Kamis, 14 Agustus 2014

Peter Nimble dan Mata Ajaib


Judul: Peter Nimble dan Mata Ajaib
Judul asli: Peter Nimble and His Fantastic Eyes
Pengarang:  Jonathan Auxier
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 978-602-03-0152-5
Jumlah Halaman: 432 halaman
Penerbitan Perdana: 2011

Sinopsis

Peter adalah anak lelaki buta berumur sepuluh tahun. Sejak kecil dia menjadi pencuri. Pada suatu siang, Peter mencuri kotak milik seorang pedagang keliling yang misterius. Isi kotak itu ternyata tiga pasang mata ajaib. Ketika mencoba mata pertama, seketika Peter dibawa ke sebuah pulau tersembunyi. Di sana dia mendapat perintah khusus untuk pergi ke sebuah kerajaan berbahaya dan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bersama pengikut setianya––kesatria yang dikutuk menjadi campuran kuda dan kucing––Peter Nimble mengalami petualangan seru yang tak terlupakan demi menemukan takdirnya yang sejati.

Kisah dibuka dengan menceritakan Peter, seorang bocah berusia 10 tahun tanpa asal-usul dan buta, tanpa bola mata. Meskipun demikian, tangan-tangannya sangat berbakat untuk membuka gembok. Pokoknya, tak ada gembok yang tak dapat ia buka. Sayang sekali bakatnya ini menarik perhatian seorang pencuri yang kemudian 'mengadopsi' dirinya hanya agar ia dapat mencuri untuknya setiap malam.


Kemudian datanglah seorang pedagang keliling yang dengan berbagai cara sengaja memberikan Peter sebuah kotak berisi tiga pasang mata. Sepasang mata terbuat dari emas, sepasang dari Onyx dan  sepasang lagi dari zamrud. Saat Peter kepo dan mencoba memasang mata emas ke dalam lubang matanya, terjadilah keajaiban pertamanya. Tiba-tiba saja ia telah dilemparkan ke sebuah danau di mana seluruh lautan bermuara(?). Di sini ia bertemu dengan Sir Tode, seorang ksatria pembunuh naga yang disihir menjadi satu dengan kuda tunggangannya dan seekor kucing, Mr. Pound yang baik hati dan Mr. Cake yang rada misterius. Peter juga mendapatkan sepotong surat botol yang berisi puisi tak lengkap...

Ada banyak raja, tidak ada pangeran.
Burung-burung gagak berkeliaran dan samudra menarik diri.
Hanya orang asing yang akan membawa kelegaan,
Namun kegelapan berkuasa, kecuali ia...

Merasa terpanggil untuk membantu, maka dimulailah petualangan Peter dan Sir Tode mencari si penulis surat ini. Petualangan yang ternyata juga menguak jati diri Peter yang sebenarnya dan takdir yang menantinya.


* * *


Sebuah kisah fantastik dengan banyak sentuhan cita rasa dongeng-dongen klasik -Oliver Twist, Peter Pan, Just So Stories, Sinbad, dll - yang terasa sangat kental. Apalagi diceritakan seperti layaknya dongeng, dengan pov orang ketiga dan narator yang serba tahu. Adanya ilustrasi-ilustrasi hitam putih yang 'timeless' dan sangat imajinatif sehingga menambah dalam kesan ini. World building-nya mengingatkan pada gaya Terry Prachett dan setting dunia Discworld, sedangkan bagian tentang mata ajaibnya mirip dengann kisah Erec Rex, tapi alurnya sendiri cukup menyenangkan dan menegangkan untuk dibaca. Satu hal yang kusuka adalah baik Peter maupun Sir Tode, keduanya bukanlah tipikal pahlawan yang heroik nan mengagumkan. Karakter Peter yang masih bocah dan buta tergali dengan baik, ia digambarkan masih suka ngambek, kadang ceroboh dan sering rendah diri karena kecacatannya, sedangkan Sir Tode - sang ksatria pemberani... - ternyata seringkali hanya sok berani saja. Konyol tapi juga terasa sangat wajar. 

Ending novel ini masih sangat terbuka untuk dikembangkan sequel-sequelnya. Mungkin di masa depan, dengan banyak harapan dan nasib baik, kita dapat bertemu kembali dengan si Peter dan Sir Tode dalam petualangan baru melepaskan kutukan sihir Sir Tode yang amat sangat aneh itu. :)



* * *


Untuk edisi terjemahannya ini enak dibaca dan bahasanya mengalir lancar. Tanpa typo, hanya saja, cetakannya menggunakan font yang sedikit lebih mungil daripada biasanya. Musti membuka mata lebar-lebar saat membacanya, untunglah spasi antar barisnya masih cukup lebar sehingga gak njelimet dan berasa kepenuhan.

Ilustrasi covernya, sebenarnya cukup bagus dan pas untuk ceritanya sih, tapi aku kok gak terlalu suka ya. Entah kenapa. Terlalu berantakan dan kekanak-kanakan mungkin *ya iyalah, lha wong ini buku anak-anak* :p
Aku lebih suka ilustrasi cover novel edisi aslinya. Kesannya lebih klasik.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget