Senin, 07 September 2015

Student Hidjo


Judul: Student Hidjo
Pengarang: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Narasi (2010)
ISBN: 9789791682398
Jumlah Halaman: 140 halaman
Penerbitan Perdana: 1918
Literary Awards: ---




Lihat sinopsis
Kisah dimulai ketika ayah Hidjo, Raden Potronojo, berencana menyekolahkan Hidjo ke Belanda. Raden Potronojo berharap hal itu bisa mengangkat derajat keluarga, yang berasal dari kalangan pedagang. Meskipun sudah menjadi saudagar sukses, sehingga gaya hidupnya bisa menyamai kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak berarti kesetaraan diperoleh. Khususnya, di mata orang-orang (kaum priyayi) yang dekat dengan *gouvernement*.

Namun, ibu Hidjo, Raden Nganten Potronojo, berpandangan sebaliknya. Ia begitu khawatir melepas Hidjo ke negeri yang sarat dengan "pergaulan bebas". Meskipun demikian, Hidjo pergi juga ke Belanda.

Ketika bersekolah di Belanda, mata Hidjo terbuka melihat kenyataan yang--ternyata--tidak sesuai yang dibayangkan. Di sana, ternyata sama saja seperti di Hindia Belanda. Ada orang yang jadi majikan, ada orang yang jongos, ada yang jahat, ada yang baik. Hidjo menikmati sedikit "hiburan" ketika dirinya memerintah orang-orang Belanda di hotel, restoran, atau di rumah kosnya. Di mana, hal ini mustahil dilakukan di Hindia Belanda.

Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia, kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Novel ini merekam pertentangan budaya kehidupan priyayi di zaman pergerakan. Di mana, mulai lahir para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan novel ini juga secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda.

Sudah beberapa lama aku ingin membaca novel ini. Ada dua alasan, pertama karena si pengarang, Mas Marco Kartodikromo ini karakternya sempat diangkat dalam Tetralogi Buru-nya Bapak Pram dengan sangat apik dan bikin penasaran, dan yang kedua, karena novel ini didapuk jadi buku pertama dalam lini waktu 100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca. Benar, buku ini pertama kali diterbitkan hampir seabad yang lalu, dan saat itu sempat membuat Pemerintah Kolonial geram dan meski harus membolehkan penerbitannya (karena dampak Politik Etis), tapi ada embel-embel "tak boleh dikoetip" di sampulnya. Juga bahwa novel ini yang pertama kali menggunakan kata "saya" sebagai kata ganti orang pertama, menggantikan "hamba" yang lebih kerap dipakai dalam sastra melayu sebelumnya, dengan implikasi kesetaraan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat.


Kisahnya sendiri kurasakan amat sangat sederhana. Kisah percintaan antara Hidjo dengan Biroe dan Woengoe tanpa banyak twist ataupun konflik. Yahh... kalau dibaca dengan kacamata novel modern, jelas memang sangat terasa ketidakadaan keseruan yang membuatnya menarik. Tapi sekali lagi, novel ini diterbitkan saat "Indonesia" saja belum ada. Dan karena itu, aku mencatat ada beberapa hal yang amat sangat layak untuk dibaca.

Tema yang utama yang diangkat dalam kisah ini tentu saja adalah tentang Associatie Politiek. Tentang kondisi sosial percampuran, baik antara orang-orang Belanda dengan orang pribumi, maupun antar orang pribumi sendiri, antara kaum priyayi dengan orang biasa. Ada banyak adegan dalam novel di mana kondisi ini diperlihatkan dengan gamblang. Salah satunya saat Controleur Walter mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Jawa, dan bahkan memamerkan kemampuannya (yang pas-pasan) dalam berbahasa Jawa Kromo Inggil dan menari Jawa. Atau pertemanan antara Hidjo dengan para nonik Belanda di kapal. Kisah utama yang berakhir dengan perkawinan Hidjo (yang dari kalangan rakyat) dengan Woengoe (yang putri Priyayi dari Djarak), juga masih sejalan dengan tema ini.

Tema yang lain, tentu saja adalah kritikan sangat pedas diberikan kapada Pemerintah Kolonial dan orang-orang Belanda secara umum yang diwakili oleh Sergeant Djepris.

Ketika mendengar kata-kata Walter itu, Sergeant Djepris naik darah. Dan dia berkata, "Orang Jawa kotor. Orang Jawa bodoh, orang Jawa malas, orang Jawa tidak beschaafd. Pendeknya orang Jawa atau orang Hindia itu adalah bangsa paling busuk sendiri!"
"Saya heran sekali, Tuan orang Belanda yang telah sepuluh tahun tinggal di Hindia berani berkata begitu! Apakah Tuan tidak malu mengucapkan kata-kata itu? Bagaimana Tuan bisa berkata seperti itu, sedang Tuan sendiri hidup senang di Hindia? Berapa ribu bangsa kita yang mencari penghasilan di Hindia? Perkataan Tuan itu suatu tanda bahwa Tuan seorang yang tidak berperikemanusiaan!"

"Tuan berkata, 'orang Jawa kotor', tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa?"

"Orang Jawa bodoh, kata Tuan. Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang kita tahu, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya kita, Nederland."

"Orang Jawa malas, kata Tuan pula. Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja sampai mandi keringat sekedar mencari sesuap nasi. Apakah semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangkan tanahnya adalah tanah yang kaya-raya. Adakah di Negeri Belanda orang bekerja seberat itu hanya untuk mendapat bayaran 25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa?"

Ha... pantas saja isi buku ini tak boleh dikutip saat pertama diterbitkan. Apalagi percakapan ini masih dilanjutkan 3-4 halaman lagi dengan isi yang pasti memerahkan telinga para orang Belanda.

Selain itu ada pula beberapa hal yang terselip dalam novel ini. Seperti cerita-cerita tentang keriuhan Kongres Besar Perhimpunan Sarekat Islam di Solo. Tidak heran mengingat sang pengarang adalah anggota SI yang cukup aktif dan berpengaruh. Beberapa pandangan proletarism pengarang juga kurasa muncul tak kentara di sana-sini.

Sayangnya, jika boleh kukatakan di sini, adalah novel ini benar-benar miskin konflik. Semuanya persoalan dibuat lempeeeng, lancar jaya, tanpa emosi. Bahkan untuk hal yang paling menggeramkan hatiku di novel ini, saat Walter memutuskan hubungan dengan Jeefrouw Jet Ross dengan cara yang amat sangat pengecut, hanya dituliskan dengan yah begitu saja. Mungkin Mas Marco lebih ingin membandingkan dengan cara Hidjo memutuskan hubungannya dengan Bertje dengan cara yang lebih gentlemen manner. Aissshh...


Tentang Pengarang:

 Marco Kartodikromo (Cepu, Blora, 1890 – Boven Digoel, 18 Maret 1935) atau umum dikenal Mas Marco adalah seorang penulis dan jurnalis.

Lahir dari keluarga golongan priayi di Blora, Hindia Belanda, pekerjaan pertama Kartodikromo adalah di perkeretaapian nasional. Muak dengan rasisme yang ditampilkan di sana, pada tahun 1911 ia pindah ke Bandung dan menemukan pekerjaan sebagai wartawan di Medan Prijaji. Tahun berikutnya ia pindah ke Surakarta dan bekerja dengan dua media publikasi, Saro Tomo dan Doenia Bergerak; ia segera mulai menulis dalam bagian penting melawan pemerintah kolonial Belanda, yang menyebabkan penangkapan terhadap dirinya. Setelah periode sebagai koresponden di Belanda, Kartodikromo terus melanjutkan kegiatan jurnalisme dan kritik terhadap pemerintahan; ia juga menulis beberapa potongan-potongan novel fiksi. Terlibat dengan Partai Komunis Indonesia, setelah pemberontakan komunis 1926 yang dipimpin Kartodikromo, ia dibuang ke kamp penjara Boven-Digoel di Papua. Dia meninggal di kamp tersebut karena penyakit malaria pada tahun 1932.

Kartodikromo, yang lebih suka menulis dalam bahasa Melayu, bereksperimen dengan frasa-frasa baru pada saat penerbit milik negara Balai Pustaka berusaha untuk membakukan bahasa. Menurut kritikus sastra Bakri Siregar, ia adalah penulis Indonesia pertama yang secara terbuka mengkritik pemerintah kolonial Belanda dan bentuk tradisional feodalisme yang dipraktekkan di negara itu. Untuk kritik vokal ini, pemerintah Belanda mencela dia sebagai orang 'gila' yang bisa memicu kerusuhan antara penduduk asli.

https://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Kartodikromo


100 Hari Membaca Sastra Indonesia


https://www.goodreads.com/review/show/1384480510




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget