Selasa, 11 Februari 2014

Assassin's Apprentice


Judul: Assassin's Apprentice
Judul Asli: Assassin's Apprentice
Seri: Farseer Trilogy #1
Pengarang: Robin Hobb
Penerbit: Matahati (2011)
ISBN: 978-602-85-9030-3
Jumlah Halaman: 532 halaman
Penerbitan Perdana: 1995


Melihat ratingnya yang cukup tinggi di Goodreads, sebenarnya aku mengharapkan lebih dari buku ini, apalagi ditambah temanya yang tidak terlalu umum, seorang pembunuh kerajaan. Tapi ternyata kenyataan tak seindah aslinya. #eaaa
Bukan... maksudku nggak jelek sih.... tapi juga nggak terlalu bagus menurut seleraku. Para 'good guys'-nya terlalu baik dan lurus sampai mudah sekali ditepu-tepu oleh para 'bad-guys'. Lebih dari itu, meskipun dengan setting high fantasy, aku lebih menilai kisah ini sebagai kisah intrik istana dan perebutan kekuasaan, bukan melulu sihir dan makhluk khayal.




Kisah dibuka dengan diantarnya Fitz ke lingkungan istana, sebagai anak haram dari sang Putra Mahkota Chivalry. Dengan adanya skandal ini, Chivalry memilih mengundurkan diri dan menyingkir ke pedalaman bersama istri sahnya. Pangeran Verity dipilih untuk menggantikannya menjadi putra mahkota, sedangkan Fitz dibesarkan oleh penjaga istal ayahnya.

Sekian tahun kemudian, Raja Shrewd melihat potensi dalam diri Fitz sebagai seorang 'pangeran yang bukan pangeran'. Ia lalu meminta sumpah setia Fitz dan mengirimnya untuk dididik tata cara istana, kemudian secara diam-diam menyuruh Chade -seorang Royal Assassin- untuk mengambilnya sebagai murid. Hence: Assassin's Apprentice.

Sementara itu, perompak kapal merah mulai merongrong perairan dan pemukiman warga di pesisir pantai kerajaan. Verity berusaha mengalahkan mereka menggunakan Keahlian, sebuah kemampuan telekinetik yang mengalir di darah bangsawan, namun itu semua mulai melemahkan tenaga dan kemampuannya. Sekumpulan bangsawan-bangsawan muda (termasuk Fitz) diperintahkan untuk mempelajari seni Keahlian ini. Meskipun Fitz sangan berbakat dan kuat, namun pembelajarannya dijegal oleh Galen, sang guru, dan Pangeran Regal, adik tiri Verity.

Klimaks cerita saat Fitz harus mendampingi rombongan menjemput putri negri tetangga yang dipilih menjadi istri Verity sementara ia harus menjalankan misinya sendiri, membunuh kakak sang putri - Putra Mahkota Rurisk untuk memperluas kekuasaan kerajaan. Keadaan menjadi kacau karena Regal juga punya agendanya tersembunyi untuk menggulingkan Verity dan menyingkirkan Fitz sehingga dapat mengambil tahta untuk dirinya sendiri.


* * *


Setelah pernah berkenalan dengan karakter seperti Eugenides dan Sage yang memainkan politik istana dengan sangat cerdas dan halus, Fitz (dan Verity dan Chade) terasa sangat satu dimensi, mudah tertebak dan tidak punya pandangan luas (oke, itu semua cuma eufinisme untuk 'bodoh'). Chade sebagai seorang pembunuh kerajaan harusnya bukan saja harus paham tentang cara membunuh dan racun, tapi juga harus merupakan orang yang amat sangat licin, licik dan mampu melihat rencana dan motif seseorang bahkan sebelum orang itu menyadarinya sendiri. Namun apa mau dikata, Chade di sini hanya dapat memamerkan keahliannya itu untuk menyuruh Fitz berbelanja ke kota. Tidak pernah ada counter-plot untuk rencana-rencana Regal atau Galen. Tidak saat Fitz dicurangi, tidak saat Verity diekspose sedemikian rupa, tidak pula saat Burrich hampir mati dibunuh orang (oh ayolah, setelah perlakuan Burrich yang mempermalukan Galen, bahkan jika Burrich sendiri tidak waspada, harusnya Chade bisa memprediksi hal itu jauh-jauh hari!). Tapi tidak, Chade terlalu sibuk di menaranya mencampur racun dan ramuan untuk dapat melihat keadaan sekelilingnya. Aku tidak habis pikir kenapa Chade ini sangat apatis (atau ia memang sengaja?). Sekali lagi, sebagai Royal Assassin, aku mengharapkan ia harusnya punya lebih banyak tangan-tangan dan mata-mata tak terlihat untuk mempermudah pekerjaannya. Lalu Verity, ah jangan mulai membicarakannya lah. Sesuai namanya, ia hanya dapat melihat yang baik dan benar. Sebagai calon Raja tanpa kecerdikan dan kelicikan?? Sampai di mana ia dapat bertahan?

Dari semua karakter membosankan itu, satu-satunya karakter yang masih menggelitik rasa penasaranku hanyalah si pelawak istana yang misterius. Begitu banyak pertanyaan yang masih menyelimutinya. Apakah kemampuannya meramal dan melihat masa depan itu sejenis sihir/keahlian atau murni hanya karena logika saja. Kalau saja ada sedikit penjelasan tentang hal ini...

Oh iya, ada satu pertanyaan yang masih membuatku penasaran. Menurutku, baik Kecerdasan (Wits) dan Keahlian (Skill) di kisah ini adalah hal yang sama, sama-sama masuk dan memanipulasi otak dan persepsi seseorang (atau seekor binatang) -bayangkan Legilimency dan counternya, Occlumency yang diajarkan Snape pada Harry, Skill itu sangat mirip dengan itu- Skill terhadap manusia, Wits terhadap binatang. Jadi mengapa keduanya dianggap sangat berbeda dan bahkan para pemilik kemampuan tersebut sangat jauh perlakuaanya. Wits dilarang dan direndahkan, sedangkan Skill dianggap elit. Apakah memanipulasi manusia jauh lebih baik daripada mengerti dan memahami binatang? Ada-ada saja.   


Untuk edisi bahasa Indonesianya ini, terjemahannya sangat bagus, enak dibaca dan mengalir, istilah-istilahnya konsisten dan tanpa typo. Covernya aku suka sekali, meskipun kurang sesuai karena Fitz tidak punya pedang panjang (dan kalau berjalan tidak prok prok prok) #eh #abaikan. Yang kusukai itu adalah ilustrasi tambahan di kedua lengan Fitz, Serigala (atau anjing) melolong di lengan kiri dan orang tua bertudung di bagian lengan kanannya. Pas sekali dengan ceritanya.

Sayangnya buku ini terbitan Matahati (yang berarti sudah hampir pasti nggak akan terbit lagi lanjutannya!). Berbeda dengan seri-seri murid yang lain, Ranger's Apprentice (yang membuatku rela berpedih-pedih baca ebooknya) atau Spook's Apprentice (yang sampai sekarang masih pengin baca lanjutannya dan belum ketemu meski sudah ngubek-ngubek mencari torrent sequel-sequelnya) atau juga Septimus Heap si Magic's Apprentice (yang sampai membuatku heboh sekali di bookwar IRF demi sequel Darke-nya), untuk seri ini, alih-alih harus usaha keras untuk bisa membaca seri berikutnya, mending menghabiskan timbunan dulu saja.
-_____-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget