Selasa, 01 Januari 2013

Eendaagsche Exprestreinen





Judul: Eendaagsche Exprestreinen
Pengarang: Risdianto, Yusi Avianto Pareanom, Bondan Winarno (Illustrator), Dhian Prasetya (Illustrator), Gede Juliantara (Illustrator)
ISBN: 9791079020
Paperback 62 pages
Published: 2009 by Banana
edition language: Indonesian

Weleh....weleh.... ada komik rasa Tintin versi Indonesia.... settingnya tempo doeloe lagi, waktu Jakarta belum ada... yang ada Batavia, hehehe... ;)

Eendaagsche Exprestreinen (Kereta Ekspress Siang) adalah sebuah novel grafis asli Indonesia, dibuat oleh putra-putra Indonesia, dengan seting Batavia, 1930 yang entah mengapa diberi judul pakai bahasa londo (Belanda). Mungkin agar nuansa masa lampaunya lebih terasa. Alurnya sendiri berkisah tentang persahabatan yang terjalin tanpa prasangka antara tiga anak berbeda ras di sebuah perjalanan kereta api ekspress antara Batavia ke Soerabaia. Seta bocah bumiputra, Johan si sinyo, dan A Xiu seorang gadis tionghoa kecil. Bersama-sama mereka menjelajah gerbong-gerbong kereta api dan berusaha mengungkapkan pencuri giok pusaka milik keluarga A Xiu. Mampukah mereka melakukannya sebelum kereta sampai di tujuan??

Dari segi cerita, novel grafis ini lebih merupakan santapan anak-anak. Kisahnya sederhana, tanpa banyak keruwetan dan belokan di alur. Yang terasa lebih istimewa adalah gambar grafisnya yang full color, halus dan detail. Untuk raut-raut wajah tokoh dilukis tanpa banyak bayang-bayang, dengan mata yang berupa titik bulat hitam, mirip komik Tintin. Latar belakang gambar juga dilukiskan dengan detail, baik pemandangan maupun setting ceritanya. Suasana kehidupan saat itu tertangkap dengan baik, dari tata busana, hiruk pikuk kota dan jalanan, warung dan para penjualnya, sampai ke papan iklan di pinggir jalan. Tata bahasanya juga disesuaikan dengan waktu dan untuk setiap karakter tokoh.

Ada beberapa grafis yang sangat saya sukai, antara lain adalah grafis jalur tram harmoni-kota yang kerap saya dengar di kisah-kisah jaman dahulu kala, grafis stasiun kota (dulu ternyata bernama Batavia Zuid) dan suasananya (hmmm... jadi ingat waktu dulu sering naik KRL Ekspres Kota - Serpong) dan tentu saja grafis stasiun Tawang Semarang (pasti waktu itu belum banjir rob seperti sekarang yah??!). Sebagai bonus, di balik cover depan novel ini ada beberapa grafis hitam putih. Saya membutuhkan waktu beberapa saat sebelum menyadari ini adalah grafis suasana kota Kudus. Ada Menara Kudus yang monumental, gudang-gudang tembakau, dan grafis pekerja-pekerja tembakau, dari pengumpul sampai perajang-nya. Sungguh sangat unik dan enak untuk dinikmati.

* * *

NB: sayangnya, ada kejanggalan dari versi sejarah cerita ini. Kata orang tua-tua yang saya tunjukkan buku ini, pada jaman itu, kereta api ekspress Batavia-Soerabaia belum tersambung seperti di cerita ini, karena dimiliki oleh dua perusahaan berbeda. Di kota Samarang (Semarang) para penumpang dari Batavia harus turun di stasiun Pontjol, pindah ke stasiun Tawang (berjarak sekitar 10 km) untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Soerabaia. Nah lo.... ^v^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget