Senin, 11 Agustus 2014

9 dari Nadira


Judul: 9 dari Nadira
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2009)
ISBN: 978-979-91-0209-6
Jumlah Halaman: 270 halaman
Penerbitan Perdana: 2009
Literary awards: Khatulistiwa Literary Award Nominee for Fiksi - shortlist (2010), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2011)



Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus - yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari diri - sungguh mengejutkan.
Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak ("Melukis Langit"); seorang wartawan ("Tasbih"); seorang kekasih ("Ciuman Terpanjang"); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke dunia yang baru, dunia seksualitas yang tak pernah disentuhnya ("Kirana").


Ini kali kedua aku membaca karya Leila S. Chudori, setelah Pulang, dan menurutku, si ibu pengarang sedikit "curang" dalam mengisahkan cerita si Nadira. Ini novel utuh sekaligus kumpulan cerita pendek. Ini kisah kompleks seorang Nadira, dari bocah hingga menjadi seorang ibu, diceritakan lewat potongan-potongan cerpen. Meskipun tiap cerpennya dapat berdiri sendiri - dan kumpulan cerpen ini disusun tanpa pola kronologis atau pola lainnya - namun layaknya menyusun gambar puzzle, sosok utuh Nadira baru dapat terpampang lengkap setelah sembilan kisah dilewatkan. Nadira yang rapuh sekaligus tegar. Mengagumkan sekaligus melangutkan. Sebuah perjalanan mengungkap Nadira yang unik dan memikat untuk diikuti.




Kisahnya dibuka cukup dramatis dengan kematian tragis seorang wanita setengah baya. Dari sini kita dikenalkan pada Nadira dan kedua kakaknya, Yu Nina dan Kang Arya, serta seorang laki-laki atasan Nadira, bernama Tara. Kemudian perlahan-lahan latar belakang Nadira terkuak. Ia dibesarkan dalam keluarga yang cukup kasih sayang, meskipun hubungannya dengan Yu Nina tidak pernah sangat dekat. Ayah-Ibunya berpendidikan tinggi dan kakeknya cukup ketat mengawasi pendidikan agama ketiga cucunya. Ayah Nadira kemudian terungkap wartawan yang idealis pada jamannya, cukup keras hingga terlempar dari kursi redaksional ke bagian iklan. Saat ibunya telah pergi, Yu Nina memilih meninggalkan semuanya dan lari ke luar negeri, Kang Arya mengubur diri di hutan Kalimantan, tertinggalah Nadira bersama Ayahnya yang bisa dibilang punya sedikit kecenderungan post power syndrom. Nadira pun kemudian melarikan diri dalam pekerjaan wartawannya, dan memilih tinggal di kolong meja kerja. Sebuah kondisi yang bahkan Tara yang sangat mencintai Nadira, tak mampu mengulurkan tangan untuk menolongnya. Kondisi statis ini bertahan hingga datang seorang Niko. Niko yang tampan, kaya, memikat dan sedikit berbahaya. Dunia pun jadi indah untuk Nadira, apalagi ditambah kehadiran seorang anak di pangkuannya. Tapi ternyata, Niko juga tak seindah surga. Kembali Nadira terombang-ambing dalam kehidupannya.

Ending kisah ini sungguh bikin nyesek, linu sampai ke tulang.
Bukan salah Utara Bayu.
Bukan salah Nadira.
Kadang memang hidup (dan cinta) datang gak pernah tepat waktu ya... #eaaaa


Dari kesembilan cerpen yang ada, favoritku malah bukan yang dari pov Nadira maupun Tara. Favku adalah Sebilah Pisau, sebuah cerpen dengan banyak ilustrasi kasar, yang diceritakan dari pov seorang rekan kerja gak penting bernama Kris. Tak biasa dan terasa menyegarkan di antara lautan emosi Nadira.



* * *


Untuk cetakannya sangat bagus, kertasnya pun berkualitas. KPG gitu lo. Di tiap awal bab/cerpen selalu dilengkapi kertas tebal putih yang berilustrasikan sketsa berwarna dari Ario Anindito. Untuk ilustrasi-ilustrasi ini, favku adalah yang pembuka untuk cerpen At Pedder Bay. Kesan kesepian Nadira tergambarkan sangat cantik di situ. Sedangkan yang menjadi cover buku ini adalah sekaligus ilustrasi pembuka untuk cerpen Kirana. Nadira sebagai Candra Kirana yang bersedih dan terus mencari Panji Semirang-nya. Ah.....


1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget