Sabtu, 26 Oktober 2013

Lost Man's Lane


Judul: Lost Man's Lane: Rumah Tua, Kereta Hantu, dan Jalan Penuh Misteri
Judul Asli: Lost Man's Lane: A Second Episode in The Life of Amelia Butterworth
Seri: Amelia Butterworth #2 / Detective Gryce #9
Pengarang: Anna Katharine Green
Penerbit: Visimedia (2013)
ISBN: 978-979-065-1876
Jumlah Halaman: 380 halaman
Penerbitan Perdana: 1898



Dari sinopsis:
SETELAH berhasil memecahkan kasus pembunuhan di Gramecy Park, New York, Amelia Butterworth, si detektif perempuan yang modis kini diminta Mr. Gryce, untuk memecahkan kasus aneh di sebuah desa. Empat orang yang melintasi jalan hilang tanpa jejak. Sebuah mitos tentang kereta hantu dan empat buah rumah dengan penghuni yang tidak biasa di sepanjang jalan itu menjadi pembuka misteri hilangnya para korban.
APAKAH benar kasus ini terkait dengan mitos kereta hantu yang membawa kesialan setiap orang yang melintas? Ataukah ada sebuah trik pembunuhan yang tidak biasa? Lalu, siapa pelakunya? Untuk menyelidiki kasus ini, Amelia Butterworth harus meninggalkan kebiasaannya tinggal di lingkungan sosialita New York dan harus tinggal bersama keluarga teman sekolahnya, Althea, di sebuah desa terpencil, dalam sebuah rumah besar yang juga penuh misteri. 

Novel ini diawali dengan berkunjungnya Det. Gryce ke rumah Ms. Butterworth. Dari yang sekedar mengobrol, akhirnya tampak motif awal si detektif tua, yaitu meminta pertolongan Ms. Butterworth untuk menjadi perpanjangan mata dan tangannya dalam menangani sebuah kasus di pelosok desa terpencil. Ms. Butterworth yang telah membuktikan kecerdikan dan akal sehatnya dalam kasus van Burnam, menjadi kandidat yang sangat cocok mengingat rumah almarhumah Althea Knollys, seorang bekas teman sekolahnya, tepat berada di jantung jalan penuh misteri ini. Maka pergilah Ms. Butterworth mengunjungi Loreen dan Lucetta Knollys serta kakak laki-lakinya, William Knollys, putra-putri Althea yang dulu pernah dikenalnya.




Kasus yang ditangani ini sendiri sangatlah unik. Empat orang lelaki muda dan sehat berjalan melewati sebuah jalan pedesaan di waktu yang berbeda-beda dalam selang waktu tiga tahun, dan kemudian raib tak berbekas. Di sepenggal jalan itu ada beberapa rumah yang tampak tenang dan damai, Mansion Knollys (A), rumah indah Mr. Trohm yang terhormat dan kaya (B) (Mr. Thorm ini yang pertama kali memanggil kesatuan polisi NY untuk menyelidiki), rumah milik Deacon Spear yang dilengkapi dengan lumbung-lumbung berisi jerami, kasau-kasau yang dijadikan rumah burung-burung merpati dan entah apalagi, serta sebuah gubuk reyot milik seorang wanita tua setengah sinting yang berada tepat di pinggir hutan. Jika para lelaki itu telah 'dilenyapkan' pastilah oleh salah satu penghuni rumah-rumah ini. Masalahnya, siapakah itu, bagaimana caranya dan apa motifnya.


***


Sebenarnya saya suka dengan dasar cerita ini. Empat orang hilang tak berbekas. Bahkan tanpa mayat di manapun juga. Ini jenis cerita yang bisa dibawa ke arah mana saja. Dari yang jenis crime fiction biasa, sampai yang paling aneh, absurd atau fantasi sekalipun. Namun sebagai kisah detektif klasik, tidak heran alurnya masih tidak melenceng dari yang biasa ada. Kejadian-kejadian aneh dalam rumah keluarga Knollys bisa dibilang sedikit seram, namun tidak sepenuhnya berhasil sebagai pengalih perhatian pembaca. Penjahat sebenarnya mudah ditebak bagi para pembaca novel-novel detektif, mungkin tanpa alasan kuat atau bukti-bukti yang jelas dan hanya semata-mata kerena karakter ini dibuat sangat baik, sangat terhormat dan tampak tidak mencurigakan sama sekali (yang dalam novel jenis ini berarti petunjuk jelas kalau dia itulah orangnya).

Penyelesaian kisahnya, sedikit banyak mirip dengan buku pertamanya, That Affairs Next Door, di mana bukan Det. Gryce maupun Ms. Butterworth yang sepenuhnya menutup kasus ini, namun kesemuanya diakhiri oleh kesaksian dan pembuktian oleh seorang karakter wanita yang tampak lemah namun ternyata menjadi kunci misteri (meskipun di cerita yang ini, baik Det. Gryce maupun Ms. Butterworth tampak lebih mumpuni karena sudah sama-sama mencurigai tokoh penjahat tersebut).


***


Untuk edisi bahasa Indonesianya ini, pengalihan bahasanya jauh lebih baik dari buku pertama. Translasi bahasanya mengalir lancar dan enak dibaca, serta semua penggunaan kata ganti orangnya (kau, aku, Anda, saya) tertata baik. Typo tidak ditemukan selama saya membaca, kecuali satu di halaman 121, yaitu ada tanda catatan kaki di sebelah kata poplar, namun tidak ada catatan kaki yang dimaksud. Satu lagi kesalahan yaitu dalam mentranslasikan sketa peta jalan orang hilang, rumah Deacon Spear (Spear's) malah diterjemahkan menjadi 'pohon-pohon muda' (halaman 17). Saya sempat bingung mencari lokasi rumah ini di peta. Oh iya, kenapa ya kata jabatan Deacon sendiri tidak diterjemahkan. Atau memang sengaja karena sulit mencari padanan katanya?


Yang paling terasa mengganggu justru desain cover dan judulnya itu lho. Ilustrasi di covernya lumayan bagus dan misterius, gambar kereta kuda melewati jalan di tengah hutan-hutan dengan latar depan tulisan judul Lost Man's Lane. Sangat cocok dengan isi buku. Namun ilustrasi ini hanya setengah halaman, sedangkan yang setengah lagi habis dipakai untuk menulis sub judul - Rumah Tua, Kereta Hantu, dan Jalan Penuh Misteri (semuanya dalam huruf kapital dengan font super besaaar, kutipan langsung sampai di tanda bacanya) yang terasa bombastis dan horor-is, sampai-sampai di beberapa TB, buku ini ditaruh di rak buku-buku pocong dan setan jeruk purut *saya sampai harus mencari datanya di komputer toko buku* - dan sebuah blurb dari Janet entahsiapa, juga dalam font yang cukup besar (ok, saya tahu beliau lumayan beken dalam menulis review buku misteri dan cf, tapi blurb dengan font besar di cover depan, haish... karya klasik Anna Katharine Green ini kok jadi buku yang gak pede sih).
Plus, kombinasi warna kelabu dan coklat, ah... nggak banget d!! 





https://www.goodreads.com/review/show/746509094

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget