Rabu, 02 September 2015

Lingkar Tanah Lingkar Air



Judul: Lingkar Tanah Lingkar Air
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia  Pustaka Utama (2015)
ISBN: 9786020318608
Jumlah Halaman: 168 halaman
Penerbitan Perdana: 1992




Lihat sinopsis
Pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan RI antara tahun 1946—1950 menyeret banyak pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Di antara mereka adalah Amid dan kawan-kawan yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.

Tetapi sejarah membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sesungguhnya seorang yang sangat cinta Tanah Air sering bimbang karena pasukannya sering memerangi warga seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Dia tidak sedih ketika Khalifah DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tertangkap dan menyerukan seluruh laskarnya menyerahkan diri.

Tiga tahun kemudian Amid dan kawan-kawan malahan diminta oleh tentara untuk membantu menumpas pasukan komunis yang bertahan di hutan jati. Mereka kembali mengangkat senjata, kali ini atas nama Tentara RI, sesuatu yang pernah amat didambakan Amid; bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.

Pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat sekitar tahun 1949-1962 adalah sebuah fakta sejarah yang sangat sedikit disinggung dalam dunia pendidikan kita. Buatku, selain bahwa gerakan tersebut dipimpin oleh Kartosoewirjo, tidak ada lagi yang aku ketahui tentang hal ini. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air karangan Bapak Ahmad Tohari ini adalah yang pertama kutemukan menggores tentangnya.

Maret 1946. Di sebuah kampung di kaki Gunung Slamet, sekelompok pemuda dikumpulkan oleh kiai desa. Mereka diminta untuk ikut berjuang membela tanah air, membantu tentara Republik untuk menahan agresi Belanda yang kembali setelah kekalahan Jepang. Awalnya mereka hanya diberi tugas-tugas pendukung, namun lama-kelamaan beberapa orang diantaranya benar-benar memikul senjata dan bertempur di garis depan. Sampai akhirnya di penghujung 1949 saat Belanda mengakui kedaulatan negara dan akhirnya hengkang dari tanah ini. Saat itu kelompok-kelompok pemuda yang menyebut diri mereka Hizbullah ini ditawari (dan sebagian besar bersedia) untuk benar-benar menjadi tentara nasional, karena ini berarti pekerjaan dan gaji tetap, status dan kehormatan. Namun karena kekacauan yang terjadi, campur tangan gerakan musuh dalam selimut, mereka malah dikhianati, sebagian tewas terbunuh sedangkan yang lain dicap pemberontak, Dalam kekecewaan inilah, Kartosoewirjo menawarkan sesuatu yang tak sulit ditolak, berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia, sebuah bentuk negara tanpa paham komunisme di dalamnya.

Bertahun-tahun berjuang mengangkat senjata, bergerilya dan bertahan dalam hutan, namun kekuatan DI malah semakin melemah. Selain tentara, mereka juga masih menghadapi Gerakan Siluman, sebuah gerakan yang memfitnah dan menjelek-jelekan mereka di mata penduduk setempat. Ditambah lagi semangat juang mereka yang semakin dipertanyakan, karena sebagian "musuh" yang mereka bunuh ternyata adalah juga orang Islam, orang seiman dan bersaksi pada Allah dan Nabi yang sama. Hingga akhirnya terdengarlah kabar bahwa Sang Khafilah DI telah menyerah dan adanya pengampunan nasional bagi seluruh laskarnya.



Dikisahkan dari sudut pandang Amid, seorang pemuda kampung belasan tahun yang terseret ke dalam kekisruhan politik dan militer saat republik ini baru saja lahir, cerita ini bukan merupakan pledoi atas gerakan militer yang terjadi. Ini hanya sebuah kisah pendek tentang orang-orang yang sesungguh-sungguhnya cinta tanah air, namun dipaksa meniti jalan yang sulit. Sebuah tawaran literatur untuk melihat potongan sejarah yang tersembunyi dari sudut pandang lain. Bukan sudut pandang orang-orang besar pelaku dan penentu jalan, namun dari seseorang kecil yang benar-benar mengalami duri dan pahitnya kelaparan dan kerinduan keluarga, meskipun niat mereka sangat sederhana dan mulia. Menjaga tanah air mereka.


Novel fiksi-historis ini pertama kali terbit secara lokal dari sebuah penerbit kecil di Purwokerto, kota kelahiran sang pengarang, tahun 1992, dan baru pada tahun 1995, penerbit LKiS menerbitkannya secara nasional (meskipun aku suka cover versi GPU yang berkesan modern, cover versi LKiS ini juga cantik dilihat. Sayang sekarang sudah susah mencarinya). Setelah tersandung novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang dipaksa dimutilasi oleh pemerintah Orde Baru, kelahiran novel ini bisa dibayangkan sulitnya.

Terlepas dari temanya yang menyinggung sejarah gelap negeri ini, gaya penulisan seorang Ahmad Tohari sangat kental tersurat. Pendeskripsian suasana desa dan kehidupan penduduknya terasa nyata dan sangat membumi, sedangkan pergulatan batin para tokohnya dituturkan dengan sederhana tapi tetap mengena.


Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.


100 Hari Membaca Sastra Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1378880279

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget