Kamis, 23 April 2015

Remedy


Judul: Remedy
Seri: YARN - Young Adult Realistic Novel
Pengarang: Biondy Alfian
Penerbit: Ice Cube Publisher (2015)
ISBN: 9789799108180
Jumlah Halaman: 207 halaman
Penerbitan Perdana: 2015




Lihat Sinopsis
"Lo yang nemuin dompet gue, kan?" tanya Navin.
"Ya," jawabku.
"Berarti lo sudah lihat semua isinya?"
"Ya," jawabku lagi.
"Berarti lo sudah-"
"Melihat kedua KTP-mu?" tanyaku. "Sudah."

Navin menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku. Rahangnya tampak mengeras.

Ada yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan dompetnya di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data-data yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun. Apa yang dilakukan seorang pria berumur 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang kini mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis itu punya rahasia yang lebih besar darinya.

Astagah. Lumayan terkejut membaca prolog novel Remedy ini. Memang sih sudah beberapa kali direkomen judul ini, tapi kan YA bukan judul yang sangat sering aku sambangin, jadi setelah membaca sinopsisnya di cover belakang, kupikir ini cerita remaja biasa dengan persoalan sekolah-cinta-keluarga-jati diri, dsb, sehingga keinginan membacanya tergeser-geser ke jauh belakang. Dan memang aku sengaja tidak membaca review-review di Goodreads karena aku tahu aku ingin menikmati ceritanya secara utuh tanpa sop iler sedikitpun.


Tapi suatu malam, setelah memegang novel ini, membaca beberapa halaman pertama, ternyata sulit untuk meletakkannya kembali. Remedy ternyata menggali konflik yang jauh lebih dalam daripada tampak luarnya. show spoiler [Dalam tiga halaman pertama saja, si tokoh utama cewek sudah digambarkan sebagai cutter.] Kaget dunk aku!

Setelah prolog yang mengezuuutkan itu, lalu pelan-pelan pembaca diajak mengenal Tania dan Navin. Keduanya siswa SMU tapi dengan beban berat di pundaknya. Navin tergambarkan misterius, dengan dua buah KTP dengan nama yang berbeda, usia yang sedikit lebih tua daripada siswa lainnya, keengganan membahas masalah tersebut dan kilasan-kilasan kunjungannya ke seorang psikiater. Membuatku menduga-duga seperti apa masa lalunya. Namun ternyata Tania menyimpan bom konflik yang jauh lebih besar. Jika kondisi Navin sudah membaik dengan bantuan seorang profesional dan dukungan keluarganya, luka Tania masih menganga dan berdarah-darah (metaphorically and literally). Seakan-akan menjadi self-harm saja belum cukup, masih ada konflik lain yang jauh lebih bikin "sengsara". Aku sempat berpikir berapa lama lagi dia kuat bertahan sebelum sepenuhnya "gila" jika saja tidak bertemu Navin dan Viki.

Penyelesaian masalahnya, meskipun lengkap, terasa sedikit disederhanakan. Aku ingin pembahasan lebih dalam tentang seseorang yang berprofil psikologi seperti Tania. Terutama tentang pergulatan menuju kesembuhannya. Latar belakang dan rahasia Navin juga hanya diceritakan dalam beberapa paragraf saja, kurang terasa sakit dan perihnya. *jyaaaah Tapi ada bagian yang aku suka sekali, yaitu bagaimana keinginan Navin untuk membantu dan melindungi Tania, malah membuatnya sediiiiiikit lebih dekat dengan sang Papa. Selain juga membuat Navin lebih bertanggung-jawab, berusaha lebih keras, dan memiliki tujuan hidup. *dan tiba-tiba aku teringat T-drama Mars-nya Vic Zhou*

Diceritakan dengan narasi yang mengalir, bergantian satu bab dari POV Tania sebagai orang pertama, bab berikutnya dari POV orang ketiga yang menceritakan Navin. Meskipun cukup banyak karakter-karakter tambahan yang muncul, tapi aku merasakan mereka sedikit kurang tergali. Aku pengin tahu lebih banyak tentang Tante Ratna, tentang Viki bahkan tentang Dewi. Papa dan Mama Navin juga muncul sekelebat doang. TG gak ada kisah cinta segitiga yang membosankan di sini. Sang pengarang tampaknya tahu persis fokus kisahnya dan tidak melantur kemana-mana. Seep dah.


Bukunya sendiri juga bersih typo dan dicetak bagus. Setelah selesai membaca baru mengerti "arti" judulnya. Ternyata rahasia-rahasia besar mereka berdua saling menjadi obat bagi yang lain. Saling membantu dan saling menguatkan. Judul yang menarik. Dan saat kuperhatikan ilustrasi covernya, ternyata bagus ya... akar-akar(?) masalah membelit kedua tokohnya, wajah dan mata Tania yang terpejam, dan tangan mereka berdua yang saling terkait. Sederhana tapi mencerminkan isinya. Biasanya sih aku cuma lihat warna birunya yang sejuk dan menipuku karena gak nyangka isi novelnya ternyata berat kayak gitu.


Selamat buat Biondy untuk novel debutnya ini. Sebuah novel YA negri sendiri yang menggali tema psikologis remaja bermasalah dengan apik. Jika sebelumnya aku hanya memfavoritkan The Perks of Being a Wallflower untuk tema ini, sekarang aku punya dua.




https://www.goodreads.com/review/show/1186741651

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget