Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2019

Optimisme ala Candide (+Giveaway)


Judul: Candide
Judul asli: Candide ou l'Optimisme
Pengarang: Voltaire
Penerbit: DIVA Press (2019)
ISBN: 9786023917341
Jumlah Halaman: 204 halaman
Penerbitan Perdana: 1759





Lihat sinopsis
Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss.

Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna


Candide yang ditulis sekitar tahun 1758 dan diterbitkan setahun setelahnya adalah sebuah novel satire, ironi, sarkasme dan hiperbola. Judul lengkapnya adalah Candide, ou L’Optimisme (Candide, atau Optimisme). Membacanya akan membaca kita dalam sebuah petualangan moral tanpa batasan, bahkan dalam adegan kematian. Tokoh-tokohnya bersliweran, tewas di satu panggung hanya untuk hidup kembali di kejadian berikutnya, dan kemudian mati lagi di dua halaman kemudian. Seluruh keberadaan cerita ini mengangkat tema (atau lebih tepatnya, mengolok-olok ide) bahwa karena Tuhan itu sempurna, maka semua keadaan di dunia, semua kejadian yang terjadi adalah juga sempurna, keadaan yang terbaik dari yang terbaik. Sebuah pandangan filsafat yang diusung oleh Gottfried Leibniz. Bahkan setelah semua kemalangan yang menimpa Candide, Pangloss, Cunegonde, dan tokoh-tokoh yang lain, ia tak bergeming. Optimisme tanpa batas.


Candide adalah seorang keponakan tidak sah dari seorang bangsawan di daerah Westfalia. Dibesarkan di istana dengan seorang guru penganut ajaran optimisme bernama Pangloss. Saat jatuh cinta pada Cunigonde, putri bangsawan itu, Candide langsung ditendang keluar istana dan dimulailah kejadian-kejadian buruk yang membuatnya mempertanyakan teori "kebaikan dunia" yang dianutnya. Anehnya, meskipun semua keburukan yang terjadi selama ia berkeliling dunia, Candide (dan Pangloss) masih berpegang teguh pada filosofi ini. 

Selama perjalanan ini, Candide juga bertemu beberapa tokoh lain yang jelas-jelas lebih realistis. Si wanita tua, Cacambo maupun Martin. Ketiganya mewakili pandangan yang sedikit lebih tidak naif, melihat dunia secara apa adanya, mempertanyakan keserakahan dan hausnya manusia akan kekuasaan dan harta. Perang, tirani, intoleransi, ketidakpedulian, korupsi, penipuan dan segala yang buruk yang dapat terjadi di bunia, tapi tentu saja Candide masih berpikir sebaliknya. Sedangkan tokoh Martin yang lebih realistis berusaha menyadarkannya. Sebuah dialog bermakna yang paling kusukai di novel ini:

"Apakah Tuan percaya," kata Candide, " bahwa sejak dahulu kala manusia sudah saling bunuh seperti sekarang? Bahwa sejak dulu kala mereka berbohong, berkhianat, curang, tidak tahu berterima kasih, merampok, lemah, mencuri, pengecut, mendengki, rakus, mabuk, kikir, serakah, haus darah, tukang fitnah, asusila, fanatik, munafik dan bodoh?"
"Apakah Tuan percaya," jawab Martin, "bahwa sejak dahulu kala elang selalu memangsa merpati tiap kali ia menemukannya?"
"Iya, tentu saja," kata Candide.
"Nah," kata Martin, "bila burung elang memiliki sifat-sifat yang sama sejak dahulu kala, mengapa pula Tuan berpikir bahwa manusia dapat mengubah sifat-sifatnya?"
"Oh, tapi pasti urusannya beda, karena manusia punya kehendak bebas...."

Haha... di satu sisi aku geleng-geleng kepala akan optimisme Candide, tapi di sisi lain aku juga mengaguminya. Di banyak waktu aku lebih percaya pada kerealistisan Martin, tapi aku juga ingin percaya bahwa manusia itu pada dasarnya baik kok.


Pada akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Candide, Pangloss, Cunigonde, Cacambo, Si wanita tua dan Martin akhirnya belajar tentang kesederhanaan pada seorang petani tua dan sampai pada suatu kesimpulan untuk membiarkan dunia apa adanya dan melanjutkan hidup, semua energi dan kekayaan yang tersisa pada pekerjaan-pekerjaan harian yang pada akhirnya malah membuat mereka bahagia.




* * *


Ok, giveaway-nya sudah kututup ya... pengumuman pemenangnya nanti malam, tungguin d. Makasih semuaaaa.

* * *
Maapkeun saya karena beberapa hal, pengumuman pemenangnya jadi tertunda. Tapiii... tanpa berlama-lama lagi, ...drumroll... klik random.org, dan yang terpilih adalah... No. 3.

Okaaayy, selamat kepada Ade Yuanita Putri Pratiwi. Pemenang akan dihubungi lewat email dan dm twit.

Untuk yang belum beruntung, giveaway selanjutnya masih berlangsung di www.missfioree.space ya. Ikutan lagi, siapa tahu lebih beruntung. Sekali lagi, terima kasih semua.



Goodreads Review

Minggu, 11 Agustus 2019

Caw Man vs Spinning Man


Judul: Pengendali Gagak
Judul Asli: The Crow Talker
Pengarang: Jacob Grey
Penerbit: by Gramedia Pustaka Utama (2019)
ISBN: 9786020627687
Jumlah Halaman: 272 halaman
Penerbitan Perdana: 2015





Lihat sinopsis
Blackstone dulunya kota yang gegap gempita. Kemudian masa Musim Panas yang kelam menerpa habis kota tersebut, meninggalkan seorang anak bernama Caw yang kini hidup di jalanan, bersama satu-satunya teman yang dimilikinya; sekumpulan burung gagak.

Caw tidak pernah tahu mengapa dia bisa memahami gagak-gagak itu. Tetapi ketika ia menyelamatkan seorang gadis bernama Lydia dari serangan mengerikan, Caw menemukan banyak lainnya yang seperti dia; para feral yang dapat bicara pada binatang tertentu. Dan beberapa dari mereka sangat berbahaya.

Sekarang, feral yang paling jahat dari semuanya––Spinning Man––sedang beraksi kembali. Dan untuk menyelamatkan Lydia, juga keluarga gadis itu, dan seluruh kota Blackstone, Caw mesti segera menguasai kemampuan yang ia tidak pernah tahu dimilikinya… dan bersiap untuk melawan kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan.

Caw adalah bocah yang dibesarkan oleh para gagak setelah kematian kedua orang tuanya delapan tahun lalu. Saat itu, musim panas kelam, para Feral -pengendali binatang-, berhasil mengalahkan Spinning Man, si pengendali laba-laba, namun saat ini, death eater para pengikutnya mencoba mengembalikan dia dari alam kematian. Dan Caw dan sahabatnya Lydia entah mengapa terseret dalam semua kekacauan yang terjadi.

Diawali dari perkenalan yang tidak disengaja saat Caw mengintip ayah Lydia -seorang kepala penjara- mengejar tiga orang tahanan yang melarikan diri, hingga mimpi-mimpi Caw tentang seorang manusia Laba-laba (bukan Spider Man). Para gagak sudah memperingatkan Caw untuk menjauhi masalah ini, tapi saat seorang penjaga perpustakaan yang baik hati ikut menjadi korban, Caw dengan nekad memburu kejelasan masalah ini.


*  *  *

Ini ternyata buku petualangan anak-anak yang bagus, konstruksi ceritanya jelas, world building-nya mudah diterima, alurnya terjaga dan baik premis maupun endingnya oke punya. Ide ceritanya campuran antara Graveyard Book dan Harry Potter dengan sedikiiit magical reality ala Murakami. Sayangnya, dibandingkan kedua buku/seri tersebut, terlalu banyak hal yang disederhanakan di cerita ini, hingga auranya tidak semewah mereka. Padahal banyak twist dan kejutan yang menyenangkan. Tentang pedang dan keistemewaan Caw, misalnya. Atau tentang para Ferral yang lain.

Aku suka twist tentang Lydia dan karakterisasi Lydia sendiri. Cewek ini boleh juga, nekad bikin kejutan gak disangka-sangka.




Cover trilogi terbitan Harper Collins


Seri ini, sejauh ini, adalah sebuah trilogi. Semoga GPU segera melanjutkan penerbitan buku kedua dan ketiganya. Sudah lama aku tidak menunggu-nunggu kelanjutan sebuah seri seperti mennggu seri buku ini.




Goodreads Review

Jumat, 09 Agustus 2019



Judul: Journal of Terror
Pengarang: Sweta Kartika
Penerbit: by m&c! (2019)
ISBN: 9786024805869
Jumlah Halaman: 336 halaman
Penerbitan Perdana: 2019





Lihat sinopsis
Namaku Prana. Aku bisa melihat penghuni dunia seberang melalui mata saudara kembarku yang sudah mati. Tanpa pernah kuduga, kemampuan ini telah mengantarkanku ke depan gerbang petualangan menuju dunia kegelapan. Ini adalah catatan harianku. Kumpulan kisah-kisah berhantu yang kurangkum dalam sebuah jurnal. Jurnal penuh misteri. Jurnal penuh teror.


Paman datang! (src: Sweta Kartika)

SYEREEEM!!
Satu kata yang bisa menggambarkan novel ini adalah seram!

Mungkin karena si pengarang sudah terbiasa di media komik, novelnya pun sangat visual menggambarkan nuansa, kejadian dan emosi pelakunya. Alhasil, efek horor yang bikin bulu kuduk meremang sangat didapat. Merinding disko sepanjang baca. Aseliiii nakutin!!!

Kisah ini pada dasarnya adalah sebuah jurnal yang ditulis oleh si tokoh utama, Prana. Prana ini punya daya linuwih bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata sejak ia masih balita. Kelebihannya ini membawanya pada pengalaman-pengalaman unik nan menakutkan, yang kadang-kadang ia sendiri tak mengerti. Menjelang akhir buku, akan ada sedikit misteri yang terkuak, namun justru menambah rasa penasaran akan kelanjutan ceritanya.

Pengaturan alurnya juga bagus. Setelah prolog yang sedikit memperkenalkan si tokoh utama, disambung satu kisah panjang yang memperlihatkan karakter dari si tokoh. Disusul beberapa cerita -jurnal- seram, lalu diakhiri dengan pemunculan tulang punggung cerita utamanya, sang villain, plus satu karakter baru yang kemungkinan bakal jadi partner si tokoh utama. Asyik, seru untuk dinikmati... asal..... hah, pokoknya baca aja d...





Goodreads Review

Kamis, 08 Agustus 2019

Toilet Di Hidung dan Tembong di Mata


Judul: Mereka Bilang Ada Toilet Di Hidungku
Pengarang: Ruwi Meita
Penerbit: by Penerbit Bhuana Sastra (2019)
ISBN: 9786232162587
Jumlah Halaman: 303 halaman
Penerbitan Perdana: 2019





Lihat sinopsis
Setiap hari Imalovix menjadi bahan olok-olok karena statusnya sebagai anak rahim asli. Pada zaman itu, anak-anak rahim asli dianggap kelas bawah karena kualitasnya jauh dibanding anak-anak rahim kaca yang merupakan anak unggulan, terbaik, dan kebal terhadap virus. Imalovix tidak bisa mengelak karena dia memiliki tanda lahir di bagian yang tak bisa ia sembunyikan: mata.

Suatu hari, kakeknya memberikan sebuah jurnal yang ditulis seribu tahun lalu oleh seorang gadis bernama Kecubung. Seperti Ima, Kecubung memiliki tanda lahir di hidungnya dan itu membuatnya juga diolok-olok. Dengan kemarahan karena merasa dikasihani, Imalovix mengembalikan jurnal itu kepada kakeknya.

Namun, kemarahan itu justru menimbulkan kedukaan lain, hingga Imalovix pun berharap bisa mendapatkan jurnal itu kembali.

Ada bagian dalam kehidupan ini yang harus tetap berjalan alami, dan ilmu pengetahuan tidak selamanya menjadi sebuah jawaban.

Nama Ruwi Meita adalah salah satu nama pengarang yang karyanya selalu kutunggu. Beberapa buku sebelumnya yang kubaca bertema thriller seperti Patung Garam dan Rumah Lebah, atau bernafaskan suasana seram seperti The Apuila's Child dan Misteri Bilik Korek Api. Satu hal yang pasti, semuanya menyimpan kejutan-kejutan mengagetkan dan menyenangkan. Sebenarnya aku sudah ingin sekali membaca Carmine, tapi mungkin belum jodoh, malah karya barunya ini yang sampai di tanganku terlebih dahulu, Mereka Bilang Ada Toilet Di Hidungku.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, setting buku kali ini adalah sekian ratus tahun di masa depan. Karena kualitas udara di bumi sudah sedemikan buruknya, proses reproduksi manusia sudah tidak sealami seharusnya. Sebagian bayi dilahirkan buatan melalui rahim kaca, dan hanya sebagian kecil - dan dengan banyak kecacatan - yang dilahirkan secara alami. Ima adalah anak seperti ini, dan sedemikian beruntungnya (atau tidak) ia bukan hanya lahir sempurna, namun juga sangat pandai dan atletis. Kondisi Ima inilah yang membuatnya berbeda di sekolah dan menjadi berbeda kadang juga berarti menjadi outsiders.

Keadaan ini semakin diperuncing saat diadakannya suatu pertandingan antar siswa dengan hadiah yang sangat menggiurkan, dan Ima terpilih sebagai salah satu wakil sekolahnya. Menjadi peserta adalah satu hal, namun berusaha menang dari cowok paling mempesona dan mengalahkan seorang ratu sekolah adalah hal yang berbeda. Belum lagi rahasia dari masa lalunya mulai terkuak dan ada banyak orang di luar sana yang mulai tertarik pada "warisan" istimewa yang dimilikinya.

 
*  *  *

Idenya bagus sih, antara scifi dan dystopian, mix Ugly dan Handmaid's Tale, plus campuran antara Harry Potter and The Goblet of Fire  dengan Hunger Games versi gak sadis. Aku suka alur ceritanya, dan world buildingnya lumayan keren meski banyak yang bisa lebih detail. Penyelesaiannya juga masih cukup terbuka untuk sekuel-sekuel berseri-seri selanjutnya. Menarik nih buat ditunggu.

Nah, yang aku kurang sreg, adalah penggunaan bahasa jawa yang diplesetkan jadi versi bahasa jaman itu. Yolekata dari Yogyakarta (oke lah), Nuswanteirra dari Nusantara (hmm..), Tanai Siwwe (eh... taman siswa??), dll. Juga panggilan Iyangka dan Biung atau percakapan macam sigengai zink cahy yu (coba tebak apa artinya). Tapi yang paling bikin kuping keri... (eh, mata ya) adalah penggunan frase qyu dan koe. Waduuuhh, setiap kali dipakai kata "koe" (kowe), kok rasanya bergidik, orak mung ngoko, wes orak elok cara ngomonge ki. Wkwkwk....


Satu lagi yang bikin aku bertanya-tanya adalah surat Qariya di akhir jurnal Kecubung... itu kapan nulisnya ya. Jika ditulis antara test kedua dan ketiga, kan kejadian ular Boa dan hasil nilai 0 Qariya belum terjadi. Kalau ditulis setelah tes ketiga, lah kapan sempatnya, kan abis tes bukunya langsung dititipin ke Brigit dan Qariya langsung dibawa pulang sama kakek Wix, juga pena antik pinjamannya yg dibuat nulis apa ya dibawa ke mana-mana. Terus gimana dunk??!? Hmmmm....




https://www.goodreads.com/review/show/2909046882

Rabu, 31 Agustus 2016

Dukuh Paruk Tersayang, Dukuh Parukku Malang


Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Seri: Ronggeng Dukuh Paruk 1 - 3
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 9789792201963
Jumlah Halaman: 397 halaman
Penerbitan Perdana: 1982




Lihat sinopsis
Gabungan 3 buku seri Dukuh Paruk: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pekabat-pejabat desa maupun kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng berserta para penabuh calung ditahan.Hanya karena kecantikannya Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara itu.

Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politikmembuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itulah setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki manapun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan muncul, harapan yang semakin lama semakin besar.


Susah memang menilai suatu tradisi. Atas nama kebiasaan, nilai-nilai moral yang kita pegang bisa jauh berlawanan dgn budaya tempat lain. Adilkah mencap Srintil, Sang Ronggeng ayu kenes dari Dukuh Paruk yang miskin dan terkebelakang, sebagai tak lebih dari 'sundal' - sedangkan dirinya sendiri bangga menjadi seorang ronggeng yang menitis dalam tradisi berpuluh generasi?

Kisah ini mengikuti jalan hidup Srinthil, mulai dari masa kanak-kanak, hingga menjadi ronggeng dengan segala tantangan hidup yang menyertainya, disertai pergolakan politik tahun 1960an, hingga akhir saat nasib tak terlalu berbelas kasihan padanya. Disatukan dari 3 buku yang awalnya terbit berseri, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, dengan tambahan beberapa bagian yang dulu tidak dapat diterbitkan secara lengkap.


Dukuh Paruk adalah sebuah desa terpencil di Jawa Tengah bagian selatan, entah didasarkan pada sebuah tempat tertentu atau murni hanya imajinasi sang pengarang. Dukuh ini miskin, gersang dan terkebelakang, masih ditambah lagi kental kepercayaannya pada hal-hal mistik dan memiki norma-norma yang lebih bebas, dan yang kumaksud di situ adalah penggunaan bahasa yang lebih vulgar cenderung cabul, kontak fisik lebih bebas, serta yang paling penting, tempat kelahiran para ronggeng yang dipercaya menitis dari generasi ke generasi.


Sejak berumur 12 tahun, Srintil kecil sudah kenes dalam menari, karena itulah ia dipercaya telah dirasuki inang ronggeng yang akan membuat dukuhnya kembali terkenal dan dibicarakan orang. Ronggeng yang akan membawa kamulyan pada desanya. Maka diserahkanlah ia pada pasangan suami istri dukun ronggeng untuk dididik dan dijadikan ronggeng secara lengkap.

Dalam buku pertamanya, Catatan buat Emak, kisah dituturkan dari sudut pandang Rasus, teman Srintil sejak bocah, yang kemudian jatuh cinta mati-matian padanya. Setalah Srintil menjalani berbagai pelatihan dan transformasi pada wajah dan badannya hingga dapat tampil molek menggoda, akhirnya hanya dua hal yang harus dilakukan sebelum ia menjadi ronggeng. Yang pertama adalah penyucian di cungkup makam Ki Secamenggala (yang di novel ini dipaparkan secara amat indah mendetail... dan full of takhayul-ish) dan yang kedua adalah upacara bukak klambu. Sebuah acara pelelangan keperawanan yang dilakukan dengan penuh sorotan mata iri dari para gadis dan hasrat menggebu dari para laki-laki.

Ironis?
Mengerikan?
Menjatuhkan harkat wanita?

Nah, itu tergantung dari nilai moral apa yang kita pakai untuk menilai. Bagi dukuh paruk dan desa-desa sekitarnya, ini adalah kehormatan tinggi yang tak setiap wanita dapat menjalaninya.

Tentang siapa yang akhirnya "menikmati" bukak klambu yang sebenarnya, dan siapa yang "merasa" memenangkan pelelangan ini, ada twist kecil di novel yang bikin cerita tambah ruwet sampai akhir. Adapun Rasus yang merasa terkalahkan dari adat dan tradisi, kemudian malah memilih pergi saat kesempatan unik untuk menjadi tentara terbuka untuknya. Dan aku merasa, Rasus ini perlambang tokoh yang mempunyai kehendak untuk ikut maju dalam kehendak jaman, melepaskan diri dari belenggu lingkaran kebodohan desanya.


Di buku keduanya, Lintang Kemukus Dini Hari, sudut pandang penceritaan berubah ke Srintil yang patah hati. Di sini cukup lama ia galau mempertimbangkan pilihan hidupnya sebagai ronggeng dibandingkan sebagai wanita somahan. Namun dari semua hal yang terjadi, tampaknya ini adalah fase pendewasaan diri seorang ronggeng, dari hanya menjadi bocah yang disetir sang dukun, hingga menjadi tokoh dewasa yang punya pertimbangan dan keinginannya sendiri.

Dalam bagian buku yang ini menurutku baiknya dibaca dan dinikmati bukan hanya sebagai buku romance, tapi sebagai buku budaya. Mengupas keseharian seorang ronggeng, kerja dan seluk beluknya, serta isi hati terdalamnya. Di samping itu, pandangan kaum wanita yang berbeda-beda terhadap sosok sang ronggeng juga enak diikuti. Ternyata tidak semua wanita membenci Srintil, ada "fungsi-fungsi sosial" yang ternyata diembannya. Sekali lagi, kacamata moralitas tak sepenuhnya sejalan dengan nilai sejarah dan tradisi berpuluh generasi.

Kisah kemudian ditutup dengan latar belakang kondisi sosial politik tahun 1965an. Tari ronggeng Srintil dikait-kaitkan sebagai seni rakyat abangan dan terdera dampak yang bisa diduga. Sakit dan sengsara tampaknya memang mengikuti pertanda bintang jatuh yang muncul menjelang pagi itu.


Penutup kisah ini ada pada buku ketiganya, Jentera Bianglala. Srintil yang sedang menata kembali puing-puing kehidupannya, mulai bertanya-tanya, apakah ia masih pantas untuk hidup normal berumah tangga. Secara kependudukan, ada cap ET melekat pada dirinya. Secara manusiawi, julukan mantan ronggeng tetap menhantui. Sekali lagi permainan nasib bersiap-siap menghancurkan dirinya, hingga remuk hati terdalam.

Malangnya Srintil, Malangnya Rasus, Malangnya Dukuh Paruk tersayang.


Satu hal yang membuatku betah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir adalah Bapak AT yang selalu cakap sekali dalam mendeskripsikan keindahan alam pedesaan. Beliau kembali memamerkan kepiawaiannya di trilogi ini. Membacanya berkali-kali seakan kita dibawa mendengar cuitan burung dan merasakan semilir angin di rumpun-rumpun bambu. Sementara itu kisah hidup orang-orang kecil yang terpinggirkan, terlindas keadaan yang tak terpahami oleh keluguan mereka, digambarkan dengan sangat real. Sedemikian wajarnya hingga muncul simpati dan keinginan untuk memahami mereka, seberapapun sulitnya.


The Movie


Sebenarnya kisah ini telah diangkat menjadi film layar lebar berjudul Sang Penari. Tapi aku belum pernah nonton.... jadi belum bisa komen banyak tentang The Movie-nya itu. Yang pasti, setelah baca novel ini, aku jadi bener-bener pengin nonton jugaaaa.... ^.^









https://www.goodreads.com/review/show/1721173672

Senin, 15 Agustus 2016

Pertarungan Logika Kriminal antar 2 Jenius

Judul: Kesetiaan Mr. X
Judul Asli: 容疑者Xの献身 - Yōgisha X no Kenshin
Seri: Detective Galileo #3
Pengarang: 東野 圭吾 - Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 9786020330525
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Naoki Prize (2005), Edgar Award Nominee for Best Novel (2012), Honkaku Mystery Award for Best Fiction (2006), Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year (2006) and more



Lihat sinopsis
Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.



Ini salah satu cerita crime-fiction yang ceritanya tidak malu-malu mengikuti perjalanan tokoh si pembunuh, dan meskipun faktor "siapa" dan "mengapa"-nya sudah dibuka jelas sejak awal, tetapi masalah "bagaimana"-nya masih tetap tersimpan rapi sebagai misteri hingga halaman hampir terakhir. POV yang demikian tentu saja membuat banyak-banyak simpati pembaca terbelah kepada si pembunuh, disertai rasa penasaran bagaimana nanti polisi akan membongkar kejahatan yang sudah diatur sedemikian mendetail oleh otak seorang jenius matematika.

Aku sendiri, meskipun sudah pernah menonton versi adaptasi filmnya, tetap sangat menikmati perjalanan para detektif polisi yang menguraikan satu per satu jebakan alibi dan tipuan yang melingkupi kasus pembunuhan Shinji Togashi, lelaki brengsek mantan suami Yasuko Hanaoka. Sekilas, aku bahkan berharap polisi akan menghentikan penyelidikan setelah pemeriksaan pertama alibi Yasuko. Dan itu bisa saja terjadi... kalau saja Yukawa Manabu tidak secara tak sengaja tercebur dalam kasus ini. Saat mengetahui tetangga Yasuko adalah Ishigawa Tetsuya, Yukawa-sensei tak bisa menahan rasa kangen dan ingin menemui mantan rivalnya di departemen Matematika dulu di universitas. Dari pertemuan ini, sedikit Yukawa-sensei memahami apa yang terjadi pada Ishigawa, dan dari situ dimulailah kembali pertarungan antara dua jenius ini, dengan taruhan nasib Ishigawa sendiri.

"Mana yang lebih hebat, orang yang menciptakan soal yang sulit, atau orang yang mampu menjawabnya?"

Pertanyaan yang menggelitik. Akhirnya memang Yukawa-sensei mampu menjawab soal dari Ishigawa-sensei, namun siapa yang lebih hebat dari mereka? Yang pasti, kesetiaan seorang Ishigawa Tetsuya pada Yasuko memang tak bisa dipertanyakan lagi.

Lalu, yang paling aku suka dari novel ini, adalah beberapa bagian di novel yang dengan halus tapi dalam mengungkapkan kegalauan Yukawa-sensei dalam pengungkapan kasus ini. Tanpa jawaban penjelasan dari dirinya, sudah pasti kasus pembunuhan ini akan mendingin tanpa penjelasan, tetapi tentu saja rasa keadilan dalam dirinya tak dapat membiarkan hal tersebut. Bagaimana ia harus bersikap saat sahabat dan satu-satunya rival yang dianggapnya sepadan, terjerumus dalam lubang dalam tanpa jalan keluar....

Ini salah satu novel crimefic yang berakhir begitu getir, sampai sering aku berharap ada alternatif ending yang lebih membahagiakan.


That being said, harus pula kukatakan, Higashino-sensei, Anda hebat.... *membungkuk hormat*

((kalau novel-novelnya seperti ini, aku jadi mupeng berat baca Det. Kaga, terutama yang The Wings of the Kirin 麒麟の翼. Yakin kasusnya njelimet dan endingnya bakal bikin mewek juga itu... terjemahin juga dunk, GPU, plisss...))

Edisi bahasa Indonesia novel ini seeeeep betul dah. Pertama, karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang, jadi rasa dan kesannya masih asli, tidak terdistraksi oleh double-translation. Kedua karena terjemahannya sendiri sangat mengalir dan enak sekali dibaca (mbak Faira, 2 jempol!!). Dan ketiga, covernya cantik sekali. Boneka Daruma yang melambangkan Ishigami dilatari warna merah cerah, plus judulnya yang dituliskan dengan huruf kanji. Gak kalah dari ilustrasi cover asli ataupun edisi terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Aku. Suka.


The Movie
Novel Yōgisha X no Kenshin telah diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, dibintangi oleh Shinichi Tsutsumi sebagai Ishigami Tetsuya dan Masaharu Fukuyama sebagai Yukawa Manabu, plus detektif cantik Kaoru Utsumi yang diperankan oleh Kou Shibasaki, tokoh tambahan yang aslinya tidak ada di novel. Kisahnya cukup setia pada kisah novelnya, bahkan banyak dialognya diadaptasi sama persis dengan aslinya.

Yōgisha X no Kenshin Movie Poster


Meskipun novel ini yang pertama diangkat menjadi film layar lebar, adaptasi seri yang menampilkan tokoh utama Asisten Profesor Fisika Yukawa Manabu dimulai dari dorama 10 episode berjudul Galileo dan prekuelnya, sebuah film televisi berjudul Galileo: Episode Zero.

Sebagai film lepas, tentu saja intrik dan detail rencana si Suspect X ini dapat dinikmati dan dikagumi tanpa harus menonton kedua pendahulunya. Kisah novel dan film ini memang bertumpu pada tokoh utamanya, Ishigami yang jenius namun mengenaskan. Namun menurutku, kegalauan Yukawa Manabu, si lawan yang sepadan bagi Ishigami tersebut, hanya bisa dirasakan jika penontonnya sudah lebih mengenal karakter Yukawa-sensei yang (biasanya) super tenang, logis dan dingin, yang berarti ya... dengan menonton doramanya terlebih dahulu.

Selain ketiga adaptasi itu, masih ada Season 2 dorama Galileo ini (10 episode) dan 2 film televisi lain, Galileo XX dan Galileo: Midsummer's Equation. Ada pula versi Korea dari cerita yang sama, berjudul Perfect Number/Suspect X.

Source:
http://asianwiki.com/The_Devotion_of_Suspect_X
http://asianwiki.com/Galileo


Tentang Pengarang:
Keigo Higashino (東野 圭吾 Higashino Keigo, 4 Februari 1958 - ) adalah penulis Jepang yang terkenal untuk novel-novel misterinya. Setelah lulus dari Osaka Prefecture University sebagai Bachelor of Engineering  dalam bidang Electrical Engineering, ia mulai menulis novel sementara masih bekerja sebagai insinyur pada Nippon Denso Co. mulai 1981. Tahun 1985 ia memenangkan penghargaan tahunan Edogawa Rampo Award, untuk novelnya Hōkago (After School). Ia lalu memulai kariernya sebagai penulis penuh.

Di tahun 1999, novelnya yang berjudul Naoko memenangkan Mystery Writers of Japan Award. Tahun 2006 ia kembali memperoleh penghargaan bergengsi, yaitu 134th Naoki Prize untuk novel masterpiece-nya Kesetiaan Mr. X (Devotion of Suspect X - Yōgisha X no Kenshin). Sebelumnya, sudah 5 buah novelnya yang dinominasikan untuk penghargaan ini. Novel ini juga memenangkan Honkaku Mystery Award dan Kono Mystery ga Sugoi for Best Japanese Mystery Novel of the Year dan Japanese Booksellers Award Nominee di tahun yang sama. Versi terjemahan Bahasa Inggrisnya masuk nominasi Edgar Award for Best Novel 2012 dan 2012 Barry Award for Best First Novel.

Higashino-sensei tidak hanya menulis novel misteri. Ia juga sering menulis essai dan buku anak-anak. Banyak sekali karya novelnya yang sudah dipindah-mediakan, baik sebagai seri televisi, film televisi maupun film layar lebar.

Source:
https://en.wikipedia.org/wiki/Keigo_Higashino
http://asianwiki.com/Keigo_Higashino




https://www.goodreads.com/review/show/1716502559
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget