Jumat, 24 April 2015

Tentang Katherine


Judul: Tentang Katherine
Judul Asli: An Abundance of Katherines
Pengarang: John Green
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2014)
ISBN: 9786020305271
Jumlah Halaman: 320 halaman
Penerbitan Perdana: 2006
Literary awards: Michael L. Printz Award Nominee (2007), Abraham Lincoln Award Nominee (2010)



Lihat sinopsis
Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Novel yang satu ini sudah cukup lama tertimbun tanpa sempat dibaca, lalu dipinjam dan hilang, lalu diganti dan dikembalikan dengan gambar cover yang baru (yang setrip 3 warna itu lo, aku gak begitu suka), lalu *dengan sedikit lobi-lobi* akhirnya bisa di-swap lagi dengan cover yang lama ini *thanks mbak vina* Setelah perjalanan panjang itu, karena takut terjadi hal-hal lain yang lebih menakutkan, (misalnya saja, si buku ngambek lalu mengutukku jadi Katherine XX atau yang semacamnya) akhirnya aku sempat-sempatkan juga membacanya. Sudah pakai siap-siap tisue sekotak gara-gara dua novel John Green sebelumnya sukses bikin aku mewek keterusan, eh ternyata novel yang ini jauh lebih ringan dan  santai. Meskipun temanya yang diusung masih sangat nyata bagi para remaja, i.e. cinta, patah hati, dicampakkan pacar, plus masa depan seperti apa setelah lulus SMU, tapi paling tidak mereka semua sehat dan dicintai para orang tua masing-masing.


Di hari kelulusannya Colin Singleton juga mengalami hal paling mengenaskan, putus dengan pacarnya, si Katherine ke-19. Colin ini tipe anak nerd di sekolahan, jenius, suka matematika, suka belajar bahasa dan suka bermain anagram. Ia memang tidak populer, namun paling tidak ia normal, tidak di-bully, punya cewek dan punya teman baik bernama Hassan, yang meskipun sudah lulus tahun sebelumnya dan sudah diterima di Universitas, tapi memilih untuk cuti sekolah dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Saking jeleknya suasana hati Colin, akhirnya mereka berdua (Colin dan Hassan) lalu memutuskan untuk berjalan-jalan naik mobil lintas Amerika tanpa tujuan pasti. Di tengah perjalanan ini, mereka bertemu Lindsey dan ibunya Hollis, pemilik sebuah pabrik benang di sebuah kota kecil. Pabrik ini sebenarnya adalah nyawa dari kota tersebut, karena sebagian besar penduduk kota itu bekerja di situ, Jika Colin sedang ngambek dan malas memikirkan masa depan, Hassan sengaja bersenang-senang berharap masa depan tak pernah datang, maka Lindsey menganggap pasti masa depannya tersedia nyaman di kota itu. Jadi meskipun pandai dan berkecukupan, ia menentang saran Hollis untuk meneruskan pendidikannya ke Universitas dan enggan keluar dari tempurung sarangnya.

Setengah jalan membaca, jelas sekali si Colin ini punya masalah tak terselesaikan dengan K-1. Masalah yang membuatnya mencari pembenaran di Katherine-Katherine lainnya, sampai akhirnya balik-balik lagi ke K-19. saat K-19 juga putus....haaa... si anak ajaib benar-benar galau. Kisah-kisah para Katherine ini lucu-lucu lo, awalnya kupikir banyak bener cewek si Colin ini, tapi ternyata.... Yah tapi intinya, saking galaunya ditinggal K-19 sampai-sampai Colin ingin membuat persamaan matematis tentang jatuh cinta, pacaran dan putus. Aduhhhh dik Coliiinn.... kalau saja masalah hati bisa di logikakan seperti itu... bisa-bisa aku ikut berkata " Aku akan jadi soal UN aja deh, biar diseriusin sama kamu! " #gubraaak #apasih

Endingnya masih semanis-getir novel John Green yang lain. Colin yang akhirnya move-on, Hassan mulai bersedia memikirkan masa depan, dan Lindsey yang akhirnya menyadari masalah-masalah Hollis dan bahwa masa depannya tidak sejelas sangkaannya semula. Persahabatan Colin, Hassan dan
Linsey, serta hal-hal sepele tapi penting, yang terjadi di kota terpencil itu, membuat masing-masing berintrospeksi diri dan menguatkan mereka untuk menjalani hidup lebih berani.

Yeah... novel anak SMU yang asyik, gak sepahit Alaska atau setragis TFiOS, dibalut blablabla matematis yang penampakannya bikin jiper orang (tapi ternyata setelah dibaca lampirannya, eh tidak se-njelimet pikiranku semula, 'hanya' persamaan kuadrat biasa, beneeeer kok!), tapi tetap mengandung permasalahan konkrit yang sedikit banyak dialami oleh para anak muda ((anak mudaaaa!!)).

"Eureka," kata Colin. "Aku mendapatkan sesuatu. Masa depan tidak bisa diramalkan."

Hassan berkata, "Kadang-kadang si orang sesat gemar mengucapkan hal-hal yang sudah jelas begitu dengan nada bicara seperti bermakna besar."


Ah, Colin... Hassan... ahahaha... indahnya masa muda... #tibatibaberasatuainihaku


Untuk bukunya sendiri, terjemahannya bagus dan mengalir enak dibaca. Tidak menemukan typo sih dalam ceritanya, tapi di lampiran ada persamaan kuadrat yang kurang sempurna (mengingatkanku kalau di terjemahan TFiOS juga ada diagram Venn yang salah). Covernya, seperti yang kuceritakan di atas, aku jauh lebih suka cover lama ini dibandingkan cover barunya. Padahal ternyata banyak pembaca yang lebih suka yang baru ya. Selera sih ini...





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget