Jumat, 02 Mei 2014

The Moon that Embraces the Sun



Judul: The Moon that Embraces the Sun #1 / The Moon that Embraces the Sun #2
Judul Asli: 해를 품은 달 #1 / 해를 품은 달 #2 (Haereul Poomeun Dal #1 / #2)
Pengarang: 정은궐 (Jung Eun-gwol)
Penerbit: Qanita - Mizan Grup (2012)
ISBN: 978-602-92-2562-4 / 978-602-92-2563-1
Jumlah Halaman: 488 halaman / 488 halaman
Penerbitan Perdana: 2005


Also read my review on the Drama Adaptation from MBC.


Bulan benderang melayang di atas laut,
menerangi hingga ke ujung langit.
Menyesali sepasang kekasih yang terpisah malam ini.
Sepanjang malam saling terbayang.
Di ruang tanpa lilin, cahaya bulan kesepian.
Keluar menyingsing baju, lalu basah oleh embun.
Tak mampu mengambilkan cahaya bulan benderang itu untuk kekasih,
Karenanya bersumpah untuk kembali bertemu dengan kekasih di alam mimpi.
(#1 h.102)



Kisah dibuka dengan adegan dua orang pria yang sedang mencari tempat berteduh di tengan hujan gerimis, lalu melihat sebuah rumah mungil di tengah hutan yang jarang dilewati penduduk. Sang pengawal awalnya ragu-ragu untuk mengijinkan Tuannya masuk ke rumah itu, tapi mendadak dari dalam rumah terdengar undangan sang Nona rumah yang disampaikan oleh pelayannya. Maka masuklah kedua pria ini. Di dalam rumah, sang Nona rumah muncul di balik tirai, dan memberikan sembah empat kali, yang berarti ia menghormati Sang Raja, hal yang sangat mengejutkan dan membuat kewaspadaan si Pengawal naik sampai ke ujung pedangnya. Mereka berdua sedang dalam penyamaran, dan tak mungkin seorang gadis di daerah terpencil ini bisa tahu jatidiri mereka sebenarnya. Tapi sang Nona rumah bukan gadis biasa. Ia sangat terdidik dan luas wawasannya. Santun dan kalem, cantik bak peri. Tubuhnya menguarkan wangi anggrek yang samar-samar mengingatkan Sang Raja pada sekeping masa lalu. Terlebih lagi.... ia mengaku seorang cenayang tak bernama. Meski telah diperingatkan bahwa memberi nama bisa mengikat takdir, Raja tetap keukeuh pada kemauannya, ia memberi nama gadis itu Wol yang berarti Bulan.


Kembali di Istana, Raja Lee Hwon tetap tak bisa melupakan pertemuan singkatnya di hutan itu. Ia mengirim pengawalnya, Jae Woon sang awan, kembali ke rumah itu, namun ia hanya menemukan rumah kosong tanpa petunjuk apapun. Wol lenyap bagai gerimis yang dihembus angin. Raja Hwon sendiri bukan tanpa masalah di istananya. Meskipun seorang Raja yang sudah diangkat selama lima tahun, namun faktanya, nenek sang raja, Ibu Suri Yoon dan Perdana Menterinyalah yang berkuasa menjalankan pemerintahan. Dan saat kekuasaan Sang Raja perlahan-lahan mulai menguat, Ibu Suri Yoon mulai blingsatan agar Raja dan Permaisurinya segera mempunyai keturunan sehingga ia bisa menyingkirkan Raja bila diperlukan, dan mendapatkan boneka yang baru.

Raja sendiri memang enggan berhubungan dengan permaisurinya. Ia sebenarnya pernah punya pilihan sendiri, putri bangsawan Heo yang bernama Yeon Woo. Namun delapan tahun yang lalu, Hwon masih menjadi Putra Mahkota, hanya dua minggu setelah Yeon Woo terpilih sebagai Putri Mahkota, calon istri sang Putra Mahkota, gadis muda ini sakit misterius dan akhirnya meninggal. Meninggalkan sang Hwon patah hati. Parahnya lagi, sang Raja tiba-tiba menghentikan penyelidikan kasus ini dan menutupnya rapat-rapat.

"Wajah awan yang menutupi bulan tampak sangat indah." (#1 h.255)

Tanpa diduga, takdir benar-benar mengikat Hwon dan Wol. Wol dipanggil ke istana sebagai cenayang untuk menyerap bencana dan penyakit Raja. Woon sang pengawal yang terkejut setengah mati melihat Wol, namun akhirnya memenuhi permintaan Wol agar merahasiakan hal ini dari sang Raja. Tapi takdir tak sudi dihentikan. Meski tak pernah bertemu langsung, Hwon merasa menemui Wol dalam mimpinya. Ia juga teringat akan kejadian-kejadian delapan tahun yang lalu, hingga memerintahkan bawahan-bawahan terpercayanya untuk menyelidiki secara diam-diam.

Keadaan semakin runyam saat akhirnya Raja akhirnya bertemu Wol dan tak mau melepaskannya lagi. Di saat yang sama, Woon yang menjadi semakin dekat pada sosok Wol, menghadapi cobaan hati yang sangat perih. Kesetiaannya pada sang Raja mengharuskannya memendam dalam-dalam perasaan hatinya.

"... yang seharusnya berada di dalam awan memang bukan bulan, melainkan hujan. Namun, awan yang ini tidak dapat memiliki hujan..." (#2 h.371)

Sementara itu, penyelidikan-penyelidikan kematian sang Putri Mahkota terpilih bukannya makin terang, malah sebaliknya semakin memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Siapa sebenarnya pembunuh  yang dilindungi sang Raja waktu itu. Atau ada pertanyaan paling mendasar lain yang perlu dipertanyakan, benarkah Heo Yeon Woo benar-benar telah meninggal dunia?

Intrik istana juga makin genting saat Perdana Menteri kemudian mendekati Pangeran Yang Myung, kakak raja yang beribu seorang selir, dan keduanya kemudian merencanakan untuk menggulingkan Raja dari tahtanya.


* * *


Whoaa.... dua tahun setelah menonton k-dramanya, baru sekarang sempat baca novelnya ini #haish #telatbanget. Seperti yang kuduga, kalimat-kalimat dalam novelnya bikin terharu dan semangat mendayu-dayu. Alurnya sedikit beda dengan k-dramanya, detail-detail kecil yang bikin rasa jadi beda.


Pertama-tama, di novelnya ini, Hwon dan Yeon Woo kecil tidak pernah bertemu muka. Jadi pertemuan mereka di rumah di tengah hutan itu adalah untuk pertama kalinya Hwon melihat wajah Wol/Yeon Woo. Namun yah, begitulah nasib, memang sudah jodoh... jadinya ya langsung connect. Tapi mungkin aneh jika hal ini diterapkan dalam adaptasi visualnya, sehingga jadilah adegan Hwon menarik-narik tangan Yeon Woo untuk bersembunyi di bawah jembatan itu.


Lalu peran Kim Jae Woon, sang awan pelindung, di novel jauh lebih besar dan karakterisasinya lebih lengkap. Selain menjaga keselamatan Hwon dan melakukan tugas-tugas rahasia Raja, Woon juga sibuk menjaga perasaan Wol, meski mempertaruhkan hatinya sendiri... #haish #bahasanya #ketularannovelnya :) Mungkin aku yang kurang memperhatikan atau mungkin penulis naskah dramanya menghendaki demikian, saat menonton, aku sama sekali tidak mendapatkan feeling bahwa Woon juga sangat mencintai Wol. Di drama, tampaknya Pak Sutradara lebih menyukai mengeksplorasi peran Pangeran Yang Myung sebagai Matahari kedua, sekaligus saingan Hwon terhadap cinta Yeon Woo. Sedangkan di novelnya, Pangeran Yang Myung hanya mendapat porsi cerita sedikit di awal dan sedikit di akhir kisah.

Bicara tentang Woon, aku suka sekali versi novelnya yang menjabarkan dengan indah hubungan benci-sayang antara Woon dengan ibu tirinya itu. Semua prasangka buruk dan harapan mulia dari kedua pihak dituliskan dengan sangat gamblang, bikin hatiku diam-diam ikut mengiba-iba pada keduanya. Satu hal yang sangat kurang tereksplorasi dalam serial televisinya. Satu-satunya adegan yang kuingat di dramanya, adalah saat Woon bersujud hormat pada sang Ibu di halaman rumah, tapi hanya dilirik sinis dan si Ibu lalu membanting jendela. Padahal setelah itu tampak hubungan Woon dan ibunya itu baik-baik saja. Bingung juga waktu itu. Plus peran Nyonya Park, ibu tiri Woon ini, juga sangat minim di versi drama. Padahal aku suka dengan ide penulisnya tentang wanita cerdik dan panjang akal, penyelidik tangguh yang mempertaruhkan nyawa keluar masuk Istana Ibu Suri demi mendapatkan keterangan. Pantas saja ia juga yang terpilih oleh Raja lama untuk menyimpan seluruh kebenaran akan peristiwa tragis delapan tahun sebelumnya itu.


Jadi, kesimpulannya, secara alur, aku lebih suka kdramanya. Disusun secara lebih kronologikal yang memudahkan penyampaian cerita dibandingkan novelnya yang lebih beralur maju-mundur. Di samping itu, dramanya lebih memasukkan unsur-unsur "action silat", lebih jabar dalam intrik istana dan beberapa detail kejadian di novel diatur ulang, sehingga lebih bikin deg-degan dan kecanduan. Ada pula beberapa kejadian juga dikurangi dan ditambahkan, seperti kejadian Wol dibuang ke rumah sakit orang miskin yang tidak kutemui di novelnya.

Secara karakterisasi tokoh-tokohnya, novelnya jauh lebih detail dan indah. Ditambah lagi dengan penggunaan bahasanya yang bersayap dan mengandung arti-arti ganda, halus dan puitis, ditingkahi lirikan lembut yang mengandung seribu makna #jyaaahh pokoknya romantismenya bikin hati meleleh berkali-kali lah... ;)

Di novel, Hwon lebih bersifat romantis, sedangkan dramanya lebih mengangkat kecerdikan Sang Raja dalam menghadapai intrik-intrik perebutan kekuasaan di Istana.

Di drama, aku mengagumi karakter Woon yang dingin, cerdas, setia dan sangat hati-hati. Di novel, aku sepenuhnya terpikat pada kesunyian hati si Awan ini.

Dari novelnya pula aku juga lebih dapat melihat kaitan arti antar nama-nama tokohnya. Hwon berarti matahari. Wol artinya bulan, sedangkan Woon adalah awan pelindung. Yeon Woo bermakna hujan gerimis. Sedangkan Yang Myung adalah sinar mentari, sama hangatnya namun takkan pernah bisa jadi matahari yang sebenarnya. Lalu ada pula Seol yang berarti butiran salju, yang nasibnya menuliskan takdir yang tidak mungkin bersatu dengan Heo Yeom, yang namanya berarti kembang api. Sekali lagi metafora-metafora puitisnya membuatku enggan meletakkan kedua buku ini sebelum tuntas.


* * *


Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesia-nya ini, kalimatnya mengalir indah. Cukup mengakomodasi kalimat-kalimat puitis dari bahasa aslinya. Typo ada satu-dua di buku keduanya, namun tidak sampai mengganggu. Covernya, aku suka sekali. Keduanya dapat berdiri sendiri-sendiri, buku pertama melambangkan Matahari berwarna orange keemasan yang hangat sedangkan buku kedua membawa ilustrasi Bulan dengan dominasi warna biru perak yang dingin (dan di kedua buku ada gambar Awan, meskipun samar). Raja dan Permaisuri. Yang dan Yin. Hwon dan Wol. Namun kedua gambar ini juga tampak sangat indah bila disatukan seperti di atas. Gambar pohon bunga-nya yang menjadi lengkap dan tampak bersemi, tidak lagi kesepian seperti jika dilihat di masing-masing buku.





https://www.goodreads.com/review/show/396744598

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget