Tampilkan postingan dengan label JapLitRC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JapLitRC. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2016

Kisah Mata Merah Menyala yang Istimewa


Judul: Psychic Detective Yakumo - The Red Eye Knows
Judul Asli: 心霊探偵八雲1 赤い瞳は知っている - Shinrei Tantei Yakumo 1 Akai Hitomi wa Shitte Iru
Pengarang: 神永学 - Kaminaga Manabu
Penerbit:  PT Gramedia (m&c!) (2016)
ISBN: 9786023398706
Jumlah Halaman: 360 halaman
Penerbitan Perdana: 2004



Lihat sinopsis
Untuk berkonsultasi mengenai temannya yang terlibat dalam peristiwa aneh, Haruka mengunjungi "Asosiasi Peneliti Film" karena mendengar kabar tentang keberadaan lelaki yang memiliki kekuatan spiritual di sana. Namun, yang dijumpainya justru seorang anak muda kurus dengan pandangan mengantuk dan rambut acak-acakan. Apakah Haruka akan berhasil melakukan konsultasi sesuai yang direncanakannya?!

Yakumo Saitou, anak muda yang memiliki kemampuan melihat arwah orang mati berkat mata kirinya yang berwarna merah, menghadapi berbagai kasus aneh dengan gaya yang nyentrik. Kasus penyiksaan dan pembunuhan mehasiswi, terowongan berhantu, dan pembunuhan dengan famuflase bunuh diri.... Semua berhasil dipecahkannya dengan baik! Namun, ada sesosok misterius yang membayanginya...


OK, quick confession.
Aku sudah lope-lope sama yang namanya Yakumo ini sejak duluuu, saat pertama kali baca manga versi Oda Suzuka (edisi scanlation gratisan pula). Kombinasi karakter selengekan tapi dependable ini, plus ilustrasi tokoh yang guanteng banget dari Oda bikin aku betah menikmatinya. Padahal manga genre horor seperti ini biasanya sedikit di luar zona nyaman bacaku.

Sempat hiatus cukup lama, sampai aku juga lupa, tahu-tahu teringat saat melihat m&c! mengeluarkan kembali tankubon terbaru manga edisi terjemahannya. Lah, ternyata sudah vol. 10. Sedangkan terakhir baca mungkin baru pertengahan vol. 8. Mau ikutan koleksi, sudah agak sulit mencari yang lengkap. Mau baca scanlation lagi, malu. #halah! #nggaya!  Nah, kok habis itu malah lihat edisi light novel originalnya juga akan diterbitkan. Ini penerbit memang mau ngajak nipisin isi dompet yak.

Di saat itu aku malah jadi tertarik menonton versi animenya. Ngopilah aku 13 episode anime ini dari sumber terpercaya *uhuk*kak lila*uhuk* Lumayan puas nonton ending versi anime, tapi itu malah bikin jadi bener-bener pengin baca novel n koleksi manga-nya. Manganya tetep belum kesampaian, tapi novelnya ini akhirnya berhasil kudapatkan dengan harga diskon plus plus. Begitu paketnya sampai langsung ngebut dibaca, daaaan... ini dia kesan-kesan singkatku setelah membacanya... (singkat aja, udah kebanyakan cerita di atas)
=))


Sesuai sinopsisnya, tokoh utama novel ini adalah Saitou Yakumo. Pemuda ini dilahirkan dengan mata kiri berwarna merah menyala, yang istimewanya, bisa melihat arwah orang yang sudah mati. Karena matanya ini, ia tumbuh besar dengan ditakuti, dikasihani, dijauhi dan lebih sering lagi, di-bully, sehingga karakternya menjadi sangat aneh, sarkastik, kasar, blak-blakan, sometimes even heartless. Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak Ozawa Haruka yang sedang tersandung masalah perhantuan mengunjungi markas rahasianya. Sikap Haruka yang hobi menolong orang (dan hobi pula diculik penjahat) membuat mereka mengalami berbagai kejadian menyeramkan yang melibatkan arwah penasaran dan kejahatan yang belum terselesaikan.

Di novel ini ada tiga kasus yang melibatkan mereka dan Detektif Polisi Gotou serta Ahli Forensik Hata, plus satu kisah tambahan. Meskipun sikap dan pandangan hidup Yakumo dan Haruka amat sangat bertolak belakang dalam hal menolong orang lain yang sedang membutuhkan, tapi satu ucapan Haruka tentang mata kiri Yakumo telah mengikat mereka berdua dalam hubungan yang yang sulit dilepaskan. Takdir mungkin, hihihi....


Secara perbandingan, penggambaran karakter Yakumo di sini jauh lebih keras dan menjengkelkan, tapi sweetness-nya yang suka tiba-tiba muncul, jadi lebih terasa juga. Perbantahannya setiap kali bertemu Det. Gotou selalu bikin geli. Cocok, yang tua yang muda gak ada yang mau kalah.  Aku juga lebih suka penggambaran sosok Ozawa Haruka yang di novel ini daripada di manga dan anime. Lebih kelihatan kontrasnya dengan Yakumo.

Saito Isshin sudah muncul di kasus kedua, tapi tidak ada (belum??) si kecil Nao-chan. Apa memang itu hanya tambahan di versi manga/animenya ya? Entahlah...



Untuk edisi terjemahannya, terasa sedikit kaku dan tersendat. Tapi kalau sudah sering membaca manga terjemahan Jepang akan terbiasa dan tidak terlalu mengganggu. Memang cara percakapan mereka aslinya seperti itu ya.
Shinrei Tantei Yakumo Novel Vol. 1
Nihon Bungeisha Cover

Covernya aku lumayan suka, tampak cantik sekali dengan latar hitam mulus berpadu baju Yakumo yang putih bersih. Kedua warna matanya yang berbeda pasti langsung menarik perhatian pembaca. Suka juga karena penerbitnya mengambil sisi manis buku ini sebagai cover dibandingan cover versi asli yang terkesan sangat dark dan sedikit mengerikan. Walau begitu, kesannya memang jadi lebih feminin daripada ilustrasi manga dan animenya. 




Oh iya, jadi pengin cerita lagi.

Jadi kan kapan hari itu, aku sempat mengingat-ngingat nama pengarangnya ini, Manabu Kaminaga, pernah dengar di mana?? Setelah agak lama, baru teringat pada dorama yang dibintangi Kamenashi Kazuya yang judulnya Yamaneko, si kucing sinting yang ngakunya adalah detektif pencuri dengan semangat Bushidonya. Dan setelah kucek, ternyata memang benar, dorama itu juga diangkat dari novel karya pengarang yang sama. Miaaooo!!

*udah gitu aja ceritanya*
*udah pernah nonton Yamaneko belum? Itu dorama kocak banget dah! nonton deh... *
*ini ripiu kok malah jadi iklan dorama??*



https://www.goodreads.com/review/show/1716502840

Kamis, 28 Juli 2016

Rahasia Hati

Lok: Klenteng Tay Kak Sie,
Gg. Lombok - Semarang
Judul: Rahasia Hati
Judul Asli: こころ - Kokoro
Pengarang: 夏目 漱石 - Natsume Sōseki
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2016)
ISBN: 9786024240325
Jumlah Halaman: 272 halaman
Penerbitan Perdana: 1914



Lihat sinopsis
RAHASIA HATI melukiskan kesepian manusia dalam dunia modern. Tokoh Sensei yang merasa asing dalam masyarakat, bahkan terhadap istrinya, justru sadar bahwa sikapnya itu merupakan suatu dosa. Dan dosa itu harus mendapat hukuman—bukan dari manusia lain, tapi dari dirinya sendiri.


"Kenapa aku menunggu begitu lama untuk mati?"


Sedih sekali membaca novel ini. Bikin ngelangut. Kisah sang sensei yg dipendam berpuluh tahun, nyatanya menggerogoti dari dalam, hingga akhirnya membuncah dan meledak dalam kesunyian. Kesalahan dan kepengecutan hatinya pada satu saat di masa lampau itu meminta bayaran yg jauh lebih besar. Ah... kalau saja...


Novel ini dibuka dengan menceritakan si tokoh "Aku" yang bertemu dan merasa tertarik pada seorang terpelajar tua yang dipanggilnya Sensei. Secara edukasi dan finansial memang tokoh Sensei ini sangat mapan, tapi tokoh aku, selain mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran dengan sang Sensei, ia juga sering mendapatkan petuah dan sumbang saran tentang kehidupan. Sensei sendiri sedikit tertutup akan kehidupan pribadinya, namun menyiratkan kesedihan luar biasa tentang seorang sahabatnya yang telah meninggal dan kuburnya selalu rajin disambanginya.

Setengah cerita, menceritakan dari sudut pandang Aku, dengan berbagai persoalan pribadinya, dari pendidikannya, harapan keluarganya, hingga Ayahnya yang sakit parah dan diramalkan tak akan lama lagi hidupnya, sedangkan si Aku ini masih bimbang akan jalan kehidupan yang ingin diambilnya selepas kelulusan pendidikan universitasnya.

Nah tapi setengah cerita selanjutnya, diceritakan dari sudut pandang Sang Sensei, yang men-flashback-kan kisah hidupnya saat masih kuliah dulu dalam bentuk surat paaaaaanjaaang. Mulai bab surat ini, minat bacaku pada novel ini yang awalnya biasa-biasa saja, jadi naik amat sangat tinggi. Menurutku ini pula inti dari novel yang banyak menuai pujian. Rahasia hati sang Sensei. Isi hati sang Sensei. Rasa bersalah yang tak pernah dibaginya kepada siapa pun sampai saat itu.

Aku demikian terlarut dalam cerita Sensei ini, hingga tak sadar ikut sedih dan menitikkan air mata, walau sudah menduga akhir cerita si sahabat. Okelah, Sensei memang bisa dikatakan mengkhianati kepercayaan sahabatnya, tapi harusnya mereka bertengkar saja, meledakkan amarah dan kebencian sesaat, menudingkan jari dan menuduh... kalau perlu sampai berkelahi adu jotos dan tukar bogem... bukannya malah masing-masing memendam kekecewaan, lalu...   aku sedih lagi

Sudahlah, akhir kata dari sang Sensei, ia mengharapkan kisah hidupnya bisa menjadi contoh bagi yang lain agar tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjalani hidup dengan penuh penyesalan. Sayang sekali novel ini langsung berakhir di sini, tidak memberi penutup bagaimana tanggapan tokoh Aku akan surat panjang dari orang yang dihormatinya sepenuh hati ini atau kisah hidup Aku selanjutnya. Tapi dengan ketukan keras itu sebagai endingnya, dampak dan kesannya memang sangat membekas di hatiku.


Tentang Pengarang:

Natsume Sōseki (夏目 漱石, 9 Februari 1867 – 9 Desember 1916), adalah novelis Jepang yang terkenal dengan karyanya seperti Kokoro, Botchan, dan I Am a Cat. Ia juga menulis haiku, kanshi, dan dongeng.

Tema utama karya Sōseki's adalah perjuangan orang-orang biasa dalam menghadapi kesulitan ekonomi, konflik antara kewajiban dan keinginan (giri - sebuah tema tradisional Jepang), kesetiaan dan mentalitas grup melawan kebebasan dan individualitas, keterasingan pribadi serta industrialisasi pesat dan konsekwensi sosialnya. Karyanya yang berjudul Wagahai wa neko de aru (I Am a Cat) - 1905, sarat pandangan sardonic tentang transformasi sosial dan modernitas, penuh ketidakpastian dan ketidakpuasan.

Kokoro (Rahasia Hati) - 1914, lebih bernada melankolik dan sensitif, kisah tragis yang memaparkan kondisi kesepian manusia. Untuk Sōseki, alienasi adalah dampak mendasar dari individu yang terbelah antara tradisi dan modernitas.

Ketidakpuasan dan kekecewaan adalah tema-tema yang terus berlanjut dalam karyanya, seiring dengan kesendirian dan penderitaan sang pengarang hingga akhir hayatnya, di tahun 1916 ia meninggal karena penyakit perut kronis.

Dalam tahun-tahun terakhirnya penulis seperti Akutagawa Ryūnosuke dan Kume Masao tampak jelas terpengaruh oleh gaya penulisannya.


Sebagai pengakuan atas karya-karyanya, dari tahun 1984 hingga 2004, gambar wajahnya menghiasi bagian depan uang kertas Jepang 1000 yen.

Source: Wikipedia Willamete Uni Site LikeSuccess etc




https://www.goodreads.com/review/show/1690826527

Rabu, 01 Juni 2016

All She Was Worth


Judul: All She Was Worth - Melacak Jejak
Judul Asli: 火車 - Kasha
Pengarang: 宮部みゆき - Miyabe Miyuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-2686-3
Jumlah Halaman: 480 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Naoki Prize Nominee (1992), Shugoro Yamamoto Prize (1993)



Lihat sinopsis
Seorang perempuan cantik lenyap tanpa jejak, namun hasil penyelidikan menunjukkan dia bukanlah sosok seperti yang ditampilkannya selama ini. Apakah dia korban, pembunuh, atau kedua-duanya? Di negara yang melacak para penduduknya dengan saksama, bagaimana bisa dua perempuan memiliki identitas yang sama, lalu menghilang tanpa jejak? Di tengah masyarakat Jepang yang serba konsumtif, banyak orang terjebak utang, lalu jatuh ke dalam jerat para rentenir gelap yang sangat berbahaya, sehingga kadang-kadang pembunuhan menjadi satu-satunya jalan keluar.


Ini jauh lebih bagus dari Devil's Whisperer (review di sini), padahal yang itu juga aku suka sekali.

Dan aaaakk... endingnya.... khas jepun sekali... no nonsense. Tidak perlu epilog dan penjelasan berkepanjangan. Semua hasil penyelidikan telah terpaparkan seperti keping-keping puzzle. Kisah sudah selesai diceritakan. Misteri telah terpecahkan. Yang hilang telah ditemukan kembali. TAMAT.
Aaakkk....
#apasih #berisik :D


1992. Kisah novel ini diawali saat Detektif Polisi Honma Shunsuke yang sedang cuti karena cedera kaki mendapatkan kunjungan dari seorang keponakan alm. istrinya. Si ponakan yang bankir ini rada resah karena tunangannya, Sekine Shoko, tiba-tiba menghilang setelah ketahuan pernah menyatakan diri bangkrut beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah perjalanan Honma dalam pencarian wanita malang ini, dan dalam pencarian ini, terbuka satu per satu lapisan misteri yang melingkupi, bukan hanya satu, melainkan DUA wanita yang dipermainkan nasib, dan sistem perkreditan dan keuangan di Jepang. Terjerat hutang melilit leher, dikejar-kejar rentenir Yakuza, hingga akhirnya, menempuh jalan pahit tanpa bisa kembali.


Ini pertama kalinya aku membaca kisah crimefic di mana baik si korban maupun si pembunuh sama-sama dicitrakan dari pandangan orang lain sepenuhnya. Korban tak pernah muncul sama sekali, sedangkan si pembunuh hanya nongol di beberapa paragraf terakhir novel. Tapi meski demikian, motif, alibi, cara bahkan latar belakang keduanya tetap jadi unsur terpenting cerita, dan dijalin lengkap... dari pandangan mereka yang mengenalnya masing-masing individu tersebut.

Kedua wanita itu, Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko, punya akar masalah yang sama, satu ide besar yang diulik dalam novel ini, yaitu komsumerisme di Jepang yang marak di sekitar tahun 1980-1990an, saat perekonomian Jepang sedang booming sehebat-hebatnya. Saat itu, sebagian besar penduduk usia produktifnya terserang "Sindrom Harus Punya!" (h.255). Sebuah sindrom yang tumbuh dan berkembang subur didukung mudahnya mendapatkan puluhan pilihan kartu kredit, mudahnya berbelanja dan menarik uang tunai menggunakan kartu tersebut, tanpa menyadari tingginya suku bunga yang mengikutinya.

"Mesin ATM tentu saja tidak menjelaskan bagaimana cara bunga bekerja!" (h. 166)

Dari keinginan memiliki rumah sendiri, hingga produk fashion terbaru. Dari sistem perkreditan resmi hingga telemarketing. Satu per satu kemudahan berbelanja ini mengantarkan si pemilik dalam jeratan hutang. Dari pinjaman yang satu tutup lubang ke pinjaman yang lain. dari bank yang satu membayar ke bank yang lain, tak pernah terlunasi bahkan bunga pinjaman semakin menumpuk. Saat lembaga resmi mulai menutup pintu dan menagih, satu-satunya jalan adalah meminjam ke "lembaga keuangan alternatif". Jalan keluar yang bukannya melegakan, malahan menuntun si peminjam (dan keluarganya) ke dalam jurang kehancuran.


Hal lain yang mendapatkan porsi besar dalam novel ini adalah sistem kependudukan dan pencatatan sipil di Jepang. Di negara-negara oriental seperi Jepang dan Korea, memang lineage keluarga menjadi sangat diutamakan. Dibandingkan dengan, Amerika misalnya, yang hanya mencatat data individu, Jepang mencatat penduduknya dalam item data keluarga yang sangat detail. Saat anak perempuan menikah, namanya dikeluarkan dari data kartu keluarga asli (dengan catatan lengkap) dan dimasukkan dalam data keluarga suami. Saat seseorang membentuk item keluarga sendiri, nama orang tua dan catatan kartu keluarga sebelumnya tetap dicantumkan dengan rinci. Kepindahan dan tempat tinggal baru mensyaratkan surat kependudukan tercatat. Kematian seseorang dicatat, namun tidak menghapus nama almarhum dari kartu keluarganya. Bahkan untuk proses adopsi anak yang resmi tetap mencatatkan identitas si anak dan hubungannya dengan keluarga aslinya. Dengan demikian, garis keluarga dapat dilacak bergenerasi-generasi sebelumnya, dan tiap orang punya akar yang pasti, dan ini berlaku secara nasional.

Dengan sistem seperti ini, pencurian identitas adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Dalam novel ini, detail-detail bagaimana (dan mengapa) seseorang dapat mencuri kehidupan seseorang lain menjadi unsur menarik, demikian pula penyelidikan baliknya, menelusuri hidup seseorang berdasarkan jejak berkas kehidupannya dalam sistem, dan membandingkannya saat mendengarkan kesan-kesan orang-orang yang mengenal mereka dalam kurun waktu-kurun waktu tertentu.


Sekitar seratusan halaman terakhir, alur hidup Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko akhirnya bertautan. Mulai dari titik ini, misteri dan nasib keduanya perlahan-lahan dibuka untuk pembaca, dan latar-latar tragis keduanya menjadi masuk akal sekaligus memiriskan hati. Shoko yang terjebak dalam kungkungan tempurung kota kecilnya, silau akan kecantikan sinar lampu-lampu kota Metropolitan Tokyo. Kyoko yang melewatkan masa remajanya dalam ketakutan dan teror, hanya mendambakan sebuah rumah mungil tempatnya menunggu suami pulang bekerja dan membesarkan anak-anaknya, impian sederhana membuatnya mampu melakukan apapun untuk mewujudkannya. Untung saja, novel ini melewatkan momen-momen gory saat memotong-motong mayat, tidak seperti novel Out - Bebas yang menjelaskannya dengan rinci. :p

Sementara karakter Shoko memiliki alur hidup yang cukup mengibakan, karakter Kyoko lebih mendominasi cerita. Kyoko ini jenis orang yang kurasa mengerikan, pribadi yang cantik dan ramah, namun setelah kenal lebih dekat, akan terasa dingin, manipulatif dan "rusak" dari dalam. Tapi setelah mengetahui latar belakang keluarganya, mau tak mau, simpati dan haru muncul dengan sendirinya. Seperti kata pengacara Mizoguchi, "Apakah ini adil? Salah siapakah ini?" Nasiblah yang membawa keduanya ke dalam belitan takdir berujung tragedi.


* * *


Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesianya ini, terus terang aku sedikit kecewa membacanya. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak terjadi pada penerbit mayor sekelas Gramedia.

Pertama, (ok, ini subjektif) aku tidak terlalu suka double translation. Jadi novel ini kentara sekali diterjemahkan dari edisi Bahasa Inggrisnya. Penggunaan sapaan resmi menggunakan singkatan Mr. dan Ms. dan ungkapan seperti "Ya, Sir" sejujurnya meredupkan mood bacaku akan sebuah novel Jepang. Saat penerbit lainnya sudah berkomitmen untuk menterjemahkan karya dari bahasa aslinya, kok yang penerbit besar malah mencari mudahnya saja. Kedua, selain itu, terjemahannya sendiri juga terasa kaku dan tersendat-sendat.

Untuk editingnya juga aku tidak terlalu suka. Typo bertaburan, dan bahkan halaman colophon yang menjadi identitas utama buku juga mencantumkan penulisan judul asli yang salah. Kahsa dari yang seharusnya Kasha. Selain itu, buaaaanyak sekali pemenggalan kata di akhir baris untuk disambung ke baris berikutnya, yang membuatku tidak nyaman membaca. Di setiap paragraf pasti ada, bahkan 3-4 baris berturut-turut sekaligus. (aku gak tahu pasti ini tujuannya apa? kerapian juga kagak, ngirit jumlah baris juga kagak... terus untuk apa? alignment justified juga gak harus sering-sering menggal kata kaleee)    




Judulnya... sebenarnya aku kurang suka, baik judul bahasa Inggrisnya, All She Was Worth (kurang puitis #halah), maupun bahasa Indonesianya, Melacak Jejak (terlalu literal). Padahal di bahasa Jepangnya, Kasha (ditulis dengan kanji Api dan Kuruma, yang bisa berarti kereta atau roda api) dan ini mengacu pada roda-roda karma yang berputar-putar, di antara Shoko dan Kyoko (h.148) kurasa sudah cocok sekali menggambarkan novel ini (tapi memang sih susah mengalihbahasakan judul seperti begitu).

Ilustrasi sampulnya, salah satu yang paling kusuka dari berbagai edisi cover novel ini. Warna merah gelap dan wajah seorang wanita yang samar-samar tampak, menggambarkan isi novel dengan sangat pas (kucek, ternyata memang desainer dan ilustratornya memang salah satu ilustrator cover favoritku). Cover lain yang juga kusuka, adalah cover edisi aslinya.


Kasha - TV Movie



Adaptasi novel ini telah digarap oleh TV - Asahi sebagai TV Movie yang released di bulan November 2011. Tampaknya ada beberapa perubahan dalam adaptasi ini, tapi bagaimanapun, aku jadi kepo ingin menontonnya juga....
Source: AsianDramaWiki


Tentang Pengarang:


Miyuki Miyabe (宮部みゆき, 23 Des 1960 - ) adalah pengarang kontemporer Jepang yang populer di berbagai genre, termasuk science fiction, mystery fiction, historical fiction, social commentary, dan juga kisah anak-anak.

Miyabe adalah penulis yang produktif, memulai karier menulisnya di usia 23 tahun, sampai sekarang telah menerbitkan lusinan novel dan memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti Yamamoto Shūgorō Prize di tahun 1993 untuk novel Kasha dan Naoki Prize di tahun 1998 untuk Riyū (理由 - The Reason).

Baca juga review-ku untuk novel Devil's Whisperer di sini.




https://www.goodreads.com/review/show/1629482112

Jumat, 20 Mei 2016

Taiko


Judul: Taiko
Judul Asli: 新書太閣記 (Shinsho Taiko ki) -
Taiko: An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2003)
ISBN: 978-979-22-0492-6
Jumlah Halaman: 1142 halaman (Hardcover Ed.)
Penerbitan Perdana: 1967



Lihat sinopsis
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.

Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal; leyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia Lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apa pun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan-pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya, menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.


Masa Sengoku  (戦国時代 - Sengoku Jidai) adalah masa-masa sekitar tahun 1400an sampai 1600an di Jepang di mana kehidupan sosial masyarakatnya terombang-ambing dengan banyaknya intrik-intrik politik dan keadaan yang hampir selalu perang antar para penguasa. Selama masa ini, meskipun ada Kaisar yang memerintah dan semua Daimyo (Penguasa Daerah) bersumpah setia padanya, namun kenyataannya, ia tidak memiliki kekuasaan apapun. Para Daimyo memerintah daerahnya masing-masing secara mutlak dan saling rebut, saling caplok, saling bunuh, demi tanah dan kewibawaan terjadi tanpa dapat dihalangi.

Di masa inilah seorang Hiyoshi dilahirkan, di Propinsi Owari yang dikuasai Klan Oda. Ayahnya adalah seorang samurai desa yang meninggal sewaktu ia masih kecil. Meskipun samurai yang menyandang nama keluarga Kinoshita, Hiyoshi kecil tetap tidak berhak menyandang nama itu. Tidak sampai ia berhasil mengharumkan namanya sendiri, hingga berkali-kali dianugerahi nama oleh junjungannya, dan di akhir hidupnya dikenal sebagai Toyotomi Hideyoshi, Sang Taiko.


Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab "Bunuh saja!"
Hideyoshi menjawab "Buat burung itu ingin berkicau"
Ieyasu menjawab "Tunggu"

Semuanya diawali oleh cita-cita penyatuan oleh Oda Nobunaga, dibesarkan dan ditenangkan oleh Sang Taiko Toyotomi Hideyoshi dan dilanjutkan dan dimapankan oleh Tokugawa Ieyashu. Tiga orang penentu nasib negeri, dan dari ketiganya, Sang Taiko-lah yang paling dikenal akan kecerdikannya.

Kisah epic ini mengikuti tindak-tanduk Hideyoshi, mulai masa kecilnya yang tak beruntung, hingga pengabdiannya pada sang junjungan, Oda Nobunaga hingga ia menjadi Taiko. Meskipun masa kekuasaannya tak terlampau panjang, namun di bawah panji Labu Emas miliknya, Jepang sekali lagi memasuki Era Keemasan.


Muromachi Samurai - Source Here


Si Monyet Hiyoshi - Si Penjual Jarum yang cerdik
Dilahirkan dalam masa-masa sulit dan ditinggalkan sang ayah semenjak kecil membuat Hiyoshi yang berwajah mirip monyet ini berkali-kali mengalami kesulitan. Namun pendirian teguh dan kecerdikannya pula membawa ia berkali-kali selamat dan bahkan mampu mengenal dan mengambil hati banyak orang, yang kelak di kemudian hari berguna untuk memenuhi tugas-tugas yang bakal diembannya. Berbagai pekerjaan sempat dilakoninya, sempat pula bekerja sebagai penjual jarum miskin, malah direkrut sebagai pelayan dan mata-mata. Muak dengan kebodohan, lagak dan moral penuh kepura-puraan yang dirasanya sangat tak terhormat, ia kembali ke tanah asalnya di Owari dan mencari junjungan baru yang dirasanya paling cocok.


Kinoshita Tokichiro - Samurai Pembawa Sandal Penguasa Pandir
Di masa ini pula seorang Daimyo muda sedang berkuasa di Owari, propinsi di wilayah tengah yang tak berarti. Oda Nobunaga, yang memiliki cita-cita besar namun terpaksa berlagak pandir di depan musuh-musuhnya. Padanya lah Hiyoshi menjatuhkan kesetiaannya. mulai dari pelayan hingga menjadi seorang samurai pembawa sandal yang berjalan di belakang kuda beban. Namun mata Nobunaga tak buta untuk melihat kelihaian si pelayan kecil ini. Dari persoalan penghematan kayu bakar sampai penipuan pemotongan kayu di hutan, Nobunaga mulai melemparkan tanggung jawab-tanggung jawab domestik rumah tangganya kepada si pelayang yang diberinya nama Kinoshita Tokichiro. Semuanya bisa teratasi dengan sangat baik, sampai-sampai Nobunaga memberinya sepasukan infanteri untuk dipimpinnya saat ia memutuskan bertempur pertama kalinya.


Kinoshita Hideyoshi - Penguasa Benteng Sunomata
Hideyoshi sedang mendaki
Gn Inaba. Source here.
Berkali-kali berhasil dalam misinya, Nobunaga kemudian menugaskan ia membangun benteng di perbatasan Mino - Owari. Hideyoshi kemudian juga berulang kali membuat jasa dalam peperangan melawan Klan Saito yang menguasai Mino, dan yang paling penting adalah bagaimana ia bisa dibilang seorang diri menjatuhkan Klan Saito dalam strategi perang Gunung Inaba. Prestasi ini sangat menyenangkan hati Nobunaga yang sudah lama ingin membalaskan dendam istrinya dan menyatukan wilayah Owari dan Mino.

Di Gunung Inaba ini pula benteng pertama dan pusat pemerintahan Nobunaga yang pertama dibangun dan diberi nama Benteng Gifu.

Dari benteng ini pula, Nobunaga (yang secara "kebetulan" mendapatkan mandat dari Shogun Yoshiaki) memulai kampanye penaklukan propinsi-propinsi lain di wilayah tengah, hingga akhirnya mampu menaklukkan Kyoto.


Hashiba Hideyoshi - Sang Penakluk Benteng Odani
Jika sebelumnya Hideyoshi adalah seorang jendral perang, maka setelah jasanya menaklukkan Benteng Odani, ia dianugrahi wilayah Omi, sehingga ia menjadi penguasa Propinsi. Sebuah prestasi yang menanjak sangat cepat dalam waktu singkat.

Hubungan Hideyoshi dengan Nobunaga sendiri mengalami pasang surut, Ada kala ia sempat mutung dan mengurung diri di bentengnya, bahkan ada kala Nobunaga mendapat usulan agar  memerintahkan Hideyoshi melakukan seppuku. Namun kesetiaan Hideyoshi dan kepercayaan Nobunaga bergeming. Keduanya, tampaknya sangat mengenal watak satu sama lain dengan sangat baik sehingga tak jarang mengundang kecemburuan berbagai pihak. Namun dengan penyatuan kehendak keduanya, serta dukungan Tokugawa Ieyashu dari timur, cita-cita Nobunaga berjalan lancar.

Nobunaga yang telah memindahkan pusat kekuasaannya ke Benteng Azuchi dekat Kyoto lalu memusatkan perhatian untuk penaklukkan wilayah barat. Hideyoshi pun kemudian mendapatkan mandat untuk menyerang dan menaklukkan wilayah-wilayah Barat yang dikuasai Klan Mori,


Kejatuhan Oda Nobunaga 
Hidup manusia
Hanya limapuluh tahun di bawah langit
Jelas bahwa dunia ini
Tak lebih dari mimpi yang sia-sia
Hidup hanya sekali
Adakah yang tidak akan hancur
Nasib manusia memang tak dapat diramalkan jatuh bangunnya. Kekuasaan Nobunaga yang kian menguat, tak ada satu pun musuh yang dapat menjatuhkannya. Tak satu pun. Musuh.

Ironisnya, Oda Nobunaga tewas karena bawahannya sendiri yang termakan kemarahan terpendam dan kesombongan sesaat. Tragedi Kuil Honno. Satu pagi yang membelokkan nasib negeri.


Toyotomi Hideyoshi - Sang Taiko
Hideyoshi yang sedang sibuk berperang di wilayah perbatasan Mori, mendapatkan kabar kematian Nobunaga dua hari setelah peristiwa berdarah itu. Satu hari kemudian ia merampungkan perdamaian dengan Klan Mori. Dalam tiga hari ia sudah mengumpulkan pasukannya sendiri dan menyatukan pasukan-pasukan Nobunaga yang terpecah belah. Sebelas hari setelah kematian Nobunaga, kepala sang pemberontak telah ditancapkan di tombak, mengikuti kemenangan dalam Pertempuran Yamazaki.

Hideyoshi kemudian mendukung Samboshi yang masih bocah, putra Nobutada (yang harusnya menjadi pewaris Nobunaga, namun ikut tewas di Kuil Honno), untuk menjadi pewaris sah Klan Oda. Meskipun ditentang Nobuo dan Nobutaka, kedua putra Nobunaga yang lain, namun keputusan ini dinilai sahih, walau tentu saja sangat menguntungkan Hideyoshi sebagai wali bocah ini.

Ganjalan lain datang dari Shibata Katsuie sebagai pendukung Nobunaga paling senior, serta Tokugawa Ieyashu, sekutu Oda di wilayah timur. Namun dengan kematangan strateginya, Hideyoshi mampu menyingkirkan Katsuie dalam perang yang menentukan, dan mendorong Ieyashu ke belakang layar dengan memanfaatkan kenaifan Nobuo.

Hideyoshi lalu dianugrahi gelar Kampaku (Wakil Kekaisaran), yang mengukuhkan otoritas mutlaknya dan memakai nama Toyotomi. Saat putra angkatnya, Hidegutsu kemudian melanjutkan gelar ini, Hideyoshi pun dikenal sebagai TAIKO.


* * *

Membaca kisah dalam buku bantal ganjel pintu ini, sungguh melelahkan sekaligus memuaskan. Perjalanan hidup Hideyoshi semenjak bocah hingga memegang kekuasaan tunggal terasa panjang dan berliku (dan tebaaaaal..... setebal 1142 halaman). ^^

Walau sama-sama dramatisasi biografi dari seorang tokoh dalam sejarah, berbeda dengan Musashi (baca reviewku di sini) yang lebih menekankan pada pengendalian diri dan bagaimana seseorang belajar tentang kehormatan seorang Samurai, novel Taiko ini lebih merupakan suka duka orang-orang yang bercita-cita besar dan mengubah nasib Jepang. Mirip kisah Uesugi Kenshin (reviewku di sini) namun dalam skala yang jauh lebih besar. Selain Oda Nobunaga dan tentunya Hideyoshi, berbagai tokoh sejarah ikut mewarnai novel ini dengan cita-cita, kelebihan dan kekurangan mereka. Nasib baik dan nasib buruk yang menyertai mereka. Serta interaksi, kecerdikan dan kesalahan langkah yang membawa masing-masing dari mereka sebagai pion-pion jalannya kehidupan di masa penuh huru-hara itu.

Yoshikawa-sensei benar-benar mampu menyuguhkan sajian menegangkan sekaligus indah, menggambarkan sejarah dalam kisah yang sangat enak diikuti. Selain alur sejarah, aku juga sangat menikmati suguhan cara berpikir para samurai ini, tentang kehormatan yang harus dijunjung dan kesetiaan yang diberikan untuk pengabdian tanpa batasan.
Seorang samurai tidak bekerja sekedar untuk mengisi perut. Dia bukan budak makanan. Dia hidup untuk memenuhi panggilannya, untuk kewajiban dan pengabdian. Makanan hanyalah tambahan, sebuah berkah dari surga. Jangan menjadi laki-laki yang, karena terlalu sibuk mencari makan, menghabiskan hidupnya dalam kebimbangan. (Hal.58)


Kisah hidup Taiko memang layak diikuti. Namun selain itu, aku juga mendapatkan bonus berbagai kisah samurai dan pejuang, dan kisah kehormatan mereka.

Puasssss sekali setelah menyelesaian novel epic ini. Tidak sia-sia perjuangan selama 4 bulan membacanya. Apalagi terjemahannya cukup bagus dan tanpa typo sama sekali. Ada sih beberapa kesalahan, satu di daftar isi yang kurang mencantumkan satu bab di Buku Sepuluh, satu lagi dalam referensi waktu yang terbalik keterangannya antara tengah malam dan tengah hari. Tapi selain itu, seluruh isi buku 1142 halaman ini bebas typo. Seeep dah. Ilustrasi covernya aku suka, sama seperti cover asli edisi Kodansha. Lebih suka cover ini daripada cover edisi cetak ulangnya.


Setelah ini, masih ada Heike Story yang mengantri untuk dibaca.
#tetapsemangat ^^


On Wikipedia:
Sengoku Period
Toyotomi Hideyoshi
Eiji Yoshikawa


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden), dan Uesugi Kenshin. Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.




https://www.goodreads.com/review/show/1576890505

Jumat, 19 Februari 2016

The Wind Leading to Love


Judul: The Wind Leading to Love
Judul Asli: 風待ちのひと - Kaze-machi no Hito
Pengarang: 伊吹有喜 - Ibuki Yuki
Penerbit: Penerbit Haru (2015)
ISBN: 9786027742475
Jumlah Halaman: 342 halaman
Penerbitan Perdana: 2009




Lihat sinopsis
Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.


Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi….


Ini cerita cinta orang-orang dewasa, yang sudah ruwet dipenuhi tanggung jawab dan dibebani rasa sesal serta kelelahan. cinta bukan lagi sesuatu yg selalu berasa manis, tempat menjatuhkan diri dengan segenap hati, karena tokoh-tokoh di sini sudah demikian sadar akan rasa pahit yg selalu mengikutinya....

"Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."
"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan."


Kaze-machi no hito secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai "orang yang menunggu angin", dan itulah yang dikatakan Fukui Kimiko kepada Suga Tetsuji tentang dirinya saat ia secara tidak langsung mengatakan bahwa hidupnya sudah tersia-sia. Tetsuji yang sedang dilanda depresi berat mencoba mencari kedamaian di Miwashi, sebuah kota kecil di pesisir pantai Propinsi Kii. Di situ ia mendatangi rumah besar milik ibunya yang baru saja meninggal yang harus dibereskan sebelum dijual. Di kota itu pulalah ia bertemu dengan Kimiko, seorang wanita yang banyak bicara namun menyimpan keanggunan tersendiri dalam membawakan dirinya.

Suga Tetsuji adalah seorang karyawan di sebuah bank di Tokyo. Sudah lama hubungannya dengan ibunya memburuk akibat kondisi kesehatan dan pikiran sang ibu yang semakin menurun dan akhirnya malah melupakan Tetsuji dan almarhum Ayah Tetsuji (yang merupakan suami keduanya) dan malah hanya teringat pada suami pertamanya yang meninggal berpuluh tahun sebelum Tetsuji lahir. Saat akhirnya sang ibu meninggal, Tetsuji malah merasa bersalah karena tidak cukup lama mendampingi di saat-saat terakhirnya. Tetsuji bertambah beban pikiran lagi saat ia mendapati istrinya yang sangat kompetitif dan jaim, berselingkuh dengan pria lain yang lebih sukses darinya. Walaupun kemudian mengakui kesalahannya dan tidak mau diceraikan dengan alasan demi anak mereka, tapi Tetsuji telah patah arang dan terkena depresi berat, sampai-sampai diperintahkan dokter untuk mengambil cuti besar dari pekerjaannya sepanjang musim panas itu.

Di lain pihak, Fukui Kimiko adalah seorang wanita yang tampak tanpa beban, selalu tertawa dan tak pernah kehabisan bahan obrolan. Ia juga suka menumpang mobil-mobil truk yang lewat pesisir Kii dengan bayaran memotong rambut para sopirnya. Unik sekali. Suatu malam Kimiko tak sengaja "menyelamatkan" Tetsuji yang hampir tenggelam di pantai. Berawal dari kebetulan ini, Kimiko perlahan-lahan masuk dalam kehidupan Tetsuji, secara tak langsung memberinya semangat dan harapan baru, dan mengingatkannya kembali akan kehidupan yang masih berlangsung.

Namun sebenarnya hubungan ini tidak berlangsung searah saja. Lewat musik-musik klasik yang diajarkan Tetsuji kepada Kimiko, luka hati Kimiko juga pelan-pelan terobati. Ternyata Kimiko pernah memiliki putra yang sangat berbakat menjadi pianis, namun karena keretakan rumah tangga Kimiko dan almarhum suaminya, putranya ini suatu hari bermain-main di pantai hingga malam dan tewas terseret arus dalam. Dalam musik klasik dan opera, Kimiko serasa mendapatkan kembali hubungannya dengan sang putra dan akhirnya mampu merelakan kepergiannya

Hubungan persahabatan antara Kimiko dan Tetsuji kemudian tanpa disadari telah berubah menjadi hubungan cinta, namun beban-beban kehidupan dan tanggung jawab keduanya masih terus mengganduli pundak mereka. Hingga kemudian Kimiko mengambil keputusan penting bagi keduanya.... ah....



Kisah cinta yang menarik, dengan alur sederhana dan cerita yang terjaga ritmenya. Yang paling kusukai di sini adalah bahwa kedua tokoh utamanya bukan lagi anak-anak muda, tapi pria dan wanita setengah baya yang sudah merasakan pahit getir kehidupan berumah tangga. Novel ini seakan-akan berkata, "ayo, berikan cinta kesempatan sekali lagi". #eaaaak jadi ingat Dorama Fuyu no Sakura... *colek kak Lila di My Book Corner, teman baca bareng buku ini*
Bahwa kepahitan hubungan sebelumnya sebenarnya adalah pelajaran untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Baik Tetsuji maupun Kimiko digambarkan sangat realistis memandang masa depan mereka. Kisah mereka sama sekali gak sempat bergalau-galau, dan kadar keromantisan keduanya berbeda sekali jika diukur dengan cara biasa. Walau sangat nyaman berdua, mereka malah sedikit terlalu memikirkan status dan kepantasan malah. Namun pada akhiiiiirnya, dorongan dari sang Madam pemilik rumah makan di Miwashi membuat Tetsuji berani menerobos semua itu dan berjuang kembali.

Endingnya soo sweeeet... tapi adegan puncaknya ala sinetron sekaliiii, pake acara jalan kemalaman dan berhujan-hujanan. ;p
Tapi untunglah, akhir yang happy end, menutup kisah Tetsuji-Kimiko dengan manis, dan kehidupan berjalan terus...., hanya saja sekarang para supir truk kehilangan Peko-chan yang selama ini setia menggunting rambut mereka dan membawa keberuntungan  :D



Sebagai catatan saja, novel ini ditranslasikan dengan sangat apik oleh penerbit Haru, langsung dari bahasa aslinya dan istilah-istilah yang perlu penjelasan juga ada footnote-nya. Jadi rasa-rasa jepunnya masih hangat terasa. Suka sekali. Semoga Penerbit Haru terus menerbitkan novel-novel oriental kontemporer seperti ini. *jempol* Untuk covernya. khas Haru sekali. Warna-warna pastel seperti lukisan cat air yang mengambil tema dari isi kisahnya. Cantik dan teduh, (meskipun aku jadi suka tertukar-tukar antara buku ini dan buku yang ini).*dua jempol*


Tentang Pengarang:


伊吹有喜 Yuki Ibuki (1969 – ) lahir di Prefektur Mie and setelah lulus Universitas bekerja sebagai editor majalah di sebuah perusahaan penerbitan sebelum akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan menjadi penulis freelance.

Tahun 2008 ia terpilih menjadi pemenang Poplar Publishing Prize for Fiction, Special Award, untuk novel Kaze-machi no hito (Waiting for Fair Winds/Wind Leading to Love) ini. Novel keduanya, Shijukunichi no reshipi (Mourning Recipe), menjadi bestseller dan dibuat miniseri untuk televisi dan film.

Karya berikutnya Nadeshiko monogatari (Where Pinks Bloom), juga banya diperbincangkan, dan novel terbarunya Middonaito basu (Midnight Bus), dinominasikan baik untuk Yamamoto Shugoro Prize dan Naoki Prize, dua penghargaan penulisan bergengsi di negeri Jepang.



Reading Challenge:

JapLit RC 2016 



https://www.goodreads.com/review/show/1543424537

Kamis, 14 Januari 2016

Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama


Judul: Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Judul Asli: 上杉 謙信 - Uesugi Kenshin
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Kansha Books (2012)
ISBN: 9786029719680
Jumlah Halaman: 388 halaman
Penerbitan Perdana: 1975



Lihat sinopsis
Atas permintaan Shogun, Uesugi Kenshin mengepung klan Hojo yang mulai menyerang negeri-negeri kecil. Saat itulah Takeda Shingen menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin. Kejadian tersebut membuat perseteruan antara kedua daimyo terbesar itu kian memuncak.

Uesugi Kenshin yang kalah dalam jumlah pasukan dan enggan berperang akhirnya memutuskan untuk menyerang Takeda Shingen. Inilah pemicu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai, Perang Kawanakajima.

———————————

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Ribeka Ota, kita seolah berada dalam peperangan bersama pasukan Uesugi Kenshin, sambil menghayati kebijaksanaan serta aturannya yang meliputi seluruh sendi kehidupan para samurai.

Setelah sebelumnya mengulas novel Furin Kazan yang mengangkat tokoh Takeda Shingen dari mata seorang Yamamoto Kansuke, sekarang aku juga ingin mengulas tentang Uesugi Kenshin yang hidup pada masa yang sama dan berdiri berseberangan dengan Shingen. Di sini, tokoh ini diangkat oleh Eiji Yoshikawa dalam novel sejarah yang memperlihatkan sepenggal kisahnya, terutama dalam mengatur strategi militer dalam Perang Besar Kawanakajima.


Berkuasa sebagai Daimyo Echigo pada periode Sengoku, Uesugi Kenshin adalah satu dari sedikit Daimyo yang masih mau mengakui kekuasaan Shogun (Kaisar).  Karena itu, novel ini dibuka dengan kisah bagaimana ia tidak ragu-ragu meninggalkan negerinya untuk menaklukkan Klan Hojo atas perintah Shogun. Akibatnya, Takeda Shingen mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Benteng Warigadake  di wilayah perbatasan Echigo-Kai yang merupakan benteng pertahanan penting bagi kedua belah pihak, meskipun masih terikat perjanjian damai.

Kepulangan Kenshin yang disambut berita buruk ini membuatnya bertekad untuk mengakhiri perseteruannya dengan Shingen dengan satu atau lain cara. Awalnya dia hanya berdiam diri, tak melakukan pembalasan apapun. Lalu setelah beberapa bulan, Kenshin mulai dengan mengirim seorang utusan -Shimotsuke yang sangat pandai berbicara - ke Kai untuk menuntut tanggung jawab Shingen. Saat Shingen terlena dan tak menduga sama sekali ini, Kenshin segera mengumpulkan pasukannya sebanyak mungkin dan menduduki wilayah di kaki Gunung Saijo di perbatasan Kai. Langkah nekad dengan taktik "tanpa taktik" yang setara untuk menandingi kelihaian strategi Shingen yang amat terkenal itu.

Dari sini suasana perang dan adu cerdik strategi mulai dibangun dengan sangat apik. Berbagai cara dilakukan Shingen dan Kenshin, dari saling mengirim utusan untuk berunding (tentu saja utusan-utusan yang dikirim, dan pihak penerima utusan adalah orang-orang terpilih yang saling kenal dan punya sambung budi yang mencengangkan), hingga saling gertak dengan cara-cara yang sangat halus dan mengharukan. Sebuah perang psikologis yang dilancarkan dengan sangat lihai. Kenekadan Kenshin sempat membuat Shingen salah tingkah dan memindah-mindahkan lokasi pasukannya beberapa kali. Semuanya ditanggapi Kenshin dengan kalem dan seolah tak peduli. Sikap yang bahkan bagi beberapa jendralnya sangat membingungkan, seperti saat mereka sibuk memikirkan pasokan perbekalan pasukan yang makin menipis malah ditanggapi Kenshin dengan kesibukan mencari sekuntum bunga krisan #EH

Tapi bukan berarti Kenshin lengah. Ia justru sedang mencari titik lemah Shingen. Saat akhirnya Perang Kawanakajima yang epik itu meletus, all hell broke loose, dan terbukti Shingen tertinggal satu langkah di belakang Kenshin. 13 ribu prajurit Echigo mampu menyerang 20 ribuan pasukan Kai di wilayah mereka sendiri, dan bahkan Kenshin mampu merangsek maju dan nyaris menebas kepala Shingen di tenda utamanya, sebelum akhirnya mereka harus mundur teratur kembali ke Echigo.

Berbeda dengan kisah perang modern yang selalu berlandaskan asas all fair in love and war, aku menyukai kisah-kisah pertempuran ala Jepang kuno yang lebih mengutamakan kehormatan diri. Kenshin dan Shingen membuktikan hal ini dalam kisah-kisah perseteruan abadi mereka. Baik dalam Pertempuran Kawanakajima ini, maupun di waktu lainnya. Contoh lain yang paling diingat dari sosok Kenshin tentu saja saat ia menegaskan bahwa perang adalah urusan Samurai dan bukan tanggung jawab rakyat dan petani, bahwa perang harus dimenangkan dengan tombak dan pedang, bukan lewat beras dan garam (wars are to be won with swords and spears, not with rice and salt), saat menanggapi embargo ekonomi yang dilakukan Klan Imagawa di Suruga dan Klan Hojo di Sagami.

Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen adalah rival abadi. Tapi permusuhan mereka bukan karena masalah pribadi, melainkan karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab sebagai penguasa wilayah, dan karenanya mereka malah sama-sama saling sangat menghormati satu sama lain.


Untuk bukunya sendiri, seperti biasa aku sangat suka cara penuturan Yoshikawa-sensei yang mengalun tenang, membuat deskripsi dan karakterisasi Kenshin sangat enak dinikmati. Meskipun ia digambarkan sebagai Dewa Perang yang nekad, tapi sisi-sisi kemanusiaan Kenshin juga mampu ditampilkan dengan layak dan bagus sekali. Sayang sekali sosok Kenshin di novel ini dimunculkan sesaat sebelum Kawanakajima, bukan jauh ke belakang (saat ia masih bernama Nagao Kagetora, seorang biksu cilik dan kemudian menjadi samurai muda, sebelum akhirnya menjadi pewaris Klan Uesugi.)

Edisi bahasa Indonesianya ini ditranslasikan langsung dari Bahasa Jepang dengan sangat apik. Nuansa orisinalnya sangat terasa.


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden). Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.







https://www.goodreads.com/review/show/1486716532
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget