Rabu, 01 Juni 2016

All She Was Worth


Judul: All She Was Worth - Melacak Jejak
Judul Asli: 火車 - Kasha
Pengarang: 宮部みゆき - Miyabe Miyuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)
ISBN: 978-602-03-2686-3
Jumlah Halaman: 480 halaman
Penerbitan Perdana: 1992
Literary Awards: Naoki Prize Nominee (1992), Shugoro Yamamoto Prize (1993)



Lihat sinopsis
Seorang perempuan cantik lenyap tanpa jejak, namun hasil penyelidikan menunjukkan dia bukanlah sosok seperti yang ditampilkannya selama ini. Apakah dia korban, pembunuh, atau kedua-duanya? Di negara yang melacak para penduduknya dengan saksama, bagaimana bisa dua perempuan memiliki identitas yang sama, lalu menghilang tanpa jejak? Di tengah masyarakat Jepang yang serba konsumtif, banyak orang terjebak utang, lalu jatuh ke dalam jerat para rentenir gelap yang sangat berbahaya, sehingga kadang-kadang pembunuhan menjadi satu-satunya jalan keluar.


Ini jauh lebih bagus dari Devil's Whisperer (review di sini), padahal yang itu juga aku suka sekali.

Dan aaaakk... endingnya.... khas jepun sekali... no nonsense. Tidak perlu epilog dan penjelasan berkepanjangan. Semua hasil penyelidikan telah terpaparkan seperti keping-keping puzzle. Kisah sudah selesai diceritakan. Misteri telah terpecahkan. Yang hilang telah ditemukan kembali. TAMAT.
Aaakkk....
#apasih #berisik :D


1992. Kisah novel ini diawali saat Detektif Polisi Honma Shunsuke yang sedang cuti karena cedera kaki mendapatkan kunjungan dari seorang keponakan alm. istrinya. Si ponakan yang bankir ini rada resah karena tunangannya, Sekine Shoko, tiba-tiba menghilang setelah ketahuan pernah menyatakan diri bangkrut beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah perjalanan Honma dalam pencarian wanita malang ini, dan dalam pencarian ini, terbuka satu per satu lapisan misteri yang melingkupi, bukan hanya satu, melainkan DUA wanita yang dipermainkan nasib, dan sistem perkreditan dan keuangan di Jepang. Terjerat hutang melilit leher, dikejar-kejar rentenir Yakuza, hingga akhirnya, menempuh jalan pahit tanpa bisa kembali.


Ini pertama kalinya aku membaca kisah crimefic di mana baik si korban maupun si pembunuh sama-sama dicitrakan dari pandangan orang lain sepenuhnya. Korban tak pernah muncul sama sekali, sedangkan si pembunuh hanya nongol di beberapa paragraf terakhir novel. Tapi meski demikian, motif, alibi, cara bahkan latar belakang keduanya tetap jadi unsur terpenting cerita, dan dijalin lengkap... dari pandangan mereka yang mengenalnya masing-masing individu tersebut.

Kedua wanita itu, Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko, punya akar masalah yang sama, satu ide besar yang diulik dalam novel ini, yaitu komsumerisme di Jepang yang marak di sekitar tahun 1980-1990an, saat perekonomian Jepang sedang booming sehebat-hebatnya. Saat itu, sebagian besar penduduk usia produktifnya terserang "Sindrom Harus Punya!" (h.255). Sebuah sindrom yang tumbuh dan berkembang subur didukung mudahnya mendapatkan puluhan pilihan kartu kredit, mudahnya berbelanja dan menarik uang tunai menggunakan kartu tersebut, tanpa menyadari tingginya suku bunga yang mengikutinya.

"Mesin ATM tentu saja tidak menjelaskan bagaimana cara bunga bekerja!" (h. 166)

Dari keinginan memiliki rumah sendiri, hingga produk fashion terbaru. Dari sistem perkreditan resmi hingga telemarketing. Satu per satu kemudahan berbelanja ini mengantarkan si pemilik dalam jeratan hutang. Dari pinjaman yang satu tutup lubang ke pinjaman yang lain. dari bank yang satu membayar ke bank yang lain, tak pernah terlunasi bahkan bunga pinjaman semakin menumpuk. Saat lembaga resmi mulai menutup pintu dan menagih, satu-satunya jalan adalah meminjam ke "lembaga keuangan alternatif". Jalan keluar yang bukannya melegakan, malahan menuntun si peminjam (dan keluarganya) ke dalam jurang kehancuran.


Hal lain yang mendapatkan porsi besar dalam novel ini adalah sistem kependudukan dan pencatatan sipil di Jepang. Di negara-negara oriental seperi Jepang dan Korea, memang lineage keluarga menjadi sangat diutamakan. Dibandingkan dengan, Amerika misalnya, yang hanya mencatat data individu, Jepang mencatat penduduknya dalam item data keluarga yang sangat detail. Saat anak perempuan menikah, namanya dikeluarkan dari data kartu keluarga asli (dengan catatan lengkap) dan dimasukkan dalam data keluarga suami. Saat seseorang membentuk item keluarga sendiri, nama orang tua dan catatan kartu keluarga sebelumnya tetap dicantumkan dengan rinci. Kepindahan dan tempat tinggal baru mensyaratkan surat kependudukan tercatat. Kematian seseorang dicatat, namun tidak menghapus nama almarhum dari kartu keluarganya. Bahkan untuk proses adopsi anak yang resmi tetap mencatatkan identitas si anak dan hubungannya dengan keluarga aslinya. Dengan demikian, garis keluarga dapat dilacak bergenerasi-generasi sebelumnya, dan tiap orang punya akar yang pasti, dan ini berlaku secara nasional.

Dengan sistem seperti ini, pencurian identitas adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Dalam novel ini, detail-detail bagaimana (dan mengapa) seseorang dapat mencuri kehidupan seseorang lain menjadi unsur menarik, demikian pula penyelidikan baliknya, menelusuri hidup seseorang berdasarkan jejak berkas kehidupannya dalam sistem, dan membandingkannya saat mendengarkan kesan-kesan orang-orang yang mengenal mereka dalam kurun waktu-kurun waktu tertentu.


Sekitar seratusan halaman terakhir, alur hidup Sekine Shoko dan Shinjo Kyoko akhirnya bertautan. Mulai dari titik ini, misteri dan nasib keduanya perlahan-lahan dibuka untuk pembaca, dan latar-latar tragis keduanya menjadi masuk akal sekaligus memiriskan hati. Shoko yang terjebak dalam kungkungan tempurung kota kecilnya, silau akan kecantikan sinar lampu-lampu kota Metropolitan Tokyo. Kyoko yang melewatkan masa remajanya dalam ketakutan dan teror, hanya mendambakan sebuah rumah mungil tempatnya menunggu suami pulang bekerja dan membesarkan anak-anaknya, impian sederhana membuatnya mampu melakukan apapun untuk mewujudkannya. Untung saja, novel ini melewatkan momen-momen gory saat memotong-motong mayat, tidak seperti novel Out - Bebas yang menjelaskannya dengan rinci. :p

Sementara karakter Shoko memiliki alur hidup yang cukup mengibakan, karakter Kyoko lebih mendominasi cerita. Kyoko ini jenis orang yang kurasa mengerikan, pribadi yang cantik dan ramah, namun setelah kenal lebih dekat, akan terasa dingin, manipulatif dan "rusak" dari dalam. Tapi setelah mengetahui latar belakang keluarganya, mau tak mau, simpati dan haru muncul dengan sendirinya. Seperti kata pengacara Mizoguchi, "Apakah ini adil? Salah siapakah ini?" Nasiblah yang membawa keduanya ke dalam belitan takdir berujung tragedi.


* * *


Untuk edisi terjemahan bahasa Indonesianya ini, terus terang aku sedikit kecewa membacanya. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak terjadi pada penerbit mayor sekelas Gramedia.

Pertama, (ok, ini subjektif) aku tidak terlalu suka double translation. Jadi novel ini kentara sekali diterjemahkan dari edisi Bahasa Inggrisnya. Penggunaan sapaan resmi menggunakan singkatan Mr. dan Ms. dan ungkapan seperti "Ya, Sir" sejujurnya meredupkan mood bacaku akan sebuah novel Jepang. Saat penerbit lainnya sudah berkomitmen untuk menterjemahkan karya dari bahasa aslinya, kok yang penerbit besar malah mencari mudahnya saja. Kedua, selain itu, terjemahannya sendiri juga terasa kaku dan tersendat-sendat.

Untuk editingnya juga aku tidak terlalu suka. Typo bertaburan, dan bahkan halaman colophon yang menjadi identitas utama buku juga mencantumkan penulisan judul asli yang salah. Kahsa dari yang seharusnya Kasha. Selain itu, buaaaanyak sekali pemenggalan kata di akhir baris untuk disambung ke baris berikutnya, yang membuatku tidak nyaman membaca. Di setiap paragraf pasti ada, bahkan 3-4 baris berturut-turut sekaligus. (aku gak tahu pasti ini tujuannya apa? kerapian juga kagak, ngirit jumlah baris juga kagak... terus untuk apa? alignment justified juga gak harus sering-sering menggal kata kaleee)    




Judulnya... sebenarnya aku kurang suka, baik judul bahasa Inggrisnya, All She Was Worth (kurang puitis #halah), maupun bahasa Indonesianya, Melacak Jejak (terlalu literal). Padahal di bahasa Jepangnya, Kasha (ditulis dengan kanji Api dan Kuruma, yang bisa berarti kereta atau roda api) dan ini mengacu pada roda-roda karma yang berputar-putar, di antara Shoko dan Kyoko (h.148) kurasa sudah cocok sekali menggambarkan novel ini (tapi memang sih susah mengalihbahasakan judul seperti begitu).

Ilustrasi sampulnya, salah satu yang paling kusuka dari berbagai edisi cover novel ini. Warna merah gelap dan wajah seorang wanita yang samar-samar tampak, menggambarkan isi novel dengan sangat pas (kucek, ternyata memang desainer dan ilustratornya memang salah satu ilustrator cover favoritku). Cover lain yang juga kusuka, adalah cover edisi aslinya.


Kasha - TV Movie



Adaptasi novel ini telah digarap oleh TV - Asahi sebagai TV Movie yang released di bulan November 2011. Tampaknya ada beberapa perubahan dalam adaptasi ini, tapi bagaimanapun, aku jadi kepo ingin menontonnya juga....
Source: AsianDramaWiki


Tentang Pengarang:


Miyuki Miyabe (宮部みゆき, 23 Des 1960 - ) adalah pengarang kontemporer Jepang yang populer di berbagai genre, termasuk science fiction, mystery fiction, historical fiction, social commentary, dan juga kisah anak-anak.

Miyabe adalah penulis yang produktif, memulai karier menulisnya di usia 23 tahun, sampai sekarang telah menerbitkan lusinan novel dan memenangkan banyak penghargaan bergengsi seperti Yamamoto Shūgorō Prize di tahun 1993 untuk novel Kasha dan Naoki Prize di tahun 1998 untuk Riyū (理由 - The Reason).

Baca juga review-ku untuk novel Devil's Whisperer di sini.




https://www.goodreads.com/review/show/1629482112

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget