Kamis, 27 Februari 2014

Jejak Langkah


Judul: Jejak Langkah
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Seri: Tetralogi Buru #3
Penerbit:  Lentera Dipantera (2007)
ISBN: 978-979-97-3125-8
Jumlah Halaman: 724 halaman
Penerbitan Perdana: 1985




Jejak Langkah ini merupakan buku ketiga dari empat buku Tetralogi Buru yang ditulis PAT dalam pengasingannya di Pulau Buru. Berbeda dari buku pertama dan kedua yang kurasakan terlalu mendayu-dayu nuansa romansanya, dalam buku ketiga ini, tokoh Minke berubah menjadi sosok yang tangguh dan berdedikasi terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa pribumi. Mencermati jejak langkah Minke dalam buku ini, aku jadi belajar banyak sekali detail-detail sejarah perjuangan bangsa Indonesia pra-kemerdekaan, fakta-fakta kecil namun bermakna dalam, yang luput (atau sengaja tidak pernah dimasukkan) dalam pelajaran sejarah selama sekolah.


Kisah diawali dengan kembalinya Minke dari Belanda untuk menekuni sekolah dokter STOVIA di Batavia. Berbekal benih rasa kebangsaan yang telah ditumbuhkan dalam hatinya saat di Eropa, Minke mulai melihat dengan jernih perbedaan-perbedaan perlakuan antara bangsa pribumi, bangsa asli negeri ini, dengan bangsa Eropa. Meskipun derajat Minke sebagai Raden Mas, seorang bangsawan tinggi putra Bupati, tetap saja kesenjangan itu tidak dapat dipungkiri.

Dalam perjalanan nasibnya, Minke kemudian tak menamatkan sekolahnya. Ia kemudian memilih jalan perjuangan dengan berorganisasi. Setelah gagal dengan Sjarikat Prijaji karena aspek penipuan finansial oleh salah satu pengurusnya sendiri, di kemudian hari Minke menjadi tokoh penting perjuangan dengan Sjarikat Dagang Islamijah yang menyatukan kaum pedagang. Bersebrangan dengan pendapat umum bahwa menjadi prijaji (dalam arti kata luas, menjadi pegawai negeri dan menerima gaji tiap bulan) adalah pekerjaan paling terhormat, Minke telah menyadari bahwa kekuatan suatu bangsa ada pada garis ekonomi dan perdagangannya. 
"Perdagangan adalah jiwa negeri, Tuan. Biar negeri tandus, kering kerontang seperti Arabia, kalau perdagangan berkembang subur, bangsanya bisa makmur juga. Biar negeri Tuan subur, kalau perdagangannya kembang kempis, semua ikut kembang kempis, bangsanya tetap miskin." (Sjeh Ahmad Badjened, hal 519)

Tampilan Medan Prijaji
edisi 2 April 1910
Meskipun berumur pendek, Sjarikat Prijaji meninggalkan satu hal yang sangat krusial, surat kabar Medan Prijaji yang menjadi wadah dan sarana pembelajaran sekaligus perlindungan orang-orang pribumi dalam menuntut kesetaraan nilai hidup dengan bangsa Eropa. Dengan mendatangkan seorang ahli hukum Belanda, Medan Prijaji menyediakan cara dan menunjukkan jalan bagi orang pribumi untuk tampil di depan hukum yang sama dengan orang Eropa. Medan Prijaji ini juga beranak pinak banyak sekali tabloid khusus, seperti terbitan jawatan kereta api dan terbitan khusus wanita. Surat kabar ini juga memiliki nilai sejarah tinggi, mengingat saat itu, koran ini adalah satu-satunya koran yang menggunakan bahasa melayu 'pasar' dan mampu menjadi koran dengan oplah tertinggi, mengalahkan koran berbahasa Belanda ataupun Tionghoa.

Hal lain yang sangat kusukai dalam novel Jejak Langkah ini adalah bahwa PAT memberikan porsi sangat besar untuk menunjukkan karakter-karakter wanita hebat yang mengiringi langkah Minke. Selain Nyai Ontasaroh yang merupakan wanita mengagumkan dengan jiwa pedagang yang sukses yang telah pembaca kenal dari dua buku sebelumnya, ada dua wanita lain yang menjadi istri Minke di buku ini. Yang pertama Ang San Mei, pejuang wanita dari Shanghai yang terdampar di Batavia. Dorongannya kepada Minke-lah yang kemudian memantapkan kemauan dan langkah pertama Minke untuk membentuk organisasi modern berbadan hukum dan menghimpun massa. Sayang nasibnya buruk dan hidupnya terkalahkan oleh malaria. Sedangankan istri Minke yang ketiga adalah seorang wanita cerdas dan gahar dari Kasiruta (aku sempat mengira-ngira, di manakah Kasiruta itu... ternyata, hasil meng-googling, baru aku tahu bahwa Kasiruta adalah sebuah pulau kecil di dekat P. Halmahera, Maluku Utara). Wanita ini mampu memimpin kelangsungan hidup penerbitan sebuah tabloid wanita sementara mendampingi suaminya menghadapi bahayanya perjuangan kemerdekaan. Sangar tenan! :)

Novel ini diakhiri dengan nada tragis yang merupakan cerminan kisah pengarangnya. Minke akhirnya dinilai sebagai seorang tokoh yang terlalu berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda, dan harus diasingkan ke pulau seberang. Kalimat terakhir novel ini adalah
"Tak aku sadari kakiku tak berselop." (Minke, hal 724)
Pendek dan sederhana, namun terasa sangat miris dan ironis, karena ketiadaan alas kaki itu sebenarnya pengejawantahan belum tercapainya persamaan derajat bangsa Pribumi dan Eropa. 


* * *


Jika membaca buku pertama dan keduanya, mungkin tokoh Minke yang diangkat di situ belum terlalu jelas siapa. Tapi dalam buku ketiga seri ini, sangat mudah melihat persamaan Minke dengan Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918).

RM Tirto Adhi Soerjo
Beliau inilah perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia sekaligus pahlawan nasional dan telah diakui sebagai Bapak Pers Nasional. Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Selain menggali kehidupan Tirto Adhi Soerjo, banyak juga tokoh-tokoh pergerakan nasional yang disinggung dalam cerita novel ini, dengan menggunakan nama asli maupun alias. Katakanlah tentang seorang gadis Jepara yang surat-suratnya diterbitkan di Eropa, menguak pemikiran-pemikirannya tentang keinginan kesetaraan derajat wanita untuk memperoleh pendidikan. Siapa wanita ini, pasti semua telah dapat menebaknya.

Lalu masih ada seorang dokter jawa tua yang memberikan kuliah tentang nilai kebangsaan dan organisasi di Stovia, tidaklah lain dari Dr. Wahidin Soediro Hoesodo. Raden Tomo yang mendirikan organisasi Boedi Oetomo pastilah Dr. Soetomo, dan tokoh yang disebut-sebut sebagai Douwager tidak bukan adalah Edward Douwes Dekker sedangkan pamannya yang sesekali disebut Minke adalah Douwes Dekker alias Multatuli, penulis romans Max Havelaar. Tokoh Hadji Moeloek yang menulis kisah bersambung Hikajat Siti Aini di koran Medan, dapat ditelusuri kembali kepada Hadji Moekti yang karya aslinya berjudul Hikajat Siti Mariah. Tokoh Marko yang menjadi salah satu kepercayaan Minke juga adalah tokoh nyata yaitu Mas Marco Kartodikromo, pentolan Sjarikat Islam Semarang garis keras yang kelak beraliran merah. Baru-baru ini, sebuah karya novel Mas Marco, Student Hidjo dibedah dalam Festival Sastra Solo 2014.

Dalam membaca buku ini, aku juga banyak mendapat pandangan sejarah dari sudut pandang yang berbeda, bukan melulu hafalan fakta yang diingat untuk dituliskan dalam ulangan sejarah di sekolah. Misalnya di bagian awal buku, ada bagian yang memperdebatkan Politik Ethiek/Politik Balas Budi yang dicetuskan Ratu Wilhelmina dan Van Deventer. Di sini dapat dilihat berbagai pandangan, baik oleh orang Belanda sendiri maupun orang asing (dan Minke mewakili kaum Pribumi) dalam menyikapi masalah ini, dan bagaimana hal ini disalahgunakan oleh para pelakunya, dari Gubernur Jendral hingga para tuan tanah Belanda. Ada bagian-bagian di mana pembaca diajak sama-sama belajar bersama Minke tentang pentingnya rasa kebangsaan dan persatuan sebagai bangsa Pribumi, melawan politik Devide et Impera yang dilancarkan VOC. Juga tentang pertentangan antar kelompok-kelompok dan suku-suku bangsa yang ada di wilayah Hindia Belanda, dari mulai masalah adat hingga bahasa. Boedi Oetomo lahir di tahun 1908 dalam budaya Jawa, hanya Jawa. Dari situ masih begitu panjang jalan untuk sampai ke Soempah Pemoeda di tahun 1928. Lalu ada pula penggambaran suasana kongres kedua BO yang ternyata ricuh hingga ke akar-akarnya (sudah pasti ini tidak pernah tertulis di buku pelajaran sejarah manapun!) Pemilihan ketua-ketua BO ternyata tidak kalah rumit dengan suasana pemilihan ketua umum partai di jaman modern ini. :)

Semua hal itu dituliskan oleh sang maestro Pramoedya Ananta Toer dengan mengalir, sangat enak dinikmati. Sebuah suguhan yang sangat bergizi, karena selain terhibur dengan romansa hidup seorang Minke, sentilan-sentilan kritis tentang nasionalisme dan kebangsaan, yang bahkan hingga saat sekarang ini, masih terasa pas untuk direnungkan dan dihayati. 
"Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya." (Minke, 202)








Posting ini dipublikasikan dalam rangka mengikuti event Baca dan Posting Bareng BBI
Bulan: Februari 2014 - Tema buku: Hisfic Indonesia



7 komentar:

  1. Aku juga suka tulisan Pram, Tetralogi Buru jadi bacaan nazar setelah lulus skripsi, hehehehe... :D

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-the-jacatra-secret/

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh... bagus banget kok buku ini :)

      Hapus
  2. hyway aku belum bisa baca buku pram T^T

    BalasHapus
  3. Aku menunggu pameran buku yang jual Tetralogi Buru minimal 30% lagi :'|

    BalasHapus
  4. duh dulu baca seri ini ga urut, yg ada jd bingung. sekarang mau mulai dr awal tp belum termotivasi, hihi

    BalasHapus
  5. aku mau baca buku pram takut-takut, penasaran tapi ..sanggupkah aku? *halah

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget