Kamis, 09 Juli 2015

Kaki Yang Terhormat


Judul: Kaki Yang Terhormat
Pengarang: Gus tf Sakai
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792285246
Jumlah Halaman: 132 halaman
Penerbitan Perdana: 2012
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - longlist (2013)



Lihat sinopsis
Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, “Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik.

Sebetulnya, kalau mau jujur, bukan hanya Nenek yang bangga. Banyak dari keluarga kami, yang bila ngobrol, tak bisa menyembunyikan perasaan bangga kepada keluarga lain. Bahkan, bukan hanya keluarga kami. Banyak dari penduduk kampung, yang bila ngobrol, juga tak bisa menyembunyikan bangga kepada penduduk kampung lain. Maka, keyakinan Nenek pada kaki, berkembang bagai tak terbantahkan. Seperti tak cukup kalau kaki hanya dikatakan penting. Kaki adalah sesuatu yang terhormat.

Masih dalam rangka 100 Hari Membaca Sastra Indonesia, ini buku ketiga yang kubaca. Kumcer ini peraih longlist KLA 2013, dan 12 cerita pendek di sini memberiku pengalaman baru. Pertama karena pengarangnya baru kali ini kubaca karyanya, dan kedua karena setting ceritanya yang banyak mengangkat budaya dan kehidupan tradisional Sumatra Barat, selain realita-realita sosial yang tersampaikan melalui kisah-kisah ini.

Mulai dari cerpen pertama di kumcer ini, Kulah, aku sudah dikejutkan dengan endingnya. Awalnya kukira ini akan jadi cerita seram penuh dengan kepercayaan kuno yang tidak logis. Lalu tiba-tiba, dalam dua paragraf terakhir, kisah diputar balikkan menjadi masalah lingkungan hidup, tentang kondisi alam dan masyarakat desa yang tercemari.

Meskipun demikian, ada juga cerpen-cerpen yang benar-benar bernuansa mistik. Orang Bunian mengisahkan pengalaman seseorang yang memasuki alam "sumangaik" dan melihat perwujudan binatang buruannya yang hampir mati meraung tak ingin meninggalkan anaknya. Atau Liang Harimau yang menceritakan tentang seorang "urang Rawayan" yang meninggalkan kewajibannya dalam upacara tradisional dan berakhir tragis dikejar-kejar Maung (Harimau) dalam bayangan rasa bersalahnya (cerpen ini sedikit mengingatkan pada novel Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, meskipun hanya dalam setting dan latarnya).

Tema hormat dan kewajiban pada orang tua beberapa kali diangkat. Selain dalam Melihat Ibu, ada pula Bulan Setempayan. Kisah ini unik dan sedikit ironis, karena pada akhirnya sikap yang dimaksud penuh penghormatan malah berbalik menjadi rasa kesia-siaan di mata sang Ibu. Cerpen Kaki yang Terhormat yang menjadi judul kumcer ini juga menyoal tentang seorang Ibu yang tak pernah ditengok oleh anak bungsunya yang merantau dan sukses besar di Ibukota, namun akhirnya ditimpa celaka. Di sini sang Ibu menyalahkan sang putra karena tidak lagi menggunakan 'Kaki yang Terhormat'.

"Kau tahu apa sebenarnya yang membuat Mak Etek-mu celaka?"

"Karena ia tak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya mau dengan kendaraan, di atas helikopter itu saja."

Sebuah metafora kaya makna, saat pembaca kemudian disadarkan bahwa di sini "kaki" ini bersinonim dengan "ibu". Saat si anak sudah tak menghormati kakinya (ibunya) ia pun menjadi celaka. Aihh... kisah Malin Kundang versi kontemporer ini.

Satu cerpen favoritku, adalah Kak Ros. Tema cerita ini unik sekali, tentang seorang perempuan yang dari luar tampak lemah lembut dan keibuan.... tapi ternyata.... psikopat! Nggak nyangka... XD

Sebuah kumpulan cerpen yang mengulik berbagai tema, semuanya disajikan dengan cermat, kadang dengan ending yang tak terduga, kadang seluruh ceritanya adalah metafora tak terduga. Sayang kumcer ini hanya berisi 12 cerpen saja. Aku masih belum puas menikmatinya dan jadi pengin baca kumcer-kumcer Gus tf Sakai yang lain.



Tentang Pengarang:

Gustafrizal Busra atau lebih dikenal Gus tf Sakai, lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965, Nama pena Gus tf Sakai digunakan kalau ia menulis prosa, sedangkan Gus tf digunakan jika ia menulis puisi.

Kaki yang Terhormat adalah kumpulan cerpen yang memuat cerpen-cerpen realis Gus tf Sakai dalam masa 25 tahun kepengarangannya, mulai dari “Bulan Setempayan” yang ia tulis saat berusia 19 tahun dan memenangi sayembara menulis cerpen di sebuah majalah, sampai cerpen “Kaki yang Terhormat” yang terpilih sebagai salah satu Cerita Pendek Pilihan Kompas 2009. 

Kumpulan cerpennya, Perantau terpilih sebagai fiksi terbaik pilihan pembaca Ruang Baca Koran Tempo 2007 dan meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2007. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002) dan menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (2004).


100 Hari Membaca Sastra Indonesia







https://www.goodreads.com/review/show/1328057015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget