Rabu, 30 Oktober 2013

Never Let Me Go


Judul: Never Let Me Go - Jangan Lepaskan Aku
Judul Asli: Never Let Me Go
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 978-979-22-7493-6
Jumlah Halaman: 358 halaman
Penerbitan Perdana: 2005
Literary Awards: Man Booker Prize Nominee for Shortlist (2005), Arthur C. Clarke Award Nominee (2006), ALA Alex Award (2006)



Hal pertama yang saya perhatikan dari novel ini adalah bahwa sinopsis di sampul belakang buku sungguh-sungguh membuat hati gemas. Andaikan saya belum tahu apa itu Hailsham sesungguhnya, saya berniat untuk tahu saat membaca isi buku, bukan saat membaca sinopsis seperti ini:
Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham. Persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, teman masa kanak-kanaknya, mengingatkannya pada masa kecilnya di asrama tersebut. Namun ingatan itu juga membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di tempat itu ternyata manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.

Yah, kalau sudah tahu Hailsham itu tempat pembesaran manusia-manusia hasil kloning untuk kemudian dipanen pada saatnya, setengah dari misteri dan kenikmatan membacanya sudah dirampas dunk! Hadeeeh.... *tepokjidat* Saya jauh lebih suka sinopsis yang diberikan oleh penerbit lain, yang mendeskripsikan Hailsham dengan lebih tepat sesuai kisah namun tidak membuka rahasianya:
As a child, Kathy – now thirty-one years old – lived at Hailsham, a private school in the scenic English countryside where the children were sheltered from the outside world, brought up to believe that they were special and that their well-being was crucial not only for themselves but for the society they would eventually enter. 

Namun selain dari 'cacat' kecil tersebut di saat awal membaca (dan yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, karena saya memang sudah menonton filmnya), saya sungguh-sungguh menikmati membaca buku ini. Alunan kisahnya yang mengalir perlahan, sendiri dan kesepian, terasa jujur menyentuh dan juga sangat intim -- khas karya Ishiguro, dan lagi jika dua buku masterpiece beliau yang sebelumnya saya baca - Remains of the Day dan An Artist of Floating World - bercerita tentang pria-pria tua jelang masa pensiun, di buku ini tokohnya adalah seorang wanita muda sehingga makin meninggalkan kesan lebih dalam diri saya.






Jadi sesuai dengan sinopsis di atas, buku ini berkisah tentang Kathy H. dan kehidupan mulai masa kanak-kanaknya di Hailsham bersama kedua teman baiknya, Tommy dan Ruth, hingga akhirnya mereka masing-masing memisahkan diri dan akhirnya bertemu kembali saat dewasa dan saat Tommy hampir 'selesai'. Dari kenangan-kenangan Kathy, kita dapat merasakan kerapuhan-kerapuhan masa remaja ketiganya, perasaan mencintai dan takut kehilangan, dan juga bagaimana mereka -terutama Ruth- ingin diterima dalam masyarakat, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Persahabatan, cinta dan kehidupan masa depan. Semua hal yang bagi kita adalah biasa, bagi mereka adalah tanda tanya, karena takdir hidup mereka telah digariskan. Dan yang paling miris, bagi sebagian orang, mereka dianggap bukan manusia yang memiliki jiwa. Hanya raga. Mereka adalah donor. Organ-organ tubuh merekalah yang dianggap berguna pagi masyarakat, bukan mereka.
"Tak satu pun dari kalian akan pergi ke Amerika, tak satu pun dari kalian akan jadi bintang film. Dan takkan ada yang bekerja di supermarket seperti yang kudengar direncanakan beberapa dari kalian tempo hari. Hidup kalian sudah ditetapkan. Kalian akan jadi orang dewasa, lalu sebelum kalian menjadi tua, bahkan sebelum menjadi paruh baya, kalian akan mulai mendonasikan organ-organ vital kalian. Untuk itulah kalian masing-masing diciptakan." (hal. 106)


Satu hal yang mencuri perhatian saya, secara logika, selama bertahun-tahun institusi-institusi seperti Hailsham didirikan (oh ya, ada lebih dari satu institusi peternakan manusia seperti ini dalam novel NLMG!) tidak pernah terjadi pemberontakan. Tampaknya program cuci otak manusia-manusia donor ini telah berlangsung sangat sistematis semenjak lahir, sehingga keinginan untuk survive nyaris tidak ada dan mereka semua hanya dapat pasrah menerima nasib. Hidup, jadi dewasa, mendonor dalam 4 tahap, lalu.... selesai. Bahkan si tokoh utama sekalipun, si Kathy ini, yang mampu menjalani kehidupan hingga berumur 31 tahun tanpa diharuskan mendonorkan organnya, tidak pernah sekalipun menuliskan keinginan memberontak, melarikan diri atau menghilang. Tommy... dia lebih parah lagi, dia malah bertanya apakah Kathy tidak merasa 'tidak berguna' karena belum memulai program donornya. Apakah ini tanda kebodohan, ataukah rasa kasihan, karena proses menunggu tanpa kepastian kapan talak eksekusimu akan datang itu memang terasa sangat melelahkan.


Ah... lebih baik saya sudahi saja review ini, sebelum air mata kembali menggenang mengenang Ruth dan Tommy dan donor-donor Hailsham lain. Never Let Me Go. Lagu yang terdengar ini adalah lagu-nya Kathy. Lagu yang pernah hilang, lalu ditemukannya kembali bersama Tommy di pojok dunia. Melalui lagu ini, Tommy secara tak langsung menyatakan rasa cintanya yang tulus pada Kathy. Lagu yang sama yang digunakan Kathy untuk melepaskan Tommy menjelang waktu donornya yang pamungkas.

Salam hormat untuk Mr. Ishiguro. Sekali lagi karya Anda membuat saya menghargai setiap detik kehidupan yang saya miliki dan menjalaninya sebaik-baiknya hingga akhir tanpa penyesalan.





Edisi bahasa Indonesia dari PT GPU ini terjemahannya bagus sekali. Bahasanya mengalir lancar, enak dibaca dan masih tetap membawa nuansa dingin dan kesepian dari pengarang aslinya. Typo tidak saya temui.Sedangkan covernya menurut saya, adalah salah satu yang terbagus di antara edisi-edisi yang ada.

NB: saya heran bagaimana buku ini bisa dikategorikan bergenre Science Fiction. Semenjak awal kisah, semua yang dituturkan berasal dari kenangan. Perasaan Kathy. Kebimbangan Ruth. Kegamangan Tommy. Tak pernah sekalipun proses kloning atau pendonoran menjadi sorotan utama. Scifi itu masalah otak, sedangkan buku ini berkisah tentang hati.




https://www.goodreads.com/review/show/434506411

11 komentar:

  1. waduh spoiler yah sinopsisnya --a
    saya lebih suka filmnya ya dari bukunya, jeritannya tommy menyayat hati :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga suka sekali filmnya. keira knightley-nya dramatis bgt, bikin tisu abis buat ngelap mata... n yup, jeritan tommy.... kl di novelnya lbh tenang. pikiran2 kathy lebih ditunjukkan.

      Hapus
  2. aku ngerasa alur buku ini terlalu lambat buatku..tapi ceritanya sendiri sebenernya keren banget..nggak biasa idenya :)

    BalasHapus
  3. Ayo mbak Astrid n mbak Vina, baca novel ini, terus nonton filmnya juga. Aku kasih persediaan tisu deh... :)

    BalasHapus
  4. akuuuu pengennn bacaaaaaa....

    BalasHapus
  5. Spoiler T______T

    Sudah nonton filmya tapi belum baca bukunya. Penasaran banget dengan bukunya!!!! Hiks~

    BalasHapus
  6. Keren nih... Jadi mau baca... :)

    BalasHapus
  7. Serasa pernah nonton film ini..tapi bnrn film ini bukan ya..
    Tau isinya kyk gini, dulu pas ditawarin aku beli deh. :|

    BalasHapus
  8. Mari... mari... silakan dibaca bukunya. Ditanggung melankolis. ;)

    Beli sekarang juga gpp kok Nisa, malah udah didiskon bolak-balik di gm, kemarin sampe 40%.

    BalasHapus
  9. Ini salah satu buku yang pengen banget saya baca... udah tau penulisnya tapi buku yg satu ini malah sembunyi... hehehe

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget