Kamis, 14 Januari 2016

Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama


Judul: Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Judul Asli: 上杉 謙信 - Uesugi Kenshin
Pengarang: 吉川 英治 - Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Kansha Books (2012)
ISBN: 9786029719680
Jumlah Halaman: 388 halaman
Penerbitan Perdana: 1975



Lihat sinopsis
Atas permintaan Shogun, Uesugi Kenshin mengepung klan Hojo yang mulai menyerang negeri-negeri kecil. Saat itulah Takeda Shingen menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake milik Uesugi Kenshin. Kejadian tersebut membuat perseteruan antara kedua daimyo terbesar itu kian memuncak.

Uesugi Kenshin yang kalah dalam jumlah pasukan dan enggan berperang akhirnya memutuskan untuk menyerang Takeda Shingen. Inilah pemicu peperangan terbesar pada zaman Sengoku Jidai, Perang Kawanakajima.

———————————

Diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Ribeka Ota, kita seolah berada dalam peperangan bersama pasukan Uesugi Kenshin, sambil menghayati kebijaksanaan serta aturannya yang meliputi seluruh sendi kehidupan para samurai.

Setelah sebelumnya mengulas novel Furin Kazan yang mengangkat tokoh Takeda Shingen dari mata seorang Yamamoto Kansuke, sekarang aku juga ingin mengulas tentang Uesugi Kenshin yang hidup pada masa yang sama dan berdiri berseberangan dengan Shingen. Di sini, tokoh ini diangkat oleh Eiji Yoshikawa dalam novel sejarah yang memperlihatkan sepenggal kisahnya, terutama dalam mengatur strategi militer dalam Perang Besar Kawanakajima.


Berkuasa sebagai Daimyo Echigo pada periode Sengoku, Uesugi Kenshin adalah satu dari sedikit Daimyo yang masih mau mengakui kekuasaan Shogun (Kaisar).  Karena itu, novel ini dibuka dengan kisah bagaimana ia tidak ragu-ragu meninggalkan negerinya untuk menaklukkan Klan Hojo atas perintah Shogun. Akibatnya, Takeda Shingen mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Benteng Warigadake  di wilayah perbatasan Echigo-Kai yang merupakan benteng pertahanan penting bagi kedua belah pihak, meskipun masih terikat perjanjian damai.

Kepulangan Kenshin yang disambut berita buruk ini membuatnya bertekad untuk mengakhiri perseteruannya dengan Shingen dengan satu atau lain cara. Awalnya dia hanya berdiam diri, tak melakukan pembalasan apapun. Lalu setelah beberapa bulan, Kenshin mulai dengan mengirim seorang utusan -Shimotsuke yang sangat pandai berbicara - ke Kai untuk menuntut tanggung jawab Shingen. Saat Shingen terlena dan tak menduga sama sekali ini, Kenshin segera mengumpulkan pasukannya sebanyak mungkin dan menduduki wilayah di kaki Gunung Saijo di perbatasan Kai. Langkah nekad dengan taktik "tanpa taktik" yang setara untuk menandingi kelihaian strategi Shingen yang amat terkenal itu.

Dari sini suasana perang dan adu cerdik strategi mulai dibangun dengan sangat apik. Berbagai cara dilakukan Shingen dan Kenshin, dari saling mengirim utusan untuk berunding (tentu saja utusan-utusan yang dikirim, dan pihak penerima utusan adalah orang-orang terpilih yang saling kenal dan punya sambung budi yang mencengangkan), hingga saling gertak dengan cara-cara yang sangat halus dan mengharukan. Sebuah perang psikologis yang dilancarkan dengan sangat lihai. Kenekadan Kenshin sempat membuat Shingen salah tingkah dan memindah-mindahkan lokasi pasukannya beberapa kali. Semuanya ditanggapi Kenshin dengan kalem dan seolah tak peduli. Sikap yang bahkan bagi beberapa jendralnya sangat membingungkan, seperti saat mereka sibuk memikirkan pasokan perbekalan pasukan yang makin menipis malah ditanggapi Kenshin dengan kesibukan mencari sekuntum bunga krisan #EH

Tapi bukan berarti Kenshin lengah. Ia justru sedang mencari titik lemah Shingen. Saat akhirnya Perang Kawanakajima yang epik itu meletus, all hell broke loose, dan terbukti Shingen tertinggal satu langkah di belakang Kenshin. 13 ribu prajurit Echigo mampu menyerang 20 ribuan pasukan Kai di wilayah mereka sendiri, dan bahkan Kenshin mampu merangsek maju dan nyaris menebas kepala Shingen di tenda utamanya, sebelum akhirnya mereka harus mundur teratur kembali ke Echigo.

Berbeda dengan kisah perang modern yang selalu berlandaskan asas all fair in love and war, aku menyukai kisah-kisah pertempuran ala Jepang kuno yang lebih mengutamakan kehormatan diri. Kenshin dan Shingen membuktikan hal ini dalam kisah-kisah perseteruan abadi mereka. Baik dalam Pertempuran Kawanakajima ini, maupun di waktu lainnya. Contoh lain yang paling diingat dari sosok Kenshin tentu saja saat ia menegaskan bahwa perang adalah urusan Samurai dan bukan tanggung jawab rakyat dan petani, bahwa perang harus dimenangkan dengan tombak dan pedang, bukan lewat beras dan garam (wars are to be won with swords and spears, not with rice and salt), saat menanggapi embargo ekonomi yang dilakukan Klan Imagawa di Suruga dan Klan Hojo di Sagami.

Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen adalah rival abadi. Tapi permusuhan mereka bukan karena masalah pribadi, melainkan karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab sebagai penguasa wilayah, dan karenanya mereka malah sama-sama saling sangat menghormati satu sama lain.


Untuk bukunya sendiri, seperti biasa aku sangat suka cara penuturan Yoshikawa-sensei yang mengalun tenang, membuat deskripsi dan karakterisasi Kenshin sangat enak dinikmati. Meskipun ia digambarkan sebagai Dewa Perang yang nekad, tapi sisi-sisi kemanusiaan Kenshin juga mampu ditampilkan dengan layak dan bagus sekali. Sayang sekali sosok Kenshin di novel ini dimunculkan sesaat sebelum Kawanakajima, bukan jauh ke belakang (saat ia masih bernama Nagao Kagetora, seorang biksu cilik dan kemudian menjadi samurai muda, sebelum akhirnya menjadi pewaris Klan Uesugi.)

Edisi bahasa Indonesianya ini ditranslasikan langsung dari Bahasa Jepang dengan sangat apik. Nuansa orisinalnya sangat terasa.


Tentang Eiji Yoshikawa


Eiji Yoshikawa (吉川 英治 - Yoshikawa Eiji, 11 Augustus 1892 – 7 September 1962) adalah nama pena dari Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次). Ia kerap dianggap sebagai penulis novel sejarah (historic-fiction) terbaik di Jepang. Karya-karya terbaiknya sebagian adalah kisah klasik yang dituliskan ulang dalam gayanya sendiri, seperti The Tale of the Heike (The Heike Story), atau Romance of the Three Kingdoms, Outlaws of the Marsh (Shin Suikoden). Kisahnya yang lain, yang paling terkenal, tentu saja Musashi dan Taiko.

Pada tahun 1960, ia dianugerahi Cultural Order of Merit yang merupakan penghargaan tertinggi Sastrawan Jepang dan penghargaan Order of the Sacred Treasure serta Mainichi Art Award di tahun 1962, sesaat sebelum kematiaannya akibat penyakit kanker.







https://www.goodreads.com/review/show/1486716532

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget