Selasa, 12 Agustus 2014

Kancing yang Terlepas


Judul: Kancing yang Terlepas
Pengarang: Handry TM
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 978-602-03-0101-3
Jumlah Halaman: 456 halaman
Penerbitan Perdana: 2011




Cinta Giok Hong terhadap Tek Siang hampir tulus, ketika prahara besar melanda Gang Pinggir. Di masa sulit menjelang kehancuran Orde Lama, keduanya terpaksa berpisah. Primadona Orkes Cina Tjahaja Timoer itu terjebak dalam pusaran intrik para tauke rakus. Ia diumpankan Tek Siang kepada lawan-lawannya, sekaligus dicintai sebagai kekasih simpanan.
Kelak, Giok Hong memaksa berontak terhadap takdirnya. Perlawanannya diwujudkan dalam penyamaran rahasia. Diduga, Boenga Lily adalah penjelmaan dari Giok Hong yang mencoba merebut kembali kegemilangannya. Sayang, sebuah kekuatan besar berusaha melenyapkannya.
Novel ini bercerita tentang perempuan, politik, dan kekuasaan. Masih tentang Indonesia, meski dari sisi pandang berbeda.

Sebuah buku dengan setting teramat unik, bercerita tentang kawasan Gang Pinggir di sekitar tahun 1960-an dan dengan tokoh utama yang juga tidak biasa, seorang wanita yang terlibas kekacauan ekonomi dan politik di sekitar waktu peralihan antara orde lama dan orde baru. Sayangnya aku merasa penceritaannya tidak terlalu runut dan mulus. Ada jeda-jeda konflik yang membuat keseluruhan alur buku malah menjadi tidak utuh, misalnya periode antara hilangnya Giok Hong dan munculnya Boenga Lily terasa sangat kosong tanpa penjelasan. Mungkin maunya ini jadi misteri cerita, tapi kesannya malah hilang arah.



Untuk karakterisasinya, sejujurnya, aku tidak tahu pasti siapa tokoh utama novel ini sejak pertengahan kisah, saat Boenga Lily muncul. Jika ia memang benar penjelmaan tokoh Giok Hong yang telah setahun menghilang tanpa penjelasan, maka aku benar-benar kehabisan simpati padanya. Kisah ini mengubah sosok Giok Hong yang manis dan rapuh menjadi antihero yang menjengkelkan dan tanpa kesetiaan dan rasa hormat sedikitpun. Demikian pula tak jelas apa niat dan tujuannya muncul kembali di wilayah Gang Pinggir ini. Tindakannya membuat huru-hara di keluarga Tan Kong Gie, merendahkan Ing Wen (yang notabene dulu ada pelindung dan serupa ibu baginya - bagi Giok Hong) dan kemudian membingungkan Tek Siang sekaligus mampu mengadu domba Kong Gie dan Tek Siang. Untuk konflik politiknya, juga atas sangat sedikit terasa. Apa benar Boenga Lily ini antek pemerintah asing untuk membuat kekacauan di wilayah pecinan? Tidak jelas. Sekali lagi, aku merasa kunci konflik ini ada pada masa menghilangnya Giok Hong, tapi sampai akhir, tidak ada penjelasan yang memadai akan hal ini. Mungkin akan lebih pas jika cerita ini dikisahkan sepenuhnya dari pov sang primadona, sehingga pembaca dapat ikut melihat dan merasakan apa yang telah mengubah Giok Hong menjadi Boenga Lily dan apa motivasi sebenarnya ia kembali ke Gang Pinggir.

Meskipun demikian, setting dan nuansa Gang Pinggir jaman itu ditampilkan bagus sekali. Itu, dan ditambah ending yang meledak tak disangka-sangka di 4-5 bab terakhir, membuatku cukup menikmati novel ini.



* * *


Untuk cetakannya bagus dan tanpa typo. Judulnya sedikit aneh, meskipun saat membaca, yang kutangkap ini adalah perumpamaan tentang seseorang yang kehilangan akar keluarganya. Ilustrasi covernya, aku suka. Menggambarkan wajah seorang wanita yang memakai busana (topi) tradisional dengan sekuntum bunga Lili di depannya dengan warna-warna hijau dan salem yang mendominasi. Cantik sekali.


* * *



Pintu masuk kawasan Pecinan Semarang.
Picture Source: here
Notes:

Untuk yang belum tahu, wilayah Gang Pinggir - bersama Gang Lombok, Gang Warung, Gang Baru, Gang Gambiran dan Jalan Beteng - ini adalah nama kawasan pecinan di kota Semarang yang bahkan sampai sekarang pun masih teguh memegang tradisi dan cukup tenar sebagai kawasan wisata, makan dan kesehatan. 

Selain terdapat 9 buah Klenteng yang masih aktif digunakan untuk tempat beribadat (tapi tetap selalu buka untuk dikunjungi sebagai tempat wisata), di hari-hari tertentu di sepanjang jalan Gang Warung juga dibuka untuk wisata kuliner bertajuk Pasar Semawis. 
Yuuk... jalan-jalan ke Semarang.... :)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget