Jumat, 28 November 2014

Mr. Penumbra's 24-Hour Bookstore


Title: Mr. Penumbra's 24-Hour Bookstore
Author: Robin Sloan
Publisher: HarperCollins (2012)
ISBN: 978-144-34-1580-4
Pages: ebook, 256 pages
First published: 2012
Literary Awards: ALA Alex Award (2013), The Kitschies Nominee for Golden Tentacle (Debut) (2013)



Sinopsis:
The Great Recession has shuffled Clay Jannon out of his life as a web-design drone, and serendipity, sheer curiosity and the ability to climb a ladder like a monkey have landed him a new gig working the night shift at Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore. But Clay begins to realize that this store is even more curious than its name suggests. There are only a few customers, but they come in repeatedly and never seem to actually buy anything. Instead they check out impossibly obscure volumes from strange corners of the store, all according to some elaborate, long-standing arrangement with the gnomic Mr. Penumbra. The store must be a front for something larger, Clay concludes, and soon he has embarked on a complex analysis of the customers’ behaviour and roped his friends into helping him figure out just what’s going on. But once they take their findings to Mr. Penumbra, they discover the secrets extend far beyond the walls of the bookstore.

Evoking both the fairy-tale charm of Haruki Murakami and the enthusiastic novel-of-ideas wizardry of Neal Stephenson or Umberto Eco, Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore is exactly what it sounds like—an establishment you have to enter and will never want to leave.

OK, mungkin aku sedikiiiit overrated, tapi buku ini membawaku berpetualang dengan imajinasi edan tentang toko buku tua yang berdebu bercampur teknologi terbaru yang digawangi Google, ILM dan berbagai keajaiban binari lainnya, dari peninggalan sejarah berupa Font lawas sampai cerita tentang secret society yang mencari kehidupan abadi, tak ketinggalanperpustakaan rahasia jauh di bawah tanah ala game Dungeons and Dragons(!) ^^, semuanya diselingi dengan humor-humor tentang kecanggungan teknologi antar generasi serta keterbatasan teknologi itu sendiri.


“...this is exactly the kind of store that makes you want to buy a book about a teenage wizard. This is the kind of store that makes you want to be a teenage wizard.” 

Kisahnya diawali dari saat Clay Jannon, seorang web/content/brand designer, terpaksa mencari pekerjaan baru karena toko kue tempat kerja sebelumnya mengalami kebrangkutan. Setelah mencari ke sana ke mari tanpa hasil, akhirnya ia melihat iklan pekerjaan di Toko Buku Mr. Penumbra yang buka sepanjang hari. Pertanyaan Mr. Penumbra saat mewawancarai Clay adalah buku apa yang paling disukainya, dan saat dijawab The Chronicles of Singing Dragon, agak terkejut juga Clay karena tampaknya Mr. Penumbra sangat akrab dengan kisah buku fantasi tersebut. Tanpa berpanjang-panjang, Clay diterima bekerja di toko tersebut dengan giliran jaga toko antara jam 10 malam hingga jam 6 pagi keesokan harinya.

Sedikit aneh juga sih, pikir Clay saat awal bekerja, untuk apa toko buku tua seperti itu perlu buka 24 jam. Siapa juga yang perlu membeli buku di tengah malam. Tapi toko buku Mr. Penumbra ini bukan hanya toko buku biasa. Ada buku-buku di deretan paaaling belakang -the wayback list- yang tidak dijual, melainkan hanya dipinjamkan kepada segelintir anggota yang penampilannya juga unik-unik. Nah, jika ada anggota yang kebetulan datang untuk mengembalikan dan meminjam buku di wayback list ini, Clay harus menuliskan deskripsi terperinci, bukan hanya judul bukunya saja, tapi juga tentang si peminjam, baju apa yang dipakai, sepatunya, suasana hatinya, cara berjalannya, semuanya, sedetail mungkin. Meskipun pernah diperingatkan untuk tidak membaca isi buku-buku ini, suatu malam Clay, dan teman serumahnya Mat, kepo juga, dan akhirnya mereka melanggar larangan ini. Tapi ternyata isi buku-buku tersebut telah dikodekan secara khusus hingga tak dapat dimengerti, kecuali oleh para anggotanya itu.

Selain para anggota yang datang satu dua orang saat giliran jaganya, tak banyak orang lain yang melirik toko buku ini. Clay jadi punya banyak waktu luang, dan iseng-iseng dia membuat komputasi pemodelan rak-rak buku dan isinya. saat itulah ia menyadari bahwa para anggota misterius itu ternyata meminjam buku-buku tersebut dengan urutan tertentu. Hal ini menambah rasa penasaran Clay. Dibantu oleh Mat, ia membuat duplikat buku log peminjam, dan dibantu oleh Kat - seorang cewek jenius yang kerja di Google- ia membuat pemodelan data secara lebih lengkap dengan data yang diambil dari buku log peminjaman yang kemudian didijitalkan menggunakan perangkat ebook digitalizer di markas Google. Saat menjalankan program data model peminjaman ini, betapa terkejutnya Clay ternyata garis-garis yang dibuat oleh simpul-simpul letak buku di rak mencitrakan sebuah wajah. Lebih terkejut lagi saat Mr. Penumbra melihat citra wajah ini, beliau sangat gembira sampai terjingkrak-jingkrak, dan menanyakan metode yang digunakan Clay. Saat menyadari bahwa Clay 'tidak sengaja' mendapatkannya melalui proses komputasi dan teknologi komputer  yang jauh lebih canggih dari cara manual para anggota resmi, Mr. Penumbra tampak jadi sangat gundah dan menyuruh Clay pulang. Dan hari berikut dan berikut dan berikutnya, Toko Buku 24 Jam Mr. Penumbra tutup tanpa penjelasan.

Clay yang merasa bersalah, takut sesuatu yang buruk telah terjadi pada Mr. Penumbra. Dengan sedikit intap-intip, bongkar-bongkar dan tanya sana-sini, akhirnya ada petunjuk bahwa Mr. Penumbra harus pergi ke New York karena dipanggil Bos besar untuk mempertanggungjawabkan toko bukunya itu. Ditemani Kat dan Neel -teman Clay yang jadi milyuner gara-gara membuat software tentang boobs-, ia menyusul ke NY dan menemukan rahasia-rahasia aneh di balik perkumpulan rahasia Mr. Penumbra. Tentang kode-kode aneh yang harus dipecahkan untuk mencapai tujuan utama perkumpulan tersebut. Juga tentang jalan hidup Mr. Penumbra... serta jalan hidup seorang pria yang mengarang kisah The Chronicles of Singing Dragon yang ternyata menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang diketahui.


* * *


Awalnya aku tertarik membaca buku ini karena review yang menyebutkan cerita tentang kantor pusat Google, jadi ketika sedang mencari-cari novel untuk mengikuti posbar tema judul dengan angka, aku teringat padanya. Namun setelah membaca, ternyata aku menikmati banyak sekali cerita selain itu. Kisahnya ini memang campuran ajaib antara sedikit surealis, dibumbui plot misteri, thriller secret society plus ocehan full teknologi internet. Idenya memang bukan sangat orisinal, tapi percampuran antar bagian-bagiannya sangat pas dan diolah dengan pas pula. Hasilnya sebuah kisah cozy mystery yang enak dinikmati.

Karakter-karakter dalam buku ini juga asyik, dan bisa dibilang orang-orang normal yang unik. Meskipun penuh dengan keanehan biblio-cult, keajaiban spesial efek yang menipu mata, dunia gamers dan programmers, setiap karakternya terasa membumi, berinteraksi dengan dunia sekitarnya dengan cara mereka sendiri. Alurnya juga cukup cepat untuk dinikmati dengan nyaman.

Endingnya sedikit 'nakal' dengan menunjukkan bahwa teknologi komputasi paling canggih yang dimiliki oleh salah satu perusahaan raksasa paling canggih pula ternyata tak dapat memecahkan kode yang dibuat seseorang sekian ratus tahun yang lalu, tapi kecerdikan seorang manusia biasa dapat melihat sesuatu yang tersembunyi di tempat terbuka. Selain hal itu, penyelesaian kisahnya sedikit terlalu manis ala kisah komedi romatis holywood, di mana segalanya terselesaikan dengan sangat baik untuk semua orang, tapi yah... kenapa tidak.  





https://www.goodreads.com/review/show/1101407353





Posting ini dipublikasikan dalam rangka mengikuti event

Baca dan Posting Bareng BBI
Bulan: November 2014 - Tema Judul dengan Angka



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget