Selasa, 14 Juli 2015

Balada Ching-Ching


Judul: Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
Pengarang: Maggie Tiojakin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792258288
Jumlah Halaman: 186 halaman
Penerbitan Perdana: 2010
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2010)



Lihat sinopsis
Ching-Ching adalah seorang gadis keturunan. Ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah. Ayahnya seorang pedagang kwetiau pinggiran. Ini adalah baladanya, juga balada manusia lainnya.

Masing-masing kisah dalam koleksi fiksi pendek ini merupakan sebuah vignet tentang apa artinya menjadi manusia biasa---yang sakit, sedih, senang, hidup, mati, gila, waras. Lebih dari itu, dunia fiksi yang dipersembahkan dalam koleksi ini sungguh mewakili kegelisahan internal semua orang, di mana karakter-karakternya tumbuh dewasa lewat kegagalan dan kekeliruan, obsesi dan pilihan, harapan dan keputusasaan.

Buku keempat dalam 100 Hari Membaca Sastra Indonesia yang kubaca, adalah kumcer lawas Maggie Tiojakin. Setelah terabsurd-absurd membaca kumcernya yang lain, Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa, aku sedikit heran (heran yang bagus) karena kumcer ini sangat realistis dan membumi. Konflik-konflik yang diangkat adalah konflik "orang-orang biasa" yang terjadi bisa saja terjadi kapan saja di sekitar kita. Tigabelas cerita pendek yang cantik, bercita rasa global, dengan ending-ending terbuka untuk intepretasikan ke arah mana pun.

Sebagai pekerja medis, Malik sudah terbiasa menghadapi kematian, baik itu yang datang mendadak maupun secara gradual. Kerudung hitam yang dikenakan oleh malaikat maut mudah ia kenali dari jarak ribuan meter, tanda-tandanya pun jelas, namun sesekali ada saja mukjizat yang mengusir malaikat maut itu pergi sebelum ia datang menghampiri pasien yang sekarat.
Cerpen pertama di sini berjudul Anatomi Mukjizat. tentang seorang perawat yang mendampingi seorang gadis yang butuh mukjizat bernama jantung baru. Sebuah kisah tragis dalam dunia profesi si tokoh utama Malik, dan terjabar jelas bagaimana ini mempengaruhinya.

Yang paling aku sukai di sini adalah hanya dalam beberapa paragraf saja, kisah ini diberi nafas lebih dalam dan intim, saat mukjizat yang diharapkan, ternyata jauh-jauh lebih dekat dalam kehidupan pribadi Malik. Dan tentu saja, ending yang menggantung, sehingga aku berimajinasi dari harapan yang terbaik hingga kisah terburuk yang bisa kubayangkan.


Konflik-konflik personal dalam hubungan cinta dan rumah tangga diangkat dalam beberapa cerpen. Ada cerita sangat pendek Kawin Lari, dikisahkan dua orang muda mudi yang memutuskan untuk lari dari keluarga mereka dan menjalani hidup bersama karena si cewek sudah mengandung. Dalam percakapan singkat keduanya jelas sekali si cewek ketakutan menghadapi kehidupan masa depannya dan sadar akan sulit untuknya untuk kembali lagi. Dalam Suami-Istri, sepasang suami-istri lanjut usia baru saja merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-32. Tampak dari luar kehidupan pernikahan yang langgeng, namun ternyata di dalam, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan what-if yang diam-diam terpikirkan keduanya. Di Balik Sebuah Tatapan, kehidupan rumah tangga yang lebih rumit diangkat dengan baik. Jika sebuah perkawinan adalah sebuah kesalahan, apakah anak yang (akan) lahir juga hal yang salah? Lalu ada tema perselingkuhan diangkat dalam kisah Tawa Elisa. Tawa seorang wanita yang menjadi candu bagi seorang pria, meskipun ia punya keluarga yang menunggunya di rumah.


Cerpen yang diangkat jadi judul kumcer ini, Balada Ching-Ching, menyoal tentang seorang gadis remaja etnis minoritas yang di-bully di sekolahnya. Sebenarnya aku merasa cerpen ini biasa-biasa saja, justru tidak se-wah cerpen-cerpennya yang lain. Memang sih, tema yang diangkat mungkin lebih sensitif, dan endingnya melecutkan ketegaran si gadis, tapi karakterisasinya tidak sekompleks dan sebernas tokoh -tokoh utama yang lain.


Cerpen paling panjang di kumcer ini berjudul Dua Sisi. Lebih dari 50 halaman. Dibandingkan cerpen-cerpen lainnya yang latar dan persoalannya lebih lokal dan personal, Dua Sisi mengambil latar peristiwa 9/11. Kuat menceritakan hari tragis tersebut, sekaligus mengajak pembacanya melihat kejadian itu dari dua sudut pandang berbeda. Andira yang bisa dibilang "di luar sistem", mengutuk peristiwa itu dan mengutuk teror yang menimpa sekian ribu orang sipil. Sedangkan Aysha, gadis keturunan Libanon yang mengalami sendiri berbagai teror di tanah kelahirannya, menganggap apa yang terjadi adalah pembalasan setimpal.
Aku sering tertawa melihat orang jogging di sini. Karena di Beirut, orang berlari bukan untuk kesenangan ataupun kebugaran - orang berlari untuk menghidari kematian yang mengenaskan.
Dua sisi berbeda, ditampilkan tanpa berusaha saling menghakimi, bahkan ditingkahi dengan hubungan asmara Andira dan Aysha. Lalu..... ah endingnya...


Sedangkan cerpen favoritku di sini, aku suka karena gaya penceritaannya, adalah Sekali Seumur Hidup. Satu malam saat lampu mati, Edi naik ke atap untuk menikmati bintang. Lalu ia ditemani Vitta. Dari sini aku mulai meraba-raba apa sih maksud kisah ini. Hubungan cinta terlarang Edi-Vitta? Tampaknya bukan. Edi tampak lebih seperti seorang kakak. Masalah pelik yang dialami Vitta pun mengalir dan diterima dengan tenang olehnya. Lalu apa.... ehm, "siapa" tepatnya? Sampai pagi datang, tampaknya masalah ini tidak hendak dijawab oleh si empunya cerita. Tapi tidak... kemudian dalam sebuah kalimat, hanya sebuah kalimat, 4 kata, tersamar, singkat, padat, kisah pelecehan Vitta diceritakan. Ooooh... oh... hoooo.... oh tidak... kasihan sekali. Jadi teringat Tania di novel Remedy yang serupa nasibnya.

Satu hal lagi tentang kumcer ini, aku suka sekali dengan cover buku ini. Merah, minimalis, cantik.


Setelah sebelumnya baru saja aku menikmati kumcer Kaki yang Terhormat dari Gus tf Sakai yang terasa sangat tradisional dan mengulik realita sosial yang kental dan penuh metafora, kumcer Balada Ching-Ching dari Maggie ini lebih berasa modern, rasa global, meskipun konflik-konflik yang diangkat terasa dekat dengan pembaca. Mana yang lebih kusukai? Dua-duanya aku suka, dua-duanya bernas, dua-duanya bergizi. Gak bisa kan membandingkan enaknya sego pecel dengan caesar salad, (atau sebenarnya aku nulis postingan blog ini sambil laper). #eh #hihihihi.... Pokoknya, gak heran dua kumcer ini sama-sama masuk dalam jajaran longlist KLA di tahun berbeda. Setelah ini, masih ada satu lagi kumcer yang ngantri untuk kubaca, Ayahmu Bulan, Engkau Matahari, yang juga masuk longlist KLA tahun 2013. Tampaknya gak kalah menariknya nih.


Tentang Pengarang:

Maggie Tiojakin (10 Maret 1980) adalah seorang penulis dan jurnalis yang tulisannya telah dimuat di berbagai harian internasional. Sejumlah cerita-cerita pendeknya juga telah diterbitkan di media lokal maupun internasional seperti Femina, Kompas, Every Day Fiction, Writers’ Journal, Eastown Fiction, dan Postcard Shorts.

Buku-buku yang telah diterbitkan, antara lain, kumpulan cerita pendek Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010), dan Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa (2013), dan novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011). Selain itu, Maggie Tiojakin juga dikenal sebagai penulis naskah film, dengan karya debut Simfoni Luar Biasa besutan Awi Suryadi. Di waktu senggangnya, Maggie Tiojakin sering menerjemahkan karya-karya klasik ke dalam Bahasa Indonesia. Ia menjalankan situs gratis, FIKSI LOTUS, yang bertujuan menghadirkan cerita-cerita pendek klasik dunia gratis untuk pembaca Indonesia.

Maggie adalah seorang penulis dengan kemampuan eklektik. Tidak hanya bekerja sebagai jurnalis, ia juga seorang copywriter, scriptwriter, editor dan translator.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia





https://www.goodreads.com/review/show/1334530540


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget