove Eoin Colfer's writting since the first time I laid my eyes on Artemis Fowl years ago, so when I saw this novel on some discount racks in one of the bookstore, I grabed it without thinking much... then it went to my stacks... and burrrrieeed... until being digged up and resurrected by my nephew as randomly picked in this year Lucky No.15 Challenge.

So, actually... I really-really like this novel, but eventhough I do, I can't passed the lame twist and lies which this story was built and how it climax and ended.

The story was about Connor Broekhart, a young smart and brave lad, from Great Saltee, some island nation in Irish land. His father was a captain of the King Nicholas's guard and his mother was scientist. He befriended with Princess Isabella, and both was teached by a French visionary tutor named Victor Vigny. Vigny was personal friend of King Nicholas, and both dreamt of making a flying machine that worked and flew at will.

Then, enter the villain guy... the Marshall Lord Hugo Bonvilain. He wanted to overthroned the King, and what way easier to do it but to kill him and made Vigny a French spy. Young Connor incidently witness this scheme, so he had to be removed as well.

This is when I felt the basic of the story fell apart. How... please someone tell me... HOW could Capt. Broekhart, a most trusted and experienced soldier of the King and also a friend of Victor Vigny, not to mentioned a father that his only son involved in this coup d'etat, could be so foolishly fell into Bonvillain's words. Cannot he think at allllll??? Not even a slightly doubt? Blindly followed the devil without even wanted to conduct his own investigation of such great event? Puhliiisss....

Buuut..., I still hoped that this was some kind of insane twist, maybe Capt. Broekhart had something in his mind, something for the greater good, so I waited and waited and waited... only to be disapointed all over again. The climax scene was lame and boooòóooring. Also too short compared to all of adventures that were going on.

Other than that, Isabella, Catherine and Declan characters do not deep enough to be believeable, to be humanise. I know this story was told from Connor POV, but i think the characters in the palace should be built strong enough to counter Connor's. On the other hand, Linus Wynter character was stealing the scenes. I loved his kind sarcastic lines and his unweavering trust to Connor.

So, all that being said, Connor parts of the stories were all good, I love him from the moment of his birth on the sky, his learning days with Victor Vigny (and his mis-behaved with Isabella) to his 'learning days' in Little Saltee to the broken-hearted airman days. His prison breaks was the best moment of them all, even felt much grandeur than Edmond Dantes' from Château d'If.

By and by, I loveeee the Connor 'Airman' Broekhart story *five full stars there*, I love this steampunk description and engines, but the premises are too annoying to be dismissed. Sorry... 3 stars it is.




https://www.goodreads.com/review/show/467318165

Selasa, 15 Desember 2015

Middlemarch


Title: Middlemarch
Author: George Eliot
Publisher: Wordsworth Classics (2000)
ISBN: 9781853262371
Pages: 776 pages
First published: 1872
Literary Awards: -





Synopsis
'We believe in her as in a woman we might providentially meet some fine day when we should find ourselves doubting of the immortality of the soul'

wrote Henry James of Dorothea Brooke, who shares with the young doctor Tertius Lydgate not only a central role in Middlemarch but also a fervent conviction that life should be heroic.

By the time the novel appeared to tremendous popular and critical acclaim in 1871-2, George Eliot was recognized as England's finest living novelist. It was her ambition to create a world and portray a whole community--tradespeople, middle classes, country gentry--in the rising provincial town of Middlemarch, circa 1830. Vast and crowded, rich in narrative irony and suspense, Middlemarch is richer still in character, in its sense of how individual destinies are shaped by and shape the community, and in the great art that enlarges the reader's sympathy and imagination. It is truly, as Virginia Woolf famously remarked, 'one of the few English novels written for grown-up people'.

I finally read it. REALLY READ IT!! No wonder this book is called a giant within classic lit, and not only by its size, but also the scope of the stories.... It has everything, from romance to politics, from history to (their) progress and future predictions, from feminine activist to puritans point of view. And thus, Miss Eliot took them all, put a lot of twists on them and presented on silver tray for generations to enjoy.

After done reading it, I just realise how similar this novel with JKR's The Casual Vacancy is. The town of Pagford is a new Middlemarch, with all its accidental-infamous characters. No lead actor, just web of peoples interaction and affect each others' life, with abundant amount of gossips and noosey people... hypocrite or not.

Read also: My Sidenotes as I read this novel

We mortals, men and women, devour many a disappointment between breakfast and dinner-time; keep back the tears and look a little pale about the lips, and in answer to inquiries say, "Oh, nothing!" Pride helps; and pride is not a bad thing when it only urges us to hide our hurts— not to hurt others.

Middlemarch was a name of a small town in England and the setting was around 1829s. The novel had another title, or subtitle, which was A Study of Provincial Life, which was accurate, because that what it was... a novel about lifes of people in a small town. Of course there are some people that get more attentions, like Ms. Dorothea Brooke, Ms. Rosamund Vincy, Ms. Mary Garth, Mr. Tertius Lydgate, Mr. Will Ladislaw, Mr. Casaubon, Mr. Bullstrode, to name just a few. All of them and many more, plus a omniscient narator made Middlemarch a story about human experience, self fulfilment, religious elements and hyprocricy. There was no villain nor a hero, all of them all villain and hero in one time or another. There are marriages stories (because we actually NOT "live hapily ever after" after the wedding), there are stories about finding your place in society, there are dreams (shatered and built), plus some English-history lesson of land reform and aristocracy fallen down.

Yes, Middlemarch had them all.... but in the end, I thought of it as a woman perspective when seeing changes and opportunity. Eliot may used a man's name while publishing this novel, but it feminine point of view (like when she idealistic the character of Dorothea or Mary, while writing a worthless beauty of Rosamund) was felt through and through.


What I loved the most about this book was how the women react when facing a terrible situation in the climax of the book, the dead of Raffles the blackmailer, with both Bullstrode and Lydgate as suspects. First, of course, there was Harriet Bullstrode. She was one annoying noosey old lady, with upright position. But all my respect goes to her, when she stands by her husband, trust him no matter what, and support him through this hard time. In the contrast was Rosamund Lydgate. She completely didn't care of her husband position, did not offer a nice words or even say she trust him. The first thing came into her mind was how her social status would affected by this incident. Blaaaahh!! 

Dorothea, in the other side, trust Lydgate since the first time she heard about it. She even supported him anyway she could, and that made Lydgate breath easier since. If I could be so bold to say, Lydgate should've been married to Dorothea. His idealistic vision of a hospital and helping people would have met Dorothea's saint point of view. He could be a best doctor with a good wife's behind him... yeah... but they met in the wrong time. *sigh*


So, in the end, some love wins (Fred and Mary, Will and Dorothea) some marriage works (Sir James and Celia, the Bullstrodes), and some marriage are definetly doomed since the beginning (Casaubon and Dorothea, Lydgate and Rosamund). But lives goes on.... All the good deeds and bad karmas have long shadows that follow you wherever you go. And karma trully a bi**h, for she asked for repayment on worst times... but a bit of good deeds also bring a wholly amount of happiness when you thought all hopes are gone.  

I also admired the most was this novel was about second chances too. People made mistakes, but what about attonement? Well, in short, this quote said it all....
"Character is not cut in marble - it is not something solid and unalterable. It is something living and changing, and may become diseased as our bodies do."
"Then it may be rescued and healed."
(A quote from Farebrother when hearing about Lydgate's part of Raffles affair, but Dorothea stated she still trust Lydgate and wanted to give him a second change)


LOVE IT. Priviledge to read it. So glad I finally finished it *and re-read it again*.
Thank you Bzee for challenged me to read this book. I've done it!!
*proud of myself*


About the Writer:

George Eliot was a pen name of Mary Ann Evans (22 November 1819 – 22 December 1880). She was English novelist, journalist, translator and one of the leading writers of the Victorian era. She is the author of seven novels, including Adam Bede (1859), The Mill on the Floss (1860), Silas Marner (1861), Middlemarch (1871–72), and Daniel Deronda (1876), most of them set in provincial England and known for their realism and psychological insight.

She used a male pen name, she said, to ensure her works would be taken seriously. Female authors were published under their own names during Eliot's life, but she wanted to escape the stereotype of women only writing lighthearted romances. She also wished to have her fiction judged separately from her already extensive and widely known work as an editor and critic. An additional factor in her use of a pen name may have been a desire to shield her private life from public scrutiny and to prevent scandals attending her relationship with the married George Henry Lewes, with whom she lived for over 20 years.
Source: Wikipedia

Middlemarch was considered as the greatest novel in the English language. It first published in eight instalments (volumes) during 1871–2. Instead publishing it in standar three books, mostly because of the thickness, it was published in four books, each contains 9-14 chapters each from the serialisation, and every two months between parts. 
Source: www.uv.es



www.goodreads.com/review/show/69318358

Senin, 02 November 2015

Sudut Mati


Review Buku  
Judul: Sudut Mati  
Pengarang: Tsugaeda
Penerbit: Bentang Pustaka (2015)
ISBN: 9786022910374
Jumlah Halaman: 344 halaman
Penerbitan Perdana: 2015




Lihat sinopsis
Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.

Namun Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode 'Si Dokter' mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.

Thrilling-plot, alur yg cepat dan potongan bab-babnya yang pendek-pendek, membuat saat sudah mulai membaca buku ini suliiiit sekali melepasnya hingga akhir. Sama seperti dulu saat aku membaca Rencana Besar, jalinan cerita Sudut Mati ini memikat dan membuat kecanduan membaca... selalu berpikir, baca satu bab lagi, satu bab lagi, masih ada sedikit waktu, tambah satu bab lagi... *tiba-tiba sadar sudah kesiangan mau berangkat ngantor* hahaha.....

Dari segi kisah, aku suka sekali kekompleksan sekaligus kesederhanaannya. Dilatari sebuah keluarga chaebol kaya raya dengan empat anak, tiga lelaki dan satu perempuan, dengan karakternya masing-masing... dan kegilaannya masing-masing, bertahan saat krisis melanda keluarga mereka, serangan dari keluarga lawan bisnis. Dasar keluarga Proyogo yang sudah keropos, tiba-tiba harus menjadi solid dan padu jika tidak ingin dilenyapkan secara total oleh Ares Inco. Ada Titok sang pewaris tahta yang tidak becus namun setia, Teno, yang "gila?" dan dikurung di balik penjara soliter dan Tiara, si artis sinetron yang menikah dengan putra mahkota musuh. *yaaa ampuun... Yong Pal sekali.... sorry... korean-drama-addict-talking*. Namun, yang jadi tokoh utama adalah Titan, sang putra ketiga yang selama ini menyepi, menjauh dari hingar-bingar bisnis keluarga di Amerika, walaupun di sana dia diam-diam malah jadi konsultan bisnis top-class. Kisah ini mulai bergulir saat kepulangan Titan dari Amerika dan mulai mengambil alih jalannya bisnis grup Prayogo yang sedang compang-camping pasca ambruknya Bank UBI dan segala konsekuensinya (baca: Rencana Besar). Berbagai krisis dia tangani, namun separuh jalan dalam novel ini, pembaca mungkin akan mulai bertanya-tanya, apa motif sebenarnya dari Titan ini, benarkah sepenuhnya hanya untuk menyelamatkan Grup Prayogo... ataukah ia punya agenda tersendiri untuk menguasainya....

Seperti kataku tadi, kisahnya sederhana, tapi juga kompleks, karena detail-detail yang diberikan untuk membangun tiap karakter dalam cerita, terasa sangat lengkap dan kuat. Bukan hanya para Sigit Prayogo dan para putra-putrinya, tapi juga karakter-karakter lainnya, seperti Kath, Kevin, Danang, dan tentu saja, si Dokter. Aku bisa membayangkan dengan cermat mereka semua, saat lapis-demi-lapis karakterisasi dan lapisan kisah dibangun. Sayangnya, aku merasa karakter utamanya, Titan Prayogo ini, malah yang paling kurang mencorong dibanding, ya misalkan saja Teno (yg meski tampil singkat tapi meledak) atau si Dokter yang rumor-rumor yg mendahuluinya saja cukup untuk mengutuhkan karakter misteriusnya. Dibanding mereka berdua, Titan terasa terlalu.... biasa. Ya, dia pakar bisnis, ya dia cerdik lihai, dia juga tahu cara menghandle krisis, ehm, lalu kenapa.... Apa ya... mungkin idealismenya yang kurasa sedikit membosankan #EH *yeah, something really wrong with me* :-P

Spoiler [Memang sedikit mengejutkan saat ia menipu sang ayah dan mengambil-alih perusahaan, namun motifnya terlalu cepat dijelaskan, seakan-akan pengarangnya tidak rela sang tokoh disalah-pahami. Satu-satunya adegan di mana Titan jadi tokoh favoritku-ku adalah saat dia sengaja mengakusisi perusahaan Danang cuma untuk mendapatkan Danang kembali jadi COO-nya ]

Endingnya... cukup memuaskan. Sedikit kecewa karena sangat konservatif (yay, kebaikan pasti menang) dan salah tokoh paling eksentrik dalam kisah novel ini harus mati, tapi ya... yah demikianlah. Twist tentang identitas si Dokter enak diikuti (meski sudah sedikit tertebak sejak flashback Tiara di NY) dan epilognya menutup kisah dengan senyuman.

Selain masalah itu, novel ini tetap saja jadi salah satu cerita thriller dalam negri yang paling menarik yang kubaca tahun ini, Tidak kalah dengan novel-novel thriller luar. Ditambah lagi, ceritanya masih 'satu universe' dengan RB, jadi terasa kesinambungan kisahnya, dan mungkin... MUNGKIN... bisa diharapkan akan ada novel selanjutnya saat Makarim bertemu dan bekerja sama dengan Titan??


Tentang bukunya sendiri, aku suka ilustrasi cover-nya. Gedung yang tampak di sebelah kiri itu adalah bangunan paling kusukai bentuknya di antara semua gedung di seputaran Jalan Sud-Tham (meski olok-olok temanku, itu "gedung mencari petir" :D ). Kesan thriller-korporasinya sangat terasa dalam cover. 



* * *


Selain puas baca bukunya, senang sekali karena hari minggu kemarin bisa bertemu Tsugaeda, pengarang novel ini, dalam acara Lunch with Tsugaeda yang diadakan teman-teman Goodreads wil. Semarang. Selain bercerita tentang banyak hal dalam novel terbarunya, sempat juga si Mas berbagi tips-tips mengarang dan menerbitkan buku. Sempat bagi-bagi doorprize pula... ahzeek.... ^^V

(LPM mana nihhh? *lirik goodreaders semarang* )


Pamer foto waktu lagi minta tanda tangan Mas Pengarang :)




https://www.goodreads.com/review/show/1428895883

Sabtu, 31 Oktober 2015

The Dragon Next Door


Review Buku  
Judul: The Dragon Next Door  
Judul Asli: 용이산다 - Yongi Sanda
Pengarang: 초 - Cho (Jung Sol)
Penerbit: Haru (2015)
ISBN: 9786027742529
Jumlah Halaman: 328 halaman
Penerbitan Perdana: Juli 2013 on Naver Webtoon



Lihat sinopsis
Walaupun hanya bisa menyewa sebuah apartemen sempit, akhirnya kehidupan bebas Choi Woo Hyuk dimulai.

Namun, saat dia berniat membagikan kue tteok pada tetangga sebelahnya, ia melihat seekor naga sedang bermain game.

Ternyata, tetangga barunya adalah seekor naga!

Setelah laaaama terkena readers-block, webtoon ini sukses bikin mood bacaku yang menghilang kembali. Ceritanya yang simpel tapi full imajinasi (dan tidak seperti manga yang kebanyakan hitam-putih, karena ini asalnya dari media Webtoon, gravel ini  full color hingga lebih mudah dicerna dan dinikmati), ditambah karakter-karakternya yang super konyol... ehm.. KONYOL (dengan huruf kapital semua!!), sukses bikin ngakak-ngakak sendiri. Nggak naga-naganya, nggak manusianya... ya ampyuuun...

Tapi meskipun komikal dan cenderung slapstick, ternyata tetap masih banyak cerita-cerita realistis yg diangkat. Dari perjuangan sebagai pekerja muda yang baru masuk persaingan industri, sampai suka dukanya jadi mangaka dan penulis novel. Ditambah masalah keluarga dan perjodohan, naah, lengkap dah. Ada juga suka dukanya jadi naga yang harus sembunyi di dunia manusia #EH *itu mah bukan cerita realistis!!*

Kesimpulannya.... nagaaaa juga manusiaaaa, punya rasa punya hati... jangan samakan dengan.... imugi.... #EH #EH #EH *kok malah nyanyi gak karuan ki piye??* :D

Ah sudahlah...  tadi kulihat di naver, ternyata Webtoon ini ada season 2-nya. Kapan ya dibukukan lagi...


Notes:
Aku hepi banget dan surprise waktu lihat Penerbit Haru menerbitkan Webtoon. Semoga ke depannya Penerbit Haru ini makin sering melirik Webtoon untuk jadi andalannya, bukan hanya yg komedi ringan seperti yang ini atau Blood Type, tapi juga yang genre action seperti Noblesse, City of Dead Sorcerer dan Tower of God. Buat alternatif bacaan selain shonen manga lah.

Seeeep... sabar menanti nih *sambil main game bareng Woo Hyuk dan Yong*.



https://www.goodreads.com/review/show/1418839737

Senin, 14 September 2015

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari


Review Buku  
Judul: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari  
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792287080
Jumlah Halaman: 264 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2013)



Lihat sinopsis
Tujuh belas kisah dalam buku ini membawakan cerita-cerita dari ruang dapur sampai wilayah konflik. Dari urusan tepung terigu sampai misi kemanusiaan di Ramallah. Hampir semua tokoh utama adalah perempuan dari beragam usia, ras, budaya, dan agama. Mereka bergelut dengan pencarian jati diri, ketimpangan gender, cinta segitiga, hingga masalah-masalah sosial-politis yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek. Dilatari ilustrasi yang indah dan detail cerita yang unik, Lily Yulianti Farid menampilkan suara-suara perempuan paling jernih dalam meneriakkan kegelisahan, kemarahan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap terjadi di mana pun mereka berada.


Nama Lily Yulianty Farid bukanlah nama yang sangat sering kudengar sebagai penulis wanita dalam negeri, karena itu, saat kumcer ini terpilih sebagai salah satu long-list KLA 2013, sempat penasaran juga dibuatnya. Apalagi melihat cover depan buku ini yang terasa... abstrak? menakutkan? memilukan? entah bagaimanalah menyebutnya... gambaran seorang wanita yang tertelungkup dengan senapan yang mengeluarkan bunga tegak di atasnya, bukanlah pemandangan yang mudah dilupakan.

Dan setelah kubaca, kumcer ini ternyata padat berisi, dan semuanya mengisahkan tokoh-tokoh perempuan aneka umur, pekerjaan dan latar belakang, dengan satu persamaan..., mereka semua karakter yang sangat kuat meski berbagai jalan nasib dan tragedi datang mencobai (tak heran, mengingat latar belakang sang pengarang yang sangat dekat dengan masalah gender). Meskipun demikian, cerpen-cerpen ini tetap renyah, enak dinikmati.

Ketika engkau lahir, malam seperti meledak.

Kumcer dibuka dengan kisah Ayahmu Bulan, Engkau Matahari. Cerpen yang judulnya sekaligus menjadi judul antologi ini, berkisah tentang Jannah, seorang wanita yang menjadi yatim tak berapa lama setelah kelahirannya. Dilahirkan di daerah rawan keamanan memang membuatnya kehilangan orang tua tapi seorang nenek luar biasa membuatnya terdidik dan bisa berimajinasi menembus batas-batas wilayah. Kelak Jannah menjadi tenaga sukarela yang menjelajah berbagai belahan dunia yang dilanda konflik, tapi dengan tetap memendam satu kerinduan untuk bertemu sang ayah.

Di awal musim semi, Jois mengisyaratkan kematiannya.

Kisah lain yang juga sangat membekas di hati adalah Jois dan Sang Malaikat. Di sini sang pengarang menggedor rasa toleransi yang seharusnya tidak dipisah-pisahkan oleh masalah kepercayaan, dan dalam waktu yang sama mengungkapkan rasa kasih sayang dan kemanusiaan yang kental antara anak dan ibu asuhnya. Sangat menyentuh dengan ending yang mengundang tangis haru.

Di ruang makan laki-laki itu menunggunya.
Di atas meja, sebotol kecap menunggunya. Encer dan asin.

Kumcer ini juga menyimpan beberapa kisah yang lain di permukaan lain di maksud. Seperti dalam cerpen Kecap. Sebentuk hadiah ulang tahun aneh yang diterima Nayu saban tahun, kecap. Tapi walau tampaknya mengulik-ngulik tentang kecap no.1 di dunia, cerpen ini justru menyoal tentang masalah SARA dan kekerasan sekaligus kesempurnaan seorang wanita dan kasih sayang seorang Ayah. Paduan yang aneh, namun tersaji dengan penuh kelezatan. Demikian juga dengan Rie dan Rei Kisah yang diceritakan bergantian dengan sangat apik antara Si Rie dan si Rei ini tampaknya hanyalah tentang dua sahabat lama yang menikmati nyuknyang di warung sambil bercerita cerita petualangan mereka. Tapi di dalamnya, banyak tersurat kegelisahan diri yang tak terkatakan. Atau dalam Jendela untuk Bunga yang bertutur tentang sepasang pengantin baru, tapi sebenarnya mengkritik sistem hukum kita dan ketiadaan tempat bagi orang-orang yang idealis.

Aku adalah maiasaura dan Sora adalah T-Rex.

Banyak kisah di kumcer ini yang mengambil latar daerah konflik, tapi yang paling membuat miris -terutama sebagai kaum wanita- adalah Maiasaura. Masih seperti kisah lain, dipermukaan cerpen ini menceritakan kehangatan ibu dan anak dan permainan dinosaurus yang sering mereka mainkan. Tapi lebih jauh melihat, sang Ibu ternyata adalah seorang sukarelawan di Ramallah yang tiap hari menyaksikan puluhan perempuan kesulitan dalam proses melahirkan di bawah todongan senapan daerah konflik.

Kisah-kisah lain, seperti Suara, Ruang Keluarga, Kelas 1-9, Kamera dan favoritku, Gurita, juga sangat sarat makna. Aku menikmati cerpen-cerpen ini, meski kadang perlu banyak waktu untuk menyesap dan mengerti maknanya. Kadang banyak ironi yang ikut dalam kisah, tapi semuanya masih dalam batasan yang nyaman untuk dinikmati. Walau seting kisah berpindah-pindah dari warung hingga wilayah peperangan, dari Makassar hingga Swiss, tapi semua ceritanya sangat membumi, real tanpa isian imajinasi yang berlebihan. Aku juga suka dengan pilihan-pilihan diksi dan metaforanya yang tidak biasa dan terasa menyegarkan.



Tentang Pengarang:

Lily Yulianti Farid, lahir di Makassar, 16 July 1971, mengarang cerita sejak kecil, namun sempat meninggalkan kegemaran ini saat meniti karier sebagai jurnalis. Saat ini dia tinggal di Melbourne, Australia. Dia pernah belajar di Universitas Hasanudin pada bidang teknik pertanian, dimana dia memulai karier sastranya pada majalah kampus, "Identitas".

Setelah lulus, ia menjadi wartawan pada Harian Kompas (1996 - 2000). Pada tahun 2001 hingga 2004, ia mengambil gelar master pada studi Gender and Development. Pada tahun 2010 ia mendaftar untuk program Doktor pada bidang "Gender and Media" pada universitas yang sama dan direncanakan lulus pada tahun 2014. Selama masa studinya di Melbourne, ia melanjutkan menulis jurnalistik dengan bekerja sebagai produser Radio Australia, Melbourne (2001-2004). Ia juga bekerja sebagai spesialis program radio/produser pada Radio Jepang NHK World, Tokyo (2004 - 2008). Selama periode tersebut, pada 2006 ia menjadi kolumnis untuk Nytid News Magazine, Norwegia, dan masih berhubungan dengan majalah tersebut hingga saat ini.

Ia memulai kariernya sebagai penulis dan jurnalis, dan terlibat pada beberapa proyek independen, seperti Panyingkul! yang didirikan pada 1 July 2006, suatu media online yang memperkenalkan konsep citizen journalism, yang berbasis di Makassar. Ia mencurahkan sebagian waktunya mengelola media independen ini, selain menulis artikel untuk media di dalam dan luar negeri.

Lily Yulianti Farid dapat ditemui di situsnya lilyyuliantifarid.com
Sumber: Wikipedia

100 Hari Membaca Sastra Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1382439013

Senin, 07 September 2015

Student Hidjo


Judul: Student Hidjo
Pengarang: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Narasi (2010)
ISBN: 9789791682398
Jumlah Halaman: 140 halaman
Penerbitan Perdana: 1918
Literary Awards: ---




Lihat sinopsis
Kisah dimulai ketika ayah Hidjo, Raden Potronojo, berencana menyekolahkan Hidjo ke Belanda. Raden Potronojo berharap hal itu bisa mengangkat derajat keluarga, yang berasal dari kalangan pedagang. Meskipun sudah menjadi saudagar sukses, sehingga gaya hidupnya bisa menyamai kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak berarti kesetaraan diperoleh. Khususnya, di mata orang-orang (kaum priyayi) yang dekat dengan *gouvernement*.

Namun, ibu Hidjo, Raden Nganten Potronojo, berpandangan sebaliknya. Ia begitu khawatir melepas Hidjo ke negeri yang sarat dengan "pergaulan bebas". Meskipun demikian, Hidjo pergi juga ke Belanda.

Ketika bersekolah di Belanda, mata Hidjo terbuka melihat kenyataan yang--ternyata--tidak sesuai yang dibayangkan. Di sana, ternyata sama saja seperti di Hindia Belanda. Ada orang yang jadi majikan, ada orang yang jongos, ada yang jahat, ada yang baik. Hidjo menikmati sedikit "hiburan" ketika dirinya memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah kosnya. Di mana, hal ini mustahil dilakukan di Hindia Belanda.

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia, kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Novel ini merekam pertentangan budaya kehidupan priyayi di zaman pergerakan. Di mana, mulai lahir para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan novel ini juga secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda.

Sudah beberapa lama aku ingin membaca novel ini. Ada dua alasan, pertama karena si pengarang, Mas Marco Kartodikromo ini karakternya sempat diangkat dalam Tetralogi Buru-nya Bapak Pram dengan sangat apik dan bikin penasaran, dan yang kedua, karena novel ini didapuk jadi buku pertama dalam lini waktu 100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca. Benar, buku ini pertama kali diterbitkan hampir seabad yang lalu, dan saat itu sempat membuat Pemerintah Kolonial geram dan meski harus membolehkan penerbitannya (karena dampak Politik Etis), tapi ada embel-embel "tak boleh dikoetip" di sampulnya. Juga bahwa novel ini yang pertama kali menggunakan kata "saya" sebagai kata ganti orang pertama, menggantikan "hamba" yang lebih kerap dipakai dalam sastra melayu sebelumnya, dengan implikasi kesetaraan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat.


Kisahnya sendiri kurasakan amat sangat sederhana. Kisah percintaan antara Hidjo dengan Biroe dan Woengoe tanpa banyak twist ataupun konflik. Yahh... kalau dibaca dengan kacamata novel modern, jelas memang sangat terasa ketidakadaan keseruan yang membuatnya menarik. Tapi sekali lagi, novel ini diterbitkan saat "Indonesia" saja belum ada. Dan karena itu, aku mencatat ada beberapa hal yang amat sangat layak untuk dibaca.

Tema yang utama yang diangkat dalam kisah ini tentu saja adalah tentang Associatie Politiek. Tentang kondisi sosial percampuran, baik antara orang-orang Belanda dengan orang pribumi, maupun antar orang pribumi sendiri, antara kaum priyayi dengan orang biasa. Ada banyak adegan dalam novel di mana kondisi ini diperlihatkan dengan gamblang. Salah satunya saat Controleur Walter mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Jawa, dan bahkan memamerkan kemampuannya (yang pas-pasan) dalam berbahasa Jawa Kromo Inggil dan menari Jawa. Atau pertemanan antara Hidjo dengan para nonik Belanda di kapal. Kisah utama yang berakhir dengan perkawinan Hidjo (yang dari kalangan rakyat) dengan Woengoe (yang putri Priyayi dari Djarak), juga masih sejalan dengan tema ini.

Tema yang lain, tentu saja adalah kritikan sangat pedas diberikan kapada Pemerintah Kolonial dan orang-orang Belanda secara umum yang diwakili oleh Sergeant Djepris.

Ketika mendengar kata-kata Walter itu, Sergeant Djepris naik darah. Dan dia berkata, "Orang Jawa kotor. Orang Jawa bodoh, orang Jawa malas, orang Jawa tidak beschaafd. Pendeknya orang Jawa atau orang Hindia itu adalah bangsa paling busuk sendiri!"
"Saya heran sekali, Tuan orang Belanda yang telah sepuluh tahun tinggal di Hindia berani berkata begitu! Apakah Tuan tidak malu mengucapkan kata-kata itu? Bagaimana Tuan bisa berkata seperti itu, sedang Tuan sendiri hidup senang di Hindia? Berapa ribu bangsa kita yang mencari penghasilan di Hindia? Perkataan Tuan itu suatu tanda bahwa Tuan seorang yang tidak berperikemanusiaan!"

"Tuan berkata, 'orang Jawa kotor', tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa?"

"Orang Jawa bodoh, kata Tuan. Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang kita tahu, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya kita, Nederland."

"Orang Jawa malas, kata Tuan pula. Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja sampai mandi keringat sekedar mencari sesuap nasi. Apakah semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangkan tanahnya adalah tanah yang kaya-raya. Adakah di Negeri Belanda orang bekerja seberat itu hanya untuk mendapat bayaran 25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa?"

Ha... pantas saja isi buku ini tak boleh dikutip saat pertama diterbitkan. Apalagi percakapan ini masih dilanjutkan 3-4 halaman lagi dengan isi yang pasti memerahkan telinga para orang Belanda.

Selain itu ada pula beberapa hal yang terselip dalam novel ini. Seperti cerita-cerita tentang keriuhan Kongres Besar Perhimpunan Sarekat Islam di Solo. Tidak heran mengingat sang pengarang adalah anggota SI yang cukup aktif dan berpengaruh. Beberapa pandangan proletarism pengarang juga kurasa muncul tak kentara di sana-sini.

Sayangnya, jika boleh kukatakan di sini, adalah novel ini benar-benar miskin konflik. Semuanya persoalan dibuat lempeeeng, lancar jaya, tanpa emosi. Bahkan untuk hal yang paling menggeramkan hatiku di novel ini, saat Walter memutuskan hubungan dengan Jeefrouw Jet Ross dengan cara yang amat sangat pengecut, hanya dituliskan dengan yah begitu saja. Mungkin Mas Marco lebih ingin membandingkan dengan cara Hidjo memutuskan hubungannya dengan Bertje dengan cara yang lebih gentlemen manner. Aissshh...


Tentang Pengarang:

 Marco Kartodikromo (Cepu, Blora, 1890 – Boven Digoel, 18 Maret 1935) atau umum dikenal Mas Marco adalah seorang penulis dan jurnalis.

Lahir dari keluarga golongan priayi di Blora, Hindia Belanda, pekerjaan pertama Kartodikromo adalah di perkeretaapian nasional. Muak dengan rasisme yang ditampilkan di sana, pada tahun 1911 ia pindah ke Bandung dan menemukan pekerjaan sebagai wartawan di Medan Prijaji. Tahun berikutnya ia pindah ke Surakarta dan bekerja dengan dua media publikasi, Saro Tomo dan Doenia Bergerak; ia segera mulai menulis dalam bagian penting melawan pemerintah kolonial Belanda, yang menyebabkan penangkapan terhadap dirinya. Setelah periode sebagai koresponden di Belanda, Kartodikromo terus melanjutkan kegiatan jurnalisme dan kritik terhadap pemerintahan; ia juga menulis beberapa potongan-potongan novel fiksi. Terlibat dengan Partai Komunis Indonesia, setelah pemberontakan komunis 1926 yang dipimpin Kartodikromo, ia dibuang ke kamp penjara Boven-Digoel di Papua. Dia meninggal di kamp tersebut karena penyakit malaria pada tahun 1932.

Kartodikromo, yang lebih suka menulis dalam bahasa Melayu, bereksperimen dengan frasa-frasa baru pada saat penerbit milik negara Balai Pustaka berusaha untuk membakukan bahasa. Menurut kritikus sastra Bakri Siregar, ia adalah penulis Indonesia pertama yang secara terbuka mengkritik pemerintah kolonial Belanda dan bentuk tradisional feodalisme yang dipraktekkan di negara itu. Untuk kritik vokal ini, pemerintah Belanda mencela dia sebagai orang 'gila' yang bisa memicu kerusuhan antara penduduk asli.

https://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Kartodikromo


100 Hari Membaca Sastra Indonesia


https://www.goodreads.com/review/show/1384480510




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget