Senin, 05 Mei 2014

The Help - Buku vs Film

 


Judul Film: The Help
Sutradara: Tate Taylor
Penulis Naskah: Tate Taylor (screenplay), Kathryn Stockett (novel)
Pemeran: Emma Stone, Viola Davis, Octavia Spencer, Bryce Dallas Howard, Jessica Chastain, Sissy Spacek
Durasi Film: 146 min
Tahun Edar: 2011
Penghargaan: 1 Oscar (Best Performance by an Actress in a Supporting Role - Octavia Spencer ). Another 46 wins & 68 nominations.


Review-ku untuk novelnya dapat dilihat di sini.


Setelah beberapa waktu lalu menamatkan novelnya, akhir minggu kemarin aku beruntung akhirnya dapat menonton film adaptasinya. Meskipun sempat sedikit takut kecewa untuk menontonnya - tahu kan, Hollywood sering mengangkat sebuah karya novel yang apik jadi berantakan gak karuan di filmnya - tapi ternyata aku puas dan dapat menikmati film ini secara keseluruhan. Saat credit title-nya muncul, aku juga masih sibuk mencari tissue untuk menghapus air mata yang menetes.



Kisah filmnya cukup setia pada alur novel, pemandangan adegan-adegannya melebihi ekspektasiku akan keindahan daerah selatan Amerika, sedangkan pemeran-pemerannya amat sangat bagus dalam melakonkan wanita-wanita Mississippi jaman itu.Tak heran, selain Octavia Spencer -pemeran Minny Jackson yang diganjar Oscar, masih ada Viola Davis dan Jessica Chastain yang memenangkan Golden Globe dan berbagai penghargaan lainnya.

Tentu saja ada bagian film yang berbeda dari novelnya. Ada yang aku lebih suka penceritaan novelnya, ada pula yang di film lebih bagus. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Peran Missus Walters, ibu Hilly Holbrook, lebih besar dan menyenangkan di filmnya. Jika di novel, kita hanya diberi kilasan-kilasan pendek kisahnya, di film, Sissy Spicek mampu memberi nyawa bagi karakter ini dan menjadikannya fun, gak kenal takut dan sangat usil. Adegan di mana ia diam-diam mendapatkan tiket untuk pesta dana, menelpon taksi, datang, dan kemudian 'mengerjai' Hilly dengan membeli Pie atas namanya, sungguh apik dan membuatku terbahak saat menontonnya. Benar-benar adaptasi yang bagus!

2. Chemistry antara Minny Jackson dan Celia Foote juga diperankan sangat bagus Octavia Spencer dan Jessica Chastain. Ada beberapa adegan yang kusuka, misal adegan Celia membawa makan siangnya ke meja Minny dan bersikeras duduk makan bersamanya. Saat itu aku bisa melihat betapa kesepiannya Celia ini. Atau saat Celia menggali taman untuk menanam rumpun mawar bersama sebuah kotak (janin-nya?). Kasihan sekali. Juga adegan Minny dan Celia duduk berdua bersebelahan saat Minny menceritakan tentang 'teribble awful' Pie. Pas sekali.

3. Ada beberapa alur yang lebih kusukai di novelnya, seperti kisah kucing-kucingan Mister Johnny-Minny-Celia. Di novelnya, kisah ini jadi benang merah yang lucu, konyol sekaligus mengharukan. Bagian saat
"Miss Celia tahu kalau Mister Johnny sudah tahu tentang Minny tapi Mister Johnny tidak tahu kalau Miss Celia sudah tahu kalau Mister Johnny sudah tahu" itu cukup epik untuk dikenang. Sayang di adaptasi-nya kisah ini jauh lebih disederhanakan.

4. Kisah Constantine, pengasuh Skeeter, sedikit berbeda antara novel dan filmnya. Aku merasa kisah yang di Novel jauh lebih mengharu biru, daripada yang di film. Meskipun demikian, kisah penyesalan ibu Skeeter jauh lebih terasa di filmnya. Bagaimanapun, Constantine sudah mengabdi kepadanya lebih dari 26 tahun.

5. Akhir kisah, akibat yang diderita para pembantu kulit hitam setelah buku Skeeter diterbitkan, juga sedikit disederhanakan di filmnya. Pemecatan Abeleen berbanding pengakuan Johnny Foote bahwa Minny akan selalu dapat bekerja di rumahnya, seakan mewakili semua kejadian terhadap pembantu-pembantu yang lainnya. Bahwa ada -banyak- yang kehilangan pekerjaannya, ada pula yang malah mendapatkan pengakuan dan rasa terima kasih dari majikannya.

Secara keseluruhan, novelnya jauh lebih detail dalam penyampaian semua hal, sedangkan di filmnya, aku suka sekali dengan akting-akting para pemerannya. Hal-hal kecil yang mungkin sulit dijabarkan dalam skenario, kurasakan kudapat dari lirikan, tatapan, bahasa tubuh bahkan cara bergerak masing-masing. Rasa terima kasih yang diam-diam dimiliki para majikan kulit putih pada pelayan-pelayan kulit hitamnya, terpancar jelas dari mata mereka, meskipun tidak terlisankan.  Suka sekali.

Jadi, Novel atau Film??
Nikmati saja keduanya!!




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget