Selasa, 25 Maret 2014

London Eye Mystery


Judul: The London Eye Mystery - Misteri London Eye
Judul Asli: The London Eye Mystery
Pengarang: Siobhan Dowd
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)
ISBN: 978-979-22-9191-9
Jumlah Halaman: 256 halaman
Penerbitan Perdana: 2007
Literary Awards: Cybils Awards for Middle Grade Fiction (2008)


Kegiatan yang paling kusukai di London adalah menaiki London Eye.
Dari puncak kincir, Kat bilang bahwa London terlihat seperti kota mainan. Mobil-mobil di jalanan terlihat seperti manik-manik sempoa yang bergerak ke kiri dan ke kanan, bergerak dan berhenti. Menurutku London terlihat seperti London dan mobil-mobilnya terlihat seperti mobil, hanya saja lebih kecil.

The London Eye Mystery ini berkisah tentang hilangnya seorang remaja, Salim, saat menaiki wahana Bianglala terbesar di kota London, dan dituliskan dari sudut pandang sepupunya, Ted, seorang bocah yang mengidap sebuah kondisi tertentu (Asperger Syndrom?). Hari Senin, 24 Mei, pukul 11.32 Salim naik ke sebuah kapsul London Eye. 30 menit berikutnya, kapsul tersebut terbuka, dan Salim raib tak berbekas. Polisi kebingungan dan meyakini tak mungkin seseorang dapat hilang begitu saja di ruangan tertutup yang tergantung di udara di tengah kota London, tapi Ted dan kakaknya, Katrina, yakin seyakin-yakinnya bahwa Salim masuk ke dalam kapsul tersebut, lalu tidak keluar lagi. Di manakan Salim sebenarnya?



Cara berpikir Ted memang tidak biasa. Ia sama sekali tidak bisa mengimajinasikan sesuatu ataupun menangkap emosi-emosi lawan bicaranya. Ia hanya dapat memikirkan fakta-fakta. Ia menyukai angka dan hobi utamanya adalah mengamati dan memprediksi cuaca berdasarkan diagram, data dan informasi. Sekarang ia harus menggunakan kemampuannya itu untuk mengamati dan memprediksi keberadaan Salim. Bersama Kat yang sangat imajinatif dan sangat 'normal', Ted menyusun 8 teori yang memungkinkan dalam kasus hilangnya Salim tersebut. Tapi saat satu per satu teori-teori itu terbukti mustahil, maka Ted dan Kat harus menyusun teori ke-9, teori yang menurut hukum Sherlock Holmes "when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth".

Penyelesaiannya unik, khas cozy mystery yang ringan dan tidak aneh-aneh. Apalagi ini ditujukan untuk para pembaca muda. Sisipan tema keluarga, plus adanya percampuran budaya barat dan timur dalam diri Salim membuat kisah ini enak dinikmati. Juga tentang penerimaan seseorang terhadap hal-hal berbeda di lingkungan dan masyarakatnya. Sangat recommended untuk bacaan remaja.

Saat membaca buku ini, mau tidak mau pasti kita teringat pada Curious Incident-nya Mark Hudson. Similaritas Ted dan Chris (yang dua-duamya tergolong highly functioning sociopath kali ya ^^), dan bagaimana mereka bereaksi terhadap kasus yang dihadapi, ditambah lagi referensinya terhadap kasus-kasus Sherlock Holmes, tidak dapat dipungkiri keberadaanya. Bahkan, karena sama-sama ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu si tokoh utama yang 'tidak normal', kedua novel tersebut juga menggunakan kalimat-kalimat berfrase S-P-O-K (susunan kalimat yang dulu sempat menjengkelkanku karena terasa sangat membosankan, tapi kemudian kuhargai karena keunikannya). Sayangnya, karena persamaan tema ini (yang juga sudah kutemui dalam Extremely Loud-nya JSF) membuatnya jadi sedikit basi. Karena itulah, aku mencopot 1 dari 4 bintang yang awalnya akan kuberikan.


* * *

Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesianya, bagus dan minus typo. Enak dibaca, unik, karena penerjemahnya mampu mengalih-bahasakan ketidaknormalan cara penulisan Ted yang lurus mengikuti pola bahasa. Ilustrasi sampulnya bagus, tapi sedikit terlalu dewasa jika ditujukan untuk pembaca remaja/anak-anak *aku mengira ini novel yang lebih berat gara-gara covernya yang suram*. Sedikit komikal atau warna-warna cerah harusnya lebih masuk, seperti cover edisi aslinya itu lo.





Tentang pengarang:


Siobhan Dowd (4 February 1960 – 21 August 2007) adalah pengarang dan aktivis dari Inggris. Di tahun 1984, ia bergabung dengan organisasi penulis internasional PEN sebagai seorang researcher untuk Writers in Prison Committee dan kemudian sebagai Program Director dari PEN American Center's Freedom-to-Write Committee di New York.

Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri dari Rushdie Defense Committee (USA) dan sempat pula mendatangi Indonesia dan Guatemala untuk menyelidiki kasus-kasus HAM untuk para penulis. Selama tujuh tahun masa tinggalnya di NY, Dowd sempat dipilih sebagai satu dari "top 100 Irish-Americans" oleh Irish-America Magazine and Aer Lingus untuk kerjanya menentang global anti-censorship.

Sayangnya, pada akhir tahun 2004, Dowd didiagnosa menderita kanker payudara stadium lanjut. Walaupun sempat berjuang hebat melawan sakitnya ini, ia akhirnya berpulang pada 21 August 2007.

Satu buku terakhir yang mampu diselesaikannya, Bog Child, diterbitkan di Inggris tahun 2008 dan dianugrahi penghargaan Carnegie Medal 2009 sebagai best book for children or young adults - posthumous.

Lebih lanjut tentang pengarang ini dapat dilihat di Wikipedia, sedangkan warisan charity untuk membantu anak-anak yang memiliki kesulitan membaca dapat dilihat di situs Trust Fund-nya. Obituari beliau dari The Guardians bisa dilihat di sini.



1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget