Jumat, 13 Februari 2015

Inheritance - Inheritance Cycle #4


Judul: Inheritance: Warisan
Judul Asli: Inheritance
Seri: Inheritance Cycle #4
Pengarang: Christopher Paolini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 978-979-22-8499-7
Jumlah Halaman: 920 halaman
Penerbitan Perdana: 2011



Sinopsis:
Semua berawal dengan Eragon...
Dan berakhir dengan Warisan.

Beberapa waktu lalu, Eragon––Shadeslayer, Penunggang Naga––bukanlah siapa-siapa, hanya bocah petani miskin. Naganya, Saphira, cuma batu biru di hutan. Sekarang, nasib seluruh umat manusia berada di tangan mereka.

Latihan dan pertempuran selama berbulan-bulan yang panjang membawa kemenangan dan harapan, tapi juga duka mencekam. Namun, pertempuran yang sesungguhnya belumlah terjadi: mereka harus berhadapan dengan Galbatorix. Mereka mesti cukup kuat untuk mengalahkannya. Dan kalau mereka tidak mampu, berarti yang lain tidak punya peluang.

Tidak ada yang menyangka sang Penunggang dan naganya akan mampu sampai sejauh ini. Tetapi, sanggupkah mereka menggulingkan si raja jahat dan mengembalikan keadilan ke Alagaësia? Dan kalaupun sanggup, seberapa besarkah pengorbanan yang harus dilakukan?

Spoiler Alert! 
Can't ranting about this book without spilling some spoiler... sorry....


Ok, reaksi pertamaku saat menghabiskan novel ganjel pintu ini adalah, "ARE YOU F***ING KIDDING ME?!!?" Endingnya seriusssss gitu aja?? Setelah semuanya yang terjadi, syusyah-syusyah berjuang sampe ampir mati 3 kali, and he don't even get the girl? NOT EVEN GET A CHEEK KISS?

Whuakakaka.... Eragon.... cakitnya tuh di ciniiiiii.... *nunjuk tangan yang pegel megang buku naga ijo yang beratnya 2 kilo tiap hari selama 3 minggu*




Lebih sakitnya lagi, aku merasa bahwa ending yang seperti itu, alasan-alasan kenapa mereka memilih untuk tidak bersama, keputusan Eragon dan Arya untuk memilih jalan mereka masing-masing, kedua-duanya sama-sama masuk akal. Mereka berdua terikat pada tanggung jawab lebih besar yang tak mungkin ditampik saat itu. Kalau saja Arya bisa bersikap sedikit lebih pengecut, melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai putri kaum Alfakyn. Jika saja Eragon mau sedikit lebih egois dan mengelakkan kepeduliannya pada kaum Naga. Tapi mereka memilih melakukan hal yang benar daripada hal yang mudah. Dan itu membuatku tambah-tambah-tambah mengagumi keberanian mereka sekaligus menyesali takdir mereka.


Ahhh, sudahlah. Daripada membahas kisah kasih tak sampai #uhuk #noValentine #akurapopo mari kita membahas karakter-karakter lain dalam novel ini. Seperti Murtagh misalnya. Si penjahat kejam pembunuh Oromis dan Glaedr. Aku sudah menduga-duga kalau saja Murtagh bisa kembali ke jalan yang benar, pasti itu berkat bantuan Nasuada. *betewe, itu kisah kasih tak sampai lain dalam novel ini. Nasuada-Murtagh. Ya ampun Chris P. betapa kejamnya dikau, semua Ratu di cerita ini kau buat jomblo merana. Kenapa Chris, katakan kenapaaaaa?? #deramahalasinetron #abaikan*

Ehm, sampai di mana tadi.... oh, iya.... Nasuada. Dan Murtagh. Mengingat mereka cukup 'dekat' di buku pertama dulu, dan karena  aku -dengan sisa-sisa keyakinanku- masih sangat percaya bahwa Murtagh sebenarnya baik dan ia melakukan semua hal-hal buruk di buku #3 pasti gara-gara dipaksa Galbatorix. Makanya aku cukup terkejut juga saat di tengah-tengah perang, tiba-tiba ada twist tak terduka #NasuadaDiculikGalby. Tapi ternyata kelokan ini perlu agar -selain membelokkan arah terbang Saphira ke Vroengard- juga untuk membuka tabir rahasia pahit Murtagh dan kisah awal perikatannya dengan Thorn. Satu hal yang kusukai di sini adalah, walau secara fisik, tampaknya Murtagh yang diam-diam selalu membantu Nasuada dari siksaan Galbatorix, tapi dalam caranya sendiri, sebenarnya adalah Nasuada yang membebaskan Murtagh dari cengkraman sihir nama sejatinya dari Sang Raja. Great plot story here! Sayang, akhir kisah mereka - seperti yang kuomelkan tadi- juga tidak bahagia.

Rasanya, satu-satunya tokoh yang berhasil selamat dengan sehat sentausa, bahagia tak kurang suatu apa, ya cuma Roran saja. Diangkat jadi bangsawan penguasa Carvahal, punya istri cantik, punya anak sehat, kontras sekali dengan tokoh yang lain. Tapi bukannya tanpa sebab sih. Sepanjang kisah, Roran ini tokoh yang kemunculannya paling natural. Sebagai manusia biasa, tanpa sihir tanpa kekuasaan, dia cuma mengandalkan kekuatannya sendiri (ada perisai sihir dari Eragon juga sih), tekad baja, dan juga kecerdikan otaknya. Strategi perang dan ketenangannya dalam menundukkan benteng kota Arough serta gerbang Urubaen memang layak dapat ganjaran setimpal. Demikian pula kerelaannya menerima dendam kemarahan Brigid di akhir kisah, yang bikin aku cukup terharu.

Karakter lain yang juga sangat menarik, seperti Elva, malah sangat kurang terekspos. Masih untung, tokoh cilik ini masih dibahas di bagian epilognya, dan aku senang dia memilih untuk tidak membuang berkat/kutukannya. Sedangkan latar belakang tokoh lain seperti Angela tampaknya memang sengaja diabaikan. Sosok ini memang dibuat agar terbalut misteri, asal-usulnya, kemampuannya, rahasia-rahasianya, kemunculan-kemunculannya. Awalnya memang seru sih, bikin penasaran menebak-nebak sang ahli obat, tapi karena sama sekali tanpa penjelasan, tokoh ini jadi serupa Devine Intervension, dimunculkan di mana-mana saja saat di rasa tokoh hero-nya perlu bantuan. Ada karena plot butuh 'sesuatu' untuk mencegah kebuntuan cerita. Lama-lama, kesannya jadi terserah dikau sajalah. Nasuada butuh nasihat, ada Angela. Arya dan Eragon hampir mati tertawan musuh, tenang, ada Angela. Urgal butuh pembangkit cerita, serahkan pada Angela. Butuh bantuan werecat, hubungi Angela. Kayak ekstrak buah manggis saja, Angela ini sinonim dengan kabar gembira. #eh

Adegan lain yang kurasa amat sangat membosankan dan tanpa tujuan pasti adalah pertarungan Eragon-Murtagh. Aku sampai membaca bagian ini ((3 kali)) hanya untuk memastikan tidak ada detail cerita yang kulewatkan, dan hasilnya, ya memang gak ada apa-apa di sini. Adegan yang demikian dekat dengan klimaks cerita, bukan cuma buku ini, tapi  klimaks seluruh siklus Warisan yang berupa 4 buku bantal, malah terasa hambar dan terbuang percuma. Setelah mereka berdua bertarung -dan gak ada yang kalah maupun menang-, lalu Eragon masih harus bertarung lagi mengalahkan Galbatorix.  *Lah, daripada gini, mbok mending dijadikan ending kayak Star Wars sekalian, si Eragon Skywalker lawan Murtagh bin Vader bertarung-bertarung,  Eragon ditawarin join the dark side gak mau, disiksa-siksa oleh Emperor Galby, terus Murtagh-nya gak tega, terus Emperor Galby dikalahin mereka berdua. Pas too... Seru tooo.... ^^V  #plotAlternatif  #LaluDisambitEwok *

Dan lagi, jika Murtagh memang tahu Nama-dari-segala-Nama itu, kenapa dia tidak memakai itu untuk membatalkan sumpahnya kepada Galbatorix? Bukannya Nama-dari-segala-Nama bisa membatalkan semua sumpah, kutukan dan semua yang berbau sihir terhadap apapun dan siapapun? Kan itu #OneNametoRuleThemAll

Ohiya, sehabis adegan itu, adegan ngalahin Galbatorix-nya..... meeeeeeeh! Masih lebih seru adegan Saphira dan Thorn ngalahin Shruikan kemana-mana d.


Satu lagi plot hole yang mencolok mata sampai aku hampir gak percaya, adalah tentang urusan Eragon dengan pohon Manoa setelah dia diberi brightsteel untuk membuat pedangnya, Brisingr. Waktu itu, Linnea membuat Eragon berjanji ia akan melakukan apa saja yang diminta, saat ia diminta. Dulu setelah buku #3 nya terbit, ada berbagai macam dugaan tentang janji ini. Bahkan sampai ada polling yang isi prediksinya macam-macam, dari yang paling sederhana (mengembalikan Brisingr ke akar-akar Menoa) sampai yang paling absurd (Eragon hidup menyatu dengan Linnea dalam batang pohon Menoa). Nah di akhir kisah, kok terus semua ini dibiarkan begitu saja. Tiba-tiba saja si pohon Menoa bilang, janjinya diabaikan saja. LAAAAAAH??? *ambil kapak Gimli* *tebang pohon Menoa*

Memang sih ini sudah di halaman 900an, tapi emang gak bisa ya bikin sesuatu yang lebih halus dan detail tanpa harus menambah 200 halaman lagi.


Tapi, walau dengan semua ocehan itu, despite all the flaws and story holes, I really think I owe this book 4 stars, even a bit more. Sebuah bildungsroman yang amat sangat menarik, dari pemuda Eragon yang naif dan tidak menyadari kondisi dunianya, hingga menjadi Eragon Shadeslayer, Kingkiller, Shurtugal. Penunggang Naga paling dihormati dan dengan kekuatan sihir tak terbayangkan, yang mampu menolak godaan untuk berkuasa bahkan saat ditawarkan dengan baki perak di depan hidungnya. Ia bahkan juga menolak untuk tetap tinggal dan berkuasa secara de facto.

"Aku telah menjadi terlalu kuat. Selama ada aku di sini, otoritasmu - dan otoritas Arya, Orik dan Orrin - akan selalu diragukan. Kalau aku meminta mereka, sebagian besar orang di Surda, Teirm dan bahkan kerajaanmu sendiri akan mengikutiku. Dan dengan bantuan Eldunari, tidak ada yang bisa melawanku, bahkan Murtagh atau Arya."

...

"Kalau begitu aku yakin ada alasan yang tepat, dan aku yakin kami akan berterima kasih padamu."

"Apakah begitu? Tidak diragukan lagi aku akan menganggap alasanku sendiri benar, tapi itulah letak jebakannya, bukan? Keyakinan bahwa aku tahu yang lebih baik dan karena aku memiliki kekuatan, maka aku harus bertanggung jawab untuk bertindak.... Tapi kalau aku salah, siapa yang akan menghentikanku?"
(hal. 862)

*sigh*
I hate when you are right. 



* * *


Untuk edisi bahasa Indonesianya ini, terjemahannya enak dibaca dan kalimatnya mengalir lancar. Sayangnya cukup banyak typo yang kutemukan. Yang paling epic, tentu saja typo hal 366.
Pasukan tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dalam beberapa hari ke depan persediaan mereka akan habis dan para pejuang bakal desertasi.

#eh (disertasi? desersi?)
Uuhmmm... huakakaka... yah, alih-alih melarikan diri, para pejuang Varden ini tampaknya malah mungkin akan kuliah lagi....


https://www.goodreads.com/review/show/498624277

4 komentar:

  1. Huanjiiirrr memang om pao ini.......sampe naganya aja ga dikasih hepi ending!

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat mbak vinaaa.... anda akhirnya mengerti jeritan hatiku...
      ((JERITAN HATI)) wakakaka....

      eh kayaknya lebih cuocok 'dik' pao deh... sih cilik kok...

      Hapus
  2. Nunggu keluar buku limanya baru baca inheritance kalau plot ceritanya macem ni, daripada kepikiran. Rugi beli bukunya, kalau enggak mau kasih arya ke ane wae lah kalau eragon enggak demen. Hiks

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget