Kamis, 19 Desember 2013

Trilogi Lion Boy



Judul: Lion Boy: Petualangan Dimulai
Judul Asli: Lion Boy
Seri: Lionboy Trilogy #1
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
ISBN: 978-979-22-2274-6
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: 2003
Judul Asli: Lion Boy: The Chase
Seri: Lionboy Trilogy #2
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2006)
ISBN: 978-979-22-2530-3
Jumlah Halaman: 288 halaman
Penerbitan Perdana: 2004
Judul Asli: Lion Boy: The Truth
Seri: Lionboy Trilogy #3
Pengarang: Zizou Corder
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)
ISBN: 978-979-22-2504-4
Jumlah Halaman: 256 halaman
Penerbitan Perdana: 2005


Kalau ditanya tentang genre YA Dystopia pasti sudah banyak sekali contohnya. Bisa saingan dengan genre Vampire bling-bling dan Werewolf Aauuuu... ;)  Tapi bagaimana dengan genre bacaan anak-anak dengan tema dystopia? Untuk itu, baru satu yang pernah kutemui, yaitu trilogi Lionboy ini. Dengan tokoh utamanya seorang bocah bernama Charlie Ashanti - yang keturunan Inggris/Afrika dan bisa berbicara bahasa ras kucing - kisahnya diusung bersetting masa depan, dimana polusi sudah mencapai taraf amat sangat parah hingga semua yang berbahan bakar minyak bumi dilarang dan sinar matahari jadi sumber energi bersih yang lebih umum. Kondisi dunia antara lebih baik dan lebih buruk. Sebagian teknologi berkembang lebih jauh, namun kondisi sosial dunia justru makin terbelah antara orang-orang yang mampu (yang tinggal di komunitas-komunitas terlindung) dan orang-orang miskin.


Lion Boy
Pada keadaan seperti itu, orang tua Charlie - keduanya ilmuwan - diculik karena sesuatu yang mereka teliti. Charlie yang diperingatkan oleh seekor kucing, mampu melarikan diri, dan kemudian berpetualang hingga ke sebuah kapal sirkus besar dalam usahanya mencari tahu ke mana kedua orang tuanya dilarikan. Di kapal sirkus ini ia kemudian bertemu dengan 6 ekor Singa dan pelatih mereka yang kejam. Charlie kemudian membuat kesepakatan dengan mereka, ia akan membantu mereka membebaskan diri dan kembali ke Afrika, dan mereka akan membantu Charlie menemukan dan membebaskan kedua orang tuanya. 

Pelarian
Membawa bukan saja 6 ekor Singa tapi juga seekor Smilodon yang diciptakan di Lab rahasia melintasi Eropa dalam gerbong Orient Express, Charlie cukup beruntung telah ditolong oleh Raja Boris dari Bulgaria. Tapi di buku 2 ini, Charlie kecil bukan saja harus belajar tentang pertemanan, tapi juga tentang pengkhianatan. Edward yang diserahi tugas oleh Raja Boris untuk membantunya selama di Venesia, malah berbalik dan punya rencana sendiri. Belum lagi ulah Raffi dan Massomo. Untunglah singa-singa dan kucing-kucing masih bisa diandalkan. Sementara itu, rahasia penelitian ayah ibu Charlie dan kaitannya dengan perusahaan farmasi, serta kucing, makin terkuak.

Kebenaran
Dibantu Claudio, si pengayuh gondola, akhirnya Charlie mampu mencapai pantai Afrika. Singa-singa pun berkumpul kembali dengan kawanannya dan Charlie dengan kedua orang tuanya. Tapi pihak korporasi farmasi tidak tinggal diam. Ganti Charlie yang diculik karena kemampuan berbicara bahasa ras kucingnya, dan juga agar kedua orang tuanya mau bekerja sama. Namun Charlie tidak sendirian, ia masih punya Sergei, kucing botak sok tahu, dan Ninu seekor bunglon yang mampu berbicara dengan bahasa apa saja.

***


Sebenarnya, dari keseluruhan cerita yg alurnya sangat enak dibaca, kelokan kisahnya yang cukup tak terduga, dialog yang cerdas dan ide petualangannya yang fresh, aku mengharapkan penyelesaian yang lebih berwarna dari trilogi ini. Sayangnya yang kudapatkan justru penyelesaian yang sangat disederhanakan.... Ending yang 'memaksa' Charlie menjadi sosok pahlawan tanpa tanding, bahkan tanpa perlu bantuan dari ayahnya, atau orang dewasa manapun. Oke, aku tahu ini kisah anak2, jadi tidak heran kalau anak-anak pula yg akan didaulat menjadi hero of the day. Tapi apa tidak keterlaluan membuat seorang bocah mampu melumpuhkan markas besar sebuah perush farmasi super jahat hanya dengan bantuan bunglon yg bisa berbicara bahasa komputer (whatever that is! *kuharap aku jg punya Ninu, jd ga usah pusing tiap hari nyuruh2 komputer yg ga mau nurut perintahku...* #eh)

Kalau saja peran Aneba - plus Claudio, Magdalen, Boris, Mabel, dll - diberi porsi yang sedikit lebih besar, rasanya jalan kisahnya akan berakhir jauh lebih masuk akal.


Sedangkan untuk isu-isu sosial yg diangkat dengan apik di trilogi ini, i.e. rasisme, pengrusakan ekosistem, global warming - termasuk tenggelamnya Venesia :) - serta tema distopia dan kejahatan konspirasi korporat farmasi yg 'luar biasa' untuk diangkat dalam ukuran dongeng anak, itu aku beri dua jempol penuh untuknya.



Selain itu, novel-novel ini juga dilengkapi dengan banyak peta, bagan, rancangan dan berbagai ilustrasi lain yang sangat menarik, yang digambar oleh Fred van Deelen. Komikal dan kekanak-kanakan, namun juga detail dan indah. Salah satu yang jadi favoritku adalah denah kapal Sirkus Circe di atas (di dalam buku, dilengkapi dengan berbagai keterangan, seperti lokasi kandang singa, dapur, kamar Mayor Tib, dlsb). Keren sekali.




https://www.goodreads.com/review/show/778968087
https://www.goodreads.com/review/show/790649808
https://www.goodreads.com/review/show/792277919

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget