Jumat, 03 Juli 2015

Bekisar Merah


Judul: Bekisar Merah
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)
ISBN: 9789792266320
Jumlah Halaman: 358 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Penghargaan Sastra Badan Bahasa (1995)




Lihat sinopsis
Edisi cetak ulang yang terdiri atas Bekisar Merah dan Belantik.

****

Bekisar adalah unggas elok, hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa yang berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas—kulit putih, mata eksotis—membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. Karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini, yang memang sudahh menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serba mudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Berhasilkah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

Ini postingan untuk posbar bulan Juni yang telat. Apa daya, maksud hati posting bareng akhir bulan lalu, siapa sangka tanggal 30 datang dan berlalu, baru sadar telat pas sudah lewat 2 hari. Yah, daripada tidak, telat dikit gpplah, barusan ngecek, linky posbar masih buka kok... XD
Ohiya, sekalian buat postingan event 100 hari membaca sastra Indonesia yang diadakan blog lustandcoffe. Yang pengin tahu event ini, sila cek di sini.

Judul novel Bekisar Merah ini mengambil perumpamaan tokoh Lasiyah, jika ayam bekisar berarti silangan ayam hutan dan ayam kampung, maka Lasi ini adalah gadis keturunan seorang wanita Indonesia yang diperistri serdadu Jepang. Garis wajahnya yang eksotis ditambah kulit putih bersih membuat kecantikannya mencolok diantara gadis-gadis Kampung Karangsoga lainnya. Sayangnya, hal itu pula yang membuatnya "berat jodoh", hingga akhirnya dipinang Darsa, seorang penyadap nira (nira ini cairan sari kelapa yang kemudian dimasak menjadi gula jawa).

"Darsa menurunkan pikulan dari pundaknya, mengambil dua pongkor, Sisa air hujan masih meluncur sepanjang batang kelapa yang hendak dipanjatnya. Sambil naik ke tatar pertama, Darsa mengikatkan ujung tali kedua pongkor pada kait logam yang terdapat pada sabuk bagian punggung. Tetes air berjatuhan ketika pohon kelapa bergoyang oleh gerakan tubuhnya. Darsa terus memanjat dengan semangat yang hanya ada pada seorang penyadap."

Malang tak dapat ditolak, baru setahun menikah, Darsa terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap. Meski selamat, namun hingga ang berbulan-bulan berikutnya kelaki-lakian Darsa belum sembuh sempurna. Dicarilah seorang dukun pijat yang manjur tapi ternyata punya agenda tersembunyi... demikianlah, suatu saat malah Darsa yang dicari-cari untuk menikahi anak perempuan si dukun pijat.

Lasi yang meradang, memilih melarikan diri dari kampung. Mengikuti truk pengantar gula jawa ke Jakarta, tempat di mana kecantikannya dihargai laksana emas berlian dan bukannya dicerca seperti di kampung. Di sini Lasi mencicipi berbagai bentuk kenikmatan hingga akhirnya benar-benar menjadi klanggenan layaknya ayam bekisar seorang pengusaha tua kaya raya.

Jika dalan novel Bekisar Merah lebih banyak menyoroti perubahan sikap Lasi dan pergolakan hatinya dalam mengahadapi berbagai perubahan itu, dalam Belantik, sang pengarang lebih banyak menyoroti kebejatan para pengusaha kelas kakap negeri ini. Masih dilihat dari mata Lasi yang lugu, yang kini 'dipinjamkan' suaminya kepada seorang 'Belantik' - perantara, makelar, pialang, atau kata lain yang lebih kerennya, pelobi. Seorang yang tak kasat mata publik namun mengatur transaksi jual beli aset negara, dari mulai HPH, minyak bumi, tambang, hingga jabatan Direktur dan Menteri. Dan saat Lasi mulai mengambil sikap menolak itu semua, saat itu pula sangkar ayam yang melingkupinya mulai terututup dan terkunci. Mengurungnya rapat-rapat di dalam.


* * *  


Seperti saat membaca novel Ahmad Tohari lainnya,  Di Kaki Bukit Cibalak atau Orang-orang Proyek, misalnya, kentalnya kritik sosial dan politik sangat terasa juga dalam novel ini. Selain perkara belantik yang kusebut di atas, ada pula masalah perubahan jaman yang mendatangi desa Karangsoga. Misalnya sebuah kemajuan teknologi yang sangat mendasar seperti masuknya jaringan listrik ke desa tersebut... bagus? tentu saja, tapi harga yang harus dibayar sangat tinggi. Sekian puluh pohon kelapa harus ditebang untuk membuka jalan bagi tiang-tiang listrik tersebut, dan bagi sebuah desa dengan hasil utama gula jawa, itu sama saja dengan mematikan setengah nyawa penghidupan warga desa.

"Sekejap Lasi merasa kembali berada pada masa lalunya sendiri. Lasi merasakan sepenuhnya kepedihan hati istri seorang penyadap yang remuk ketika tungku tak lagi berapi karena tak ada lagi pohon kelapa yang disadap."

"Kanjat bahkan bisa merasakan sebuah ironi lagi yang tak kalah pekat: Darsa yang telah memberikan sumber kehidupannya demi kawat listrik, mustahil kelak dapat menjadi pelanggan."

Selain itu, penggambarannya tentang Desa Karangsoga beserta semua liku budayanya sangat enak dinikmati. Sangat detail dan indah sampai bisa terbayang sendiri bentuk desa dan kehidupannya. Meski tidak disebutkan secara jelas, aku mengira-ngira letak Karangsoga ini di sekitar wilayah Banyumasan, seputar Purwokerto atau Cilacap, karena -selain bahasa ngapak yang muncul sekali dua kali- setahuku di sana memang penghasil gula jawa terenak yang pernah kucicipi. Ibuku malah masih sering meminta kiriman gula jawa dan gula aren dari sana. Tapi baru dari novel ini, kusadari betapa beresikonya pekerjaan para penderes ini.... Semoga saat ini sudah ada lebih banyak perlengkapan keamaanan bagi mereka.

Para istri penderes ternyata juga punya pengorbanan mereka sendiri. Selain resiko kehilangan suami jika jatuh saat menaiki pohon kelapa, tugas mereka saat memasak nira menjadi gula juga bukan main-main. Di novel ini digambarkan mereka masih menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu, padahal saat memasak tidak boleh sekalipun api mati karena kehabisan kayu, jadi jika perlu, kayu kaki tempat tidur pun dikorbankan demi gula yang sedang dimasak. Tidur di lantai tak apa-apa, demi gula yang dijual seharga 6 rupiah sekilo, masih dikurangi kecurangan timbangan tengkulak, yang nantinya bahkan tidak cukup untuk membeli sekilo beras.

Untuk muatan politiknya, meskipun novel ini ditulis sekian tahun yang lalu, ternyata kebobrokan negeri kita ini gak banyak berubah ya... -_-


Oh iya, jika saja ada satu hal yang mengurangi kenikmatan novel ini, mungkin bagi pembaca yang bukan dari jawa atau tidak menggunakan bahasa jawa, akan kesulitan mengerti banyak hal yang dikisahkan di sini menggunakan istilah-istilah bahasa jawa. Meskipun untuk tembang dan sloka yang ditulis dengan Jawa Kromo ada alih bahasa Indonesianya, namun untuk percakapan sehari-hari, istilah boso jowo bertaburan di seluruh buku. Jadi ya... semoga mudheng artine yo...

Tentang Pengarang:

Ahmad Tohari, (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948). Karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk (trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk−Lintang Kemukus Dini Hari−Jantera Bianglala), sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Edisi bahasa Jerman dan Belanda sedang disiapkan penerbitannya, juga sudah diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Novel yang diterbitkan tahun 1982 ini berkisah tentang pergulatan penari tayub di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur, dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.

Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Selain trilogi RDP dan dwilogi Bekisar Merah, karya Ahmad Tohari yang lain antara lain:



Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka warna hampir semua karyanya adalah lapisan bawah dengan latar alam. Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa.




100 Hari Membaca Sastra Indonesia


Postingan ini dibuat untuk mengikuti event Baca Bareng BBI
Bulan: Juni 2015
Tema: Budaya dan Setting Indonesia




https://www.goodreads.com/review/show/1312991712

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget