Selasa, 26 Maret 2013

Cadas Tanios


Judul: Cadas Tanios
Judul Asli: Le Rocher de Tanios
Pengarang: Amin Maalouf
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia (1999)
ISBN: 9794613223
Jumlah Halaman: 262 halaman
Penerbitan Perdana: 1993
Literary Awards: Prix Goncourt (1993), (جائزة غونكور الفرنسية عام (1993



Beberapa kali mencoba membaca Balthasar's Odissey (dari penulis yang sama) selalu mentok di tengah jalan. Demikian pula Samarkand, butuh waktu laaaamaaa untuk mencernanya. Cukup ragu-ragu untuk memulai membaca buku ini (bahkan ketika si Bapak penjaga stan YOI sudah bersungguh-sungguh menjamin kebagusannya) ^_*. Ternyata saya salah. Cadas Tanios memang sunguh-sungguh recomended.


Dari Sinopsis:
Novel ini membawa kita ke sebuah desa di pegunungan Lebanon dan mempertemukan kita dengan Tanios, putra Lamia, Istri Kepala Rumah Tangga Istana yang cantik jelita, idaman setiap pria. Kelahiran Tanios disambut gembira ayah dan bundanya, sanak saudara, dan seluruh penduduk desa, karena sudah lama di tunggu-tunggu. Namun ada desas-desus, ayah Tanios adalah Cheikh, Penguasa desa itu. Tetapi Sang Penguasa bersumpah dengan jari terkembang di atas injil di depan bibi Tanios, bukanlah dia yang membuahi Tanios. Namun nasi sudah menjadi bubur, gunjingan orang tak kian reda, melainkan menjalar ke mana-mana. 
Ketidakpastian mengenai siapa ayahnya sebenarnya menjadi titik awal dari semua peristiwa yang menimpa Tanios semasa kecil, dan mencapai puncaknya ketika pada suatu hari ayahnya, anak buah kesayangan sang Penguasa, anak buah yang penurut, rajin, pendiam, tanpa keinginan yang lebih tinggi selain mengabdi pada majikannya, menghadang Pemimpin Gereja di sebuah hutan pinus di lembah desa dan meremuk kepalanya dengan sebutir peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan hadiah seorang utusan pemerintah Inggris bagi Sang Penguasa, untuk membela anaknya dan kehormatan dirinya sendiri. Tanios dan ayahnya lari bersama dari desanya, di kejar-kejar ketakutan siang dan malam.
Kisah yang berlatar belakang keadaan zaman 1830-an ini, zaman pertarungan seru adu pengaruh antara negara-negara besar pada waktu itu, menghanyutkan kita dan sekaligus membuat kita terpana betapa nasib seseorang ditentukan oleh tangan-tangan yang tidak tampak dan kekuatan yang lebih besar.


Tanios adalah seorang pemuda yang bahkan pada saat kelahirannya sudah membawa omongan buruk, aib akan ketidakpastian akan siapa ayahnya. Di kemudian hari, kehausan akan pengetahuan menghadapkannya pada politisasi letak desanya pada perebutan kekuasaan negara-negara besar (desa Tanios bernama Kfaryabda, di daerah pegunungan di Lebanon, yang untuk mengetahui letak pastinya, harus menggunakan peta daerah yang paling mendetail dan mencarinya dengan kaca pembesar). Sedangkan kecintaannya pada seorang gadis membawanya, dan ayahnya, pada puntiran nasib yang berujung pada accidental hero yang sama sekali tidak diharapkannya. Dan akhirnya, menghadapkannya pada keputusan yang mungkin (atau mungkin juga tidak) mengubah nasib bangsanya sampai bertahun-tahun setelahnya.


Kisah Tanios bukan hanya kisah seorang bocah yang dilahirkan dalam bayang-bayang takdir buruk. Ini juga sebuah kisah tentang sebuah desa (dan bangsa) di tanah pegunungan yang terperangkap dalam bayang-bayang perubahan kekuasaan antara Mesir dan Turki, Perancis dan Inggris, pun dalam dominasi agama Islam, Katolik dan Gereja Inggris. Ditulis dengan indah, realistis tanpa romantisme maupun politisasi berlebihan. Suka juga pada ketidakpastian endingnya yang terbuka. [spoiler Aku sendiri memilih untuk percaya pada tulisan Nader, bahwa sebuah kapal berlayar datang membawanya kembali pada Thamar.] Yang pasti, buku ini langsung jadi salah satu buku favoritku! (Jadi semangat untuk baca Balthasar lagi nih).



***


Untuk edisi bahasa indonesia ini, terjemahannya sangat enak dibaca. Suka penterjemahan 'tetek kuntilanak' dan 'kearifan pedagang keliling'. Beberapa istilah dibiarkan dalam bahasa aslinya, seperti Cheikh atau Bouna, Khayye dan Bayye, sehingga citarasa timur tengah-nya lebih terasa. Namun beberapa nama tempat, seperti Beyrouth, tetap dituliskan dalam ejaan Perancis, sehingga terkadang butuh beberapa detik untuk menyadari maksudnya.

Ada sedikit typo di sana-sini, tidak terlalu mengganggu, namun satu yang sungguh mencolok mata, adalah typo di sinopsis cerita di sampul belakang, yang salah mengeja nama tokoh utama sekaligus judul buku ini. Kok bisa gitu lhoooo.... *rolling eyes*


***


Did a little googling just now, and found some pictures of Kfaryabda's Rocks (or Kfarabida at most spelling).

This is my fav pic. Not really sure which one Tanios' Rock is. :p





http://www.goodreads.com/review/show/220637730

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget