Senin, 19 Januari 2015

Shinju


Judul: Shinju 
Judul Asli: Shinjú
Seri: Sano Ichiro #1
Pengarang: Laura Joh Rowland
Penerbit: Hikmah - PT Mizan Publika (2010)
ISBN: 978-979-37-1461-5
Jumlah Halaman: 536 halaman
Penerbitan Perdana: 1993
Literary Awards: Anthony Award Nominee for Best First Novel (1995), Hammett Prize Nominee (1994)

Sinopsis:
Distrik Edo, Jepang abad ke-17

Ketika Yukiko, si gadis cantik nan kaya, ditemukan tenggelam di Sungai Sumida bersama Noriyoshi, si seniman miskin, semua orang yakin bahwa itu adalah sinju atau ritual bunuh diri berdua karena cinta terlarang. Tak ada yang ragu, kecuali Sano Ichiro, seorang penyelidik baru.

Tak acuh dengan perintah resmi dan peringatan dari para atasannya, Sano mencurigai kematian keduanya bukan sekadar tragedi-mereka pasti telah dibunuh. Mempertaruhkan nama baik keluarga dan nyawanya sendiri, Sano berusaha menemukan sang pembunuh. Dia bertekad mencari jawaban dari misteri itu.


Membaca Shinju dari seri Sano Ichiro ini, mau tidak mau akan teringat dan membandingkan dengan seri detektif sejenis seperti seri Sugawara Akitada (Dragon Scroll / Rashomon Gate). Sama-sama bersetting Jepang kuno (Akitada lebih duluan beberapa dekade), sama-sama penyelidik muda yang masih canggung dalam percaturan politik Shogun dan para Daimyo-nya, sama-sama penasaran dan suka gatal kalau melihat keanehan dalam sebuah penyelidikan. Tapi, sejauh ini aku masih lebih suka karakter Akitada, karena selama novel ini, kesan yang kudapatkan adalah si Sano ini kok jauh lebih gak taktis dan pandai mencari celah dalam penyelidikannya. Serasa insting detektifnya kurang tajam. Selain itu secara keseluruhan dia ini detektif yg sedikit payah, selalu buru-buru bertindak dan tidak meluangkan waktu untuk berpikir dulu, implikasi tindakannya apa, tipuan gerakan lawan seperti apa, counter move dia bagaimana sebaiknya, dsb. Berani sih berani, gigih-sih gigih, tapi mbok ya berhenti dulu buat mikir, jangan grusa-grusu.



Untung saja novel ini bertempo cepat dan bisa dibilang penuh aksi. Kasusnya lumayan rumit dan berlapis. Beberapa kali kurasa bahwa alurnya sedikit kebanyakan kebetulan yang membantu proses penyelidikan Sano, dan meskipun si penjahat kejam dan ambisius, tapi juga melakukan beberapa kesalahan fatal (misalnya, kenapa juga dia musti sombong-sombong bilang kalau Niu Midori sudah dikirim ke Hakone, harusnya kan biarin saja Sano nyari sampai gigit jempol di Edo, tetep gak ketemu, terus penyelidikannya mandek, emangnya dipikir Sano gak bisa gitu nyusul nyari ke Hakone).

Menjelang akhir, alur ceritanya menukik tajam dan mulai menunjukkan kulit aslinya, sebuah konspirasi yang merencanakan hal yang sangat genting bagi seluruh negeri (yang sekali lagi kebetulan diketahui Sano gara-gara sedang melarikan diri karena ketahuan saat menyelidiki hal lainnya). Klimaksnya seru, dengan adegan penuh laga dan pertarungan ala samurai. Endingnya juga bagus, memuaskan, meski juga sedikit terlalu happy ending ala hollywood, bukan berbau ironis layaknya novel Jepang.

Yang sangat kusukai di sini malah tentang penggambaran detail-detail kehidupan masyarakat kota Edo jaman itu. Semuanya dijabarkan dengan baik, realistis dan enak dinikmati. Dari kehidupan masyarakat jelata, kaum Samurai hingga kalangan ningrat, juga beberapa cuplikan kejadian tentang kebijakan Shogun dan intrik istana saat itu, dipotret dengan sangat apik.



* * *


Edisi terjemahan bahasa Indonesianya cukup enak dibaca, kalimatnya mengalir dan tidak kaku, juga minus typo. Sayangnya aku sama sekali gak suka ilustrasi covernya, terlalu vulgar menggambarkan kematian, seorang lelaki tertelungkup mati dan seorang perempuan dengan ekspresi ketakutan yang kosong dan tangan memegang katana di latar depan... jyaaaah....
*etapi kulihat-lihat edisi lainnya, juga gak ada yang covernya menarik deng*



https://www.goodreads.com/review/show/438660442

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget